[Series] Thorn Love — Chapter 3 :: Love and Hate

Thorn Love

Story by Yura Lin

Main Cast:

Xiumin – Jessica – Kai

D.O – Yoona

Previous:

1 – 2

Note: hayo siapa yang penasaran sama sisi pandangan Minseok di ff ini? Di chapter ini, aku perbanyak ambil sudut pandangan Minseok biar kalian sedikit tau apa yang dipikirkan Minseok. Abis Minseok tenang terus sih selama ini -,-

Jangan lupa liat poster untuk liat bagaimana rupa Jessica, Kai dan Xiumin. Semuanya persis sama poster. Sampe ke matanya Jessica yang berbeda warna gitu. Yang satu hitam, yang satunya biru O_O

=== Thorn Love ===

Minseok pov.

Aku menggenggam tangan eomma erat sembari memasuki rumah terbesar yang pernah ku lihat. Kedatangan kami disambut oleh banyak orang. Mereka menyuruh kami duduk di sofa yang sangat empuk. Aku yakin tidurku pasti nyenyak jika tidur di sofa itu. Eomma menyentil keningku dan menyuruhku untuk diam dan jaga sikap. Aku merengut pelan, tapi aku tetap menurutinya.

Seorang ahjumma datang dan menghidangkan beberapa kue dan mangkuk berisi permen, tidak lupa dengan minuman bewarna. Dia menyuruh kami untuk menikmati makanan dan minuman itu. Eomma mengangguk seraya mengambil segelas minuman bewarna merah untukku. Aku menerimanya dengan senang hati dan langsung ku teguk. Rasa manis memenuhi mulutku. Aku tersenyum senang. Aku suka rasa manis.

Melihat senyumanku, eomma ikut tersenyum. Dia mengambil sebuah permen yang tak berbungkus plastik lalu menyuapkannya ke mulutku. Sekali lagi rasa manis memanja lidahku. Teksturnya lembut. Aku jadi bertanya-tanya, permen apakah itu?

“Itu marshmallow. Kau suka?” celetuk seorang wanita dengan tampilan mewah dan elegan.

Aku tersentak kaget dan langsung memeluk tangan eomma karena tiba-tiba wanita itu sudah duduk di depanku. Aku tidak menyadari kehadirannya. Wanita itu tersenyum kecil melihat reaksiku. Senyuman yang lembut, selembut nama permen yang dia katakan tadi.

“Oh, nyonya Jung! Annyeong haseyo!” sambut eomma seraya membungkukkan badannya sopan.

Melihat itu, aku ikut membungkukkan badanku. Wanita itu tidak membalas sapaan bahkan bungkukkan kami. Dia tetap tersenyum. Dia bangkit dan duduk di sampingku. Tangannya mengangkat kepalaku agar aku mendongak dan menatapnya. Tangannya sangat lembut.

“Siapa namanya?” tanya nyonya Jung.

“Kim Minseok. Umurnya 7 tahun,” jawab eomma.

“Oh! Berarti dia seumuran dengan Sica!” serunya senang. “Wajahnya manis sekali. Ku kira dia lebih muda dari Sica.”

Eomma mengacak rambutku lembut. “Yah, begitulah.”

Nyonya Jung mengangkat tubuhku agar ia bisa memangkuku. Dia memelukku. Pelukan yang hangat. Aku rasa aku tidak perlu takut dengannya.

“Aku menginginkannya,” gumam nyonya Jung.

Hah? Menginginkan apa? Siapa? Aku?

“Ya, aku memang membawanya untukmu,” balas eomma.

Bawa apa? Eomma tidak membawa apapun selain beberapa uang lembar di saku celananya.

Nyonya Jung mengecup pipiku. “Minseokkie, kau tinggal disini, ya?”

“Eomma—“

“Jangan takut. Kamu mempunyai teman dan mainan disini. Kamu bisa makan marshmallow sesukamu jika tinggal disini. Kamu mau?” yakin nyonya Jung.

Aku menatap eomma bingung. Eomma mengangkatku agar duduk di pahanya. Dia mengelus kepalaku lembut dan menatapku lirih seakan dia ingin menangis. Aku mengusap pipinya. Eomma memelukku erat sambil berbisik, “kamu tinggal disini, ya. Eomma pergi dulu. Eomma ada urusan. Jangan nakal selama Eomma pergi. Mengerti?”

