180° – Chapter 2

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | f(x) Krystal | BAP Youngjae | 2NE1 Sandara

Previous:

1

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

“Just like a cup of coffee, love can be bitter and sweet.”

***

Bunyi bel yang keras menyadarkan Jessica bahwa jam mengajarnya di kelas itu sudah habis. Kini lirikannya tertuju pada para murid yang gaduh dengan keluhan akan kertas ulangannya yang belum sepenuhnya terisi. Jessica menghela napas panjang. Seingatnya, baru saja ia membagikan kertas tersebut lalu bel pun berbunyi. Berapa lama ia melamun?

Miss.”

Jessica kembali tersentak dan baru menyadari dirinya melamun kembali saat salah satu muridnya memberikannya lembar soal dan jawaban. Dia melirik jam dinding. Sudah 10 menit lewat dari waktunya selesai.

“Kumpulkan sekarang atau ulangan kalian tidak akan dinilai!” teriaknya.

Beberapa murid mengeluh, sisanya segera berlari untuk memberikan lembar soal dan jawaban. Setelah semua kertas terkumpul, dia melangkah keluar kelas. Itu adalah kelas terakhirnya hari ini. Karena ia tidak menjadi wali sebuah kelas, ia bisa langsung pulang.

“Kya!”

Jessica memekik pelan ketika dia tersandung dan kehilangan keseimbangan. Dia kembali melamun saat keluar dari kelas sehingga tidak menyadari ada tangga untuk masuk ke koridor depan ruang guru. Untung saja ada yang menahannya. Dia mengerjap melihat sahabatnya yang tidak ia lihat selama beberapa hari lah yang menolongnya.

“Tumben kau datang ke sini,” komentar Jessica setelah berhasil mengontrol keseimbangan badannya kembali.

“Aku.. hanya ingin bertemu denganmu,” jawab Junyoung pelan.

“Kebetulan aku tidak membawa mobil.”

“Ayahmu yang mengantarkanmu?”

Jessica mengangguk. “Tunggu di sini. Aku mengambil tasku dulu, so kita bisa pergi.”

“Kau tidak ada kelas lagi?”

Anio. Aku sudah selesai hari ini.”

Junyoung kembali mengangguk saat Jessica meminta izin untuk masuk ke ruang guru. Setelah beberapa menit, Jessica muncul kembali dengan tangan masih memeluk kumpulan kertas ulangan. Mereka berjalan bersama menuju parkiran.

Let me,” kata Junyoung sambil mengambil kumpulan kertas itu. “Apa ini?”

“Kertas ulangan.”

“Oh.” Junyoung terkekeh pelan. “Aku rindu saat-saat mengerjakan ulangan.”

“Rindu mendapatkan nilai sempurna di setiap ulangan?” cibir Jessica.

Junyoung mengacak rambut sahabatnya sambil tertawa. Sebagian dirinya tertawa karena cibiran itu dan sebagian lainnya tertawa karena lega hubungan mereka itu canggung setelah kejadian malam itu.

Dia mengeluarkan kunci mobilnya dan menekan tombol autolock lalu membuka pintu mobil untuk Jessica seakan dirinya adalah pelayan dan wanita itu adalah sang putri. Tangan Jessica menutup mulutnya selama ia tertawa kemudian memberikan bungkukkan anggun ala seorang putri raja dan masuk ke dalam mobil. Junyoung berlari kecil menuju pintu pengemudi. Ia memasukkan kertas ulangan di kantong belakang joknya lalu menutup pintu.

“Mau kemana kita?” tanya Jessica.

“Terserahmu, Princess,” balas Junyoung main-main sambil memundurkan mobilnya, mata terfokus pada layar yang memperlihatkan keadaan belakang mobilnya.

Jessica tersenyum kecil. “Tergantung apa yang ingin kita bicarakan itu penting atau tidak.”

