[Freelance] Our Moment – Unpredictable You

our-moment-unpredictable-you-by-v-signed (1)

Title : Our Moment – Unpredictable You

Author : V-Signed

Rating : T

Length : Ficlet

Genre : Romance, Friendship, AU

Main Cast : Jessica Jung, Xi Luhan

Support Cast : Xi Lihua (OC)

Disclaimer :

THIS FANFIC IS ORIGINALLY MADE BY ME, DON’T BE PLAGIATOR PLEASE. ENJOY~

Anggap di sini Jessica lebih muda dari Luhan ya😀

Poster credit : http://hayiart.wordpress.com/

 

Jessica harus kembali menjalani aktivitas kuliahnya seperti biasa karena liburan musim panasnya telah berlalu. Dan kini, ia harus bangun sepagi mungkin agar ia bisa tidur nyenyak di perpustakaan kampusnya. Oh, tak sampai berjam-jam memang, tapi itu lebih dari cukup ketimbang bermalasan di atas tempat tidurnya namun ditemani omelan panjang dari ibunya atau terkadang pukulan-pukulan kecil yang diberikan ibunya jika Jessica tak kunjung bangun.

Sesampainya di halte bus terdekat rumahnya, ia mengedarkan pandangannya. Sepi seperti biasa, batinnya. Bagaimana tidak? Ini masih pukul 6.30 pagi dan bus jurusan kampusnya datang 30 menit lagi. Lagipula, kelasnya baru akan dimulai pukul 8.00. Terlalu rajin? Iya memang. Tapi sekali lagi ditekankan bahwa Jessica berangkat sepagi ini hanya demi beberapa puluh menit terlelap di bangku kesayangannya―selain karena jarak rumah-universitas yang cukup jauh. Entahlah, itu sudah menjadi sebuah kebiasaan rutin baginya.

Seperti biasa, Jessica duduk di kursi halte dan memasang earphone-nya lalu bersenandung kecil mengikuti lirik lagu yang terdengar olehnya. Ia memejamkan matanya, merasakan ketenangan dan sejuknya udara pagi kota itu. Hm, andai waktu berhenti sebentar, pikirnya sambil tersenyum.

Baru beberapa detik ia menikmati momen-momen tenangnya, Jessica dibuat kaget dengan sentakan kecil di pundaknya. Ia sontak membuka matanya dan mendapati seorang gadis cantik berdarah Cina berdiri di sampingnya dengan cengiran terkonyol yang gadis itu punya. Xi Lihua, itulah namanya. Ia merupakan sahabat terbaik yang Jessica punya. Jika Jessica bersikap amat dingin pada orang lain, hanya dengan Lihua-lah Jessica bsia menghangat. Yah, pada dasarnya Jessica adalah orang yang hangat. Hanya saja ia kurang nyaman menunjukkan keramahannya pada orang lain, terutama orang asing.

Oh, tunggu dulu! Kenapa Lihua datang ke halte bus? Bukankah biasanya ia berangkat bersama oppa-nya itu?, dalih Jessica dalam hati. “Lihua-ya, tumben tidak berangkat dengan oppa-mu?” Tanya Jessica keheranan.

Lihua seperti teringat sesuatu, “Ah, aku lupa! Tunggu sebentar!,” kaget Lihua lalu berbalik dan berlari kecil. Oh, itu oppa-nya, tengah menunggu Lihua yang menyapa Jessica? Aish, Lihua ada-ada saja!

Jessica perhatikan, Lihua terlihat sedang berdebat dengan oppa-nya itu. Namun tak lama kemudian Lihua kembali ke arah Jessica dengan senyum konyolnya itu, membuat kening Jessica makin terangkat.

“Luhan oppa dan aku akan naik bus bersama, yeah!” seru Lihua senang.

Jessica tertawa kecil melihat sahabatnya itu lalu memukul kepalanya pelan. “Ya! Seperi bocah saja!,” gerutu Jessica pelan sambil masih menahan tawanya.

