Only Because It’s You – Chapter 3

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Previous:

1 | 2

Notes: Notes: sebagai pemintamaafan karena chapter 2 terlalu pendek, chapter ini aku panjangin. Happy reading ^^

Credit: CHOKYULATE

=== Only Because It’s You ===

Malam di awal musim semi tahun ini mengerikan akibat hujan deras di daerah Cheongnam-dong, tempat apartemen Kim Joonmyun berada. Andaikan malam itu tidak hujan, pasti Sooyeon tidak akan terbangun dari tidurnya. Seluruh bagian tubuhnya sangat sensitif akan hujan. Apapun kegiatan yang sedang ia lakukan, Sooyeon akan berhenti melakukannya begitu hujan turun. Bukan karena ia menyukai hujan. Bukan. Justru Sooyeon sangat membenci hujan. Hujan mengingatkannya dengan begitu banyak kejadian pahit di hidupnya sehingga ketika hujan, tubuhnya kehilangan kekuatan.

Sooyeon dan adiknya pernah ditinggal sendiri di tempat asing saat hujan oleh orangtuanya ketika ia berumur 5 tahun. Saat itu, dia bertemu dengan kelompok pemabuk yang mengerikan. Saat itu, dia masih terlalu kecil untuk melindungi dirinya sendiri sehingga dia kabur meninggalkan adiknya. Kelompok pemabuk itu membawa adiknya paksa. Sooyeon tidak bisa berbuat banyak. Ketika ia sedang menangisi kepergian sang adik, ia bertemu dengan seorang polisi dan polisi tersebut mengantarkannya pulang.

Kemudian saat ia berumur 10 tahun, orangtuanya bertengkar hebat. Kala itu, hujan turun dengan sangat deras. Sooyeon meringkuk di sudut kamar. Tak lama, terdengar bantingan pintu tanda ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sooyeon pun keluar dari kamar untuk mengecek keadaan. Ia terbelalak melihat ibunya sedang memasukkan seluruh baju dan barang-barang berharga ke dalam tas. Ibunya menyuruhnya untuk tidur lalu pergi meninggalkan rumah sebelum ayahnya pulang. Ketika ayahnya pulang, ayahnya mengamuk karena ibunya membawa perhiasan yang tersisa di rumah itu.

Seakan hujan masih belum puas, 3 tahun lalu Sooyeon hampir kehilangan nyawa. Dia sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya di sebuah swalayan di pusat kota. Karena ia ingin menolong seorang gadis yang akan tertabrak mobil, ia dan gadis itu menjadi korban tabrak lari. Gadis itu meninggal sedangkan dirinya mengalami luka-luka berat karena ia terlambat menyelamatkan gadis itu. Akibat dari kecelakaan itu, ia tidak bisa terlalu lelah atau rasa sakit akan menyerang tubuhnya. Beruntung ia bertemu dengan Sehun yang akhirnya menawarkannya pekerjaan yang lebih santai.

Sebenarnya masih banyak pengalaman buruk yang terjadi di saat hujan turun. Hujan hanya mengingatkan dirinya akan segala kenangan buruk itu. Itu sebabnya ia sangat membenci hujan.

Sooyeon mencoba segala cara agar dia bisa tidur tanpa rasa takutnya terhadap hujan. Biasanya ia tinggal menutup kepala dengan bantal sehingga ia tidak akan mendengar suara hujan. Akan tetapi, kini cara itu tidak lagi ampuh.

“KYAAAAA!!!”

Sooyeon berteriak kencang ketika mendengar suara guntur yang sangat kencang. Satu hal lainnya yang membuatnya membenci hujan yaitu petir dan suaranya. Apartemen Joonmyun yang terletak di lantai 27 pun membuat keadaan semakin parah.

Tiba-tiba suara pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Sooyeon melihat sesosok orang masuk ke dalam kamarnya yang gelap karena lampunya tidak dinyalakan, membuat gadis itu semakin ketakutan.

“Sooyeon-ah, kau baik-baik saja?” tanya orang itu.

Ketika menyadari orang itu adalah Joonmyun, entah kenapa berhasil membuat Sooyeon menangis. Joonmyun menghampiri gadis itu dan memeluknya erat, berharap pelukan itu dapat menenangkan Sooyeon. Namun pelukan itu tidak berefek apapun.

“Hei, tenanglah. Ada aku di sini. Sooyeon, jangan menangis.” Joonmyun terus berusaha untuk menenangkan Sooyeon.

Sooyeon ingat jika seperti ini, dia akan bersembunyi di bawah tempat tidur dengan selimut dan bantalnya. Tapi untuk sekarang, dia tidak sanggup bergerak akibat suara yang kencang tadi. Bahkan kehangatan tubuh Joonmyun pun tidak membuatnya tenang sama sekali. Hanya satu orang yang ia pikirkan dan butuhkan saat ini; Sehun. Akan tetapi, mana mungkin Sehun berada di sampingnya? Terlebih setelah Joonmyun melarangnya bertemu dengan Sehun lagi.

“Sooyeon-ah, apa yang harus aku lakukan?” tanya Joonmyun frustasi.

Sooyeon tidak menjawab, masih sibuk dengan tangisannya. Lagipula ia pun tidak tahu harus menjawab apa. Ketika kamarnya terang akibat petir, Sooyeon reflek memeluk Joonmyun erat. Gadis itu masih belum puas menangis seakan ada banyak alasan yang membuatnya menangis. Pelukannya pun masih belum terlepaskan. Ini adalah pertama kalinya ia menangis setelah kejadian adiknya menghilang.

