Promises

promises

 

Park Chanyeol-Jessica Jung-Do Kyungsoo

Oneshoot||G||Romantic-Friendship-Angst((ga))

Typo mungkin sedikit tapi pemaksaan alur benar benar jelas. Mohon maaf yang sebesar besarnya. Saran dan kritik sangat dibutuhkan

***

Jari telunjuk tangan kananku, mengusap-usap bulu kucing kesayanganku, Yusi. Dia adalah kucing pemberian D.O, atau aku lebih senang memanggilnya

 

Kyungsoo, sahabat sekaligus seseorang yang ku taruh perhatian lebih diam-diam. Aku merasa sangat senang karena diulang tahunku yang kemarin, dia memberikanku seekor kucing anggora. Kami sepakat memberikannya nama Yusi, Kyungsoo-Sica.

“Yaa, coba kau tangkap ini. Eit, haha tidak dapat. Ergh, Ah! Kau berhasil mendapatkannya” aku sibuk bermain sebuntal benang wol dengan Yusi.

 

Kyungsoo yang sedari tadi duduk menonton tv mengalihkan pandangannya padaku, “Kau ini sedang bermain kucing saja sudah sama seperti menonton konser. Bahkan fanchant seorang fans kalah panjang dengan ocehanmu”

 

Aku langsung menatapnya tajam, “Kau sendiri, semua apapun yang kulakukan selalu kau komentari. Bahkan komentator sepak bola kalah detail denganmu”

 

“Ah jangan memberikan tatapan itu. Itu bukannya membuatku takut malah ingin tertawa, wajahmu sangat aneh jika seperti itu haha” bibirnya saat tertawa sangat khas.

 

Astaga. Seketika dilanda dilema, antara harus terpana akan wajah tampannya atau harus marah. Beginilah salahnya memiliki sahabat yang tampan.

 

Kalau aku diam dan memperhatikan wajahnya, yang ada malah dia merasa bingung dan menyangka aku terpesona. Ya-ya memang benar, tapi aku tidak mau mengakuinya!

 

Tetapi jika aku memarahinya, aku tidak ingin cepat-cepat melihat wajah tampannya tergantikan oleh ringisan karena wajahnya akan kupukul oleh bantal.

 

“Perempuan jadi-jadian? Kenapa kau melamun seperti itu?” dia menggerak-gerakan tangannya dihadapanku dan sukses membuatku tersadar dari lamunan. Kuraih bantal kursi dan kupukulkan berkali-kali hingga dia meringis kesakitan.

 

“Yaa—Jessica ampuni aku. Hey, hey. Ah!” teriakan terakhirnya lah yang membuatku menghentikan pukulan yang kuberikan.

 

Mataku terbelalak saat melihat hidungnya yang mengeluarkan darah yang cukup banyak hingga mengenai bantalnya. Ini pertama kalinya dia melihat Kyungsoo mimisan, “Astaga. Apa pukulanku terlalu keras? Maaf Kyungsoo-ah~”

 

“Ah tidak. Ini bukan salahmu, memang akhir akhir ini aku suka seperti ini” Telapak tangannya digunakan untuk menadahkan darah segar yang bercucuran dari hidungnya, sementara dia memintaku untuk mengambilkan es untuk membuat darahnya berhenti mengalir.

 

***

“Sooyeon sunbae, ada yang mencarimu” ucap salah seorang yeoja-dongsaeng-ku di club bahasa inggris ini. Siapa? Kyungsoo ada disini. Mungkin Tiffany.

 

Aku bangkit dari duduk dan berjalan kearah pintu. Kyungsoo sempat melirik kearahku, namun dia melanjutkan tugasnya untuk membantu beberapa dongsaeng yang baru masuk club ini. Tunggu, tetapi kalau Tiffany, bukankah dia hari ini tidak masuk sekolah?

