Only Because It’s You – Chapter 4

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Previous:

1 | 2 | 3

Notes: Maaf ya atas kesalahan setting musim di chapter sebelumnya. Aku baru inget kalo ff ini dimulai sejak hari kelulusan Sooyeon dan Sehun.  Masa tiba-tiba udah musim panas aja? Duh maaf ya

Credit: CHOKYULATE

=== Only Because It’s You ===

“Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”

Sooyeon menoleh untuk menatap Sehun langsung ke matanya. Gadis mengerjap bingung.

“Hujan. Saat itu hujan.” Sehun menatap langit yang mendung. “Dan kau bilang, hujan selalu memberikan kenangan buruk untukmu.”

Sooyeon cemberut mendengarnya. “Itu hujan salju, bukan hujan air.”

“Salju terbuat dari air, ‘kan? Jadi, apa aku akan menjadi kenangan buruk bagimu?”

Sooyeon ingin sekali menjawab pertanyaan itu, namun matanya terbuka. Dia mengerjap beberapa kali kemudian menghela napas berat. Entah kenapa, ia merasa kesal kepada dirinya sendiri yang sudah memimpikan hal itu. Dia tidak mau memikirkan Sehun dan berharap pemuda itu muncul di hadapannya karena hal itu adalah hal yang mustahil.

Sooyeon menarik napas dalam ketika mendengar suara pintu terbuka. Melihat Joonmyun yang datang, dia segera mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada punggung kasur sambil menggerutu dalam hati. Dia kembali bertanya kepada dirinya, kenapa dia selalu kesal setiap melihat wajah Joonmyun?

“Kau sudah bangun?” seru Joonmyun, terdengar kecewa.

Sooyeon mengerutkan keningnya. “Kau tidak senang karena aku sudah bangun?”

“Kalau kau sudah bangun, aku tidak punya alasan untuk menciummu. Apalagi akhir-akhir ini, kau selalu jadi anak baik,” balas Joonmyun sambil cemberut.

Sooyeon menggertakkan giginya. Tanpa menghitung waktu, ia melemparkan bantal dan guling di sekitarnya ke arah Joonmyun. Sementara Joonmyun menggunakan tangan dan kakinya sebagai tameng sambil tertawa.

Ya, tentu saja dia membenci Joonmyun, karena Kim Joonmyun adalah orang yang menyebalkan.

Joonmyun sibuk mengatur napas setelah puas tertawa. Dia menghempaskan dirinya di kasur dan meletakkan kepalanya di atas paha Sooyeon. Sooyeon terkejut seraya mendorong kepala Joonmyun menjauh. Dengan cekatan, Joonmyun menahan kedua tangan Sooyeon.

“Ingat, kau tidak boleh menolak,” ucap Joonmyun, menekan setiap kata.

Sooyeon kembali menghembuskan napas berat sambil menggigit lidahnya, takut-takut dia mengatakan sesuatu yang tidak diinginkan.

Joonmyun menggunakan kedua tangan Sooyeon untuk menyentuh pipinya. Senyumnya melebar selama pipinya merasakan kehangatan tangan Sooyeon. Dia melirik gadis itu, yang ternyata mengawasinya sedari tadi. Tidak menyangka mata yang memancarkan kelembutan yang elegan itu akan menatapnya, Sooyeon tersentak kaget.

“Hari ini adalah hari Minggu. Aku bebas. Kau mau pergi ke suatu tempat bersamaku?” tanya Joonmyun.

“Hari Minggu?” Sooyeon mengerjap bingung.

“Ya, Minggu. Kau tidak tahu hari ini hari apa?”

Sooyeon memutar matanya kesal. “Aku tidak punya sesuatu yang membantuku mengingat hari, tanggal, bahkan bulan. Memangnya tanggal berapa hari ini?”