***

Matanya terasa sangat berat untuk terbuka. Mungkin akibat menangis semalam, matanya terasa sedikit perih. Jika bukan akibat rasa tidak nyaman karena tempatnya bersandar terasa basah, Sooyeon tidak mau membuka mata. Dia menghela napas panjang sembari memindahkan kepalanya dari bantal yang basah akibat air matanya ke bantal yang kering.

Sebenarnya ia pun tidak mengerti mengapa dirinya menangis semalam. Setakut apapun, dia tidak pernah menangis. Tapi semalam, ia menangis seakan menumpahkan segala rasa yang selama ini ia tahan. Mungkin itu sebabnya dia menangis sampai 2 jam tanpa henti. Walaupun matanya bengkak, namun rasanya lega luar biasa.

Sooyeon mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada punggung kasur ketika pintunya terbuka. Dia sedikit bersyukur karena seorang pelayan lah yang masuk, bukan Joonmyun. Saat melirik jam di atas meja, dia pun menghembuskan napas lega karena hari sudah siang. Tentu saja Joonmyun berada di kantornya.

“Ternyata Nona sudah bangun. Bagaimana tidurmu semalam?” sapa sang pelayan. “Aku datang hanya untuk mengecek keadaanmu karena tuan muda tadi meneleponku, dia menanyakan tentangmu. Dia mencemaskanmu.”

Sooyeon tersenyum tipis. “Lumayan. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja sekarang. Katakan pada tuanmu, dia tidak perlu mengkhawatirkanku.”

“Tentu saja. Tidur di pelukan tuan muda pasti sangat nyaman,” balas pelayan itu lalu tertawa.

Wajah Sooyeon pun memucat. “T-tidak mungkin! Kau pasti becanda, ‘kan?”

Pelayan itu mengerutkan keningnya. “Aku tidak becanda. Apa Nona tidak sadar bahwa kau dan tuan muda tidur bersama semalam?”

Sooyeon tidak bisa berkata-kata.

“Oh ya, dia juga berpesan bahwa dia akan menjemputmu jam 5 sore nanti. Jadi aku akan mendandanimu sekitar jam 3.”

Sooyeon menarik napas dalam. “Untuk apa dia menjemputku?”

“Tuan muda akan membawa Nona ke sebuah acara penting.”

“Apa aku harus ikut? Maksudku, apa tidak sebaiknya aku di sini saja? Itu adalah urusannya, bukan aku. Kenapa aku harus ikut?”

Pelayan itu tersenyum tipis. “Akan lebih baik jika Nona ikuti saja semua perintah tuan tanpa bertanya.”

Lagi, tubuh Sooyeon menggigil ketika mendengar kata ‘perintah’.

***

Tepat jam 5 sore, sosok Joonmyun muncul di lobby dan menghampiri Sooyeon yang sedang meruntuki betapa tidak nyamannya gaun yang ia kenakan. Gadis itu terbiasa menggunakan gaun. Well, mana ada orang miskin yang pernah memakai gaun? Belum lagi rambutnya yang digerai begitu saja. Ingin rasanya ia ikat rambutnya tapi dilarang oleh 2 pelayan yang bekerja untuk Joonmyun itu.

“Kau sudah siap?” tanya Joonmyun.

Sooyeon merengut. “Tidak sama sekali. Apa aku harus mengenakan gaun ini? Apa aku tidak bisa memakai—“

“Ini acara resmi, Sooyeon-ah. Tidak mungkin kau memakai kaos dan celana jeans. Lagipula kau sangat cantik dengan gaun itu,” tukas Joonmyun. “Ayo?” Dia menarik tangan Sooyeon lembut.

Sooyeon kembali menggerutu tentang sepatu dengan hak 10 sentimeter yang ia gunakan. Apa acara penting Joonmyun adalah acara untuk menyiksa dirinya? Karena semua barang yang menempel di tubuhnya saat ini sungguh menyiksa dirinya. Sooyeon melirik Joonmyun. Pria itu seakan tidak peduli dengan penderitaannya. Bahkan Joonmyun berani tersenyum lebar kepadanya sebelum ia masuk ke dalam mobil.

“Kau takut dengan petir?” tanya Joonmyun ketika mobil itu mulai meninggalkan kawasan apartemen.

Sooyeon yang masih sibuk menggerutu, menoleh ketika mendengar pertanyaan itu. Dia menatap wajah Joonmyun sejenak lalu kembali menggerutu tentang semua barang yang ia kenakan. Sooyeon enggan menjawab pertanyaan itu.

“Kalau kau takut, aku akan mencari tempat yang lebih nyaman untukmu tinggal,” tambah pria itu.

Sooyeon terkejut mendengarnya. Pria itu seakan tidak pernah puas membuatnya terkejut. Bagaimana bisa Joonmyun bertanya seperti itu seakan harga berbagai macam tempat tinggal di negara ini sangat murah?

Joonmyun kini menatap gadis itu ketika ia tidak mendengar respon apapun. “Atau kau ingin mencari sendiri tempat yang cocok untukmu?”

“A-apa.. k-kau.. a-aku..” Sooyeon terlalu bingung hingga tidak sanggup merangkai kata. “A-aku akan baik-baik saja tinggal di apartemenmu itu.”

“Tenang saja, kau tidak akan tinggal sendiri. Aku akan menemanimu,” yakin Joonmyun.

Sooyeon mendelik. Tentu saja ia tahu Joonmyun akan tinggal bersamanya. Tidak mungkin pria itu melepaskannya dengan mudah. Lalu apa maksud kata-kata Joonmyun tadi? Apa dia mengira alasan Sooyeon menolak tawarannya karena tidak mau berpisah darinya? Huh, dasar besar kepala.

Sooyeon mendengus. “Tidak perlu. Sudah ku bilang, aku akan baik-baik saja.”

