Only Because It’s You – Chapter 5

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Previous:

1234

Credit: CHOKYULATE

=== Only Because It’s You ===

Author pov.

Sooyeon tidak pernah mengerti jalan pikiran seorang Kim Joonmyun. Pria itu yang melarangnya menemui Sehun dan kini dia lah yang mempertemukannya dengan Sehun. Sooyeon tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia rasakan dengan segala yang terjadi.

Baru saja tadi siang, ia merayakan ulangtahun Sehun di kamarnya dengan sebuah cupcake sederhana, yang berakhir dengan dimakan oleh Joonmyun, kini Joonmyun membawanya ke pesta ulangtahun Sehun. Baru saja tadi siang Joonmyun merusak acara ulangtahun Sehun yang dibuat oleh Sooyeon, kini gadis itu harus menerima kenyataan bahwa acara ulangtahun Sehun yang mewah di malam hari ini adalah buatan Joonmyun.

Kini ia berada bersama Sehun dan Joonmyun di salah sisi halaman rumah Luhan. Dia hanya terdiam sambil menatap bola mata yang ia puja dan tersenyum sungkan. Dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun sebelum Sehun atau Joonmyun. Kenyataannya, kedua pria itu hanya saling menatap satu sama lain tanpa ada keinginan untuk berbicara. Sesekali Sehun melirik tangan Sooyeon yang digenggam oleh Joonmyun.

“Terima kasih…?” gumam Sehun ragu. Walaupun itu adalah pernyataan, namun ia memakai nada untuk bertanya.

Joonmyun mengangkat alisnya bingung. “Untuk?”

“Memenuhi keinginanku.”

Sooyeon meringis saat Joonmyun mempererat genggaman tangannya. Ekspresi Joonmyun tetap datar.

“Waktumu hanya 1 jam,” ucap Joonmyun.

Sehun mengangguk. “Kau boleh pergi sekarang, Hyung.”

Joonmyun melirik tangannya yang menggenggam tangan Sooyeon. Ia enggan melepaskan tangan Sooyeon dan meninggalkan gadis itu bersama Sehun. Dari semua pria yang hidup di bumi, Joonmyun paling tidak percaya diri saat berhadapan dengan Sehun. Dia takut kalah.

“Kau ingin aku pergi, Sooyeon-ah?” tanya Joonmyun. Lewat tatapannya, ia memohon agar Sooyeon memintanya untuk tetap bersamanya.

Sooyeon menggaruk pelipisnya. “Aku tidak tahu.”

Aku tidak tahu harus mengusirmu secara langsung atau tidak, lanjutnya dalam hati sambil tersenyum kecut.

“Kau tahu perjanjiannya,” ucap Sehun, membuat bibir Joonmyun melengkung ke bawah sedangkan Sooyeon kebingungan.

Joonmyun mengangguk. “Baiklah. 1 jam.”

Setelah Joonmyun pergi meninggalkan mereka, Sehun menarik Sooyeon ke dalam rumah. Mereka menaiki tangga dan berhenti di sebuah ruangan yang memiliki beberapa permainan. Seperti itu adalah ruangan tempat Luhan dan teman-temannya menghabiskan waktu di rumah ini. Sehun menarik sahabatnya ke sebuah sofa putih dan duduk di sana.

“Untuk pertama kalinya, kau yang pertama menggenggam tanganku. Hebat!” canda Sooyeon.

Sooyeon harus gigit jari karena Sehun tidak membalasnya dengan candaan lain maupun senyuman. Pria itu terlihat semakin frustasi dengan candaan Sooyeon.

“Ada apa?” tanya Sooyeon, suaranya terdengar lirih.

“Maaf.” Sehun menjilat bibirnya. “Maaf sudah menyeretmu ke dalam masalah ini.”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau pikir cerita kita masuk akal?”

Sooyeon mengerjap bingung. “Aku tidak mengerti.”