Ekspresi Junyoung berubah menjadi serius. Melihat itu, Jessica dapat menebak apa yang akan mereka bicarakan.

“Mungkin akan lebih baik jika kita membicarakannya di apartemenmu,” gumam Jessica sambil bersendagu, matanya menatap keluar jendela.

Junyoung memiliki sebuah apartemen hadiah ulangan tahunnya yang ke 21. Biasanya apartemen itu hanya ia gunakan jika sedang ingin sendiri atau berpesta dengan teman-temannya.

“Jadi, apa kabar Daehyun?” tanya Jessica setelah beberapa menit kesunyian menemani perjalanan menuju apartemen Junyoung.

Junyoung mengangkat bahunya, enggan untuk menjawab. “Jawaban macam apa yang kau inginkan keluar dari mulutku?”

“Jawaban jujur?”

“Tidak terlalu baik. Pipinya lebam. Aku meninjunya di depan kedua orangtuaku. Untuk menghindari pertanyaan dan perang dingin, aku mengungsi ke apartemenku,” jawab Junyoung, melirik Jessica sekilas untuk melihat ekspresi apa yang diberikan wanita itu setelah mendengarnya.

Jessica hanya mengangguk tanpa memberikan ekspresi yang berarti. “Oh, kau memberitahunya tentang malam itu. Apa tanggapannya?”

“Dia tidak mengingatnya, jadi dia tidak percaya. Dia berpikir aku mengatakannya hanya untuk menjelekkan dirinya di depan orangtuaku.”

“Jadi karena itu kau me—“

“Ya.”

“Pasti itu sakit.”

“Pastinya. Lebamnya cukup gelap. Tanganku juga sakit.”

Jessica menoleh lalu menyentuh dada Junyoung. “Maksudku, kau. Hatimu.”

“Oh.” Junyoung merapatkan bibirnya sehingga bibirnya membentuk garis tipis yang datar. “Aku sudah terbiasa,” lanjutnya di beberapa detik selanjutnya.

Situasi pun kembali hening. Sunyi. Itu berlangsung hingga mereka sampai di basement gedung apartemen. Junyoung hanya membuka mulut untuk memberitahu mereka sudah sampai. Mereka tidak saling bertukar kata dalam perjalanan menuju tempat Junyoung tinggal kini.

“Kita sampai~” seru Junyoung sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. “Kau ingin sesuatu untuk minum? Aku belanja cukup banyak kemarin.”

Jessica cemberut mendengarnya. “Kau belanja saat aku bertanya-tanya mengapa kau tidak pernah menghubungiku sejak malam itu?”

“Lapar tidak bisa menunggu,” jawab Junyoung seadanya sambil bangkit dan berlari kecil menuju dapur.

Junyoung kembali dengan 2 kaleng kola dan sebungkus keripik kentang kesukaan Jessica. Ia melemparkan keripik kentang itu kepada Jessica dan meletakkan 2 kaleng kola di atas meja. Mata Jessica berbinar sesaat tangannya menangkap bungkusan snack kesukaannya dan langsung membukanya.

Aigo, Sonsaengnim~ tolong lah berperilaku seperti seorang guru biasanya,” goda Junyoung.

Jessica mendesis pelan. Ada keinginan untuk menendang kaki Junyoung namun itu sulit dengan adanya meja di depan kakinya. Junyoung berusaha untuk mengambil sedikit keripik kentang dari bungkus yang dipegang oleh Jessica tapi sahabatnya memutar badannya untuk menjauhkan snacknya dari tangan Junyoung.

“Aku anggap ini sebagai permintamaafan darimu karena sudah menghilang seenaknya,” cetus Jessica.

Junyoung memutar mata. “Hanya sehari aku tidak menghubungimu. Apa aku perlu meminta maaf?”

