180° – Chapter 1

180 Degrees from Yura Lin

Main Cast:

SNSD JessicaBAP Daehyun

Supporting Cast:

ZE:A Junyoung

Note: mungkin beberapa dari kalian akan berpikir, “HAH? Yura buat ff baru lagi?”, and yap, saya memang buat ff baru lagi. Songfic Project lagi jalan dan akan dipublish di sebuah tanggal yang tepat. Jadi selagi menunggu waktunya aku publish Songfic Project, mari nikmati dulu ff baru ini.
Aku pilih Daehyun karena seseorang pernah request ff Jessica-BAP ke aku. Maunya sih Yongguk atau Himchan. Tapi pas liat muka mereka, aku ga bisa dapet karakter yang cocok. Pas liat muka Daehyun, malah dapet. Hehe .__.

Poster by 

=== 180 Degrees ===

“Love is a language spoken by everyone but understood only by the heart.”

***

Pertama kali keluargaku menempati rumah pertama kami di Korea Selatan ini, aku hanya mengunci diriku di dalam kamar. Aku bukan orang yang mudah berteman. Saat aku berhasil memiliki banyak teman, orangtuaku malah membawaku pergi. Adikku adalah kebalikan dariku. Dia mungkin arogan, keras kepala dan bossy. Anehnya, sore harinya di hari pertama kami, dia sudah berhasil bermain dengan seorang anak kecil di depan rumah. Seminggu kemudian, dia berhasil membawa banyak anak kecil untuk bermain di rumah dan menjadi pengikutnya.

Seperti sore ini, mereka bermain di taman depan rumah. Adikku dan teman laki-lakinya menjadi pengantin, seorang bocah yang memakai kacamata memegang sebuah buku di antara sepasang pengantin, gadis manis yang rambutnya dikuncir dua itu menebarkan bunga dan sisanya menjadi penonton. Aku bingung, bagaimana bisa anak-anak itu memainkan hal yang sakral seperti itu?

Aku hanya menatap pemandangan itu dari balkon sambil mengasihani diriku sendiri. Betapa beruntungnya Soojung mudah mendapatkan teman dengan perilaku menyebalkan seperti itu. Aku pun bertanya-tanya apa yang membuatku tidak bisa cepat mendapatkan teman seperti adikku. Apa aku harus menjadi searogannya? Sekeras kepala Soojung?

Aku mengerjap ketika bocah laki-laki yang menjadi pasangannya Soojung itu melirikku dan menyengir lebar. Menyadari tatapan bocah itu mengarah kepadaku, Soojung memukul lengan bocah itu. Bisa ku bilang bocah itu kesakitan. Terlihat dari wajahnya. Aku mendengus seraya masuk ke dalam kamar.

***

Hari pertama masuk sekolah memang tidak seburuk pikiranku. Aku cukup terkenal dengan fakta aku berasal dari benua Amerika. Jam istirahat, aku dikelilingi hampir seluruh anak di kelas itu sambil menanyakan berbagai macam pertanyaan tentang Amerika. Pulangnya, beberapa teman baruku mengajakku pulang bersama. Unik, karena aku terbiasa pulang bersama temanku tapi dengan bus sekolah di Amerika. Akan tetapi, di sini aku bisa pulang sendiri dengan bus umum. Untung ibuku sudah mengajarkan cara naik bus beberapa kali.

Hari kedua masih sama dengan hari pertama. Itu terus terjadi hingga sebulan kemudian, aku pun kembali sendiri. Aku akan pulang bersama dengan seorang teman jika bertemu di bus. Berbeda sekali dengan Soojung yang temannya semakin banyak saja. Tapi tidak apa. Aku malah menyadari bahwa sendiri lebih cocok denganku.

Siang itu, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk bermain di taman setelah meletakkan tasku di teras rumah. Tidak ada teman sepantaranku. Hanya ada anak kecil yang umurnya tidak jauh dari umurnya Soojung.

“Jogiyo.”

Aku menoleh dan terkejut melihat seorang bocah laki-laki duduk di ayunan di sampingku. Dia menyengir lebar yang membuatku teringat dia adalah bocah yang sama dengan bocah yang menjadi pasangan Soojung saat mereka membuat pernikahan palsu beberapa minggu yang lalu.

“Kau pasti kakaknya Krystal, ‘kan?” tanyanya.

Aku mengangguk mendengar nama Inggris adikku disebut olehnya.

“Jeshiya?”

Aku menggeleng tak setuju. “Yang benar adalah Jessica.”

“Jeshika?”

“Logatmu aneh. Jes.. Sica.”

“Jeshika.”

Stop! Kau bisa memanggilku Sooyeon. Kau bisa mengucapkan Sooyeon dengan benar, ‘kan?” kesalku.

Dia terkekeh pelan. “Sooyeon noona, namaku—“

Yah, Jung Daehyun!”

Aku menoleh ketika mendengar lengkingan khas Soojung. Adikku berdiri di depan rumah sambil berkacak pinggang, matanya menatap kami—aku dan bocah yang dipanggil Jung Daehyun itu—dengan tatapan garang. Setelah beberapa detik berdiri di sana, dia berlari kecil menghampiri kami dan menarik tangan Daehyun pergi dari taman, meninggalkanku sendiri.

“Aku menyuruhmu untuk menungguku di teras rumahku bukan di taman. Aish, kau bodoh sekali!” Soojung dengan seenaknya mengomeli Daehyun. Padahal ku yakin Daehyun lebih tua dari Soojung.

