Series : Beautiful Spring

req-beautiful-spring2

Beautiful Spring

By Lyviamidul

Starring

Kris | Jessica

Genre

Romance | Fluff | Sad

Rating

PG 13+

Length

Series

Disclaimer

Published on wolveswifeu.wordpress.com with Jr JJ Project and Krystal as the Main Casts.

Published on exoshidaefanfic.wordpress.com with Kai EXO and Hyoyeon SNSD as the Main Casts.

Published on YoongEXO.wordpress.com with Luhan EXO and Yoona SNSD as the Main Casts.

Published on kwonyuriff.wordpress.com with Minho SHINee and Yuri SNSD as the Main Casts.

Author’s Note

FF ini tidak terinspirasi dari Novel Ilana Tan yang berdasarkan 4 musim itu. Lebih tepatnya terinsipirasi dari poster yang aku buat untuk salah satu requester di blog aku. Enjoy!

Lyviamidul’s New Fiction, Beautiful Spring

                Suara angin sepoi-sepoi itu bertiup dari timur ke barat membuat dedaunan dan bunga-bunga yang mekar di tengah-tengah taman ini bergoyang karena tiupan angina tersebut. Sekuntum mawar merah terlepas dari rumahnya. Dua lubang hidung mendekat ke mawar tersebut.

“Hmm..” Terdengar dehaman yang keluar dari mulut orang tersebut.

“Harum bukan?” Tanya seseorang yang tepat berada disebelahnya. Orang yang memegang sekuntum mawar merah itu –Jessica langsung mengangguk mantap.

“Mereka harum. Aku suka bunga, Kris.” Jawab Jessica kepada orang yang bertanya –Kris.

“Tapi kau harus ingat sesuatu.” Ingat Kris. Jessica menolehkan kepalanya kepada Kris.

“Ya?” Balas Jessica.

“Duri itu, Jess. Bisa melukaimu,” Ucap Kris lalu meraih jari telunjuk mulus putih Jessica dan mengelusnya pelan. “Dan aku tidak mau ini terluka, mengeluarkan cairan merah kental. Mawar itu sudah cukup merah, jadi tidak perlu diberi warna merah lagi bukan?” Gombal Kris. Jessica langsung mendorong tubuh Kris pelan dan terkekeh.

“Bisa saja kau. Aku muak dengan bualanmu. Kris.” Kata Jessica lalu menggenggam mawar itu lagi.

“Selagi tak ada Luhan disini, aku akan melakukannya.” Kata Kris.

He’s a good man, right?” Kata Jessica keluar dari topic pembicaraan.

I’m better than him.” Perkataan Kris itu langsung masuk ke dalam pendengaran Jessica dengan sempurna. Benar, Kris jauh lebih baik dari Luhan yang bersikap dingin kepadanya.

“Kau diam? Kenapa? Sedang berfikir bahwa aku benar?” Tanya Kris sambil terkekeh pelan dan mendorong Jessica sampai Jessica bergeser dari tanah yang dia injak sekarang.

“Ya! Kasar sekali! Tentu dia lebih baik dari pada kau, Kris! Luhan tidak pernah mendorongku seperti ini!” Oceh Jessica lalu berjalan dan duduk di salah satu bangku panjang di taman tersebut dan Kris mengikutinya dari belakang lalu duduk tepat disebelah Jessica.

“Setidaknya aku tidak pernah mengacuhkanmu seperti Luhan,” Kata Kris lalu dia mengambil beberapa helai rambut Jessica dan menghirup aroma rambut Jessica yang harum itu. “Sampai kau berbicara tentang Luhan setiap waktu, aku selalu menerimamu bukan?” Lanjut Kris.

Kris benar.

                “Benarkan? Aku tahu itu, Jess.” Kata Kris.

Okay, kau benar kali ini, Kris.”

“Bahkan masih terekam jelas diotakku kapan kau berbicara tentang Luhan.”