“Kau membuatku merasa bersalah!” kesal Jessica, merasa emosi yang meletup-letup di dalam dirinya. “Kau harus melihat betapa mengerikannya dirimu saat melihatku berada di dalam kamar Daehyun. Kau tidak mengatakan apapun selama mengantarkanku pulang. Lalu kau hilang begitu saja. Aku mencoba menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya. Tiba-tiba kau muncul seenaknya di sekolah. Kau pikir aku harus bagaimana?!”

Junyoung menghela napas. “Maaf.”

“Tuh kan, kau meminta maaf juga.” Jessica meniup poninya.

“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.”

Jessica mengerjap bingung.

“Aku merasa takut ketika melihatmu di kasur Daehyun. Hanya kau yang ku miliki. Aku tidak bisa membayangkan Daehyun juga merebutmu dariku. Dia sudah mengambil semuanya dariku sejak ia datang. Aku tidak akan membiarkan dia merebutmu juga.”

Tatapan Jessica melembut. Dia pindah ke samping Junyoung untuk memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Junyoung.

“Kau adalah segalanya bagiku. Orangtua, kakak, adik, anak, sahabat, musuh. Segalanya,” gumam Junyoung tegas sambil membalas pelukan Jessica.

***

Daehyun memainkan benda tipis di tangannya, ragu apa ia harus memakai benda itu menelepon atau tidak. Youngjae bersendagu dengan sebelah tangan sambil menatap sahabatnya datar.

“Kau harus berhenti menatap handphonemu seakan hidup dan matimu berada pada benda itu,” komentar Youngjae.

Daehyun mendelik tajam. “Diam! Aku tidak butuh komentarmu.”

“Uh, galak sekali~ aku takut,” cibir remaja yang lebih muda beberapa bulan dari Daehyun itu.

Youngjae mendesah saat Daehyun kembali terfokus pada handphonenya. Dia merebut benda itu dan menekan nomor yang tertera di layar. Daehyun panik melihatnya. Dia segera merebut kembali handphonenya dan memutuskan hubungan sebelum telepon itu diangkat.

Micheosseo?!” omel Daehyun.

Youngjae memutar matanya. “Tidak biasanya kau ragu untuk menelepon Sica noona. Kalian sedang bertengkar?”

Daehyun segera menggeleng cepat. “Tidak. Tidak sama sekali. Hubungan kami baik-baik saja. Sangat baik. Berhenti bertanya yang aneh-aneh!”

Youngjae mendesis. “Aku hanya bertanya. Kenapa kau panik?”

“Aku tidak panik!”

Aish, terserah lah.”

Youngjae mengeluarkan handphonenya. Setelah menekan layar beberapa kali, dia menempelkan handphone pada telinganya. Bibirnya tersenyum girang saat sebuah suara terdengar dari handphonenya.

Noona~” seru Youngjae. “Err, aku hanya ingin meneleponmu. Sudah lama kita tidak bertemu. Ya. Hm? Oh boleh juga tuh. Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu.”

Youngjae melirik Daehyun yang sedang memperhatikannya dengan seksama. Senyumannya melebar.

“Apa kau sedang bertengkar dengan Daehyun? Daehyun ingin meneleponmu tapi ragu. Dia menghabiskan berjam-jam hanya untuk menatap nomor teleponmu. Iya—“

Youngjae berusaha meraih handphonenya yang direbut oleh Daehyun. Padahal perbincangannya dengan Jessica mulai seru. Daehyun membuka chasing dan melepas baterai handphone Youngjae. Mata Youngjae membulat karena protes.

Yah, Jung Daehyun! Brengsek kau!” maki Youngjae setelah berhasil mendapatkan handphonenya kembali.

Daehyun mendesis. “Harusnya kau bersyukur aku hanya melepaskan baterainya karena aku ingat kau adalah sahabatku. Kalau tidak, aku sudah melemparnya jauh-jauh!”

Aish, sebenarnya ada apa di antara kalian, hm? Apa ada hubungan dengan Krystal?”

