Only Because It’s You – Chapter 2

obiy sica

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Previous:

1

Notes: pas liat poster buat ff ini udah jadi, entah kenapa aku jadi pengen lanjut ff ini. Maaf pendek. Aku ga dapet ide lain yang cocok untuk melanjutkan cerita ini.

Credit: CHOKYULATE

=== Only Because It’s You ===

Sejak ibunya pergi meninggalnya dan ayahnya, Sooyeon sudah tidak mempunyai orang yang penting baginya. Ayahnya selalu mengganggu dengan kegiatan berjudi lalu pulang sambil menangisi kekalahannya. Dia tidak pernah dekat dengan sekitar. Bukan karena dia menjaga jarak dengan sekitar, hanya saja memang takdirnya untuk tidak dekat dengan orang lain.

Pertemuannya dengan Sehun telah mengubah hidupnya. Kehidupannya yang sangat sibuk –tidur-kerja-sekolah-kerja-belajar-kembali tidur—membuatnya tidak terlalu memperdulikan hal sekitar. Namun setelah Sehun menawarkannya pekerjaan, dirinya menjadi lebih santai menjalani hidup. Dari sejak pagi sampai malam, dia selalu berada di samping Sehun.

Mengenal Sehun, membuat dirinya mengerti bagaimana rasanya mempunyai sebuah keluarga. Melihat bagaimana hubungan Sehun dan orangtuanya, membuat ia iri. Walaupun tidak jarang keluarga Sehun menariknya ke dalam lingkaran keluarga Oh. Keluarga tersebut juga lah yang memperkenalkan dirinya dengan dunia luar karena mereka sering mengajaknya berlibur bersama.

Sehun dan orangtuanya adalah orang terpenting di hidupnya. Hanya ketiga orang itu yang membuat merasa penting di dunia ini. Ketika Joonmyun melarangnya untuk bertemu dengan Sehun, ia merasa seperti jiwanya ditarik paksa keluar dari raganya. Ia ingin menangis tapi air matanya seakan sudah kering. Dia bahkan tidak sanggup menangis. Dia benar-benar mati rasa.

 “Esh, lihat betapa pucatnya kulitmu. Ini karena kau jarang terkena sinar matahari. Berolahraga pagi lah. Nanti kau sakit,” komentar Sehun sambil memutari Sooyeon.

Sooyeon memutar bola matanya. “Bleh, seperti kau rajin olahraga saja.”

Sehun tertawa mendengarnya lalu mencubit pipi Sooyeon.

Sooyeon menarik selimut sampai menutupi kepalanya ketika mengingat kenangan bersama pria itu. Hanya setahun bersama, dirinya seakan tidak bisa dipisahkan dari Sehun. Memisahkan dirinya dari Sehun sama saja seperti membunuhnya secara perlahan. Bagaimana Sehun bisa membuatnya seperti ini dalam setahun?

“Sooyeon-ah, bangun! Matahari sudah terbit~” seru Joonmyun.

Detak jantungnya melambat ketika mendengar suara Joonmyun. Dia benar-benar tidak mau melihat wajah pria itu. Dia sangat membenci Joonmyun.

“Sooyeon-ah~”

Joonmyun menyibak selimut hingga memperlihat sosok gadis yang bersembunyi di balik selimut sejak dia masuk ke dalam kamar tersebut. Lagi-lagi gadis itu pura-pura tidur.

“Bangun atau kau akan menyesal,” ancam Joonmyun.

Sooyeon tidak bergerak. Dalam hati, dia berharap Joonmyun akan membiarkannya tetap tidur. Bagaimanapun, ia tidak bisa mendapatkan tidur yang cukup karena sibuk memikirkan larangan Joonmyun untuk menemui Sehun.

Joonmyun menghela napas panjang. “Baiklah aku kalah.”

Sooyeon tersenyum dalam hati. Apa itu artinya Joonmyun akan membiarkannya melanjutkan tidur?

Deg!

Ketika merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya lembut, Sooyeon sadar bahwa kesimpulannya salah total. Matanya terbuka dengan horor dan disambut dengan pemandangan mata Joonmyun yang tertutup 1 sentimeter di depan matanya. Kali ini ciuman yang diberikan oleh Joonmyun memang sangat lembut—berbeda dengan 2 ciuman sebelumnya—namun tetap mengerikan baginya.

