(Freelance) Oneshoot : Heart

Title : Heart

Author : Im Hyun Ah/Zhyagaem06

Genre : Romance and Angst

Lenght : Tentukan sendiri

Rating : PG-13

Main Cast :

Jung Jessica

Xi Luhan

Point Of View

All of Luhan POV

Pernah di Post di EXOShiDaeFanfic with Im Yoona and Xi Luhan as maincast

***

“Aku rasa hubungan kita cukup berakhir sampai disini saja”

Ucapan itu mampu membuat hatiku tertohok seketika. Pernyataan perpisahan yang meluncur dengan bebas dari bibir gadis didepanku. Aku menatapnya tak percaya. Tidak, ini tidak mungkin. Tidak mungkin ia menyudahi hubungan yang telah terjalin selama hampir dua tahun ini begitu saja, aku pasti hanya mimpi. Ya, mimpi. Seseorang tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Tapi sayangnya itu hanya harapanku, ini bukan mimpi. Ini nyata dan aku tak bisa menerima semua ini.

“Jadi kita sudah resmi berpisah?” Aku sontak tersadar dari lamunan panjangku. Lantas aku menoleh dan menatap wajah cantik gadis yang duduk didepanku itu. Ia hanya menatapku dengan wajah tanpa dosa. Apa ia tak sedih dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Wajahnya nampak biasa saja, berbeda denganku yang begitu kecewa. Aku begitu mencintai gadis didepanku ini.

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan ini?” Akhirnya aku mengeluarkan suara. Walau pelan dan terkesan dingin aku yakin ia pasti bisa mendengarnya. Dari sudut mataku aku bisa melihat gadis itu mengubah posisi duduknya menjadi menopang dagu.

“Aku bosan” jawabnya cuek. Apa katanya? Bosan? Denganku maksudnya?

“Kau membosankan” lanjutnya dengan wajah yang dibuat menyebalkan. Aku terdiam ditempat. Ucapannya itu bagai sebuah belati tajam yang menusuk tepat di ulu hatiku.

“Kau bilang apa?” tanyaku dengan suara tercekat. Kukepalkan telapak tangan kananku kuat seolah tengah meremukkan sesuatu, sesaat ia menatap ngeri kearahku. Aku tak peduli, yang aku inginkan adalah penjelasan dari gadis itu.

“K-kau m-membosankan” ulangnya dengan lirih. Ia menunduk, aku tak tahu apa maksudnya itu. Dengan gusar aku berdiri dari kursi cafe yang tengah kududuki, menarik tangannya kasar dan membawanya keluar dari cafe itu.

***

Disinilah aku sekarang. Duduk disebuah bangku taman yang berhadapan langsung dengan sebuah danau kecil yang airnya sewarna dedaunan, tempat favoritku bersama kekasihku, ah atau tepatnya mantan kekasihku walau aku belum menyetujuinya. Disebelahku gadis itu masih berdiri, ia enggan untuk duduk. Matanya terlalu fokus menatap pemandangan alam didepannya.

“Kenapa kau membawaku kesini?” tanyanya sambil melipat kedua lengannya didepan dada. Bahkan untuk menatapku pun ia tidak. Apa sebegitu membosankan kah aku?.

“Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu! Mengapa kau ingin putus?”

“Semuanya sudah jelas kan aku bosan padamu?”

“Alasanmu tidak masuk akal, hanya karena bosan?” aku menggelengkan kepalaku dengan senyuman remeh. Gadis itu langsung menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tak bisa tafsirkan.

“Kau tahu selama ini aku mau menjadi kekasihmu karena kau kaya” ucapannya membuatku membulatkan mata. Aku pun berdiri dari dudukku dan menatapnya tajam, meminta jawaban atas pernyataannya tadi.