Daehyun menggeleng pelan. “Aku dan Sooyeon noona baik-baik saja kok.”

Youngjae memicingkan matanya ketika Daehyun menghindari tatapannya. Sesuatu memang terjadi tapi Daehyun belum siap menceritakannya.

“Oh ya, ada apa dengan pipimu? Kau pasti sok jagoan pas di kelab bersama Yongguk hyung dan teman-temannya. Iya, ‘kan?” tebak Youngjae.

Daehyun menyentuh pipinya. Dia meringis pelan ketika jarinya menyentuh bagian bengkak di pipinya. Dirinya masih tidak percaya sang kakak berani meninjunya di depan kedua orangtuanya. Padahal Junyoung selalu menjadi anak impian di depan kedua orangtuanya.

“…ya, kau benar.”

Daehyun memilih untuk membenarkan tebakan Youngjae.

***

“Siapa?”

Jessica melirik Junyoung sambil menggigit bibirnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Jessica.

Junyoung mengangguk. Walaupun ia tahu seseorang yang menelepon Jessica pasti seseorang yang ia kenal, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dari yang jawabannya, sudah jelas Jessica tidak ingin membicarakannya. Padahal Junyoung penasaran dengan apa yang mereka bicarakan yang membuat pipi sahabatnya merona.

“Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan si mahasiswi jurusan psikologi itu?” tanya Jessica.

Junyoung menjilat bibirnya. “Dia pintar membuatku membuka diri. Jadi hubungan kami sudah cukup dekat.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Membuka diri?”

“Kemarin aku bertemu dengannya dan dia membuatku menceritakan masalah yang sedang aku alami. Tentangmu dan Daehyun. Tentang keluargaku. Ternyata mendekati seorang mahasiswi itu menyebalkan.”

“Kau membicarakan malam itu dengannya?”

Junyoung melirik Jessica. “Kau marah?”

Ani. Kau pasti butuh seseorang untuk meluapkan emosi. Jadi apa saja yang kau ceritakan?”

Junyoung mendesah pelan lalu berbaring di sofa, kepalanya di paha Jessica. Ia menggunakan lengan kanan untuk menutupi matanya.

“Aku menceritakan bagaimana Daehyun datang dan merusak kebahagiaanku. Ayahku terfokus pada kebahagiaannya, melupakan keberadaan istri dan anak resminya. Ibuku yang sibuk mencari perhatian ayahku. Aku yang berusaha menjadi yang terbaik hanya agar ayahku melirikku walau hanya sekejap mata. Kau yang menjadi satu-satunya orang yang peduli padaku. Ya seputar itu lah~”

Jessica memainkan tangannya di rambut Junyoung, berharap itu bisa membantu Junyoung untuk menenangkan hatinya.

***

Sudah 1 bulan lebih sejak kejadian itu, hubungan Jessica dan Daehyun merenggang. Tidak ada lagi canda-tawa di antara mereka. Mereka hanya saling melempar senyum kikuk jika bertemu. Hubungan Junyoung dan Daehyun pun semakin buruk. Ibunya beberapa kali meminta Junyoung untuk pulang tapi Junyoung menolak.

Setelah jam praktek Junyoung selesai, seorang suster memberitahunya bahwa ayahnya memanggilnya. Dengan enggan, Junyoung menyeret kakinya menuju ruangan milik ayahnya di rumah sakit besar itu. Suara berat ayah terdengar setelah ia mengetuk pintu ruangannya beberapa kali, menyuruhnya untuk masuk.

Junyoung menjilat bibirnya sambil beberapa membenarkan posisi duduknya. Dia merasa tidak nyaman duduk di depan ayahnya.

“Kapan kau akan pulang? Ibumu mengkhawatirkanmu,” ujar ayahnya.

“Tumben sekali peduli dengan perasaan ibuku,” balas Junyoung, mendecak kesal.

