[Series] Thorn Love — Chapter 1 :: That Wild Girl

Thorn Love

Story by Yura Lin

Main Cast:

Xiumin – Jessica – Kai

D.O – Yoona

Note: Di chapter ini ada violent scenenya. Umur Kai disini dibuat lebih tua 2 tahun dari umur Jessica dan Xiumin. Hehehe..

=== Thorn Love ===

Jessica pov.

Aku melihat ibuku membawa seorang anak laki-laki ke hadapanku yang sedang mengerjakan tugas sekolah bersama guru les. Ibu menyuruh guru lesku untuk meninggalkan kami.

“Sica-ya, mulai hari ini, dia adalah milikmu.”

Itulah yang ku dengar dari ibu. Mungkin karena aku masih kecil, aku tidak terlalu paham dengan kata-kata itu. Milikku? Menjadi temanku, ya? Itukah maksud ibu?

Aku menatap mata bulat anak kecil di hadapanku. Dia seumuran denganku, begitulah kata ibuku. Tapi wajahnya tidak sesuai dengan umurnya. Dia memiliki wajah baby face. Mata bulatnya itu menatapku polos. Tak lama, senyumannya merekah. Aku mengerjap kaget. Belum ada orang yang seperti ini padaku kecuali orang-orang yang terpaksa untuk melakukan ini. Mungkin aku akan berpikir dia adalah salah satu dari orang-orang yang terpaksa itu. Tapi matanya memancarkan ketulusan.

Annyeong, Minseok imnida,” ujarnya ramah sambil mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku tersentak pelan. “S-Sica… Sica imnida.”

Mulai saat itu, aku ingin dia bersama denganku selamanya.

***

Sudah setahun aku selalu bersama Minseok. Minseok selalu berada di sampingku. Kami melakukan banyak hal bersama. Makan, mandi, tidur dan lainnya. Beberapa pelayan sering berkata kalau kami sudah tidak boleh mandi dan tidur bersama. Tapi aku memaksa untuk melakukan itu. Memangnya apa salahnya jika anak-anak berumur 8 tahun mandi dan tidur bersama? Apa mereka akan dikutuk seperti yang ada di dongeng-dongeng? Tidak, kan?

“Seokkie-ah,” panggilku sambil berlari menghampirinya yang sedang duduk di bangku taman. Aku menggenggam bunga di tanganku.

“Lihat! Bunganya sangat indah, kan?” lanjutku sambil tetap berlari.

Minseok bangkit. “Sica-ya, jangan berlari. Nanti—Sica!”

Belum selesai peringatan itu, aku sudah tersandung. Bunga-bunga yang ku genggam, berserakan di atas tanah. Lututku terasa perih. Aku baru saja ingin mengeluarkan tangisanku saat aku merasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku melihat Minseok sudah berada di depanku.

“Mana yang sakit?” tanyanya.

“Lututku.” Aku menunjuk bagian yang sakit.

Minseok mengelus bagian yang sakit itu lembut dan meniupnya. Entah kenapa, rasa sakit itu seakan terbang bersama tiupan Minseok. Rasa sakit itu hilang.

“Masih sakit?” tanya Minseok.

Aku menggeleng. “Ani~”

“Lain kali, hati-hati!”

Aku mengangguk seraya terkekeh. Minseok membantuku bangkit. Setelah aku berdiri dengan benar, aku memeluk Minseok.

“Minseokkie adalah milikku. Arasseo?” gumamku.

Yearraseo! Aku akan selalu bersamamu. Selamanya.”

***

5 years later.

Aku baru saja keluar dari toilet saat bel istirahat berbunyi. Aku tersenyum tipis. Syukurlah, aku tidak perlu mengikuti pelajaran biologi. Biologi adalah musuh terbesarku. Aku menyukai fisika, kimia dan matematika yang biasanya menjadi pelajaran yang dibenci oleh banyak pelajar. Tapi aneh aku malah sangat amat membenci biologi. Padahal orang-orang bilang biologi, kimia, fisika dan matematika itu satu keluarga.