Sepeninggalnya eomma, nyonya Jung mengajakku ke ruangan lain di dalam rumahnya. Rumah itu memang sangat besar dan luas. Kami memasuki sebuah kamar yang dindingnya dipenuhi dengan tempelan huruf, angka, pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Di tengah ruangan, ada seorang wanita dewasa lainnya yang sedang mengajar seorang anak kecil yang sepertinya seumuran denganku. Nyonya Jung menyuruh wanita itu pergi. Dia menarikku ke hadapan anak kecil itu.

Sambil mengelus kepalaku lembut, dia berkata, “Sica-ya, mulai hari ini, dia adalah milikmu.”

***

Dan sampai sekarang pun, eomma tidak pernah kembali ke rumah ini. Tapi sekarang aku sudah mengerti apa posisiku di rumah ini. Jadi aku mengerti kenapa eomma tidak pernah datang menjemputku pulang.

Aku tidak terlalu memikirkan itu. Aku sudah bersyukur tinggal disini bersama Sica. Aku menyayangi Sica. Tentu saja aku menyayangi gadis itu. Selama aku tinggal di rumah ini, aku selalu bersamanya dan bermain dengannya. Kami selalu melakukan apapun bersama-sama. Aku tidak mempunyai teman selain Sica. Begitu juga dengan Sica. Mungkin karena kami mengikuti homeschooling dan jarang keluar rumah, kami tidak pernah berteman dengan orang lain selain penghuni rumah ini.

Sampai akhirnya kami memohon untuk melanjutkan sekolah di sekolah umum saat menginjak kelas 7. Di sekolah umum itu, kami menjadi murid andalan sekolah. Aku berhasil membuat pertemanan dengan anak-anak seumuranku lainnya, bahkan kakak kelas juga. Berbeda dengan Sica yang memilih untuk menjauhkan dirinya dari yang namanya ‘pertemanan’. Saat aku menyuruhnya untuk berteman dengan orang lain, dia akan menjawab,

“aku kan sudah punya Minseokkie. Itu sudah lebih dari cukup kok.”

Itu lah yang terkadang membuatku frustasi. Aku tidak mungkin meninggalkan Sica sendiri. Tapi aku ingin bermain dengan anak lainnya. Tidak bermaksud untuk mengatakan aku bosan dengannya, tapi itu lah faktanya.

Semakin lama, aku semakin tidak mempedulikan perasaan kasihan terhadap Sica dan menikmati pertemananku dengan yang lain. Sampai akhirnya sesuatu terjadi. Sica mengamuk saat seorang kakak kelas menyatakan cinta kepadaku. Tapi dia kembali tenang setelah aku menciumnya dan mengatakan dia tidak ingat apa yang ia perbuat saat mengamuk.

Kejadian itu terjadi berkali-kali setiap seseorang berani mendekatiku hingga akhirnya tidak seorang pun yang mau berteman denganku. Sica sempat dibawa ke psikiater setelah aku menceritakan kejadian-kejadian itu. Psikiater hanya mengatakan untuk jangan membuatnya marah.

Dan ini lah aku sekarang. Selalu berusaha menghindari apapun penyebab yang membuatnya marah.

Tapi kedatangan pria asing bernama Kai itu membuatku bertanya-tanya. Bagaimana bisa ‘monster’ itu tidak kambuh waktu Kai ada di saat Jessica mengamuk. Kenapa?

***

Author pov.

“Kemarin kau kemana dengan Kai?” tanya Minseok saat Jessica baru saja menghempaskan pantatnya di kursi meja makan.

Jessica mendengus pelan dan mengeluh, “apa perlu kita mengulas kejadian kemarin? Moodku jadi jelek lagi sekarang. Huh!”

Minseok menoleh cepat. Dia memasang matanya baik-baik pada Jessica. “Memang apa yang dia lakukan kemarin?” tanya Minseok, kali ini ditekan.

“Kemarin dia menculikku dari toko permen. Padahal aku sudah bilang kalau aku bersamamu. Kau menungguku di kedai es krim Ryu ahjumma. Tapi dia tidak mau dengar. Aku sudah marah-marah. Tapi dia tetap tidak mau menurunkanku! Menyebalkan!” terang Jessica sambil mengolesi rotinya dengan selai geram.