“Junyoung-ah, aku tidak akan menyalahkanmu. Kau pasti mempunyai alasan untuk meninju Daehyun. Kau tidak perlu menghindar hanya karena itu.”

Junyoung menatap ayahnya tajam. “Oh jadi tuan Moon yang terhormat ini berpikir aku kabur ke apartemenku karena merasa bersalah?”

Ayahnya hanya menatapnya datar.

“Aku harus pergi sekarang,” kata Junyoung sambil bangkit dari duduknya.

“Duduk,” tekan ayahnya.

Junyoung menyeringai. “Aku punya hal yang lebih penting daripada membicarakan hal ini.”

“Maksudmu ini tidak penting? Ini menyangkut keluarga kita.”

Junyoung memejamkan matanya sesaat sambil menjilat bibirnya. “Ku mohon. Jangan, jangan sekalipun anda berani membawa kata ‘keluarga’ dalam masalah ini. Jangan.”

Junyoung segera meninggalkan ruangan itu sebelum emosinya mencapai puncak. Ketika keluar, dia menabrak seseorang yang sepertinya ingin masuk ke dalam ruangan ayahnya. Dia memaki pelan, menyadari orang yang ia tabrak adalah adik tirinya sendiri, Jung Daehyun.

Dia kembali melangkah tanpa mengatakan apapun seakan ia tidak menabrak Daehyun tadi. Dia menggertak giginya ketika merasakan dirinya diikuti Daehyun. Dia melirik ke belakang sekilas untuk mengetahui perasaannya benar. Pria itu hanya mengikutinya tanpa mengatakan apapun.

Junyoung membuka pintu ruangan khusus para dokter muda dan membiarkan Daehyun masuk lebih dulu lalu menutup pintu. Dia membuka lokernya untuk menyimpan jasnya dan mengambil beberapa barang.

“Mengapa kau tidak mulai mengatakan sesuatu?” tanya Junyoung setelah ia selesai.

Daehyun memperhatikannya sejenak. Dia menghela napas lalu berkata, “Maaf.”

“Untuk?”

“Untuk kata-kataku tempo hari.”

Alis Junyoung terangkat. “Hanya itu?”

“Kau mengharapkan apa dariku?” balas Daehyun kesal.

Junyoung menggeleng. “Tidak ada.”

Junyoung pun membuka pintu, mengisyaratkan Daehyun untuk pergi. Daehyun mengerang kesal seraya melangkah keluar.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan!” kesal Daehyun.

Junyoung tersenyum tipis. “Jauhi Jessica.”

***

Aku merasa ada yang aneh dengan Daehyun, Eonni. Menurutmu bagaimana?” tanya Krystal.

Jessica menggigit bibirnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan bocah itu. Sudah 1 bulan lebih ia tidak dengar apapun darinya.

“Eonni! Kau mendengarkanku, ‘kan?” teriak Krystal.

Jessica menjauhkan gagang telepon dari telinganya untuk beberapa saat. “Apa yang kau harapkan? Aku tidak bisa mendengar semua keluhanmu sambil mengoreksi ulangan, Soojung-ah.”

Aku tidak mengeluh! Aku bertanya, Eonni. Bertanya soal Daehyun oppa, bukannya mengeluh. Huh!

I don’t care. Aku punya hal yang lebih penting daripada bocah itu. Lagipula aku tidak merasakan hal yang aneh tentang Daehyun,” balas Jessica.

Bohong. Jelas aku merasakannya, batinnya.

Dia aneh. Dia sudah jarang menghubungiku. Dan jika dia menghubungiku, dia hanya berbicara secukupnya. Biasanya dia selalu bercerita tentang penggemarnya di kampusnya.

Jessica mengacak rambutnya frustasi. “Aku tidak tahu. Molla, molla, molla!”

Hah, eotteokhe? Aku merasa kecewa saat dia tidak mengejarku lagi. Menurutmu bagaimana?

“Kau pikir aku cenayang yang bisa mengetahui semuanya?”

