Five Seconds

c

Title: Five Seconds

Author: Faminsa

Cast: Jung Jessica – Kim Jaejoong

Others: Yunho

Genre: Romance – Fluff

Length: Ficlet

Rated: PG-13

Note: Sebenernya ini FF lama yang aku buat enam bulan yang lalu dengan cast berbeda. Dan sekarang aku post di sini dengan cast otp favorite-ku, JaeSica!!! ^^ Maaf kalau banyak typo dan selamat membaca (‘-‘)/

Bagaikan sihir. Kau membuatku terpesona, hanya dalam lima detik.

::. Five Seconds .::

Kim Jaejoong. Pria tampan dari keluarga berada. Dia bekerja sebagai arsitek, khusus menangani bagian restoran juga hotel. Pria ini memang sangat pendiam, selera humornya rendah. Sangat serius dan gila kerja.

Dia tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota Seoul. Dia tidak suka kebisingan, karena itulah dia mati-matian menolak keinginan sang ibu yang menitipkan seorang gadis remaja—yaitu anak sahabat baik ibunya—untuk tinggal bersamanya. Masalahnya, Jaejoong takut gadis remaja itu akan merusak konsentrasinya. Dia tidak suka jika ada orang lain ketika dia sedang bekerja.

Dia bisa tinggal bersama eomma dan appa, kan? Kenapa harus denganku?”

Apartemenmu dekat dengan kampus Jessica. Lagipula, dia itu mahasiswi desain interior. Jika dia menemukan kesulitan dalam tugas kuliah, dia bisa meminta bantuanmu.”

Tapi eomma—“

Ketika kau berumur lima, kau juga tinggal bersama keluarga Jung di Jepang. Masa sekarang kau tidak mengizinkan anak mereka tinggal bersamamu? Kau tidak malu?

Jaejoong memijit pelipisnya mengingat sang ibu yang terus memaksa Jaejoong untuk tinggal bersama Jessica. Walau pun berat hati, pada akhirnya dia menerima permintaan ibunya, karena perkataan ibunya ada benarnya juga.

Ting Tong!

Jaejoong membuka matanya yang sempat terpenjam. Dia bangkit dari meja kerjanya lalu berjalan ke ruang utama apartemen. Dia melihat layar monitor yang terletak di sebelah pintu utama apartemen. Gadis belia berambut pendek yang dia yakini sebagai Jessica, sedang berdiri menunggu dirinya untuk membuka pintu.

Jaejoong mendesah pelan. Pria itu lalu memutar kenop pintu dan membukanya. Jessica tampak senang ketika melihat Jaejoong.

“Jaejoong oppa!! Lama tidak bertemu!”

Gadis di depannya sangat berbeda dengan sosok Jessica yang pernah dia kenal. Seingatnya, dulu Jessica agak berisi dan penampilannya urakan, layaknya bocah nakal. Tapi Jessica yang kini dia lihat, adalah sosok Jessica yang sudah beranjak dewasa. Rambut selehernya tergerai rapih, dress putih selutut dan kardigan biru muda terpasang sempurna di tubuh mungilnya. Jessica tampak cantik.

“Jaejoong oppa?” Jessica menggerakan tangannya di depan wajah Jaejoong.

Jaejoong mengerjap, “Masuk.”

Jessica mengerucutkan bibirnya. Jaejoong tidak menyambutnya ramah. Gadis itu masuk ke dalam apartemen lalu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Jaejoong menutup pintu apartemen lalu berjalan melewati Jessica.

“Kamarmu di sini,” Jaejoong menunjuk sebuah pintu kamar. “Di dalam kamarmu sudah ada kamar mandinya.”

Jessica hanya mengangguk. Jaejoong hendak berjalan meninggalkan Jessica, namun dia teringat sesuatu. Dia kembali berbalik, “Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku. Dan juga, jangan pernah masuk ke kamarku, apapun kepentinganmu. Kau mengerti?”

“Jika aku ingin membangunkan oppa?”