Minseok tersenyum kecil melihat Jessica yang sepertinya tidak suka dengan perlakukan Kai kemarin. Dia sedikit lega. Dia terbelalak kaget. Tunggu, apa? Dia merasa lega? Kenapa? Minseok menggeleng pelan.

“Memang kenapa?” tanya Jessica.

Minseok menoleh kaget. “Hm, ah? Apa?”

“Kenapa kau bertanya tentang itu?”

“A-ani. Aku hanya penasaran. Ya, itu. Hanya itu.”

Jessica melirik Minseok bingung. Jessica berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Minseok saat ini. Beberapa detik kemudian, dia menyerah. Dia tidak pernah berhasil membaca pikiran Minseok. Tidak pernah.

>>>

Minseok masih sibuk mengerjakan kuisnya tapi Jessica sudah selesai. Tidak, Jessica bukannya bisa mengerjakan semua soal itu. Tapi karena Jessica hanya bisa menjawab beberapa, dia memutuskan untuk menjawab asal sisa nomor yang tidak bisa ia jawab lalu keluar secepatnya sebelum ia muntah melihat semua soal itu berkali-kali.

Jessica merapikan barang-barangnya, bangkit dan berjalan ke meja dosen. Dia meletakkan kertas-kertas itu di atas meja. Saat ingin meninggalkan ruangan itu, Jessica teringat sesuatu. Kai. Ya, Kai. Dia teringat dengan pria itu. Dan dia yakin hampir semua dosen di kampus itu mengenal Kai. Kai seperti seseorang yang wajib dikenal oleh dosen-dosen kampus itu. Akhirnya Jessica memutuskan untuk berbalik dan kembali ke hadapan sang dosen.

“Ada apa, Jessica Jung?” tanya dosen itu.

Jessica menarik napas dalam. “Aku ingin bertanya soal Kai. Apa—“

“Oh, anak penyumbang donasi terbesar di kampus ini, ya? Dia itu pacarmu, kan?” tebak dosen itu.

Mulut Jessica terbuka setelah mendengar itu. “M-mwo—“

“Alah, tak usah mengelak. Kami sudah tahu kok. Seorang dosen melihat kalian ciuman di taman fakultas,” sergah dosen itu cepat, agak berteriak hingga seluruh orang di kelas itu mendengarnya karena memang keadaan sedang hening.

Wajah Jessica memerah mendengarnya bersamaan dengan scene itu terputar kembali di pikiran Jessica. Teman-teman kelasnya saat itu pun mulai berisik mendengar kata-kata dosen itu. Jessica berbalik badan dan memberi isyarat agar teman-temannya diam. Semuanya terlihat sibuk menggoda Jessica. Oh tidak semua! Minseok tidak. Dia tetap sibuk mengerjakan soalnya seakan ia tidak mendengar apapun. Jessica sedikit kecewa melihat reaksi Minseok yang biasa saja. Eh, loh.. bukannya Jessica memang sudah cerita kepada Minseok? Pantas dong Minseok biasa.

“Jadi ada apa dengan pacarmu itu?” tanya dosennya, membuat lamunan Jessica buyar.

Jessica kembali berbalik badan, menghadap dosennya. Dia mengusap tengkuknya sungkan. Keributan teman-temannya mulai meredup seiring mereka kembali fokus dengan kertas masing-masing. Jessica menarik napas dalam, berusaha memantapkan hatinya.

“Aku ingin bertanya alamatnya atau dimana dia bekerja. Hm, bapak tau?” tanya Jessica ragu.

Wajah dosennya sedikit aneh. Antara bingung dan penasaran.

Dosennya malah berbalik bertanya, “kau tidak tahu?”

“Nah! Aku bukan pacarnya. Makanya aku tidak tahu. Jadi jangan mengatakan yang macam-macam!” keluh Jessica, sedikit lega.

“Tapi Kai sendiri juga mengatakan kalian berpacaran.”

Orang itu!, geram Jessica dalam hati. Jessica menggeleng cepat. “Sungguh! Dia cuma becanda! Jadi apa—“

“Akan ku berikan kartu namanya.”

