Social Media Love Story (Chapter 2)

req42

Social Media Love Story

Storyline by Fwld

Staring SNSD Jessica and EXO M Luhan as the main cast

.           .           .                       .           .           .                       .           .           .

“Selamat pagi”

Kurang lebih itu pesan pertama yang Luhan sampaikan kepada kenalan barunya itu setelah permintaan pertemanannya di terima melalui Yahoo-Messenger. Dan nampaknya gadis itu bukan tipe orang yg mudah untuk didekati. Atau terlalu sibuk sehingga belum sempat membalas pesan pria china tersebut yg sudah dikirim sejak satu jam yg lalu.

Sebenarnya dia mengirim itu bukan dilandaskan niat apapun, hanya merasa bosan. Itu saja. Pasalnya semua tugasnya sudah dilahap dalam 2 hari, dan kini belum ada pekerjaan baru untuknya. Sembari menunggu balasan dari gadis itu, dia memilih untuk bermain zuma atau feeding frenzy. Memang terdengar seperti kekanak-kanakan. Tetapi dia bukan orang yg naif, permainan itu yg selalu mengisi waktu bosannya
Entah kenapa dia sangat tertarik untuk menyelesaikan permainan ikan tersebut dari awal hingga akhir. Sejak masih kecil hingga menjadi ikan yg besar. Atau betapa menegangkannya saat tiba-tiba seekor hiu lewat dan bagaimana cara dia menangkap bintang bintang yg sering dibawa oleh semacam putri duyung. Bahkan sekedar menghindar dari hewan yg lebih besar darinya bisa membuatnya memekik singkat sehingga terkadang ada yg reflek menoleh ke arahnya, atau sekedar mengatakan, “Shhtt”

Namun akhir-akhir ini dia mulai tenang dalam memainkannya setelah berkali-kali menyelesaikan permainan itu dalam waktu kurang dari 3 hari. Sehingga pagi ini dia lebih memilih bermain zuma, game terseru kedua didalam listnya. Sebenarnya dia bukan tipe orang yg menggemari games. Seperti, peperangan atau strategi. Dia lebih memilih untuk bermain games ringan dan sederhana namun bila dipikir bermanfaat juga.

Hingga pusat perhatiannya teralihkan saat mendengar bunyi buzz—semacam salah satu fitur ym—dan saat dia melihatnya. Muncul nama Jessica yg mengirimkan sebuah kata, ‘pagi’ yg cukup membuatnya mengembangkan senyum.

Dengan cepat dia mengetik untuk sekedar menanyakan kabar dan memberikan doa yg biasa disampaikan untuk mengawali hari. Seperti, have a nice day. Atau semacam, Tuhan memberkati, dan lain sebagainya. Namun sepertinya tangan Jessica mengetik lebih cepat.

‘Have a blessed day. Mari bekerja dengan keras!’ salamnya. Sebenarnya Luhan belum pernah mendengar suara gadis itu, tetapi entah mengapa dia merasa mendengar suara seorang gadis yang berbisik mengatakan kalimat tersebut ditelinganya.

Tunggu, bukan gadis lebih tepatnya. Karena suara itu semacam suara berat yg dibuat-buat menjadi imut. Saat dia menoleh, Lee Donghae—pria bermata teduh dan rambut hitam tanpa poni—rekan kerjanya yg sedang berdiri sambil menahan tawa.

“Sialan” sambil mendengus kesal, dia menendang tulang kering milik Donghae dan membuat pria itu meringis sambil memegangi bagian yg baru saja ditendang oleh Luhan.

“Syjung?” dia mendekatkan pandangannya ke layar dan membaca nama pengguna yg mengirimkan ucapan—lebih tepatnya doa—pengawal hari. Lalu dia mengerutkan keningnya, meminta penjelasan siapa sebenarnya gadis itu.

Luhan tau betul bahwa Donghae adalah orang yg benar-benar ‘knowing every particular object’—atau lebih sering disebut kepo—. Melelahkan memang memiliki teman seperti itu, tapi dia bukan orang yang naif. Di sisi lain, kehadiran Donghae juga membantu. Karena dengar banyaknya informasi yg dia tahu, dia jadi bisa memberi saran dan tanggapan yg berguna atau setidaknya cukup berguna.

“Teman baruku” ucap Luhan sambil mengetik kalimat untuk membalas ucapan dari Jessica.