“Kau tinggal ketuk pintunya. Aku bukan tipe orang yang sulit dibangunkan.”

Jessica mencibir ketika Jaejoong telah pergi. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menghela nafas panjang, “Benar kata ahjuma, Jaejoong oppa berubah jadi monster. Kaku.”

===

Jessica mulai kesal dan marah. Bagaimana tidak? Sudah lebih tiga bulan dia tinggal di apartemen Jaejoong, tapi pria itu tak kunjung bersikap ramah padanya. Bahkan Jaejoong tidak pernah menatap Jessica lebih dari lima detik. Pria itu selalu bersikap dingin pada Jessica. Tapi Jessica juga bingung, bagaimana bisa dia jatuh hati pada pria dingin seperti Jaejoong? Itulah yang membuat dia kesal pada dirinya sendiri.

“Jessica pulang!!” ucapnya dengan nada seceria mungkin.

Dia menutup pintu lalu mengganti heels merahnya dengan sandal rumah. Dia berjalan menuju dapur lalu menaruh belanjaannya di sebuah meja. Dia mengambil beberapa soft-drink dari kantong belanjaan kemudian menaruhnya di kulkas.

Jaejoong berjalan menuju dapur. Dia melihat Jessica sekilas yang sedang sibuk menyiapkan panci di kompor, pria itu membuka kulkas lalu mengambil botol air mineral. Dia menutup pintu kulkas kemudian duduk di meja makan.

“Oppa mau makan apa?”

Jaejoong tidak langsung menjawab. Dia memutar tutup botol lalu membukanya, dia pun meneguk air mineral sampai setengahnya. “Aku tidak lapar.”

Jessica mendesah kesal. Dia berbalik lalu menyalakan kompor gas, tapi api tidak mau muncul dari kompor tersebut. “Oppa, gasnya habis.”

“Benarkah? Jadi bagaimana? Aku lupa membeli gas cadangan.” Jaejoong berucap tanpa melihat Jessica. Dia kembali meneguk air mineral sampai habis.

Jessica menghentakan kakinya kesal, “Aku lapar!”

“Kalau begitu, makanlah.”

“Bagaimana bisa? Mau masak ramen, gas kompor habis. Persediaan kimchi dan nasi juga sudah tidak ada. Aku makan apa?” desis Jessica.

Jaejoong beranjak dari kursi, “Ganti baju. Kita makan di luar.”

Jaejoong langsung pergi dari dapur menuju kamarnya. Senyum Jessica pun mulai merekah.

====

Jaejoong membawa Jessica ke sebuah restoran Jepang yang mewah. Jessica hanya mampu berkata ‘wah’ tanpa suara ketika memasuki bagian dalam restoran bersama Jaejoong.

Restoran itu didesain dengan gaya minimalis juga homey. Tempat duduknya dibentuk kubus dengan kapastitas empat orang berhadapan. Setiap meja ditutupi oleh dinding yang dibuat berjajar lurus dan atap yang terbuka hingga bisa menerima pencahayaan temaram. Warna restoran itu didominasi oleh warga kuning dan orange, membuat interior semakin elegan.

Jessica mengekor Jaejoong yang berjalan menuju salah satu meja. Kemudian mereka duduk berhadapan. Salah seorang pelayan menghampiri mereka dan menyerahkan dua buku menu. Setelah Jaejoong dan Jessica memesan, pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi.

“Oppa, desainnya mirip dengan restoran Satsuma di London. Desain yang dibuat stiff dan Trevillion, kemudian didesain ulang oleh Man & Man. Aku benar, kan?”

Jaejoong mengangguk, “Kau benar. Dan sebenarnya, ini restoran Satsuma cabang Korea. Desainnya sengaja aku buat mirip dengan cabang London, agar suasana khas Satsuma tidak hilang. Tapi tetap saja, aku merenovasi beberapa bagian tertentu seperti physical place name[1].”

Jessica terkejut, “Jadi, oppa yang mendesain restoran ini?”