“Mungkin kau tak percaya, tapi inilah kenyataannya. Aku tak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai hartamu. Lagipula dulu aku menerima pernyataan cintamu karena aku bertaruh dengan Sooyoung dan voila kau datang disaat yang tepat”

Panas. Itulah yang aku rasakan saat ini. Mendengar penuturannya membuat dadaku bergemuruh sakit. Jadi hubungan kami yang selama hampir dua tahun ini hanya dilandaskan atas taruhan dan materialisme semata. Aku tak percaya ini. Aku mendekat, kucengkram lengan kanannya dengan kuat. Ia meringis namun tak kuhiraukan.

“Katakan kalau itu semua bohong” ucapku dengan nada tajam dan berbahaya. Sekalipun aku selalu terlihat ramah, namun aku bisa sangat berbahaya apabila sedang dilanda amarah seperti ini. Terlebih urusan perempuan. Gadis itu nampak ketakutan. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Jujur aku tak tahan melihatnya seperti ini. Biasanya saat ia ketakutan aku akan langsung memeluknya, tapi saat ini berbeda ia ketakutan karena melihatku.

“Yang aku katakan semuanya benar. Aku tidak mencintaimu dan aku juga sudah menemukan penggantimu, dia lebih kaya darimu” ucapnya dengan nafas memburu. Rasanya seperti terhempas kejurang paling dalam mendengar penuturannya itu. Rasa sakit tiba-tiba menyerang bagian ulu hatiku, bukan ini bukan rasa sakit karena pernyataannya. Ini rasa sakit dari penyakit sialan yang aku derita dan sialnya efek sakitnya datang bersamaan dengan sakitnya perasaanku. Aku terduduk di tanah dengan nafas yang tinggal satu-satu. Sakit menjalari seluruh organ sarafku. Kulihat gadis itu membulatkan mata dan bersimpuh sambil memegangi lenganku. Segera kutepis tangannya.

“Pergi dari sini” ucapku dengan nafas memburu. Rasa sakit kian terasa. Jangan. Jangan sekarang, aku tak mau memperlihatkan rasa sakit ini didepannya.

“Tapi…”

“Aku bilang pergi…hhh” bentakku meninggikan suara. Aku benar-benar benci melihat wajahnya yang menurutku sok khawatir itu. Dia fikir karena siapa aku seperti ini?

“Masih keras kepala rupanya” aku mendengar ia bergumam. Namun tak begitu kuhiraukan karena rasa sakit di bagian bawah dadaku benar-benar memintaku untuk memperhatikannya.

“Baik. Aku pergi” kulihat ia melangkah menjauhiku. Meninggalkanku yang terduduk lemah di atas tanah dengan rasa sakit yang luar biasa. Sekarang rasa sakit di dadaku melebihi segalanya. Gadis yang amat kucintai meninggalkanku begitu saja dengan alasan yang benar-benar tak bisa kumaafkan. Tiba-tiba pandangaku mengabur, kepalaku terasa berat seolah ditindih dengan batu besar. Sebelum aku terbawa dalam kegelapan aku bisa melihat siluet seseorang walau samar-samar datang menghampiriku dan menahan bahuku. Aku tak tahu itu siapa? Gadis itukah? Tak mungkin aku jelas melihatnya sudah pergi meninggalkan tempat ini tadi. Lalu siapa? Dan semuanya menjadi gelap.

***

Cafetaria kampus memang tengah penuh saat ini. Tapi untungnya aku sudah mendapatkan tempat. Di salah satu sudut cafetaria yang berhadapan langsung dengan taman. Tempat favoritku bersama dirinya. Ah bodoh kenapa aku mengingatnya kembali.

“Kau kenapa?” tanya seorang gadis yang duduk tepat dihadapanku. Seohyun. Sahabatku sejak kecil. Mungkin saja ia menyadari gelagat anehku. Aku menggeleng kikuk seraya tersenyum. “Aniyo”

Kulihat ia meletakkan jus yang tengah diminumnya diatas meja, ia menggigit bibirnya sembari menatapku.