Aku hanya memperhatikan kepergian mereka dalam diam.

***

3 tahun kemudian.

Noona, aku datang untuk menemuimu karena aku tahu kau pasti merindukanku.”

Daehyun memasang wajah sok manis, tangannya terlipat rapi di atas meja. Aku hanya membalasnya dengan ekspresi tidak terlalu terkejut sambil menikmati eskrim vanilaku.

“Kau datang hanya untuk bertemu Soojung. And well, kau menghalangiku menonton televisi. Jadi jika kau tidak keberatan, tolong menyingkir,” tanggapku.

Daehyun menyengir lebar sembari berpindah tempat ke sampingku. Ia meraih tanganku yang ingin menyuapkan sesendok eskrim ke mulutku agar berubah arah menjadi ke mulutnya. Aku hanya bisa memperhatikan hal itu terjadi tanpa melakukan apapun. Ini sudah sering terjadi tapi aku tetap tak bisa berbuat apapun tentang ini. Aku tak terbiasa dengan anak laki-laki yang berbuat seenaknya. Aku tidak pernah dekat dengan anak laki-laki sebelumnya.

“Apa Krystal sudah pulang?” tanya Daehyun akhirnya.

Aku mengerjap linglung. “Hah?”

“Krystal. Apa dia sudah pulang?”

“O-oh.. oh ya…” aku menggumam. Sedetik kemudian, pikiran sehatku kembali dan aku menyadari kesalahanku. Aku segera menggeleng cepat. “Eh, belum! Soojung belum pulang. Katanya dia pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas.”

Daehyun membalasnya dengan gumaman pelan sambil mencuri satu suapan lainnya dari eskrimku.

Yah, itu milikku!” protesku kesal.

***

Sebenarnya aku dan Soojung tidak hanya dekat dengan Daehyun, namun kami juga dekat dengan kakak tiri Daehyun bernama Junyoung. Kebetulan aku dan Junyoung seumuran, sedangkan Daehyun lebih muda 4 tahun dan Soojung lebih muda 5 tahun dariku. Dan jika Daehyun lebih dekat dengan Soojung, maka aku lebih dekat dengan Junyoung.

Karena umur kami sama dan aku sejenjang dengannya, kami masuk ke sekolah yang sama bahkan kelas yang sama. Sementara Soojung satu sekolah dengan Daehyun. Karena itu, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Junyoung. Contohnya seperti sekarang.

Junyoung dan aku berbincang ringan di sebuah coffee shop pinggir kota Seoul setelah mengerjakan aktivitas sosial. Tahun terakhir adalah tahun penentuan kami. Selain nilai kami harus baik, kami perlu membangun penilaian baik lewat aktivitas sosial. Itu semua akan mempermudahkan jalan kami untuk diterima di tempat yang kami inginkan.

“Kau masih belum menentukan akan memilih jurusan apa?” tanya Junyoung, matanya menyipit.

Aku mengangkat bahuku acuh tak acuh. “Aku masih bisa memikirkannya sampai sebelum pendaftaran, ‘kan?”

“Akan lebih baik jika kau fokus dari awal, ‘kan?”

You think so?” balasku malas. “Bagaimana denganmu? Apa pilihanmu?”

“Aku ingin menjadi seorang dokter.”

“Dokter?”

Junyoung terkekeh pelan sebelum menjawabnya sekali lagi, “Aku ingin jadi dokter.”

Kini aku yang menyipitkan mata sambil memutar mataku. Melihat ekspresinya dan mendengar bagaimana ia tertawa, aku sepertinya mengerti isi pikirannya. Aku menendang kakinya seraya menyesap cappucinnoku. Dia hanya meringis pelan

Wae?!” protesnya.

“Aku serius bertanya, Moon Junyoung,” desisku.

Junyoung menggeleng lalu mengetuk kepalaku gemas. “Mengapa kau selalu berpikiran buruk tentangku, sih? Aku juga serius! Aku ingin menjadi dokter agar aku bisa mengurus keluargaku sendiri nanti. Aku juga ingin membantu semua orang. Niatku baik!”

“Hehe, ku kira. Kau bisa memakai kalimat itu untuk meyakini orang-orang, kau tahu.”

Junyoung kembali menggeleng bertanda ia tidak setuju denganku. Kami menikmati kopi yang kami pesan dalam keheningan sambil memperhatikan sekitar. Coffee shop itu tidak terlalu ramai, mungkin karena bertempat di pinggir kota.

“Orangtuaku menyarankanku untuk sekolah di Amerika. Mereka pikir universitas di sana lebih baik daripada universitas di sini. Aku juga dapat kuliah sambil memikirkan jurusan yang cocok untukku. Mungkin aku bisa kuliah di New York University? Atau Harvard?”

Junyoung mendecak meremehkan. “Harapanmu terlalu tinggi. Dengan kemampuan otakmu itu, kau tidak akan bisa masuk ke universitas unggulan.”

Aku mendesis kesal. “Kau adalah sahabat terkejam.”

“Lagipula, mengapa tiba-tiba sekali? Seingatku orangtuamu tidak membiarkanmu kuliah di luar negeri.”

“Keluarga besarku yang memintanya. Semacam sebagai ‘pengingat’ untuk orangtuaku agar pulang ke Amerika jika ada waktu. Sudah sekitar 2 tahun ini, keluarga kami tidak datang ke sana karena terlalu sibuk dengan urusan di sini. Jika bukan aku yang pergi, mungkin Soojung yang akan dikorbankan.”