“Kapan?” Satu kata pertanyaan yang bodoh keluar dari mulut Jessica.

“Dua hari yang lalu. Malam hari, ketika kita pulang dari bioskop,” Cerita Kris menggantung. Jessica menelan saliva-nya susah payah. Bagaimana dia bisa lupa? “Disana kau cerita bahwa Luhan sedang dekat dengan sekre..” Cerita Kris terpotong lalu melihat Jessica.

“Sekretaris barunya di kantor yang bernama Tiffany Hwang. Kau membuatku mengingatnya lagi, Kris.” Diluar dugaan, Jessica yang melanjutkan perkataan Kris.

Mian.” Sepatah kata itu keluar dari mulut Kris dan terdengar oleh Jessica sebagai sepatah kata yang terkesan pahit.

“Untuk?” Lagi-lagi sepatah pertanyaan bodoh keluar dari mulut Jessica.

“Aku yang membuatmu mengingatkanmu hal itu lagi. Kau sudah lupa bukan?” Kata Kris.

Gwaenchana, seharusnya aku harus ingat tentang namjachingu-ku. Terima kasih sudah mengingatkan aku, Kris.” Sesak sebenarnya untuk Kris ketika mendengar perkataan Jessica. Tapi, mau apa? Kris hanya bisa mengutarakan sayangnya kepada Jessica melalui perkataan yang dianggap Jessica sebagai perkataan yang sangat memuakkan.

“Sudah hampir sore, Kris. Tidak pulang?” Tanya Jessica. Kris langsung mengecek arloji yang mengalung sempurna dipergelangan tangannya.

“Kenapa tidak kau saja?”

“Kenapa tanya balik?”

“Sekarang siapa yang tanya balik?

“Sekarang?” Baiklah, Kris mengalah, dia tidak melanjutkan percakapan aneh itu.

“Aku akan pulang jika kau pulang juga.” Kata Kris.

“Aku menunggu Luhan.” Balas Jessica.

Aniyo! Tidak bisa! Kau kesini bersamaku jadi kau juga harus pulang bersamaku!” Oceh Kris. Jessica tidak menyahut malah merogoh tasnya dan mencari ponselnya. Dicarinya kontak yang bernama Luhan disana.

Yeobosseyo?” Ucap Jessica.

“Um.. Arasseo.” Ucap Jessica melemas lalu menutup sambungan teleponnya. Kris berdeham lalu memperdekat jaraknya kepada Jessica.

“Bagaimana? Masih setia menunggunya?” Tanya Kris sambil mengejek Jessica.

“Dia sudah jalan dari kantor dan segera kesini. Lebih baik kau pergi sekarang dari pada menjadi santapan miliknya nanti.” Saran Jessica. Well, Kris sudah lelah. Kris bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Jessica pelan.

Call me if you need me, Jess.” Sebuah senyuman bimbang muncul diwajahnya. Ntah dia harus senang karena Kris yang peduli padanya atau sedih karena Kris yang terlalu peduli akan dirinya, melebihi Luhan.

***

                “Kalah lagi!” Keluh Kris lalu melempar PSP-nya sembarang tempat.

“Bodoh! Sudah kehilangan tiga nyawa, konsen Kris!” Kata Kris pada dirinya sendiri. Kris bangkit berdiri dari kasur yang dia tempati lalu menghadap sebuah jendela besar.

“Buruk!” Oceh Kris. Yap, Kris memang nampak buruk. Kaos rumah yang sedikit longgar itu membuat Kris nampak lebih buruk. Sebenarnya Kris nampak buruk karena Jessica. Kris too much in love with Jessica. Kris terlalu mencintainya sebagai wanita yang dia cintai. Kris ingin lebih. Kris ingin Jessica menjadi miliknya, seutuhnya.

Kris meraih jaketnya yang berwarna hitam. Tidak lupa untuk memasukkan dompetnya ke dalam saku jaketnya. Ah yah, satu lagi, membetulkan rambut agar tidak disangka orang gila nantinya.