Jaejoong memalingkan wajahnya, “Tidak sendiri. Partner kerjaku membantu.”

Tak lama, seorang pelayan datang dan mengantar pesanan mereka. Setelah selesai meletakan pesanan Jaejoong dan Jessica, pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi.

“Wahhh!! Sudah lama aku tidak memakan masakan Jepang!”

Jessica langsung melahap ogura ice cream[2] miliknya. Jaejoong tampak heran. “Jess, kau harusnya memakan dessert di akhir. Kau lebih baik memakan salad buah sebagai makanan pembuka.”

Jessica menggeleng, “Aku terbiasa memakan ogura ice cream sebagai pembuka ketika di Jepang. Salad sebagai penutup.”

“Kau tidak akan merasa terlalu kenyang ketika memakan menu utamamu?”

“Tidak. Aku sudah terbiasa.”

…..

Setelah menghabiskan Okonomiyaki[3], Onigiri[4] dan Gyudon[5], pelayan datang ke meja Jaejoong dan Jessica lalu membersihkannya. Jessica dan Jaejoong tidak langsung beranjak dari sana, mereka berniat untuk diam di sana sebentar sambil mengistirahatkan perut mereka. Sang pelayan kembali meletakan dua Gyokuro[6] sambil berlalu.

“Jae!”

Jaejoong maupun Jessica menoleh. Pria tampan menghampiri mereka lalu tersenyum. “Jadi ini, gadis remaja yang tinggal bersamamu?” Pria itu menatap Jessica lalu mengedipkan sebelah matanya, “Kau cantik.”

Jessica hanya tersenyum kaku. Jaejoong menatap pria itu tidak senang, “Dont give her a flirt, Yunho. Dia gadis baik-baik.”

Yunho tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, “Kau menyukainya, eh?”

Jaejoong langsung menendang kaki Yunho. Pria itu malah terkekeh dan kembali menatap Jessica, “Jadi, siapa namamu, nona?” tanya Yunho sambil mengulurkan tangannya.

Jessica menjabat tangan Yunho hati-hati, “Jessica Jung.”

Sweet name. Aku Yunho. Partner kerja terbaik yang dimiliki Jaejoong.” Yunho dan Jessica melepas tangan masing-masing. Yunho kembali berbicara, “Ku dengar kau mahasiswi desain interior? Menangani bagian apa?”

Jessica tersenyum, “Interior restoran dan kamar tidur.”

“Benarkah? Kalau begitu, kau bisa belajar banyak pada Jaejoong dalam hal interior restoran. Dia ahlinya.”

Jessica menggaruk tengkuknya, “Aku sebenarnya ingin belajar bersama Jaejoong oppa. Tapi, dia mengerikan.”

Yunho tertawa mendengarnya, “Dia memang mengerikan. Kalau begitu, kau belajar denganku saja. Kemampuanku tak jauh beda dengan Jaejoong.”

Jessica tersenyum senang, “Oppa mau? Kalau begitu, bisa mengajari aku tentang mendesain image dan branding? Dosen menyuruhku menghasilkan itu dan dikumpulkan lusa. Aku lemah dalam bidang tersebut.”

“Tentu saja boleh.”

Jaejoong yang hanya menjadi pendengar setia, mulai kesal. Dia meraih cangkir teh lalu meneguk isinya sekaligus, kemudian meletakan cangkir tersebut dengan kasar. Yunho dan Jessica menatapnya heran.

“Udara di sini sangat panas!” desis Jaejoong. Yunho hanya terkekeh geli.

====

“Besok kau tak usah datang ke tempat Yunho.” ucap Jaejoong pada Jessica ketika mereka sampai di apartemen.

Jaejoong membuka jaketnya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Jessica mendelik lalu duduk di sebelah Jaejoong.

“Kenapa?” Jessica tampak kecewa.

“Aku yang akan mengajarimu.”

Jessica mengembungkan pipinya, “Ah, tidak asik.”

Jaejoong mengerutkan keningnya, “Maksudmu?”

