Etenity (Chapter 5)

eternity-psb1

 

Eternity

Author
pearlshafirablue

Main Casts: EXO-K’s Baekhyun, GG’s Jessica, Sistar’s Bora | Minor Casts: Another Kpop Idols
Fantasy, Friendship, Mystery, Romance
Multichapter (5/6), Teen

“All of the characters are God’s and themselves’. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

A/N
Hanya sebuah fic lama yang ingin muncul di blog ini, karena nantinya saya akan menge-post sequel-nya di blog ini pula. Pernah di-publish di sini dan di sini.

pearlshafirablue®

            “So, where will we go tomorrow?” Tanya Bora sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan di mejanya. Bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Kelasku ribut membicarakan apa yang akan mereka lakukan besok dan 2 minggu ke depan. Ya, besok libur musim dingin akan dimulai.

“Ah, eum…” Aku memutar otakku. Sekarang aku sedang bersandar di dinding menanti Bora selesai. Sudah 3 hari ini hariku kuhabiskan bersama Bora. Dan ternyata dia tidak sedingin yang selama ini kupikirkan. Dia lebih asyik dan humoris. Kurasa tinggal beberapa langkah untuk dapat bisa memilikinya.

Apa? Jessica?

Hm, tak banyak yang bisa kuceritakan tentang Jessica belakangan ini. Kami berdua memang tetap satu bangku, tapi sepanjang pelajaran tidak ada yang berbicara. Jujur sebenarnya aku sudah tidak marah lagi dengannya. Tapi, kurasa dia butuh waktu sendiri. Aku sedang tidak ingin mengganggunya.

Lagipula sekarang ada Bora.

“Bagaimana kalau kita mengerjakan tugas sejarah saja?” Usulku dengan mata berbinar. Aku yakin tugas ini akan membuatku bersama lebih lama bersama Bora.

Ya!” Bora menjitak kepalaku dengan keras. Oh Tuhan, kekuatannya tidak ada bedanya dengan Jessica! Aku yakin sebentar lagi akan muncul benjol di dahiku. “Yang kumaksud juga itu, Baekhyun! Maksudku, untuk mengerjakan tugas sejarah, kita akan mengunjungi tempat apa? Jangan harap aku mengajakmu jalan, Baekhyun-ah.” Cibirnya cuek. Yeoja ini memang tidak pernah ingin kelihatan suka padaku. Dan aku sangat menyukai yeoja seperti itu.

“Ah, hahaha itu maksudmu toh.” Aku tertawa garing. “Hmm… bagaimana kalau ke Deoksugung saja?” Ucapku sambil mengelus daguku.

Deoksugung? Bukankah itu di Seoul?” Tanyanya polos.

Ne, memang benar. Soalnya tempat bersejarah di Gyeongju tidak ada yang menarik.” Ucapku sekenanya. “Kalau menggunakan kereta kita bisa sampai disana kurang dari 2 jam kok.” Tambahku. Bora tampak berpikir. Tak lama ia mengangguk.

Hm, arraseo. Besok kita bertemu di halte ya. Jangan lupa bawa polaroid atau kamera SLR, dan buku catatan. Aku akan membawa buku sejarah, peta, dan handycam.” Titahnya. Aku mengangguk patuh. “Baiklah, aku pulang dulu.”

“Loh? Tidak mau kuantar?” Aku mencekal tangannya yang akan melangkah keluar kelas. Ia memandangku sebentar.

Aniya. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak merepotkanmu. Lagipula aku ada urusan habis ini.” Jawabnya. Aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. “Sampai ketemu besok.”

Ne.” Jawabku pelan. Tak lama, bayangannya sudah tidak dapat terjangkau mataku lagi. Aku beranjak keluar kelas. Tadi hanya tersisa Minhyuk, Jongin, Eunji dan Soojung saja di kelas. Kurasa 2 pasangan itu akan pergi nonton habis ini.

Aku berjalan pelan tanpa suara di koridor. Aku memandangi sepatuku sambil berpikir akan beberapa hal. Sampai kapan aku perang dingin dengan Jessica?

Aku yakin sekali kami berdua sama-sama tidak tahan jika begini terus. Jujur, Jessica adalah satu-satunya yeoja di dunia ini yang aku sayangi—setelah Bora mungkin. Bahkan dia lebih kusayang daripada eomma-ku. Bagaimana aku bisa menyayanginya. Mendapat perhatiannya saja tidak pernah.

Joesonghabnida, sajangnim.”

