Before The Dawn—Shadow [Chapter 3]

before-the-dawn-shadow

Author: Park Soojin

Judul: Before The Dawn—Shadow

Genre: Fantasy, Mystery, Adventure

Rating: PG

Main Cast: Sehun, Luhan, Jessica, Sooyoung, D.O

Other cast: Makhluk bayangan, Annunnaki*, Raja Ur*, Raja Saternatez*, Lunez*, Nibiru* (*semua tokoh fiksi diambil dari novel Nibiru dan Kesatria Atlantis karya Tasaro GK)

Length: Multichapter

Preview chapter: 1 | 2

poster by Choi Junghee

Author note: Don’t bash! Don’t plagiat! Typo dimana-mana. Banyak hal yang dikarang. Jangan lupa RCL~

 

@@@

 

“Kalau memang hutan ini hanya berjarak 2 km dari Seoul, berarti modemku bisa digunakan.” Ujar Kyungsoo di sela makannya. Dua yeoja didepannya memasang tampang aneh mendengarnya.

“Memang kau mau browsing apa? Cara kita pulang?” Tanya Jessica.

“Ani. Aku mau mendownload video yadong baru.” Katanya tanpa rasa bersalah. Sukses mendapat satu jitakan dari Sooyoung.

“Kecil-kecil otakmu yadong.” Komentarnya kemudian.

“Aku sudah besar, Sooyoung nuna. Mau bukti?”

“Bukti apa? Badanmu saja masih kecil.” Sekarang giliran Jessica yang mendapat glare dari Kyungsoo.

 

Luhan dan Sehun keluar dari kamar. Sehun mengembangkan senyum, sementara Luhan datar saja.

“Jessica-ssi, Sooyoung-ssi, Kyungsoo-ssi…” Ketiga orang yang dipanggil langsung menghentikan aktifitasnya dan menatap Luhan.

“Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan rumah ini.” Kata-kata Luhan langsung membuat senyuman Sehun hilang. Dia menatap hyungnya itu tidak mengerti. Itu bukan yang dia minta di kamar tadi.

“Hyung, apu thirap sedhpatha bhekedhthi ithu thari.” Protesnya.

Thudhuthi bhacha.” Jawab Luhan santai.

Thaki…

“Kalian berbicara apa sebenarnya?” Sela Jessica yang bingung dengan apa yang mereka bicarakan.

“Nuna-deul, Kyungsoo-ssi, tolong kalian segera pergi dari tempat ini, ini untuk keselamatan kalian sendiri. Harus cepat! Atau kalian akan mendapat celaka.” Ujar Sehun.

“Ne, kami sangat ingin pulang. Tapi masalahnya, kami harus pulang bagaimana?” Tanya Sooyoung.

“Kalian hanya tinggal mengikuti jalan yang di sampingnya ada jejeran daun berbentuk persegi. Maka kalian akan keluar dari hutan ini.

“Ada daun berbentuk persegi disini? Aku tidak pernah melihatnya.” Gumam Luhan, namun masih bisa didengar oleh Sehun.

“Aku memanipulasinya.” Timpal Sehun.

“Baiklah, setelah merapikan barang-barang, kami akan segera pulang.” Kata Jessica, dan kedua temannya menanganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Hajiman…” Luhan merasa keberatan dengan rencana pulang yang tiba-tiba. Dia baru sehari mendapat teman baru, dan dia akan sendiri lagi. Mengingat Sehun yang sering bertugas.

Ketiga penjelajah itu menatap Luhan, dan Luhan menatap ketiganya bergantian. Namja manis itu kemudian menunduk. “Baiklah…”

“Silakan merapikan barang kalian.” Kata Sehun. Tiga orang itupun langsung menuuti perintahnya. Memasukkan segala barang milik mereka ke dalam ransel masing-masing.

Jessica mengeluarkan buku bersampul kulit yang kusam dari ranselnya. Dia menatapnya sejenak.

 

“Jaga buku ini baik-baik. Kau harus mempertahankannya dengan nyawamu. Akan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.”

 

Ucapan lelaki tua yang memberi buku itu masih terekam di otaknya.Untuk apa aku menjaganya, bahkan selama ini buku ini tidak memberi pengaruh apapun, batinnya.