Krystal mendesis. “Kau sedang PMS, ya, Eonni? Mungkin aku masih menyukai Daehyun oppa, ya? Mungkin saat aku pulang nanti, aku akan memberikannya kesempatan.

Jangan, mohon Jessica dalam hati.

Apa kau setuju, Eonni?

Jessica menggenggam pulpennya semakin erat. Tidak, aku tidak setuju.

Aku tidak sabar untuk cepat-cepat liburan musim dingin nanti.

Jessica menggeleng. Ku mohon jangan, Soojung. Jangan.

“Eonni, apa kau mendengarkanku? Kertas ulangan murid-muridmu itu lebih seru dariku?

“… ya.” Jessica mengerjap ketika menyadari apa yang ia katakan. “Maaf, Soojung. A-aku harus pergi sekarang.”

Jessica segera menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Krystal. Ia meninggalkan kertas ulangan yang belum selesai ia koreksi itu di atas meja belajarnya bersama dengan gagang telepon sedangkan dirinya di atas kasur, meringkuk sambil memeluk guling erat.

“Ku mohon jangan lakukan itu, Soojung. Hubungan kami kini sudah cukup menyiksaku. Jangan menambah penderitaanku,” lirih Jessica.

***

Sandara mendesis sebal. Sudah 2 kali Jessica melamun, membiarkannya bicara sendiri. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah memutari meja, berhenti tepat di belakang teman seprofesinya. Dia menyelusupkan tangannya di sekitar leher Jessica.

“Sedang ada masalah, uh?” tanya Sandara, bibirnya tepat di samping telinga Jessica.

Jessica tersentak kaget, menyadari lawan bicaranya sudah berpindah tempat. Dia hanya menggeleng pelan.

“Aku bisa jadi teman curhat yang baik loh!” yakin Sandara.

“Dara-ssi, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing.”

Sandara menarik diri lalu kembali ke tempat duduknya. “Masalah keluarga?”

“Dara-ssi—“

“Percintaan?”

Mata Jessica membulat. “Aaniya!”

Sandara memainkan jarinya di dagu sambil mengangguk beberapa kali. Setelah puas mengangguk, tangannya menopang dagu dan matanya menatap Jessica serius. Jessica spontan memundurkan kepalanya sedikit.

“Dia memutuskanmu, ya? Laki-laki memang seperti itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ia miliki dan malah menginginkan yang lain. Palingan 1 atau 2 bulan lagi, dia akan memohon untuk kembali padamu,” celetuk Sandara.

Jessica menggeleng pelan. “Aku tidak punya pacar atau semacamnya.”

“Oh kamu menyukai pria yang sudah menikah?”

“Tidak~ berhenti menebak yang aneh-aneh!”

“Oh! Oh! Dia adalah seseorang yang tidak boleh kau sukai?”

Jessica menutup mulutnya erat, matanya terbelalak kaget. Sandara tersenyum lebar begitu mengetahui bahwa dirinya benar.

“Memang siapa dia?” tanya Sandara lagi.

Jessica menggeleng. “Bukan siapa-siapa.”

“Kau hanya mempunyai adik perempuan, artinya kau tidak mungkin menyukai saudaramu sendiri. Berarti orang lain. Atau…” Sandara menatap Jessica menyelidik. “..kau lesbian?”

Damn it,” kesal Jessica. “Of course not! I’m straight, okay?”

Jessica menutup wajahnya malu saat menyadari perkataannya tadi mengundang perhatian di ruang guru itu.

Sandara kembali mengangguk. “Lalu siapa pria ini?”

Jessica menjilat bibirnya. “Kau tahu Junyoung, ‘kan?”

“Sahabatmu itu? Oh, kau menyukai Junyoung! Aku tahu memang sulit melangkah keluar dari zona pertemanan untuk memasuki zona percintaan. Aku mengerti. Memang tidak ada yang murni di persahabatan antara pria dan wanita, ‘kan?”

