Eternity (Chapter 2)

eternity-psb1

 

Eternity

Author
pearlshafirablue

| Byun Baekhyun (EXO-K), Jessica Jung (GG), Yoon Bora (Sistar) |
Fantasy, Friendship, Mystery, Romance
Multichapter (2/6), Teen

“All of the characters are God’s and themselves’. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

A/N
Hanya sebuah fic lama yang ingin muncul di blog ini, karena nantinya saya akan menge-post sequel-nya di blog ini pula. Pernah di-publish di sini dan di sini. Dan Bora belum muncul di chapter ini.

pearlshafirablue®

            “Baiklah. Gamsahamnida, Baekhyun-ssi. Semoga informasi yang saya dapatkan dari anda dapat membantu.” Inspektur Jaejoong, kepala polisi di daerahku, beranjak pergi meninggalkan meja kepala sekolah setelah mengintrogasiku.

N-ne. Cheonmanayo.” Jawabku pelan, langsung berdiri dan keluar dari ruang kepala sekolah mengikuti Inspektur Jaejoong.

Ketika aku membuka pintu bisa kulihat nyaris seluruh murid Gyeongju High School mengelilingi kantor kepala sekolah dan menatapku cemas. Inspektur Jaejoong langsung mengajak Soojung masuk ke dalam ruang kepala sekolah—untuk diintrogasi. Jessica langsung menghambur ke arahku.

“Baekhyun, apa yang terjadi? Apa yang mereka katakan?” Tanya Jessica khawatir. Aku hanya tersenyum tipis dan berjalan ke arah kelas. Dia mengikutiku.

“Hei, aku serius, apa yang mereka katakan?” Tanya Jessica lagi setelah kami berdua duduk di bangku kami. Tidak ada satupun murid di dalam kelas saat ini kecuali kami berdua.

“Hmm… tampaknya akulah namja terakhir yang berhubungan dengannya belakangan ini, selain oppa-nya dan appa-nya itu. Yah, jadi begitulah. Mereka berpikir siapa tahu aku mendorongnya dari atap karena merasa dicampakkannya.” Ulasku sekenanya.

“Padahal sebenarnya sebaliknya kan?” Jessica tersenyum jail ke arahku. Aku langsung mencubit lengannya. “Appo!” Erangnya sebal. “Jadi, bagaimana kamu menghindari tuduhan itu?” Tanyanya—beberapa detik kemudian.

“Setelah aku membuktikan alibiku, dan aku menjelaskan aku tidak punya motif untuk melakukan hal itu. Ketika dia jatuh aku sedang ada di kantin kan? Bersamamu?” Ucapku menjelaskan.

“Iya sih, kau benar. Tapi bukankah kesaksian dari kerabat dekat belum bisa menguatkan alibi seperti itu?” Tuturnya.

“Memang awalnya seperti itu, tapi aku langsung bilang selain kamu ada Eunjung sunbae dan Seunghyun sunbae yang melihatku di kantin saat kejadian itu berlangsung. Sehingga aku belum terbukti bersalah.” Terangku lagi.

“Be-belum?”

“Ya, belum. Jika polisi menemukan bukti yang mengaju ke arahku tentu saja pasti aku akan menjadi tersangka.” Aku mengambil botol minumku yang tinggal seperdelapan isinya dan langsung meneguknya habis. Aku kembali melirik Jessica. “Jess, kalau misalkan—ini cuma pengandaian loh ya—kalau misalkan Sulli jatuh karena sengaja menjatuhkan diri alias bunuh diri dan aku yang menjadi sebabnya, aku mungkin tidak ditunjuk jadi tersangkanya?” Tanyaku menarik kursiku agar lebih dekat ke dengannya.

Jessica memutar bola matanya. “Hmm… sebenarnya kalau menurutku itu termasuk dalam kategori pembunuhan psikologis sih, tapi selama tidak ada yang dapat membuktikan kalau kamu yang membuat Sulli mengakhiri hidupnya, kamu tidak akan menjadi tersangka kok. Dan kalau memang ada yang bisa, kamu juga tidak akan dihukum berat seperti pembunuh lain biasanya, karena kamu hanya mencampakkannya, dan itu hak semua orang yang sudah bosan dengan kekasihnya kan?” Terangnya. Aku manggut-manggut mengerti.

“Berarti, selama ini aku tidak salah ya mempermainkan hati yeoja? Itu kan hak-ku.” Cibirku sambil mengeluarkan smirk. Jessica hanya mendengus sebal.