Aku berjalan kembali ke kelas untuk memakan bekalku bersama Minseok. Sesampainya aku di depan kelas, aku melihat Minseok ditarik oleh seorang siswi keluar dari kelas. Aku merasakan amarah yang sangat besar di dalam diriku. Aku berlari menghampiri mereka. Tepat saat aku berhasil berada di dekat mereka, sang gadis selesai menyatakan cintanya kepada Minseok. Melihat Minseok tersipu karena pernyataan itu sekaligus kaget karena keberadaanku, amarahku memuncak.

Plak!

Aku menampar gadis itu. Tidak cukup dengan menampar, aku meninju wajahnya hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh. Minseok menahan tanganku tapi ku gigit tangannya akan melepaskanku. Ku tinggalkan Minseok yang sedang mengaduh karena ku gigit lumayan kencang dan menendang gadis itu berulang kali. Gadis itu berteriak mengaduh. Teriakannya bagaimana musik bagi telingaku. Aku menyukai teriakannya.

“Jessica! Berhenti!” teriak Minseok.

Dia menarik tanganku, membuatku tertarik ke arahnya dan memutar tubuhku. Aku kehilangan kontrol tubuh sehingga menabraknya.

“Uh?”

Aku mengerjap kaget dan bingung. Seingatku, aku sedang berjalan menuju kelas. Tapi saat ini, aku tidak tahu berada dimana dan dalam keadaan yang tidak baik. Aku dan Minseok berciuman. Saat sadar, aku mendorong tubuh Minseok menjauh.

Ya! Apa yang kau lakukan, Minseok-ah?” tanyaku sambil berusaha menutup wajahku yang sedang tersipu malu.

Wajahnya terlihat tegang. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan, Sica-ya?! Apa yang kau lakukan padanya?!”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Minseok. Aku terbelalak melihat seorang siswi terbaring di atas tanah sambil menangis. Kenapa aku yang disalahkan?

“A-aku tidak tahu..” jawabku pelan dan takut.

Dia menatapku tajam. Sungguh, aku tidak tahu!

***

5 years later.

Aku menarik tangan Minseok menjauh dari Taeyeon. Tanganku yang menggenggam tempat minumku, bergerak ke atas kepala Taeyeon. Air minum yang berada di dalam tempat minum ku pun tumpah ke kepala Taeyeon saat aku membalikkan tempat minumku. Taeyeon terlihat sangat shock, tak percaya dan marah. Dia hendak menamparku, tapi ku melayangkan tempat minumku ke kepalanya lebih dulu. Dia terhuyung ke kiri sambil memegangi daerah kepalanya yang ku pukul dengan tempat minumku. Aku menyeringai. Lumayan. Lain kali mungkin aku bisa mengganti tempat minumku dengan pemukulbaseball.

“Jessica Jung!” bentak Minseok.

Dia menatapku marah, kecewa dan… takut. Dia menarikku menjauh dari Taeyeon yang sedang berusaha menahan tangis. Tatapanku tetap mengarah ke Taeyeon seakan merendahkannya. Dia pantas mendapatkan itu jika berani mendekati Minseokku. Ku ulangi, Min-Seok-ku! Milikku!

“Tidak bisakah kau berhenti berbuat gila?!” bentaknya saat kami berada di tempat yang sepi.

Aku mengambil selangkah lebih dekat dengannya lalu menarik dasinya agar dia merendahkan kepalanya hingga telinganya sejajar dengan bibirku.

“Perlu ku bilang berapa kali? Kau milikku dan hanya milikku. Jangan. Pernah. Berani. Mendekati. Gadis. Lain,” bisikku. Aku menekan setiap kata-kataku.