Joonmyun mengangguk mengerti. Tangan kanannya tetap menggenggam tangan Jessica sedangkan tangan kirinya merogoh saku celana katunnya untuk mengeluarkan sebuah benda tipis, handphonenya. Joonmyun memainkan benda itu sejenak lalu mengembalikan benda itu ke dalam saku celananya sambil membenarkan.

“Hari ini adalah hari Minggu, tanggal 14 April 2013. Awal musim semi. Udara di luar pasti sejuk. Jadi, kau mau pergi bersamaku?”

Sooyeon terkejut mendengar jawaban Joonmyun namun ia berusaha menyembunyikannya. Joonmyun tidak akan menyukai alasan yang membuatnya terkejut.

“Ya, boleh,” jawab Sooyeon tanpa menatap wajah Joonmyun.

Sooyeon menarik kedua tangannya saat Joonmyun masih belum memberi respon. Joonmyun menatap Sooyeon bingung sekaligus protes.

“Kenapa kau masih di sini?” desis Sooyeon.

“Memang kenapa aku tetap di sini?”

“Aku mau mandi.”

“Uh-hu.”

Sooyeon menatap Joonmyun kesal. Joonmyun membalasnya dengan tatapan polos dan bertanya, “Kenapa menatapku begitu? Kau mau aku mandi bersamamu?”

Sooyeon syok mendengarnya. 3 detik kemudian, Sooyeon mendorong Joonmyun sekuat tenaga lalu kabur ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

“Jangan macam-macam selagi aku mandi!!” teriak Sooyeon.

Joonmyun tergelak mendengarnya.

***

Sooyeon kembali mendesis kesal. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Andaikan Joonmyun tidak membawanya berkeliling tempat berisi barang yang harganya saja sudah membuatnya mual. Dia masih belum bisa membiasakan dirinya dengan barang-barang mahal dalam waktu kurang dari 2 bulan karena dirinya sudah terbiasa dengan kemiskinan sejak ia dilahirkan sampai hari kelulusannya.

“Joonmyun-ssi, aku lapar,” gumam Sooyeon pelan. Dia tidak percaya diri untuk meminta sesuatu kepada Joonmyun.

Joonmyun yang sedang mencari kalung yang cocok untuk Sooyeon pun menoleh bingung. “Kau bicara sesuatu tadi?”

Sooyeon menggigit bibirnya sembari menggeleng. Tiba-tiba dia merasa begitu malu untuk mengakui dirinya mengatakan sesuatu tadi.

“Mana yang kau suka?” tanya Joonmyun.

Sooyeon memandang kedua kalung yang ditunjukkan oleh Joonmyun. Jujur saja dia tidak peduli dengan kalung-kalung itu. Akhirnya gelengan menjadi jawaban darinya. Joonmyun tersenyum mendengarnya.

“Aku mengambil keduanya.”

Sooyeon membulatkan matanya. “A-apa? Untuk apa?”

“Untukmu. Kau tidak punya perhiasan. Wanita tanpa perhiasan sama seperti Spongebob tanpa Patrick,” jawab Joonmyun santai sambil mengeluarkan uang untuk membayar kedua kalung tersebut. “Ya setidaknya, itu lah yang dikatakan oleh Krystal.”

“Tapi aku tidak membutuhkannya,” tegas Sooyeon.

“Benarkah?”

“Aku bukan Krystal.”

“Tapi Krystal selalu dijadikan kiblat fashion gadis-gadis di sekitarnya.”

“Aku bukan gadis-gadis di sekitarnya. Aku adalah aku. Kami berbeda!”

Joonmyun menerima tas berisi kedua kalung itu sambil memberikan senyuman terbaiknya kepada sang pramuniaga. Setelah mengecek isi tas itu, pria itu menarik Sooyeon keluar dari toko.

“Kau lapar?” tanya Joonmyun. “Karena aku juga lapar.”

Sooyeon menghela napas panjang. Joonmyun selalu berhasil mengalihkan pembicaraan.

“Dan…” Joonmyun mengeratkan genggamannya hingga Sooyeon meringis pelan. “Kau memang bukan gadis-gadis di sekitarnya. Karena kau berada hanya di sampingku.”