“Apa yang kau lakukan?!” pekik Sooyeon setelah mendorong Joonmyun hingga pria itu terhempas jatuh lalu mengelap bibirnya berkali-kali seakan ada kotoran yang tidak mau hilang di bibirnya.

Joonmyun tidak terlihat kesakitan. Dia malah terlihat nyaman dengan posisi duduknya di lantai sekarang. Bibirnya membentuk seringaian yang cukup membuat tubuh Sooyeon menggigil. Namun hal itu membuatnya sadar dengan luka di ujung bibir dan lebam di pipi Joonmyun. Apa yang terjadi semalam? Apa ada yang meninju wajah mulus seorang Kim Joonmyun? Tapi siapa?

Sehun kah? Itu masuk akal mengingat dia terlihat sangat marah setelah tahu orang ini membeliku, pikir Sooyeon.

“Kalau aku tahu dari awal, aku akan terus membangunkanmu dengan cara ini. Jadi aku tidak perlu membuang-buang waktu. Kau seperti putri di cerita dongeng yang membutuhkan ciuman untuk bangun dari tidur panjangmu,” ucap Joonmyun.

Sooyeon semakin menatap Joonmyun horor. Apa yang terjadi jika pria itu melakukan hal itu setiap pagi? Dia perlu sesuatu yang mencegah bibirnya terus-menerus dijadikan objek hukuman Joonmyun.

“Karena kau sudah memberikanku ‘morning kiss’, kau boleh memilih untuk sarapan di dalam kamar atau di ruang makan,” kata Joonmyun.

Aku tidak memberikannya tapi dia mencurinya!

Sooyeon menarik napas dalam. Joonmyun selalu tahu cara membuatnya emosi. Tidak aneh jika ia akan menderita penyakit jantung setelah beberapa hari tinggal di apartemen ini.

“Aku akan sarapan di ruang makan,” pilih Sooyeon.

Joonmyun mengangguk seraya bangkit. “Baiklah, aku akan menunggumu di ruang makan. Kita akan sarapan bersama.”

“A-apa?” Sooyeon tergagap mendengarnya. “K-kalau begitu, a-aku sarapan di—“

“Cepat mandi. Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera ke kantor.”

Sebelum Sooyeon bisa protes, Joonmyun sudah meninggalkannya sendiri. Gadis itu mengacak rambutnya kesal. Jika tahu ini yang akan terjadi, dia memilih untuk sarapan di kamar saja.

***

“Cepat bangun! Kau harus mengurus aplikasi kuliahmu hari ini, Oh Sehun!” omel nyonya Oh.

Sehun menggerutu kesal. Dia baru bisa tidur selama 2 jam terakhir dan kini kepalanya pusing karena kurang tidur. Emosinya membuatnya insomnia semalam.

“Apa tidak bisa diurus oleh ayah?” tawar Sehun dengan kesadaran 50%.

Nyonya Oh mengetuk kepala anaknya. “Itu urusanmu. Kau yang akan kuliah. Jadi kau yang mengurusnya sendiri.”

“Orangtua yang tidak pengertian.”

Sehun turun dari tempat tidur sambil menggerutu lalu pergi ke kamar mandi dengan melangkah tidak rela. Ibunya menatapnya lirih.

“Ku dengar kau bertengkar dengan Joonmyun lagi semalam,” ujar nyonya Oh.

Langkah Sehun terhenti di tengah jalan.

Ibunya melanjutkan, “Kenapa?”

Sehun pura-pura menguap lalu masuk ke dalam kamar mandi.

“Kau tidak akan menghajar orang lain jika mereka tidak melakukan kesalahan fatal,” tambah nyonya Oh di depan pintu kamar mandi agar anaknya mendengarnya.

“Terlebih dia adalah sahabatmu sendiri. Orang yang kau idolakan setelah ayahmu. Aku hampir tidak percaya kau memukul Joonmyun. Mengingat bagaimana kau memuji setiap prestasinya saat kau masih kecil.”

Nyonya Oh menghela napas panjang ketika anaknya tidak memberikan tanggapan. Dia memutuskan untuk meninggalkan anaknya sendiri.

“Dua kali.”

Langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari kamar mandi.

“Sudah dua kali aku memukulnya. Tahun lalu dan semalam,” lanjut Sehun. “Dua kali dia melakukan kesalahan yang sama. Dua kali dia mengecewakanku. Dua kali dia menyakitiku. Dua kali dia tidak peduli dengan perasaanku.”