Ku lihat jakunnya bergerak dengan kaku menandakan ia sedang menelan air liurnya dengan takut. Aku melepaskan dasinya sehingga dia kembali menegakkan tubuhnya. Aku menelusuri wajahnya dengan jariku. Dari mata, pipinya gembul sampai dagu. Semua itu tidaklah sesempurna dan seindah milik pemuda lainnya. Tapi itu khusus milik seorang Kim Minseok. Itu alasan kenapa aku paling menyukai mata itu, hidung itu, pipi itu, dagu itu, dan tentu saja bibir itu.

“Tapi aku dan Taeyeon hanya sedang berdiskusi tentang soal-soal ulangan. Sebentar lagi, kita akan menghadapi kelulusan. Dan Taeyeon adalah murid yang cerdas. Aku ingin lulus dengan nilai yang memuaskan,” jelas Minseok.

“Jika kau mau, kita bisa menyogok pihak sekolah untuk memberikanmu nilai yang tinggi. Tak ada alasan yang lebih masuk akal?” tanggapku santai. “Apa perlu setiap detik, aku harus mengingatkanmu untuk jangan terlalu dekat dengan gadis lain? Apa aku harus membunuh mereka agar mereka tidak mengganggumu lagi?

“Jangan gila, Jessica. Kau hanya menyakiti mereka… dan aku. Kau terlalu terobsesi padaku. Itu akan berdampak buruk padamu dan padaku,” desahnya yang terdengar lelah.

“Kau tidak suka?”

“Tentu saja! Siapa yang suka? Sama saja kau membunuhku perlahan, Jessica Jung! Jika aku tidak punya kesabaran sebesar sekarang, mungkin aku sudah bunuh diri sejak beberapa tahun yang lalu!” geram Minseok.

Mataku melirih sejenak. Benar-benar sejenak. Karena tak lama kemudian, aku kembali menatapnya tajam. Beraninya dia berpikir untuk bunuh diri, untuk meninggalkanku!

“Berani kau melakukan itu, keluargamu akan menyusulmu ke neraka!” pekikku geram.

Pria yang memiliki pipi chubby di depanku ini terbelalak ngeri.

“Ingat, Kim Minseok. Kau milikku. Sejak orangtuaku membelimu dari orangtuamu, kau sudah menjadi milikku. Jadilah budak yang baik,” kataku tajam menarik kembali dasinya mengecup bibirnya sekilas.

Seakan dejavu, aku menarik tubuhku dan mengerjap. Air mataku mengalir selagi aku menutup wajahku.

“Minseok-ah, apa lagi yang ku lakukan?” tanyaku sambil terisak.

“Kau menyakiti Taeyeon kali ini,” jawab Minseok pelan.

Aku memberanikan diri untuk memandang wajah Minseok yang terlihat terkejut dan terluka. Aku menggigit bibir. Apa kali ini aku juga menyakiti Minseok?

“Minseok-ah… apa kau juga—“

“Tidak, Sica-ya… tidak. Kau tidak menyakitiku,” potongnya cepat sambil tersenyum lembut padaku.

Aku menghela napas lega.

***

2 years later.

Author pov.

Pria berumur 22 tahun itu asik memotret pemandangan di sekitarnya. Setelah hampir 6 tahun ia meninggalkan Korea Selatan, dia sedikit shock dengan perubahan kota Seoul. Ibu kota berkembang lebih pesat daripada apa yang yang ia pikirkan. Modern dan tradisional disatukan dengan takaran yang sempurna. Berbeda dengan Berlin yang semakin lama, semakin modern tanpa memikirkan ketradisionalan alam di kota pusat.

“Tuan muda, tuan besar sudah menunggumu di kantornya,” kata pelayan setianya yang berumur tidak berbeda jauh darinya.

Pria itu menyikut pelayannya itu dengan gaya akrab sambil terkekeh. “Aigo, Kyungsoo-ya… hanya 4 tahun tidak pernah bertemu, kau menjadi sekaku ini padaku. Tidak seru,” protesnya.

