[Series] Thorn Love — Chapter 2 :: Crazy But True

Thorn Love

Story by Yura Lin

Main Cast:

Xiumin – Jessica – Kai

D.O – Yoona

1

=== Thorn Love ===

Jessica pov.

Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan tatapan penuh rasa takut orang-orang kepadaku. Aku tahu mereka takut padaku. Semua orang takut padaku. Bahkan sampai orang yang paling ku percayai di hidupku—Minseok—dia juga takut padaku. Sebenarnya, aku pun takut pada diriku sendiri. Ku pikir tidak ada seorang pun yang berani padaku. Ku kira tidak ada orang yang tidak akan menatapku dengan tatapan takut.

Tapi kemunculan pria yang bernama Kai mengubah pemikiranku. Aku tidak percaya ada orang sepertinya. Dia menatapku dengan pandangan penuh percaya diri dan menjerat orang-orang untuk menyelami mata misteriusnya. Tidak ada rasa takut yang terpancar saat ia melihatku. Seringaiannya membuatku semakin yakin bahwa dia tidak merasa takut padaku sama sekali.

Bohong jika dia tidak melihat kondisiku saat monster itu menguasai jiwaku. Dia memotret kejadian kemarin dengan kameranya sendiri. Itulah yang ia katakan kepadaku. Dia memotret kejadian itu dengan seringaian khas yang terlukis di wajahnya. Dia melihat seberapa gilanya aku. Dia tahu itu. Tapi tetap tak ada rasa takut di matanya saat menatapku. Dia selalu menatapku dengan mantap. Seakan dia yakin aku tidak akan berbuat sekejam itu kepadanya.

Jika dia tidak takut padaku, maka aku lah yang takut padanya.

***

Author pov.

Jessica menyelempangkan tasnya lalu menarik tangan Minseok sudah menunggunya sejak tadi untuk turun ke lantai bawah. Mereka memasukkan bekal yang sudah disiapkan oleh salah satu pembantu untuk mereka ke dalam tas karena mereka memiliki kelas pagi hari ini. Dengan langkah terburu-buru, mereka meninggalkan rumah. Jika bukan karena Jessica bangun terlambat, mungkin mereka sudah sampai di halte sekarang.

“Ah!! Yah, kita terlambat!” pekik Jessica.

Saat mereka hampir sampai di halte, supir bus yang akan mengantarkan mereka menuju halte kampus sudah menggas busnya menjauh dari halte itu. Jessica merengut sambil menoleh kanan-kiri. Dia mencari taksi karena tidak mungkin mereka menunggu bus selanjutnya. Bus selanjutnya akan datang 30 menit lagi. Mereka pasti terlambat kalau menunggu bus selanjutnya. Tapi sayang tidak ada taksi di sekitar sana.

Jessica menoleh dan menatap wajah Minseok penasaran. Pemuda itu hanya diam seperti biasa. Tidak pernah sekali pun Jessica mendengar protesan dari Minseok selama ia bersama dengan pemuda itu. Oh, mungkin pernah. Tapi sudah bertahun-tahun yang lalu. Jessica sudah tidak ingat.

“Bagaimana ini? Tidak ada taksi. Kita bisa terlambat,” gerutu Jessica.

Minseok tersenyum tipis. “Kita bisa menunggu bus selanjutnya datang.”

“Tapi artinya kita terlambat.”

“Tidak apa. Memang kenapa kalau kita melewatkan kelas sejarah dunia sekali? Tidak ada absenan wajib yang menunggu kita untuk diisi seperti saat kita sekolah dulu, kan?” tanggap Minseok santai.

Jessica hendak mengangguk saat suara klakson mobil menginstrupsinya. Mereka berdua menoleh ke arah mobil itu. Kaca mobil itu turun dan mulai memperlihatkan penumpang mobil itu. Jessica terbelalak melihat Kai lah yang duduk di kursi penumpang depan.

“Kai…” bisik Jessica ke Minseok.

Jessica sedikit bersembunyi di balik badan Minseok sambil menggeleng takut. Mengerti apa yang terjadi, Minseok memposisikan diri agar menyembunyikan Jessica lebih baik lagi sambil menatap Kai dingin.

“Masuk, Jess. Kau bisa terlambat jika tidak buru-buru,” kata Kai sambil menyeringaian tipis.

Tapi Jessica dan Minseok tidak berubah posisi sedikit pun. Kai menatap Minseok dengan tatapan merendahkan Minseok.

“Oh, Kyungsoo-ya, apa dia yang bernama Kim Minseok?” tanya Kai kepada sang pengemudi mobil sambil menunjuk Minseok.

Kyungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban. Minseok sedikit kaget karena mereka berdua mengenalinya. Dia menatap Kai tajam.