“Persahabatan kita dimulai dengan sandiwara. Aku sengaja pindah ke sekolahmu, menyogok agar berada di kelas yang sama denganmu, berusaha untuk menjadi teman sebangkumu. Semua ku lakukan agar bisa mendekatimu,” jelas Sehun.

Sooyeon menjauhkan dirinya dari Sehun. Bukan ini yang ia harapkan terjadi saat dirinya berhasil bertemu kembali dengan sang pria pujaan hati. Dia tidak mengerti mengapa Sehun mendadak menceritakan semua ini kepadanya. Tidak ada gempa bumi atau badai, tiba-tiba Sehun menguak semuanya.

“Kau tahu perjanjiannya.”

Sesaat, ia teringat perkataan Sehun tadi. Apa ini ada hubungannya dengan Joonmyun? Kenapa sejak pria itu masuk ke dalam kehidupannya, semua yang terjadi selalu mempunyai keterkaitannya dengan seorang Kim Joonmyun.

“Untuk apa?” akhirnya Sooyeon berhasil mengeluarkan suaranya. “Tidak mungkin karena kau menyukaiku, ‘kan? Kau sendiri yang melarangku untuk menyukaimu.”

“Karena Joonmyun hyung yang memintaku.”

“Untuk apa?” Sooyeon kembali mempertanyakannya.

“Untuk mendekatimu, menjagamu. Tanpa membuatmu menyukaiku.”

“Itu alasannya aku tidak boleh—“

“Ya. Karena dari awal, kau sudah ditargetkan oleh Joonmyun hyung.”

Sooyeon menggeleng. “T-tidak mungkin. T-tidak.. masuk akal.  Jika semua itu benar, lalu mengapa di rumah keluarga Kim, k-kau memukulnya? M-mengapa—“

Sehun mencoba membuat kontak mata dengan Sooyeon tapi gadis itu malah membuang muka dan ucapannya terhenti begitu saja. Dia mendesah kecewa. Setelah mereka sama-sama diam selama beberapa menit, akhir Sehun memutuskan untuk menjelaskan segalanya.

Hyung pernah mengatakan dia tidak lagi tertarik denganmu. Kalaupun dia masih tertarik, dia berjanji akan menggunakan cara baik untuk mendapatkanmu. Akan tetapi, tiba-tiba kau diculik dengan alasan dibeli. Aku panik. Dan ternyata, semua itu adalah ulahnya! Tentu saja aku emosi!”

“Mengapa kau begitu peduli tentang itu? Untuk apa kau emosi hanya karena hyungmu melakukan itu kepadaku?”

Sehun menarik napas dalam. “Kau mau tahu alasannya?”

Sooyeon mengangguk lemas.

“Karena aku juga menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu.”

Sooyeon terbelalak mendengarnya.

***

Sehun memainkan handphonenya dengan wajah tanpa ekspresi di balkon. Matanya tertuju pada keramaian di bawah sana. Entah siapa saja yang diundang oleh para sahabatnya di pesta mendadak itu. Ia tidak terlalu mengenali semuanya. Yang ia tahu, orang-orang itu adalah teman-temannya di sekolah lamanya yang elit sebelum ia pindah ke sekolah tempat Sooyeon belajar. Selain orang-orang asing itu, juga ada para sahabatnya tanpa Joonmyun. Joonmyun sudah pulang bersama Sooyeon.

Masih jelas di ingatannya bagaimana ekspresi Sooyeon sebelum dia pergi meninggalkannya. Gadis itu seakan sulit menerima kenyataan bahwa cintanya terbalaskan. Sehun mengerti. Setelah ia mengatakan segalanya, pasti Sooyeon kebingungan. Jangankan Sooyeon, ia pun bingung setiap saat ia memikirkan hal ini.

“Pesta ulangtahun yang buruk, huh? I see.”

Sehun yang sedang melamun pun tersentak kaget. Dia menoleh ke asal suara. Bibir dirapatkan erat-erat menyadari Luhan sudah berada tepat di belakang. Luhan tersenyum seraya duduk di samping Sehun.

