Eternity (Chapter 4)

eternity-psb1

Eternity

Author
pearlshafirablue

| Byun Baekhyun (EXO-K), Jessica Jung (GG), Yoon Bora (Sistar) |
Fantasy, Friendship, Mystery, Romance
Multichapter (3/6), Teen

“All of the characters are God’s and themselves’. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Previous Chapter
1 . 2 . 3

A/N
Hanya sebuah fic lama yang ingin muncul di blog ini, karena nantinya saya akan menge-post sequel-nya di blog ini pula. Pernah di-publish di sini dan di sini.

-o0o-

            “Mau kuantar pulang?” Aku tersenyum hangat sambil menatap Bora yang sedang berdiri di trotoar depan sekolah dengan payung di tangannya. Ia menatapku sebentar. Tatapannya yang dingin tapi penuh pesona itu sukses membuat jantungku nyaris copot.

Ani. Gomawo.” Tolaknya datar—kembali menatap jalanan yang lenggang oleh kendaraan sore itu.

“Ah, ayolah. Hanya sekedar mengantar. Kurang ajar sekali rasanya jika seorang namja sepertiku membiarkan yeoja cantik sepertimu pulang sendirian di tengah guyuran hujan seperti ini.” Ujarkuku—bersikeras. Bora kembali menatapku. Samar-samar, kulihat senyum di wajahnya. Berhasil.

Geurae. Kebetulan daritadi tidak ada taksi lewat.” Jawabnya masih dengan wajah datar. Setidaknya kini tatapannya lebih hangat. Aku tersenyum puas.

Bora mengikutiku menuju mobilku yang kuparkir di belakang sekolah. Aku membukakan pintu untuknya. Aku langsung terkejut saat melihat siapa yang ada di jok belakang.

Annyeong, Baekhyun-ah, Bora-ssi.”

Jessica.

“Ya Tuhan, Jess? Bagaimana kamu bisa ada disana? Bukankah mobilnya sudah kukunci rapat?” Seruku kaget. Jessica tidak membalas pertanyaanku. Matanya masih menatap Bora.

“Wah, tampaknya sudah ada orang lain yang menemanimu pulang, Baekhyun­-ssi. Tampaknya aku harus pulang sendiri.” Ujar Bora dengan penuh penekanan di setiap kata—sambil menatap ke arah Jessica tajam.

“Sayang sekali. Baekhyun akan pulang denganku. Kau tidak bilang kepada nona ini, Baekhyun-ah?” Jessica menatapku seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal beribu pertanyaan siap kulontarkan padanya.

Mwo? Se-sejak kapan aku bilang—”

“Ah, arraseo. Kalau begitu aku pergi dulu, Baekhyun, dan… siapa namamu, eoh?”

“Jessica Jung. Ingat namaku baik-baik, Bora-ssi.” Balas Jessica sambil tersenyum miring. Bora membalasnya dengan tatapan dingin dan langsung beranjak dari tempat itu beberapa detik kemudian.

Jessica melompat dari jok belakang ke arah kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Sementara aku masih melongo tidak sadar dengan apa yang terjadi barusan.

“Kau bisa sakit kalau terus-terusan berada di luar, Baekhyun. Masuklah.” Titahnya. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil.

Aku menginjak gas dan membelah jalanan kota Gyeongju sore itu.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Jess.” Ujarku—beberapa saat kemudian. Jessica yang awalnya memandang keluar kini sudah menoleh ke arahku.

“Penjelasan apa, hm?” Tanyanya polos—seolah-olah yang dilakukannya tadi masih dalam jangkauan kelakuan manusia normal.

“Pertama, bagaimana kau bisa ada di jok belakang mobilku tanpa aku ketahui? Kedua, sejak kapan aku bilang bahwa sore ini aku akan mengantarmu pulang? Dan ketiga, kenapa kau menghancurkan kencanku yang pertama dengan Bora?”