Kai menyeringai melihat reaksi Minseok. “Ooh-ho~ chillDude! Jangan menatapku seakan kau ingin menelanku hidup-hidup. Aku hanya ingin membantu Jessica. Apa salahnya?” seru Kai, dengan nada mencemooh. Kai melirik Jessica, “masuklah, Jess. Aku tidak akan memakanmu. Aku benar-benar ingin mengantarkanmu ke kampus. Kau mau terlambat? Atau melewati kelasmu? Aku tahu kamu adalah anak yang baik. Kamu tidak mungkin mau melakukan itu, kan?”

Jessica menggigit bibirnya. Benar juga kata Kai. Jessica memiringkan kepalanya agar bisa menilik Kai. Kini Kai tidak memperlihatkan sebuah seringaian, namun sebuah senyuman tulus. Sudah berapa tahun Jessica tidak pernah mendapatkan senyuman setulus itu? Tanpa tersirat rasa takut, lagi. Minseok memang sering tersenyum kepadanya. Tapi itu adalah senyuman sungkan atau paksaan selama beberapa tahun belakangan ini.

Terjadi peperangan di hati Jessica. Sebagian berada di pihak pro Kai dan sebagian lainnya berada di pihak kontra Kai. Tapi kali ini, pihak pro Kai lah yang menang. Jessica keluar dari persembunyiannya, mendekat ke mobil dan menyentuh pintu mobil. Tapi tangannya segera ditarik oleh Minseok.

Andwaeyo!” bentak Minseok. “Kau mempercayainya, Sica-ya? Kau bahkan tidak mengenalinya!”

Ouch!” Kai berpura-pura meringis sambil menyentuh dadanya. “Kami sudah berkenalan kemarin. Bagaimana mungkin Jessica tidak mengenaliku, Minseok-ssi? Dan apa hakmu melarang Jessica? Kau tidak lebih dari seorang budak bagi Jessica. Jangan bermimpi kau bisa membentak Jessica, Minseok-ssi~”

Jessica menggeleng. “Minseok bukan budakku. Minseok adalah milikku.”

Kai berdecak penuh keprihatinan. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Jessica hendak kembali bersembunyi di balik badan Minseok. Sayang, Kai sudah terlebih dulu menarik tangan Jessica ke arahnya. Minseok ingin menarik kembali Jessica, tapi Kai mengangkat tangannya sambil menatap tajam Minseok seakan mengancam Minseok agar tidak mengganggunya. Minseok hanya menggertakkan giginya. Seringaian Kai melebar melihat Minseok menurutinya. Kai kembali fokus ke Jessica. Dia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Jessica. Reflek, Jessica menutup matanya erat karena takut.

“Jessica Jung, kau lupa dengan perjanjian kita kemarin, ya? Bukankah sekarang kau sudah menjadi milikku? Atau kau mau aku menyebarkan foto itu dan membuat reputasi keluargamu hancur?” gumam Kai yang dibuat lirih. “Berhenti mengatakan Minseok adalah milikmu. Dan belajar untuk mengatakan aku lah milikmu. Apa kau bisa?”

Jessica masih belum berani membuka matanya. Dia memilih untuk menggeleng cepat. Kai mendengus sebal melihatnya.

“Terserahlah! Cepat atau lambat, kau akan belajar untuk mengatakan itu. Sekarang masuk ke dalam mobilku!” kesal Kai. Kai melirik Minseok dingin. “Kau juga, Kim Minseok!”

***

Mobil itu memasuki pelataran fakultas Ilmu Politik. Tanpa babibu, Minseok keluar dari mobil itu lalu menarik Jessica keluar dengan paksa. Tapi Jessica menolak. Jessica melepaskan tangan Minseok.

“Minseok-ah, kita harus berterima kasih kepada Kai-ssi dan Kyungsoo-ssi karena sudah mengantarkan kita. Tidak boleh langsung turun seenaknya,” kata Jessica. Jessica melirik Kai, “gamsahmanida, Kai-ssi, Kyungsoo-ssi.”

Ne~” sahut Kyungsoo singkat.

Anehnya, Kai tidak membalas apapun. Kyungsoo melirik Kai bingung. Pria itu terlihat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jessica menggembungkan pipinya kesal karena Kai tidak membalas. “Kai-ssi?”

“Turunlah, agassi. Tuan muda sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya. Dia tidak akan mendengarkanmu,” kata Kyungsoo.

“Oh..” Jessica mengangguk. Dia segera turun. Kyungsoo memberikan salam kepada Jessica sebelum akhirnya dia menggas mobil menuju perusahaan Kim.

“Kai?” panggil Kyungsoo saat mobil itu sudah meninggalkan kawasan kampus.

Tapi Kai tetap tidak menyahut. Kyungsoo menjentikkan jarinya di depan wajah Kai. Hal itu berhasil membuat Kai sadar. Kai menoleh bingung ke arah Kyungsoo. Saat itulah dia menyadari Jessica dan Minseok sudah tidak ada, dia terkejut.