Tepat ketika aku akan berbelok di tikungan koridor menuju tangga turun, aku mendengar suara Jessica. Dan buru-buru aku kembali bersembunyi di belakang dinding. Aku mengintip sebentar. Benar, itu Jessica.

Hah?

Ada yang aneh.

Aku melihatnya bercakap-cakap dengan seseorang. Itu hal yang wajar aku tahu, tapi permasalahannya adalah aku tidak bisa melihat orang yang ia ajak ngobrol itu. Bukan karena terhalang tubuh Jessica, tapi udara di depan yeoja itu benar-benar kosong. Aku yakin tak ada seorangpun disana. Tapi dilihat dari mimik wajah Jessica, aku yakin ia tidak sedang bergurau.

Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Berharap orang yang diajak ngobrol Jessica muncul.

Kurasa bukan salah mataku.

Karena setelah berapa kali aku berkedip pun orang itu tidak muncul.

Ketika aku melangkah dan bermaksud menegurnya. Jessica sudah berbalik badan ke arahku. Seolah-olah pembicaraannya dengan orang tidak terlihat tadi sudah selesai. Mata kami bertemu.

“Oh, annyeong, Jessica.” Sapaku dengan gugup. Aku berusaha tidak terlihat menguping pembicaraannya.

Jessica tidak membalas sapaanku. Ia hanya menatapku dengan tampang sinis. Dan beberapa detik kemudian ia berjalan melewatiku dan menyenggol pundakku keras hingga aku nyaris terjungkal. Sebenarnya tidak terlalu keras sih, tapi kekuatan yeoja satu itu memang patut diacungi jempol.

Aku menoleh untuk kembali memandang yeoja itu lagi. Tapi ketika aku memutar kepalaku, Jessica sudah tidak ada.

Ini aneh.

pearlshafirablue®

                        Aku menyeruput teh hangatku sambil memandang kebun belakang rumahku dari balkon di depan kamar tidurku. Udara sangat dingin hari ini, tapi salju belum turun. Benar-benar cuaca yang cocok untuk berpikir.

Kini di kepalaku berkecamuk berbagai hal yang terjadi belakangan ini.

Sejak 2 hari yang lalu, aku berhenti bermimpi buruk tentang Sulli. Ya, sejak hari itu mimpiku sudah tidak dihadiri oleh yeoja itu lagi. Dan jujur itu membuat tidurku lebih nyaman. Aku tidak perlu terbangun lagi setiap malam.

Dan sejak kejadian itu juga kesialan berhenti menimpaku. Entahlah, aku juga tidak tahu persis, yang jelas sejak hari itu hal-hal buruk yang biasanya menimpaku berkurang. Tidak ada lagi terpleset di kamar mandi, tidak ada lagi makanan beracun, tidak ada lagi obat pencahar di kopiku, dan masih banyak lagi yang ‘tidak ada’.

Dan sesuatu yang spesifik hari itu adalah, terputusnya hubunganku dengan Jessica. Apa mungkin… Jessica yang menyebabkan semua ini?

Aish! Tidak mungkin, babo! Tidak mungkin dia! Bagaimana caranya?

Aku kembali teringat perkataan Jessica, bahwa selama ini dalang dari kesialanku adalah Bora.

Memang sih, selain putusnya aku dengan Jessica, hal spesifik lainnya 2 hari yang lalu itu…

Kedekatanku dengan Bora.

Tapi masa’ sih hal ini berhubungan dengan berhentinya mimpi burukku? Mungkin ini hanya kebetulan?

Aku mengacak rambutku frustasi. Aku tidak punya penyelesaian atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sial, tampaknya aku harus menyelediki hal ini lebih jauh.

Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu. Sesuatu yang begitu saja muncul di otakku.

Satu-satunya kesamaan Jessica dan Bora adalah, mereka berdua sama-sama tidak pernah kuturunkan di depan rumah mereka.

Maksudku, aku sama sekali tidak pernah melihat rumah mereka. Setiap aku mengantar mereka pasti mereka minta diturunkan di tempat yang mereka bilang ‘dekat dengan rumahku’. Walaupun aku bersikeras akan tetap mengantar mereka meskipun rumah mereka masuk ke dalam gang yang sempit sekalipun.

Tampaknya besok aku harus tahu rumah Bora. Akan kubuat dia tidur di jalan dan mengecek kartu tanda penduduknya, kemudian pergi ke sana. Ya, kau pintar Byun Baekhyun.

Baiklah, tampaknya aku harus melupakan masalah ini, dan beralih ke masalah selanjutnya.

Insiden Jessica di koridor tadi.