Jessica menghela napas lega.

“Dan memang tidak mungkin kau berpacaran dengan Kai. Bisa-bisa Minseok dan Kai berperang mendapatkanmu,” cibir dosennya yang disambut ringisan Jessica.

Berperang? Andai itu benar, pikir Jessica sambil melirik Minseok yang masih anteng dengan kertasnya.

>>>

Saat melihat Minseok keluar dari ruangan, Jessica mengejar dan berusaha mensejajari langkah mereka. Tidak lupa, Jessica memeluk tangan Minseok seperti biasanya.

“Kau tidak pernah cerita soal itu padaku,” gumam Minseok yang terdengar kesal.

Kesal? Sepertinya tidak mungkin, pikir Jessica.

“Soal itu.. apa?” balas Jessica dengan nada polos.

“Ciuman.”

Langkah Jessica terhenti mendengarnya. Minseok menoleh penasaran. Dia bisa mengatakan kata ‘ciuman’ itu lah yang menyebabkan wajah Jessica semerah sekarang. Minseok mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Kai juga berhasil membuat wajah Jessica memerah?

“B-bukannya aku sudah cerita tentang itu?” tanya Jessica hati-hati.

Minseok mengangkat alisnya. “Kapan?”

“Di kantin. Saat aku cerita soal kedatangan Kai dan mengatakan aku ini miliknya. Kau ingat, kan?” jelas Jessica, berharap Minseok ingat. Bagaimanapun, ingatan Minseok yang terbaik dibanding orang-orang yang dikenal oleh Jessica.

“Kau tidak cerita tentang ciuman. Kau hanya mengatakan Kai datang, mengatakan dia mempunyai bukti tentangmu dan dia menginginkanmu. Kau tidak cerita tentang ciuman itu!” nada bicara Minseok meninggi.

Jessica terlonjak kaget karenanya. Baru kali ini Minseok berani membentaknya. Jessica melepaskan tangannya seraya melangkah menjauh dari Minseok. Jessica melirik ke sekitarnya. Dia sadar mereka menjadi perhatian orang-orang sekarang. Tapi sepertinya Minseok tidak peduli.

“Aku cerita! Kau saja yang tidak ingat!” bentak Jessica balik.

“Tadi dia datang untuk memberitahukanku tentang itu. Dia menciumku. Dan mengatakan ia menginginkanku.”

Minseok mengusap wajahnya geram. Dia ingat Jessica memang mengatakan hal itu padanya. Tapi saat itu, dia sibuk memikirkan Kai yang memiliki bukti soal Jessica hingga tidak mempedulikan poin lain. Dia tersenyum lemas sambil mengelus kepala Jessica lembut.

“Maaf, aku lupa. Maafkan aku, ya?” ujar Minseok pelan.

Jessica memeluk Minseok erat. Sedangkan Minseok sibuk memaki dalam hati. Dia tidak mengerti kenapa dia marah mengetahui Kai mencium Jessica. Apa dia cemburu?

Tidak mungkin!, tegas Minseok dalam hati.

>>>

Jessica meninggalkan kawasan kampus diam-diam agar Minseok tidak sadar akan kepergiannya. Minseok sendiri sedang berada di perpustakaan. Jika tidak diganggu, biasanya Minseok bisa lupa waktu. Selama itu, Jessica memanfaatkannya untuk pergi. Pergi kemana? Kemana lagi selain tempat Kai bekerja? Percuma Jessica sudah mendapatkan kartu nama Kai namun tidak dimanfaatkan.

Jessica terkikik pelan membaca nama asli Kai di kartu itu. Awalnya Jessica sampai kebingungan dan bertanya pada dosen apa dia tidak memberikan kartu yang salah kepada Jessica. Tapi dosen itu meyakinkan Jessica memang itulah nama asli Kai.

“Kim Jongin. Namanya yang lucu,” gumam Jessica.

Jessica turun dari taksi saat taksi itu sudah masuk ke halaman gedung tinggi tempat Kai bekerja. Jessica berjalan ke meja resepsionis dan bertanya tentang ‘Kim Jongin’ sambil menunjukkan kartu nama yang ia punya.

“Sudah mempunyai janji dengannya?” tanya resepsionis itu.