“Loh? Mana Jessica dan pengikutnya itu?” tanya Kai bingung.

“Mereka sudah turun dari tadi,” jawab Kyungsoo tenang.

“Kok aku tidak sadar?”

“Kau sibuk dengan pikiranmu. Jessica berterima kasih padamu. Jika kau sadar saat Jessica turun tadi, ku pikir kau akan besar kepala.”

Kai mengerutkan keningnya. “Heh? Apa yang terjadi? Tidak mungkin kan aku akan besar kepala hanya karena Jessica berterima kasih padaku?”

Kyungsoo menyeringai. “Oh, kau bisa tanyakan langsung kepada Jessica.”

“Tsk, such an annoying man!”

“Oh ya, memang apa yang kau pikirkan tadi?”

“Aku yakin kau tidak akan senang mendengar isi pemikiranku,” desah Kai malas.

“Mari kita coba. Ayo katakan.”

“Aku memikirkan cara mengusir Minseok dari hidup Jessica.”

Kyungsoo menoleh kaget. Tapi dia segera memasangkan wajah tenangnya kembali. Kai tidak akan senang jika diprotes.

“Kau tahu kan kalau Minseok adalah hal terpenting bagi Jessica?” tanya Kyungsoo memastikan.

Kai tersenyum tipis. “Itulah yang ingin ku ubah. Aku harus mengubahnya jika ingin mendapatkan Jessica. Aku tahu kalau Minseok akan mengganggu semua rencanaku jika dia tidak disingkirkan.”

Kyungsoo menarik napas dalam. Walaupun hatinya menentang keras itu, tapi dia memutuskan untuk tetap diam. Ia tahu ia tidak akan menang dari Kai jika memulai perdebatan. Kai memiliki segalanya untuk menang. Ego, cerdas dan pandai berbicara. Berbeda dengan Kyungsoo yang terbiasa untuk menelan kata-kata yang ingin ia ucapkan.

“Lalu apa kau sudah menemukan caranya, Kai?” tanya Kyungsoo akhirnya.

Kai memainkan jarinya di dagu. “Bagaimana jika aku mencuci otak Jessica agar ia lupa akan Minseok?”

Kyungsoo terkejut mendengarnya. Reflek, ia mengerem tiba-tiba hingga mereka berdua terpelanting ke depan. Beruntung mereka menggunakan sabuk pengaman.

“Apa kau sudah gila, Kim Jongin!? Jika kau menghapus memori Jessica tentang Minseok, bukankah sama saja membuatnya seakan amnesia? Minseok selalu berada di sampingnya 24 jam selama 13 tahun! Itu sama saja kau menghapus seluruh memorinya!” bentak Kyungsoo geram.

Kai tertawa pelan. “Hya~ jangan mengamuk dulu. Itu masih menjadi pilihan cadangan. Aku juga tidak sekejam itu, Kyungsoo-ya. Lagipula aku lebih memilih cara lembut.”

Kyungsoo menggeleng pelan. Dia kembali menjalankan mobil. Jam sudah menunjukkan waktu 08.34, artinya mereka tidak mempunyai banyak. Berdebat dengan Kai hanya membuat ia kehilangan konsentrasi menyetir.

“Kai, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” gumam Kyungsoo.

“Apa?”

“Kenapa kau sangat menginginkan Jessica? Bukannya kau baru saja mengenalnya? Baiklah, kau sudah sering mengatakan alasannya. Kau selalu menjawab karena dia gadis yang langka. Ku yakin alasannya lebih dari itu.”

Kai melirik Kyungsoo sambil tersenyum tipis. Dia meraih kamera yang ia letakkan di dashboard mobil. Sepertinya Kai mengecek foto-foto yang ia dapatkan di hari pertama dia kembali ke Korea. Senyuman itu melebar saat melihat foto Jessica ditarik pergi oleh Minseok. Wajah Jessica terekspos sempurna di foto itu.

“Kau tahu apa yang ku pikirkan tentang Jessica saat pertama kali melihatnya?” tanya Kai pelan.

“Dia cantik.” Kyungsoo menjawabnya dengan malas. “Kau sudah mengatakannya berkali-kali sejak 2 hari yang lalu.”

Kai tertawa mendengarnya. “Tidak. Kau salah. Aku berpikir dia gila.”

“Memang dia gila, kan?”

Kai melirik Kyungsoo tajam. “Dengarkan dan jangan memotong perkataanku!”

Mian.”

“Aku memotret kejadian itu agar aku bisa melaporkan gadis itu ke polisi. Tapi rencanaku terpaksa dikubur dalam-dalam saat melihat matanya. Warna bola mata kanannya berbeda dengan warna bola mata kirinya,” ujar Kai. “Apa yang kau pikirkan tentang itu?”