Untuk yang satu ini, aku benar-benar tidak bisa berpikir rasional. Daritadi yang kupikirkan adalah hantu, mahkluk halus, dan hal-hal lain yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Tapi bagaimana caranya aku berpikir rasional dan realistis? Kalau aku melihat sahabatku dari sekolah dasar yang baik-baik saja dan tidak punya gangguan mental itu berbicara pada seseorang yang tidak bisa kulihat sama sekali wujudnya.

Dua hal yang masuk akal yang bisa kusimpulkan dari kejadian ini adalah Jessica mengobrol di telepon, atau Jessica benar-benar sedang ngobrol sendiri.

Tapi kurasa dua-duanya sama-sama tidak mungkin.

Yang pertama, Jessica sama sekali tidak memegang ponsel saat itu. Kedua, Jessica sama sekali tidak gila, dan autis.

Tinggal satu kemungkinan yang masih sedikit masuk akal.

Jessica berbicara dengan hantu.

Aish! Tidak mungkinlah! Bagaimana bisa seorang Jessica berbicara dengan hantu?! Apalagi dia memanggil hantu itu dengan sebutan sajangnim?

Atau mungkin dia seorang vampir? Seperti Edward Cullen? Mungkin saja dia sedang berbicara melewati telepati sehingga aku tak melihat orang yang diajak bicaranya itu?

Tapi apakah vampir itu ada?

Ah, aku tidak mau memikirkan vampir ada atau tidak dulu. Yang jelas satu kesimpulan yang bisa menenangkan jiwaku—atau mungkin malah menggelisahkan—adalah Jessica seorang vampir.

pearlshafirablue®

            “Vampir? I never heard of it.” Chaerin menyerngitkan dahi sambil menatapku bingung. Aku hanya memasang tampang memohon agar dia mencarikan informasi tentang hal ini.

Sekarang aku sedang berada di perpustakaan pribadi di rumah Lee Chaerin. Ia adalah 1 dari 3 orang terjenius di sekolahku. Peringkat pertama dipegang oleh Cho Kyuhyun, sunbae-ku dari kelas senior dan peringkat ketiga dipegang oleh Danee Kim, hoobae-ku dari kelas junior. Dan sekarang aku sedang berkonsultasi—istilahnya—dengan Chaerin tentang keberadaan vampir dan populasinya di dunia ini. Daritadi ia sibuk mencari buku yang membahas tentang mahkluk immortal itu.

“Ah, ini dia.” Mataku langsung berbinar-binar ketika Chaerin menemukan sebuah buku bersampul coklat tebal dengan banyak debu melapisi buku tersebut. Chaerin mengelapkan sapu tangannya di atas sampul buku tersebut, untuk mengurangi debu yang mengotori buku itu.

“Vampir…” Ia bergumam sambil membuka-buka halaman buku itu. Aku sama sekali tidak berniat membacanya karena selain ditulis dengan bahasa Inggris, buku tersebut juga bertuliskan rune, sesuatu yang sama sekali tidak berniat kupelajari.

“Bagaimana, Rin-ah?” Tanyaku ketika ia sedang fokus pada suatu halaman. Chaerin menoleh ke arahku beberapa detik kemudian.

“Disini dijelaskan bahwa zaman dahulu, saat zaman romawi kuno, vampir memang ada. Mahkluk itu bersembunyi di pedalaman hutan dan biasanya mencari mangsa pada malam hari. Semakin lama, rakyat Itali semakin murka dan mereka berusaha memburu vampir. Hingga akhirnya populasi vampir di Eropa saat itu semakin menipis,” jelasnya sambil sesekali membaca buku itu. Aku mendengarkannya dengan antusias. “Tapi, populasi vampir benar-benar musnah saat tahun 101 sebelum Masehi. Katanya seorang ilmuwan terkenal Eropa menyebarkan racun pembunuh vampir ke seluruh dunia. Dan beberapa tahun kemudian, sudah tidak didengar lagi korban vampir. Dan sampai sekarang, keberadaan vampir sudah tidak pernah ditemukan lagi.” Lanjutnya, “dan sekalipun vampir itu masih ada, itu bukanlah vampir berdarah murni peminum darah manusia. Itu hanya a half vampire yang meminum darah hewan. Biasanya vampir jenis ini memiliki kulit pucat layak mayat, mata yang tidak pernah fokus, suhu tubuh rendah dan kecepatan yang luar biasa.”

