Only Because It’s You – Chapter 1

obiy sica

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Notes: hehe maaf nambah ff saat ff lain pun belum selesai. Ada penjelasannya kok di akhir cerita ^^v karena beberapa alasan, anggap aja jessica seumuran sama sehun .-.

Credit: CHOKYULATE

=== Only Because It’s You ===

Pertama kali Sooyeon bertemu dengannya di sore hari yang dihiasi hujan salju tahun lalu. Mereka terjebak di halte karena bus-bus berhenti beroperasi selama hujan salju. Dia terlihat sangat menyedihkan hanya karena hubungan cintanya kandas. Dalam hati, Sooyeon meremehkannya. Sooyeon memang tidak menyukai hal yang rumit. Dan baginya cinta adalah hal yang rumit dan hanya mendatangkan kepedihan. Itu sebabnya Sooyeon terbiasa meremehkan orang lain yang terlibat dengan cinta.

Suatu hari, laki-laki itu pindah ke sekolah Sooyeon dan sekelas dengannya. Terlebih, mereka duduk bersebelahan. Sooyeon tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelah kejadian itu. Yang pasti, mereka menjadi sahabat dekat. Tidak pernah Sooyeon kira ia akan terjebak dalam hal yang ia benci. Cinta. Ya, setelah teman-temannya berusaha keras untuk menyadarkannya akan perasaannya sendiri, Sooyeon pun yakin dengan perasaan. Hal yang dulu dia hina, kini dia puja.

Menyedihkankah dirinya?

Ya, Jung Sooyeon menyedihkan karena dia menyukai seorang Oh Sehun. Jung Sooyeon menyedihkan karena dia mencintai sahabatnya sendiri.

***

Yah, Oh Sehun~”

Sooyeon berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan pria tinggi berwajah manis itu. Akan tetapi, sahabatnya tidak juga mau memperlambat langkahnya, membuat Sooyeon menggerutu sebal.

Hari ini adalah hari kelulusan mereka. Dikalungi medali dan diberi sertifikat, pasti bangga rasanya. Seragam kuning itu siap untuk disimpan di lemari sebagai kenang-kenangan. Para adik kelas mengucapkan perpisahan kepadanya dan para senior di bangku kuliah memberikan salam sambutan. Apa yang lebih indah dari ini semua setelah 3 tahun berada di bangku SMA?

“Oh Sehun, berhenti atau aku tidak akan mau memasak untukmu lagi!” ancam Sooyeon.

Seketika sepasang kaki panjang itu berhenti. Sooyeon tersenyum lebar lalu berhenti di samping Sehun. Setelah menggenggam tangan pemuda itu, dia kembali berjalan riang. Hari ini adalah hari yang penting. Hari yang menyenangkan. Hari yang akan menjadi sejarah bagi pendidikannya dan juga kehidupan cintanya.

Dia berjanji akan menyatakan cinta kepada Oh Sehun hari ini juga.

***

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Mencari pekerjaan?” tanya Sehun saat mereka keluar dari aula setelah acara selesai.

Sooyeon menengadahkan kepalanya karena Sehun lebih tinggi 15 sentimeter darinya. Setelah menatap wajah tampan itu sejenak, dia mengangkat bahunya. Bangku kuliah terlalu mewah baginya yang miskin. Selama ini saja, dia sekolah dengan beasiswa. Berbeda dengan Sehun yang dari keluarga terkemuka. Sekejap, dia tersadar, dirinya dan Sehun sangatlah berbeda. Dimana otaknya jika dia tetap akan menyatakan cinta kepada seorang Oh Sehun?

“Bagaimana jika keluargaku memberikanmu beasiswa, asal…” Sehun menggantungkan kalimatnya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Sooyeon.

Sooyeon menekan dadanya. Kedekatan mereka membuat jantungnya berdetak terlalu kencang, seakan jantungnya akan melompat keluar jika tidak ia tahan dengan tangan.

“… Jung Sooyeon menjadi kekasih Oh Sehun?”

Sooyeon seperti disambar petir di siang hari yang terik. Jantung yang tadinya mendesak untuk melompat keluar, kini terdiam tak berkutik. Matanya menangkap sosok malaikat-malaikat kecil yang sedang menari mengelilinginya. Apa dia ada di surga sekarang?

Sehun kebingungan melihat wajah shock sahabatnya. Dia mengguncang tubuh mungil itu, berharap Sooyeon segera sadar. Ketika kedua bola mata coklat yang bening itu menatap matanya, Sehun tersenyum geli.

“Aku hanya becanda. Kenapa kau sangat terkejut seperti itu?” tanya Sehun sambil menahan tawanya.