Sooyeon menatap Joonmyun bingung. Pria itu membalas tatapan Sooyeon dengan senyuman lembutnya.

***

Saat tahu Joonmyun mengajak Sooyeon untuk makan di restoran milik Kyungsoo, gadis itu cemberut. Soal makanan, ia akui makanan di tempat ini sangat lezat. Namun dia kurang menyukai Kyungsoo. Pria itu memang ramah kepadanya tapi ia tetap bisa merasakan makna khusus dibalik kalimat ramahnya. Hanya merasa tapi tidak mengerti. Seakan Kyungsoo hanya berpura-pura ramah kepadanya.

Di antara 6 orang itu, ia tidak menyukai 4 orang. 2 orang sisanya adalah Sehun dan Jongdae. Alasan ia menyukai Sehun sudah jelas. Sementara alasannya Jongdae, Sooyeon hanya belum mengenal seperti apa Jongdae. Tentu Sooyeon kini berharap Jongdae tidak akan membuatnya tidak nyaman seperti yang dilakukan oleh Luhan, Kris dan Kyungsoo.

Sooyeon menggigit bibirnya saat melihat meja untuknya dan Joonmyun sudah dipenuhi oleh makanan. Mungkin karena Joonmyun sudah menelepon Kyungsoo di perjalanan menuju restoran. Setiap hidangan dihias dengan sangat cantik, membuatnya semakin lapar tapi tidak tega untuk memakannya.

Setelah menikmati setiap hidangan yang disiapkan khusus oleh Kyungsoo, Joonmyun dan Sooyeon memutuskan untuk berkeliling taman yang berada di depan restoran Kyungsoo. Memang tidak salah Kyungsoo memilih tempat ini untuk restorannya.

“Apa ada yang kau inginkan sekarang?” tanya Joonmyun.

“Hm?”

“Setiap orang mempunyai keinginan tapi kau tidak pernah mengatakan keinginanmu kepadaku. Kau pasti punya juga, ‘kan? Apa itu?”

Sooyeon mengambil selangkah di depan Joonmyun agar pria itu tidak bisa melihat ekspresi wajah saat berpikir.

Keinginan ya? Tentu saja aku punya. Terlepas dari Kim Joonmyun. Apa bisa?

Sooyeon tersenyum memikirkan keinginannya. Sedetik kemudian, senyumannya kembali hilang ketika ingat keinginannya mustahil dipenuhi oleh Joonmyun.

“Kau masih belum tahu keinginanmu apa?” tanya Joonmyun. “Aneh, biasanya perempuan punya banyak keinginan. Apa kau bukan perempuan?”

Duak!

Sooyeon menendang kaki Joonmyun sekuat tenaga hingga Joonmyun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tentu tendangan Sooyeon sangat menyakitkan. Gadis itu terhenyak ketika sadar apa yang ia lakukan. Dia berjongkok di depan Joonmyun yang meringis kesakitan. Dana pernah menendangnya tapi tendangan itu bukan apa-apa dibandingkan dengan tendangan Sooyeon.

“A-aku minta maaf. Aduh, maaf.” Sooyeon mencoba memijat daerah yang ia tendang tadi. “Kau juga salah! Kenapa mengatakan itu? Itu hal yang sensitif!”

Joonmyun meringis pelan. “Aku minta maaf. Aku hanya becanda.”

“Apa tendanganku keras?”

Joonmyun tersenyum melihat gadis di depannya mencemaskan dirinya. Gadis yang biasanya selalu memperlihatkan cemberutnya ternyata bisa mencemaskan dirinya. Mungkin karena Sooyeon menendang kakinya, tapi ia boleh tetap senang, ‘kan?

“Joonmyun-ssi, apa kakimu masih sakit?” tanya Sooyeon, kini menatap mata Joonmyun karena ia tidak menerima jawaban.

Joonmyun mengangguk sambil memasang wajah kesakitan. “Sakit sekali.”

