Oneshoot—Did you forget?

did-you-forget

Jessica Jung—Xi Luhan—Wu Yifan—Choi Sooyoung

Fwld or Gebil storyline

Romantic&Friendship

G

Warning! Cerita terlalu di paksakan, typo ada dimana-mana. Waspadalah!

Credit poster http://putryladena.wordpress.com/

***

“Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau harus bersiap-siap untuk tersakiti lebih dalam”—Jessica Jung

***

Pagi. Matahari sudah menyambutku, jauh sebelum aku membuka mata. Burung-burung sudah bernyanyi merdu, jauh sebelum aku menggumamkan doa di pagi ini. Embun pagi sudah lebih dulu menatapku, jauh sebelum aku tersenyum padanya hari ini.

 

Baru kali ini aku bangun sepagi ini. Dan aku mengambil kesimpulan, bahwa ternyata pagi terlalu berharga untuk kulewati hanya dengan terlelap.

 

Dengan perlahan, aku keluar dari kamar. Menatap seorang pria yang masih menelusuri alam mimpi diatas sofa hitamku. Wajah sinisnya tampak sangat polos ketika tertidur.

 

Entah keberanian darimana, aku menghampirinya. Punggung tangan kananku mengusap kedua pipinya secara bergantian. Aku tidak tahu harus seberapa banyaknya berterima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkannya dalam kehidupanku.

 

Biasanya, dia yang rela bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan. Namun kali ini, aku yang harus berusaha membuatkannya secangkir kopi untuk mengawali hari. Meskipun aku tidak bisa memasak, setidaknya aku bisa menyeduh satu sachet kopi instan kesukaan kami.

 

Baru saja aku selesai menyeduh kopi hitam ini, aku sudah merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangku. Lalu kepalanya bersandar dibahuku. Dan adegan terakhir, mengecup pipiku lembut. Ucapan selamat pagi yang tidak tersurat.

 

Aku tersenyum simpul saat ia melepaskan pelukannya dan menuju ke meja makan yang memiliki 3 kursi.

 

“Selamat pagi” kudentingkan sendok yang dipakai untuk mengaduk ke cangkir kopi. Dan menyerahkannya ke atas meja.

 

Dia tertawa kecil dan meraihnya, “Terima kasih”

 

Kami tenggelam dalam sunyi yang membawa ketenangan, sampai akhirnya aku bersuara, “Nanti kita pergi kan, jam 10?”

 

Pandangannya yang tadi menatap layar ponselnya dengan lekat kini menatapku, “P-pergi?”

 

“Iya, pergi. Hari ini genap 1 tahun hubungan kita. Tidakkah kau ingat?” mungkin saja dia lupa, jadi aku berusaha mengingatkannya.

 

“Ah, mianhae. Aku tidak bisa”

 

Aku memasang ekspresi sekecewa mungkin. Bagaimana bisa dia tidak ada disampingku, terutama disaat genapnya satu tahun hubungan kami? Namun aku tidak boleh egois, mungkin ada urusan yang lebih penting dibandingkan aku.

 

“Sica-ya, Gwaenchanha?” kini gilirannya yang meyakinkanku. Sebisa mungkin aku tersenyum untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Padahal ada segenap perasaan terluka, karena kecewa dia mendadak membatalkan acara kami.

 

***

Baru saja Kris meninggalkanku selama 3 jam tapi aku sudah merasa sangat bosan. Padahal sebenarnya sekarang ada acara tv favoriteku. Tapi entah kenapa semua terasa menjadi menyebalkan hanya karena moodku yang sangat berantakan.

 

Satu botol jus sudah habis kutenggak, 3 bungkus snack ringan dapat kulahap sambil menonton televisi. Dan, ah stock ice creamku rupanya sudah habis. Lebih baik sekarang aku pergi ke cafe favorite Kris.

 

Memang, menu ice cream disana tidak sebanyak menu di kedai ice cream langgananku. Tapi, ice cream di cafe favorite Kris memiliki rasa yang sangat lezat. Bahkan aku tidak bisa hanya mengambil 1 porsi ice cream.

 

Kuraih jaket cokelat muda pemberian sahabatku—Xi Luhan—yang bertengger manis didekat pintu masuk. Sepertinya aku benar-benar akan pergi ke cafe tersebut. Daripada harus tenggelam akan kebosanan dan kekesalan.