Kyungsoo terkekeh. “Kim Jongin, aku harus. Atau kepala pembantu tua itu akan mengomeliku.”

“Sayangnya tidak ada kakek tua menyedihkan itu disini.” Kim Jongin memutar matanya jengah dan menambahkan, “dan panggil aku Kai! Apa itu Kim Jongin? Aku sudah membuang nama itu sejak lama.”

>>>

Jessica menggigit pensilnya dengan mata menelusuri tiap tulisan yang kecil dan padat itu. Dia harus mencerna sebuah hal tentang sejarah Korea Selatan dalam sehari untuk membuat essai. Minseok duduk di sampingnya, sedang membaca buku tentang kementerian negara dengan alasan yang sama dengan Jessica.

“Ugh, aku pusing,” runtuk Jessica. Dia menoleh dan tersenyum manis. “Minseok-ah, aku ingin es krim~”

“Kita akan ke kedai es krim langgananmu setelah aku selesai membaca buku ini,” jawab Minseok.

Jessica membulatkan matanya. “Mwo? 457 halaman dalam sehari? Dengan tulisan sepadat dan sekecil itu? Kau yakin?”

Minseok terkekeh. Dia menoleh dan mengetuk kening Jessica main-main. “Aigo, Sica-ya. Mana mungkin aku membaca buku ini sampai akhir dalam sehari? Mungkin aku akan diare jika melakukan itu. Kau ini…” jelas Minseok gemas.

“Ku pikir begitu,” gumam Jessica lalu menggembungkan pipinya.

Minseok menghela napas pendek sembari menutup bukunya dan meraih buku yang tadi dibaca oleh Jessica. Dia bangkit sambil membawa kedua buku perpustakaan umum kampus ke lemarinya masing-masing. Jessica segera mengejar Minseok dengan mata berbinar.

“Apa artinya kita pergi ke kedai Ryu ahjumma sekarang?” tanya Jessica berharap.

Minseok menaruh buku terakhir, menoleh dan mengacak rambut Jessica sambil mengangguk. Hal teraman yang harus dilakukan oleh Minseok hanya membuat Jessica selalu bahagia. Atau Jessica akan berubah menjadi monster yang mengamuk tanpa pandang bulu. Beberapa psikiater mengatakan Jessica mempunyai penyakit bipolar. Tapi Minseok yakin Jessica lebih dari sekedar bipolar. Apa itu? Psikopat.

Jessica akan menjadi monster tanpa alasan yang jelas. Tapi dari semua kejadian yang terjadi, Minseok lah yang menjadi penghubung semua kejadian. Semua terjadi sejak Jessica dan Minseok berada di kelas 1 SMP. Dan Jessica akan berubah dari monster menjadi si polos Jessica kembali jika Jessica mencium Minseok. Tapi kejadian itu tidak pernah meluas karena keluarga Jessica dapat membungkam keluarga sang korban dengan cepat.

>>>

Minseok dan Jessica berjalan dengan santai menuju kedai es krim kesukaan Jessica. Mereka memang terbiasa pergi kemanapun tanpa mobil pribadi. Sebenarnya Jessica dan Minseok bisa saja naik bus dari depan kampus ke halte dekat kedai es krim itu. Tapi Jessica meminta untuk berjalan kaki saja. Lagipula kedai es krim itu dekat. Berada di dekat halte setelah halte kampusnya.

Dalam perjalanan menuju kedai es krim, mereka bertemu dengan seorang pria mabuk berumur sekitar 40-an. Dia menghadang Jessica dan Minseok. Jessica segera bersembunyi di balik tubuh Minseok yang kecil.

“Apa maumu?” tanya Minseok tenang.

“Serahkan aku tas kalian,” kata pria itu.

Minseok menggeleng. “Tidak akan. Pergi! Jangan ganggu kami!”