“Mata kanannya bermasalah. Bukankah itu sudah tertera di profil yang ku berikan kepadamu?” tanggap Kyungsoo tak niat.

“Ya, aku tahu. Dan saat aku mengetahui hal itu, aku semakin menginginkannya.”

Kyungsoo membulatkan matanya saat mengerti apa yang dimaksud oleh Kai. Beruntung mereka sudah sampai di gedung perusahaan Kim. Kyungsoo tidak membalas apapun dan memilih untuk fokus menyetir. Sedangkan Kai hanya diam sambil tersenyum lebar.

“Kita sudah sampai~” seru Kai saat mobil itu terparkir dengan sempurna.

Kai membuka pintu. Melihat itu, Kyungsoo segera menahannya. Dia sangat penasaran sekarang karena dia mulai mengerti dengan pemikiran Kai.

“Tunggu, apa kau berpikir bahwa Jessica adalah gadis 10 tahun yang lalu?” tebak Kyungsoo ragu.

Kai memainkan raut wajahnya. “Sepertinya,” jawab Kai singkat lalu pergi meninggalkan Kyungsoo.

Kyungsoo mengerang kesal. Dia tidak puas dengan jawaban Kai. Tidak puas sama sekali!

***

Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun terlihat kebingungan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia sedang mencari seseorang. Dia mencari anak pembantunya yang menjabat sebagai sahabatnya sejak kecil. Kyungsoo, itu lah nama temannya.

“Jongin-ah!” seru Kyungsoo sambil berlari ke arah anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu—Jongin—menoleh dengan kesal. Dia berkacak pinggang dengan tatapan mengadili Kyungsoo.

“Tadi aku dipanggil oleh ibuku. Hehehe,” jelas Kyungsoo sambil menyengir polos.

“Kau bisa mengajakku pulang, bukannya meninggalkanku di taman bermain sendirian!” protes Jongin.

Kyungsoo menunduk. “B-baiklah.. maafkan aku, Jongin.”

“Sebagai hukumannya, kamu harus membelikanku es krim!”

Kyungsoo terbelalak. Dia mengecek di kantong celananya. Tidak ada uang disana. Dia memasang wajah memelas kepada Jongin, berharap Jongin memaafkannya sehingga ia tidak perlu membelikan Jongin es krim.

Jongin menghela napas panjang. Dia tahu Kyungsoo tidak bisa membelikannya es krim. Percuma. Jongin menarik tangan Kyungsoo ke kedai es krim di dekat taman bermain. Kyungsoo hanya menghela napas pasrah. Ia tidak tahu kalau Jongin sudah memaafkannya dan berniat membelikan es krim untuk Kyungsoo.

“Kau mau rasa apa?” tanya Jongin pada Kyungsoo.

“Aku mau rasa stroberi.”

Bukan Kyungsoo yang menjawabnya. Seorang gadis cilik yang berdiri di antara mereka. Kyungsoo dan Jongin menatap gadis itu bingung. Tapi gadis cilik itu membalas tatapan mereka dengan kerjapan mata bingung.

“Aku tidak bertanya kepadamu,” desis Jongin.

Gadis cilik itu tidak mendengarkan kata-kata Jongin. Dia memutar kepalanya. Sudah jelas dia sedang mencari seseorang. Tiba-tiba gadis cilik itu menangis. Kyungsoo terkejut dan berusaha untuk menenangkan gadis cilik itu. Berbeda dengan Jongin yang terlihat acuh tak acuh. Ia mencoba untuk menarik Kyungsoo menjauh dari gadis cilik itu. Tapi Kyungsoo tidak mau. Dia merasa bersalah.

Aigo, Kyungsoo-ya! Ayo kita pergi!” omel Jongin.

“T-tapi—“

“Itu bukan salahmu kalau dia menangis,” sergah Jongin cepat sambil melipat tangannya.

“Memang bukan salahku. Ini salahmu! Kau yang membuatnya menangis!” sahut Kyungsoo kesal.

Tiba-tiba gadis cilik itu berhenti menangis. Dia menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian. Dia bingung kenapa mereka saling menyalahkan. Bahkan mereka bukanlah alasan ia menangis. Ia menangis karena ‘seseorang’ tidak berada di sekitarnya.

“Baiklah, kau mau ku belikan es krim?” tanya Jongin berusaha manis saat melihat Kyungsoo menatapnya tajam.

Senyuman gadis cilik itu mengembang.

>>> 

“Kenapa menangis?” tanya Kyungsoo bingung.

Mereka bertiga duduk di kursi taman. Gadis cilik itu tetap asik dengan es krimnya, membuat Jongin semakin kesal. Dia memang tidak pernah suka jika ada orang lain yang dekat dengannya dan Kyungsoo. Dia tipe anak manja, egois dan anti sosial.

“Hei, jawab! Kau membuatku kesal saja!” kesal Jongin.

“Kim Jongin! Berhenti membentaknya!” omel Kyungsoo.