***

Saat memasuki ruangan yang didesain elegan itu, Sooyeon berkali-kali mengumpati dirinya sendiri karena bersikap kampungan. Dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dan hm, Joonmyun. Melihat Joonmyun yang sepertinya tidak keberatan dengan segala reaksinya, sepertinya Sooyeon harus sedikit rileks.

Hello, Sooyeonnie~”

Sooyeon terkejut ketika melihat seorang pria berwajah imut sedang berlari menghampiri mereka sambil meneriakkan namanya dengan panggilan yang manis. Harus ia akui, pria itu memalukan. Pria itu seakan tidak peduli dengan setiap mata yang memperhatikannya.

“Sooyeonnie, apa kau mengingatku?” seru pria itu ketika ia sudah berada di hadapan Sooyeon dan Joonmyun. “Luhan. Kau ingat nama itu? Yang menemanimu di ruang tamu selama Joonmyun dan Sehun bertengkar, kau ingat?”

Joonmyun menoyor kepala Luhan. Ya boleh saja Luhan adalah yang paling tua di antara sahabat-sahabatnya, jika Dana tidak termasuk tentunya. Namun terkadang pria itu gagal menggunakan otaknya dengan baik.

“Aw! Kenapa kau memukulku? Tidak sopan!” protes Luhan.

Joonmyun tersenyum kepada Sooyeon yang terlihat kebingungan lalu menarik gadis itu ke dalam ruangn tersebut, meninggalkan Luhan yang masih sibuk mengelus kepalanya seakan toyoran Joonmyun sangat menyakitkan. Luhan segera mengejar mereka dan berjalan di samping Sooyeon.

“Sooyeonnie, kau sangat cantik malam ini. Pantas saja Joonmyun tidak mau melepaskanmu untuk Sehun,” komentar Luhan.

Hyung, bisakah kau menjaga omonganmu? Tidak hanya kita yang berada di sini,” desis Joonmyun.

Luhan mendesah. “Jika orang lain mendengarnya, berarti mereka tidak bisa menjaga telinga mereka. Seharusnya mereka mendengar apa yang boleh mereka dengar saja.” Luhan tersenyum kepada Sooyeon. “Bukankah begitu, Sooyeonnie?”

Sooyeon meringis. “Err, apa kau bisa berhenti memanggilku seperti itu? Itu cukup mengganggu.”

Why? Why? Itu panggilan yang manis, semanis dirimu. Kenapa aku tidak boleh?”

Joonmyun memutar matanya dan menarik Sooyeon ke arah sekumpulan pria yang berumur di atas 30 tahun tahun. Luhan menggembungkan pipinya lalu pergi ke arah lain. Dia tidak pernah suka berada di sekumpulan orang-orang tua.

“Oh, Kim Joonmyun! Sang pengusaha muda andalan kita datang bersama gadisnya,” sambut seorang pria yang tampan walaupun umur tidak lagi muda.

Joonmyun membungkukkan badannya sambil memberi salam. Melihat itu, Sooyeon ikut membungkuk. Dia terengah ketika merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya.

“Perkenalkan, namanya adalah Jung Sooyeon,” kata Joonmyun.

Sekali lagi, Sooyeon membungkuk.

“Dia cantik. Apa dia kekasihmu, Joonmyun-ssi?” seorang pria berbadan subur bertanya.

Sooyeon menoleh ketika tidak mendengar Joonmyun menjawab. Pria itu hanya tersenyum lebar.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Aku ada masih ada urusan,” pamit Joonmyun seraya sedikit membungkuk lalu menarik Sooyeon menjauh dari kerumunan orang-orang tua itu.

Sooyeon merasa bingung karena Joonmyun seakan menghindari pertanyaan itu.

Kenapa dia tidak menjawab bahwa aku adalah budaknya?

Sooyeon menggeleng. Tidak mungkin Joonmyun mengatakan hal yang sebenarnya. Hal itu akan mengundang kecurigaan dan segala penjelasan tentang hukum yang ia katakan kepada Joonmyun di hari pertamanya tinggal pun akan menjadi kenyataan.

Kenapa dia tidak membenarkan pertanyaan itu?

Sooyeon mengerjap, kaget dengan pemikirannya sendiri. Dia mengetuk kepalanya karena sudah berpikiran yang macam-macam.

“Ada apa?”

Sooyeon menoleh linglung. “Hah?”

Joonmyun mengelus daerah kepala yang Sooyeon ketuk tadi. “Kenapa kau memukul kepalamu sendiri?”

Sooyeon meraih tangan Joonmyun menjauh dari kepalanya sambil menggeleng. Dia menyengir kecil.

“Oh itu mereka!” seru Joonmyun sambil menunjuk 3 orang pria yang di sudut ruangan.

Sooyeon sibuk memutar otak untuk mengingat siapa saja orang-orang itu. Mereka adalah sahabat Joonmyun, ya benar. Tapi siapa nama mereka? Sooyeon lupa.

“Kau ingat mereka?” tanya Joonmyun.

Sooyeon menggeleng pelan. Terlihat Joonmyun ingin menjelaskannya namun tidak jadi karena 3 orang itu memanggilnya.

“Aku tidak menyangka kau akan membawa Sooyeon ke acara ini,” celetuk pria tampan bertubuh paling tinggi, yang Sooyeon kini ingat namanya adalah Kris.

“Aku yang menyuruhnya mengajak Sooyeon ke acara ini. Kasihan Sooyeon jika dikunci di dalam apartemen selalu,” sahut sang pemilik restoran tempat Sooyeon dan Joonmyun makan malam beberapa hari yang lalu, Kyungsoo.