Kini sang ibu lah yang tidak memberikan tanggapan.

“Dia lah membeli Sooyeon. Aku takut dia akan menyakiti Sooyeon, Eomma.”

Nyonya Oh terbelalak kaget mendengarnya. Tidak aneh jika anaknya memukul seorang Kim Joonmyun.

***

Sooyeon sangat bersyukur karena Joonmyun membiarkannya keluar dari kamar selama pria itu bekerja walaupun tidak boleh keluar dari apartemen tersebut. Lagipula ada 2 pelayan yang siap mengawasinya setiap detik selama Joonmyun tidak ada. Tapi toh, Sooyeon tidak berharap lebih.

Sooyeon menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil menikmati setiap cemilan yang dihidangkan oleh sang pelayan. Dirinya sudah seperti seorang bos walaupun jabatan aslinya adalah budak pribadi seorang Kim Joonmyun. Aneh memang orang itu memperlakukan seorang budak dengan cara semewah ini.

“Apa ada lagi yang kau inginkan, Nona?” tanya seorang pelayan.

See? Bahkan pelayan itu memanggilnya ‘nona’. Sooyeon sungguh tidak mengerti apa posisinya di rumah ini.

Sooyeon menggeleng. “Ini sudah cukup.”

“Baiklah. Jika butuh sesuatu, silahkan panggil saya. Tuan muda berpesan Nona dilarang mendekati pintu keluar. Jadi saya harap Nona tidak akan melanggarnya,” pesan sang pelayan.

Sooyeon mengangguk malas. Kedua pelayan itu terus-menerus mengulang pesan dari Joonmyun, membuatnya muak.

Sooyeon menghela napas kesal. Tidak ada acara yang seru di berbagai channel. Matanya menatap ke sekitar. Dia melihat sebuah benda yang menarik baginya. Telepon. Dia memikirkan segala akibatnya jika ia memakai telepon sesaat. Mengingat Joonmyun tidak melarang untuk memakai telepon, Sooyeon meraih telepon itu dan menekan beberapa nomor.

Halo?

Sooyeon tersenyum mendengar suara itu. “Oh ahjumma! Ini aku, Jung Sooyeon.”

Sooyeon-ah! Aku benar-benar merindukanmu!” seru nyonya Oh. “Aku sudah mendengar kabarmu dari Sehun. Aku mendoakan segala yang terbaik untukmu.

Gamsahamnida, Ahjumma. Oh ya, apa Sehun ada? Aku perlu membicarakan sesuatu dengannya.”

Tentu. Tunggu sebentar!

Setelah Sooyeon menunggu selama beberapa detik, suara pria yang ia cintai pun terdengar. Dia terdengar sangat panik.

Sooyeon, kau baik-baik saja di sana? Apa Joonmyun hyung menyakitimu? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk kepadamu? Katakan padaku!

Sooyeon tersenyum tipis. “Anio. Joonmyun-ssi memperlakukanku dengan sangat baik. Dia bahkan memberikanku pekerjaan dan membuatku sibuk sekali. Aku meneleponmu untuk memberitahumu bahwa aku tidak akan bisa menghubungimu atau bertemu denganmu dalam beberapa waktu ke depan. Jangan cemaskan aku. Aku baik-baik saja. Minta maaf lah kepada Joonmyun-ssi untuk pipinya yang lebam itu.”

Sooyeon berdoa Sehun tidak merasakan keganjilan setiap mengucapkan nama Joonmyun dengan canggungnya. Ini pertama kalinya ia menyebut nama pria yang membelinya itu. Dan dia juga berdoa agar Sehun percaya dengan kebohongannya. Setidaknya Sehun tidak akan curiga alasan Sooyeon tidak akan bertemu dengannya lagi di kemudian hari. Dia tidak mau merusak persahabatan antara 2 teman.

Kau bohong, ‘kan? Jika begitu, kenapa dia membelimu?

“Dia menyelamatkanku, Sehun-ah. Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana jika ayahku tidak menjualku kepada Kim Joonmyun? Mungkin ayahku malah menjualku untuk menjadi wanita murahan di kelab-kelab malam. Kau harus berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkan sahabatmu ini~”

Kalau dia berniat untuk menyelamatkanmu, dia tidak perlu menculikmu di hari kelulusan kita, ‘kan?