“Kencan kau bilang?” Cibir Jessica meremehkan. “Kau hanya mengantarnya pulang. Tidak lebih.”

“Jawab pertanyaanku, Jess.” Potongku—mengacuhkan cibirannya tadi.

“Aku tidak suka jika kau pergi dengannya, Baekhyun-ah. Hanya itu.” Jawabnya ketus.

“Itu bukan jawaban, Jess.” Protesku. “Bukankah kau pernah bilang kau akan selalu mendukungku berhubungan dengan siapa saja?”

“Tidak untuk kali ini, Baek-ah. Aku tidak suka Yoon Bora. Dan pernyataan itu tidak dapat diganggu gugat.” Ketusnya.

Ne, arraseo,” ucapku mengalah. “Kita lupakan saja pertanyaan kedua dan ketiga. Sekarang permasalahannya adalah bagaimana kau bisa masuk ke mobilku?”

Jessica diam. Kurasa ia sama sekali tidak berniat membalas pertanyaanku karena ia berbalik dan kembali melihat jalanan luar.

“Baiklah. Kalau kau tidak mau menjawabnya aku tidak memaksa.” Kilahku. Andai saja bukan dia yang menyelamatkanku kemaren malam dan tadi siang—saat dipukuli oleh Siwon sunbae—pasti yeoja ini sudah kuturunkan di jalan daritadi.

“Oh iya, by the way, dimana rumahmu? Kau sama sekali tidak pernah membahas soal rumahmu 5 tahun ini, Jess.” Tanyaku. Memang benar, aku sama sekali tidak pernah main ke rumahnya. Padahal dipikir-pikir kami sudah bersama sejak tahun keempat sekolah dasar.

“Turunkan saja aku disini.” Balasnya. Aku terbelalak.

“Kau gila? Tidak mungkin aku menurunkanmu di jalanan seperti ini! Hujan pula! Aku tidak peduli kalau rumahmu masuk gang sempit yang tidak bisa dilalui mobil tapi aku tetap akan mengantarkanmu.” Seruku keras.

“Turunkan aku disini, Baekhyun!” Bentaknya tak kalah keras. Aku terpaksa meminggirkan mobil. “Hujannya juga sudah mulai reda. Rumahku tidak jauh dari sini kok.” Kilahnya sembari membuka pintu mobil. Beberapa tetes air hujan membasahi jok mobilku. “Gomawo, Baekhyun-ah. Hati-hati di jalan.” Ucapnya.

Aku langsung menarik tangannya sebelum ia menutup pintu mobil.

“Apa?” Ia kembali menatapku. Wajahnya sudah dibasahi air hujan.

“Daritadi ada yang kupikirkan.” Ucapku—masih menunduk.

“Tentang apa?” Tanyanya, tanpa berniat masuk ke dalam mobil.

“Apa kau…” Aku menghela nafas panjang. “Cemburu dengan Bora?”

Jessica tersentak kaget. Bisa kurasakan itu dari tangannya yang bergetar hebat.

“Yah, kau tau kan. Aku pernah bercerita padamu kalau aku benar-benar menyukai Bora, bukan sekedar ingin mempermainkannya. Selama ini yeoja yang kupacari hanya untuk kupermainkan, sehingga kau tidak ambil pusing. Mungkin saja dalam kasus ini, kau merasa terusik dengan keberadaan Bora karena menyita perhatianku padamu. Mungkin saja… kau menyukaiku?”

Jessica menarik tangannya yang daritadi kucekal dengan kasar. Ia menatapku tajam.

“Telan omong kosongmu itu, Baekhyun. Jangan harap! Aku memang terusik dengan keberadaan Bora tapi bukan karena aku menyukaimu! Lagipula, sekalipun aku menyukaimu, kita tidak akan pernah bisa bersatu.” Jessica menutup pintu mobil dengan kasar. Aku kembali duduk di kursi mobilku dan menggenggam erat setir kemudi.