“Kau tidak takut Sooyeon digodai oleh pria lain yang datang ke acara ini, Hyung?” goda pria dengan tulang pipi yang menonjol.

Hm, siapa namanya? Jongdae? Sepertinya begitu, pikir Sooyeon.

“Yo! Ternyata kalian di sini!” seru pria berwajah imut yang mengganggu Sooyeon di pintu masuk tadi. “Sooyeonnie, kita bertemu lagi~”

Sooyeon memutuskan untuk mengabaikan Luhan dan memulai topik pembicaraan yang lain. “Omong-omong, acara apa ini?”

Kris menatap Joonmyun bingung. “Kau belum memberitahunya, Kim?”

Luhan hendak merangkul Sooyeon namun Joonmyun bertindak lebih cepat dengan menarik Sooyeon untuk pindah dari samping kirinya ke samping kanannya. Luhan mendesis kesal.

“Ini acara ulang tahun perusahaan yang dikelola oleh Joonmyun hyung. Banyak orang yang diundang ke acara lain, seperti keluarga besar Kim, para pegawai, para pemegang saham, klien dan lainnya. Itu sebabnya tempat ini sangat ramai,” jelas Kyungsoo.

“Kalian pegawai di sini?” tanya Sooyeon.

“Hanya Jongdae yang bekerja untuk Joonmyun sambil menyelesaikan kuliahnya, Sooyeonnie,” jelas Luhan. “Kyungsoo mempunyai restoran sendiri. Kris adalah seorang model. Dan aku adalah sarjana kedokteran yang sedang menikmati waktu senggang. Kami datang karena kami adalah sahabat Joonmyun. Tapi jika kau mengharapkan kedatangan Sehun sebagai sahabat Joonmyun, maaf sekali untuk mengecewakanmu karena Sehun tidak datang. Sehun—pff!”

Kris segera membungkam mulut Luhan sebelum Luhan berbicara terlalu jauh dan melantur ke hal lain yang tidak penting untuk dibicarakan. Dengan tingkah Luhan seperti itu, tidak akan ada yang percaya bahwa sebenarnya Luhan adalah lulusan terbaik di angkatannya. Sooyeon menghela napas panjang mendengarnya. Ia tidak seharusnya sempat mengharapkan kehadiran Sehun.

“Sepertinya Joonmyun hyung masih punya urusan. Mengapa kau tidak bersamaku saja? Kita keliling untuk mencoba segala hidangan. Bagaimana?” ajak Kyungsoo.

Sooyeon menatap Joonmyun seakan meminta jawaban. Ketika Joonmyun mengangguk, Kyungsoo pun meraih tangan Sooyeon. Luhan hendak mengikuti mereka namun Joonmyun menarik kerah kemejanya.

“Hei, apa kalian tidak bisa sopan sedikit kepadaku? Aku lebih tua daripada kalian,” protes Luhan.

“Ya, katakan itu kepada seseorang yang bertingkah tidak sesuai dengan umurnya,” sahut Jongdae.

***

Berkeliling dengan Kyungsoo membuatnya semakin mengenal sosok seorang Kim Joonmyun. Setidaknya ia tahu apa makanan favorit dan hobi pria itu. Ia juga tahu beberapa kejadian menarik yang dialami oleh Joonmyun dan sahabatnya, tentu saja termasuk Sehun. Walaupun ia ingin sekali bertanya soal Sehun saat nama itu diucapkan oleh Kyungsoo, Sooyeon tahu dia harus menahan diri.

“Jangan merasa takut kepadanya. Dia adalah orang baik. Kau akan merasa aman jika berada di sampingnya,” kata Kyungsoo.

Sooyeon menatap wajah manis itu bingung. Dia tidak menyangka pembicaraan mereka akan berpindah ke hal ini. Kyungsoo balas menatap Sooyeon dalam dan tersenyum.

“Kau hanya belum mengenalnya lebih dalam,” lanjut Kyungsoo.

Sooyeon tersenyum paksa. Dia tidak tahu harus membalas apa.

“Sepertinya Joonmyun kedatangan tamu penting. Ayo datangi mereka,” ajak Kyungsoo.

Sooyeon mengerjap ketika menyadari dia dan Kyungsoo sudah kembali ke tempat mereka meninggalkan Joonmyun dan ketiga sahabatnya. 4 orang itu terlihat sedang tertawa sambil mengerubungi seorang gadis asing.

Hello, Klee,” sapa Kyungsoo.

Gadis itu tersenyum kepada Kyungsoo tanpa membalas sapaannya. Senyumannya menghilang ketika matanya terarah kepada Sooyeon. Tatapan gadis itu, entah kenapa, membuat jantung Sooyeon berhenti sejenak.

“Siapa dia? Apa dia pacarmu, Kyungsoo oppa?” tanya gadis itu.

Kyungsoo tertawa sambil menggeleng. Lagi, Luhan mengambil aksi dengan mencoba untuk menghampiri Sooyeon namun ditahan oleh Joonmyun.

“Dia adalah Sooyeon,” jawab Joonmyun. “Sooyeon-ssi, ini adalah Krystal.”

Sooyeon terkejut mendengar Joonmyun memanggilnya formal. Namun ia segera menepis pikiran itu. Dia tersenyum sambil memberikan sedikit bungkukkan kepada Krystal. Krystal tidak merespon, tetap menatapnya dingin.

“Kau membawa wanita asing ke sini?” tanya Krystal, terdengar kesal.

Well, dia bukan wanita asing. Dia adalah sahabat Sehun dan kini dia tinggal bersama Joonmyun,” sahut Luhan.