Jessica mengeratkan genggamannya pada baju Minseok tanda ia sangat ketakutan. Menyadari hal itu, Minseok melingkarkan tangannya di tubuh Jessica tanpa berbalik badan. Pria mabuk itu menyeringai tipis. Dengan gerakan cepat, ia meraih tas tangan Jessica. Minseok segera memukul tangan pria itu.

“Lepaskan!” teriak Minseok.

Akhirnya pria itu melepaskan tangannya. Dia terlihat marah. Dia melayangkan tinjunya ke wajah Minseok. Jessica berteriak histeris sambil berlari menghampiri Minseok. Tapi tangannya ditarik oleh pria mabuk itu. Dengan cepat, Minseok menarik Jessica dengan kasar hingga Jessica terlepas dari pria mabuk itu dan memeluk Jessica. Pria mabuk itu memukuli Minseok dengan brutal. Sementara Minseok hanya membungkam mulutnya rapat agar tidak ada teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya sambil memeluk Jessica. Sedangkan Jessica menutup matanya.

Saat merasakan pelukan Minseok merenggang, Jessica membuka matanya. Ia melihat pria mabuk itu sudah menjauh dari mereka. Jessica segera menangkup wajah Minseok yang menunjukkan ekspresi kesakitan.

“Apa kau terluka?” tanya Jessica cemas.

Minseok menggeleng lemah. Tapi saat Jessica tidak sengaja menyentuh punggungnya, Minseok reflek berteriak kesakitan. Minseok hendak menekankan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi dia melihat mata Jessica berubah menjadi dingin dan kosong. Minseok menelan air liurnya. Monster itu kembali.

Jessica mendorong Minseok agar melepaskannya saat Minseok berusaha agar Jessica tidak lepas darinya. Jessica berhasil lolos karena Minseok sudah tidak ada tenaga untuk menahan Jessica. Jessica mengejar pria mabuk itu dan melambungkan tasnya yang berisi laptop ke pria itu. Pria itu ambruk dan meringis kesakitan. Jessica kembali melambungkan tasnya ke pria itu saat pria itu menoleh. Tasnya mengenai kepala pria itu kali ini. Pria itu terkapar di jalanan.

Minseok terbelalak melihatnya. Dia segera menghampiri Jessica dan menarik Jessica menjauh. Jessica memberontak. Kali ini, Jessica kembali lolos. Tapi pria mabuk itu sudah bangkit. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Pisau lipat.

“Jessica!” teriak Minseok panik.

Jessica tidak peduli. Ia kembali ingin melayangkan tasnya ke pria itu sementara pria itu bersiap untuk menikam Jessica. Beruntung Minseok menarik Jessica lebih dulu, sehingga pisau itu tidak sempat menyentuh Jessica. Minseok memeluk Jessica. Tapi Jessica mendorongnya hingga Minseok jatuh ke jalanan. Tapi kali ini bersama Jessica karena Jessica tidak berhasil lolos.

Pria mabuk itu menghampiri Jessica dan Minseok. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Jessica. Jessica menendang kakinya sehingga pria itu terjatuh. Jessica segera melepaskan diri dan bangkit. Jessica memposisikan kaki pria mabuk itu lurus lalu menginjaknya dengan keras. Pria mabuk itu berteriak sangat kencang. Tidak cukup dengan itu, Jessica meraih pisau lipat yang terjatuh dan menancapkannya di paha pria mabuk itu.

Minseok menelan air liurnya. Dia kembali bangkit. Kini dia menarik kembali Jessica. Kali ini, dia segera menangkup wajah Jessica dan selanjutnya dia menyapukan permukaan bibir Jessica dengan bibirnya. Seperti biasa, Jessica mengerjap dan melangkah mundur dengan malu-malu. Dia melirik ke sekitar. Dia shock melihat pria mabuk itu yang terbaring di atas jalanan dengan paha tertancap pisau.

