Before The Dawn—Shadow [Chapter 4]

before-the-dawn-shadow

Author: Park Soojin

Judul: Before The Dawn—Shadow

Genre: Fantasy, Mystery, Adventure

Rating: PG

Main Cast: Sehun, Luhan, Jessica, Sooyoung, D.O

Other cast: Makhluk bayangan, Annunnaki*, Raja Ur*, Raja Saternatez*, Lunez*, Nibiru* (*semua tokoh fiksi diambil dari novel Nibiru dan Kesatria Atlantis karya Tasaro GK)

Length: Multichapter

Preview chapter: 1 | 2 | 3

poster by Choi Junghee

Author note: Don’t bash! Don’t plagiat! Typo dimana-mana. Banyak hal yang dikarang. Jangan lupa RCL~

 

@@@

 

Jessica dan Kyungsoo berusaha membangunkan Sooyoung, karena cincin itu tiba-tiba saja menembus dahinya dan dia kehilangan kesadaran. Cincin itu terlihat seperti hiasan di dahinya. Sementara Sehun masih menatapnya dengan mata berbinar. Sore ini sangat aneh.

“Sooyoung-ah, ireona!” Jessica mengulang-ulang kalimat itu sambil menggoyang-goyangkan bahu Sooyoung. Tapi yeoja itu tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Ini buruk!” Gumam Kyungsoo.

“Ini bagus.” Timpal Sehun terdengar senang. Jessica dan Kyungsoo langsung menatapnya aneh.

“Bagus katamu? Sudah kami tidak jadi pulang karena dihadang makhluk bayangan tidak jelas itu, dan sekarang Sooyoung pingsan karena cincin itu? Itu yang kau maksud bagus?” Protes Kyungsoo. Mata bulatnya semakin lebar karena kepanikannya.

“Aish, bukan itu maksudku. Ayo kita bersiap kembali ke rumahku sambil menunggu Yang Mulia bangun. Banyak hal yang harus kita bicarakan.” Ujar Sehun, kemudian dia bangkit dan membersihkan pakaiannya. Kedua orang itupun juga ikut bangkit dan merapikan pakaian dan barang mereka yang berantakan.

 

Yang Mulia?

 

Beberapa menit kemudian, jari Sooyoung mulai bergerak. ‘Mata ketiga’nya mengeluarkan cahaya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Sehun yang pertama menyadari. Dia langsung mendekati Sooyoung. Ditatapnya yeoja yang belum sadar benar di depannya itu. Sehun tersenyum. Sooyoung mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.

“Selamat datang Yang Mulia. Sudah bertahun-tahun hamba mencari Yang Mulia.”

 

@@@

 

Luhan yang mendengar pintunya diketuk, langsung bergegas membuka pintu. Dilihatnya Sehun dan ketiga penjelajah itu kembali.

“Hey, kalian kembali?” Tanya Luhan tidak percaya.

“Ne Hyung, dan ada tamu kehormatan kali ini.” Ujar Sehun sambil tersenyum. Luhan yang terlihat masih tidak paham kemudian menatap tiga orang yang bersama Sehun satu persatu. Ketika dia melihat benda bersinar di dahi Sooyoung…

Luhan langsung bersujud menghadap Sooyoung, “Selamat datang Yang Mulia. Hamba tidak menyangka bahwa Sooyoung adalah Yang Mulia. Hamba merasa sangat terhormat dapat bertemu Yang Mulia secara langsung.”

“A-aigo, Luhan-ssi. Ada apa ini?” Sooyoung bingung dengan apa yang dialaminya hari ini.

Sehun menghadap Sooyoung dan menundukkan kepalanya. “Silakan masuk Yang Mulia. Kita semua perlu membicarakan banyak hal penting.”

Sooyoung dan dua orang lainnya pun masuk kedalam rumah. Mereka berlima duduk melingkar.

 

“Jessica nuna, keluarkanlah buku bersampul kulit yang tadi pagi akan kau berikan kepadaku.” Pinta Sehun. Jessica mengangguk dan mengeluarkan buku yang dimaksud dari ranselnya, dan memberikannya kepada Sehun.