Krystal memperhatikan Sooyeon dari atas sampai bawah lalu menatap Joonmyun tidak terima. Joonmyun tersenyum tipis.

“Ibuku baru saja pulang dari Amerika. Dia pasti senang bertemu denganmu, Krys,” alih Joonmyun.

“Dia tidak pernah peduli denganku! Bagaimana kau bisa menjamin dia senang bertemu denganku?”

“Kini dia peduli.”

Krystal menyipitkan matanya, memandang ragu Joonmyun lalu mendesah. “Baiklah. Antarkan aku.”

“Aku ikut~” seru Luhan.

Joonmyun menatap Sooyeon. “Sooyeon-ssi, tidak apa, ‘kan, aku meninggalkanmu sendiri di sini?”

Sooyeon mengerjap. Joonmyun menggunakan bahasa formal kepadanya. Tidak ada kasih di tatapan Joonmyun untuknya. Dia menatap Krystal yang kini kembali asik mengobrol dengan Kris, Jongdae, Kyungsoo dan Luhan. Keempat pria itu menatap Krystal seakan gadis itu adalah barang yang sangat berharga. Gadis itu menjadi pusat perhatian.

“Sooyeon-ssi?”

Sooyeon tersenyum kaku. “Ya, aku baik-baik saja.”

Joonmyun terlihat sangat senang dengan jawaban Sooyeon. Dia membisikkan sesuatu kepada Krystal lalu gadis itu mengikuti Joonmyun. Dalam hati, dia berharap salah satu dari 4 sahabat Joonmyun akan menemaninya. Tapi dia salah. Keempat pria lainnya terlalu asik berbincang dengan Krystal sehingga mereka ikut pergi meninggalkannya sendiri. Gadis itu seakan matahari dan kelima pria itu adalah planet yang mengelilinginya.

Detik ini, Sooyeon benar-benar mengharapkan kehadiran Sehun.

“Sooyeonnie~”

Sooyeon mengerjap ketika melihat Luhan berlari ke arahnya. Walaupun ia takut dengan Luhan, dia bersyukur Luhan mau menemaninya di tempat yang asing ini.

“Joonmyun berpesan agar kau pulang duluan saja. Supirnya sudah menyiapkan mobil di pintu depan. Sampai jumpa lagi!” ujar Luhan lalu melambaikan tangannya dan berlari ke arah sahabat-sahabatnya pergi.

Aku resmi sendiri, batin Sooyeon.

***

“Kenapa Sooyeon tidak ikut dengan kita, Oppa?” tanya Krystal.

“Sooyeon eonni,” ralat Joonmyun.

Krystal mengerutkan keningnya. “Huh?”

“Dia lebih tua darimu, Krystal.”

Krystal mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku belum mengenalnya dengan baik. Jadi, kenapa dia tidak ikut?”

“Sepertinya kau penasaran dengan Sooyeon, Klee,” sahut Luhan.

Krystal berhenti, tangannya dilipat di depan dada. Kelima pria itu ikut berhenti dan menatap Krystal bingung. Pasalnya, ibunya Joonmyun sudah terlihat di depan mata namun Krystal malah berhenti di sini.

“Kalian terdengar seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Biar ku tebak, kalian tidak akan membiarkan Kim ahjumma mengetahui keberadaan Sooyeon. Apa aku benar?” tebak Krystal.

Luhan mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum lebar. “Te—mpph…”

Kris kembali membungkam mulut sahabatnya dengan tangan. Jongdae dan Kyungsoo bertugas untuk mendorong Krystal ke tempat keluarga Joonmyun berada. Joonmyun mengikuti dari belakang. Krystal ingin menyembur pria-pria itu dengan berbagai macam omelan namun ia harus menahan diri karena ia sudah sampai di hadapan nyonya Kim.

Annyeonghaseyo, Kim sajangnim,” salamnya lalu membungkuk rendah.

Nyonya Kim hanya tersenyum sebagai balasan salam Krystal lalu kembali berbincang dengan wanita yang berdiri di sampingnya, hal yang biasa terjadi sehingga Krystal tidak mempedulikan reaksi wanita itu. Krystal menoleh ketika ia tidak lagi mendengar keriuhan yang disebabkan oleh lima sekawan itu. Dia mengerjap melihat lima pria itu sedang berbicara dengan Dana. Diam-diam, dia menjauh untuk keluar dari ruangan itu.

***

Krystal mengetuk kaca pintu sebelum mobil itu berjalan. Untung saja dia keluar di waktu yang tepat. Kaca pintu itu turun dan memperlihatkan sang penumpang.

“Sooyeon-ssi, bisa kita bicara sebentar?” pinta Krystal.

Gadis di dalam mobil terlihat bingung. Dia tidak yakin harus mengiyakan atau menolak Krystal. Melihat Krystal menatapnya mantap, Sooyeon mengangguk. Krystal mengambil satu langkah mundur untuk memberikan tempat yang cukup agar pintu mobil dapat terbuka lebar.

Krystal menarik Sooyeon ke tempat yang lebih terang. Sooyeon mengangkat alisnya melihat senyuman yang terlukis di wajah Krystal.

“Ah.. aku mengerti alasan Joonmyun oppa memilihmu. Kelebihanmu adalah matamu,” gumam Krystal.

Sooyeon terkejut mendengarnya. Spontan tangannya terangkat untuk menyentuh daerah di bawah mata.

“Ah!”

Krystal berteriak kaget ketika seseorang menarik tangannya hingga badannya berputar ke belakang, menghadap orang yang menarik tangannya itu. Dia menyengir lebar melihat sosok Joonmyun di hadapannya sambil berusaha melepaskan tangannya.

Joonmyun menatap Sooyeon tajam. “Bukankah aku menyuruhmu untuk pulang?”