“Kalau oppa yang mengajariku, suasana tidak akan seru. Berasa diajari oleh fosil hidup.”

Jaejoong menatap Jessica. Gadis itu balas menatapnya. Jaejoong lalu mengerjap kemudian memalingkan wajahnya, “Terserah kau saja.”

Jaejoong bangkit dari sofa lalu pergi menuju kamarnya. Jessica meniup poninya dengan kesal.

====

Besok malamnya, pukul sembilan, Jessica pulang ke apartemen. Dia baru saja belajar desain image dan branding bersama Yunho. Desain miliknya bahkan sudah jadi, dia berniat untuk mengumpulkannya besok.

“Jessica pulang!”

Dia mengganti heelsnya dengan sendal rumah lalu berlari menuju kamarnya. Jessica merasa ada yang aneh, firasatnya bilang begitu. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk kamar. Dia lalu berjalan mendekat ke depan pintu kamar Jaejoong, lalu mengetuk pintunya.

“Jaejoong oppa! Jaejoong oppa ada di dalam?”

Sama sekali tidak ada jawaban. Entah mengapa, tangan Jessica spontan membuka pintu kamar Jaejoong, dia lalu masuk ke dalamnya. Jaejoong tampak tertidur. Jessica berjalan mendekat ke arah pria itu. Mata Jessica membulat, wajah Jaejoong tampak pucat. Gadis itu meraba kening Jaejoong. Panas.

Kepala Jaejoong sedikit bergerak. Pria itu membuka mata lalu mendapati Jessica yang sedang menatapnya, “Kau sedang apa? Bukankah sudah aku bilang, jangan masuk ke kamarku apapun kepentinganmu!”

“Oppa demam. Aku ambil kompres dulu.” ucap Jessica tak peduli pada perkataan Jaejoong.

“Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu. Kau hanya menyusahkan aku.”

Langkah Jessica tertahan. Tidak tahu kenapa, perkataan Jaejoong menyakiti hatinya. Gadis itu berbalik lalu menatap Jaejoong tajam, “Aku tidak peduli. Aku akan tetap merawat oppa sampai sembuh. Setelah itu, aku tidak akan menyusahkan oppa lagi.”

Jessica pergi sambil menahan tangisnya. Jaejoong hanya menghela napas berat.

====

Jessica menepati perkataannya. Setelah Jaejoong sembuh dari demam, gadis itu pergi dari apartemen Jaejoong. Dia mengungsi di apartemen Yunho.

“Sudah tiga hari, Jess. Kau tidak mau kembali ke apartemen Jaejoong?” tanya Yunho sambil mengaduk kopinya.

“Tidak mau. Jaejoong oppa bilang bahwa aku menyusahkannya. Aku tidak mau pulang ke sana.”

Yunho hanya menghela napas melihat Jessica yang kini sudah membaringkan diri di sofa. Ponsel Yunho lalu berdering, pria itu langsung mengangkatnya.

“Iya? Oh, baiklah.”

Yunho melirik Jessica yang kini tengah memejamkan mata. Dia menutup ponselnya dan memasukannya kembali ke saku. Dia lalu menghampiri Jessica dan menepuk pundaknya perlahan.

“Ada apa lagi, oppa?” Jessica terduduk lalu menguap.

“Temanmu dari Jepang menunggu di taman apartemen.”

Jessica terheran, “Siapa?”

“Aku tidak tahu. Temui saja di sana.”

Tanpa berpikir panjang, Jessica langsung beranjak lalu keluar apartemen. Yunho yang melihat itu hanya tersenyum penuh arti.

====

Sudah lima menit lebih Jessica menunggu. Tapi teman yang disebut Yunho tidak kunjung datang. Jessica merogoh ponselnya di saku, ada pesan masuk.

From: Yunho Oppa

Maaf membohongimu. Selesaikan saja masalahmu dengan Jaejoong. Setelah itu, kalian pulanglah. Aku mengantuk. Malam ini sangat dingin J

Jessica kembali memasukan ponselnya sambil menggerutu. Ketika dia berbalik, Jaejoong sudah ada di depannya.