 

Tidak. Tidak ada siapapun diluar. Tetapi, mana mungkin dia membohongiku? Ah sudahlah, mungkin orangnya sudah per—

 

“Jessica jung” suara berat seseorang yang hampir telah kulupakan hadir lagi. Aku membalikkan badanku, jangan bilang itu—Ah Park Chanyeol!

 

Dengan wajah bodohnya, dia merentangkan kedua tangannya, menandakan ia memintaku untuk masuk kedalam dekapan tubuhnya yang sangat tinggi. Tak menolak, segera kupeluk erat tubuh manusia tiang nan bodoh itu.

 

Chanyeol ini adalah sahabat kecilku, aku lebih dahulu mengenalnya daripada Kyungsoo. Ya, bisa dibilang juga dia cinta lamaku. Tapi ingat, hanyalah cinta l-a-m-a.

 

Saat kelulusan sekolah menengah pertama, dia harus pindah ke Australia karena pekerjaan ayahnya yand dipindah ke daerah tersebut. Membuatku harus terpisah oleh jarak dengannya.

 

Aku jadi ingat masa-masa saat aku menangisinya dan betapa berat untuk melepas kepergiannya. Kami berpelukan erat di bandara, wajah Chanyeol yang biasanya terlihat sangat bodoh karena cengirannya itu berubah menjadi wajah yang bijaksana dengan mata yang indah dan suara yang menenangkan.

 

“Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat semakin cantik!” pujinya yang terdengar sudah biasa namun tetap membuatku tersipu malu.

 

Kupukul bahunya pelan, “Haha, kau ini. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau terlihat semakin tinggi! Aku akan menggunakan high-heels jika bepergian denganmu” gurauku.

 

“Ah-jinjja? Seorang Jessica jung akan menggunakan high heels? Kalau begitu pulang sekolah ini kau akan kuajak pergi! Aku sangat ingin melihatmu menggunakan high-heels!”

 

Oh tidak. Sepertinya ucapanku salah, “Ah—Ti..”

 

“Aku tidak menerima penolakan! Cepat kau selesaikan tugas-tugasmu. Aku akan menunggu disini” dia mendorong tubuhku masuk kedalam ruangan.

 

 

“Bruk!” terdengar tumpukan buku jatuh. Aku menabrak orang yang tak lain adalah, Kyungsoo.

 

“Ya—Kyungsoo aku minta maaf. Anak bodoh ini yang mendorongku hingga membuatmu terjatuh” aku berlutut membantunya merapikan buku-buku yang berserakan jatuh.

 

“It’s okay Jess. Uhm, apa kau pulang sen—“ kalimatnya menggantung saat mata bulatnya melihat Chanyeol. Dia segera mengambil langkah pergi meninggalkan kami.

 

“What’s wrong with Kyungsoo?” kutanyakan kepada teman-teman di club bahasa inggris, namun semua menggeleng tidak tahu. Biarlah, mungkin dia merasa lelah dan butuh istirahat. Atau dia sedang tidak enak badan sehingga ingin pulang duluan, dan sendiri.

***

 

Seperti perjanjianku dan Chanyeol, pulang sekolah ini kami langsung pergi ke salah satu restoran yang dulu sering kami kunjungi untuk makan siang. Sekarang, Chanyeol sudah tidak sekolah karena saat di Australia dia mengikuti kelas akselerasi.

 

Sampai sekarang, Chanyeol yang dihadapanku masih seperti dia yang dulu. Teeth-rich yang memiliki senyuman yang membuatnya terlihat sangat bodoh. Sebenarnya wajahnya sangat tampan, tapi ya seperti yang kuulang-ulang sedari tadi. Tampan tetapi bodoh.

 

“Iya, haha. Makanya itu, waktu dia menjelaskan sebagian dari kami ada yang tertidur, bahkan ada yang keluar dari kelas dengan izin ke toilet. Mungkin dia merasa ‘percuma saja aku mengajar apabila yang mendengarkan tidak ada’, sehingga dia meninggalkan kelas” ceritaku.

 

“Kekompakkan kelas dalam berbohong itu memang sangat penting ya haha” dia selalu  menanggapi setiap aku memberikan jeda dalam ceritaku.