“Kau juga berhenti membentakku!” sahut Jongin kesal.

“Berhenti! Kalian berisik sekali sih?” gerutu gadis cilik itu.

Jongin dan Kyungsoo bertukar pandangan sambil mengerjap bingung. Mereka kembali memperhatikan gadis itu. Akhirnya mereka menghela napas panjang dan memilih diam sambil menikmati es krim mereka yang mulai mencair.

“Apa rasa es krim milik Kyungsoo?” tanya gadis cilik itu. Dia tahu nama keduanya karena sudah beberapa kali mereka menyebutkan nama sahabatnya itu.

“Milikku rasa vanila,” jawab Kyungsoo lalu tersenyum manis.

Gadis cilik itu menoleh ke Jongin. “Jongin?”

“Rahasia!” jawab Jongin jutek.

Gadis cilik itu merengut. Dengan cepat, ia menarik tangan Jongin yang memegang  es krim dan menjilat es krim milik Jongin. “Rasa apa ini? Rasanya agak pahit,” komentarnya bingung.

Kyungsoo tertawa. “Itu rasa Coffee Latte. Kesukaan Jongin.”

“Oh… cocok dengan Jongin yang bermuka sedikit pahit.”

Jongin yang sedari tadi melamun karena sikap spontan gadis cilik itu tadi pun menoleh kesal. “Hei! Apa maksudnya?”

Kyungsoo dan gadis cilik itu hanya tertawa.

“Oh iya, dari tadi aku lihat, mata kananmu kok aneh?” tanya Kyungsoo.

Gadis cilik itu menyentuh mata kanannya sambil tersenyum tipis. “Mata kananku buta sejak aku lahir,” jawabnya lirih.

***

Sudah menjadi pemandangan biasa jika melihat Minseok berjalan di koridor dengan Jessica di sampingnya sambil memeluk tangannya posesif. Dimana ada Minseok, disana lah Jessica berada. Bahkan Jessica masuk ke jurusan ilmu pemerintahan untuk mengikuti Minseok. Padahal ‘x factor’ Jessica berada di otak kiri bukan kanan. Dia hebat di penghitungan dan payah di penghapalan. Itu sebabnya dia selalu berada di urutan mahasiswa dengan nilai terburuk di setiap semesternya. Berbeda 180 derajat dengan Minseok yang memang ahli menghapal dan mencintai sejarah.

Minseok dan Jessica keluar dari kelas. Kini tujuan mereka adalah perpustakaan kampus.

“Sebentar lagi ujian akhir semester,” runtuk Jessica lemas.

“Neraka bagimu,” komentar Minseok.

“Tentu saja. Artinya aku harus menghapal banyak buku tebal dari waktu singkat. Otakku tidak mungkin menampung semua itu,” desah Jessica.

“Kalau begitu, pindah jurusan saja.”

“Tanggung. Sudah tahun ke 2.”

“Mulai dari awal.”

“Buang-buang waktu.”

“Kalau begitu, berhenti menggerutu. Menggerutu tidak akan membuatmu semakin baik.”

Jessica merengut. Rasanya ingin menggigit tangan Minseok yang tidak peka dengan perasaan Jessica. Jessica menggerutu seperti itu dengan harapan Minseok—setidaknya—bisa memberikan motivasi kepada Jessica. Kalau tahu responnya akan seperti ini, lebih baik Jessica telan kalimat gerutuan itu bulat-bulat. Ini membuatnya semakin down.

Kenapa sih tidak bisa perhatian sedikit saja? Dasar tidak peka, gerutu Jessica kesal.

>>>

Kai merapikan kemejanya sejenak lalu memasuki ruang rapat. Hari ini, ayahnya akan mengumumkan Kai sebagai wakil direktur utama perusahaan itu sampai ayahnya yakin untuk menurunkan perusahaan itu kepada Kai. Kai tidak mau ia terlihat buruk di saat peresmian jabatannya.

“Duduklah di sampingku, Jongin-ah,” kata ayahnya saat melihat putranya masuk ke dalam ruang rapat.

Kai menggertakkan giginya. Dia tidak suka dengan nama itu. Sudah 6 tahun, dia membuang nama itu jauh-jauh dari kehidupannya. Tapi jika ayahnya yang memanggilnya begitu, apa yang bisa dia perbuatan? Tidak ada.

“Kyungsoo-ya, tetaplah di dekatku,” pesan Kai sebelum duduk di kursi yang ditunjuk oleh ayahnya.

Kyungsoo mengangguk sopan dan mengambil posisi sedikit lebih dekat dengan Kai. Dia memperlihatkan sosok butler yang sempurna di depan para relasi dan pejabat-pejabat penting perusahaan itu.