“T-tadi Krystal ingin berbicara denganku sebentar. Aku tidak bermaksud untuk membangkang. Ma—“

Krystal segera menutup mulut Sooyeon dan menyelanya, “Yap, aku yang memintanya untuk jangan pulang dulu. Masih ada yang ingin ku bicarakan dengan Sooyeon. Jarang-jarang seorang Kim Joonmyun dekat dengan perempuan lain selain aku.”

Sooyeon menatap Krystal seakan bertanya alasan gadis itu menutup mulutnya. Krystal mendekatkan bibirnya ke telinga Sooyeon dan berbisik pelan, “Jangan pernah meminta maaf.”

Sooyeon membulatkan matanya kaget. Itu adalah hal paling aneh yang pernah ia dengar.

“Apa yang kalian bicarakan?” kini Joonmyun bertanya kepada Krystal.

“Sebenarnya tidak ada hal yang penting. Aku hanya ingin memberi salam sebelum Sooyeon pergi.” Krystal menatap Sooyeon lalu melambaikan tangannya. “Bye, Sooyeon-ssi! See you next time~” Krystal segera berlari ke dalam ruangan, meninggalkan Sooyeon dan Joonmyun berdua.

“Apa saja yang kalian bicarakan tadi?” pertanyaan Joonmyun terdengar seperti sedang menginterogasi Sooyeon.

Sooyeon menggigit bibirnya. “Err, seperti yang dikatakan Krystal, dia—“

Joonmyun mengangkat tangannya, meminta Sooyeon berhenti berbicara. “Pulanglah. Kau pasti lelah.”

Sooyeon mengangguk kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Joonmyun tetap berada di sana untuk memastikan Sooyeon benar-benar pulang. Dia berbalik ketika mobilnya sudah keluar dari tempat parkir. Langkahnya terhenti karena Dana tepat berada di depannya.

“Kenapa Sooyeon pulang? Kau tidak membiarkan eomma tahu soal Sooyeon?” tanya Dana.

Joonmyun menyeringai tipis. “Tidak juga. Aku menyuruhnya pulang karena dia tidak nyaman berada di tempat seperti ini.”

Dana balas menyeringai. “Apa yang akan dilakukan oleh eomma jika beliau tahu soal Sooyeon?”

“Jangan macam-macam, Hong Sungmi. Kau hanyalah kakak angkatku.”

“Nah! Karena aku adalah kakak angkatmu, maka aku adalah orang yang paling senang dengan apa yang akan terjadi nanti.”

Joonmyun mendelik tajam. “Kau tidak akan berani.”

Joonmyun melewati Dana namun Dana segera meraih tangan Joonmyun. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.

“Kau hanya akan melukai semua orang lagi, Joonmyun-ah,” kata Dana, suaranya terdengar lembut dan tulus.

“Percayalah padaku.”

“Bagaimana aku bisa percaya padamu?! Aku pernah percaya padamu. Apa hasilnya? Kau menyakiti dirimu sendiri! Berhenti lah! Aku tidak mau melihatmu terluka lagi, Kim Joonmyun!” bentak Dana. Dia menarik napas dalam, tatapannya melembut. “Ku mohon?”

Joonmyun menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Dana. “Tidak akan.”

***

Pertemuannya dengan Krystal malam ini membuatnya kesal. Dia marah, tapi tidak tahu marah kepada siapa dan karena apa. Itu sebabnya dia merasa semakin marah. Tentu dia penasaran dengan penyebab kemarahannya. Namun semakin dipikirkan, dia semakin frustasi dan marah.

Sooyeon turun dari kasurnya dan keluar dari kamar. Dia membutuhkan banyak air mineral untuk menjernihkan pikirannya agar dia bisa tidur. Suasana di luar kamar sangat sepi dan gelap. 2 pelayan yang bekerja di apartemen itu sudah pulang sejak 3 jam yang lalu dan akan kembali di pagi hari sebelum ia bangun.

Setelah mendapatkan segelas penuh air putih, Sooyeon membawanya ke ruang tengah dan meletakkannya di atas meja lalu mengambil remote televisi. Dia berjalan ke sisi ruangan untuk menyalakan lampu.

“Omo!”

Ia memekik kaget melihat sosok Joonmyun yang tertidur di sofa. Sepertinya Joonmyun terlalu lelah untuk berjalan ke kamarnya sehingga memilih tidur di sofa. Pantas saja dia tidak merasakan gangguan dalam bentuk apapun dari Joonmyun malam ini.

Sebenarnya Sooyeon tidak mau peduli. Tapi melihat betapa tidak nyamannya posisi Joonmyun, Sooyeon akhirnya berusaha untuk memindahkan sang majikan ke kamarnya karena ia tidak tega untuk membangunkan pria itu.

Setelah berbagai cara yang mengorbankan cukup banyak tenaga, Sooyeon berhasil membawa Joonmyun ke dalam kamarnya. Setelah membaringkan tubuh itu di atas kasur, ia mulai melepaskan jas, dasi, kaos kaki dan sepatu. Tidak lupa ia membuka kancing kemeja paling atas dan kancing di bagian kedua tangan.

Sooyeon menghela napas panjang dan menatap hasil kerja kerasnya dengan bangga. Walaupun rasa sakit di punggung kembali muncul sebagai dampak dari segala kerja kerasnya malam ini, setidaknya ia berhasil melakukan hal baik kepada Joonmyun. Hitung-hitung sebagai balas budinya akan semua hal yang diberikan oleh Joonmyun. Sooyeon duduk di kursi paling dekat saat rasa sakit di punggung makin menjadi. Kalau sudah seperti ini, dia tidak boleh melakukan apapun atau rasa sakit yang luar biasa menunggunya. Matanya menatap sekitar kamar Joonmyun.

Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Joonmyun. Dia tidak menyangka ada kamar laki-laki yang serapi kamar Joonmyun. Terlebih Joonmyun tidak pernah membiarkan pelayannya untuk menyentuh barang-barang di kamarnya, apapun yang terjadi. Sooyeon semakin sadar, Joonmyun bukanlah pria sembarangan.

Kini matanya tertuju kepada sebuah foto di meja night-stand. Di foto itu, ada 6 pria yang tersenyum lebar di belakang seorang wanita. Wanita itu tidak terlihat asing bagi Sooyeon. Tidak, wanita itu bukanlah Dana maupun Krystal. Tapi 6 pria itu sudah tentu Luhan, Kris, Joonmyun, Jongdae, Kyungsoo dan Sehun. Sooyeon mendengus, ia menyerah karena tidak bisa ingat siapa wanita itu.

Sooyeon memejamkan matanya saat rasa kantuk mulai menyerang.

***

Sooyeon membuka matanya perlahan saat ia merasakan getaran di sekujur tubuhnya. Wajah Joonmyun adalah pemandangan pertama yang ia dapatkan saat membuka mata.

“KYAAA!!” pekiknya panik.

Joonmyun hanya bisa memejamkan matanya karena kedua tangannya tidak bisa ia gunakan untuk menutup telinganya. Kedua tangannya sedang mengangkat tubuh Sooyeon ala bridal untuk membawa gadis itu ke kasur yang ia siapkan untuk gadis itu tidur selama tinggal di apartemennya.

“T-turunkan aku!”

Joonmyun menggeleng. “Sebentar lagi kita sampai.”

“K-kenapa kau menggendongku?” tanya Sooyeon bingung, tentunya juga panik.

“Harusnya aku yang bertanya kenapa kau berada di kamarku,” balas pria itu.

Joonmyun tersenyum karena Sooyeon tidak menjawab apapun. Siku Joonmyun menekan kenop pintu kamar Sooyeon dan kakinya menendang pintu itu agar terbuka lebar. Setelah beberapa langkah ke dalam kamar Sooyeon, Joonmyun menurunkan gadis itu ke kasur dengan lembut.

“Terima kasih sudah memindahkanku ke dalam kamar,” kata Joonmyun. “Apa punggungmu baik-baik saja?”

Sooyeon mengangguk pelan. “Punggungku sudah baik-baik saja sekarang. Tunggu, bagaimana kau bisa tahu tentang punggungku?”

“Apa yang tidak aku ketahui tentangmu?”

Sooyeon tersenyum kecut mendengarnya. Joonmyun tertawa sembari mengacak rambut Sooyeon lembut.

“Tidurlah. Masih ada 2 jam sebelum Kris menjemputmu,” ucap Joonmyun.

Sooyeon mengernyit. “Kris? Untuk apa dia menjemputku?”

“Katanya dia ada sedikit keperluan denganmu. Aku akan ikut bersama kalian kalau kau tidak nyaman berdua dengannya saja.”

Sooyeon menggeleng kuat sambil mengibaskan kedua tangannya. “Tidak perlu! Tidak perlu! Aku akan baik-baik saja! Percaya lah!”

Berdua saja dengan Kris? Sepertinya tidak terlalu buruk. Kris adalah pria yang sangat tampan dan tidak mempunyai kepribadian yang menyebalkan seperti Luhan. Tanpa Joonmyun? Nah ini adalah bagian yang baiknya. Sooyeon akan senang pergi dengan siapapun asal tanpa Joonmyun. Tanpa Joonmyun sama dengan kebebasan. Surga.

***

Walaupun hanya beberapa jam saja dia memakai gaun semalam, dia tetap merasa sangat bahagia karena bisa keluar rumah dengan fashion khasnya lagi sekarang, kaos dan celana jeans. Sooyeon masuk ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari apartemen Joonmyun dengan langkah bangga. Kris hanya tersenyum tipis melihatnya.

“Sepertinya kau sedang bahagia,” goda Kris.

Sooyeon memainkan jarinya di dagu sambil berpikir. “Hm, sepertinya begitu.”

“Ada apa?”

“Banyak hal yang membuatku senang,” jawab Sooyeon dengan senyuman lebar.

Kris mengangguk mengerti. Dia membawa Sooyeon ke sebuah meja dekat jendela. Mereka berdua memesan menu untuk sarapan—mereka pergi di jam 8 dan sama-sama belum sarapan sebelumnya—lalu menatap para pejalan kaki di luar sana.

“Kau pasti penasaran kenapa aku mengajakmu sarapan bersama,” Kris memulai topik pembicaraan.

Sooyeon membalasnya dengan gumaman. “Hm?”

“Sebenarnya Krystal yang memintaku melakukan ini.”

Kini tatapan dan pendengaran Sooyeon terfokus kepada Kris setelah pria itu menyebutkan nama gadis yang membuatnya tidak bisa tidur semalam.

“Sepertinya kau hobi meminta maaf kepada Joonmyun.”

Sooyeon memutar matanya. “Tidak juga. Itu jika memang aku yang salah.”

“Ya, itu bagus. Menunjukkan bahwa kau adalah orang yang sopan,” tanggap Kris.

Sooyeon tersenyum bangga dalam hati. Kini perhatian mereka teralihkan sejenak karena pesanan sudah datang. Pelayanannya cepat, pikir Sooyeon.

“Tapi itu bukan hal yang baik untuk digunakan saat berurusan dengan orang seperti Joonmyun,” tambah Kris tiba-tiba ketika Sooyeon hendak menyesap cappucinonya.