“I-itu… aku yang—“

Minseok mengangguk pelan. Dia segera menarik Jessica menjauh dari jalanan itu. Tak lupa, ia menelepon ambulans dan butler keluarga Jung untuk memberitahu akan hal ini. Selanjutnya, sangbutler akan mengurus pria mabuk itu lalu membungkam mulutnya seperti yang dilakukan sang butlerkepada para korban lainnya.

>>>

Ya, Jong—eh, Kai! Jangan terlalu lama! Kita harus cepat ke kantor ayahmu!” kesal Kyungsoo.

Pasalnya, di tengah perjalanan menuju perusahaan Kim, Kai memaksa untuk berhenti. Dia meminta izin untuk memotret sebentar karena pemandangan disana cukup bagus dan jalanan itu lumayan sepi. Kyungsoo terpaksa menurutinya. Ia tahu Kai itu orang yang keras kepala dan terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi sudah 10 menit, Kai belum juga kembali.

“Kai! Neo eoddiseo?!” teriak Kyungsoo saat tidak bisa menemukan Kai.

“Disini.”

Kai muncul dari tingkungan di depan. Dia tersenyum tipis sambil melihat hasil potretannya. Potretan tentang wanita yang sang buas namun sedetik kemudian wanita itu berekspresi seakan dia wanita terpolos.

“Darimana saja kau?” tanya Kyungsoo kesal.

“Tadi aku melihat korban penganiayaan,” jawab Kai singkat.

“Hah?”

Kai memperlihat layar kameranya. Foto itu adalah foto pria mabuk yang diserang wanita buas itu. Pria mabuk itu sedang memegangi pahanya yang terluka karena tertancap pisau.

“Kita harus menolongnya!” panik Kyungsoo.

Kai menahan Kyungsoo. “Tidak perlu. Ku yakin temannya sudah menelepon ambulans. Ayo kita pergi.”

“Tapi—“

“Kau mau dimarahi oleh ayahku karena terlambat datang?”

Kyungsoo tersenyum masam. Benar juga kata Kai. Hampir saja Kyungsoo melupakan itu. Kyungsoo menarik Kai ke dalam mobil. Mobil itu pun kembali berjalan menuju perusahaan Kim.

“Lalu kenapa wajahmu senang sekali? Jangan-jangan kau yang—“

“Bukan aku.” Kai menggeleng. “Seorang wanita lah yang menyerangnya.”

Kyungsoo terbelalak. “Jeongmal?”

“Tentu saja. Aku punya fotonya.”

“Aku mau lihat!”

“Tidak sekarang, Kyungsoo-ya.. tidak sekarang. Ini milik pribadi. Akan ku jadikan ini sebagai senjata.”

Kyungsoo menilik mata Kai penasaran. “Apa maksudmu?”

“Aku menginginkannya. Kyungsoo, carikan dia untukku.”

***

Kai tersenyum lebar sekarang. Tidak sia-sia ia mempercayainya kepada Kyungsoo. Pelayan setia sekaligus teman sejak kecilnya memang selalu dapat diandalkan. Buktinya tidak sampai sehari Kai memperlihatkan foto gadis itu, Kyungsoo sudah berhasil mendapatkan info lengkap tentangnya. Jessica Jung, itulah namanya.

“Nama yang cantik,” gumam Kai sambil melangkah menuju kelas Jessica. Kyungsoo berkata kalau Jessica sedang ada di kelas sejarah Korea sekarang.

Kai mengetuk pintu kelas itu dan tersenyum manis kepada sang dosen. Sang dosen adalah teman ayahnya. Heck, hampir semua orang-orang penting di kampus itu adalah kenalan ayahnya. Ayahnya memberikan sumbangan dana yang cukup besar kepada kampus itu setiap tahunnya.

“Oh, Kai! Kami sedang ada kelas sekarang. Jika kau membutuhkanku, bisa menunggu sampai kelas berakhir?” sambut sang dosen dengan ramah.

Kai terkekeh, nadanya sedikit merendahkan sang dosen. “Tidak. Aku menginginkan Jessica Jung,” bantah Kai.