“Sehun-ah…” Jessica berjalan menghampiri Sehun sambil membawa buku itu. Sehun langsung menghadapnya.

“Ini ada kenang-kenangan. Mungkin bisa bermanfaat bagi kau dan Luhan.” Kata Jessica sambil menyodorkan buku itu.

 

Deg!

 

Kitab Ur…

 

Buku yang diincar oleh anggota persekutuan raja-raja…

 

Sekarang, ada dihadapanku…

 

Jika aku memilikinya, aku bisa berkuasa…

 

Mata Sehun terbelalak melihat buku usang itu. Tangannya bergerak secara perlahan untuk mengambil buku itu.

 

Pelan…

Pelan…

 

Belum sampai dia menyentuh sampulnya, dia langsung mengepalkan tangannya. Dia tidak berani mengambil buku itu.

“Aku tidak bisa, nuna. Maaf. Tapi, jaga buku ini dengan sangat baik. Pertahankan dengan nyawamu. Sangat bahaya jika jatuh ke tangan yang salah.” Ucapan Sehun sama seperti lelaki yang memberinya. Jessica hanya menatap tidak mengerti, tapi akhirnya dia hanya mengangguk.

 

“Apa kita sudah siap?” Tanya Kyungsoo.

“Ne, ayo berangkat.” Ujar kedua yeoja itu hampir bersamaan.

Ketiga orang itu berjalan ke luar rumah. Sehun dan Luhan mengikuti.

“Terimakasih sudah mau memberi tumpangan. Dan terimakasih untuk semuanya. Maaf jika kami merepotkan.” Kata Jessica sebagai ketua kelompok itu. Ketiga orang itu kemudian membungkukkan badannya untuk salam perpisahan.

“Ne,… sampai jumpa.” Luhan menjawab singkat.

“Ne. Maaf untuk  Kyungsoo. Dan ingat, harus sangat hati-hati di jalan.” Pesan Sehun. Ketiga orang itu mengangguk sambil tersenyum.

 

@@@

 

Sesuai yang diperintahkan oleh Sehun, ketiga orang itu berjalan mengikuti jejeran daun persegi. Ajaib. Jalan yang mereka lalui sangat mudah, berbeda dengan saat pertama mereka kesini karena tersesat. Mereka berfikir, mungkin Sehun memang sudah menyiapkan jalan keluar untuk mereka.

Satu hal yang terasa tidak mungkin, bagaimana cara Sehun memanipulasi daun-daun itu menjadi berbentuk persegi? Ketika diperhatikan, tidak ada bekas guntingan di daun itu. Benar-benar daun biasa, dan jika dilebarkan berbentuk persegi. Ilmu macam apa yang digunakan oleh Sehun?

Tapi, mereka ambil sisi positifnya saja. Setidaknya mereka bisa keluar dari hutan ini. Hutan yang menyimpan segala sesuatu yang aneh dan mustahil. Bahkan Sehun bilang jika terus disini, mereka bisa celaka.

 

“Daun-daun ini aneh sekali ya. Bagaimana bisa Sehun melakukan ini?” Tanya Kyungsoo penasaran.

“Entah. Aku tidak pernah membaca buku yang berisi cara mengatur bentuk daun ketika masih benih.” Timpal Jessica.

“Atau Sehun mempraktekkan sihir?” Tebakan Sooyoung membuat kedua temannya menatapnya aneh. “Apa?” Tanyanya karena diperlakukan seperti itu.

 

Hening.

Sudah siang. Jika di kota mungkin terik matahari akan mengganggu. Tapi kali ini mereka harus berterima kasih pada rerimbunan pohon karena itu membuat hawa sejuk siang begini. Bukan dingin, tapi sejuk.

 

Ah, ralat.

Kali ini bukan sejuk lagi,

Tapi dingin…

 

“Tadi kalau tidak salah, Sehun meminta maaf kepadaku.” Celetuk Kyungsoo.

“Iya. Apa maksudnya ya? Kurasa dia tidak pernah berbuat salah.” Komentar Jessica yang disusul anggukan Sooyoung.

“Apa dia meminta maaf karena bersikap dingin padaku?”

“Kapan dia bersikap dingin?” Tanya Sooyoung.