 

Aku hanya tertawa. Tiba-tiba dia bertanya, “Oh iya, yang tadi itu, temanmu?”

“Siapa? Kyungsoo?”

“Lelaki bermata bulat sepertiku itu. Siapa tadi namanya?”

“Do Kyungsoo. Memangnya kenapa?”

 

Chanyeol terdiam, terlihat menyembunyikan sesuatu. Namun dia mengatakan bahwa, ia tidak apa-apa.

***

 

Sudah dua malam ini Kyungsoo tidak datang ke apartemenku. Setiap kutanya disekolah, dia hanya menjawab ‘udara sedang dingin, jadi aku memutuskan untuk tetap dirumah’. Firasatku mengatakan dia berbohong, tapi aku tidak bisa menuduh semauku karena tidak ada alasan yang kuat.

 

Ting-tong, bunyi bel pintu masuk terdengar ditelingaku. Kubuka pintu, sosok Kyungsoo berdiri didepan pintu dengan dibalut jaket bulu berwarna cokelat. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Aku mempersilahkannya masuk.

 

Nuna” ucapannya membuatku dengan cepat menoleh kearahnya. Nuna, dia bilang? Sepertinya dia sedang ada masalah.

 

Karena biasanya dia memanggilku tanpa embel-embel apapun. Karena memang aku yang melarangnya. Sebenarnya dia teman sekelasku, tetapi umurnya dibawahku. Karena itu dia bisa memanggilku nuna.

 

“Kau kenapa Kyung? Ceritakan saja masalahmu” ini merupakan awal dari malam yang mungkin akan terasa sendu. Aku membawa setoples kue kering dan dua cangkir air, juga Yusi ke balkon kamarku. Tempat kami berkeluh kesah.

 

Jika ia sedang ada masalah, tidak mudah mengutarakan kalimat pembuka. Jangankan sedang bermasalah, jika dia tidak ada masalah sekalipun dia tidak banyak bicara, tetapi sekali membuka mulut kalimatnya dapat dirangkai menjadi sebuah prosa.

 

“Kalau kau bertemu seseorang yang pernah kau selamatkan, dan dia ternyata merupakan teman dekat orang yang kau sukai. Bagaimana rasanya?” dia memulainya tanpa memandangku, tetapi memandang bintang.

 

“Bagus dong. Aku bisa menambah teman dekat kalau begitu” responku sambil menatap matanya yang terlihat sangat jernih.

 

“Tapi orang yang kau selamatkan adalah seorang namja, dan dia dekat dengan seorang yeoja yang kau sukai. Dan sepertinya namja itu juga menyukai yeoja tersebut” dengan berani Kyungsoo mulai menatap mataku.

 

 

Aku memutar bola mataku jengah, “Come on dear. I’m not a lesbian”

 

Dia menghela nafas panjang sambil tertawa kecil, “Kau posisikan dirimu sebagai ‘aku’ bukan kau”

 

“Hmm” aku membenarkan posisi dudukku, menjadi melipat kedua kakiku, “Aku akan memposisikan aku sebagai seorang namja, tetapi dengan sifatku. Aku akan merasa cemburu dan berusaha merebut yeoja itu”

 

“Lalu kau biarkan namja itu bersedih? Pria yang tega”

 

“Ayolah, biasanya pria itu tidak perduli dengan perasaan lawannya jika dalam masalah perempuan”

 

“Kalau begitu aku berbeda” dia melirik jam tangannya, “Ah sudah hampir jam 11, aku akan pulang ke rumah, sampai jumpa nuna!”

 

Dengan cepat dia memakai jaketnya dan keluar dari apartementku. Tak lama kemudian, sosok Chanyeol muncul dibalik pintu sambil menyeringai. Aku tertawa kecil melihat tingkah anak itu.

***

 

“Aku baru tahu kau memiliki kucing” Tangan Chanyeol mengelus-elus bulu Yusi dengan lembut.