Perkataan Jessica yang terakhir tadi, apa maksudnya?

pearlshafirablue®

            “Tumben sekali kau datang, Baek-ah.” Suho hyung melemparkan sebuah apel kepadaku yang langsung kumakan dengan gigitan kecil. Aku memandang ke arah perapian rumah Suho hyung yang terus-terusan bergemeletuk tanda kayu sudah mulai dimakan api. “Kau tidak bilang lagi kalau kemaren kau kecelakaan.”

“Maaf soal itu, hyung.” Balasku masih menatap perapian tersebut dengan tatapan kosong. “Orangtuaku saja tidak sempat kuberitahu.”

Mwo? Geurae?” Suho hyung tampak terkejut mendengar ucapanku. “Pantas saja SIM-mu tidak diambil dan kau masih bisa datang kesini dengan mobil orangtuamu itu.” Tambah Suho hyung sambil melirik ke arah luar—ke arah mobil sport milik orangtuaku. Suho hyung adalah sunbae-ku sejak masih sekolah dasar. Umur kami hanya berselisih 1 tahun. Tapi aku tahu bahwa Suho hyung jauh lebih dewasa dibanding aku. Kami sudah dekat sejak aku kelas 2 sekolah dasar, sebelum aku mengenal Jessica. Sekarang Suho hyung adalah mahasiswa Kyunghee University tahun pertama. Ya, hyung-ku satu ini memang melewati kelas percepatan saat sekolah menengah pertama.

Ne, begitulah.” Balasku sekenanya.

“Jadi,” hyung menggigit apel merahnya. “Apa yang membuatmu datang kesini, Baek-ah?”

Aku menghembuskan nafas panjang. “Aku sedang bingung, hyung.”

“Soal apa? Pelajaran?” Tanya hyung-ku itu spontan sambil duduk di sebelahku. Ne, Suho hyung selain tampan dan baik hati—dia tidak pernah memainkan hati yeoja—juga sangat cerdas. Dia masuk ke Kyunghee University melalui jalur undangan—tanpa tes sama sekali.

“Tentu saja bukan, hyung. Hyung mengejekku?” Cibirku sambil tersenyum kecut ke arahnya. Ia hanya terkekeh.

“Jadi, tentang apa?” Ulangnya. Aku memutar bola mataku bingung.

“Tentang yeoja.”

Tiba-tiba saja hyung langsung tersedak. Ia batuk-batuk sambil mengeluarkan apel yang tadi dimakannya dari mulutnya. Aku memberikan segelas air yang kebetulan ada di meja di depanku. “Minum ini, hyung!”

Setelah meminum air itu beberapa teguk hyung langsung menatapku sarkastis. “Tentang yeoja? Flamboyan sepertimu bisa punya masalah tentang yeoja?”

Aku hanya tersenyum tipis melihat reaksinya itu. Memangnya salah jika aku bermasalah dengan yeoja?

“Ceritalah, Baek-ah. Hyung akan mendengarkan.” Kini Suho hyung sudah memutar badannya menghadapku.

“Entahlah, hyung. Aku sendiri bingung dengan apa yang ingin kuceritakan. Masalahku terlalu banyak akhir-akhir ini.” Tuturku lirih. “Ada 2 orang yeoja yang kusayang—dan dua-duanya bukanlah yeojachingu­-ku—dan belum saling mengenal, tapi sudah saling benci…”

“Terus?” Suho hyung mendengarkan dengan atusias. “Bukan urusanmu kan?”

“Memang bukan, tapi yeoja pertama—yang notabene adalah sahabatku sejak kecil—menyuruhku menjauhi yeoja kedua. Sedangkan yeoja kedua adalah orang yang kucintai. Yeoja kedua juga menyuruhku menjauhi yeoja pertama jika ingin berhubungan dengannya. Mendapatkannya itu sangat sulit. Dia seperti kulkas berjalan. Dingin, cuek, datar.” Lanjutku. “Aku tidak mungkin menjauhi yeoja kedua, tentu saja, karena dia orang yang kucintai. Tapi aku juga tidak mungkin menjauhi yeoja pertama. Selama 5 tahun ini dialah sahabatku. Orang yang paling dekat denganku.”