Rapat itu berjalan lancar. Setelah ayahnya mengumumkan Kai sebagai wakil direktur utama, Kai memberikan sedikit pidato. Setelah itu mereka membicarakan tentang beberapa rencana yang sedang atau akan dilakukan oleh perusahaan itu. Kai mencernanya dengan baik.

Selesai rapat, Kai diminta untuk ke ruangan ayahnya. Tentu saja dengan Kyungsoo yang selalu setia berada di sampingnya. Seorang gadis yang sepertinya lebih muda dari Kai sudah menunggu di ruangan kerja ayahnya. Ayahnya tersenyum senang melihat itu.

“Yoona-ya,” sambut tuan Kim. “Sudah lama menunggu? Harusnya kau langsung masuk saja ke ruang rapat. Bukannya menunggu rapat selesai.”

Gadis yang dipanggil Yoona itu tersenyum sungkan sembari bangkit dan membungkuk sopan. “Aku tidak mau mengganggu jalannya rapat, Ahjussi. Jadi akan lebih baik jika aku menunggu di ruanganmu. Maaf atas kelancanganku karena sudah masuk seenaknya ke dalam ruangan ini,” jelas Yoona.

Tuan Kim menghampiri Yoona dan duduk di samping gadis itu. Dia mengisyaratkan Kai dan Kyungsoo untuk duduk di dekat mereka. Kai dan Kyungsoo menurutinya.

“Jadi, Yoona… inilah Kim Jongin, anak ahjussi,” kata tuan Kim sambil menunjuk Kai. “Dan di sampingnya adalah Do Kyungsoo. Dia adalah pelayan pribadi Jongin.”

“Perkenalkan, nama saya adalah Do Kyungsoo. Nona bisa memanggilku Kyungsoo. Senang berkenalan denganmu,” Kyungsoo memperkenalkan dirinya dengan formal seraya membungkuk sopan.

Bola mata Yoona melirik Kai yang sedari tadi diam dan sepertinya tidak tertarik untuk melirik Yoona. Yoona menggigit bibirnya. Melihat itu, Kyungsoo segera menyikut Kai sebelum tuan Kim yang beraksi. Kai menoleh bingung, tapi dia segera mengerti apa maksud Kyungsoo. Kai mengulurkan tangannya kepada Yoona.

“Kai, anak pria tua yang duduk di sampingmu,” kata Kai sambil menyeringai tipis.

Yoona menjabatnya dengan senyuman gugup. “Im Yoona.”

Sedangkan tuan Kim tertawa mendengarnya. Dia sudah terbiasa mendengar anaknya menyebutnya seperti itu. Mereka memang senang becanda dan menggoda satu sama lain. Tuan Kim bukanlah sosok pria yang kaku jika bukan soal bisnisnya. Itu yang membuat Kai sedikit bersyukur mempunyai ayah seperti tuan Kim.

“Im Yoona akan menjadi sekertaris pribadimu. Tapi dia tidak bisa bekerja sepanjang waktu karena dia juga masih kuliah,” ujar tuan Kim.

“Hah?” Kai menoleh kaget. “Tunggu! Kalau begitu, dia belum siap untuk bekerja, kan?”

Tuan Kim berdecak pelan. “Iya. Tapi Yoona ingin mencari pengalaman bekerja, Jongin-ah. Apa salahnya jika kalian saling bekerja sama? Kalian sama-sama sedang mencari pengalaman kerja, kan?”

“Tidak! Harusnya aku didampingi oleh karyawan berpengalaman. Bukan yang amatir sepertinya. Dia tidak akan membantu, tapi mengacaukan pekerjaanku!” sergah Kai kesal.

Tuan Kim menatap anaknya tajam. “Jaga sikapmu, Kim Jongin! Kau tidak tahu apa-apa! Bahkan kalian belum memulainya! Bagaimana kau tahu bahwa dia akan mengacaukan pekerjaanmu?”

Kai menarik napasnya dalam sambil melipat tangannya. Dia tidak membalas apapun. Sedangkan Yoona menundukkan kepalanya. Kepercayaan dirinya hancur karena kalimat yang keluar dari bibir Kai. Apa Kai tidak tahu seberapa sulitnya Yoona mengumpulkan segala kepercayaan diri itu? Kalau bukan karena orangtuanya yang memaksanya, Yoona tidak akan mau menerima pekerjaan ini. Untuk apa bekerja? Keluarganya juga sudah mapan.

“Kalian bekerja sejak hari ini. Yoona, berikan jadwal kuliahmu kepada Kai supaya Kai tahu kapan dia bisa menghubungimu,” kata tuan Kim untuk mengakhiri perbincangan pagi itu.

>>>

Jessica merenggangkan badannya saat mereka keluar dari perpustakaan umum kampus. Akhirnya semua tugas sudah selesai mereka selesaikan.

“Ah, sepertinya laptopku error. Sisi kirinya sedikit retak,” runtuk Jessica pelan.