Sooyeon menggigit bibirnya. Dia mencoba mencari jawaban yang tepat agar Sehun berhenti berpikiran buruk tentang Joonmyun.

Aish, percayalah kepadaku! Sudahlah, aku harus kembali bekerja. Annyeong!”

Tung—

Tut… tut… tut…

Sooyeon menghela napas kasar. Oh Sehun memang manusia paling keras kepala.

***

Joonmyun menggeram ketika mendapatkan pesan dari pelayan yang ia pekerjakan untuk mengawasi Sooyeon. Dia segera keluar dari ruangannya—meninggalkan pekerjaan yang baru berhasil ia selesaikan setengah—menuju ruangan salah satu sahabatnya yang bekerja di perusahaannya.

“Jongdae-ya, aku perlu tahu siapa yang sedang ditelepon oleh Sooyeon lewat telepon apartemenku sekarang. Apa kau sibuk?” pinta Joonmyun ketika sampai di ruang kerja sahabatnya.

Jongdae mendongak sejenak lalu tangannya pun mulai beraksi dengan mouse dan keyboard. Joonmyun menunggu dengan sabar sambil duduk di kursi. Jongdae mengeluarkan suara aneh seperti “Oh..”, “Ah?”, “Okay..” dan lainnya sebelum akhirnya dia berhasil mendapatkan jawaban.

“Dia menelepon rumah Sehun,” jawab Jongdae.

Rahang Joonmyun mengeras. “Apa Sehun berada di rumahnya sekarang?”

“Seharusnya Sehun sudah pulang setelah menyerahkan aplikasinya untuk kuliah,” jawab Jongdae sambil mengusap dagu.

“Kau tidak akan bisa memisahkan dua sahabat dengan mudah, Joonmyun-ah. Terlebih kau memakai cara yang salah.”

Jongdae dan Joonmyun menoleh ke arah pintu saat mendengar suara yang tidak asing. Di sana terlihat Dana sedang menatap kedua pria itu tanpa ekspresi yang berarti.

Joonmyun tertawa singkat. “Kau bilang Kim Joonmyun salah?”

“Kau salah karena memakai cara ini. Kau membeli Sooyeon sama saja kau menghina Tuhan. Tidak seorang pun dapat membeli manusia, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Karena itu, jalanmu tidak akan mudah. Menyerah lah sebelum kau terluka,” jawab Dana.

Joonmyun menggertakkan gigi dan tersenyum dingin. “Aku akan selalu menang.”

Dana tersenyum manis. “Itu lah kenapa Sehun membencimu. Karena kau berbeda dengan apa yang dipikirkannya selama ini.”

Noona, kenapa kau ada di sini?” tanya Jongdae, mencoba untuk mencegah terjadinya perdebatan di antara dua manusia itu.

“Aku?” Dana menunjukkan dirinya. “Hanya bermain-main sebelum persidangan besok. Jongdae-ya, aku lapar. Traktir aku makan siang!”

Jongdae menghela napas seraya merapikan dokumen-dokumennya. Permintaan dari seorang Dana adalah perintah yang wajib dilakukan atau kau akan menyesal. Itu adalah aturan tetap.

***

Sooyeon menggerutu kesal ketika mendengar suara Joonmyun. Pria itu sudah pulang. 10 jam tanpa Joonmyun yang begitu berarti milik Sooyeon sudah habis. Kenapa waktu yang indah cepat sekali berlalu?

“Aku dengar kau pintar memasak, Sooyeon-ah,” seru Joonmyun ketika dia duduk di samping Sooyeon.

Sooyeon tersenyum kecut. “Hm, tidak juga. Aku hanya terbiasa masak sejak ibuku kabur dari rumah.”

“Bagaimana kalau kita masak bersama? Aku baru saja membeli banyak bahan masakan,” ajak Joonmyun.

Sooyeon menggeleng. “Tidak tertarik.”

“Ayolah~”

Joonmyun menarik paksa Sooyeon menuju dapur. Di sana, 2 pelayan itu sedang mengatur tempat untuk belanjaan Joonmyun. Seorang pelayan menghentikan pekerjaannya sejenak untuk mengambil 2 celemek untuk Sooyeon dan Joonmyun. Setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka, kedua pelayan itu pun pergi.