“Oppa? Mau apa ke sini?” tanya Jessica ketus.

Jaejoong melangkah maju lalu memberanikan diri menatap Jessica, “Dengar, aku minta maaf.”

“Untuk?”

“Sikapku yang dingin padamu. Aku minta maaf. Aku seperti itu, bukan berarti aku membencimu. Sesungguhnya, aku takut.”

“Kenapa?”

Jaejoong menghela napas lalu menyentuh bahu Jessica dengan kedua tangannya, “Kau tahu bahwa aku tak pernah memandangmu lebih dari lima detik. Itu semua karena—“ Jaejoong memalingkan wajahnya dari Jessica. “Kau harus tahu, itu bagaikan sihir. Kau membuatku terpesona, hanya dalam lima detik.”

Jessica mengedipkan matanya, “Maksud oppa?”

Jaejoong menunduk lalu kembali menatap Jessica, “Tatap aku.”

Jessica menurutinya. Detak jantung Jaejoong semakin cepat.

1…2…3…4…5.

Tanpa sadar, Jaejoong mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica. Dan kemudian, pria itu mempertemukan bibirnya dengan bibir Jessica. Jaejoong mengecup bibir Jessica dalam dan lembut, lalu melepaskannya.

“Itu yang aku takuti.” Jessica hanya bisa terdiam. Jaejoong mendesah kecil, “Aku mencintaimu. Jadi kumohon, maafkan aku.”

Pria itu lalu mendekap Jessica ke dalam pelukannya. Kehangatan menjalar ke dalam seluruh tubuh Jessica. Gadis itu tersenyum. “Aku juga mencintai oppa.”

Jaejoong melepas pelukannya lalu menatap Jessica lembut, “Kau serius?”

Jessica mengangguk, “Sedari dulu. Mungkin, ketika aku pertama kali datang ke apartemen oppa?”

Jaejoong tertawa kecil, “Sama denganku.”

Jessica tersipu malu. Jaejoong kembali menarik Jessica ke dalam pelukannya, “Ayo pulang. Jangan pernah pergi dariku lagi.”

“Mmm.” Jessica mengangguk kemudian kembali berkata, “Jadi, sekarang oppa akan menciumku jika oppa menatapku selama lima detik?”

“Mungkin.”

Jessica melepaskan pelukannya, “Berarti kita akan sering berciuman? Bisa oppa perpanjang tenggang waktunya? lima detik terlalu cepat.”

Jaejoong terkekeh geli, “Maaf. Aku tidak bisa”

::. End .::

Nah, kalau misalkan ini ff terkesan berlebihan atau gimana, maaf aja ya hehehe saran dan kritik yang membangun sangat aku terima. Komen panjang, very welcome! Thank you J


[1] Papan nama besar restoran yang biasanya dipajang di depan

[2] Es krim kacang hijau campur susu (Yummy u,u)

[3] Daging tepung yang dipasak si plat besi

[4] Nasi kepal yang dibungkus oleh rumput laut

[5] Nasi dengan irisan daging sapi rebus

[6] The hijau Jepang termahal

46 thoughts on “Five Seconds

  1. hahahhaa… so sweet.. ternyata jae ada maksud d balik tatapan 5 detik itu eh ternyata takut terpesona sama kecantikan sica.. hahhaaaa

  2. Jaaaeeessiiicaaaaa…! Couple favorite banget..!!
    Ƌƙび reader baru Ľºõõĥ
    Gk tau И̲̮̣̥̅̊ȋȋ̊ё ngubek2 google nemu ff
    Tp bingung mulai dari mana..
    Lam kenal Ўªãª

  3. Wih.. ffnya so sweet^^
    Suka banget ama jalan ceritanya🙂 aku bacanya sambil senyum2 gajeo_O trus pipi ku jadi ngeblushing trus neh pas baca yg mau endingnya >,< romantis tapi lucu juga seh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s