Sooyeon menggaruk pelipisnya. “Apa yang harus aku lakukan? Aku akan memanggil supirmu dan membawamu ke rumah sakit. Kau tunggu di sini.”

Sooyeon segera bangkit dengan panik tapi Joonmyun menarik tangannya hingga gadis itu jatuh. Andai Joonmyun tidak menahan Sooyeon, Sooyeon pasti jatuh menidih Joonmyun. Dia mendesis melihat senyuman di wajah Joonmyun.

“Esh, apalagi sih?”

“Sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk menyembuhkan kakiku,” kata Joonmyun.

“Apa?”

Joonmyun mengetuk bibirnya. Mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Sooyeon mendorong wajah Joonmyun hingga kepala pria itu menyentuh tanah.

“Dasar mesum!”

***

Joonmyun cukup bingung saat Sooyeon meminta sebuah cupcake. Gadis yang selalu memberikan majah muram itu kini tidak bisa berhenti tersenyum dari toko kue sampai mereka sampai di apartemen Joonmyun hanya karena sebuah cupcake. Jika memang makanan mungil itu dapat membuat Sooyeon tidak berhenti tersenyum, mungkin ia bisa memakai cupcake untuk membuat gadis itu tersenyum setiap hari?

“Soo—“

Joonmyun terdiam melihat gadis itu masuk ke dalam kamarnya begitu saja seakan Sooyeon ingin berdua saja dengan cupcake itu. Ayolah, itu hanya sebuah cupcake sederhana yang atasnya dilapisi krim berwarna pink dan meses warna-warni. Sebuah cupcake yang murah dan tak punya keistimewaan sedikit pun. Jika meses itu adalah potongan emas, mungkin Joonmyun bisa mengerti mengapa Sooyeon begitu bahagia akan cupcake tersebut.

“Apa kau menginginkan sesuatu, Tuan Muda?” tanya seorang pelayan.

Dia menggeleng frustasi lalu masuk ke dalam kamarnya. Harinya bersama Sooyeon sudah berakhir dan kini dia harus mencari alasan lain untuk memisahkan Sooyeon dan cupcakenya.

***

Sooyeon menyesal tidak meminta Joonmyun untuk membelikannya lilin. 1 lilin pun tak apa. Akan tetapi, tanpa lilin tak masalah sedikitpun. Dia hanya perlu menyanyikan lagu ulang tahun, berdoa dan memakannya untuk dirinya sendiri.

Harusnya itu yang dia lakukan dari 1 jam yang lalu. Namun setelah masuk ke dalam kamar dan meletakkan cupcake itu di meja, ia tidak bisa melakukan apapun selain menatap cupcake tersebut. Rasanya tidak menyenangkan melakukan hal itu sendiri.

Sooyeon mengerjap ketika melihat sosok teman sebangku berdiri di depan rumahnya. Ini malam hari dan tidak mungkin pria itu datang untuk meminjam buku karena pria itu memiliki buku yang lebih lengkap darinya. Tidak juga untuk menanyakan tugas karena pria itu tidak kalah pintar darinya. Atau mungkin memang tugas?

“Apa yang kau lakukan di sini, Sehun-ssi?” tanya Sooyeon.

Sehun yang sedang memunggunginya itu pun terlonjak kaget. Sooyeon melihat sesuatu berukuran bulat kecil di tangan teman sebangkunya itu sebelum benda itu disembunyikan di balik punggung Sehun. Sooyeon mencoba melirik hal yang disembunyikan itu tapi Sehun bertindak cepat.

“Oh, hai, Sooyeon!” sapa Sehun.

Sooyeon mengernyit bingung. “Ada apa?”

“Tadi aku disuruh untuk merapikan data murid-murid kelas kita dan aku menemukan sesuatu yang menarik.”

Sooyeon memiringkan kepalanya bingung. Dirinya semakin bingung saat Sehun menunjukkan benda yang ia sembunyi dari tadi ke depan wajahnya. Sebuah cupcake. Tidak ada yang spesial yang membuat cupcake tersebut harus disembunyikan darinya.