“Luhan-ah soal pernyataanku yang waktu itu”

“Ah..mian Seo-ah, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Tak bisa lebih. Mianhe” jawabku sambil menundukkan kepala. Gadis itu beberapa hari yang lalu menyatakan perasaannya padaku, namun aku tak bisa menerimanya karena masih terlalu larut dalam kesedihan yang ditimbulkan mantan kekasihku itu alasan lainnya karena aku belum bisa melupakannya seutuhnya. Masih sangat besar perasaanku untuknya sekalipun aku mencoba untuk melupakannya.

Lemah. Mungkin aku ini laki-laki lemah. Yang kalah dengan perasaan. Tapi aku tak bisa memungkiri itu.

“Aku mengerti…kau belum bisa melupakannya kan?”

“Aku mohon jangan membahasnya lagi” ucapku disertai helaan nafas panjang.

“Dia sepertinya sangat menikmati perpisahan ini. Bahkan sudah mendapatkan yang baru” aku tersentak mendengar ucapan Seohyun. Cepat-cepat kuikuti arah pandangannya.

DEG.

Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga. Disana di salah satu meja cafetaria gadis itu duduk bersama seorang pemuda berkulit putih. Mereka nampak sangat mesra. Dengan posisi si pemuda yang merangkul gadis itu dan gadis itu menyandarkan kepalanya didada pemuda itu. Aku kenal pemuda itu, namanya Kris Wu salah satu mahasiswa jurusan kedokteran, teman sekelasku. Pemandangan yang mampu membuat hatiku berdenyut sakit. Jadi dia penggantiku?.

Tak ingin berlama-lama, segera kusambar kunci mobil dan jaket hitam yang tersampir di sandaran kursi. Aku tak kuat melihat gadis yang kucintai bersama pemuda lain. Rasanya seperti ada tombak panas yang menghujam jantungku. Kini aku percaya, gadis itu benar-benar brengsek menjadikanku kekasihnya karena kekayaanku setelah mendapatkan yang lebih ia akan langsung membuangku.

“Aku duluan” pamitku mencoba menahan rasa sakit. Aku tak pernah ingin terlihat lemah dihadapan seorang gadis. Seohyun hanya menganguk sebagai jawaban.

***

Penyakit sialan itu semakin hari semakin parah saja. Penyakit kanker hati yang menggerogotiku benar-benar menyiksa. Aku memang tak begitu peduli, hanya ibuku yang terlalu berlebihan mengajakku berobat kesana kemari dengan hasil yang selalu sama saja. Aku kini pasrah apabila Tuhan ingin mengambilku silahkan saja, aku merasa tak ada gunanya juga hidup didunia ini. Kebahagiaanku satu-satunya telah tiada.

Kupandangi butiran-butiran salju yang turun dari langit melalui kaca jendela cafe. Ya, beginilah kegiatanku. Setelah pulang dari kampus aku selalu menyempatkan diri ke cafe ini. Love cafe. Tempat dimana aku bertemu dengannya, tempat yang menjadi saksi pernyataan cintaku, tempat yang selalu kudatangi bersamanya di sela kesibukan dan tempat dimana semuanya berakhir. Tempat yang sangat bersejarah. Ku sesap sedikit capuccino hangatku. Suasana dicafe ini sangat cocok bagi mereka yang mempunyai pasangan. Dan aku merasa sebagai orang bodoh yang duduk sendirian ditengah banyaknya pasangan kekasih. Sial. Pikirku

“Anneyeong” suara yang sangat kukenali itu mengusik gendang telingaku. Cepat-cepat kuangkat kepalaku untuk melihat sipemilik suara itu. Tersentak, jantungku kembali bekerja cepat. Sosok didepanku ini, gadis brengsek ini. Kenapa dia ada disini?

“Kenapa diam? Kau tak ingin membalas sapaanku? Huh sombong sekali” ucapnya sambil mengambil tempat duduk dikursi didepanku yang kebetulan kosong. Aku masih diam. Bahkan untuk mengeluarkan satu katapun aku tak  bisa. Gadis itu memiringkan kepalanya dan menatapku dengan wajah innocentnya yang oh…aku hampir lupa diri.

