[Freelance] Our Moment – A Step Closer

Title : Our Moment – A Step Closer

Author : V-Signed

Rating : PG-15

Length : Ficlet

Genre : Romance, Friendship, AU

Main Cast : Jessica Jung, Xi Luhan

Support Cast : Xi Lihua (OC), etc.

Disclaimer :

THIS FANFIC IS ORIGINALLY MADE BY ME, DON’T BE PLAGIATOR PLEASE. ENJOY~

Baca chapter sebelumnya ya😀

Unpredictable You

 

Di sebuah lorong universitas yang sibuk itu nampak sesosok gadis tengah menenteng tas dan beberapa lembar kertas di tangan kirinya. Sedangkan tangan lainnya menggenggam segelas ice coffee keluaran Starbuck dan sesekali meneguknya untuk menghilangkan kantuk yang sedari tadi menyergapnya. Oh, itu Jessica. Gadis itu cukup, err… berantakan pagi itu.

Dengan mata panda dan rambut yang agak acak-acakan, ia tetap melangkah dengan cueknya. Tak peduli pada mahasiswa lain yang tengah menatapnya dengan pandangan keheranan ataupun mencemooh, yang ada dipikirannya hanyalah mengumpulkan tugasnya dan pulang untuk tidur. Ya, kumpulkan dan pulang! batin Jessica berkali-kali.

Setelah berjalan menelusuri lorong kampusnya, sampailah ia di depan ruang dosen Kang.

Jessica menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Gadis itu sudah pasti siap menghadapi segala macam respon mengenai tugasnya kali itu. Ya, respon baik maupun buruk. Ia sudah tak terlalu peduli, yang ada di pikirannya hanyalah kasur empuk yang tengah kesepian sejak kemarin malam.

Jessica mengetuk pintu itu perlahan. Setelah mendapat jawaban dari dosennya untuk masuk, ia pun membuka kenop pintu perlahan dan mendapati dosen Kang tengah memeriksa tugas lain. Diakuinya, ia gugup saat itu. Dosen itu perfeksionis, suka menyindir, yah.. walau diakuinya, dosen Kang tak pernah pelit soal nilai.

“Annyeong haseyo, Kang seonsaengnim” sapa Jessica sehalus mungkin, takut memberi kesan buruk pada dosen Kang.

“Hm, annyeong haseyo, nona Jung. Duduklah, biar ku cek tugasmu,” jawab dosen Kang sembari menaikkan kacamata yang bertengger di hidungnya.

Jessica memberikan lembar kerjanya dengan hati tak menentu, ia benar-benar gugup. Mata pelajaran dosen Kang tak pernah mudah baginya, dan itu membuat Jessica frustasi.

Dosen Kang membacanya perlahan, ia hapal betul Jessica Jung. Gadis itu lemah dalam mata kuliahnya, ia sudah menyiapkan rentetan kalimat yang perlu diucapkannya pada gadis Jung itu. Alih-alih selesai membaca lembar milik Jessica, dosen itu mendongakkan kepalanya lalu menatap Jessica dengan alis bertautan.

“Apa kau sudah yakin ini benar, nona Jung?,” tanya dosen Kang dengan nada datar.

Jessica gelagapan, tak tahu harus menjawab apa. Ia bukan tipikal gadis yang percaya diri, apalagi soal mata kuliah pria di hadapannya itu. Setahunya, ia mengerjakan tugas itu sebisanya. Ya, sebisa Jessica.

Dosen Kang terlihat menghela nafasnya, “Sudah ku duga. Ku rasa, aku harus merekomendasikan seseorang untuk membantumu, nona Jung. Grafik nilaimu tak pernah meningkat pada mata kuliahku dan aku tak bisa memberimu pelajaran tambahan lagi karena aku sedang sibuk akhir-akhir ini, nona Jung. Kali ini, aku akan menawarkanmu untuk belajar dari seniormu, Xi Luhan. Bagaimana?,” rentetan kalimat yang dikeluarkan dosen Kang nyatanya didengar jelas oleh Jessica meski gadis itu tengah menunduk.

Dan, oh, nama itu makin membuat mata Jessica membulat dengan sempurna.

*****

Jessica’s POV

Nama yang disebutkan oleh dosen Kang sukses membuatku terkejut. Mataku membulat dan entah mengapa pipiku kembali memanas mengingat nama itu.

Ya, ya, itu Xi Luhan. Kakak dari Xi Lihua, sahabat baikku.

Lalu, mengapa kau terkejut, Jess? Luhan bukanlah orang asing bagimu, bukan?

Aku, aku, entahlah. Hanya saja, memoriku beberapa minggu lalu dengannya kembali berputar. Ia menautkan tangannya padaku! Padahal, kami tak cukup dekat. Errr… ya, sama sekali tak dekat.

“Jessica Jung?,” panggilan dosen Kang berhasil membuatku kembali ke alam sadarku. “Hm, ku anggap diammu adalah perwujudan dari kata ‘iya’, nona Jung,”

Oh, hei! Kenapa ia seenaknya menyimpulkan?.