Seperti ada batu besar menimpa Sooyeon berbarengan dengan beribu jarum menusuk jantungnya. Rasa sesal dan sesak memenuhi setiap ruangan di hati. Bagaimana bisa Sehun menjadikan hal sesensitif itu sebagai bahan candaan?

Sehun menangkup pipi Sooyeon. Matanya memancarkan kekhawatiran dan ketakutan setelah melihat betapa kecewanya Sooyeon.

“Sooyeon-ah, kau tidak mencintaiku lebih dari sahabat, ‘kan?” tanya Sehun pelan.

Sooyeon terlihat kesulitan untuk menjawab. Gadis itu membuang muka karena tidak berhasil mendapatkan kata-kata yang tepat. Dia terlalu takut dengan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi jika ia membenarkannya.

“Jung Sooyeon, tidak seharusnya kau mencintaiku seperti itu. Kau tidak boleh mencintaiku untuk saat ini. Aku hanya akan menyakitimu.”

Sooyeon terbelalak mendengarnya. Hatinya mencelos. Rasanya sakit sekali mendengar Sehun melarangnya untuk mencintai sahabatnya sendiri.

“Kau adalah sahabatku. Kau tidak mungkin menyakitiku,” elak Sooyeon.

“Kau tidak tahu aku.”

“Aku sahabatmu! Aku tahu siapa Oh Sehun! Jangan berbicara seperti itu!”

Sooyeon menepis tangan yang menyentuh pipinya. Penglihatannya mulai kabur karena air mata siap untuk mengalir di wajah manisnya. Sehun mencoba untuk menggenggam tangannya namun dengan cepat ia menyentaknya.

“Sooyeon—“

“S-sampai jumpa,” pamit Sooyeon segera lalu berlari meninggalkan Sehun.

Sooyeon terus berlari. Dia benci harus mengalami hal ini. Harusnya dia ingat apa alasannya membenci cinta. Cinta hanya akan memberikan kepedihan. Orangtuanya adalah contoh dari dampaknya mencinta. Mereka saling menyakiti dan akhirnya berpisah. Kini dirinya adalah menjadi contoh lainnya. Dan kenapa dia bisa melupakannya saat Oh Sehun memasuki kehidupannya?

Matanya terbelalak ketika seseorang menariknya sambil membungkam mulutnya dengan saputangan yang memiliki bau yang aneh. Bau itu yang membuatnya perlahan kehilangan kesadaran. Di sisa-sisa kesadarannya, dia melihat Sehun sedang mencoba melepaskan dirinya dari para penculik itu. Dia berharap Sehun berhasil.

***

Sehun membungkuk sambil mengatur deru napasnya yang memburu saat dia sampai di depan rumah yang ditempati oleh Sooyeon dan ayahnya. Dia berlari sekuat tenaga dari tempat Sooyeon diculik ke rumah ini setelah mendengar kata-kata salah satu dari penculik itu.

“Jangan ikut campur, Nak. Ini hanya akan melukaimu. Gadis itu sudah dijual oleh ayahnya sehingga dia menjadi milik majikanku sekarang. Percuma jika kau mencoba menolongnya. Kau hanya akan mendapatkan bahaya.”

Sehun menggertakkan giginya kuat. Rasa lelah hilang begitu saja ketika mengingat kata-kata itu. Dia mengedor pintu itu dengan sekuat tenaga. Saat sosok yang dicari lah yang membukakan pintu, tinjuannya mengenai wajah pria tua itu dengan sangat keras. Sehun menggenggam kerah tuan Jung dan meninju wajahnya berkali-kali. Pria tua itu tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk melawan. Jika tidak ada orang yang melihatnya dan mencoba untuk melerai, mungkin tuan Jung sudah mati di tangannya.

“Bajingan! Bagaimana bisa kau menjual anakmu sendiri?” teriak Sehun sambil berusaha melepaskan tangan-tangan yang menahannya.

Wajah penuh luka di depannya pun belum cukup untuk memuaskan emosinya. Ketika dia berhasil lepas, dia melayang satu tinjuan keras sebelum kembali ditahan.

“Ayah macam apa yang menjual anaknya sendiri? Kau monster!” teriak Sehun sekuat tenaga.

***

Sooyeon berjalan menyusuri lorong yang gelap. Tiba-tiba secercah cahaya terlihat di depannya. Semakin lama, semakin terang.

“Hah?”

Gadis terkejut menyadari dirinya berada di sebuah ruangan. Ternyata perjalanan panjang di tempat gelap tadi hanyalah mimpi. Saat ia ingat apa yang terjadi sebelum dia pingsan, dia lebih memilih tetap tersesat di terowongan gelap itu. Dia kecewa karena Sehun gagal menyelamatkannya.