“Tentu saja retak. Kau memukul pria mabuk itu dengan kencang. Sangat kencang. Beruntung hanya ada lebam-lebam gelap di kulitnya dan tulang pria itu tidak ikut retak seperti laptopmu,” tanggap Minseok sambil memperhatikan sekelilingnya.

Jalanan itu lumayan sepi. Jam tangan mereka sudah menunjukkan jam 5.30 sore. Hampir semua mahasiswa dan mahasiswi sudah pulang. Udara juga sudah mulai kembali turun ke 6 derajat. Benar-benar dingin di awal bulan desember. Di tahun itu, salju memang turun lebih cepat. Tepatnya 2 minggu lebih cepat. Minseok merapatkan mantelnya lalu menarik tangan Jessica menuruni anak tangga. Mereka harus segera sampai di rumah sebelum suhu udara bebas mencapai nol derajat atau kurang dari nol. Apalagi kalau hujan salju turun, mereka akan semakin repot.

“Kita mampir ke kedai Ryu ahjumma dulu, ya?” pinta Jessica.

Minseok menoleh kesal. Apa? Es krim? Di saat suhu sudah sedingin itu, Jessica masih juga menginginkan es krim? Minseok menghela napas kasar. Dia sadar dia memang tidak bisa protes. Dia terlalu takut untuk membuat Jessica kecewa, apalagi marah.

“Baiklah,” jawab Minseok singkat.

>>>

Jessica menepuk bahu Minseok berulang kali hingga Minseok menoleh kesal saat mereka sudah sampai di depan kedai es krim langganan Jessica. Jessica menunjuk deretan lolipop yang dipajang di depan toko permen.

“Aku mau lolipop itu,” rajuk Jessica sambil memasang muka melasnya kepada Minseok.

Minseok mendesah pelan. “Es krim atau lolipop?”

“Keduanya!”

“Tapi—“

Jessica menepuk tangannya excited. “Aku membeli lolipop dan kau yang membeli es krim. Oke? Rasa stroberi seperti biasa!”

Sebelum Minseok sempat membalas, Jessica sudah berlari ke toko permen itu. Minseok menghela napas panjang lalu masuk ke dalam kedai es krim itu.

Jessica menggumam pelan sambil memandangi deretan lolipop bewarna-warni itu. Dia memainkan jarinya di dagu sambil berpikir. Bisa saja dia membeli semua itu. Tapi dia tidak mungkin menghabiskan semuanya. Seorang pramuniaga menghampirinya dan menyapanya ramah.

“Lolipop manakah yang agassi suka?” tanya pramuniaga itu ramah.

Jessica melirik pramuniaga itu sekilas. Dia memilih permen itu asal dan menunjukkan permen itu kepada sang pramuniaga. Pramuniaga itu membawa lolipop itu ke dalam. Pramuniaga memasukkan lolipop itu ke dalam plastik khusus toko itu dan memberikannya kepada Jessica.

“7000 won,” kata pramuniaga itu.

Jessica membuka tas dan mengambil dompetnya. Dia menyerahkan uang itu kepada pramuniaga itu. Jessica mengerjap saat menyadari sebuah tangan memberikan pramuniaga itu uang sejumlah 7000 won sebelum Jessica memberikannya. Jessica memutar kepalanya. Matanya bertemu dengan mata yang memancarkan kemisteriusan milik Kai.

“Kai!” pekik Jessica kaget.

Kai menyelipkan tangan kirinya di pinggang Jessica sambil mensejajarkan bibirnya dengan telinga Jessica. “We meet againmy girl~” senandung Kai yang membuat Jessica sedikit merinding.

“Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Jessica sambil memperhatikan tangan kanan Kai yang sedang mengambil uang yang ada di tangan Jessica dan mengembalikannya ke dalam dompet Jessica.

“Karena auramu menjeratku,” jawab Kai santai.

Jessica siap untuk memuntahkan isi perutnya jika ia tidak ingat mereka berada di tempat umum. Jessica mencubit tangan kiri Kai agar menjauh dari pinggangnya.

“Aw! Sakit, Jess!” ringis Kai sambil menarik tangan kirinya.

Jessica tidak mendengarkan Kai. Dia segera berlari keluar dari toko permen menuju kedai es krim, dimana Minseok berada. Tapi tangannya ditangkap oleh Kai. Kai menarik Jessica ke dalam mobilnya dengan paksa. Di dalam mobil, sudah ada Kyungsoo yang siap untuk menggas mobil meninggalkan kawasan itu. Kyungsoo tertawa kecil saat melihat Kai memaksa Jessica untuk duduk di kursi penumpang belakang. Ini pertama kalinya Kai mau untuk tidak duduk di depan.

“Hei, turunkan aku! Minseok menungguku di kedai Ryu ahjumma!” rengek Jessica.