Junyoung tertawa geli mendengarnya. “Itu adalah alasan terkonyol yang pernah ku dengar. Lagipula aku yakin kau tidak akan tega meninggalkan negara ini. Kau tidak akan bisa hidup tanpaku.”

Aku memutar mataku. “Your wish, Moon Junyoung!”

***

Aku baru saja menghempaskan diri di kasur dan melemaskan setiap otot kaku akibat aktivitas sosial yang ku lakukan hari ini saat pintu kamarku dibuka dengan kasar oleh Soojung. Bocah itu naik ke kasurku dan melompat kegirangan, tak peduli dengan segala eranganku. Setelah puas, ia menjatuhkan dirinya sampingku.

Eonni, tahu tidak?” serunya sambil mengangkat kepala untuk menatapku.

Aku menutup mata sambil membalasnya dengan gumaman. “Hm?”

“Aku dan Daehyun oppa resmi berpacaran.”

Mataku terbuka dan menatap Soojung horor. “Sejak kapan?”

Dengan senyuman paling lebar, ia menjawab, “Sejak hari ini.”

***

4 tahun kemudian.

“Jung Sooyeonnie noona~”

Aku menutup telingaku kuat-kuat mendengar seseorang memanggil namaku dengan dialek Busan. Dialeknya selalu keluar jika dia sedang merengek, marah dan sedih. Daehyun menarik tanganku lalu memberikan tatapan melasnya. Jika sudah seperti ini, pertahanan yang susah-payah ku bangun, kini melemah karena aku sangat menyayangi Daehyun seperti adikku sendiri. Aku menghela napas panjang. Sepertinya rencanaku datang ke rumah ini untuk bertemu Junyoung harus diganti menjadi untuk mendengarkan keluhan Daehyun.

“Dengar, ya. Aku tidak bisa membantumu. Soojung sendiri yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika. Dia ingin kuliah di universitas terkemuka di dunia untuk mencapai cita-citanya,” ujarku, berharap dia mengerti.

“Tapi—“

Aku mengangkat kedua tanganku. “Aku sungguh tidak tidak bisa membantumu. Namun jika kau memang tidak mau berpisah, kau bisa ikut dengan Soojung.”

“Kau tahu sendiri aku tidak lancar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah kelemahanku,” tolaknya sambil menatapku ngeri.

“Kau yakin hanya bahasa saja halangannya?”

Daehyun memainkan tangannya. “Aku juga tidak bisa terlalu jauh dari ibuku.”

Daehyun adalah hasil dari hubungan gelap ayahnya Junyoung dengan seorang wanita Busan. Ayahnya Junyoung baru tahu soal Daehyun saat Daehyun berumur 9 tahun. Setelah berbagai hal terjadi, ayahnya Junyoung menawarkan Daehyun untuk tinggal bersamanya dan mendapatkan fasilitas terbaik di Seoul sebagai pertanggungjawabannya atas Daehyun. Ibunya Daehyun setuju dengan syarat Daehyun harus pulang ke Busan setiap liburan semester. Ia juga tidak setuju Daehyun memakai nama keluarga ayahnya. Satu hal yang membuatku takjub setelah mengetahui fakta ini adalah hubungan keluarga Junyoung dan Daehyun yang sangat akrab, tidak seperti di drama-drama yang sering ku tonton.

Aku memutar mataku jengah. “Bawa ibumu denganmu kalau begitu.”

“Ayahku belum tentu membolehkannya.”

Aku mengacak rambut frustasi sambil mengerang kesal. “Terserah!”

Aku segera berjalan cepat menuju kamar Junyoung tapi tanganku ditahan oleh Daehyun. Sepertinya bocah itu masih belum puas.

Noona, hubungan kami sudah hampir 4 tahun. Masa harus berakhir hanya karena dia pindah ke Amerika untuk kuliah?” keluh Daehyun.

“Menghitung waktu-waktu kalian putus, kalian hanya berpacaran selama 2 tahun 6 bulan. Tidak lupa, kalian juga sudah putus lagi 2 bulan yang lalu jadi kalian tidak punya hubungan apapun sekarang,” ralatku. “Dan itu bukan masalahku. Kau bisa bicarakannya langsung dengan Soojung.”

Aish, Noona jahat sekali!”

Aku menangkup wajah Daehyun. “Dengar, aku tidak akan bisa membantumu. Kau tahu sendiri betapa keras kepalanya Soojung jika dia sudah membuat keputusan, ‘kan? Jadi jika kau tidak keberatan, aku memintamu untuk berhenti menggangguku karena aku punya urusan penting dengan hyungmu. Mengerti?”

Daehyun mengangguk polos. Aku ikut mengangguk sambil menghela napas lega. Kini aku bisa bertemu dengan Junyoung tanpa ada gangguan dari Daehyun lagi. Aku tersenyum malu ketika menyadari Moon ahjumma sedang memperhatikan kami. Aku segera kabur menuju kamar Junyoung dan masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Adikmu mulai membuatku gila, Junyoung-ah,” keluhku begitu menutup pintu kamar Junyoung dari dalam.

Junyoung hanya membalasnya dengan gumaman sambil tetap sibuk dengan bukunya. Aku duduk di pinggir kasur, bagian yang paling dekat dengan Junyoung.

“Dia juga menggangguku,” balas Junyoung akhirnya sambil menutup bukunya lalu menoleh. “Well, ada apa kau datang kemari?”

“Apa yang kau lakukan?” aku balas bertanya.