“Kau sudah bangun?”

Sooyeon menoleh kaget ke arah suara yang lembut itu. Seorang pria tampan dengan pakaian casual namun elegan menghampirinya dan duduk di pinggir kasur. Mata pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit ia mengerti. Tanpa sadar, dia ikut menarik napas saat pria itu menarik napas.

“Jung Sooyeon—“

Ne?” Sooyeon menyelanya.

Pria itu tersenyum tipis. “Kau tahu siapa aku?”

Sooyeon menggeleng.

“Aku adalah pemilikmu sekarang.”

Hah? Apa-apaan? Apa orang ini gila? Apa aku terdampar di dunia lain? Apa para penculik itu adalah alien?, batin Sooyeon.

“Ayahmu menjualmu kepadaku untuk membayar segala hutangnya.”

Sooyeon mengerjap. Dia bahkan tidak bisa berpikir.

“Kini kau menjadi budak pribadiku. Milikku. Kau mengerti?”

Sooyeon masih mengerjap.

“Ku anggap aksi diammu sebagai ‘ya’. Untuk resminya, aku akan memperlihatkan surat perjanjian resmi antara aku dan ayahmu yang diurus oleh pengacaraku sendiri,” katanya.

“A-apa?” akhirnya Sooyeon berhasil mengeluarkan suaranya. “Kau tidak gila, ‘kan, Tuan? Di zaman sekarang, jual-beli manusia dianggap tidak sesuai dengan hukum HAM dan akan diberi hukuman penjara. Belum lagi dendanya. Jangan lupa ada begitu banyak lembaga kemanusiaan yang ikut menuntut anda. Nama baik anda akan rusak dalam sesaat. Apa anda sudah memikirkan semua akibatnya?”

Pria di depannya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tergelak puas seakan kata-kata Sooyeon adalah sebuah lawakan paling lucu yang pernah ia dengar. Saat itu juga, Sooyeon yakin pria itu memang sudah gila.

Akhirnya pria itu berhasil mengontrol dirinya. Dia mengusap air matanya yang keluar akibat tawanya yang berlebihan. Kini dia memasang ekspresi seakan sedetik yang lalu bukan dirinya yang tertawa seperti orang gila.

“Kau mengancamku, Agassi?” tanya pria itu menantang.

Sooyeon menggeleng cepat. “Aku hanya menjelaskan setiap akibat yang kau lakukan. Setiap pelanggaran pasti mempunyai sanksi karena ada hukum yang berlaku. Aku tidak mau kau menyesal pada akhirnya. Bukankah aku baik?”

Pria itu tersenyum tipis. “Kau memang jenius, Jung Sooyeon. Akan tetapi, kau tidak cerdas.”

Sooyeon mengernyit bingung. Dia tahu apa perbedaannya pintar dengan cerdas, tapi jenius dengan cerdas? Apa bedanya?

“Tenang saja. Tidak akan ada hukum HAM yang dapat menjeratku.”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

“Karena hukum bukanlah tentang kebenaran yang harus ditaati. Namun hukum adalah hal yang harus digunakan dengan baik.”

Pria itu memberikan kertas fotokopi perjanjian resmi kepada Sooyeon lalu meninggalkan ruangan itu. Mendengar suara ‘cklek’ dari pintu, gadis itu tahu dirinya dikunci dari luar. Jendela tertutup rapat dan tidak ada jalan keluar lainnya, pria itu benar-benar was-was akan dirinya. Sooyeon menghela napas lalu membaca isi kertas itu. Matanya membulat ketika melihat salah satu paragraf.

Jung Sooyeon selaku anak dari orang pertama bersiap untuk melakukan seperti perintah dari orang kedua. Jika Jung Sooyeon menolak, orang kedua diperbolehkan untuk memberikan sanksi.

“Apa-apaan ini?!”

***

Sehun duduk dengan kaki bersila di atas sofa. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak tahu Sooyeon dimana. Dia tidak tahu harus mencari Sooyeon kemana. Dia benci saat dirinya tidak bisa menyelamatkan sahabatnya sendiri.

Dia tidak bisa melihat ke sekitar. Terlalu banyak kenangan bersama Sooyeon di rumahnya. Sejak ia dekat dengan Sooyeon dan tahu apa yang terjadi, dia menawarkan gadis itu untuk bekerja di rumahnya. Mereka hampir tidak terpisahkan. Saat tiba-tiba dipisahkan dengan kejadian siang ini, hatinya benar-benar sakit.