Sebenarnya Luhan tidak mengetahui nama asli Jessica ataupun sebaliknya. Luhan menggunakan Jung sebagai nama panggilan untuk Jessica. Dan Jessica menggunakan Xi sebagai panggilan untuk Luhan.

.           .           .                       .           .           .                       .           .           .

Tangan Jessica bergerak-gerak asal, mencoret buku tulis yang biasa dia gunakan untuk menulis ide-ide yg belum sempat ia tuangkan kedalam ceritanya. Dia tidak bekerja sebagai orang kantoran. Dia lebih memilih menjadi seorang penulis cerita.

Karena menurutnya, menjadi penulis bukan hanya untuk mencari uang. Tetapi juga mengembangkan kreatifitas. Dan menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Mungkin orang-orang berfikir bahwa menulis hanya butuh ide, kata-kata dan mulai membuat cerita. Tetapi tidak. Tidak semudah itu, faktanya.

Jarinya beralih ke mouse-pad dan sesekali meng-klik yahoo-messenger untuk mengecheck pesan dari Luhan, atau memilih untuk membaca ulang ceritanya yg belum dia serahkan ke penerbit. Karena terkadang dalam cara penulisan banyak kita menemukan kesalahan apabila kita rajin membaca ulang.

Yoona muncul dari balik pintu kamar dengan rambut yang berantakan dan kaos putih polos serta celana pendek yg melekat ditubuhnya. Ya, hari ini dia tidak pergi ke tempat kerjanya dikarenakan libur.

Libur? Hari Jum’at libur?

Ya memang bos-nya memiliki pola pikir yang cukup membingungkan. Contohnya adalah ada peraturan, dimana mereka diharuskan membawa bekal karena saat waktu makan siang tidak ada yg boleh makan keluar, mereka akan berkumpul di sebuah ruangan yg terdapat meja bundar di dalamnya. Kebetulan juga kariawan disana tidak terlalu banyak—karena itu adalah tempat penerbit yang baru dan tidak mengambil terlalu banyak pegawai—tapi harus diakui, Yoona merasa sangat nyaman bekerja disana.

“Hmm, XiaoBoo” sembari memicingkan matanya, mempertajam penglihatannya yg masih setengah sadar, dia membaca nama yang ada di layar laptop Jessica.

Dia memilih untuk mengambil tempat duduk di sebelah Jessica. Dia menguap, mengulat, dan menyandarkan punggungnya.

Sementara jari jari Jessica terus mengetik, membalas pesan dari teman barunya tersebut. Menurutnya teman barunya itu cukup menyenangkan. Mudah diajak bercanda dan tidak kaku. Itu alasan mengapa Jessica cukup mudah akrab dengannya.

Ponsel miliknya bergetar. Tidak menimbulkan suara, karena dia tidak suka kebisingan. Karena, letaknya lebih dekat dengan Yoona, dia meminta tolong kepada sahabatnya itu untuk membuka pesan atau mengangkat telepon dari orang yang dia sendiri tidak tahu siapa.

Yoona langsung terkikik singkat saat membuka pesan dari orang yang namanya muncul di layar ponsel Jessica.

Melihat tingkah Yoona, dengan cepat—dan tentu saja penasaran—untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan sehingga membuat Yoona terkikik geli. Dia merebut ponselnya yang tadi berada di genggam

“Sial, Lee Donghae” dia mengendus kesal setelah membaca pesan itu dan berjalan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap seperti apa yang telah dikatakan oleh pria yang tadi disebut namanya.

.           .           .                       .           .           .                       .           .           .

Dia melangkah cepat menuju tempat makan biasa mereka bertemu. Ya pasalnya dia paham bahwa waktu jam makan siang yang Donghae miliki tidak lama, karena itu dia tidak boleh membuat pria itu menunggu terlalu lama.

Itu alasan mengapa dia tidak suka menggunakan high-hells dan memilih sneakers atau flat shoes. Dia tidak bisa bergerak dengan cepat dan leluasa jika menggunakan high-heels.

Memang karena tempat tersebut tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, sehingga saat ini dia sudah ada didepan pintu masuk restaurant mini tersebut. Struktur bangunannya klasik, sesuai dengan seleranya.  Sebelum sampai di pintu masuk ada sekitar 5 anak tangga yang harus kita naiki, dan saat masuk ke dalamnya kita akan bertemu sebuah counter kecil untuk memesan jika ingin dibawa pulang dan 10 anak tangga lagi untuk sampai ke tempat intinya.