“Kenapa kau ada disini?” Akhirnya setelah keheningan lama yang tercipta aku bisa mengeluarkan suara. Sekedar bertanya kepadanya.

“Kenapa tidak boleh ya? Lagipula di luar dingin…” Ia merapatkan hoodie putih yang membalut tubuhnya. “Ah..aku haus, itu boleh untukku ya” ia menunjuk cappucino hangatku yang berkurang sedikit.

“Eh..tung…gu” terlambat gadis itu sudah lebih dulu mengambil gelas berisi cairan coklat itu dan menyesap isinya. Aku membeku. Apa itu artinya ciuman tak langsung?. Tanpa bisa dicegah semburat merah muda tipis tergores dipermukaan pipiku. Aish…apa-apaan ini?

“Hahh…hangatnya” ucapnya setelah menyudahi meminum cappucino milikku. Ia meletakkan kembali gelas itu diatas meja. Kosong. Dasar gadis rakus.

“Kau sendirian?” Aku mencoba mencari topik pembicaraan. Rasanya sangat canggung bisa duduk berdua seperti ini. Biasanya saat masih berpacaran, kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi kini? Bahkan untuk bertanya seperti itu terasa aneh. Mungkin disini hanya aku yang merasa demikian, sementara gadis didepanku ini nampak biasa saja, seolah tak pernah terjadi hal apapun diantara kami.

“Tidak, aku berdua”

“Dengan siapa?” Sudah kuduga ia pasti kesini dengan pacar barunya. Siapa? Oh ya si Oh Se-

“Denganmu” jawabnya acuh sambil menopang dagu. Ia memperhatikanku dengan mata jenakanya itu. Kalau ingat kau sudah bukan kekasihku aku pasti akan langsung mencubit pipi tembem itu.

“Pacar barumu?” tanyaku ingin tahu

“Siapa?”

“Jangan pura-pura. Pemuda berkulit putih yang dijurusan kedokteran itu”

“Bukannya itu kau ya? Kulitmu putih dan kau jurusan kedokteran”

“Jangan bercanda. Aku serius”

“Baiklah, maksudmu Kris ya? Dia tak bisa menemaniku. Dia sibuk belajar” jawabnya cuek. Gadis ini tak pernah berubah, tetap sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya.

“Luhan kau marah padaku ya?” Kali ini ia bertanya dengan wajah serius. Aku terhenyak, selama lebih dari tiga bulan aku berpisah dengannya aku memang sengaja memutus kontakku dengannya. Dikampus aku selalu menghindar apabila bertemu dengannya, bisa dibilang itulah caraku untuk melupakannya.

“…” Aku tak menjawab. Pandanganku ku fokuskan sepenuhnya pada kaca jendela yang membingkai nyata tetesan-tetesan salju yang berjatuhan. Aku enggan menjawab pertanyaan, padahal itu termasuk pertanyaan mudah. Hanya tinggal menjawab Ya atau Tidak. Tapi aku sendiri tak yakin, aku ingin marah bahkan ingin sekali memaki-makinya sekarang, tapi itu tak bisa kulakukan. Perasaanku yang tak bisa kuhilangkan seolah mencegah.

“Apa kau sebegitu bencinya padaku? Menatapku saja kau tak mau” aku lantas menolehkan kepala kearahnya. Gadis itu tengah menunduk dengan tangan terkepal diatas meja.

“Kau berkata seolah kau yang paling tersakiti disini” ucapku datar.

“Aku tahu, kau pasti sangat membenciku, matamu tak bisa bohong”

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri”

“Kau tahu? Setahun lebih bersamamu membuatku mempelajari segala macam tatapanmu”

“Bukankah kau bilang kau menjadi kekasihku karena hartaku? Untuk apa repot-repot mempelajari tatapanku”

“…” Ia diam. Kulirik gadis itu dengan ekor mataku. Ia tengah terdiam, dengan bibir terkatup rapat, bisa kulihat getaran kecil pada bahu gadis itu.