Junyoung melirik bukunya. “Hanya membaca tentang beberapa hal. Sebentar lagi akan ada ujian. Bagaimana denganmu?”

“Aku sudah lulus, Junyoung. Aku tidak perlu menghadapi ujian lagi,” jawabku bangga.

Junyoung memutar matanya. “Bodoh, aku juga. Maksudku tes untuk menjadi asisten dokter. Aku kuliah bukan hal yang sia-sia, ‘kan?”

“Oh ya, aku mengerti. Aku juga sedang menunggu panggilan. Aku sudah melamar ke beberapa sekolah.”

“Aku tidak bisa membayangkan kau menjadi seorang guru.”

Aku mendelik tajam. Bukannya takut atau meminta maaf, dia malah tergelak tawa. Aku menendang kakinya. Seperti biasa, itu berhasil menghentikan tawanya. Junyoung bangkit untuk duduk di sampingku kemudian mengacak rambutku lembut.

Okay, sorry. Aku hanya becanda. Jadi kenapa kau datang ke rumahku? Tidak biasanya kau datang tanpa diundang,” katanya.

Aku menjawabnya dengan suara semanis mungkin, “Aku merindukanmu, Junyoungie~”

Junyoung memasang ekspresi jijik, membuatku kembali kesal dan melempar bantal ke mukanya.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku. Namun niatku hilang begitu melihat Soojung di ruang tengah, sedang menonton televisi sambil mengemil. Seketika setiap kata Daehyun tadi melesat di pikiranku. Aku memutuskan untuk duduk di sampingnya. Menyadari kedatanganku, Soojung menatapku datar sambil menawarkan cemilannya. Aku menggeleng untuk menolaknya.

“Kau yakin akan kuliah di luar negeri?” tanyaku.

Soojung melirikku sekilas. “Daehyun mengganggumu?”

“Begitu lah. Jadi?”

Soojung mengangguk. “Yes, I am. Cara pembelajaran di negara ini benar-benar menyiksa. Aku tidak kuat. Aku ingin sedikit kebebasan.”

“Daehyun—“

“Kami sudah tidak punya hubungan apapun lagi. Lagipula, aku harus fokus pada pendidikanku tinggal beberapa bulan sebelum ujian akhir. Tidak ada waktu untuk memikirkannya.”

Aku mendesah pelan.

Lihat, Daehyun. Aku tidak akan pernah berhasil mengubah keputusan Soojung. Aku tidak bisa.

***

“Sooyeon-ah, cepat jemput Soojung di rumah keluarga Moon. Di luar hujan tapi dia tidak bawa payung,” perintah ibuku.

Mataku tetap terfokus pada layar televisi dan tanganku tetap membawa keripik kentang dari bungkusnya ke dalam mulutku tanpa menanggapinya. Tidak ada seorang pun yang boleh menggangguku saat aku sedang serius menonton. Beberapa saat kemudian, aku merasa sesuatu mengenai kepalaku keras dan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.

Ah.. hanya umma yang berhasil menggangguku, gerutuku dalam hati.

Umma~ apheuda,” ringisku sambil menatap ibuku kesal.

Ibuku menatapku tajam lalu melempar payung ke pangkuanku. “Jemput Soojung!”

“Untuk apa? Daehyun pasti mengantarkannya pulang. Tidak perlu khawatir,” sungutku pelan.

“Jung. Soo. Yeon.”

Jika ibuku sudah menyebutkan nama anaknya per suku kata, artinya hal selanjutnya yang terjadi tidak akan indah. Aku segera berlari keluar lalu membuka payung.

Hujan turun dengan sangat deras padahal sekarang sudah akhir musim panas. Walaupun hujan membuat malam itu tidak terlalu panas, tetap saja aku kesal. Aku tidak suka berjalan di tengah hujan. Aku tidak suka basah. Tanpa sadar, aku memaki Soojung yang seenaknya datang ke rumah keluarga Moon walaupun awan sudah mendung sejak sore hari. Untuk apa pula dia datang ke rumah itu? Bukankah dia pernah bilang dirinya sudah tidak punya hubungan dengan Daehyun?

Langkahku terhenti ketika melihat dua orang yang familiar bagiku sedang berdebat di tengah hujan. Aku mengambil beberapa langkah untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas dari kedua orang itu. Aku tersentak begitu sadar mereka adalah Daehyun dan Soojung. Emang dasarnya kakiku bodoh, kakiku malah berlari ke tempat yang cukup untuk menyembunyikan diriku. Padahal tidak ada gunanya bersembunyi, ‘kan? Maksudku, aku bukan penculik yang harus mengamati targetnya diam-diam. Aku tidak perlu bersembunyi. Ugh, dasar kaki bodoh!

Aish, aku ingin fokus belajar! Aku tidak mau berhubungan dengan siapapun, termasuk seorang Jung Daehyun! Itu sebabnya aku mengembalikan semua barangmu, agar kau berhenti berharap kita bisa kembali bersama karena itu tidak mungkin. Kau dengar? Itu tidak mungkin!” Soojung membentak Daehyun sambil menghentakkan kakinya kesal.

“Tapi Krys—“

“Kau bodoh sekali. Berhenti memaksaku!” kesal Soojung.

Soojung segera berlari sebelum Daehyun berkata sesuatu. Sepertinya Daehyun ingin menahan Soojung tapi dia terlambat.

“Krystal! Yah! Aku belum selesai!” teriak Daehyun.