 

“Kyungsoo yang memberikannya padaku saat aku berulang tahun kemarin. Namanya Yusi, Kyungsoo-Sica. Lucu kan?” balasku yang mengambil tempat duduk di dekatnya.

 

 

Lagi-lagi dia terdiam, lalu tersenyum kecut. “Ya, nama yang bagus. Bagaimana penyakit Kyungsoo?”

 

Aku yang sedang meneguk air langsung tersedak, “Pe-penyakit? Penyakit apa?”

 

Chanyeol menggigit bibir atasnya, “Ah, tidak tidak. Aku kira, ngg, Aku kira dia sakit karena dia terlihat pucat tadi”

 

Merasa sedikit bingung, aku mengerutkan dahiku. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Chanyeol dan Kyungsoo.

 

“Apa kau mengenal Kyungsoo?”

 

“Tentu saja”

 

“Apa?”

 

“Maksud ku, tentu saja karena kau kan sempat mengenalkannya”

 

“Bukan itu, sebelumnya apakah kalian sudah saling kenal?”

 

“Tidak”

 

“Benarkah?”

 

“Benar, Jessica”

 

Chanyeol segera bangkit dan meraih tubuhku, “Sekarang, kau tidur. Besok kau harus pergi kesekolah. Aku akan tidur disini”

 

“Disini? Di sofa ini?”

 

“Iya. Kau mau aku tidur dikamarmu denganmu? Jangan salahkanku kalau nanti pagi kau bangun dalam—“

 

“Ya-ya aku tidak ingin mendengar lanjutannya Park Chanyeol! Selamat tidur!”

***

 

Beberapa pekan terakhir ini, Kyungsoo terkadang tidak masuk sekolah. Bahkan jika masuk sekolah, dia sering masuk uks karena keadaannya yang tidak baik.

 

Hari ini dia memintaku untuk mengizinkannya menginap di apartementku, dia bilang dia sudah izin kepada ibunya. Meskipun sudah 2 tahun menjadi sahabatnya, aku tidak pernah tahu seluk beluk keluarganya. Karena, setiap aku berkunjung ke rumahnya, dia hanya sendiri.

 

Oh iya, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang menarik! Pertama, karena Kyungsoo akan menginap disini. Dan yang kedua, Chanyeol akan menceritakan rahasianya!

 

Aku benar-benar tidak sabar untuk mendengarnya. Apalagi, saat itu aku bisa mengenalkan Chanyeol dengan Kyungsoo.

 

“Jessica, kita ke teras yuk!” sambil menggendong Yusi, dia berjalan kearah teras kamarku. Aku mengikuti langkahnya.

***

 

“Langitnya gelap. Apakah ini pertanda buruk?” terka-ku cemas sembari memandang langit.

 

Kyungsoo menyunggingkan bibirnya sekilas, “Bisa jadi..”

 

“Ah! Tidak, tidak mungkin! Malam ini pasti akan seru. Karena, kau dan Chanyeol akan berkenalan untuk pertama kalinya!” ucapku sangat bersemangat.

 

Entah kenapa dia tidak merespon ucapanku sama sekali. Mungkin karena kondisinya yang memang sedang tidak baik dan memang wajahnya terlihat sangat pucat, “Kyungsoo-ya gwanechanha?”

 

Dia menoleh kepadaku dan mengengguk lemah, “Gwaenchanha sic, bolehkah aku meminta satu hal?”

 

Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk, “Apa itu?”

 

Tangannya terarah ke langit, mengaduk tata rias langit yang langsung menjadi gelap, “Jangan menjadi seperti kondisi langit yang seperti ini”

 

“Maksudmu?”

 

“Tetaplah menjadi langit yang cerah. Meskipun bintang yang selalu kau harapkan itu jauh diatas sana dan tidak menemanimu untuk menatap bumi. Meskipun orang yang berharga untukmu itu pergi jauh, pergi jauh bersama bintang”

 

Aku hanya terdiam. Baru kali ini aku mendengarnya sebijak ini, sebenarnya ada angin apa? Tiba-tiba ponselku berdering, pesan Chanyeol akan sampai dalam 5 menit.