Yeoja pertama itu… Jessica, eoh?” Terka Suho hyung yang langsung mendapat anggukan dariku.

“Dan selain masalah itu, akhir-akhir ini aku dihujani kesialan. Aku dihantui oleh yeoja yang kucampakkan seminggu yang lalu—yang sekarang sudah meninggal.” Tambahku sendu.

“Choi Sulli ya? Yang bunuh diri di sekolahmu kemaren?”

N-ne. Bagaimana hyung bisa tahu?” Tanyaku terkejut. Apa berita ini sudah menyebar di seluruh Seoul? Argh, aku semakin malu saja kalau begini caranya.

“Kemaren Sehun menelponku dan memberitahu hal ini. Makanya aku ingin menyuruhmu datang besok—untuk mengonfirmasi hal itu. Tapi ternyata kau sudah datang hari ini.” Jelas Suho hyung. Omong-omong Sehun satu angkatan denganku dulu di sekolah dasar. Aku, Suho hyung dan dia sering bermain bersama dulu.

“Ternyata beritanya sudah menyebar kemana-mana ya.” Ucapku frustasi.

“Sejak kapan Choi Sulli menghantuimu, Baek-ah?” Tanya Suho hyung.

“Kalau tidak salah, beberapa hari—mungkin sekitar 5 hari—setelah dia meninggal, hyung.” Jawabku seadanya. Hyung mengangguk-ngangguk mengerti.

“Kurasa jika ia memang dendam padamu seharusnya ia menghantuimu sejak hari kematiannya. Apakah kau tidak merasakan ada hal yang spesifik di hari dimana Sulli mulai menghantuimu? Mungkin kau menginjak kuburannya pada hari itu, hm?”

“Tidak mungkinlah, hyung!” Protesku sebal. Aku mengingat-ngingat apa yang terjadi pada hari itu. Satu-satunya yang spesifik dan tidak ada di hari lainnya adalah…

Kedatangan Bora.

“Kenapa, Baekhyun?” Tanya Suho hyung saat melihat perubahan ekspresi di wajahku. Aku menatapnya dengan semburat takut di wajahku.

“Pada hari itu, Yoon Bora—yeoja yang kucintai sekarang—masuk ke sekolahku, hyung.” Tuturku pelan—tapi jelas. Hyung membulatkan matanya.

“Kau yakin ini berhubungan, Baek-ah?” Tanya Suho hyung. “Mungkin hanya kebetulan.”

“Bisa jadi, sih.” Balasku menanggapi. Bodohnya aku, tidak mungkin Bora dibalik semua mimpi burukku. Pasti ada hal lain. Ayo Baekhyun, ingat-ingat…

“Dan soal masalahmu yang pertama…” Suho hyung kembali bersuara. “Mungkin Jessica dan Yoon Bora satu sekolah dulu, dan mereka saling bermusuhan. Sehingga mungkin saja rasa benci mereka masih tertanam sampai sekarang.” Ujarnya.

“Kelihatannya memang begitu, hyung. Mereka saling menatap seolah-olah mereka pernah kenal pada zaman yang lain. Tapi kan aku dan Jessica sejak sekolah dasar selalu bersama-sama. Dan seingatku dulu tidak ada murid yang bernama Yoon Bora. Dan sekalipun mereka berdua kenal ketika masih di taman kanak-kanak, tidak mungkin mereka menanam rasa benci itu sampai selama ini. Tidak mungkin sejak sekecil itu mereka sudah mengerti arti benci.” Jelasku.

“Benar juga ya.” Suho hyung manggut-manggut sambil memutar kedua bola matanya. “Jadi, menurutmu, apa yang membuat mereka seperti itu?”