“Sehun-ah, kenapa eomma tidak lihat Sooyeon hari ini, ya? Apa dia tidak bekerja hari ini? Sakit?” tanya ibunya.

Sehun menoleh kaget. Dia baru sadar bahwa ibunya sudah duduk di sampingnya entah sejak kapan. Dia menghela napas panjang.

“Dia berhenti bekerja,” jawab Sehun lemas.

Nyonya Oh bingung mendengarnya. “Kenapa? Apa kau membuatnya marah besar?”

Sehun menggeleng pelan. Dia memejamkan mata erat.

“Lalu?”

“Dia dijual oleh ayahnya. Dia tidak akan kembali ke sini.”

***

Selama 2 jam, dia menangis memikirkan betapa kejam ayahnya. Ayahnya memang bukan tipe ayah yang baik. Dia tidak mempunyai pekerjaan yang tetap dan suka berjudi. Tapi tidak sekalipun, ayahnya membawanya ke dalam masalahnya. Walaupun mereka tidak di satu rumah, mereka mempunyai dunia yang berbeda. Sejak ibunya pergi meninggalkan mereka, mereka mengurus urusan masing-masing. Itu sebabnya Sooyeon bekerja di rumah Sehun, dia membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Matanya menatap ke sekitar. Kamar itu berwarna ungu dan ungu muda, warna kesukaannya. Apa yang ada di kamar itu persis dengan apa yang ia impikan sejak kecil. Tidak lupa rak buku dan sofa kecil di sudut ruangan yang menjadi titik favoritnya detik ini juga. Entah dia harus menangisi dirinya atau malah bersyukur. Akan tetapi, bukankah pria itu mengatakan dirinya adalah seorang budak? Pantaskah seorang budak mendapatkan fasilitas sebaik ini?

Sooyeon menarik selimut hingga menutupi wajah ketika mendengar suara kunci pintu kamarnya terbuka. Dia tidak mau bertemu dengan pria itu lagi maupun orang asing lainnya. Dia merasa takut yang teramat setelah membaca isi perjanjian. Dia takut pria itu akan meminta yang aneh-aneh darinya.

“Aku tahu kau tidak tidur. Aku datang untuk membawakanmu makanan.”

Sooyeon mengumpat dalam hati. Dia tidak menyangka pria bersuara lembut yang melelehkan itu tahu bahwa dirinya hanya pura-pura. Dia menurunkan selimutnya sampai di bawah mata saja. Kini pria itu tidak sendiri. Dia bersama seorang wanita yang membawakan nampan berisi makanan. Seperti wanita itu adalah pembantu di rumah ini.

“Nona ingin aku letakkan makanan ini dimana? Atau Nona ingin makan di bawah?” tanya pembantu.

Pria itu mendelik tajam seakan pembantu itu sudah mengatakan hal yang fatal. Pembantu itu menundukkan kepalanya seraya meminta maaf berulang kali.

“Kau tidak diperbolehkan keluar dari kamar untuk beberapa hari ini. Makanannya diletakkan di meja ini saja,” kata pria itu sambil mengambil nampan itu dan meletakkannya di meja night-stand.

Pembantu itu pun membungkukkan badan dan pamit keluar sedangkan pria itu tetap berdiri di tempatnya. Sooyeon tidak berani balas menatap.

“Kau harus makan, Jung Sooyeon,” perintahnya.

Sooyeon menggeleng. “Aku tidak mau.”

“Itu perintah dariku. Jika kau menolak, aku akan memberikanmu hukuman.”

“Memang hukuman apa yang akan kau berikan kepadaku? Hukuman mati saja sekalian!”

Pria itu menatap Sooyeon tajam. 2 detik kemudian, dia menghantam bibirnya pada bibir Sooyeon. Gadis itu berusaha melepaskan diri tapi kekuatannya tidak seimbang.

“Itu hukuman dariku. Dan akan semakin buruk jika kau kembali membangkang,” tegasnya. “Makan sekarang atau—“

Sooyeon segera bangkit, mengambil nampan berisi makanan dan meletakkannya di atas paha. Keraguan kembali membayanginya.

“Tidak ada racun atau apapun di makanan itu. Yang memasaknya adalah seorang koki ahli, jadi rasanya pasti enak,” ujar pria itu.

Sooyeon memejamkan matanya kesal. Dia hanya ingin pria itu pergi dari kamar ini dan membiarkannya makan dengan tenang.

“Aku akan tetap di sini sampai kau selesai makan,” tambah pria itu.