 

Sepanjang jalan, aku hanya mengeratkan jaket atau meletakkan telapak tanganku di dalam saku yang ada di jaket tersebut. Pemandangan disini terlalu membosankan. Bahkan ini tidak terasa seperti musim gugur sama sekali, karena daun-daun yang berguguran langsung disapu oleh petugas kebersihan kota. Hanya hembusan angin yang terasa lebih kencang dari biasanyalah yang membuatku percaya bahwa ini benar-benar musim gugur.

 

Toko-toko pakaian sudah mulai merilis busana musim gugur terbaru mereka. Ah, modelnya benar-benar menggiurkan. Nanti malam aku akan mengajak Kris untuk menemaniku belanja. Lambat laun, waktu berlalu dan langkah telah membawaku memasuki cafe La Penta, cafe favorite Kris.

 

“Eoseo oseyo” sapa salah satu pegawai perempuan dengan eyesmilenya yang membuat dirinya tampak sangat manis dan ramah. Rambutnya disanggul agar seragam dengan pegawai perempuan lainnya. Memang posisinya sebagai penyambut tamu.

 

Pandanganku menyapu seisi cafe, mencari tempat yang kosong. Sudut kanan sepertinya tempat yang baik. Secangkir iced americano dan satu porsi ice cream rasa cokelat menemaniku. Meskipun udara diluar terasa dingin, tetapi aku tetap saja mengkonsumsi makanan dan minuman yang dingin. That’s why i called as an ice princess.

 

Disela-sela sedang menikmati pesananku yang telah dihidangkan beberapa menit yang lalu, ponsel putih milikku dengan gantungan dari Kris itu berdering.

 

Geez, Xi Luhan.

 

“Sica-ya!~” suara teriakan dari seberang sana membuatku menjauhkan ponsel tersebut sekitar 5cm dari telingaku.

 

“Ne, Luhan-ah. Ige mwoya?” balasku dengan nada yang benar-benar tak bersemangat.

 

“Kau ada dimana?”

 

Aku bisa membaca pikirannya. Dia pasti ingin menghampiriku, andwae. Bisa-bisa dia terus mengoceh melihat keadaanku yang terus berdiam diri. Tetapi, dalam kondisi seperti ini aku membutuhkannya. Setidaknya, siapa tahu dia membawa cerita lucu yang bisa menaikkan moodku.

 

“La Penta. Kenapa?”

 

“Bagaimana kalau kita ke bukit? Aku akan menjemputmu” nada bicaranya terdengar mulai tergesa-gesa. Sepertinya dia sedang berjalan ke arah sini.

 

“Tidak. Aku mau disini saja” elakku mendengar tawarannya.

 

“Jangan menolak ajakanku. Kris sedang pergi, kan? Ayolah”

 

Bagaimana dia tahu Kris tidak ada disini? Apa Kris yang memberitahunya untuk menemaniku disaat ia tak ada?

 

“Tidak. Aku sudah memesan makanan. Siapa tau—“ lidah seketika terasa kelu saat melihat seorang pria berparas tinggi dengan rambut blonde dengan wajah campuran amerika, Kris?

 

Tunggu. Dia tidak sendiri, bersama seorang perempuan yang memiliki rambut panjang dengan warna cokelat. Mata yang besar dan memiliki tinggi yang tidak jauh berbeda dengan Kris. Dan mereka, bergandengan-tangan sambil tertawa bahagia.

 

Satu goresan luka baru di lubuk hatiku.

 

Ku rogoh saku jaket, berusaha mencari masker yang seingatku, ku simpan di dalamnya. Mereka duduk tepat di kursi yang ada didepanku. Dengan posisi duduk Kris yang membelakangiku. Menguping dalam masalah ini bukanlah hal yang buruk.

 

Suara mereka cukup kecil untuk sampai terdengar di telingaku. Hingga hanya tawa renyah mereka dan senyuman sang gadis sajalah yang bisa kutangkap. Tunggu, ini belum berakhir hingga tangan Kris mengacak rambutnya dan mengelap bekas ice cream diujung bibirnya.

 

It’s enough.