Kai menahan tangan tubuh Jessica dengan memeluknya erat. Sebelum Jessica memberontak dengan brutal, Kyungsoo menjalankan mobil itu. Jessica menatap pintu kedai es krim itu lirih.

“Kalian menculikku dan meninggalkan Minseok sendiri!” pekik Jessica kesal. Dia benar-benar marah sekarang. Tapi anehnya, monster itu tidak menguasai tubuh Jessica seperti biasa.

Minseok’s side.

Minseok membuka pintu kedai es krim itu dengan malas. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan berendam di air hangat. Tapi karena putri manja itu, mau tak mau Minseok harus masuk ke dalam kedai ini dan membeli es krim di saat suhu udara sudah sangat dingin.

Annyeong, Minseok-ah!” sapa sang pemilik kedai, Ryu ahjumma.

Minseok tersenyum tipis seraya membalas, “annyeongAhjumma.”

“Tumben kau tidak bersama Jessica,” bingung Ryu ahjumma.

“Dia sedang membeli lolipop di toko sebelah,” jawab Minseok seperlunya. “Pesanan Jessica seperti biasa, Ahjumma. Untuk dibawa ke rumah.”

Ryu ahjumma tersenyum kecil sambil mengambil satu tempat berisi es krim stroberi kesukaan Jessica dan memasukkannya ke dalam tas plastik kecil. Dia memang terbiasa menyiapkannya karena tahu Jessica akan memesan itu. Dia memberikan tas plastik itu kepada Minseok.

“Kau tidak?” tanya Ryu ahjumma.

Minseok tertawa sarkartis. “Sedingin ini makan es krim? Tidak, terima kasih!”

Ryu ahjumma tertawa mendengarnya. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Minseok keluar dari kedai itu. Dia menoleh ke sana kemari. Dia mencoba mencari Jessica di sekitar sana. Tidak ada. Di dalam toko permen? Tidak ada.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pramuniaga toko permen itu.

“Aku sedang mencari gadis yang memakai mantel berwarna putih dan tas selempang berwarna merah. Tadi dia bilang dia membeli lolipop di sini,” kata Minseok.

“Oh gadis itu… dia pergi bersama seorang pria dengan pakaian formal tadi,” jawab pramuniaga itu.

“Benarkah?” tanya Minseok sedikit mendesak. Tidak mungkin Jessica meninggalkan Minseok begitu saja. Jessica tidak pernah mau terlalu jauh dari Minseok. Sebenarnya saat Jessica memutuskan untuk membeli lolipop itu sendiri saja sudah membuat Minseok bingung.

Pramuniaga itu menggaruk kepalanya sekilas. “Sebenarnya gadis itu ditarik ke dalam mobilnya. Aku tidak melarangnya karena sepertinya mereka cukup akrab.”

“Apa kau tahu siapa yang menariknya? Mungkin ciri-ciri khusus lainnya selain berpakaian formal?”

“Kalau tidak salah gadis itu memanggilnya… Kai. Iya, Kai!”

Mata Minseok terbelalak. Dia berlari keluar dari toko itu. Bahkan dia tidak berterima kasih kepada sang pramuniaga. Dia mencoba menghubungi handphone Jessica. Nyambung, tapi tidak diangkat sekali pun walaupun Minseok sudah menghubunginya berulang kali.

You jerk, Kai!” gumam Minseok geram.

>>>

Jessica keluar dari mobil Kai saat mobil itu berhenti di depan rumah Jessica. Saat melihat Kai ikut keluar dari mobil, Jessica segera mendorong Kai agar Kai kembali masuk. Dengan paksa, Jessica menutup pintu dan berlari ke dalam rumah.

“Hei, tidak ada ucapan terima kasih? Dia pergi begitu saja?” gerutu Kai.

“Itu karena kau mengantarkannya dengan cara menculiknya dan memisahkannya dari Minseok. Sudah ku bilang dia tidak akan bisa lepas dari Minseok,” sahut Kyungsoo.

Kai menggertakkan giginya. “Tapi tadi tidak ada Minseok di sekitarnya!”

Kyungsoo mengangkat bahunya sambil terkekeh pelan.

Jessica’s side.

Jessica mengeluarkan handphonenya yang terus-menerus berdering saat sudah sampai di dalam rumah. Dia tidak sempat mengucapkan salam karena sibuk mengatur napasnya.

“Jessica-ya! Kau dimana?” tanya Minseok panik.

Jessica tersenyum tipis. Sudah berapa lama dia tidak mendengar suara panik itu? Apa terakhir ia mendengar suara panik itu saat ia terjatuh 12 tahun yang lalu? Apa hanya dengan cara ini, Minseok menjadi sepanik ini menyangkut Jessica?

“Aku sudah berada di rumah. Cepat pula, Seokkie. Aku akan menyuruh seseorang untuk menyiapkan air hangat untukmu,” jawab Jessica, agak menggumam lega.

=== Thorn Love ===

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s