Sooyeon menoleh kaget. Pria itu seakan selalu tahu apa yang ada di pikirannya. Dia pun mulai memakan setiap hidangan. Pria itu tidak bohong. Rasanya benar-benar nikmat dan begitu kaya. Walaupun teman-temannya selalu mengatakannya pintar masak, dia tidak akan bisa menandingin makanan ini.

“Namaku Kim Joonmyun,” ucap pria itu setelah Sooyeon selesai makan.

“Aku tidak bertanya namamu,” balas Sooyeon.

Joonmyun tertawa sambil mengambil nampan itu dan meletakkannya di meja kemudian duduk di samping Sooyeon.

“Lihat? Betapa mudahnya kita dekat. Bahkan kita sudah becanda sekarang,” komentarnya.

Sooyeon mendelik. Orang itu memang memiliki kelainan jiwa. Kata-kata sinisnya malah dianggap sebagai candaan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan orang yang bernama Kim Joonmyun ini.

Joonmyun menepuk kepala Sooyeon lembut. “Kau harus istirahat sekarang. Besok kita pergi belanja.”

“Belanja?”

“Ya, belanja. Kau tidak membawa pakaian ganti jadi kita harus membelinya.”

Tentu saja dia tidak membawa pakaian ganti. Mana ada sih orang yang sudah siap-siap membawa koper berisi pakaian karena dia akan diculik? Itu sih bukan penculikan namanya tapi kabur. Sooyeon menggerutu dalam hati.

***

Untuk pertama kalinya ia keluar dari kamar, Sooyeon terpukau melihat isi rumah itu. Dia terbiasa tinggal di rumah susun yang kumuh. Tapi rumah ini bersih seakan tiada debu yang berani memasuki rumah ini. Rumah ini juga luas.

“Ini apartemen bukan rumah,” ujar Joonmyun.

Kim Joonmyun selalu berhasil menebak pikirannya. Sooyeon mendesah. Ini pertama kalinya ia melihat isi apartemen. Tentu saja ia tidak tahu.

“Dimana anggota keluargamu yang lain?” tanya Sooyeon.

Joonmyun menoleh dan menyeringai. “Kau mau tahu?”

Sooyeon mengibas tangannya dan bertingkah seakan dia tidak lagi tertarik.

“Ibuku mengurus perusahaan di Amerika. Kakak angkatku tinggal di rumah keluarga bersama beberapa sahabatku. Aku tinggal sendiri di sini,” jelas Joonmyun seraya membukakan pintu untuk Sooyeon.

Sooyeon menatap Joonmyun bingung. Mana ada majikan yang membukakan pintu untuk budaknya? Tapi dia segera menepis pikiran itu dan melangkah keluar.

“Kau mempunyai kakak angkat?” tanya Sooyeon penasaran.

Joonmyun mengangguk. “Ibuku mengangkatnya saat aku berumur 10 tahun. Kini dia menjadi pengacara terkemuka dan tidak berniat untuk mengurus usaha keluarga.”

Sooyeon mengangguk mengerti. Dia tidak mengatakan apapun lagi. Begitu pula Joonmyun.

***

Sooyeon melirik ke belakang sesekali, melihat betapa banyaknya tas belanja yang dibawa oleh sang supir. Itu semua adalah baju, sepatu dan lainnya yang menurut Joonmyun cocok dan ukurannya pas bagi Sooyeon. Dia bahkan tidak perlu meminta dan cukup menjadi anak baik. Dia tidak bisa berkata-kata melihat harga-harga yang tertera di barang-barang itu. Dia benar-benar tidak berani melihatnya.

“Kau tidak perlu membeli semua itu untukku,” gumam Sooyeon.

Joonmyun menoleh. “Wae?”

“Aku hanyalah budakmu, ‘kan?”

Joonmyun mendesis. Dia menggenggam tangan Sooyeon erat lalu masuk ke toko lainnya seakan semua barang itu belum cukup untuknya.

***

Jika bukan karena Sooyeon memohon untuk pulang, mungkin mereka masih menyusuri toko-toko di mall lainnya.

“Kau adalah gadis yang aneh,” desah Joonmyun ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

Sooyeon menoleh bingung.

“Sebelumnya tidak ada satu perempuan pun yang tidak antusias ku ajak belanja. Bahkan mereka sendiri yang memilih dan menarikku kemana-mana. Kau malah kebalikannya,” lanjutnya.

Sooyeon menatap keluar jendela. “Aku tidak terbiasa memakai uang untuk hal yang sia-sia.”

Joonmyun terkekeh pelan. “Kau lucu.”

Lucu? Lagi? Orang ini pasti pasien rumah sakit jiwa yang kabur, gerutu Sooyeon dalam hati.