“Sehun memang dingin, Soo.” Ujar Jessica.

“Ani, ini lain. Kalian ingat saat sarapan tadi? Dia datang dengan wajah ceria tidak jelas, tapi langsung berubah ekspresi setelah aku menyapanya.”

Ketiganya diam. Mereka bersyukur bisa keluar sekarang, tapi mereka masih penasaran tentang apa dibalik ini semua.

 

Angin kencang berhembus. Dingin yang mereka rasakan kali ini beda. Dingin seperti menembus tulang. Dingin yang menyakitkan. Tapi aliran darah serasa mengalir cepat dan sangat panas.

“Aku takut…” Kata Jessica tiba-tiba di tengah perjalanannya.

“Kenapa takut, nuna?” Tanya Kyungsoo.

“Aku merasakan seperti ini juga kemarin malam. Dan tiba-tiba aku melihat makhluk bayangan itu.”

“Kau tidak bercerita tentang ini pada kami.” Kata Sooyoung.

“Aku lupa.”

 

Ketiga orang itu kembali melanjutkan perjalanan. Tapi mulai ada yang aneh. Seperti ada yang mengikuti mereka.

Kyungsoo pernah merasakan ini ketika dia mencari kayu bakar. Dia kembali merasa tidak nyaman.

Kyungsoo berdecak sebal, kemudian berbalik badan.

“Siapa disana? Keluarlah!” Teriaknya.

Tidak ada apapun atau siapapun yang muncul. Ini persis seperti yang dialaminya.

“Apa ini…” Gumam Sooyoung. Dia mulai merasa khawatir.

“KYAA!” Jessica berteriak ketakutan karena apa yang dikhawatirkannya benar terjadi. Tiga makhluk bayangan muncul entah darimana. Tapi, kali ini tidak membawa mayat manusia.

“Siapa kalian?” Kyungsoo bertanya sambil mengacungkan ranting-ranting pohon disekitarnya yang mungkin bisa jadi senjata.

Jessica berteriak-teriak ketakutan, Sooyoung terus berseru minta tolong, dan Kyungsoo yang berusaha berkomunikasi dengan makhluk-makhluk itu, tapi tidak berhasil. Tiga makhluk bayangan itu malah semakin mendekat dan mengepung mereka.

 

@@@

 

Pendengaran tajam Sehun dapat menangkap suara ketiga orang yang baru tadi pergi dari rumahnya. Apa yang dikhawatirkannya terjadi.Mereka terlalu lambat, batinnya.

Sehun langsung saja bermain dengan tubuhnya. Dia kacaukan aliran darahnya, sehingga dia terlihat pucat.

“Yang Mulia, hamba merasa kurang sehat. Mohon izinkan hamba kembali beristirahat ke rumah.” Ucapnya berbohong kepada atasannya yang kini berdiri di hadapannya.

Makhluk berjubah yang menutupi wajahnya dan dikawal dua tornado berapi itu menatap Sehun tajam. Melihat wajahnya yang pucat, makhluk itupun mengangguk.

“Baiklah. Tapi kau harus bisa mendaptkan Saternatez nanti.” Suara yang seperti orang kesakitan itu seperti menusuk gendang telinganya.

“Tentu Yang Mulia. Nyabhamalu nyamanyipul.” Pamitnya, kemudian sosoknya langsung menghilang.

 

@@@

 

Sehun tidak menyangka, Tuannya bisa dikelabui dengan permainannya tadi. Diapun langsung memanfaatkan kesempatan langka ini untuk menyelamatkan teman-temannya. Tubuhnya melenting dari pohon satu ke pohon yang lain. Dia mengikuti arah pendengarannya.

Hingga sampai di tempat tujuan. Betapa terkejutnya dia melihat kekacauan di sekitarnya. Pohon-pohon sudah tidak berbentuk lagi. Tanah-tanah berantakan bekas letusan. Kyungsoo benar-benar nekat melawan makhluk suruhan Tuannya.

Kedhwi!” Teriak Sehun. Kali ini makhluk itu tidak mendengarkan perintah Sehun. Diapun mulai mengerti, dia harus melawan mereka kali ini.