Jessica mengernyit pelan. Untuk apa janji hanya untuk menemui seorang Kim Jongin? Jessica memilih untuk menggeleng pelan.

Resepsionis itu menggeleng agak kesal. “Kalau begitu, anda tidak bisa bertemu dengannya.”

“T-tapi—“

“Jika ingin bertemunya, harus membuat janji dulu. Itu aturannya.”

“Tapi aku pacarnya! Coba telepon dia dan katakan padanya kalau Jessica Jung berada disini!” kesal Jessica.

Jessica menggigit bibirnya, menyesal karena sudah mengaku sebagai pacar Kai. Ini namanya Jessica menyerah dan membiarkan Kai menang. Tapi sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi?

Resepsionis itu menatap Jessica ragu. Tapi dia mengikuti apa yang diperintahkan oleh Jessica. Setelah meletakkan gagang telepon di tempatnya, resepsionis itu terlihat menyesal. Dia menyuruh Jessica menunggu sebentar karena Kyungsoo sedang turun lantai untuk menjemput Jessica.

Jessica tersenyum saat melihat Kyungsoo datang. Dia berlari kecil menghampiri Kyungsoo. Tidak lupa, Jessica melempar senyum penuh kemenangan kepada sang resepsionis tadi sebelum masuk ke dalam lift bersama Kyungsoo.

“Waw, ada apa kau datang kesini?” tanya Kyungsoo tanpa menoleh.

Jessica menoleh. Dia memandangi pria itu dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Pria itu terlihat terlalu berkelas untuk ukuran seorang pelayan pribadi. Gayanya yang santai membuatnya tidak terlihat seorang pelayan. Bahkan Jessica berani bertaruh orang lain tidak akan percaya kalau Kyungsoo itu seorang pelayan pribadi Kai.

Jessica tersentak pelan saat Kyungsoo menoleh lalu mendorong kening Jessica hingga pikiran Jessica buyar.

“Hei, berniat untuk menjawab pertanyaanku?” tanya Kyungsoo lagi.

“O-oh!” Jessica menggaruk kepalanya. “Ada sedikit urusan dengan Kai. Hehe..”

“Ku harap kedatanganmu tidak membuat suasana hati Kai bertambah buruk.”

Jessica menoleh bingung. “Eh?”

Tapi Kyungsoo tidak menjawab. Kyungsoo tetap diam dan berdiri tegak, tatapannya terfokus ke depan. Jessica menggertakkan giginya gemas sambil mengikuti Kyungsoo. Akhirnya pintu lift pun terbuka. Kyungsoo keluar tanpa mengatakan apapun. Jessica mengikuti Kyungsoo. Mereka masuk ke sebuah ruangan. Di sana ada Kai yang sedang sibuk membaca isi laporan dan seorang gadis cantik yang berdiri di sampingnya.

“Kai, kekasihmu datang!” teriak Kyungsoo.

Jessica meringis mendengarnya. Dia memaksakan senyuman lebar kepada Kai. Melihat itu, Kai tersenyum girang sambil bangkit dari duduknya lalu menghampiri Jessica. Kai melingkarkan tangannya di pinggang Jessica tanpa Jessica sadari. Jessica terlonjak kaget.

“H-hei! Lepaskan aku!” pekik Jessica panik.

Kai tertawa melihat reaksi Jessica. Dia melepaskan tangannya kemudian mencubit hidung Jessica. Jessica merintih pelan.

“Aish! Sakit!” protes Jessica sambil mengelus hidungnya.

Kai kembali tertawa. Jessica hanya mendesis kesal. Setelah puas tertawa, Kai menghela napas panjang seraya menangkup wajah Jessica.

“Bagaimana kau bisa tahu aku bekerja disini? Apa yang membuatmu datang kesini?” tanya Kai.

“Pertama, aku tahu dari salah satu dosenku. Kedua, aku kesini untuk—“

“Simpan itu. Sekarang kau ikut aku,” potong Kai. Kai berbalik badan. “Yoona-ssi, tolong urus sisanya, ya!”

Gadis yang bernama Yoona itu terbelalak mendengarnya. Terlihat sekali kalau dia ingin protes. Tapi Yoona menahannya, menggantinya dengan mengumpati Kai pelan karena Kai sudah keluar dari ruangan bersama Jessica. Kyungsoo menghampiri Yoona dan memberikan Yoona secarik kertas.