***

Baru saja Sooyeon ingin sujud syukur karena orang gila itu tidak masuk ke kamar dan mengganggunya selama lebih dari 5 jam saat pintu kamarnya terbuka. 2 orang wanita berpakaian ala pelayan menghampirinya.

“Tuan muda menyuruh kami untuk memandikanmu, Nona,” kata wanita yang paling tinggi.

Sooyeon cemberut. “Aku bisa mandi sendiri.”

“Tapi tuan muda memerintahkan kami untuk memandikanmu,” tekan wanita lainnya.

Seketika tubuh Sooyeon merinding. Kata ‘perintah’ mengingatkannya dengan hukuman yang diberikan oleh Joonmyun kemarin. Pada akhirnya, dia mempasrahkan dirinya dimandikan oleh 2 wanita asing. Kenyatannya, tidak buruk juga jika dia mematuhi perintah Kim Joonmyun. 2 pelayan itu memanjakan tubuhnya dengan pijatan lembut yang menghilangkan stresnya selama beberapa hari ini.

Selesai dirinya dimandikan dan didandani, Sooyeon hampir tidak percaya bayangan dirinya lah yang ada di cermin. Dia tidak menyangka dirinya bisa secantik ini. Jika Sehun melihatnya seperti ini, apa Sehun akan memberikannya kesempatan?

“Sehun..”

Ya, Sehun. Apa pria itu sedang memikirkannya? Apa pria itu sedang mencari cara untuk menyelamatkannya dari tempat ini? Walaupun tempat ini layaknya surga, tapi bagi Sooyeon, tempat ini bukanlah apa-apa tanpa sahabatnya itu. Memikirkan pria itu, Sooyeon seperti ingin menangis.

“Nona, biarkan kami mengantarkanmu ke lobby. Tuan muda menunggumu di sana,” beritahu pelayan itu.

Sooyeon mengangguk. Dia sadar tidak ada cara untuk kabur. Percuma dia berharap kepada Sehun.

***

“Kau tidak mau tahu mau kemana kita pergi?” tanya Joonmyun.

Sooyeon menggeleng sambil memakai sabuk pengamannya. “Aku lebih penasaran kenapa kau lah yang mengemudikan sendiri mobilmu? Bukankah kau mempunyai supir?”

Joonmyun terkekeh. “Aku ingin kali ini kita hanya berdua.”

Sooyeon memutar matanya. Akan lebih baik jika ia tutup mulut karena dia sedang malas berbicara.

“Apa aku sudah bilang bahwa kau cantik malam ini?” tanya Joonmyun.

“Ya, kau sudah mengatakannya 2 kali. Saat pertama kita bertemu tadi dan saat kau membukakan pintu mobil untukku.”

Joonmyun tertawa pelan. “Kau benar-benar cantik.”

Sooyeon menghela napas panjang.

“Ayolah, berbicara sesuatu. Apa mulutmu tidak pegal karena tertutup terus?” celetuk Joonmyun.

“Apa mulutmu tidak pegal karena berbicara terus?” sahut Sooyeon.

“Aku hanya cerewet saat denganmu. Aku diam saat di kantor. Percaya lah.”

“Bagus. Kalau begitu, anggap saja kau sedang berada di kantor sekarang. Dan ingat, aku adalah budakmu. Jadi bersikaplah seperti majikan biasanya.”

Sooyeon menggenggam sabuk pengamannya kuat-kuat saat mobil itu tiba-tiba berbelok ke arah bahu jalan dan berhenti. Dia sudah siap mengomeli sang majikan namun bibirnya tertutup rapat saat melihat betapa dinginnya ekspresi wajah Joonmyun. Setelah beberapa detik saling diam, Joonmyun kembali menggas mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Sooyeon menekan dadanya karena hormon adrenalin bekerja akibat rasa takutnya terhadap wajah dingin Joonmyun.

Mobil itu sampai di sebuah halaman rumah yang mewah. Sooyeon hampir tidak percaya ada rumah yang memiliki halaman yang luas mengingat betapa mahalnya harga dan pajak tanah di kota-kota besar di Korea Selatan. Orang yang mempunyai rumah ini tentu bukan orang sembarangan.

“Ini rumah keluargaku yang ditempati oleh kakak angkatku dan beberapa sahabat kami,” kata Joonmyun seraya menarik Sooyeon memasuki rumah itu.

Rumah itu terkesan sepi, membuat Sooyeon berpikir kata ‘beberapa’ itu berlebihan. Mungkin hanya ada 1-2 orang yang tinggal bersama kakak angkat Joonmyun. Saat mereka sampai di ruang tengah, Sooyeon baru meyakini kata ‘beberapa’ adalah kata yang tepat. Ada 4 pria sedang bermain game di sana. Baru saja Joonmyun ingin menyapa, seorang wanita muncul dan berteriak kesal.