Seakan sudah hafal dengan wajahnya, salah satu pelayan yang bernama Kwon Yuri menunjukkan tempat dimana Donghae duduk. Namun saat dia melihat Donghae duduk dengan seorang pria berambut blonde, dia menautkan kedua alisnya. Bertanya tanya dalam hati

 

Siapa gerangan?

“Hey donghae-ssi!” dia menepuk pundak pria yg membelakanginya dengan suara yang ceria.

Kesan bertama didepan orang lain tidak boleh buruk. Dia harus bersikap baik karena dia tidak mau terus dianggap wanita jutek, dingin, atau sebagainya. Dia ingin dikenal sebagai Jessica yang ramah dan baik hati.

Donghae menoleh dan langsung bangkit lalu menarik kursi yang ada di sebelahnya untuk Jessica. Sambil tertawa mengejek, Jessica menendang kecil kaki pria yang sebenarnya lebih tua darinya.

“Sudah kubilang jangan panggil aku menggunakan embel-embel ssi. Tapi dengan oppa” dia mengerlingkan matanya genit.

“Ew. Teruslah bermimpi! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menganggapmu sebagai kakakku!” bahu Jessica bergidik ngeri saat mendengar kata ‘oppa’ keluar dari bibir Donghae.

Ya, memang dari dulu Donghae sangat ingin memiliki adik perempuan. Dan dia merasa Jessicalah yang paling cocok dengan kriteria adiknya. Karena itu dari 2 tahun terakhir, dia terus memaksa Jessica untuk memanggilnya dengan sebutan oppa. Dan berkali kali pula Jessica menolaknya.

Bukan hanya geli dengan kata oppa, tapi juga dia merasa Donghae tidak pantas menjadi kakaknya. Karena Donghae itu juga Donghae sangat senang menggoda ‘gadis-yang-selalu-dia-anggap-adik’ tersebut.

“Haha, lihat saja suatu saat nanti. Kau pasti akan memanggilku dengan sebutan oppa. Oh iya Jess, perkenalkan. Ini teman kantorku, namanya Luhan”

Pria yang bernama Luhan itu mengulurkan tangannya, “Luhan”

Meresponnya dengan cepat, Jessica menjabat tangan yg terulur itu, “Jessica”

 

“Dari awal aku sudah tertarik dengan mata foxy-nya. Aura dinginnya benar-benar membuatnya tampak elegant. Tapi ternyata sifatnya tidak sedingin perawakannya, dia tampak sedikit manja dan kekanak-kanakan” batin Luhan

“Kau tahu apa, Jess?”

Jessica mengangkat alisnya, pengganti respon ‘apa’-nya. Jujur saja, jika ada orang yang belum dia kenal disekitarnya, dia lebih memilih menggunakan bahasa tubuh dibandingkan berbicara.

“Kalian berdua sama sama belum memiliki kekasih” ucap Donghae, lalu tertawa. Sementara Luhan dan Jessica hanya terdiam, menatap Donghae bingung, sampai membuat tawa pria Mokpo itu reda.

“Donghae-ssi, kau tau apa?” kini giliran Jessica yang berbicara seperti itu.

“Apa?”

“Kau tidak lucu” balasnya sinis. Luhan menahan tawa saat melihat ekspresi Donghae yang menahan malu. Sementara Jessica hanya mengaduk-aduk minumnya yang baru saja sampai.

Donghae berdehem, “Oh, ayolah. Jangan dianggap serius. Sebenarnya aku memiliki maksud baik dalam berkata seperti itu”

Luhan dan Jessica sama-sama mengerutkan keningnya. Langsung memahami kode dari mereka, Donghae menjelaskan maksud omongannya.

“Luhan merupakan pria yang tampan dan juga baik. Jessica juga cantik dan anggun. Jadi bagaimana kalian—“

Dengan cepat Jessica menancapkan garpunya di atas meja. Mata foxynya menatap Donghae tajam. Sementara Luhan hanya meringis melihat ‘pemandangan’ seperti itu.

“Aku tidak suka cara seperti ini” dengan sinis dan tajam, Jessica menatap Donghae dengan kesal. Lalu ia bangkit dan meninggalkan tempat itu tanpa menghabiskan minumnya terlebih dahulu.

‘Sial, aku lupa’ Donghae mengutuki dirinya dalam hati.

Hai haha. Maaf singkat((lagi)). Gak biasa nulis cerita panjang. Disini mau ngodein masa lalunya Jessica. Bubay see you next time. Awas gak rcl nanti aku sedih?!?!mwaj

45 thoughts on “Social Media Love Story (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s