Cangkir di tangan Sooyeon pun kembali ke atas meja mengakibatkan sedikit suara terantuk. Sooyeon menatap Kris tajam. Dia mulai merasa sesuatu yang ganjil tentang pria di depannya.

“Kau hanya mencari masalah jika kau meminta maaf dan mengakui segala kesalahanmu kepada Joonmyun, Sooyeon-ssi.”

Sooyeon menyesap cappucinonya dengan kesal. Sial, Sooyeon mengumpat dalam hati karena minumannya masih sangat panas sehingga lidahnya melepuh.

“Itu bodoh. Bodoh sekali,” kata Sooyeon akhirnya. “Jika kau salah, maka kau harus mengakui kesalahanmu dan meminta maaf. Dengan begitu, tidak akan ada dendam yang timbul akibat satu kesalahan, walaupun itu adalah kesalahan yang sepele.”

“Setiap orang itu berbeda-beda.”

“Beda apanya? Mereka sama-sama mempunyai 2 mata, 1 hidung, 1 mulut—“

“Mereka mempunyai pengalaman dan kepercayaan yang berbeda-beda. Kau tidak bisa mengambil kesimpulan seenaknya.”

Kris dan Sooyeon saling beradu pandang. Tatapan Sooyeon sangat tajam, berbeda dengan tatapan Kris yang kosong.

“Joonmyun terbiasa menganggap bahwa berbohong demi kebaikan jauh lebih baik daripada jujur tapi menyakitkan. Jika kejujuran seseorang menyakiti hatinya, dia menganggap orang itu memang sengaja ingin menyakitinya. Apa kau masih belum mengerti?” jelas Kris.

Sooyeon menggeleng sambil tersenyum kesal. “Aku tidak akan mengerti. Itu konyol. Kim Joonmyun yang selalu dielu-elukan oleh banyak orang ternyata mempunyai kepribadian yang menyedihkan.”

“Kau bisa berbicara seperti itu karena kau bukan Joonmyun.”

Sooyeon mengerjap kaget mendengarnya. “Maksudmu, aku juga akan seperti itu jika aku menjadi dirinya?”

“Maksudku, kau tidak bisa asal menyimpulkan kepribadian seseorang. Pola pikiran dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan masa lalu. Kau tidak akan mengerti alasannya sebelum kau mengalami apa yang dialami oleh Joonmyun. Lagipula, kau memang tidak akan mengalami apa yang dialami oleh Joonmyun. Jadi, kenapa kau tidak ikuti saja kata-kataku jika kau masih ingin hidup nyaman? Jangan membuat Joonmyun marah.”

“Jangan membuatku marah.”

Seketika Sooyeon teringat kejadian saat ia mengakui dirinya menelepon Sehun. Dia ingat saat dia meminta maaf kepada Joonmyun. Saat itu, Joonmyun sudah kembali ceria sebelum ia meminta maaf. Namun saat kata maaf itu terlontar dari mulutnya, Joonmyun pun langsung meninggalkannya begitu saja. Apa semengerikan itu kata ‘maaf’ bagi seorang Kim Joonmyun?

Tanpa sadar, Sooyeon kembali mendekatkan cangkirnya ke bibir dan menyesap cappucino itu.

“Akh,” ia merintih ketika lidahnya kembali mengalami kontak langsung dengan cairan panas itu.

=== Only Because It’s You ===

Pertama-tama, maaf banget untuk typo. Huehehe .-.

Kedua, anggep aja Krystal bukan adek Jessica di ff ini. Kenapa aku pilih Krystal di ff ini? Bukan untuk jadi saingan Sooyeon atau bahkan peran antagonis yang macam ‘bitch’ gitu ya. Tapi dari berbagai pengamatanku terhadap EXO dan Krystal, Krystal seakan dipuja oleh anak-anak EXO terutama Suho. Cocok sama perannya di ff ini. So.. ya begitu deh.

Ketiga, “Kok Sehun cuma numpang nama doang sih di chapter ini?” oh tenang saja, sekarang biarkan Kim Joonmyun eksis duluan. Kan Sehun super hero tuh, jadi munculnya di akhir. Jadi lah pahlawan kesiangan :3

105 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 3

  1. Ohhhhhhh so sweet bnget🙂
    Suho baik bnget ma sica ……………
    Apalgi oas hujan ahhhh sica gk nyadar klo tdur dibahu suho🙂

    Authornim Jjang fighting🙂

  2. Apa cuma aku yang merasa Luhan disini serem-___- wkwk
    Nyonya Kim gak boleh ketemu Sica? Kenapa? Karna sica bukan dari keluarga kaya kah? Karna sica cuma budak kah?
    Krystal menarik, dia bebas dan berani menurutku, pasti dia juga anak orang kaya kan? Tapi kenapa Ibunya suho ga begitu peduli sama dia?
    Dana dari chapter sebelumnya juga berusaha ngelarang suho sama sica/? Ada apa sih? ::>_<::
    Emh… soal matanya sica, kenapa? Apa matanya kim ah young sama kyk dia kah? Jng2 ah young adeknya sica yang hilang #okefix makin jauh ngelanturnya aku ini. Aku penasaran ah young dimana sekarang?
    Suho tau semuanya ttng sica? Kamar impiannya, punggungnya yg sakit, kok bisa? Hmm… jangan2 suho adalah…
    Author aku suka hukumannya suho buat sica, haha xD
    Sehun aku merindukanmu ehehe, aku baca chapter berikutnya yaa

  3. di sini entah knpa aku pkir luhan oppa obat nya habis..ceriaa bgt atay hyper ? byk bgt yg blum aku ngrti dari ff ini..
    keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s