Sayangnya Soojung tetap berlari menuju rumah. Harusnya aku mengejar Soojung tapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku memperhatikan Daehyun mengamuk di tengah hujan. Dia menendang genangan air hingga airnya memuncrat kemana-mana. Setelah beberapa detik aku memperhatikannya, aku memutuskan untuk menghampirinya. Daehyun terlihat kaget begitu menyadari tidak ada air hujan yang jatuh mengenai kepalanya kemudian menoleh ke arah aku berdiri.

Noona?”

Aku tersenyum kecil. “Hujan-hujanan di malam hari itu tidak baik. Kau bisa sakit.”

“Ayahku adalah seorang dokter dan kakakku adalah calon dokter, jadi aku sakit pun tidak masalah,” balasnya dengan nada kesal.

“Akan tetapi, mencegah lebih baik daripada mengobati.”

Dia mendengus. “Terserah!”

“Aku sudah pernah bilang kalau memaksanya pun percuma.”

“Oh jadi Noona mendatangiku hanya untuk mengatakan bahwa kau benar?”

“Bukan begitu, Daehyun!” bentakku.

Daehyun terkejut mendengar nada suaraku yang tinggi. Detik setelahnya, sakit dan kecewa tergambar di wajahnya. Aku tidak pernah sanggup melihatnya sedih sehingga aku memutuskan untuk segera meninggalkannya sebelum aku melakukan hal yang mungkin akan ku sesali. Aku takut aku akan dengan mudah menuruti apa permintaannya seperti saat Krystal memohon kepadaku dengan wajah memelasnya. Aku menahan napasku ketika Daehyun memelukku sebelum aku melaksanakan niatku.

“Krystal benar. Aku bodoh,” bisiknya lirih.

Dadaku terasa nyeri mendengarnya. Bukan karena adikku sedang bersedih hati, tapi karena seorang Daehyun yang sedang bersedih hati. Namun aku juga lega karena saat Daehyun bersedih, aku selalu ada untuknya.

Malam itu, aku menyadari bahwa seorang Jung Daehyun bukanlah sosok seorang adik lagi bagiku, tapi seorang pria dewasa. Entah sejak kapan, jantungku berdetak kencang karenanya. Angin dan air hujan tidak mampu membuatku kedinginan, karena pelukannya menghangatkanku.

Dan aku sadar, tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini.

***

Setahun kemudian.

Aku berlari tergesa-gesa memasuki sebuah kafe di dekat Seoul International Hospital. Mataku menyelusuri setiap meja di dalam kafe. Setelah menemukan orang yang ku cari, aku kembali berlari menuju mejanya. Aku menghempaskan pantatku di kursi depan orang yang sudah menungguku.

Sorry, I got problem,” ucapku.

Junyoung tetap memberikanku ekspresi datar. “Aku tidak terkejut mendengarnya.”

“Kau harus menjadi seorang guru agar mengerti betapa menyusahkannya menjadi diriku, Junyoung-ah. Beberapa dari mereka sangat nakal!” keluhku.

Junyoung mengaduk jusnya dengan sedotan. “Tidak ada bedanya dengan kita saat sekolah dulu, ‘kan?”

Wellyes.” Aku mengangguk. “Tapi menjadi guru bahasa Inggris, bebannya lebih berat dari guru lainnya. Mereka tidak begitu menyukai bahasa asing. Mereka tidak sadar betapa pentingnya bahasa internasional bagi masa depannya.”

“Bahkan beberapa teman kita saat sekolah sempat mengatakan mereka tidak perlu belajar bahasa Inggris karena mereka tidak ingin keluar negeri,” balas Junyoung cepat.

Aku menendang kakinya kesal. “Aish, mengapa dokter yang satu ini sangat menyebalkan?”

Junyoung hanya meringis pelan tanpa protes. Dia sudah hafal dengan kebiasaanku yang senang menendang kakinya jika kesal.

“Ada berita apa hari ini tentang nona Jessica Jung?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Seketika senyumanku mengembang begitu ingat alasan utama aku mengajak Junyoung bertemu di kafe dekat ia bekerja. Mungkin karena Junyoung adalah seorang yang jenius dan memiliki passion yang kuat di bidangnya, ditambah ayahnya seorang senior di rumah sakit tersebut dan bersahabat dengan pemilik rumah sakit, Junyoung dapat menjadi seorang dokter tanpa membuang waktu lama.

“Aku baru saja mengeluarkan semua tabunganku selama ini untuk membeli mobil. Orangtuaku menambahkan beberapa sih. Tapi tetap saja sebagian besarnya adalah uangku,” seruku bangga.

Dari kecil, aku terbiasa menabung walaupun tidak jelas tujuanku menabung. Saat kuliah dan melihat beberapa temanku mengendarai mobil ke kampus, akhirnya mobil menjadi tujuan utamaku menabung. Apalagi setelah bekerja, gajiku hampir tak tersentuh karena fasilitas yang diberikan sekolah dan orangtuaku.

“Walaupun aku belum melihatnya, tapi aku yakin mobilku lebih bagus,” tanggap Junyoung.

Aku kembali menendang kakinya. “Yah! Mobilmu lebih bagus karena mobilmu lebih mahal dari mobilku. Keluargamu itu jauh lebih kaya daripada keluargaku dan gajimu 3 kali lipat gajiku!”

Junyoung terkekeh seraya mengacak rambutku. “Aku hanya becanda. Bagaimana hadiahku untuk mobil barumu itu dengan kupon pencucian mobil gratis seumur hidup?”