“Kau bisa menghubungi Xi Luhan sendiri, kan? Ku dengar, rumah kalian cukup dekat.” Lanjut dosen Kang tanpa mengijinkanku berkata barang sedikitpun.

Aku pun menghela nafasku, pasrah. Baiklah, mungkin meminta bantuan Luhan tidaklah buruk. Ia mahasiswa kesayangan dosen Kang, mungkin itu sebabnya dosen ini langsung menawarkan bantuan pada Luhan.

“Ne, seonsaengnim,” jawabku lemas.

“Baiklah, kau bisa keluar sekarang. Tidak keberatan jika tugasmu harus selesai lusa?,” tanya dosen Kang sambil menaikkan sebelah alisnya. Oh, orang ini benar-benar menyebalkan!

“Ne,” jawabku pasrah. Ia orang yang keras kepala, aku malas membantah perkataannya.

Aku pun keluar dari ruangan terkutuk itu dengan lesu. Kenapa harus Luhan? Dan, tugas itu harus terkumpulkan lusa, LUSA! Aish, sepertinya aku tak bisa istirahat dulu kali ini. Yang harus ku lakukan sekarang adalah pulang dan menyiapkan materi untuk mengerjakan tugas ini lagi.

 

*****

Dan di sinilah dia, Jessica Jung. Di depan rumah Lihua―dan juga Luhan. Sudah hampir setengah jam ia berdiri di depan pintu coklat itu dan tak melakukan maupun berbicara apapun. Ia hanya diam, pikirannya masih bimbang. Haruskah ia mengetuk pintu itu? Lalu, setelah itu apa yang akan ia katakan pada kakak beradik Xi itu?

Setelah tepat setengah jam ia berdiri di sana, akhirnya ia menguatkan dirinya sendiri. Ayolah, Jess. Ini rumah Lihua! Sejak kapan rumah Lihua menjadi asing bagimu, eh? batinnya dalam hati, mencoba mengejek dirinya sendiri yang memiliki ketakutan tak beralasan.

Tangan Jessica sudah melayang tepat di depan pintu itu, namun panggilan seseorang membuatnya mengurungkan niatnya.

“Jessica?,” sebut suara itu. Oh, itu jelas sekali suara laki-laki.

Dengan sigap Jessica menolehkan kepalanya, didapatinya lelaki yang membuat rumah sahabatnya sendiri terasa ‘asing’ baginya. Yeah, Xi Luhan is there! Reaksi Jessica? Oh, kini ia nampak begitu bodoh dengan alis bertaut dan mulut terbuka lebar. Ia tampak seperti pencuri yang tertangkap basah. Sungguh memalukan!

“Hei, kau tak apa, Jess?,” Luhan mengibaskan tangannya di depan wajah konyol Jessica.

Hal itu berhasil dan membuat gadis itu segera sadar akan wajah anehnya itu. Benar-benar buruk!.

“Ada apa? Apa kau mencari Lihua?,” tanya Luhan sambil menyunggingkan sedikit senyum mematikannya. Dan ya, sepertinya Jessica benar-benar akan pingsan kala itu.

“A.. A.. Aniyo,” jawab Jessica lalu mengibaskan tangan kirinya yang sedari tadi bergemetar pelan.

“Lalu?,” kini Luhan mengangkat sebelah alisnya dan ia terlihat menyelidiki tampilan Jessica. Gadis itu menjinjing tas laptop dan sebuah map berwarna soft pink. Oh, Jessica juga menyampirkan sebuah shoulder bag berwarna maroon di pundaknya.

“A.. Ini..” Jessica tampak mengatakannya dengan terbata sambil mengangkat tas laptop dan mapnya lebih tinggi, bermaksud memberi Luhan kejelasan.

Hal itu nampaknya ditangkap Luhan dengan baik. Luhan pun terkekeh pelan dan dengan reflek mengacak puncak kepala Jessica.

Sedangkan Jessica? Oh, gadis itu hanya bisa mematung di tempatnya berpijak, terkejut dengan perlakuan Luhan.

“Kau ingin minta bantuanku, hm?,” tanya Luhan dengan masih tersenyum.

Yang ditanya hanya bisa menganggukkan kepalanya polos. Ya, Jessica Jung terlalu polos untuk menghadapi lelaki tampan itu.

“Geurae, ayo masuk!,” ajak Luhan kemudian dibukanya pintu rumah itu.

Kecanggungan menyergap ruang tamu bernuansa putih tersebut. Jessica duduk sambil memangku tas dan mapnya dengan canggung, demikian juga Luhan.

Namun tak lama kemudian Luhan berdiri, “Aku mau ganti baju dulu, mau ku buatkan minuman?,” tanya Luhan lalu tersenyum.

“Ah, terserah,” jawab Jessica singkat dengan senyuman kikuknya. Oh, kalian tau? Jantungnya memompa lebih keras!

*****

Jessica’s POV

Aku menghela nafas lega ketika Luhan benar-benar hilang dari hadapanku kala itu. Entahlah, sebagian organ tubuhku mendadak aneh ketika berada di dekatnya. Ini bahaya!