“Apa yang ingin kau masak?” tanya Joonmyun.

“Tidak ada.”

“Ayolah, pasti kau ingin sesuatu, ‘kan?”

Sooyeon merengut kesal. “Aku malas.”

Sooyeon meletakkan celemek yang ia pegang sedari tadi di atas meja dapur lalu berbalik badan, hendak pergi meninggalkan tempat itu.

“Aku perintahkan kau untuk masak bersamaku!” tegas Joonmyun sambil memakai celemeknya.

Spontan Sooyeon mendesis kesal seraya berbalik ke tempatnya berdiri tadi. Joonmyun mempunyai titik kelemahannya. Menyebalkan, bukan? Mau tak mau, Sooyeon pun setuju. Pria itu tersenyum senang. Dia mengambil celemek di atas meja dapur itu dan memakaikannya kepada Sooyeon.

“Maaf harus menguncimu di apartemen ini. Aku tidak mau kau berhubungan dengan Sehun lagi,” gumam Joonmyun sambil mengiris daun bawang. “Jangan tanya mengapa,” sergahnya cepat ketika melihat Sooyeon hendak membuka mulut.

Sooyeon tersenyum paksa. “Tidak apa- apa. Lagipula, sebenarnya aku memakai teleponmu hari ini.”

Joonmyun memejamkan matanya erat. Dia sendiri yang memancing Sooyeon ke dalam topik ini. Dia pikir Sooyeon akan berbohong. Ternyata perkiraannya salah.

“Aku memakai teleponmu untuk—“

“Ah, kau bersihkan wortel ini!” seru Joonmyun sembari memberikan Sooyeon sekantong wortel.

Sooyeon menerimanya dan mulai mengerjakan tugasnya. “Aku tahu kau akan marah jika tahu alasan aku menggunakan teleponmu. Tapi aku—“

“Kentang ini juga!”

Sooyeon mendelik kesal. Apa Joonmyun mendengarkan kata-katanya?

“Joonmyun-ssi, aku sedang berusaha jujur! Kenapa kau—“

“Kerjaanmu lama sekali!” Joonmyun kembali menyela. “Biar aku saja yang mengupas kentang.”

“Joonmyun-ssi!” bentak Sooyeon.

Deru napas Sooyeon sangat cepat akibat emosinya yang meledak karena Joonmyun tidak mendengarkannya. Joonmyun pun tidak mengatakan apapun. Dia menggenggam pisaunya kuat.

“Jangan membuatku marah, Jung Sooyeon..” tekan Joonmyun lalu mengambil sebuah kentang.

“Tapi—“

“Apa susahnya kau diam saja dan simpan hal itu sebagai rahasiamu? Atau kau bisa menutupinya dengan kebohongan. Apa kau begitu senang melihatku dan Sehun bertengkar karenamu?”

“B-bukan itu mak—“

“Anggap saja kau tidak meneleponnya siang ini. Dan kalaupun kau tetap ingin berpikir kau meneleponnya siang ini, anggap itu adalah rahasia pribadimu. Apa itu terlalu sulit?”

Sooyeon terkejut Joonmyun tahu dirinya menelepon Sehun. Dia terkejut pria itu tahu segala hal. Akan tetapi, dia tidak mengerti. Saat semua orang sibuk mengatakan bahwa jujur tapi menyakitkan jauh lebih baik daripada kebohongan, Joonmyun malah mengharapkannya berbohong. Sooyeon sungguh tidak mengerti jalan pikir Joonmyun.

Sooyeon menggertakkan giginya kesal. “Apa terlalu sulit untuk menerima kenyataan? Maaf, tapi aku tidak terbiasa berbohong. Aku hanya ingin kau tahu, aku memberitahukanmu ini karena aku menghormatimu! Apa terlalu sulit untuk menerima kejujuran?”

“Jung Sooyeon!”

Sooyeon terlonjak kaget. Tubuhnya merinding saat mendengar suara Joonmyun meninggi.

“Jangan.. membuatku marah..” tekan Joonmyun sekali lagi.

Kini Sooyeon mengangguk.

“Baiklah, sampai dimana kita?” seru Joonmyun dengan suara ceria.