“Hei, kalau pengandaianmu tadi benar-benar terjadi, mungkinkah kau dihantui hantu Sulli?” Tanya Jessica tiba-tiba—langsung membuatku tersedak—padahal aku tidak sedang makan. “Ya! Pelan-pelan, Baekhyun.” Jessica menepuk-nepuk punggungku pelan. Aku langsung meliriknya sinis.

“Apa kau bilang tadi, Jess? Aku dihantui Sulli? Tidak mungkinlah! Kau percaya dengan hal-hal begitu? Tidak ada hantu di dunia ini, Jess!” Bantahku.

“Ada!” Serunya lebih keras. Aku mengangkat alis. “Eh, maksudku… mungkin saja ada. Tampaknya aku terlalu banyak baca novel horror.” Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya diikuti anggukanku.

pearlshafirablue®

            Akhirnya 5 hari setelah kasus kematian Sulli berlalu. Polisi tidak menemukan bukti apa-apa yang menunjukan kalau dia dibunuh sehingga kasus ini ditetapkan sebagai kasus bunuh diri. Dan dengar-dengar motif Sulli bunuh diri adalah stress karena berbagai tugas sekolah dan organisasi yang dia urus, sehingga menimbulkan tekanan di hati dan otaknya. Aku bisa bernafas lega setelah mendengar hal itu.

Dan dalam 5 hari ini juga hidupku seperti sedia kala. Tidak ada mimpi buruk, kejadian aneh, seperti yang diterangkan Jessica beberapa hari yang lalu. Sudah kuduga dia kebanyakan baca novel.

“Benar kan yang kubilang,” aku duduk di sebelahnya sambil menaruh ranselku di kursi. “Kau terlalu banyak baca novel.”

“Hah?” Dia menoleh ke arahku sambil menutup buku sejarah yang dibacanya tadi. Hari ini memang ada ulangan sejarah. “Terlalu banyak baca novel?”

Ne.” Balasku. “Aku tidak apa-apa kan sekarang? Kalau benar Sulli menghantuiku harusnya aku sudah bunuh diri mengikutinya karena frustasi.” Kekehku. Jessica hanya mengedikkan bahu dan kembali membaca buku sejarahnya itu.

Annyeonghaseyo, anak-anak!” Bom seongsaenim—guru biologiku yang berwajah barbie itu—masuk ke kelas sambil menenteng sebuah tas dan beberapa map. “Hari ini kalian beruntung. Kelas kita kedatangan murid baru pindahan dari Seoul.”

Mendengar ucapan Bom seongsaenim, kelas langsung ribut. Semua berbisik-bisik menebak siapa murid baru itu. Termasuk aku dan Jessica.

“Kurasa akan ada penggantinya Sulli.” Ucap Jessica tersenyum simpul.

“Pengganti? Tidak akan ada yang bisa menggantikan yeoja sempurna sepertinya tahu. Wajah cantik, tubuh proporsional, kulit putih, rambut indah, kaya raya, kemampuan berorganisasinya bagus, dan prestasi akademiknya menonjol. Tidak akan ada lagi yang seperti dia.” Komentarku yang langsung mendapatkan balasan pukulan dari Jessica.

“Tapi pada kenyataannya dia bunuh diri karena dicampakkan namja brengsek sepertimu, Byun Baekhyun.” Ucapnya sinis. Aku hanya mendelik sebal.

“Silakan masuk, Yoon Bora.” Bom seongsaenim mempersilakan murid baru itu masuk. Aku langsung membuka mataku lebar-lebar saat melihatnya.

Rambut ikal hitam panjang, wajah imut dan cantik, tubuh yang bisa dibilang sangat seksi, kaki panjang yang jenjang dan kulit hitam eksotisnya ala penduduk daerah tropis itu langsung membuatku tidak bisa berkedip. Aku menelan ludah.

Chonun Yoon Bora ibnida. Bangapta.” Ucapnya datar. Sayang sekali dia tidak tersenyum. Pasti kalau dia tersenyum kadar kesempurnaannya bertambah.

Namja-namja sekelas langsung riuh setelah perkenalan singkatnya tadi. Sedangkan yeoja-nya langsung memasang tampang tidak suka ke arah barbie berjalan itu. Termasuk yeoja pabo disebelahku ini.

“Berhentilah menatapnya dengan wajah pervert seperti itu, Baekhyun-ah. Seolah-olah kau akan memakannya.” Ucapnya ketus tanpa menoleh ke arahku. “Entahlah, aku langsung tidak menyukainya.”

Mwo? Kau tidak menyukainya? Kau gila, Jess? Dia sempurna! Kurasa aku harus menjilat ludahku sendiri.” Balasku terkekeh. “Aku harus mendekatinya.”

“Tidak, Baekhyun. Jangan dekat-dekat dengannya. Aku merasakan sesuatu yang buruk dari dirinya.” Bantah Jessica serius. Aku menyerngitkan dahi.

