Flute

flute

Tittle: Flute

Author: Park Soojin

Length: Oneshot

Rating: G

Genre: Romance, Sad

Main cast:

–          Jessica

–          D.O (Kyungsoo)

Other cast:

–         Jung Il Woo

mumpung sepi, aku ngepost ff lagi/plak/. Ini ff lama yang numpang muncul disini ._. ff ini juga gak aku edit untuk menjaga keaslian/? jadi maaf kalo rada gak jelas begitu, hehe. keep RCL ne~

@@@

Kyungsoo yang sedang makan di kedai kecil pinggir jalan memperhatikan seorang perempuan yang memainkan alat musik flute dengan mahir. Perempuan itu bermain flute di bagian depan kedai untuk menarik pengunjung makan disitu sekaligus untuk menghibur pengunjung yang sedan makan.

Perempuan berambut coklat sebahu itu memainkan flute-nya dengan sangat ceria seolah tidak mempunyai beban hidup. Kyungsoo yang tertarik pun memperhatikan cara bermain alat music yang sangat ingin dikuasainya sejak kecil dulu.

“Aku juga ingi menguasai flute dengan mahir seperti-nya.” Gumam Kyungsoo pelan di sela makannya.

@@@

Kyungsoo hanya duduk di kursi panjang di taman sambil melihati flute yang di pegangnya. Dia tidak bisa sama sekali memainkan alat itu, tapi membelinya karena ingin bisa. Dan sekarang masalahnya, dia tidak tahu harus belaajr kepada siapa.

“Suka bermain flute?”  Tanya seorang perempuan yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.

Kyungsoo sedikit terkejut. Perempuan itu adalah pemain musik di kedai yang didatanginya tadi malam.

“Heum, aniyo… aku ingin mempelajarinya.” Jawab Kyungsoo.

“Kalau kau mau, aku bisa mengajarkannya untukmu. Eottae?” Tawar perempuan itu yang segera membuat mata besar Kyungsoo membulat.

“Tentu saja aku mau! Aku sangat menginginkannya sejak masih kecil, hanya saja tidak ada yang mengajariku.” Kata Kyungsoo sambil mengusap tengkuknya.

“Hahaha.. baiklah.” Perempuan itu mengulurkan tangannya. “Jessica. Jessica Jung Sooyeon imnida.”

“Oh, Do Kyungsso imnida.” Kyungsoo menjabat tangan kecil perempuan bernama Jessica itu.

“Jadi kapan kita bisa mulai latihan, Kyungsoo-ssi?”

“Tidak usah pakai embel-embel ‘ssi’. Bagaimana jika mulai besok saja? Hari ini aku sedang banyak tugas.” Jawab Kyungsoo yang hanya dijawab anggukan oleh Jessica.

@@@

Mereka berdua bertemu lagi di taman tempat mereka berkenalan kemarin. Jessica sedang memainkan flute-nya untuk memberi contoh kepada Kyungsoo, sementara Kyungsoo hanya menatapnya kagum. Walaupun yang sedang dimainkan Jessica hanya contoh lagu sederhana, tetap saja alat musik itu membuat Kyungsoo selalu kagum saat seseorang memainkannya.

Jessica memainkan lagu ‘Twinkle twinkle little Stars’ dengan riang sambil kepalanya sesekali bergoyang ke kanan-kiri. Dan Kyungsoo mengiringinya dengan tepukan tangan yang teratur sambil menyanyikan lirik lagu itu.

Twinkle twinkle little stars

How i wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

Twinkle twinkle little stars

How i wonder what you are…

Lagu pun selesai, Jessica meletakkan flute-nya. Tanpa dikomando, mereka berdua bertepuk tangan dan tertawa kecil bersamaan.

“Permainanmu bagus sekali.. Aku ingin bisa seperti itu.” Kata Kyungsoo polos.

“Hahaha, itu tadi sederhana kok. Kalau kau rajin pasti kau bisa lebih baik dari sekarang.” Jawab Jessica sambil tersenyum kepada Kyungsoo.

“Hehehe, baiklah aku akan terus berlatih supaya lebih baik!” Tutur Kyungsoo semangat, dan membuat Jessica tertawa kecil karena semangatnya itu.

@@@

5 bulan berlalu. Kyungsoo dan Jessica setiap hari berlatih bersama di taman mereka berlatih seperti biasanya semakin hari, permainan Kyungsoo kian membaik. Bahkan sangat baik. Karena kedekatan mereka itulah, mereka sudah seperti dua lembar kertas yang disatukan dengan lem yang sangat lengket sehingga tidak bisa terpisah.