“Selamat ulang tahun.” Sehun tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Sebenarnya aku ingin memakai lilin juga. Tapi sepertinya tidak cukup. Maaf aku hanya memberikanmu cupcake. Aku tahu hal ini mendadak dan langsung mencari sesuatu untukmu. Uangku hanya cukup untuk ini.”

Hati Sooyeon terasa hangat. Ini pertama kalinya seseorang mengingat ulang tahunnya. Dia tidak peduli Sehun memberikannya cupcake atau kue yang lebih besar. Jika Sehun memberinya selamat, ia rasa itu sudah lebih dari cukup. Bagaimanapun, Sehun hanya lah anak baru di kelasnya. Namun pria itu mau repot-repot membelikan cupcake untuknya. Teman-teman yang ia kenal sejak kecil pun tidak ada yang peduli dengan ulang tahunnya. Begitu pula dengannya.

“Aku baru ingat hari ini adalah ulang tahunku,” gumam Sooyeon.

Sehun terlihat terkejut mendengarnya. “Sebentar lagi pergantian hari dan kau baru mengingatnya? Apa kau tidak peduli dengan dirimu sendiri? Aku terkejut, Sooyeon-ssi.”

Sooyeon terkekeh. “Ya, begitulah. Terima kasih.”

Sooyeon tersenyum mengingatnya. “Saengil chukkaehamnida. Saengil chukkaehamnida. Saranghaneun Oh Sehun. Saengil chukkaehamnida~”

Sooyeon meniup cupcake tersebut seakan ada lilin yang menyala di atasnya dan bertepuk tangan. Beberapa detik kemudian, dia menepuk keningnya. Dia melupakan salah satu langkah wajib; berdoa sebelum meniup lilin. Tapi sepertinya ia tidak berdoa pun tak apa. Bukan dia yang berulang tahun, ‘kan? Lagipula dia tidak pernah berdoa lagi sejak kecil. Saat kecil, dia seperti anak kecil lainnya yang senang berdoa tapi doanya tak pernah dikabulkan. Padahal dia hanya meminta satu hal; adiknya kembali. Tapi kenapa anak-anak lainnya yang berdoa tentang banyak hal, doanya dikabulkan?

Sooyeon menggeleng. Kali ini, entah mengapa, dia ingin berdoa setelah bertahun-tahun lamanya.

“Semoga Sehun tetap menjadi anak kebanggaan ahjussi dan ahjumma Oh. Semoga Sehun semakin pintar. Semoga…” Sooyeon berpikir sejenak. “Semoga hubungan Sehun dan kelima sahabatnya akan baik-baik saja.”

Ia tersenyum lebar. Ternyata berdoa tidak buruk. Berdoa rasanya menyenangkan.

Cklek..

Gadis itu mengumpat siapapun yang masuk ke kamarnya seenaknya dan mengganggu kegiatannya saat itu.

“Astaga, cupcake itu belum kau makan?”

Baiklah, tuan muda yang menawan dan bijaksana lah yang datang, gerutu Sooyeon dalam hati.

“A-apa.. apa-apaan!!” teriaknya saat Joonmyun mengambil cupcakenya.

“Kau tidak mau memakannya maka aku lah yang memakannya,” jawab Joonmyun lalu menggigit cupcake itu.

Sooyeon terdiam. Dia kehabisan kata. Bahkan dia tidak bisa berpikir.

“Whoa, cupcake ini enak sekali! Kau mau?” seru Joonmyun sambil menjulurkan tangannya ke depan wajah Sooyeon.

Sooyeon menatap cupcakenya lirih tanpa melakukan atau mengatakan apapun. Melihat Sooyeon tidak menanggapinya, Joonmyun menarik tangannya dan mengambil gigitan besar di cupcake tersebut. Pria itu datang begitu saja, merusak acaranya dan memakan cupcakenya tanpa perasaan bersalah. Seketika amarah memenuhi hati Sooyeon.