Ayahnya Junyoung membuka sebuah bisnis pencucian mobil untuk para pelajar dan mahasiswa yang ingin bekerja sambilan. Tempat pencucian mobil itu tidak memakai alat otomatis melainkan manual agar pekerjaan itu menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi para remaja. Untuk para pelanggan yang menunggu, disediakan sebuah kafe yang pegawainya adalah pelajar wanita. Tempat itu cukup terkenal di kota ini. Setiap hari, banyak sekali mobil yang datang untuk dicuci.

Aku memutar mataku. “Di tempat pencucian mobil ayahmu? Bukankah kau harus meminta izin darinya terlebih dahulu?”

“Itu mudah.”

“Tapi itu berarti hadiah bukan darimu melainkan ayahmu!”

Aish, ingin memberi hadiah saja sesulit ini,” gerutu Junyoung yang ku balas dengan kikikkan pelan.

Junyoung membulatkan matanya lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Aku lupa memberitahukanmu sesuatu. Kau ingat Minwoo, ‘kan? Temanku saat kuliah. Aku pernah mengenalkannya padamu di pesta ulangtahunku.”

That cute guy?” balasku sambil berusaha mengingat.

Junyoung mendelik. “Kau masih memanggilnya begitu? Panggilan itu menjijikan. But, yes, he is.”

What’s with him?”

“Dia mengundangmu ke pestanya lusa malam. Kau mau datang?”

Aku mendesah pelan. “Harus?”

“Terserahmu.”

“Kau ikut?”

Junyoung mengangguk.

Then I’m in,” gumamku.

***

Kau harus melihatnya langsung, Eonni! Kau pasti suka dengannya,” seru Soojung, di ujung hubungan telepon itu.

Aku memindahkan telepon ke telinga kiriku dan mengampitnya di antara kepala dan bahu sambil memakai sepatu. Soojung meminta untuk berbicara padaku setelah puas mengobrol dengan orangtua kami saat aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pesta Minwoo malam ini. Sepertinya Soojung tidak peduli dengan omelan Stella aunty jika tante kami yang satu itu tahu berapa banyak yang harus ia bayar dengan telepon internasional ini. Mungkin Soojung seperti ini karena dia tidak bisa pulang selama liburan musim panas kemarin.

“Berhenti menjodohkanku dengan American guy, Soojung. Aku tidak tertarik untuk meninggalkan Korea Selatan hanya untuk pria,” tolakku, satu tangan memegang gagang telepon dan satu tangan lainnya merapikan dressku.

Sejak Soojung kuliah di Amerika Serikat, dia jadi hobi memasangkanku dengan pria-pria yang ia kenal di sana. Mungkin karena fakta bahwa sudah beberapa tahun ini aku tidak mempunyai pasangan padahal sejak kecil, aku menargetkan diri untuk menikah 1-2 tahun lagi.

Tapi, Eonni

Well, aku harus pergi sekarang. Bye!”

Aku segera menekan tombol untuk memutuskan hubungan telepon sembari meraih tas tanganku. Setelah yakin penampilanku sudah sempurna, aku turun untuk meletakkan gagang telepon di tempatnya lalu berpamitan pada orangtuaku.

“Kapan kira-kira kau sampai di rumah, Sooyeon-ah?” tanya ibuku.

Aku mendesah gemas. “Umma~ aku bukan anak kecil lagi yang perlu diberi jam malam, ‘kan?”

“Hanya bertanya. Untuk berjaga-jaga,” sahut ayahku.

“Jam 11?”

Orangtuaku saling melempar pandangan ragu. Mengingat umurku yang sudah cukup dewasa untuk mengurus hidupku sendiri, akhirnya mereka hanya mengangguk. Padahal aku tahu mereka ingin memberikan berbagai ceramah kepadaku.

“Aku membawa kunci cadangan. Jadi tidak perlu menungguku,” kataku.

Dengan berat hati, mereka kembali mengangguk.

***

“Junyoungie~ maaf, tapi aku benar-benar harus pulang,” rajukku.

Aku menyatukan kedua tanganku sambil memasang wajah melas. Sebenarnya masih ingin berada di pesta akhir musim panas di rumah Minwoo sampai selesai tapi sesuatu mengubah rencanaku. Tepatnya saat panggilan dari Daehyun membuat handphoneku berdering dan ternyata temannya yang memakai handphone Daehyun untuk memberitahukanku tentang keadaan Daehyun sekarang. Aku tidak bisa memberitahu Junyoung karena dia tidak akan senang mendengar ini. Keluarga Moon tidak senang jika anggota keluarganya ada yang mabuk-mabukan, terlebih jika umurnya masih di bawah batas ketentuan seseorang boleh meminum alkohol.

“Wanitamu tidak akan pergi kemana-mana. Biarkan dia pulang,” cibir Minwoo.

Junyoung memukul kepala Minwoo asal. “Sudah ku bilang, kami adalah sahabat!”

“Kalian terlalu lama menjadi sahabat. Tidak pernah terpikir untuk lebih?” balas Minwoo.

Aku dan Junyoung mendesah kasar. Selalu saja orang lain berpikir kami ini lebih dari sahabat. Mereka berpikir tidak ada yang murni dalam persahabatan antara pria dan wanita, tapi mereka salah. Hubungan kami murni persahabatan. Aku bisa mengatakannya karena kami sama-sama sedang jatuh cinta. Junyoung jatuh cinta dengan seorang gadis yang menjadi pasiennya dan aku jatuh cinta kepada seseorang yang seharusnya aku cintai. Itu cukup untuk membuktikan persahabatan kami ini murni, bukan?