“Entahlah. Aku benar-benar tidak punya gambaran, hyung.” Ujarku lirih sambil menggigit apelku. Sudah kuduga, tidak ada yang bisa memecahkan masalah ini kecuali diriku sendiri.

pearlshafirablue®

            “Jessica, ayolah. Jangan marah seperti ini. Yang tadi itu bukan kehendakku.” Aku menggoyang-goyangkan bahu Jessica yang daritadi hanya cuek sambil menatap buku matematika di depannya. Aku yakin dia sama sekali tidak membaca buku itu karena daritadi ia hanya membolak-balik halamannya tak menentu.

“Aku tidak marah kok. Siapa bilang.” Ucapnya ketus.

“Kau tidak bisa berbohong kepada ku, Jessica Jung. Ayolah, masalah kecil seperti ini saja kau ributkan. Lagipula tidak ada salahnya kan sekali-kali kita tidak dalam grup yang sama? Jangan overprotective seperti itu, Jess.” Lanjutku sambil menatapnya sebal. Ia langsung balik menoleh ke arahku.

“Siapa yang kau bilang overprotective itu, huh? Sudah kubilang aku tidak marah! Aku hanya tidak suka kau satu grup dengan yeoja brengsek itu. Aku sudah bilang kan?!” Serunya kasar.

“Tapi itu bukan kemauanku, Jessi-ya. Park seongsaenim-lah yang menunjuk Bora supaya jadi pasanganku. Bukan aku.” Ujarku berusaha lembut—meskipun sebenarnya aku sedikit tidak suka Bora dipanggil ‘yeoja brengsek’ oleh Jessica.

“Tapi kenapa kau tidak protes saat Park seongsaenim memberikan kesempatan untuk menukar pasangan, eoh? Bilang saja kau sebenarnya suka kan?” Bantah Jessica keras. Dia memang benar. Ketika seongsaenim menunjuk Bora sebagai pasanganku, hatiku langsung berbunga-bunga, dan aku sama sekali tidak punya niatan untuk mengganti pasanganku—meskipun aku tahu saat itu aku tak henti-hentinya dipelototi oleh Jessica.

“Nah, kau tidak bisa jawab kan? Sudah kuduga kau tidak pernah mendengarkanku, Baekhyun-ah.” Ketusnya sambil kembali menatap buku matematika di hadapannya.

Aku hanya diam sambil menyeruput es teh di depanku. Aku sudah lelah berhadapan dengan yeoja monster ini. Aku tidak pernah bisa membantah larangannya—karena dia sudah berkali-kali menyelamatkanku dari marabahaya. Dan aku tidak pernah berlaku sebaliknya. Padahal aku yeoja dan dia namja. Kutatap dia dengan tatapan sendu.

“Jess,” panggilku pelan. Aku tahu dia tidak akan menoleh, tapi aku tetap melanjutkan, “kenapa kau begitu membenci Bora? Kenapa kau melarangku mendekatinya? Jika kau tidak cemburu, apa alasannya?” Aku menatapnya, berusaha membuatnya menoleh ke arahku. Tapi kurasa aku gagal.

“Sudah kubilangkan, aku tidak suka dengannya. Hanya itu.” Jawabnya singkat—tanpa menoleh ke arahku tentunya.

Ne, arraseo. Geundae… waeyo?” Tanyaku lagi. Kini dia menoleh ke arahku.

“Karena selama ini dialah yang membuatmu sial, Baekhyun-ah. Dialah dalang dibalik kecelakaanmu, mimpi burukmu, dan semua kesialanmu belakangan ini. Termasuk kasus perampokan di rumahmu kemarin.”

Aku terkejut mendengar argumen tak beralasannya itu. Memang benar, kemarin, saat aku pulang dari rumah Suho hyung, aku dapat kabar dari bibi pengurus rumahku bahwa rumahku telah dirampok. Dan untungnya ia selamat. Meskipun hampir seluruh isi ruang tamuku dibobol habis.