Dosen itu terlihat bingung. Tapi untuk menunjukkan kesopanannya kepada anak salah satu orang yang berkuasa di kampus itu, dia menyuruh gadis yang bernama Jessica Jung keluar dari kelas untuk menemui Kai. Gadis itu menuruti kata-kata dosennya. Tidak disangka oleh Kai, gadis itu menyambut senyuman lebar Kai dengan kerjapan mata terpolos yang pernah dilihat oleh Kai. Kai menggeleng pelan, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dia menyeringai.

“Jessica Jung, kau memang istimewa,” gumam Kai.

Jessica menggaruk kepalanya bingung. “Maaf, apa kita saling kenal?”

Kai menarik tangan Jessica tanpa menjawab pertanyaan Jessica. Jessica terkejut karenanya. Tapi dia tidak bisa berontak. Bukannya tidak bisa, ia takut pada Kai. Kai membawanya ke belakang gedung fakultas Jessica.

“A-apa yang kau mau dari—pfft”

Perkataan Jessica terpotong karena Kai menciumnya kasar. Tangan Jessica terangkat dan menyentuh dada Kai dengan niat untuk mendorong Kai. Tapi Kai terlalu kuat. Saat Jessica berusaha memprotes, Kai malah memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jessica. Bermain dan mengajak lidah Jessica berperang. Tapi Jessica tidak merespon. Akhirnya Kai melepaskan Jessica.

Plak!

Kini wajah Kai terdapat tanda merah akibat tamparan keras Jessica. Kai hanya menyeringai.

“Itu hanya sambutan dariku, Jessica-ya. Jangan takut,” kata Kai santai.

Wajah Jessica merah padam karena marah. “Dasar gila!”

Kai menyeringai. “Aku memang gila. Gila karena menginginkan wanita buas sepertimu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku mempunyai foto-foto saat kau menganiaya pria itu kemarin. Aku bukan deretan orang-orang yang bisa suap atau diancam oleh keluargamu karena keluarga kita sama-sama kuat. Jika kau tidak ingin foto-foto itu tersebar, jadilah milikku,” ujar Kai.

Jessica terbelalak mendengarnya.

>>>

Minseok melirik Jessica yang hanya mengaduk makanannya sedari tadi. Niatnya untuk memakan pesanannya pun lenyap. Dia menyentuh kening Jessica. Tidak demam. Jessica menoleh kaget.

“Ku kira kau sakit. Makanya tidak mau makan,” jelas Minseok seakan mengerti maksud tatapan Jessica. Mereka sudah bersama selama 13 tahun dan tak pernah terpisahkan kecuali jika mandi. Aneh jika Minseok belum bisa mengenal Jessica seperti ia mengenal dirinya sendiri. Bahkan Minseok berpikir ia lebih mengenal Jessica daripada mengenal dirinya sendiri.

“A-aku hanya—yah. Lupakan saja,” tanggap Jessica pelan.

“Apa ini tentang pria yang memanggilmu tadi?”

Wajah Jessica memerah. Entah karena tersipu atau emosi. Minseok menghela napas panjang. Ini memang tentang pria tadi. Siapa dia? Minseok tidak pernah melihatnya sebelumnya.

“Tadi adalah Kai.”

Minseok hanya membalasnya dengan gumaman, “hm..”

“Dia mempunyai bukti kejadian kemarin. Saat monster itu menguasai diriku.”

Wajah Minseok mengeras. Dia memasang telinganya baik-baik kini.

“Kita tidak bisa membungkamnya. Perusahaan kami sama-sama kuat. Percuma saja.”

“Lalu?”

“Tadi dia datang untuk memberitahukanku tentang itu. Dia menciumku. Dan mengatakan ia menginginkanku.”

“Apa yang kau katakan?”