Aku hanya membatu saat mendengar penjelasan Chaerin barusan. Jessica tidak berkulit pucat, matanya yang indah itu selalu fokus setiap aku berbicara dengannya, dia juga hangat dan bisa merasa kedinginan, kecepatannya juga tidak secepat itu. Bahkan waktu lomba lari melawan hoobae-ku—Park Chorong—saja kalah. Paling yang paling menonjol dari dirinya adalah kekuatannya saja. Tidak mungkin dia vampir.

Ya, Baekhyun.” Chaerin memanggilku. Aku hanya menoleh ke arahnya sambil mengangguk. “Ada apa memangnya? Kenapa tiba-tiba kau bertanya vampir? Apa belakangan ini kau melihat mereka?” Tanyanya sambil memasang mimik terkejut.

“Entahlah, Rin-ah.” Jawabku seadanya. “Aku tidak tahu. Dan aku memang tidak melihat mahkluk itu secara terang-terangan. Hanya saja, belakangan ini ada kejadian aneh yang membuatku berpikiran bahwa vampir itu ada.”

Mwo?” Chaerin tampak tertarik dengan ceritaku. “Kejadian apa? Ceritalah, Baekhyun-ah.”

“Hmm… aku juga ragu, Rin-ah.” Jawabku sambil memandangi sampul buku itu. Chaerin hanya mengangguk mengerti sambil membuka-buka halaman buku usang itu dengan hati-hati. Kami saling diam hingga akhirnya aku bertanya sesuatu padanya, “ya, Rin-ah. Menurutmu, apa yang terjadi bila kita melihat teman kita sendiri berbicara pada orang yang tidak bisa kita lihat?”

Chaerin mengangkat alisnya, tanda tak mengerti. Aku kembali mengulang pertanyaanku, “maksudku, kalau kamu melihat temanmu berbicara sendiri itu apa reaksimu?”

Chaerin mengangguk mengerti sambil berpikir. Ia kemudian menoleh ke arahku setelah mendapatkan jawaban. “Kalau aku sih, langsung berpikir bahwa dia punya gangguan jiwa.”

“Tapi bagaimana jika kau sudah berteman dengannya selama 5 tahun dan kau tahu benar bahwa sahabatmu itu sama sekali tidak seperti itu? Dia baik-baik saja dan tidak pernah berbicara sendiri sebelumnya?” Tanyaku lagi.

“Hmm… kalau kau meminta jawaban rasional, aku pasti akan berkesimpulan bahwa dia punya teman khayalan. Ne, fiction friend.”

Teman khayalan? Oh bagus, aku belum berpikir sampai situ.

Geurae? Meskipun kau tahu bahwa selama ini dia tidak pernah bercerita tentang teman khayalannya itu?” Tanyaku lagi meyakinkan. “Dan sekalipun dia sudah sekolah menengah atas dia tetap punya teman khayalan?”

“Bertanyalah satu-satu, Byun Baekhyun.” Ujarnya sambil memandangku sebal. Aku hanya nyengir. “Dengar, teman khayalan adalah sesuatu yang sudah melekat pada diri seseorang sejak kecil. Biasanya mereka memiliki teman khayalan jika sejak kecil kesepian dan tidak punya teman bicara. Dan mereka bakalan menyayangi teman khayalan mereka itu demi dari apapun. Dan biasanya sampai besar, teman khayalan mereka akan tetap ada. Kecuali jika mereka sudah benar-benar menemukan sahabat sejati yang nyata. Dan biasanya lagi, mereka berbicara dengan teman khayalan mereka itu kalau tidak ada orang yang melihat.” Terang Chaerin.

Tapi yang benar saja. Jessica memanggil teman khayalannya dengan sebutan sajangnim? Oh God

“Baiklah, Rin-ah. Terimakasih atas informasi yang kau berikan hari ini.” Ucapku sambil berdiri. Chaerin mengikutiku berdiri. “Aku pulang dulu, ya. Semoga malam mu menyenangkan. Annyeong.” Aku membungkuk sambil mengucapkan salam. Kulihat ia juga membungkuk dan membalas sapaanku tadi.

Aku keluar dari rumahnya yang besar itu. Aku tidak mendapatkan apapun dari Chaerin. Padahal aku yakin dia bisa menyelesaikannya. Apa aku harus pergi ke rumah Kyuhyun sunbae? Atau mungkin ke rumah Danee? Ah tidak ada gunanya. Paling hasilnya sama seperti ini.

.to be continued.

.

.

Akhirnya bisa comeback! Maaf ya nge-post-nya lama😦 Aku bener-bene lagi sibuk banget sama RL-ku. Gausah banyak cingcong, give me any comments yaaa :3

10 thoughts on “Etenity (Chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s