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Aku mendengar pembicaraanmu dengan Sooyeon tadi,” ujar Luhan sambil menatap langit malam yang gelap. “Let her go. She will be just fine. Joonmyun takes care of her really well. There’s nothing to worry.”

Sehun tidak membalas. Matanya kembali menatap keramaian di halaman belakang rumah Luhan. Luhan melirik adik kecilnya.

“Kau membuat hidupmu lebih berat jika kau berencana untuk menggoda gadisnya Joonmyun. Tuan muda Kim yang terhormat tidak akan membiarkannya,” tambah Luhan.

Sehun menghela napas. “Aku tidak merencanakan hal itu. Aku sudah janji ini yang terakhir kalinya aku memaksa untuk bertemu dengan Sooyeon. Aku hanya ingin membongkar semuanya agar tidak membebaniku lagi. Apa itu salah?”

Luhan tersenyum. “Tidak sama sekali.”

Mereka terdiam saling menatap pemandangan yang disuguhkan. Suara musik yang dimainkan oleh Jongdae tidak sedikitpun mengganggu keheningan mereka.

“Tapi aku akan tetap ada untuknya,” gumam Sehun setelah keheningan panjang.

Luhan menoleh. “Sooyeon maksudmu?”

Sehun kembali tidak membalas.

“Yang ku lihat dari wajah Sooyeon saat ia pergi meninggalkanmu, aku yakin dia bingung harus mempercayai siapa. Dia sedang di titik kelabilannya. Hanya butuh satu hal lainnya untuk menjatuhkan kepercayaannya, dia pasti hancur. Jika saat itu terjadi hanya ada Joonmyun di sampingnya, kau tidak akan punya kesempatan,” kata Luhan.

Mata Sehun membulat tak percaya setelah mendengarnya. Luhan bangkit sambil menarik Sehun agar berdiri. Pria unik itu tersenyum girang.

“Sambil menunggu hal itu benar-benar terjadi, mari nikmati hidup. Pesta!!” seru Luhan sambil menggiring Sehun paksa menuju tangga.

***

Sooyeon pov.

“Karena aku juga menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu.”

Aku menutup wajahku dengan bantal. Sudah 3 hari berlalu sejak malam itu, tapi kalimat itu tetap saja terngiang di pikiranku. Aku tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Untuk saat ini, semua hal terasa begitu kompleks.

Pertama, Sehun melarangku untuk mencintainya.
Kedua, Sehun mengatakan alasan sebenarnya ia mendekati diriku.
Ketiga, Sehun menyatakan perasaannya kepadaku.

Jika hal yang kedua itu tidak terjadi, mungkin sekarang aku akan tersenyum seperti orang idiot sepanjang hari. Akan tetapi kini aku mempertanyakannya, apakah Sehun benar-benar mencintaiku? Bagaimana jika dia mengatakan itu hanya untuk mempermainkanku lagi? Atau bagaimana jika dia mengatakan itu hanya untuk membuatku lebih baik? Aku tidak mengerti.

3 hari berlalu dan yang ku lakukan hanyalah berguling-guling di kasur sambil memikirkan hal itu. Selama 3 hari pula, aku menghindari Joonmyun. Setelah mengetahui semuanya, aku juga memikirkan Joonmyun.

Sejak kapan Joonmyun menargetkanku? Mengapa Joonmyun menargetkanku? Apa bagusnya dari gadis miskin, kurus, tak bisa bersosialisasi sepertiku?

Terlalu banyak pertanyaan di pikiranku yang membuatku terkadang berteriak frustasi. Kepalaku seperti akan meledak kapanpun ia mau. Terkadang, aku harus memukul kepalaku sendiri jika pikiranku mulai aneh-aneh.

Tok.. tok.. tok..