“Maaf” kata itu keluar dari bibirnya, pelan dan lirih. Aku kini benar-benar menatapnya walau ia tak menyadarinya. Ia terlalu dalam menunduk.

“Setelah ini kau bisa membenciku sesukamu, aku tahu aku memang gadis tak tahu diri menyia-nyiakan cintamu yang begitu tulus, tak seharusnya cintamu kau berikan padaku” ia berdiri dari duduknya, ia dekatkan wajahnya kewajahku, walau agak kesulitan karena tubuh kami terhalangi meja. Hembusan nafas hangatnya langsung terasa menerpa wajahku. Ia memiringkan wajahnya dan menempelkan bibir kecilnya dibibirku. Mataku membulat, perasaanku benar-benar campur aduk saat ini, antara senang dan marah. Aku tak tahu apa artinya ciuman yang ia berikan ini? Apa ini artinya ia kembali padaku? Baru saja aku ingin membalas ciuman itu ia langsung menarik diri. Kecewa, itulah yang aku rasakan. Gadis didepanku ini benar-benar membingungkan. Alisku sedikit bertaut saat melihat setitik air bening mengalir dari ujung kelopak mata kirinya. Cepat-cepat ia hapus air matanya dan tersenyum paksa kearahku.

“Ehm…mian menciummu tiba-tiba, itu sebagai permintaan maafku padamu” ujarnya disertai cengiran yang menurutku aneh “Ah…aku harus segera pergi menemui Sehun. Maaf mengganggumu” lanjutnya dan langsung berjalan cepat menuju pintu cafe, sebelum ia benar-benar keluar ia sempat menoleh kearahku dan tersenyum. Senyuman yang tak dapat kuartikan maknanya.

Tiba-tiba aku teringat ucapannya beberapa menit menit lalu, jadi ia menciumku sebagai ucapan maaf. Bodoh, kenapa aku bisa terbawa suasana dan bahkan berniat membalasnya, dan kenapa pula aku berharap terlalu jauh. Sadar Xi Luhan, gadis itu hanya mempermainkanmu, ia hanya gadis tak tahu diri yang tak sepantasnya mendapatkan cintamu. Tanganku terkepal, rahangku mengeras mulai sekarang aku akan melupakannya. Akan kuubah perasaan cintaku menjadi perasaan benci yang tak pernah termaafkan.

***

Putih dan penuh dengan bau obat. Disinilah aku sekarang, terbaring dengan selang infus yang menempel di pergelangan tanganku. Hari ini, mungkin adalah hari yang paling kunantikan, hari dimana aku bisa terbebas dari rasa sakit berkepanjangan yang aku derita selama hampir sepuluh tahun. Entah siapa orang baik hati itu, yang dengan ikhlas memberikan hatinya untuk dicangkokkan padaku. Kalau saja aku tahu aku pasti akan sangat berterima kasih, namun Ibu bahkan dokter yang menanganiku tak mau memberitahu siapa orang itu.

Kulihat dokter Choi dan beberapa orang suster memasuki ruangan rawatku, salah seorang suster kemudian berdiri disebelahku, ia mengeluarkan sebuah jarum suntik. Aku hanya diam dan memejamkan mata saat ujung jarum suntik itu menembus kulitku, tiba-tiba otot-ototku melemas dan saraf-saraf yang terhubung diotakku memaksaku untuk menutup mataku yang terasa memberat. Tak ada yang bisa kulihat dan kudengar, aku kini berada dibawah alam sadarku.

***

Awal musim gugur yang begitu indah. Aku duduk diatas kasur rumah sakit masih dengan piyama bewarna putih polos yang membalut tubuhku. Operasi pencangkokan hati yang kujalani beberapa hari lalu berhasil, dan sekarang aku bebas dari penyakit sialan itu. Teman-temanku bergantian datang menjengukku, mereka memang tak tahu tentang penyakitku ini karena aku memang tak pernah memberitahu mereka. Aku beralasan, kalau aku menjalani operasi karena luka bakar yang ada dipunggungku dan untungnya mereka percaya. Semua teman-temanku memang datang, namun dia tak ada, menjengukku pun ia tidak. Apa ia sudah tak menganggapku sebagai teman atau sekedar mantannya. Aish…kenapa aku memikirkannya lagi. Untuk apa mengharapkan kedatangannya.