Sehun menerimanya dan memperhatikan buku itu dengan takjub. Dipandanginya buku usang yang seperti dililit ranting pohon itu.

“Ini adalah Kitab Ur. Kitab yang paling diincar oleh anggota persekutuan Raja-Raja. Kitab ini dinamai Kitab Ur karena Raja Ur lah pemiliknya. Beliau memberi buku ini perlindungan berupa ranting yang melilitnya. Dan hanya Raja Ur yang bisa membukanya.”

Luhan sudah pernah mendengar semua dari Sehun, jadi dia mengerti. Sementara tiga orang lain tidak begitu mengerti apa yang sedang dibicarakan Sehun.

“Seseorang memberikan ini kepadamu kan?” Tanya Sehun sambil menatap Jessica. Yeoja itu mengangguk kencang.

“Dialah Raja Ur sebelummu. Raja Ur terdahulu mewariskan kitab ini kepada Raja Ur selanjutnya.”

“Aku Raja Ur?” Jessica terlihat tidak percaya. “Bahkan aku tidak ada hubungan darah dengan kakek tua yang memberiku buku itu.”

“Gelar Raja memang tidak diwariskan berdasar keturunan. Tapi Raja itu memilih sendiri raga siapa yang akan dia tempati. Seperti Raja Saternatez, beliau memilih Sooyoung. Raja Ur memilihmu. Dan Lunez yang memilih Kyungsoo.”

“Kenapa harus kami bertiga?” Tanya Kyungsoo.

“Setiap Raja memilih tubuh mereka dengan melihat sifat orang yang aslinya memiliki tubuh itu. Jika sifat-sifatnya memiliki kepribadian sang Raja, maka beliau akan tinggal di tubuh itu. Seperti Kyungsoo, seorang Lunez memang memiliki sifat kritis. Sooyoung, Raja Saternatez memang sangat bijak. Tapi, aku masih bingung dengan Jessica. Bagaimana Raja Ur yang hebat memilihmu…” Terang Sehun panjang lebar.

“Ya! Kau secara tidak langsung bilang bahwa aku ini tidak hebat.” Protes Jessica.

“Benar kata Sehun, dari cerita yang kami dengar, Raja Ur memang sangat hebat, berbeda dengan kepribadianmu.” Timpal Luhan.

“Yasudah…” Akhirnya Jessica menyerah saja.

“Hm, jadi, tubuhku dihuni oleh dua jiwa?” Kyungsoo sedikit bingung.

“Bukan begitu, jiwa kalian itu, hmm… menyatu. Jadi, kau adalah Lunez, dan Lunez adalah kau.” Jelas Sehun.

“Ehm.. lalu kau sendiri?” Tanya Sooyoung sambil menatap Sehun.

“Aku? Kenapa?”

“Kau sendiri, siapa raja yang menempati tubuhmu?”

Sehun menghela nafas panjang.

“Aku adalah Annunnaki, pelayan Raja Nibiru.”

“Annunnaki? Nibiru?” Sela Sooyoung.

“Nibiru adalah raja yang berkhianat diantara raja-raja lain. Beliaulah atasanku.”

Semua masih mendengarkan.

“Tapi, memang sifat dasar Annunnaki yang tidak pernah setia pada majikannya…”

“Maksudmu?” Kyungsoo semakin bingung.

“Ya, seperti saat ini. Aku adalah pelayan Nibiru, tapi aku malah melindungi Saternatez yang notabenenya adalah Musuh Nibiru, Ur yang kitabnya menjadi incaran Nibiru, dan Lunez yang merupakan… musuhku sendiri.”

“Kyungsoo, musuhmu?” Tanya Sooyoung.

“Ne, Lunez dan Annunnaki adalah saingan, selamanya.” Sehun menjada kalimatnya. “Oleh karena itu, tadi aku meminta maaf kepada Kyungsoo, karena mungkin aku pernah tidak sengaja berbuat hal yang menyakitinya… tapi, mulai sekarang kita adalah sekutu.”