Lihua mengaduh kesakitan tapi segera tergantikan dengan senyum konyolnya lagi. “Aku tidak pernah naik bus bersama Luhan oppa sebelumnya,” jelasnya berseri.

Aigoo-ya,” gumam Jessica sambil menggelengkan kepalanya. “Ah, lalu, mana oppa-mu?”

“Oh, dia sedang mengembalikan motornya. Aku yang memaksanya,” cengir Lihua lagi.

Jessica hanya mengangguk paham mendengarnya, rumah Lihua tak jauh dari sini, jadi ia tak perlu heran oppa-nya mau menuruti apa kata Lihua.

Lihua melambaikan tangannya ke arah belakang Jessica dengan senyum merekah, hal itu membuat Jessica reflek menolehkan kepalanya dan mendapati sunbae-nya itu berjalan dengan gaya yang dingin namun tetap ramah.

Tanpa Jessica sadari ia mengunci tatapan matanya pada iris coklat bening milik Luhan. Begitu pula dengan Luhan.

*****

Jessica’s POV

Mata kami bertemu. Entah apa yang aku pikirkan hingga membiarkannya menahan pandanganku tepat pada matanya. Namun, mata itu, begitu tenang dan nyaman untuk dipandang. Oh, apakah aku baru menyadari jika mata Luhan begitu, err.. tampan?

Sesegera mungkin aku tersadar dan mengalihkan pandanganku. “Oh, itu bus kita!,” seruku berusaha menyembunyikan kegugupan yang perlahan merambat di pikiranku.

Kami bertiga pun masuk ke dalam bus, di sini masih sepi mengingat ini masih pukul tujuh pagi. Aku memutuskan duduk di samping Lihua, sedangkan Luhan entah duduk di mana. Oh, apa kalian bertanya mengapa aku memanggilnya hanya dengan ‘Luhan’ tanpa embel-embel ‘oppa’ padahal sudah sangat jelas perbedaan umur kami? Eung, karena aku tak mau memanggil siapapun dengan panggilan oppa. Err.. itu sedikit menjijikkan. Aku hanya akan menggunakannya sebagai sebutan, bukan panggilan.

Aku dan Lihua membicarakan banyak hal di bus, mulai dari pengalaman libur musim panas kami, betapa malasnya kami kembali menghadapi mata kuliah wajib yang sungguh membosankan, dan sampailah kami pada perbincangan mengenai Luhan. Lihua sering sekali menceritakan oppa satu-satunya itu, jadi aku sedikit banyak tahu bagaimana sifat asli Luhan, apa kebiasaan buruknya, apa hal yang membuat Luhan takluk, dan masih banyak lagi. Lihua orangnya cerewet dan membenci suasana yang hening, ia bisa dengan mudah mencairkan suasana dingin yang ku buat. Berbanding terbalik denganku memang.

Saking banyaknya hal yang kami bicarakan, tak terasa setengah jam perjalanan sudah kami tempuh. “Jessica-ya¸ apa sudah dekat?,” tanya Lihua bingung melihat jalanan melalui jendela bus.

Ku edarkan pandanganku sejenak dan ku dapati bus telah penuh sesak. Aku pun mengangguk pelan. Biasanya, jika bus sudah penuh, berarti sebentar lagi akan sampai, itu yang menjadi patokanku. Lihua segera menggandeng tangan kiriku melihat aku sedikit kesulitan berjalan menuju bagian depan bus.

Aku mengaduh kesakitan ketika kepalaku terbentur oleh siku seorang ahjussi. Tiba-tiba seseorang menggapai telapak tanganku yang tengah mengusap dahiku dan menarikku―juga Lihua yang masih menggenggam tanganku―menuju bagian depan bus. Setelah melewati lautan manusia itu, akhirnya kami berhasil mencapai ruang kosong di dekat pintu bus ini.