@@@

“Sica, permainanku sekarang sudah bagus. Sebagai bentuk terimakasih, aku akan menemanimu bermain flute di kedai pinggir jalan itu. Eottae?” Tawar Kyungsoo suatu hari.

“Jinjjayo? Tentu saja kalau kau tidak keberatan.”

“Baiklah, mulai nanti malam ya?” Kata Kyungsoo. Jessica menjawab dengan sebuah anggukan kencang.

@@@

Jessica dan Kyungsoo sudah berdiri di dekat pintu masuk kedai itu. Mereka sudah mulai beraksi, memainkan flute-nya dengan ceria dan semangat. Lagu-lagu yang mereka bawakan bertempo sedikit cepat. Hal-hal itu membuat orang-orang yang sedang di jalan tertarik untuk mampir. Begitu pula yang sedang makan di dalam. Makan dengan diiringi lagu yang menyenangkan pasti membuat semangat makan dan setidaknya mengurangi sedikit stress.

“Ya! Kalian berdua kelihatan serasi berdua memainkan flute seperti sekarang.”

“Wah, permainan kalian sangat bagus. Aku suka!”

Pujian-pujian dari para pengunjung membuat Kyungsoo dan Jessica semakin semangat memainkan alat flute-nya. Beberapa pengunjung terlihat menari dengan riangnya.

Beberapa jam kemudian. Sudah larut malam, dan para pengunjung kedai sudah pulang. Jessica dan Kyungsoo telaah menerima upah bermusik mereka malam ini.

“Permainan kalian berdua tadi sangat begus dan membuat banyak pelanggan datang. Besok, tampillah berdua lagi.” Kata si pemilik kedai.

“Ye, ajusshi. Kamsahamnida.” Kata mereka berdua hampir bersamaan sambil membungkuk 90 derajat.

@@@

Kyungsoo dan Jessica sedang berjalan-jalan berdua mengelilingi taman siang itu. Sesudah makan siang dan beli es krim, mereka memutuskan untuk keliling saja.

“Jess…” Tiba-tiba, dibawah sebuah pohon cemara yang menjulang tinggi, Kyungsoo menghentikan langkahnya. Dia berdiri berhadapan dengan Jessica yang juga sudah berhenti berjalan.

Kyungsoo mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaket yang dikenakannya. Sebuah kotak merah yang sekarang dihadapkan dengan Jessica. Perlahan, Kyungsoo membuka kotak itu, dan terlihatlah sebuah kalung mutiara yang polos tapi sangat elegan.

“Jessica… Would you be mine?” Kata Kyungsoo memberanikan diri. Jessica membelalakkan matanya tidak percaya. Kyungsoo menyukainya?

“Kyungsoo-ya…” Jessica tidak mampu berkata-kata.

“Eottae?”

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku.. tidak bisa.” Jawab Jessica sambil tertunduk.

“Waeyo..?”

“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Kau akan tahu sendiri.” Jawab Jessica yang sepertinya menyimpan rahasia dari Kyungsoo.

“Baiklah.. tidak apa-apa.” Jawab Kyungsoo pasrah. Kyungsoo berjalan ke belakang Jessica, dan memasangkan kalung mutiara itu ke leher Jessica.

“Aku menolakmu, Kyungsoo-ya..” Kata Jessica memprotes saat Kyungsoo emasangkan kalung itu.

“Lalu kalau aku ditolak, aku tidak boleh memberi hadiah ini kepadamu?” Jawab Kyungsoo santai.

“Ani, bukan begitu…”

“Sudahlah. Ayo kita jalan-jalan lagi.” Kata Kyungsoo sambil menarik tangan Jessica. Jessica hanya bisa mengikuti Kyungsoo.

@@@

6 Bulan Kemudian…

From: Kyungsoo

Hey, Jess! Aku akan tampil solo di konser musik! Kau bisa percaya itu? Hahaha… Terimakasih untuk pelajaran bermain flute yang kau berikan selaam ini, dan membuatku bisa seperti sekarang ini. Aku akan pulang menemuimu dengan rasa bangga karena aku bisa mengalahkanmu. Hahaha…

Jessica yang membaca pesan itu hanya bisa tersenyum. Dia senang mengetahui orang yang disayanginya telah berhasil mencapai keinginannya.

To: Kyungsoo

Chukkae! Jangan sampai kau lupa aku karena sudah terkanal nanti, kkk~

Jessica menitikkan air mata saat mengirim pesan itu. Tidak lama kemudian, Kyungsoo membalas pesannya.