Kreett

Pintu putih yang berada tepat disebelah kanan tempat tidurku terbuka dan perlahan masuklah sosok gadis bertubuh jangkung yang sangat kukenali. Sooyoung, sahabat mantan kekasihku. Ia membawa keranjang berisi buah-buahan. Gadis itu tersenyum saat aku menatapnya, ia kemudian berjalan mendekat dan meletakkan keranjang buah itu dimeja yang berada tepat disamping kasurku.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya ramah. Aku menghela nafas sejenak kemudian menjawab “Seperti yang kau lihat aku baik”

“Pencangkokkan hati itu berhasil ya?”

Aku tersentak kaget mendengar ucapannya, dari mana dia tahu aku melakukan operasi pencangkokkan hati?

“Tidak perlu kaget, dokter yang menanganimu itu suami kakakku, makanya aku tahu” jawabnya seolah memberi jawaban atas pertanyaan yang berputar diotakku. Sedikit menghela nafas lega, akhirnya aku kembali menatapnya.

“Terima kasih sudah menjengukku, Sooyoung-ssi” ucapku sambil tersenyum ramah. Aneh, kenapa ia hanya diam dan terus menatapku. Sementara aku kembali fokus menatap pemdangan langit senja melalui kaca jendela rumah sakit, sebenarnya akuu ingin bertanya tentang mantanku padanya, namun egoku terlalu tinggi. Selain itu aku tak ingin hidupku dibayang-bayangi gadis itu lagi.

“Ne, kau mengharapkan kedatangan Jessica kan?”

“Cih, untuk apa mengharapkan kedatangan gadis brengsek itu” jawabku acuh. Dengan segera ia menarik kerah kemeja piyamaku dan menatapku tajam, apa? Ada yang salah dengan ucapanku?.

“Kau jangan pernah menyebut temanku brengsek?”

“Lalu apa? Kenyataannya kan dia memang brengsek?! Kalau dia tak brengsek dia tak akan menjadikanku bahan taruhan dan mencintai hartaku” balasku dengan sedikit meninggikan suara. Ia diam, namun cengkraman tangannya pada kemejaku kian menguat. Tangannya bergetar. Aku tahu, mungkin keterlalu mengatakan itu tapi apa dia tahu bagaiman sakitnya hatiku mengetahui kenyataan tentang temannya itu.

“Kau…tidak tahu apa-apa” lirihnya dengan suara parau. Cengkramannya terlepas, ia terduduk di kursi putih yang terletak di samping kasurku. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangannya yang dibuka “Kau tidak tahu apa-apa Xi Luhan, jangan asal menyimpulkan seperti itu” bentaknya. Ia melepas kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya, terlihat wajag gadis itu telah dibanjiri air mata. Kenapa ia menangis? Apa kata-kataku itu terlalu kasar?

“Jessica…dia tidak brengsek, dia tidak seperti yang kau fikirkan” ucapnya lagi. Aku terdiam “dan dia sangat mencintaimu” lanjutan kalimat Sooyoung membuat jantungku kembali bekerja dua kali lipat, namun segera kutepis semua itu. Tak mungkin gadis itu mencintaiku? Mungkin kau salah bicara Nona, yang ia cintai itu hartaku bukan aku.

“Omong kosong” desisku meremehkan. Kembali, tubuhku tertarik kearahnya, gadis ini benar-benar kasar.