No! Bukan Junyoung, tapi adiknya!”

Sekali lagi perbincangan mereka berhasil mengundang perhatian guru-guru lainnya. Jessica menganggukkan kepalanya sopan, mengisyaratkan bahwa dirinya menyesal sudah membuat kegaduhan.

“Apa masalahnya kau menyukai adiknya? Menyukai pria yang lebih muda dari kita sudah bukan hal yang tabu di zaman ini,” bingung Sandara.

Listen, Dear. Hubungan mereka tidak seperti hubungan kakak-adik biasanya. Hubungan mereka sedikit spesial.”

“Mereka saling suka?” tebak Sandara dengan suara pelan.

Jessica mengusap wajah gemas. “Bukan itu yang ku maksud! Mereka seperti membenci satu sama lain. Junyoung pasti akan marah besar jika tahu aku mempunyai rasa untuk adiknya.”

“Junyoung mencintaimu tapi kau mencintai adiknya? Situasinya cukup rumit.”

“Bukan! Bukan! Kau tidak akan mengerti! Pokoknya, Junyoung tidak akan setuju jika aku mendekati adiknya secara terang-terangan.”

***

Jessica menggigit bibirnya kuat-kuat. Kini ia berada di pintu utama gedung fakultas tempat Daehyun belajar. Tangannya menggenggam sebuah kotak. Ini semua adalah ide Sandara setelah ia menceritakan semuanya kepada wanita itu.

Hari itu, sepulang sekolah, Sandara memaksanya untuk mengantarkan wanita itu pulang. Ternyata setelah sampai di rumah Sandara, ia menarik Jessica paksa ke dalam rumah dan menginterogasi Jessica habis-habisan. Beberapa jam kemudian, tepatnya setelah mereka makan malam di rumah Sandara, wanita manis itu mencetuskan ide gila ini. Dia bahkan menawarkan dirinya sendiri untuk mempersiapkan segalanya. Jessica hanya memainkan perannya.

Beberapa menit berada di sana seperti bertahun-tahun lamanya bagi Jessica. Dia tidak yakin rencana Sandara akan berhasil, tapi dia ingin mencobanya. Saat matanya menangkap sosok familiar sedang membicarakan sesuatu dengan teman-temannya sambil melangkah ke arah tempatnya berdiri, Jessica panik. Tanpa sadar, kakinya berlari menuju mobilnya berada.

Aduh, dasar kaki bodoh!, umpatnya.

“Jess?”

Kakinya berhenti berlari begitu melihat sosok Sandara di depannya. Sandara memang datang untuk menemaninya dan untuk mencegah hal-hal yang menyeleweng dari rencana tidak terjadi.

“Aku tidak berani,” tolak Jessica.

Sandara mendecak kesal. “Kau ingin menyerah dan membiarkan Krystal merebutnya sekali lagi?”

Tubuh Jessica melemas mendengarnya. Sambil menggenggam erat kotak di tangannya, dia melangkah menuju tempat Daehyun berada sekarang.

“Daehyun-ah!” sapa Jessica sambil berlari kecil menghampiri pria itu.

“Sica noona~” sapa Youngjae.

Jessica tersenyum manis sambil membalas sapaannya dengan lambai tangan. Ya, Jessica sering bertemu dengan pemuda itu di rumah keluarga Moon. Mereka cukup dekat walaupun tidak sedekat dirinya dengan Daehyun.

Daehyun dengan ekspresi terkejutnya, memperhatikan Jessica dari ujung rambut hingga ujung kaki lalu kembali ke ujung rambut dan seterusnya. Ia masih tidak percaya sang noona muncul di depannya. Wanita itu tersenyum lebar sembari mengibaskan tangannya di depan Daehyun, berharap itu bisa mengembalikan pikiran sehat Daehyun.

“K-kenapa kau—“

“Youngjae, apa aku boleh meminjam temanmu sebentar?” tanya Jessica.