Namja tinggi itu memasuki arena. Dia berdiri di samping Kyungsoo yang menyerang tidak teratur dan terlihat kacau. Yang dia pikirkan, bagaimana Kyungsoo masih bisa bertahan melawan makhluk itu. Mungkin, jiwa Lunez di tubuhnya mulai muncul seiring dengan kekuatannya.

Sehun memanipulasi tanah menjadi tameng dan api menjadi pedang. Dia menyerang makhluk-makhluk itu dengan menebas sekenanya. Melawan makhluk bayangan memang benar-benar sulit.

Kyungsoo menatap Sehun takjub.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu?” Tanya Kyungsoo tanpa berhenti melawan makhluk itu.

“Sudah nanti saja. Sekarang lawan dulu mereka, bodoh!” Bentak Sehun sambil terus menghunus pedang apinya. Kebenciannya pada Kyungsoo tidak bisa berkurang barang satu mili, bahkan dalam keadaan panic seperti ini.

 

Entah keajaiban atau apa, ketiga makhluk itu lenyap begitu saja. Kyungsoo langsung terjatuh lemas, sementara Sehun mencari pohon yang bisa dijadikan sandaran.

Dua yeoja yang sedari tadi bersembunyi sambil menyaksikan Kyungsoo dan Sehun bertarung melawan makhluk bayangan tadi, langsung muncul dari balik pohon yang masih utuh. Mereka menghampiri dua namja yang tergeletak tanpa tenaga itu. Kyungsoo memejamkan matanya, karena merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Sementara Sehun bersandar sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya, dadanya terasa sangat sesak.

Jessica mengeluarkan obat-obatan seadanya yang ada di ranselnya dan air mineral yang masih tersisa. Dia membiarkan kedua namja itu meminumnya bergantian, kemudian mulai mengobati mereka sambil dibantu oleh Sooyoung.

 

~

 

Keempat orang itu duduk sambil bersandar di pohon untuk mengembalikan tenaga. Bukan semua sebenarnya yang ingin istirahat, hanya saja Sehun meminta untuk beristirahat dulu. Dia bilang dia tidak kuat untuk melakukan apa-apa lagi.

 

Sooyoung memperhatikan sesuatu yang berkilau di ransel Jessica yang sedikit terbuka. Diapun merangkak dan mengambil benda itu. Ternyata sebuah cincin! Cincin yang mempunyai mata berupa bola kecil yang dikelilingi lingkaran kecil yang berpendaran cahaya.

“Cincin ini indah sekali, Jess…” Otomatis, ketiga orang lainnya langsung menoleh Sooyoung. Mata Sehun langsung berbinar melihat benda di tangan Sooyoung.

“Oh, cincin itu. Itu pemberian dari seorang lelaki tua yang juga memberikan buku bersampul kulit itu.”

“Oh, begitu. Kucoba ya.”

“Silahkan saja.”

Sooyoung pun menyematkan cincin indah itu ke jari manisnya. Kebesaran.

“Yah, tidak pas. Yasud—”

“Jangan dilepas! Tunggu sebentar!” Kata Sehun. Sooyoung yang bingung, akhirnya menuruti saja.

Beberapa menit kemudian, setelah semua menunggu, ternyata tidak ada yang terjadi. Sooyoungpun akhirnya melepas cincin itu. Tapi baru saja cincin terlepas, cincin itu langsung melayang. Cincin itu seperti terbuka dan membentuk busur dan langsung menembus dahi Sooyoung. Badan Sooyoung langsung terpental dan mengeluarkan cahaya super terang.

“AAAKH!”

 

TBC

 

p.s.: bagi yang komen ff ini pendek, aku mau beri tau kalo per chapternya cuma 7-8 halaman ms word.

18 thoughts on “Before The Dawn—Shadow [Chapter 3]

  1. maaf ru komen disini………
    wah ceritanya mkin lama mkn bkn penasaran……..
    dilanjt yaaaaaa kl bisa secepatnya

  2. Yak! Author! Soo kenapa? *histeris*
    Aku masih agak bingung kenapa ya Sehun benci ama Kyungsoo?
    Juga kenapa Jessica yang dikasih buku sama cincin nya?
    Udahlah, yang penting kutunggu next partnya^^

  3. Pingback: Before The Dawn—Shadow [Chapter 4] | Jessica Jung Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s