From: Kyungsoo

Tentu saja aku tidak akan lupa, Jessica… Saranghae, jeongmal saranghae. Neo nan saranghaneun yeoja. Neo nae kkeoya!

Isakan Jessica pun tak tertahankan.

“Nado.. Nado saranghae Kyungsoo..”

Sementara di balik pintu kamarnya, kakanya memperhatikan Jessica yang sedang menangis. Jessica batuk dengan sangat keras dan mengeluarkan darah. Dia memejamkan matanya untuk menahan rasa sakitnya.

@@@

2 Minggu kemudian…

Kyungsoo turun dari bus sambil membawa sebuah koper besar. Tentu saja, dia telah tampil solo di sebuah pagelaran besar. Yang pertama diingatnya adalah Jessica.

Dia pun berjalan menuju rumah Jessica dengan perasaan senang dan senyum yang selalu tersungging. Tapi di depan rumah Jessica terlihat aneh. Beberapa orang berpakaian serba hitam berkumpul. Salah seorang laki-laki berperawakan jangkung menatap Kyungsoo dengan mata sembap. Kyungsoo merasa mengenalnya tapi dia lupa siapa. Tanpa diminta, pria itupun menghampiri Kyungsoo.

“Kau yang bernama Do Kyungsoo.”

“Ne. Ada apa mereka disini seperti itu?”

“Ayo ikut aku.”

Pria jangkung itu mengajaknya ke pemakaman. Kyungsoo masih belum mengerti juga apa yang terjadi. Pria itu membawanya mendekat ke salah satu nisan, dan memberikan secarik kertas kepada Kyungsoo.

“Baca itu.”

Kyungsoo menerimanya, dan hanya mengiyakan dengan mengangguk. Kyungsoo membuka lipatan kertas itu yang terdapat tulisan rapi yang dikenalnya.

Kyungsoo-ya..
Apa kau kembali dengan sukses? Aku berharap saat kau kembali, aku bisa menyambutmu. Tapi sepertinya, waktu tidak mau mengasihaniku. Kau tahu, selama ini kita seperti dua kertas yang disatukan dengan lem yang sangat lengket. Dan jika kertas itu dipaksa untuk dipisah, pasti salah satu kertas akan robek.
Aku hanya ingin mengatakan, aku sangat menyayangimu. Terimakasih untuk semua pengalaman manis yang kau torehkan di kertasku. Saranghae Do kyungsoo..

Kyungsoo menggelngkan kepalanya tidak percaya. Dia merasa hanya sedang dikerjai.

“Apa maksud semua ini? Dan, siapa kau?” Tanya Kyungsoo dengan suara berat dan sedikit serak.

“Aku Jung Il Woo, kakak Jessica. Soal Jessica, aku akan menjelaskan semuanya padamu.” Il Woo menatap Kyungsoo untuk mendapat persetujuan. Kyungsoo mengangguk.

“Aku tahu, saat kau memintanya untuk menjadi kekasihmu dia menolaknya bukan?” Kyungsoo lagi-lagi mengangguk.

“Dia menolakmu bukan tanpa alasan. Tapi, dia menolakmu karena… Dia mengidap kanker paru-paru, dan dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi. Tapi sebenarnya, dia sangat menyayangimu. Dan dia cukup tahu diri, dia tidak pantas untukmu. Surat itu tadi, adalah surat yang ditulisnya di hari terakhirnya. Dia memintaku menyerahkannya padamu. Hari ini adalah hari ketujuh Jessica meninggal.” Jelas Il Woo yang segera membuat Kyungsoo tidak percaya.

“Tolong jangan bohongi aku hyung. Jessica tidak mungkin meninggalkanku!” Kata Kyungsoo sementara air mata di kelopak matanya hampir keluar.

“Mianhae, karena aku tidak menceritakannya dari dulu.”

Kyungsoo tidak lagi memperdulikan Il Woo. Dia berjalan kesamping nisan bertuliskan nama ‘Jung Sooyeon’. Dia membuka tas kopernya, dan mengeluarkan sebuah flute berwarna putih gading dan terdapat gantungan bertuliskan ‘K&J’. Dia meletakkan flute itu di depan nisan Jessica.

“Itu hadiah terakhirku, Jess..” Kyungsoo mengusap pelan nisan itu dan menggumam. “Saranghaeyo…”

@@@END@@@

24 thoughts on “Flute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s