Dan… Jessica bilang kalau ini ulah Bora? Termasuk kesialanku yang lain? Tidak mungkin.

“Jangan sembarangan bicara, Jessica-ya. Tidak mungkin Bora yang melakukannya. Atas dasar apa? Dan mungkin dalam kasus seperti perampokan atau kecelakaanku kemarin masih masuk akal. Tapi dalam mimpi burukku? Dia pelakunya? Astaga, kau terlalu banyak baca novel, Jess.” Bantahku kesal. Semakin lama yeoja ini semakin menyebalkan.

“Aku memang belum bisa membuktikannya padamu, Baek-ah. Tapi percayalah, mahkluk itu yang melakukannya.” Ujarnya bersikeras dengan penuh penekanan di kata ‘mahkluk’. Meskipun aku belum menangkap apa maksudnya. “Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentangnya, Baekhyun-ah.”

So? Apakah kau tahu banyak tentangnya, huh? Dia anak baru, Jess, dan aku yakin tak satupun diantara kita yang tahu seluk beluknya. Apa mungkin kau sudah pernah mengenalnya?!” Seruku marah. Kesabaranku mulai habis.

“Memang belum, Baek-ah. Tapi aku—”

“Lantas, bagaimana kau bisa tahu banyak hal tentangnya jika kau belum mengenalnya, Jess?! Apa kau menguntitnya?! Atau kau hanya mengarang hal ini?!” Bentakku keras. Kini seisi kantin sudah melihat ke arah kami. But, I don’t care. Yeoja sok tahu ini harus diberi pelajaran.

“Baekhyun! Keep calm! Aku memang tahu semuanya!” Jessica ikut berdiri dan membentakku.

“Jangan pura-pura, Jessica. Sudah kuduga, kurasa kau menyukaiku dan keberadaanmu terusik dengan datangnya Bora di kehidupanku. Jika kau memang suka padaku bersainglah secara sehat dengan Bora, Jess! Jangan mengarang-ngarang cerita konyol seperti ini! Asal kau tahu aku tidak akan percaya!” Hardikku keras. “Percuma saja selama ini aku mempertahankanmu! Kau sudah keterlaluan, Jess. Memfitnah orang, menghancurkan kencanku, mengadudombaku… kini aku tidak mau lagi mendengarkanmu!”

Jessica langsung memasang tampang terkejut, dan beberapa detik kemudian bisa kurasakan wajahnya memerah. “Semua hal itu aku lakukan demi kebaikanmu! Dan jangan sok tahu soal perasaanku, Baek-ah! Kau tidak tahu apa-apa! Banyak hal tentangku yang sama sekali kau tidak tahu! Jangan samakan aku dengan yeoja rendahan seperti itu, Baekhyun.” Ucapnya menahan tangis. “Kurasa, mulai detik ini kau bisa menentukan pilihan hidupmu sendiri. Tanpa bantuanku. Dan jangan panggil aku saat kau butuh.” Jessica mengambil jaketnya yang tersampir di meja kantin dan buku matematikanya. Kemudian, ia menatapku sinis. “Annyeong, Baekhyun-ssi. Semoga harimu menyenangkan.” Ujarnya sembari pergi dari hadapanku. Aku menatap punggungnya dari kejauhan sambil menahan marah.

Tanpa kuketahui, seseorang tersenyum penuh kemenangan saat pertengkaran kami usai.

.to be continued.

.

.

.

YEAAY AKHIRNYA BISA UPDATE LAGI!
Gimana chapter ini? Kependekan? Atau tambah aneh/.\
Hehe bagi yang belum ngerti ditahan dulu ya pertanyaannya dan dapatkan jawabannya di next chapter xD
DON’T FORGET TO LEAVE ANY COMMENTS!

23 thoughts on “Eternity (Chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s