 

“Jika kau merindukanku, tataplah langit dengan mata cokelatmu itu, karena aku—“

 

“Tunggu. Memangnya kau ingin kemana?”

 

Lagi-lagi jari telunjuknya menunjuk satu titik diatas sana, bulan, “aku akan kesana, duduk di lengkungan bulan sabit sambil menatapmu dari jauh. Mencarimu dilautan yang penuh manusia. Tapi aku yakin, aku pasti menemukanmu. Karena sungguh, hanya tatapan matamu yang kuingat”

 

Seketika firasatku menjadi buruk, aku segera meraih tubuh Kyungsoo dan memeluknya erat. Ia membalasnya dengan sangat hangat. Dia tampak menggenggam sesuatu, apa itu?

 

“Kyungsoo apa yang ada di genggaman—“

 

Ting tong. Bel pintu apartementku berbunyi.

 

“Itu Chanyeol, lebih baik kau membukan pintu untuknya. Sampai jumpa, Sic”

 

Aku buru-buru membukakan pintu untuk Chanyeol, “Hai Yeol, kebetulan ada Kyungsoo! Ayo masuk!”

 

“Baiklah, kebetulan rahasia ini juga bersangkutan dengan Kyungsoo”

 

Chanyeol kusuruh untuk ke teras sementara aku menyiapkan minum untuk kami bertiga. Tidak, sampai Chanyeol berteriak, “Jess cepat kemari!”

 

“Kyungsoo!”

***

 

Kami segera membawa Kyungsoo kerumah sakit. Namun sayang, semua terlambat. Obat itu terlalu cepat meracuni tubuhnya yang memang benar benar lemah. Jantungnya yang memang lemah. Ini terlalu cepat

 

Dan cerita Chanyeol, tentang Kyungsoo. Kyungsoo pernah menyelamatkannya dari kecelakaan maut. Aku sendiri sampai meringis mendengar runtutan ceritanya. Kalau aku tidak mendesaknya untuk bercerita, dia pasti akan membungkam rahasia ini karena Kyungsoo sudah pergi jauh, melesat ke angkasa bersama bintang.

 

Kyungsoo mendonorkan ginjalnya untuk Chanyeol. Karena dia tahu, hidupnya tidak sepanjang anak-anak sebayannya saat itu.

 

Sebenarnya aku tahu bahwa Chanyeol melakukan operasi ginjal saat itu. Tetapi, aku tidak tahu bahwa Kyungsoo-lah yang mendonorkannya.

 

Sekarang, aku ada dirumah, pesta ulang tahunku yang ke 18 akan dimulai tepat pukul 7 malam. Aku menatap langit lewat teras kamar, mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

 

Tetapi seperti yang kau katakan saat itu, memintaku untuk tetap kuat meskipun kau tidak ada disampingku. Aku menepatinya, tapi maaf ada satu hal yang kulanggar.

 

 

Aku tidak bersinar sendiri, bukannya aku jauh dari bintang, tapi ada bintang baru yang kembali menyinari bumi bersamaku.

 

“Jess acaranya akan dimulai, come on dear” Chanyeol. Ya, pria tinggi dengan suara berat itu yang menjadi kekasihku. Kau melihatnya kan diatas sana, di lengkungan bulan sabit. Aku tersenyum disini.

 

 ***

31 thoughts on “Promises

  1. Ceritanya sedih.
    Kyungsoo ada penyaki parah.
    Kerana itu mendermakan ginjal untuk chanyeol.
    Sebenarnya kyungsoo cinta sama jessica.
    Bagus banget.
    Ceritanya keren.
    Akhirnya jessica sama dengan chanyeol.

  2. Oh my god uri kyungsoo oppa!
    Ff nya sukses bikin aku nangis banget apalagi pas bang kyungsoo ngomongin tentang bintang itu..
    Jebal, bikin ff kaya gini lagi yah hehe gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s