“Kirim kerjaan Kai ke email itu. Biarkan aku yang mengurusnya. Setelah ini, kau ada kuliah, kan?” kata Kyungsoo.

Yoona bingung harus berbicara apa. Dia dibuat terharu oleh Kyungsoo. Ingin rasanya Yoona memeluk Kyungsoo dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada Kyungsoo. Tapi wajah leganya menghilang.

“Loh bukannya kamu itu pelayan pribadinya Kai? Memang kau bisa?” bingung Yoona.

Kyungsoo terkekeh pelan. “Jangan merendahkan seorang pelayan pribadi, agassi.”

>>>

Jessica berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kai. Tapi Kai malah semakin mengeratkan genggamannya. Saat mereka sudah sampai di basement, Kai baru melepaskan genggamannya. Itu juga karena dia baru sadar tidak ada Kyungsoo di belakang mereka. Kai tersenyum lega saat melihat lift lainnya terbuka dan memperlihatkan sosok Kyungsoo yang keluar dengan santai.

“Darimana saja?” tanya Kai.

Kyungsoo tersenyum misterius. “Dari ruanganmu.”

“Hm, terserahmu.”

Kai kembali meraih tangan Jessica dan membawa Jessica ke mobilnya. Dari kejauhan, Kyungsoo menekan tombol autolock untuk membuka kunci otomatis. Jessica kembali memberontak.

“Kai! Berhenti! Dengarkan aku!” erang Jessica frustasi.

Akhirnya Kai melepaskan tangan Jessica sambil menyengir polos. Jessica sedikit kaget melihat ekspresi polos Kai. Ternyata pria mengerikan itu mempunyai wajah polos juga. Saat melihat Kyungsoo sudah berada di samping Kai dan tersenyum ramah padanya, sepertinya Jessica tahu darimana Kai belajar untuk tersenyum seperti itu. Kyungsoo juga masuk ke dalam daftar orang yang ditakuti oleh Jessica, mengingat Kyungsoo sering menunjukkan sisi misteriusnya seperti Kai.

“Aku kesini bukan untuk mengikuti permainanmu. Aku mempunyai alasan untuk datang kesini. Setelah ini, aku harus segera kembali ke kampus sebelum Minseok sadar aku menghilang,” tegas Jessica.

Kai mengangkat alisnya sambil menyeringai. “Apa?”

“Sebenarnya aku ingin berterima kasih karena sudah menculikku. Jika kau tidak menculikku, mungkin aku tidak akan mendengar suara paniknya semalam. Aku senang.” Jessica tersenyum kepada Kai. “Terima kasih banyak.”

Kai berdecak kesal. “Lalu kau ke sini hanya untuk mengatakan itu? Untuk membuatku cemburu?”

Jessica menggeleng cepat. “Aku hanya ingin berterima kasih. Aku senang saat tahu Minseok khawatir akan aku. Aku ingin melihatnya cemburu lain kali.”

“Kau harus menjauh dari Minseok dan lebih sering meluangkan waktu bersamaku. Itu pasti bisa membuat Minseok cemburu. Akhirnya dia memohon kepadamu untuk jangan meninggalkannya!” seru Kai.

Jessica cemberut mendengarnya. “Tidak ada cara yang lebih baik lagi? Apa harus denganmu? Bagaimana kalau dengan Kyungsoo?”

Kai ikut cemberut sambil mendorong Kyungsoo masuk ke dalam mobil. “Off the market! He’s only mineSo he can’t,” tegas Kai.

“Kalau begitu, aku tidak akan mengikuti rencanamu,” balas Jessica sambil berbalik.

Kai meraih tangan Jessica dan menarik Jessica ke dekatnya. Dia mengunci Jessica di antara dia dan mobilnya sambil menyeringai nakal. Sedangkan Jessica menatapnya takut.

Kai mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica lalu berbisik, “kau harus, Jessica…”

“K-kenapa harus?”

“Karena kamu adalah pacarku. Begitu kan yang kau katakan kepada resepsionis?”