 

Aku bangkit dari dudukku dengan air mata yang berusaha kutahan di pelupuk mata. Tekadku sudah bulat untuk menghampiri mereka dan menanyakan kepastian tentang hubungan mereka. Namun sial, ada sebuah tangan yang menahanku untuk melakukannya.

 

Xi Luhan.

 

“Sica-ya. Ini dimuka umum, kau mau mempermalukannya?” bisiknya karena dia pasti tahu apa yang akan kulakukan.

 

Aku menatap matanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan aku sudah terlalu murka untuk mengeluarkan sepatah katapun. Aku melepaskan tangannya dan pergi kehadapan Kris.

 

Air mukanya langsung berubah saat menatap kehadiranku.

 

“Jess…” mulutnya ternganga saat meihat wujudku dihadapannya.

 

“Oh that’s the reason why you don’t want to celebrate our anniversarry, Kris” aku membuka masker yang kukenakan

 

“Jess, dengarkan aku” ekspresinya panik saat mendengarku sudah berbahasa Inggris. Biasanya kami menggunakan bahasa inggris hanya jika aku sedang marah.

 

“You don’t have to tell anything. I won’t understand what do you mean. Because i’m a stupid girl, don’t i?” setetes air mata terasa membasahi pipiku.

 

“Jess, please. Just give me—“

 

“I don’t want to hear any word from a bstrd mouth”

 

Bahkan matanya tak berkedip saat aku mengeluarkan kata kasar padanya. Karena baru pertama kali ini aku mengeluarkan kata yg seperti itu kepadanya.

Aku membalikkan tubuhku dan hendak melangkah pergi. Tunggu, ada yang belum kusampaikan padanya.

 

“Oh, and from now till forever don’t ever call me babe or honey or whatever. Because we alreade broke up. You such a good jerk, Kris”

 

Aku mendengar suara teriakannya memanggil namaku dari dalam cafe, dan tatapan dari pengunjung. But, who care? Aku membencinya.

 

***

Ucapan hanyalah sekedar ucapan. Sesungguhnya, aku masih seorang perempuan yang lemah dan mudah tersakiti. Bahwa aku tidak perduli dengannya atau apapun, itu semua bohong. Aku hanya terlalu kecewa untuk mengakui bahwa aku masih sangat mencintainya.

 

Apa dia lupa dengan perkataannya selama ini?
Apa dia lupa dengan janji manis yg dibuatnya untukku?
Apa dia lupa dengan belaian lembutnya yang dia janji hanya dilakukan padaku?
Apa dia lupa dengan waktunya yang akan disisihkan untukku?

 

Apa perempuan itu lebih penting dari peringatan satu tahun hubungan kami?

 

Aku menghela nafas kasar, air mataku sejak tadi tak henti-hentinya berkejaran di pipiku. Bodohnya aku malah ke padang ilalang tempat pertama kali ia menyatakan cintanya padaku.

 

Entah kenapa aku memilih untuk menutup mataku dan merentangkan tanganku. Merasakan terpaan angin musim gugur yang dengan ganas menusukki tulang rusukku. Namun apalah yang lebih sakit dibandingkan dikhianati dihari jadinya sendiri?

 

Sampai sumpah serapah akan keburukan terucap begitu saja dari mulutku yang ditujukan kepaa Kris. Aku bersumpah akan memohon kepada Tuhan untuk melaknatnya karena sudah mengingkari janjinya sendiri.

 

“Sica-ya” suaranya dengan aksen china yang khas membuatku tahu bahwa itu adalah Luhan. Kali ini nada bicaranya tidak ceria seperti biasanya. Mungkin karena melihat kondisi yang seperti ini.

 

Kepalaku menoleh ke arahnya yang kini sudah ada disampingku, “Melihat orang yg kita cintai bahagia bersama orang lain itu menyakitkan ya, Lu?”

 

Dia mengangguk sambil tersenyum.

 

“Apa kau merahasiakan semua ini padaku?” tanyaku padanya dengan suara yg parau.

 

“Rahasia apa?”

 

“Kris dan gadis itu”

 

Dengan senyum simpul di wajahnya, dia meraih bahuku. “Melihatmu sakit membuatku merasa 2 kali jauh lebih sakit”

 

Aku menautkan alisku, bingung akan perkataannya. “Apa semua pria seperti itu?”