Youngjae mengacungkan kedua ibunya kepada Jessica lalu berlari kecil menuju kumpulan teman-teman sejurusannya yang lain. Sementara Daehyun ditarik Jessica menuju mobil kado ulang tahun Daehyun yang ke 18.

“Lebih baik kau buka kunci mobilmu biar kita bisa membicarakannya di dalam mobil,” ujar Jessica.

Dengan kikuk, Daehyun mengikuti apa kata Jessica. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Jessica menggigit bibirnya. Ia mulai ragu apa ia bisa mengatakan semua dialog yang ia hafal tadi atau tidak.

“Jadi ada apa, Sooyeon noona?” tanya Daehyun bingung.

Takut ia mengatakan hal yang salah, Jessica langsung memberikan kotak itu kepada Daehyun lalu membuang muka agar Daehyun tahu dirinya tidak mau bicara banyak.

“A-apa ini?” tanya Daehyun terbata-bata.

Jessica melirik sekilas. Kotak yang ia berikan tadi sudah dibuka oleh Daehyun. Terlihat sebuah benda panjang dengan 2 garis di dekat ujungnya. Semua orang tahu itu sebuah test pack. Entah bagaimana Sandara mendapatkannya. Itu bukan urusan Jessica. Tugas Jessica ialah mengatakan dialog yang wajib ia katakan setelah Daehyun membuka kotak itu.

“Aku hamil,” jawab Jessica.

“Bagaimana bisa?”

“Bukankah Junyoung sudah menceritakannya padamu? Kau memperkosaku, Daehyun.”

Jessica merasa dirinya merinding jijik ketika mengatakannya. Namun dia juga bersyukur karena Junyoung tidak tahu keseluruhan kejadian itu sehingga Daehyun pun tidak tahu bahwa ia berhenti sebelum sesuatu yang lebih terjadi.

“Junyoung hyung.. dia…”

Daehyun kehabisan kata-kata.

=== 180 Degrees ===

AND~~~ that’s it. HAHAHA! Omg this is so embarrassing. The plot is disgusting. I know it. /palmface/ Aduh ini awkward banget ceritanya. Aku ga pede pake jalan cerita ini. Tapi… tapi… aku geregetan sama jalan cerita selanjutnya. Harap dimaklumi T^T

Yang bertanya “Kenapa Junyoung marah sih?” di chapter 1, semoga kalian mengerti apa yang dirasakan oleh Junyoung setelah baca chapter ini🙂

Well, bagi yang inget soal songficku, silahkan baca kelanjutan projectku -> Songfic Project – Teaser

Dan terakhir, maaf banget Only Because It’s You chapter 5 ga jadi hari Minggu dikarenakan sesuatu. Maaf banget ya. tapi insya Allah sih minggu depan pasti dipublish😉

61 thoughts on “180° – Chapter 2

  1. wah thor ide dara tu dpt dri mna cba …..daebak daebak tuk author ……apalagi sica eonni mau aja nerima ide gila dara …klo ktauan boong bisa brabe…. deg deg kan bca ff author…….

  2. ya ampun!! jessica beneran hamil atau cuma ide sandara? kan dara blg test pack itu dapat entah dr mana ._.
    keren thor! penasaran sama next chap!!
    nice😀

  3. huh..jessica hamil ! anak ny daehyun ? no no no..itu tdk bnar …,,
    bkahn kh itu adlah anak dri jiyeong.
    aduh ksihan daehyun oppa..
    tpi ngk papa jgak sich , khn krna itu jga mreka brdua jdi brsatu…,,
    trus gmna nsib krystal ama jiyeong ?!

    lanjut thor keren ff nya…,, smangat thor!!!

  4. Ckckck idenya sandara parah banget wkwkwk. Itu beneran bukan hamilnya euh? -,- parah nih kalo sampe junyoung tau😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s