“Sekutu katamu? Kita bersekutu untuk apa?” Tanya Jessica.

“Untuk… melawan Nibiru.”

“Kau berkhianat?” Kyungsoo menatap Sehun aneh, tidak bisa mengerti jalan pikiran namja itu.

“Sudah kubilang, aku tidak pernah setia. Dan kali ini aku ada di pihak kalian.”

“Apapun itu, Nibiru pasti jauh lebih kuat dari kami. Lebih baik kami pulang.” Timpal Sooyoung.

“Kalau kau pulang, Raja Nibiru bisa mengejarmu, bukan hanya kau yang dalam bahaya, tapi juga seluruh warga kota.” Luhan memperingatkan.

“Aku… aku akan melawannya bersama warga Seoul.” Ujar Sooyoung mantap. “Apapun yang akan terjadi.”

 

Hening.

 

“Ngomong-ngomong, kenapa Luhan menahan kami untuk pulang tadi?” Tanya Jessica memecah keheningan.

Luhan tidak bisa berkata apa-apa. Sehun meliriknya malas.

“Awalnya Luhan hyung ingin memyerahkan kalian pada Nibiru, karena Luhan hyung sudah tau kalau kalian bertiga lah incaran Nibiru.” Jawab Sehun santai, tapi menyebabkan tiga orang itu sedikit terlonjak kaget.

“Jadi…”

“Bukan begitu, tolong maafkan aku. Aku hanya berpikir, kalau aku menyerahkan kalian, mungkin hanya kitabnya saja yang diambil. Aku hanya ingin Sehun berhenti melakukan hal-hal aneh seperti selama ini, yang juga sering melibatkan aku. Aku hanya ingin mencari cara aman supaya kehidupan kami menjadi normal.” Luhan menundukkan kepalanya. “Maafkan aku, aku tau aku salah…”

“Tidak apa-apa hyung, setidaknya sekarang kami selamat.” Kata Kyungsoo sembari tersenyum.

“Ehm.. omong-omong, kalau kalian memang ingin pulang, bermalamlah dulu semalam disini. Besok pagi saja ke Seoul. Akan berbahaya kalau malam begini.” Kata Sehun memperingatkan.

 

@@@

 

Obrolan pagi mereka berlima sedikit terganggu karena Sehun yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di rumah mewah itu. Ya, Sehun dan Luhan memang memutuskan untuk ikut ke Seoul bersama Sooyoung, Kyungsoo, dan Jessica. Dan kelimanya sering berkumpul di rumah Sooyoung, meskipun kakak-beradik itu tinggal di rumah Kyungsoo.

Dan pagi ini, tiba-tiba Sehun seperti orang kebingungan, mengelilingi rumah Sooyoung sambil mengendus-endus aneh. Keempat orang lainnya hanya memperhatikannya.

Sehun berhenti di depan ruang baca Sooyoung. Dia mengendus lagi, dan langsung melebarkan matanya. Tangannya mendekati kenop pintu ruang baca itu gemetaran dan perlahan. Kemudian dia mebuka pintunya, dan…

 

WHOOOSH

 

BRAK!

 

“Sehun!” keempat orang itu memekik terkejut melihat Sehun terhempas ke belakang yang disebabkan oleh angin keras yang menghantamnya dari arah ruangan tadi. Sehun memegangi dadanya yang sesak, Luhan menopangnya dari belakang, sementara tiga orang lain berlari ke arah ruang baca Sooyoung.

Betapa terkejutnya Sooyoung dan kedua temannya, setelah melihat hal yang mustahil menurutnya. Seorang namja tinggi dengan rambut sebahu yang kusut dang mengenakan jubah, berdiri disitu membelakangi mereka.

“Y-ya… engh… yang… mulia…” Sehun bicara putus-putus karena rasanya paru-parunya kosong.

Namja misterius itu menolehkan kepalanya ke kanan, terlihat seringaian jahatnya. “Yang Mulia katamu?”