Sooyeon tidak menjawab. Walaupun suara Joonmyun terdengar ceria, dia masih bisa melihat aura suram pria itu. Dengan langkah goyah, Sooyeon menghampiri Joonmyun yang kembali asik dengan kentangnya lalu memegang tangan kiri Joonmyun dengan kedua tangannya.

“Maafkan aku..” gumam Sooyeon.

Joonmyun melepaskan kedua tangan Sooyeon seraya menjauh. Dia melepaskan celemeknya.

“Aku akan menelepon Kyungsoo untuk mempersiapkan makan malam untuk kita. Silahkan ganti baju. Aku menunggumu di ruang tamu,” kata Joonmyun sebelum meninggalkan Sooyeon sendiri di dapur.

***

Joonmyun membawanya ke sebuah restoran dengan desain tradisional milik Kyungsoo. Mereka menempati sebuah bilik jauh di dalam restoran tersebut. Di sana terdapat sebuah meja yang sudah ditata cantik.

“Aku menolak pelanggan setiaku hanya untukmu. Berterima kasihlah padaku,” canda Kyungsoo setelah Joonmyun dan Sooyeon di kursi mereka.

Joonmyun tersenyum. “Aku akan memberikan tips yang banyak untuk pelayanmu. Tenang saja. Kau boleh pergi sekarang.”

“Baiklah. Tapi jangan melakukan hal senonoh di sini, ya!” peringat Kyungsoo.

Sooyeon menunduk mendengarnya. Kata-kata itu membuatnya takut walaupun niat Kyungsoo hanya untuk becanda. Kyungsoo tersenyum geli melihat betapa tegangnya gadis itu. Dia segera meninggalkan dua orang itu sebelum dia tidak bisa menahan hasrat untuk menggoda Sooyeon lebih lanjut.

“Kyungsoo hanya becanda,” ujar Joonmyun.

Sooyeon mengangguk kaku.

Joonmyun menghela napas. “Makanlah makananmu. Kita tidak punya waktu banyak di sini. Aku masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan.”

Sooyeon kembali mengangguk kaku.

“Dengar, aku minta maaf sudah membentakmu.”

Sooyeon menatap Joonmyun bingung. Dia tidak menyangka majikannya akan meminta maaf kepadanya.

“Lain kali, katakan hal yang ku minta kau katakan. Jika aku tidak menyuruhmu untuk mengatakannya, jangan katakan. Jangan membuatku marah. Apa kau mengerti?”

Sooyeon mengangguk.

Joonmyun ikut mengangguk. “Bagus.”

=== Only Because It’s You ===

Maaf untuk typo.

88 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 2

  1. Kyaaaaa……… suho udah mlai jinak/? Di chapter ini🙂
    Sica knpa kmu gak buat mrah suho? Biar dcium lagi # modus kekkekeke ~

    Author nim fighting🙂

  2. ini sooyeon diculik atau pindah rumah sih -_-
    maksud perkataan sehun ‘dua kali‘ apa mungkin ahyoung itu pacar sehun yg diambil joon myun? hmm…
    kata maaf emang salah ya? sampe buat JM marah
    daebak!!

  3. Tunggu, menyakiti dua kali sehun bilang? Apa ini ada hubungannya sama Kim Ah Young? Yang Sehun sebut di chapter1? Kalo iya, siapa Kim ah young disini? Dan kemana dia sekarang? Hmm menarik.
    Suho gak suka kejujuran? Apa selama ini dia hidup dalam kebohongan?
    Dana bilang, berhenti sebelum suho tersakiti? Bukannya Sica yg sekarang tersakiti?
    ㅋㅋㅋ~ aku menumpahkan bbrp pertanyaan di chapter ini, dan kyknya ga ada yg berniat ngelaporin mengingat Suho ke polisi ya?😄 mengingat sica dijadiin ‘budak’ yang istimewa, aku ikhlas lah kalo kayak gitu, eh tapi gimana dengan sehun? AKu lanjut baca chapter3nya

  4. ya ampun joonmyun oppa egois bgt…aneh lagi ckckcck pngen di cincang t org hishhhh yg sbar ya sica eonni#pukpuk
    hehehehe
    baguss eon semoga ide cerita nya mkin byk
    keep writing ya

  5. 2 kali menyakiti sehun, itu apa ya maksud nya?. apa kim ahyoung itu pernah pnya hubungan sama sehun. suho kyanya enda jht2 bgt sama sica, sica diperlakukan seperti bukan budak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s