“Lebih baik kau pergi sekarang sebelum topik ini menjadi besar,” usir Junyoung.

Aku memberi hormat seakan aku adalah prajurit dan Junyoung adalah kaptennya. “Aye, Captain~”

Aku segera memberikan senyuman terakhir kepada sang empunya pesta lalu berlari menuju tempat mobilku diparkirkan. Baru saja aku masuk ke dalam mobil, handphone kembali berdering. Nama ayahku muncul di layar, membuatku sadar bahwa aku sudah melewati batas waktu yang ku janjikan kepada mereka tadi.

Yoboseyo,” salamku.

Sooyeon—

“Iya. Iya, aku tahu. Aku punya urusan mendadak, jadi aku akan pulang terlambat. Seperti yang ku bilang tadi, jangan menungguku. Aku sudah membawa kunci cadangan,” selaku cepat sambil menekan sebuah tombol untuk menghidupkan mobil.

Tapi ibumu mengkhawatirkanmu.”

“Aku sudah dewasa sekarang. Kalian bisa percaya padaku. Aku tidak akan membuat kalian kecewa. Janji.”

Setelah keheningan yang ku dapat selama beberapa detik, akhir terdengar suara helaan napas ayahku. “Baiklah.

Saranghae, Appa~”

Setelah perbincangan lewat telepon itu selesai, aku memfokuskan pikiran pada jalanan di depanku. Walaupun sebentar lagi tepat tengah malam, jalanan di pusat kota Seoul tetap ramai walaupun tidak seramai saat siang hari. Jalanan yang lancar membuatku dapat sampai di tujuan lebih cepat dari biasanya.

Aku memarkirkan mobilku di depan sebuah kelab malam. Di dekat pintu masuk, aku melihat 2 orang yang ku kenal, Yongguk dan Daehyun. Melihatku sudah datang, Yongguk menyeret Daehyun ke arahku. Aku segera membukakan pintu penumpang dan Yongguk pun melempar Daehyun ke dalam mobilku. Aku menatap pria bertampang garang itu penuh tanya. Tidak biasanya Daehyun mabuk. Biasanya dia selalu tahu batas alkohol yang bisa ia minum.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya. Tapi dia sering menggumamkan nama Krystal. Sepertinya sesuatu terjadi lagi di antara mereka,” jelas Yongguk.

Aku mengangguk pelan mendengarnya. “Oh.. baiklah, aku harus membawanya sekarang selagi rumahnya masih kosong.”

“Kosong?”

Aku mengangguk. “Moon ahjussi sedang ada tugas keluar negeri dan ditemani istrinya. Junyoung masih berada di pesta temannya. Jika Daehyun tidak ingin ketahuan, kami harus sampai sebelum Junyoung pulang.”

Arasso. Hati-hati di jalan, Noona,” ucap Youngguk.

Aku membalasnya dengan senyum.

***

Setelah sampai di rumah keluarga Moon, aku meminta tolong pada Ahn ahjumma, pembantu di rumah tersebut, untuk membantuku membawa Daehyun ke kamarnya. Walaupun sudah dibantu oleh Ahn ahjumma, tetap saja banyak tenaga yang ku keluarkan. Sungguh, jika bocah ini tidak menraktirku eskrim sepuasnya besok, aku akan membongkar malam ini kepada orangtuanya.

Aku memekik keras dan reflek menjauhkan diri saat Daehyun tiba-tiba memuntahkan isi perutnya. Cairan menjijikan di lantai itu membuat moodku semakin buruk. Aku kembali menahan tubuh Daehyun sesaat Ahn ahjumma membersihkan mulut bocah menyusahkan untuk dengan sapu tangannya.

“Sebaiknya Nona sendiri saja membawa tuan ke kamarnya. Saya harus membersihkan ini,” ujar Ahn ahjumma.

Aku melirik cairan menjijikan di lantai seraya mengangguk tak rela. Berdua saja, aku sudah kecapekan. Apalagi sendiri? Untuk saja Daehyun muntah saat sudah sampai di depan kamarnya.

Saat aku sampai di samping kasur, aku mendorong tubuh Daehyun jatuh ke atas kasur. Dengan enggan, aku memperbaiki posisinya lalu melepaskan beberapa barang yang melekat di tubuhnya selain pakaian.

“Nona, jangan lupa mengganti pakaiannya!” teriak Ahn ahjumma dari luar kamar.

What? No way! Aku tidak mau!” protesku.

“Kalau begitu, tolong siapkan baju bersih. Biar saya saja yang menggantinya.”

Sambil menggerutu, aku menyeret paksa kakiku menuju lemari pakaian Daehyun. Aku mengambil sepasang piyama dan melemparkannya ke atas kasur dekat kaki Daehyun.

“Sudah~ apa aku boleh pulang?” seruku.

Ahn ahjumma muncul dari balik pintu dan buru-buru mengganti pakaian Daehyun dengan piyama yang ku keluarkan tadi tanpa memikirkan posisiku. Aku segera berbalik badan sambil menutup mataku. Suara debuman pintu tertutup pun membuatku menoleh dan sadar Ahn ahjumma sudah selesai dengan pekerjaannya, meninggalkanku sendiri di kamar itu.

“Hm..”

Aku menoleh ketika mendengar Daehyun menggumam kencang. Matanya terbuka sedikit dan tertuju kepadaku. Bibirnya tersenyum. Tunggu, dia tersenyum saat melihatku?