“Kalau kau mau, setelah kau keluar dari rumah sakit temui Kris. Ini alamatnya” ia melepas cengkramannya, kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas kecil dan memberikannya padaku. Aku hanya diam, tak berniat mengambil kertas yang disodorkan itu. Sooyoung berdiri, ia menghapus air matanya, kemudian meletakkan kertas itu diatas meja didekat keranjang buah yang dibawanya tadi “Disana kau akan menemukan kebenarannya” setelah mengucapkan sepenggal kalimat itu ia segera berlalu meninggalkan ruang rawatku. Aku tetap memandang lurus kedepan. Sudah kuputuskan untuk tak mau tahu lagi tentang gadis itu, tapi lagi-lagi aku kalah dengan perasaanku, tanganku bergerak meraih kertas itu. Kembali teringat perkataan Sooyoung tadi

‘Disana kau akan menemukan kebenarannya’

Kebenaran apa?

***

Sakit. Ini lebih dari sakit yang sering kurasakan. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kau harus berkorban sejauh ini? Jika aku tahu hati ini milikmu, aku tak akan menerimanya, lebih baik aku mati daripada harus kehilangan dirimu selamanya, lebih baik hubungan kita tak baik asal aku masih bisa melihat wajahmu setiap hari, masih bisa merasakan kehangatan senyumanmu meski itu bukan untukku. Ku peluk erat batu nisan yang bertuliskan nama seseorang yang paling kucintai

RIP

Jung Jessica

Aku tak pernah menyangka semua yang terjadi selama ini karena perasaanmu yang begitu besar padaku. Jess, kenapa kau harus melakukan ini? Kenapa kau harus membuatku membencimu? Andai saja aku mengatakan padamu lebih awal mungkin ini tak akan terjadi, aku bodoh aku lelaki bodoh. Aku bahkan mengataimu gadis brengsek tanpa tahu kebenarannya.

“Jessica menitipkan ini padamu, sebelum dia menabrakkan diri pada sebuah mobil” Kris yang berdiri disebelahku menyerahkan sebuah amplop berwarna putih gading. Aku menerimanya.

“Aku harap kau mengikhlaskannya” Kris menepuk pundakku dan berlalu meninggalkanku. Kini hanya aku sendiri ditempat ini, tempat yang menjadi peristirahatan terakhir mereka yang telah tiada. Dengan tangan bergetar aku buka amplop itu, kutarik secarik kertas yang ada didalamnya. Terlihat rentetan huruf yang membentuk sebuah kata menjadi sebuah kalimat. Aku mengenal tulisan ini, tulisan gadis yang sangat kucintai. Air mata tak bisa kubendung saat membaca rentetan kalimat itu, begitu menusuk hingga hati paling dalam. Tak kuat aku lempar begitu saja kertas itu, membiarkannya melayang dan akhirnya jatuh kembali tepat dipusara gadis tercintaku.

Luhan-ah

Luhan-ah

Luhan-ah

Aku ingin selalu memanggil namamu seperti itu. Karena aku menyukaimu.

Mian, mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tak ada disisimu.

Luhan-ah, mian aku menyakitimu dengan kata-kata kasarku waktu itu. Jujur aku tak pernah ingin hubungan kita berakhir, tapi harus bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa kulakukan.

Kenapa kau tak pernah bilang tentang penyakitmu? Kenapa kau harus menanggung rasa sakit itu sendirian? Apa kau tak menganggapku sebagai seseorang yang bisa menjadi tempat curahan hatimu?. Aku merasa gagal menjadi kekasihmu.

Ne, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Maka dari itu kutitipkan hatiku padamu. Aku ingin kau tetap hidup dan menjalani harimu dengan senyuman carilah penggantiku dan hiduplah bahagia.

Jagalah hatiku seperti aku mencintaimu

END

***

Maaf ya kalau ffnya aneh, gaje abal dan lain-lain

Tapi aku mengharapkan kritik dan saran dari kalian

19 thoughts on “(Freelance) Oneshoot : Heart

  1. So sad.😦
    Aku kira jessica emg kaya gitu, tapi diakhir-akhir ternyata dia malam ngorbanin hatinya buat luhan.
    Bagus, feelnya jga kerasa.
    Keep writing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s