 

Dihelanya nafas dan berkata, “Terkadang, ada pria yang berpendapat. Jika kita bisa memiliki dua, kenapa hanya punya satu? Mereka menganggap perempuan adalah mainannya. Hal yg menyenangkan, yg bisa menghiburnya. Jika ada yang lebih dari perempuan pertama, maka dia akan berusaha menjadikan perempuan kedua itu miliknya juga. Terkadang pria serakah akan wanita”

 

Penjelasannya membuat air mataku semakin deras. Jadi selama ini aku hanya dianggap sebuah mainan dan hubungan kami yang berangsur selama 1 tahun hanyalah sebuah permainan?

 

“Jangan terlalu mudah termakan omongan manis pria. Karena kami diberi kelebihan oleh tuhan dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat perempuan mabuk kepayang akan sususan kalimat yang kami sampaikan”

 

Perlahan, diiriingi tawa luka, aku mengangguk mengerti. Ku lirik jam yang melingkar di tanganku, sebentar lagi pukul 10. Tepat 1 tahun yang lalu Kris menyatakan perasaannya padaku. Dan aku, akan melupakan semua kenangan dengannya.

 

“Sica-ya” suara Luhan membuatku mendongakkan kepalaku.

 

“Ini bukanlah sebuah bualan atau gombalan seperti yang tadi kuperingatkan padamu. Bahkan ketulusan bisa dilihat jelas perbedaannya. Dan kau sendiri tahu bahwa aku bukan tipikal pria perayu, bukan?”

 

“Dari awal, ada sepasang mata yang selalu bisa membuat manik mataku tertarik untuk bertemu dengan maniknya. Ada sepasang hidung yang sangat ingin kukecup ujungnya. Ada sebuah bibir yang sangat ingin kulihat senyuman terlukis dari bibir tersebut untukku. Ada seseorang yang selalu membuatku nyaman berada disampingnya dan membuatku bahagia. Meskipun dia seorang yang buruk, karena dia telah mencuri hatiku selama 1 tahun tanpa mau mengembalikannya”

 

“Pesonanya terlalu kuat. Senyumnya terlalu manis. Tatapannya terlalu memikat. Dan aku terlalu lama memendam perasaanku padanya, hingga saat ini. Dihadapannya, aku ingin menghapus dan membuang semua kenangan manis maupun buruk di masa lampaunya bersama mantan kekasihnya. Dan menggantinya denganku, dengan nama Xi Luhan”

 

“Dan tahukah kau siapa gadis itu? Gadis itu adalah gadis blonde dengan suara melengking khas miliknya. Dengan wajah dingin namun tingkah kekanak-kanakannya. Yang selalu mengejekku karena pelafalan bahasa inggris-ku tidak sebaik miliknya. Dan dia adalah seorang Jessica. Seorang Jessica jung”

 

Aku terperangah menahan haru saat mendengar kalimat-kalimat tersebut keluar dengan lancarnya dari mulut Luhan. Inikah yang namanya ketulusan? Bukan sebuah perencanaan kalimat yang pasti akan terbata-bata jika lupa akan teksnya.

 

Kali ini, dia membuatku menangis. Namun mengganti tangisan luka menjadi haru. Tanganku bergetar menutupi bibirku yang mengeluarkan isak. Karena kalimatnya terlalu manis dan terlalu rumit untuk dicerna.

 

Namun satu kesimpulan yang kudapat, dia mencintaiku jauh lebih tulus dibandingkan Kris mencintaiku.

 

Seorang sahabat yang mencintai sahabatnya. Bahkan dia lebih mengerti diriku dan keadaanku dibandingkan Kris.

 

Aku menganggukkan kepalaku, menerima pernyataan kasihnya. Dia tersenyum sambil berkali kali mengerjap tak percaya.

 

Dan pukul 10 pun tiba. Mulai saat ini, aku akan melupakan semua kenanganku dengan Kris. Menggoreskan tinta perlahan demi perlahan untuk menghasilkan cerita cinta yang panjang dan menyenangkan.

 

Bersama Xi Luhan.

43 thoughts on “Oneshoot—Did you forget?

  1. yeayyy sama luhan😀 huhhh kriss jessica yang segitu cantik bangetnya malah disia2in kalo nyesel baru deh tau rasa😀, ehh tapi kata2nya luhan pas nyatain cinta keren BGT😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s