“Sesuatu yang buruk? Kurasa kau sama seperti yeoja lain di kelas ini, Jessica Jung. Kau tahu? Penyakit iri…” Tuturku pelan, takut menyinggungnya.

“Kau bilang apa, Baekhyun? Aku iri?” Kurasa aku sudah membuatnya marah. “Dan kau bilang aku sama dengan yeoja lain? Kau salah, Baekhyun. Aku berbeda. Dan kau akan mengetahuinya nanti, kenapa aku berbeda.” Serunya ketus dan beranjak meninggalkan bangku saat Bom seongsaenim meminta kami pindah ke laboratorium biologi di lantai 3.

Sial, kurasa Jessica marah besar kepadaku.

pearlshafirablue®

            Jam sudah menunjukan waktunya pulang. Seharian ini Jessica jutek sekali padaku. Biarkan sajalah, toh paling kalau nanti ada ulangan matematika dia sendiri yang datang ke rumahku minta diajarkan.

Sekarang aku sedang berada di koridor lantai 2 setelah dipanggil Kang seongsaenim untuk mengumpul tugas bahasa Jepang. Kurasa Jessica sudah pulang daritadi.

Aku mendengar derap kaki orang lain di koridor ini. Bisa kulihat bayangan seseorang terpantul dari kaca ruang janitory di tikungan menuju tangga. Yoon Bora.

“Hei, mau kubantu?” Aku mendekatinya sambil tersenyum hangat. Dia membawa setumpuk buku di tangannya dan bisa kulihat dia cukup kerepotan. Pelan-pelan dulu Byun Baekhyun

“Tidak.” Balasnya singkat sambil berjalan melewatiku. Sial, yeoja itu sedingin kulkas!

Ya! Ayolah, aku tidak berniat jahat kok. Aku Byun Baekhyun, yang duduk dua meja di depanmu di kelas. Kau ingat?” Tanyaku berharap dia sedikit punya bayangan akan diriku.

“Byun… siapa? Baekhyun?” Tanyanya sambil tetap memasang muka datarnya. “Aniya. Aku tidak mengenalmu dan tidak berharap untuk mengenalmu.”

Jleb. Ini namanya penghinaan!

“Ah, gwaenchana. Kau kan juga baru masuk hari ini mungkin memang belum hapal benar murid sekelas.” Tuturku menahan malu. Ada yang tidak kenal Byun Baekhyun? Oh my God. “Jadi, berikan setengah buku itu. Biar kubantu kau.”

“Tidak. Menjauhlah dariku.” Tembaknya sambil mempercepat langkahnya. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dan akhirnya ditelan tikungan. Kurasa sebentar lagi reputasiku menurun drastis.

pearlshafirablue®

            “Jadi…” Jessica langsung membuka pembicaraan saat aku sampai di Swarovzky Café, tempat biasanya kami janjian. “Kau sudah mendekati yeoja-sempurna-yang-seksi-tapi-berhati-batu itu?”

Aku hanya mendengus tanda tak yakin. Aku tidak menyangka setelah kejadian hari ini Jessica masih mau bertemu denganku dalam waktu dekat. Kupikir dia bakalan memusuhiku sampai minggu depan. Sudah kuduga tidak ada yang tahan berjauh-jauh dengan Baekhyun. Ya, kecuali yeoja es itu.

“Sudah kubilang kan dia tidak menyukaimu dan aku tidak menyukainya. Jauhi saja dia, seperti katanya.” Ujar Jessica sembari membalik-balik halaman majalah Vogue Girl di tangannya.

“Satu hal yang kau lupa adalah aku menyukainya. Jadi kurasa tidak semudah itu.” Balasku retoris. Jessica membulatkan matanya.

“Kau menyukainya? Menyukainya dalam arti sesungguhnya atau hanya sekedar menyukainya? Aku tidak salah dengar kan?” Reaksinya berlebihan. Seolah-olah aku tidak pernah menyukai seseorang saja.

“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi melihat sifatnya yang secuek patung dan sedingin es itu membuatku tertantang untuk semakin mendekatinya. Dan rasanya kesal sekali tahu dicuekin oleh yeoja.” Cibirku cemberut. Jessica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau dapat karmanya kan? Siapa suruh punya hobi seperti itu. Kurasa Tuhan mengirimkan Bora karena marah padamu yang sudah membuat Sulli mengakhiri hidupnya sia-sia.” Komentar Jessica tajam. Aku hanya memutar bola mataku sambil mengaduk-aduk secangkir latte di depanku.