“Keluar,” geram Sooyeon.

Joonmyun meliriknya bingung. “Kau marah karena aku memakan cupcakemu? Aku bisa membelikanmu cupcake sebanyak yang kau mau. Tenang saja.”

“Keluar.”

“Ayolah, aku hanya—“

“Keluar! Keluar, Kim Joonmyun!”

Joonmyun menjilat bibirnya. “Aku tidak suka nada bicaramu.”

“Aku tidak peduli! Lebih baik kau keluar sekarang juga! Keluar!” suara Sooyeon mulai serak karena menahan tangis.

Tidak. Aku tidak boleh menangis di depannya lagi. Kau adalah gadis yang kuat, Jung Sooyeon. Kau tidak boleh menangis. Tidak boleh. Ini hanya masalah kecil. Jangan menangis!

“Jung Sooyeon!”

“Keluar, Kim Joonmyun!”

Sooyeon berusaha mendorong pria itu keluar dari kamarnya tapi itu sia-sia. Bahkan dia tidak berhasil membuat Joonmyun berpindah 1 cm dari tempatnya berdiri. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat saat Joonmyun menahan tangannya. Mereka saling berpandangan beberapa saat sebelum Joonmyun mendorong Sooyeon jatuh ke atas kasur.

“Sudah ku bilang, aku tidak suka nada bicaramu!” bentak Joonmyun.

Diletakkanya cupcake di meja terdekat lalu meniban tubuh Sooyeon. Ia duduk di kaki Sooyeon dan menahan kedua tangan Sooyeon. Gadis itu memberontak sehingga Joonmyun harus menahan kedua tangan itu lebih kuat, membuat Sooyeon meringis kesakitan.

“Tatap aku,” ucap Joonmyun.

Sooyeon tetap membuang muka.

“Kau tahu apa hukumannya jika kau tidak patuh.”

Kini Sooyeon menatap Joonmyun kesal.

“Kau adalah budakku. Kau tidak bisa marah kepadaku, Jung Sooyeon,” tekan Joonmyun.

Kalimat Joonmyun membuat Sooyeon semakin ingin menangis. Itu sangat kejam. Dia adalah manusia yang mempunyai perasaan. Bagaimana caranya agar dia tidak merasa marah kepada Joonmyun?

“Aku sudah lelah dengan segala tingkahmu. Aku memberikanmu berbagai kemudahan. Aku membiarkan semua tingkahmu itu. Tapi sepertinya itu semua malah membuatmu lupa diri,” desis Joonmyun. “Jadi aku ingatkan sekali lagi, kau adalah milikku.”

Joonmyun menatap wajah Sooyeon sejenak lalu lepaskan gadis itu. Dia bisa melihat genggamannya berbekas di tangan Sooyeon. Dia mengacak rambutnya frustasi seraya keluar dari kamar itu.

***

Sooyeon masuk ke dalam mobil tanpa bicara apapun. Untuk melihat Joonmyun saja, ia tidak mau. Walaupun dia penasaran kemana mereka pergi malam itu, dia tidak mau bertanya. Dia tidak mau melihat dan berbicara dengan Joonmyun. Dia tidak mau.

“Kau masih marah padaku?” tanya Joonmyun.

Sooyeon menarik napas dalam. “Anio.”

“Baguslah.”

Sooyeon menghela napas gemas mendengarnya. Jika bisa, Sooyeon akan melakukan segala cara untuk memuaskan emosinya terhadap Joonmyun. Pria itu semakin hari, semakin menyebalkan.

Mobil itu memasuki kawasan yang tidak asing bagi Sooyeon. Mungkin Sooyeon pernah ke tempat ini sebelumnya. Entahlah. Hampir 2 bulan dikurung di dalam apartemen membuatnya lupa akan dunia luar. Dia hanya tahu jalan-jalan di sekitar apartemen.

“Ayo.”