Jessica menunduk sambil menggeleng pelan. Dia terisak pelan. Minseok melingkarkan tangannya di bahu Jessica. Walaupun dia membenci Jessica. Walaupun Jessica membuat hidupnya seakan neraka. Walaupun hidupnya tidak pernah tenang karena Jessica. Tapi dia sudah hidup dengan Jessica selama 13 tahun. Seberapa monsternya Jessica, Jessica tetaplah gadis terapuh.

>>>

Kai memasuki rumahnya dengan seringaian lebar. Melihat itu, Kyungsoo pun menahan tangan Kai sebelum majikannya itu masuk ke dalam kamarnya. Kyungsoo menatap Kai penuh tanya. Kyungsoo memang tahu Kai segera pergi mencari Jessica setelah ia memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang Jessica kepada Kai. Tapi dengan bekas tamparan di pipi Kai dan seringaian lebar Kai, Kyungsoo menjadi bingung.

“Apa yang kau lakukan kepada Jessica?” tanya Kyungsoo.

“Hanya memberikannya sambutan selamat datang ke dalam kehidupanku dan selamat menjadi bagian dari hidupku,” jawab Kai santai. Dia mendesah pelan. “Apa aku salah melakukan ini?”

Kyungsoo memutar matanya. “Tentu saja salah. Dia tidak mengenalmu. Tiba-tiba kau datang dan mengancamnya. Terlebih kau memintanya menjadi milikmu.”

Kai memang sudah menjelaskan rencananya kepada Kyungsoo sebelum pergi. Walaupun sudah dijelaskan berulang kali oleh Kai, Kyungsoo tetap berpikir alasan Kai tidak masuk akal. Sangat tidak masuk akal. Jangan bilang kalau Kai mengalami gangguan jiwa. Oh, ayolah.. Jangan sampai~

“Tapi aku menginginkannya. Aku menginginkan wanita langka sepertinya,” balas Kai lalu menjilat bibirnya.

“Kenapa?”

“Karena… entahlah. Yang pasti aku menginginkannya.”

“Wanita itu gila! Kenapa kau—“

Kai meletakkan jarinya di bibirnya, mengisyaratkan Kyungsoo untuk diam. Kyungsoo langsung mengatup bibirnya erat dengan geram.

“Kau tidak mengenalnya, Kyungsoo-ya. Bagaimana bisa kau mengatakannya gila?” desis Kai.

Kyungsoo menyeringai geram. “Dari hasil analisisku tentang informasi-informasi yang berhasil ku kumpulkan. Dan aku cukup yakin dengan hasil analisisku.”

“Oh, kalau begitu kita lihat nanti. Apa kau benar atau salah, kita lihat nanti.”

=== Thorn Love ===

Salahkan Luhan yg membuatku ingin membuat ff ini. Soalnya aku baca sebuah ff yg karakter Luhan itu bipolar. Jadi pengen buat. Tapi this story is too much. Berlebihan bipolarnya. Jessicanya parah ._.

Yah awalnya aku ga pernah mikir Jessica cocok buat meranin karakter psikopat. Secara mukanya bego tingkat dewa. Terus baca ff itu deh. Nah aku baru disadarkan oleh ff itu. Malah muka yg macam Luhan dan Jessica lah yang paling cocok jadi psikopat. Apalagi setelah diteliti, Jessica emang cocok tingkat parah. Her glare, her smirk, her expression. Those are just… too perfect T__T liat aja fotonya di poster. Her eyes and smile are really something. Cocok banget jadi psikopat /ditimpuk Jessica/ /kabur/

Tenang aja. Kisah ini dan ff itu berbeda kok ^^ di ff itu, Luhan emang bipolar dan kambuhnya tanpa alasan. Kalo disini kan Jessica ada alasannya. Terus kalo Luhan itu hampir setiap hari bipolarnya ga ilang-ilang. Kejam setiap harinya -__-. Kalo Jessica kan di saat-saat tertentu doang.

One thought on “[Series] Thorn Love — Chapter 1 :: That Wild Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s