Setengah jam kemudian, aku dan Jessica memutuskan untuk pulang. Aku memaksa Jessica untuk ikut di mobilku tapi ia bersikeras bahwa ia bisa pulang sendiri. Anak itu memang keras kepala. Ini sudah nyaris tengah malam dan yeoja—yang kuakui cukup cantik—sepertinya itu nekat pulang sendiri. Tapi kurasa melihat kekuatannya selama ini tidak akan ada yang berani mengusiknya.

Akupun menginjak pedal gas dan mobilku membelah jalanan Gyeongju dengan cepat. Aku masih memikirkan kejadian beberapa hari ini. Kematian Sulli, kedatangan Bora, kemarahan Jessica, aku merasa ada sesuatu yang berhubungan. Ada yang mengganjal di otakku—entah apa. And I think, I crush on Bora.

Aku baru saja akan menginjak gas saat lampu sudah berwarna hijau, tiba-tiba sebuah truk dari arah kanan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mobilku. Damn!

Aku membanting setir dan membiarkan mobilku bergerak abstrak.

BRRRAKK!!!

Aku langsung terjungkal ke depan. Kepalaku membentur kemudi dan bisa kurasakan cairan merah segar berkumpul di kepalaku.

Tidak, aku tidak tertabrak truk tadi karena aku berhasil menghindar dan berbelok ke arah sebaliknya. Tapi karena kehilangan kendali mobilku malah menabrak tiang listrik. Tapi lebih baik dibanding digilas truk sebesar itu. Yah, walaupun bemper mobilku rusak parah.

Hening. Persimpangan jalan Myunghee itu hening tanpa ada satupun kegiatan yang berlangsung. Dengan susah payah aku turun dari mobil menahan rasa penat di kepala. Darahku bercucuran membasahi bajuku.

JDEERR!!!

Terdengar petir menyambar dan beberapa detik kemudian hujan turun. Sial. Tampaknya hari ini aku benar-benar sial. Aku langsung mengambil ponselku yang kuletakkan di dashboard dan menelpon seseorang yang namanya langsung terlintas dibenakku.

Yeoboseyo?” Terdengar suara cemprengnya dari sebrang. Aku tersenyum. Bahagia karena pada kenyataannya aku masih bisa mendengar suaranya setelah menimpa kejadian ini. “Baekhyun-ah? Waeyo?

“Jess, jemput aku di perempatan jalan Myunghee. Kurasa… aku tidak dapat pulang sendiri.” Tuturku dengan suara serak. Sial, pandanganku mengabur.

“Mwoya? Semalam ini kau masih berani menyuruh seorang yeoja keluar rumah?” Suara cemprengnya terdengar keras menusuk gendang telingaku. Aku menjauhkan ponselku beberapa senti.

“Datang saja. Kurasa kau akan menjilat kata-katamu tadi setelah kau lihat apa yang terjadi sekarang.” Seruku keras karena suaraku ditelan derasnya hujan. Aku mematikan telepon. Kurasa mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Perlahan-lahan kelopakku menutup. Dan aku menangkap bayangan seseorang beberapa detik sebelum mataku tertutup.

Jessica?

pearlshafirablue®

            Aku membuka mataku perlahan. Bisa kulihat warna putih mendominasi. Aku bangun dari tidurku. Dimana ini? Ah iya, di rumah sakit pasti.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan ketika penglihatanku sudah jernih sepenuhnya, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Tidak. Ini bukan rumah sakit.

Seluruh dinding di sekelilingku saat ini adalah dinding kayu yang tidak di cat dan sudah banyak kerusakan dimana-mana. Benar-benar tidak melambangkan ruangan rumah sakit. Hanya atapnya saja yang berwarna putih, jelas berlawanan dengan keadaan disekitarnya. Tidak mungkin Jessica menaruhku di rumah sakit seperti ini. Jadi ini dimana?

Pintu kayu di depan tempatku tidur sekarang berderit. Perlahan-lahan pintu itu terbuka. Tubuhku langsung kejang saat melihat siapa yang masuk.

Reflek aku langsung mundur ke belakang sampai mentok dengan dinding dan langsung menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Yeoja—yang seharusnya sudah menjadi mayat itu—menyeringai ke arahku dengan mata merah menyala dan sebuah pisau di genggamannya.

Itu Choi Sulli.

            Bukan, itu hantu Choi Sulli.

.to be continued.

16 thoughts on “Eternity (Chapter 2)

  1. Ahh mengerikan! Apa itu benar-benar Suli? Yang dilihat Baek sebelum dia pingsan itu siapa? Bukannya Baekhyun batu nelpon Sica ya untuk datang ke TKP, lalu siapa yang dilihat Baekhyun barusan?:/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s