Akhirnya namja itu memutar badannya, menghadap kelima orang di depannya. “Kau melakukan konspirasi sialan ini di belakangku, dank au masih menganggap akulah sesembahanmu? Apa kau masih pantas menjadi pelayan setiaku, sementara kau tidak setia?”

Sehun menyeringai yang dipaksakan. “Aku memang berniat melakukan konspirasi… tapi, aku masih belum mulai sama sekali.”

Kata-kata sehun tadi menyebabkan kemarahan pada namja itu.

“Lancang kau bocah sialan! Thedputhup!” Umpatnya. Namja misterius itu mengacungkan jari telunjuknya, dan keluarlah bola api sebesar bola basket. Kemudian dia mengarahkannya pada Sehun. Dia yakin dengan keadaan Sehun sekarang, Sehun tidak akan bisa melindungi diri.

Tebakannya salah. Luhan langsung bergerak cepat. Membaringkan Sehun, kemudian berlari ke depan dan menepis api itu. Api itu hilang seketika.

“Bagaimana bisa?”

“Aku sering melawan makhluk bayanganmu itu bersama Sehun. Api kecil seperti itu sangat mudah ditepis.” Kata Luhan sambil menjentikkan jari kelingkingnya, seolah meremehkan.

Tapi namja misterius yang tidak jelas manusia atau bukan itu tidak lagi menanggapi. Dia malah langsung menatap Sooyoung tajam. Yeoja itu langsung saja mendelik terkejut.

“Sudah cukup main-mainnya. Tujuanku kesini adalah untuk mengambil Kitab Ur, dan membunuh Saternatez dan Lunez.”

Semua disitu membelalakkan matanya, terkecuali makhluk misterius itu. Dia malah tertawa sinis dan penuh kemenangan.

“Hahahaha… apa yang kuinginkan, semua sudah ada disini. Kemenangan akan selalu berpihak kepadaku. Hahahaha…”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, makhluk itu menjulurkan tangannya cepat untuk menyeret Sooyoung. Tapi Sehun sudah siap dengan semuanya. Kecepatan makhluk itu yang luar biasa dapat dikalahkannya. Sehun langsung merebut Sooyoung, sementara Luhan, Kyungsoo, dan Jessica mundur beberapa langkah ke belakang.

“Jangan harap kau mendapatkan semua itu Nibiru. Sekarang, mereka milikku!” Ujar Sehun lantang.

Makhluk itu menghempaskan lagi tangannya, dan keluarlah angina yang sangat dingin menerjang tubuh Sehun. Tidak main-main, Sehun langsung pingsan.

“Sekarang, saatnya untuk kalian…” makhluk itu menciptakan 3 bola api besar, dan diarahkan kepada Sooyoung, Jessica, dan Kyungsoo.

“AAAAAAAAAAAA!!”

 

Ketiga orang itu terbangun bersamaan dengan peluh di sekujur tubuh. Napas mereka tidak teratur, terlihat dari dadanya yang naik turun tidak karuan.

“Sudah melihatnya?” Tanya Sehun yang muncul tiba-tiba. Ini masih di rumah Sehun. Ketiganya tidur di ruang tengah.

“Tadi itu… mimpi?” Tanya Sooyoung tidak percaya.

“Hmm, bukan mimpi sebenarnya. Tapi aku mengirimkan gambaran apa yang akan terjadi jika kalian ke Seoul.” Sehun melirik. “Masih mau kembali?”

“Kalau secepat itu, lebih baik tidak.” Kata Kyungsoo, dan disusul anggukan kencang oleh Jessica.

“Bagus kalau begitu.” Ujar Sehun.

“Tapi… disini kita tidak hanya diam saja untuk berlindung. Kita harus melawan.” Sehun menatap ketiganya bergantian.

“Melawan? Kami bahkan tidak bisa bertarung.” Protes Jessica.

“Iya aku tau, nuna. Maka dari itu, program kita sesudah ini adalah…”

Sehun tersenyum, “Latihan.”

 

TBC

24 thoughts on “Before The Dawn—Shadow [Chapter 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s