Ya, ya, ya, aku memang gugup. Karena ini pertama kalinya dalam hidupku aku berada sedekat ini dengan seorang laki-laki. Apa kalian bertanya mengapa? Um, entahlah. Aku tak begitu ingat mengapa aku begitu ‘jauh’ dengan lelaki. Yang ku tahu hanya ingatanku yang buruk. Kata Lihua, aku memang mengalami gangguan ingatan masa kecilku. Namun ia tak pernah memberitahuku apa itu, dan aku pun tak mau ambil pusing akan hal itu.

Sebuah benda dingin tiba-tiba menyentuh pipiku dan itu membuatku terkejut.

“Ahahaha, mianhae. Ini minumanmu. Maaf, hanya ini yang tersisa di lemari es,” oh, benarkah itu Luhan? Kenapa ia jadi menyebalkan begini?

Aku pun hanya mengerucutkan bibirku kesal, aku benci dikejutkan!

“Hei, aku minta maaf. Aku hanya ingin.. lebih akrab denganmu,” sesal Luhan. Dan ku lihat ia tampak mengusap lehernya.

Kata ‘lebih akrab’ itu membuat pipiku kembali memanas, segera ku sambar jus kaleng dari tangan Luhan dan meneguknya dengan lahap. Ku harap dengan demikian pipiku bisa kembali normal.

“Pelan-pelan,” nasihat lelaki itu.

Ku hentikkan tegukanku dan meletakkan kaleng itu di atas meja.

“Hei, bicaralah. Sedari tadi hanya aku yang bicara padamu. Anggap saja kita teman lama, jadi jangan canggung,” ujar Luhan dengan tatapan kecewa.

Ah ya, dari tadi aku merespon ucapannya dengan buruk. “Ah, mianhae, Luhan-ssi,” sesalku.

“Panggil saja oppa, apa kau keberatan?,” oh, itu penawaran buruk tuan Xi!

Aku pun menganggukkan kepalaku kencang. “Aku.. tak pernah memanggil siapapun dengan itu,”

Ia tampak tertawa, “Baiklah, baiklah. Panggil saja Luhan.”

“Apa.. tak apa?,” tanyaku ragu, bukankah itu tidak sopan di Korea?

“Tak apa. Kan sudah ku bilang, anggap saja aku teman lamamu,” jawab Luhan menampilkan senyuman. O-oh, aku tak bisa terus-menerus mendapatkan heart attack begini. “Lalu, apa yang bisa ku bantu?,” tanya Luhan kemudian, memecah keheningan sejenak yang disebabkannya sendiri.

Dan yah, begitulah akhirnya aku benar-benar meminta bantuan pada Xi Luhan.

*****

“Jaljayo, Yoona-ya!,” teriak seorang gadis dengan rambut pendek sebahu berwarna kecoklatan. Oh, itu Lihua. Ia baru saja sampai di depan rumahnya. Sejak sore hingga pukul delapan kala itu, ia menghabiskan waktunya di pesta ulang tahun temannya. Yah, cukup melelahkan memang.

Lihua menguap pelan lalu menggerutu, “Aish, mengantuk sekali.”

Tanpa basa-basi, ia pun segera melepas sepatunya dan mengganti sandal rumah. Yang ada di otaknya hanyalah tidur dengan pulas.

Decitan pintu terdengar nyaring karena rumah itu begitu sepi. “Aku pulang,” ucap Lihua lemah.

Namun, pemandangan pertama yang muncul di hadapannya membuat gadis itu membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.

Di sofa ruang tamunya, tampak dua orang yang sangat ia kenali tengah tertidur pulas. Dengan posisi kepala kedua insan itu saling bertumpuan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kedua orang itu  adalah Luhan dan Jessica!

Sungguh, ini pemandangan terlangka dan tak mungkin terjadi dua kali! Dengan tergesa-gesa, ia mengambil ponsel di saku celananya dan mengabadikan momen langka nan indah itu.

Lihua terkekeh pelan, ia puas dengan hasil jepretannya..

*****

To Be Continued…

 

Maaf banget lanjutannya luama banget T.T Udah pada lupa nggak? L Waktu nulisku kepotong-potong liburan sama sekolah. Duh, sekolahnya ga libur libur lagi ToT

Maaf juga kalo kurang puas sama chapter yang ini, ada typo atau feelnya kurang dapet. Oya, makasih banget buat yang udah komen di chapter sebelumnya😀 Jangan bosen-bosen komen ya~😀

61 thoughts on “[Freelance] Our Moment – A Step Closer

  1. yakk,.chingu kok udahan aja siih..???
    .aku ragu deh ff ini bakal dilanjutin engga coz udda hampir setahun gak ada klnjutannya,,:'(
    sediih rasanya chingu..
    .padahal ff ini menarik bgt,,apalagi aku bacanya waktu jessica luhan ada masalah sama agensi mereka
    sayang bgt chingu klo engga dilanjutin,,
    seneng bgt.ny..krn ada moment keren disini,.aku yakin sbnrnya tu luhan uda naru perasaan ma jessica dehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s