Jessica meruntuk kesal. Kai hanya tersenyum kecil mendengar runtukan Jessica. Dia menarik diri sekaligus Jessica, membuka pintu mobil dan mendorong Jessica ke dalam mobil. Lagi-lagi Kai duduk di belakang. Kyungsoo memainkan kaca mobil agar ia bisa melihat Kai.

“Tidak duduk di depan, Bos?” goda Kyungsoo.

Kai tersenyum kecil sembari menggeleng. “Aku disini saja menemani pacarku.”

Tangan Jessica pun terkepal mendengarnya. Ribuan kata umpatan ia katakan dalam hati.

>>>

Jessica mencolek bahu Kyungsoo sehingga Kyungsoo meliriknya lewat kaca. Pria itu bisa melihat wajah penuh penderitaan Jessica di samping Kai yang sibuk dengan handphonenya. Kyungsoo tersenyum untuk menahan tawanya.

“Ada apa, Jessica-ssi?” tanya Kyungsoo.

“Kita kembali ke kampusku, kan?” tanya Jessica penuh harap.

“Tidak. Kita pergi ke rumahku,” jawab Kai cepat tanpa mengalihkan pandangannya.

Jessica menoleh kaget. “Apa?!”

Kai menutup telinganya dengan kedua tangannya mendengar teriakan Jessica yang sanggup memecahkan kaca itu. Kasihan sekali Kyungsoo yang tidak bisa melepaskan stirnya walaupun mobil itu adalah mobil otomatis bukan mobil manual. Kyungsoo hanya bisa mengidikkan bahunya. Dan syukurlah mobil itu adalah mobil otomatis sehingga mobil itu tidak oleng saat Kyungsoo kehilangan konsentrasi.

“Kyungsoo-ssi, ku mohon.. kembali ke kampusku sebelum Minseok menyadari kepergianku! Dia pasti marah padaku! Ku mohon!” mohon Jessica.

Kyungsoo tersenyum tipis yang terlihat seperti ringisan. “Tergantung Kai.”

“Ikuti permintaannya,” sahut Kai. “Aku hanya becanda. Jangan terlalu serius, Jess.”

Jessica mengerucutkan bibirnya. “Ya ku kira..”

Kai meliriknya lalu kembali tertawa kecil.

“Kau akan pulang? Meninggalkanku sendiri disini?” lirih gadis kecil itu.

Jongin dan Kyungsoo sambil bertukar pandangan. Mereka menggaruk kepala mereka bingung. Mereka bingung harus bagaimana. Mereka kasihan dengan gadis itu. Tapi mereka tidak boleh keluar dari rumah terlalu lama.

“Kami harus segera pulang,” kata Kyungsoo pelan.

“Kami harus pulang. Atau kami akan dimarahi,” timpal Jongin.

Gadis kecil itu merengut. “Bagaimana denganku?”

“Kami tidak tahu. Intinya kami harus segera pulang. Atau kami akan dimarahi oleh monster!” kesal Jongin.

“Monster? Mengerikan~” gadis kecil itu mengidik ngeri. “Apa aku juga aku dimarahi oleh monster itu?”

“Iya. Kau akan dimarahi karena tidak memperbolehkan kami pulang!” jawab Jongin mantap. Sedangkan Kyungsoo menatapnya bingung.

“Yasudah! Pulang sana~ ppali! Nanti aku dimarahi juga!” usir gadis kecil itu.

Jongin tertawa. “Bodoh! Aku hanya becanda. Jangan dianggap terlalu serius.”

Gadis kecil itu pun mengerucutkan bibirnya. “Ya ku kira..”

Jongin menatap wajah Jessica. Benarkah kau itu dia?

>>>

Jessica bernapas lega saat mobil itu memasuki kawasan kampusnya. Kai tersenyum. Tangannya gatal jika tidak mengerjai gadis itu. Jadi Kai pun mencubit pipi Jessica.

“Aw!”

Jessica mengaduh seraya memukuli tangan Kai gemas. Betapa Jessica berharap pria itu bisa menghilangkan kebiasaan mengerjainya setiap 5 menit. Apa yang membuat Kai senang sekali membuatnya kesal? Jessica tidak mengerti.

“Kau itu tidak boleh dibiarkan senang. Kau tahu itu?” cetus Kai santai, tanpa melepaskan cubitannya.