“Kalian bisa diam, tidak, sih? Aku sedang menangani kasus menyebalkan!” pekik wanita itu.

Sooyeon tersentak mendengar betapa kerasnya teriakan itu. Kekagetannya dari teriakan itu berganti dengan kekagetan baru saat Joonmyun merangkulnya.

“Ah, kau sudah datang, Joonmyun-ah. Apa itu yang kau ceritakan semalam?” tanya wanita itu.

Joonmyun mengangguk. “Ini adalah Jung Sooyeon. Sooyeon-ah, yang berteriak tadi adalah kakakku, Hong Sung Mi. Semua orang memanggilnya Dana.”

Wanita itu mengibas rambutnya lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Setelah Dana masuk ke kamar, keempat pria itu menghampiri Sooyeon dan berebut untuk memperkenalkan diri.

Luhan, Kris, Kyungsoo dan Jongdae. 1 berkewarganegaraan China, 1 berkewarganegaraan Kanada dan 2 berkewarganegaraan Korea Selatan. Cukup unik. Mereka tidak tinggal secara tetap di rumah itu. Rumah itu hanya dijadikan tempat berkumpul mereka dan penginapan jika mereka bosan tidur di rumah masing-masing.

Ting.. tong..

“Apa kita mempunyai tamu lainnya?” tanya Joonmyun bingung.

Luhan mengangguk. “Magnae akhirnya mau datang setelah aku memohon lewat telepon selama 1 jam lebih.”

Sooyeon melepaskan tangan Joonmyun. “Biar aku yang membukakan pintu.”

Sebenarnya dia hanya butuh waktu sebentar untuk lepas dari Joonmyun. Syukurlah Joonmyun membiarkan dirinya kali ini walaupun menyuruh Luhan untuk menemaninya. Sooyeon terpaksa berlari kecil menuju pintu karena Luhan menariknya paksa. Luhan membuka pintu penuh antusias.

“Akhirnya kau datang juga, Sehun-ah!” seru Luhan girang.

Sooyeon menoleh ke arah pintu. Sehun. Ya, Sehun. Sahabatnya lah yang datang. Dia ada di sana. Di depannya sekarang. Sooyeon tidak tahu harus bahagia atau sedih mengingat keadaannya yang sudah menjadi budak seorang Kim Joonmyun.

“Sooyeon-ah…” gumam Sehun.

Pria itu pun sama terkejutnya dengan Sooyeon. Sementara Luhan terlihat kebingungan saat menyadari kedua orang itu saling kenal. Dari cara Sehun memanggil gadis itu, ia tahu bahwa hubungan mereka cukup dekat.

“Kenapa kau ada di sini, Sooyeon-ah?” tanya Sehun akhirnya.

“Dia adalah mainan baru Joonmyun. Joonmyun baru mendapatkannya di hari kelulusanmu,” jawab Luhan.

Sehun menoleh kaget mendengarnya. Pria itu menghampiri Sooyeon lalu meremas kedua bahu sahabatnya.

“Apa dia yang membelimu?” tanya Sehun lagi.

Sooyeon terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka Sehun tahu dirinya dibeli oleh Joonmyun.

“JAWAB AKU, JUNG SOOYEON!”

Sooyeon tersentak kaget. Ini pertama kalinya Sehun membentaknya. Dia mengangguk perlahan. Wajah Sehun perlahan mulai berubah warna menjadi merah. Luhan tahu sesuatu akan terjadi.

Luhan menepuk bahu Sehun. “Sehun, sebaiknya kau pulang sekarang.”

Sehun menepis tangan Luhan lalu melangkah ke ruangan yang menjadi sumber suara ribut di rumah itu. Dia melihat sosok Joonmyun yang berbincang dengan 3 sahabatnya. Ditariknya kerah baju Joonmyun hingga pria itu berdiri lalu kepalan tangan Sehun meninju wajah itu berkali-kali. Kris dan Kyungsoo segera menarik Sehun menjauh.

“APA MAKSUDMU DENGAN MEMBELI SOOYEON? APA YANG KAU RENCANAKAN KEPADANYA, KIM JOONMYUN?!” teriak Sehun.

Joonmyun hanya diam sambil mengusap ujung bibirnya yang terluka.

“AKU TIDAK AKAN DIAM JIKA KAU MENYAKITI JUNG SOOYEON!”

Joonmyun mendesah. “Aku tidak merencanakan apapun, Oh Sehun. Berhenti berpikiran buruk tentangku.”