Ada sesuatu yang mengganjal menurutku, ah, tanganku! Ku lihat tangan itu masih menggenggam telapak tanganku erat. Dengan cepat aku mendongakkan kepalaku, ku dapati wajah Luhan yang menghadap jendela bus. Ia terlihat fokus dengan jalanan dan terlihat tak peduli pada tanganku yang masih digenggamnya. Dapat ku rasakan pipiku perlahan menghangat, namun segera ku alihkan dengan menundukkan kepalaku dalam-dalam. Aku terus merutuknya dalam hati berharap ia segera melepaskan tautan tangannya.

Sementara aku sibuk dengan pikiranku, bus yang kami tumpangi pun berhenti, menunjukkan bahwa kami sudah sampai di halte kampus kami. Tanganku pun ditarik perlahan oleh Luhan agar  segera keluar dari bus yang penuh sesak itu.

Setelah berhasil keluar, genggamannya melonggar dan aku segera mengalihkan pandanganku untuk membantu Lihua yang nampak kesulitan keluar dari bus.

“Ah, sampai juga! Gomawo, Jessica-ah” seru Lihua senang.

Geurae, Lihua-ya,” sahut seseorang yang ku yakini adalah Luhan. Aku tak berani melihatnya dan terus mengedarkan pandanganku. “Oppa ke kelas dulu,” lanjutnya.

“Ah, ne,annyeong, oppa!” jawab Lihua dengan senyum merekah.

Annyeong, Lihua” hm, kurasa kini Luhan melambaikan tangannya pada Lihua karena Lihua tengah membalasnya. “Annyeong, Jessica-ssi. Lain kali kita berangkat bersama lagi,”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Hei, Luhan menyebut namamu! Dan, apa katanya tadi? Omo!

Dengan mengumpulkan segenap keberanianku, aku nekat menolehkan kepalaku untuk sekadar melihatnya. Tapi Luhan sudah lebih dulu pergi, dan aku hanya bisa melihat punggung dan tas ranselnya yang perlahan menjauh itu.

Entahlah, tapi ada sebesit rasa senang hanya dengan melihat punggungnya. Dan tanpa sadar, aku menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

*****

 

Nah, gimana? Maaf kalo aneh dan bikin bosen -_- Dan, ini gantung ya? HAHA, ini nekat soalnya dan emang sengaja begitu -_-v Soalnya bingung mau dilanjut gimana -_- Sebenernya aku udah punya lanjutannya, tapi belum srek dan masih pengen dirombak lagi😀

Ini dilanjut atau enggak, tergantung respon para readers J So, leave your comment to support this story😀

60 thoughts on “[Freelance] Our Moment – Unpredictable You

  1. Pingback: [Freelance] Our Moment – A Step Closer | Jessica Jung Fanfiction

  2. Momentnya dapet banget,
    Ngga tau kenapa pas luhan megang tangannya jessica, jdi tiba2 ikut seneg-seneg gimana gitu hehe
    Overall bagus banget thor, hehe😀

  3. ayeeeee….rasanya seneng bgt,.bisa nemuin ff hansica..apalagi ini seprti series gtu,.tp agak bukan agak lagi sih..emang kecewa ternyta,.hanya ada 2 bacaan:-( pdhl tadi habis nemu,.astaga senengnyaa…banyanganku bakal banyak nii chingu,.scra aku ktinggalan lama bgt..tp ternyta…:-(
    .,aku suka bgt chingu ff.ny..bikin senyum” sendirii,,feel ku dpt bgt baca ff inii..
    next yaa chingu

  4. Aaaa seneng banget ada fanfict jessica luhan…tapi ceritanya masih gantung dan itu membuatku sangat penasaran aku harap authornya mau nglanjutin cerita ini dan smga moment sica luhan nambah yaa…hehe aku bakalan setia menunggu hihihi ^-^ keep writing ee!!! Fighting!!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s