“Argh, Kai!” protes Jessica.

Karena pukulan Jessica sepertinya tidak berhasil untuk melepaskan cubitannya Kai, Jessica menarik rambut Kai kesal. Kai pun reflek melepaskan pipi Jessica dan mengalihkan tangannya ke tangan Jessica yang menarik rambutnya.

“Sakit?” tanya Jessica mendesis. “Rasakan!”

Bukannya merintih, Kai malah tertawa. Jessica memicingkan matanya sembari melepaskan tangannya dengan perlahan. Kai memang aneh. Dan ini membuat Jessica semakin takut dengan Kai. Sedangkan Kyungsoo yang menonton semua itu dari pantulan kaca, hanya tertawa kecil.

“Kalian adalah pasangan yang mengerikan,” gerutu Jessica.

“Eh?” Kai tertawa. “Siapa maksudmu?”

“KAU! Dan Kyungsoo!” sungut Jessica.

Kyungsoo dan Kai tergelak mendengarnya. Jessica hanya bisa meringis sambil mengasihani dirinya yang terjebak di mobil yang sama dengan 2 pria aneh. Mungkin jika orang lain mengatakan Jessica adalah psikopat, entah apa nama Kyungsoo dan Kai.

Jessica bersorak senang saat mobil itu berhenti di depan fakultasnya. Dia merenggangkan tangannya sebelum keluar dari mobil. Kai sudah terlebih dulu keluar. Setelah keluar, Jessica menghampiri Kai.

“Terima kasih atas tumpangannya,” kata Jessica.

Kai tidak membalas dan malah ingin mengacak rambut Jessica. Kali ini, Jessica bisa memprediksinya sehingga ia berhasil menahan tangan Kai tepat waktu.

“Berhenti memberantaki penampilanku, Kai!” omel Jessica.

Kai membalasnya dengan tawa kecil. “Tapi itu sudah termasuk ke dalam daftar hobiku. Eotteokhae?”

Jessica menatap tajam. Dia memutuskan untuk meninggalkan Kai segera sebelum amarahnya kembali meningkat. Dia membungkukkan badannya ke Kai dan Kyungsoo dengan cepat lalu berbalik badan. Tiba-tiba Kai menarik tangannya hingga ia kembali berbalik badan. Jessica tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kini Kai sudah menempelkan bibirnya di bibir Jessica. Jessica mengerjap kaget.

>>>

Minseok mengerang frustasi. Bagaimana bisa ia kehilangan Jessica dua hari berturut-turut? Jessica mulai berani pergi tanpa Minseok. Kalau ada sesuatu terjadi dengan Jessica, bagaimana? Minseok semakin panik memikirkannya. Dia teringat saat Jessica bertanya tentang Kai kepada dosennya.

“Oh, itu… jangan bilang kau mendatangi pria itu, Sica…” gumam Minseok.

Minseok kembali mengerang frustasi. Sekarang dia harus kemana? Dia tidak tahu kemana Jessica pergi.

Minseok menghentikan langkahnya saat melihat mobil yang tidak asing baginya. Dia sedikit yakin kalau mobil itu adalah mobil yang sama dengan dipakai oleh Kai saat Kai menjemput Jessica di halte beberapa hari yang lain.

Ya, itu pasti mobil Kai!, batin Minseok.

Dan benar saja. Saat mobil itu berhenti, pintu pun terbuka. Dia bisa melihat Kai keluar dari mobil yang diikuti oleh Kyungsoo dan Jessica. Tunggu, Jessica?

“Jessica!” geram Minseok pelan.

Terlihat Kai berusaha mengacak rambut Jessica namun Jessica menepis tangan Kai cepat. Seperti biasa, Kai selalu mengerjai Jessica. Setelah berbicara sebentar, Jessica membungkukkan badannya dan berbalik badan. Tapi Kai menarik tangannya sehingga Jessica berbalik badan lalu menangkup wajah Jessica. Dengan gerakan cepat, Kai mencium bibir Jessica.

“Kau pasti mati, Kai!” gumam Minseok sambil mengepalkan tangannya.

=== Thorn Love ===

Udah jelas kan apa yang ada di hati Minseok? :3 *goyang hula-hula* wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s