***

                “Errrhh, dingin!” Keluh Kris sambil lengannya sendiri dan berjalan di trotoar samping jalanan kota Seoul yang ramai ini. Jarum jam jalanan yang besar itu sudah menunjuk pukul delapan tapi Kris masih berkeliaran di jalanan ini.

Kris berhenti di sebuah café kecil dan masuk ke dalamnya. Kris berjalan ke arah kasir dan tersenyum ramah kepada pelayan disana.

Hot chocolate-nya satu.” Ucap Kris cepat. Ketika Kris melihat mulut pelayan itu mau terbuka, dengan cepat Kris memotongnya. “Take away.” Saat itu juga sang pelayan tersenyum dan membuatkan Kris hot chocolate sesuai pesanannya.

Sembari hal itu, Kris mengeluarkan beberapa lembar uangnya dari dompet yang dia bawa dan memberikannya kepada pelayan yang sudah berada di depannya dengan hot chocolate pesanannya. Kris memberikan lembar uang itu dan meraih hot chocolate-nya.

“Terima kasih banyak.” Ucap Kris lalu berbalik dan berjalan keluar café. Saat itu juga ada sepasang kekasih yang sedang menikmati dessert kecil mereka di atas meja. Kehangatan, kemesaraan, dan kebersamaan mereka terhumbar begitu saja yang mampu membuat orang yang melihat bisa cemburu dan iri mati. Beruntungnya Kris tidak melihat mereka, tidak melihat Luhan dan yeoja disampingnya. Yap, sepasang kekasih itu –Luhan dan yeoja-nya lah yang menghumbar kemesraan tersebut.

***

                Kris meneguk hot chocolate-nya hati-hati. Panas, sangat panas bahkan. Tapi hawa panas itu hilang diselimuti hawa dingin kota Seoul ini. Kris berjalan ke taman yang dia datangi bersama Jessica tadi, sudah pukul setengah Sembilan malam. Kemungkinan besar ada orang di taman saat seperti itu sangatlah kecil. Ditambah lagi udara yang dingin di musim semi ini.

“Pegal.” Keluh Kris lalu duduk di salah satu bangku panjang disana. Kris menoleh kanan dan kiri. Yang bisa dilihat oleh Kris hanyalah sebuah lampu berwarna putih terang menerangi taman yang luas ini. Jadi hanya beberapa spot saja yang kena oleh sinar lampu itu.

“Lu.. hiks.. Lu..” Terdengar isakkan tangis. Kris tersentak. Kris langsung meletakkan hot chocolate-nya dengan tangan yang gemetar ke atas bangku panjang itu, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

“Hiks.. Lu..” Isakkan itu terdengar lagi. Kris menelan saliva-nya susah payah. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu berdiri.

“Ya! Keluar! Aku tahu kau bukan hantu, hantu itu tidak menangis!” Ancam Kris. Suara isakkan itupun berhenti.

“Luhan?” Suara ini, Kris mengenalinya. Suara indah milik Jessica Jung.

GREP!

                “Kris!!” Panggil Jessica yang sudah memeluk Kris sekarang. Memeluk Kris dengan erat. Kepalan Kris itu lama-kelamaan mengendur dan berada di punggung dan puncak kepala Jessica sekarang.

“Jess..” Panggil Kris sendu.

Wae?” Tanya Jessica yang masih berada dipelukkan Kris.

“Aku mencintaimu, jadilah yeojachingu-ku, Jess.”

“Tapi, Luhan..”

I’m here for you.” Perkataan Kris itu langsung membuat Jessica meleleh begitu saja. Jessica melepas pelukkannya dan tersenyum kepada Kris. Ibu jari Kris bergerak ke pipi mulus Jessica, membersihkan jejak air mengalir dari matanya.

Would you be my girlfriend?

NEXT CHAPTER : SUCKMMER

26 thoughts on “Series : Beautiful Spring

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s