Sooyeon mengerjap ketika sadar pintu di sampingnya sudah terbuka dan memperlihatkan sosok Joonmyun yang sedang menunggu uluran tangannya dibalas oleh Sooyeon. Gadis itu menerimanya dengan perasaan ragu.

Apa dia membawaku ke pesta bisnisnya lagi?, pikir Sooyeon. Lalu saat Krystal datang, dia akan menyuruhku pulang? Oh, bagus sekali.

“Kau tahu pesta apa ini?” tanya Joonmyun.

Sooyeon menahan dirinya untuk mendengus sambil menggeleng.

Joonmyun tersenyum lebar. “Kita akan menemui sang bintang utama dalam pesta ini.”

Joonmyun melingkarkan tangannya di pinggang Sooyeon sembari sedikit menarik gadis itu agar berjalan lebih cepat. Mereka berjalan menuju 2 sahabat Joonmyun yang sudah datang. Sooyeon cukup lega karena si nyamuk Luhan—Sooyeon memanggilnya begitu karena Luhan sangat berisik dan tidak bisa diam seperti nyamuk—tidak ada di antara mereka.

Annyeong, Sooyeon-ah,” sapa Kyungsoo dan Jongdae.

“Tumben Luhan belum datang,” komentar Joonmyun. “Biasanya dia adalah orang pertama yang datang ke setiap pesta. Kris juga.”

“Sebenarnya dia sudah datang. Entah dimana dia sekarang. Sementara Kris, dia tidak bisa datang karena dia ada jadwal pemotretan di Jeju,” jelas Jongdae.

Dalam hati, Sooyeon melompat-lompat girang. Setelah percakapannya dengan Kris di kafe, Sooyeon benar-benar tidak suka dengan si tiang listrik itu.

“Bagaimana dengan bintang kita?” tanya Joonmyun.

“Dia tidak mau keluar. Padahal kita sudah susah-susah membuat pesta di halaman belakang rumah Luhan ini,” gerutu Kyungsoo. Dia ikut memasak khusus untuk hidangan di pesta itu.

Sooyeon menatap ke sekitar. Ternyata seperti ini lah rumah Luhan. Memang tidak sebesar dan seluas rumah keluarga Joonmyun. Tapi ini rumah yang mewah. Aneh sekali Luhan lebih senang menghabiskan waktu di rumah keluarga Joonmyun.

“Aku juga akan menjadi DJ khusus untuk pesta ini. Menyebalkan jika dia tidak mau keluar,” timpal Jongdae.

Sooyeon menggaruk kepalanya bingung. “Memang siapa ‘dia’? Kalian mengatakan ‘dia’, ‘dia’, dan ‘dia’. Aku tidak mengerti siapa yang sedang kalian bicarakan.”

Kyungsoo menatapnya bingung sekaligus kesal. “Kau tidak tahu? Bukankah kau adalah sahabatnya? Ini adalah pesta ulang tahun Oh—“

Seseorang menarik tangan Sooyeon hingga ia hampir jatuh jika Joonmyun tidak menahannya.

“Sooyeon-ah, k-kau datang?” tanya orang itu tidak percaya.

Sooyeon mengerjap. “S, Sehun?”

=== Only Because It’s You ===

Maaf ya ini pendek. Aku lagi ga ngefeel abis sama anak EXO apalagi sama yang namanya Suho. Duh puyeng -_-

79 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 4

  1. Kekkekekke ~ suho jail banget msak gtu aj mnta popo?? Sica ktemu sehun??? Mau bcara apa?? Kepo🙂 q pngen akhirnya ma suho🙂

    Authornim keep writting🙂

  2. Ultahnya sehun kah? Agak tenang sih di chapter ini, setelah tiga chapter sebelumnya tegang xD emh… suho denger sesuatukah pas sica ‘semedi’ sama cupcakenya? Kenapa dia tiba-tiba langsung ngambil cupcakenya? Dan kenapa dia biarin sica ketemu sehun lagi? U-uh penasaran haha… aku baca next chap yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s