“Omong kosong! Kau membelinya hanya karena Kim Ahyoung, ‘kan?”

Joonmyun tidak menjawab. Dia menyeringai lebar. Sehun terbelalak melihatnya. Dia semakin memberontak. Namun dia tidak bisa lepas dari Kris dan Kyungsoo.

Luhan masih tetap di ruang tamu bersama Sooyeon. Gadis itu terlihat panik mendengar teriak Sehun di dalam sana. Dia penasaran tapi takut dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lagipula pria di depannya tidak memperbolehkannya untuk melihat ke tempat kejadian. Luhan tidak bisa membiarkan Sooyeon melihat drama yang terjadi di antara Joonmyun dan Sehun malah ini. Drama yang sama seperti setahun yang lalu.

Setelah keributan itu selesai, Joonmyun muncul dan menarik Sooyeon keluar rumah. Sooyeon sempat melihat sosok Sehun yang sedang berontak agar dilepaskan.

“Apa yang terjadi?” tanya Sooyeon.

Joonmyun membuka pintu mobilnya dan mengisyaratkan agar Sooyeon masuk ke dalam mobil. Sooyeon melipat kedua tangannya di depan dada sebagai protes karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Joonmyun. Tapi dia terpaksa menyerah saat Joonmyun memelototinya.

“Kau tidak boleh bertemu dengan Sehun mulai dari sekarang. Tidak boleh sekalipun,” tegas Joonmyun sembari memasangkan sabuk pengaman Sooyeon.

Wae?”

“Kau dilarang bertemu dengannya.”

“Dia adalah sahabatmu, ‘kan? Dia juga sahabatku.”

“Pokoknya tidak boleh!”

“Kenapa? Aku hanya mempunyai Sehun di dunia ini! Apa kau tidak tahu rasa—mpph!”

Joonmyun kembali membungkam bibir Sooyeon dengan ciuman kasar. Kali ini lebih ganas dengan permainan lidah. Sooyeon memberontak saat dirinya sudah benar-benar kehabisan napas.

“Berani membantah lagi, hukuman akan semakin buruk! Kau mengerti?”

Sooyeon menunduk lalu mengangguk pelan.

Joonmyun tersenyum puas. “Bagus.”

=== Only Because It’s You ===

Teneng~ jadi gimana kisahnya? Coba komentar :3 mau liat siapa aja yang suka. Dan maaf untuk typo -.-v

Sebenarnya ff ini buat comeback-ku di ffindo. Ga enak sama ownernya karena udah lama banget ga post ff di ffindo. Nah aku liat kemarin sih aku masih berstatus author di blog tersebut. Eh hari ini tiba-tiba, teneng~ aku dinyatakan sudah dikeluarkan -.- kan sayang ya udah dibuat tapi ga dipost. Mana udah dibuat posternya lagi. Ya sudah akhirnya di warnet, castnya langsung aku obrak-abrik dan aku post disini .-. posternya lagi dibuat ulang karena cast ceweknya ganti. Hehe..

107 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 1

  1. Aaaaa suka bangeeetttt nget deh. Suka sama cerita yg cowonya protect2 gini. Apa lagi ini suho. Jarang2 suho dapet cast yg kyk gini. Biasanya kris, kai atau sehun.

  2. Daebak bagus banget thor ><
    Ska ma karakter suho dsini wlaupun suho nya galak ……
    Sehun kau keren banget dah ,……. ahhhhhh keren banget …….

    Author keep writting🙂

  3. waaa seru banget ceritanya apalagi ada sehun ><
    yah, sehun nolak sooyeon nih TT gak nyesel?
    ada apa sih kejadian 10 tahun yang lalu?
    siapa kim ahyoung?
    penasaran banget!!
    daebakk!!!

  4. U-uh. Kenapa aku baru tahu ada ff sebagus ini? Karakter suho sama sica di ff ini beda dari ff yang lain. Aku pernah beberapa kali baca ff dng karakter sica yg agak introvert, terbiasa disakiti dsb tapi yg ini beda, beneran deh thor kyk ada manis-manisnya gitu xD
    Hmn… sebenernya banyak pertanyaan di otakku, tapi aku tahan dulu. Siapa tahu di chapter berikutnya ada jawabannya hehe. Dan terakhir nih, suho-ya kamu punya kepribadian ganda atau gimana? Gemesin banget sumpah #lah

  5. woww its amazing…hahahahaha karakter nya emng beda…jauh bgt…ckckckck bagus eon aku nggak tau lgi ni apa yg harus d komen pkoknya ini ff daaeebbbaaakkk
    keep writing ya eon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s