“Sooyeon noona?” gumamnya.

Aku melangkah mendekat dan jongkok agar wajahku berada di depan wajah Daehyun. Ketika aku mencium bau alkohol dari mulut bocah itu, aku mundur sedikit.

“Heh bocah! Kau sudah berhutang banyak padaku malam ini. Aku benar-benar dibuat susah olehmu. Kau harus membayar semua ini besok!” omelku.

Aku menahan napasku saat jari-jari tangan Daehyun menyentuh wajahku, mengelus pipiku lembut.

“Krystal, kau datang, uh? Kau sadar bahwa kau yang salah?” racau Daehyun.

Deg!

Entah mengapa, ada rasa sakit di dadaku saat dia memanggilku Krystal. Sebagian diriku menginginkan Daehyun memanggil namaku bukan Soojung. Sebagian diriku yang lain mengomeli bagian diriku yang menginginkan hal itu.

“Daehyun-ah—KYA!“

Daehyun menarikku sampai tubuhku berada di atasnya lalu memutar posisi kami sehingga aku lah yang di bawah. Aku menatap Daehyun horor.

“A-apa yang.. yang kau—“

Mataku melebar ketika dia menciumku. Sontak aku memberontak, berusaha mendorongnya. Daehyun sempat berhenti untuk melipat kedua tanganku di bawah kepalaku dan ditahan oleh tangan kirinya. Pertahanannya cukup kuat karena dia kidal. Tubuhnya menekan tubuhku sehingga aku benar-benar tidak bisa memberontak lagi.

Dalam hati, aku terus-menerus meyakini semua ini salah tapi tubuhku mengkhianatiku. Tidak butuh waktu banyak untuk bibirku membalas ciumannya. Saat merasakan bibirnya turun ke leherku, air mataku mengalir. Tangan kanannya memijat pinggangku lembut sedangkan tangan kirinya tetap menahan kedua tanganku.

Stop, Dae. Hentikan. Ku mohon..” mohonku.

Daehyun tidak menghiraukanku. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, tak ingin suara-suara tak diharapkan keluar dari mulutku.

“J-jangan!” histerisku saat Daehyun melepaskan dressku.

Aku sekuat tenaga berteriak tapi suaraku tidak keluar. Aku terlalu lemas untuk berteriak. Andai aku bisa berteriak, mungkin Ahn ahjumma bisa membantuku. Seluruh badanku terasa sangat sulit untuk digerakkan. Air mataku tidak berhenti mengalir.

Ini bukan pertama kalinya aku melakukan ini. Aku memberikan keperawananku kepada Junyoung, begitu pula sebaliknya, saat masa kami kuliah dulu karena kami penasaran. Aku juga pernah melakukan 2 kali one night stand sebelumnya. Tapi melakukannya dengan Daehyun memberikan rasa takut yang luar biasa. Belum lagi nama Krystal selalu terucap dari bibirnya.

Tiba-tiba gerakan Daehyun terhenti dan terdengar suara dengkuran pelan. Genggaman kuat Daehyun pun melemah. Aku segera melepaskan tanganku untuk menutup wajahku. Tangisku pun pecah. Aku membiarkan Daehyun tetap tertidur di dadaku.

Blam!

“J-Jessica!”

Aku terkejut melihat Junyoung di ambang pintu, membuat suara tangisku semakin keras. Terlihat Ahn ahjumma berlari ke tempat Junyoung berdiri dan terlihat sama kagetnya dengan Junyoung. Ahn ahjumma berniat untuk masuk tapi ditahan oleh Junyoung. Mengerti larangan majikannya, Ahn ahjumma mengangguk lalu pergi meninggalkan kami.

Dada Junyoung naik-turun selama ia berjalan menghampiri kami. Dia memungut dressku dan memberikannya kepadaku seraya menyingkirkan tubuh Daehyun dariku. Aku tahu dia berusaha tenang walaupun wajahnya merah padam.

=== 180 Degrees ===

Aku komat-kamit buat scene-scene menuju akhir. Cuma 1 lembar tapi waktu pembuatannya sampai 3 hari lebih. Padahal scene-scene di 17 lembar sebelumnya aja cuma 2 hari kurang ~__~

Setelah baca chapter ini, kalian sadar ga sih ide ff ini dapet darimana? Mungkin kalian bakal kepikiran Begin With A Mistake, well yeah memang benar. Jadi ide ff ini adalah perpaduan dari ide ff Almost Have You, Begin With A Mistake, dan Calling Out. Jadi nama lain ff ini adalah ff ABC😆 Walaupun idenya hasil perpaduan ff ABC (?), ff ini mempunyai keunikan yang berbeda dari ketiga ff itu.

Komentar selalu ditunggu dan saya minta maaf jika ada typo atau kekurangan kata. Hehe.

This is Yura and CAO~ (/^o^)/

85 thoughts on “180° – Chapter 1

  1. Wkwkwk jujur aku baru baca fanfic ini ~ soalnya aku penasaran , abis tmen tmen di fb pada ngomongin fanfic inii :3 dan karena aku juga ga biasa sama fanfic non- exosica’-‘) Eh tapi pas udah bacaa , feelnya tetep dapet kok , biasalah karya author tetep enak dibaca menurut aku *.* Nicelahhh

  2. bagus thor aku bisa dapet feel nya d ff author…..
    jessicanya d sini bertolak blaka dgn krystal ya thor….n kyaknya daehyun nya ska sma jessy ya thor ???
    jdi ga sabar bca lanjutannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s