Aku terperanjat kaget hanya karena suara ketukan pintu. Hanya sebuah ketukan pintu, aku menjadi panik bukan kepalang. Aku mencoba berbagai posisi yang nyaman sebelum pintu itu terbuka. Tapi yang terlihat, aku seperti anak kucing yang sedang memainkan kelereng sehingga kasurku menjadi sangat berantakan. Begitu aku sadar, pintu sudah terbuka dan sosok Joonmyun sedang berdiri di samping kasur sambil tersenyum geli.

“Apa yang sedang kau lakukan, Sooyeon-ah?” tanya Joonmyun.

Terkadang aku bingung mengapa Joonmyun mempunyai suara yang menenangkan tapi sifatnya menyebalkan. Atau jangan-jangan aku saja yang terlalu sensi soal Joonmyun? Karena yang ku lihat, semua orang di sekitarnya nyaman-nyaman saja dengannya. Atau juga, hanya orang-orang kaya saja yang nyaman dengan Joonmyun? Mungkin itu alasannya ada aturan tak tertulis bahwa orang kaya lebih baik dengan orang kaya dan orang miskin dengan orang miskin.

Aku menunjuk wajahku. “Hah? Aku?”

Joonmyun mengangguk.

Aku menggaruk kepalaku asal, membuat rambutku berantakan. “Aku tidak tahu.”

Ketika Joonmyun mendekatkan dirinya, aku memundurkan tubuhku. Aku memekik pelan saat ia menarik tanganku agar aku tidak menjauh.

“Kau itu perempuan, Sooyeon. Kau harus menjaga kerapian. Rambut adalah mahkota wanita, kau harus merawatnya dengan baik,” ucap Joonmyun sambil merapikan rambutku dengan tangannya.

Joonmyun tersenyum puas dengan hasil tangannya. Tangannya mengelus pipiku lembut. Aku berani bersumpah bahwa tangannya bahkan lebih lembut daripada pipiku. Tidak aneh, dia dibesarkan dengan sendok perak. Tidak mungkin ia pernah melakukan pekerjaan yang berat. Selalu ada orang lain yang bisa ia perintah.

“Besok, aku akan pergi keluar kota,” ucap Joonmyun.

Aku mengangguk sebagai respon.

“Kau ingin ku belikan sesuatu?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Jeongmal?”

Ne, jeongmal.”

Joonmyun terlihat tidak puas dengan jawabanku. “Mungkin sesuatu… kau pasti ingin sesuatu, ‘kan? Sesuatu! Ayolah, kau adalah perempuan. Mana mungkin kau tidak ingin sesuatu?”

Terkadang aku ingin memberikan pelajaran kepada Joonmyun bahkan tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Akan tetapi aku tersadar, ini lah cara ia dibesarkan. Apapun yang ku lakukan tidak akan mengubah cara pandangannya.

“Aku ingin kau pilihkan sendiri apa yang cocok untukku,” jawabku akhirnya.

Joonmyun sangat bahagia dengan jawabanku.

***

“Bukankah kau akan pergi besok?” tanyaku, sedikit kesal.

Joonmyun membukakan pintu mobil untukku. “Kita pergi untuk merayakan ulangtahunmu. Karena aku harus pergi besok, jadi kita merayakannya lebih awal. Hanya aku dan kamu.”

Aku terhenyak mendengarnya. “Ulangtahunku?”

“Kau tidak ingat tanggal ulangtahunmu, Sooyeon-ah?” Joonmyun mengerutkan keningnya, perasaan terkejut dan bingung menjadi satu. “Astaga, ternyata Sehun benar!”

Tubuhku kembali terasa lemas. Tanpa menjawab, aku masuk ke dalam mobil. Aku hanya diam mendengarkan segala ocehan Joonmyun. Ketika aku mendengar nama Sehun, aku tidak bisa mendengar suara apapun. Tapi dunia tidak terasa sunyi karena berbagai hal memenuhi otakku seakan ada berjuta orang berbisik di telingaku.

“….-ah..”

“Sooyeon-ah!”

Aku terlompat kaget. Aku baru menyadari mobil sudah berhenti. Mataku mulai mencari sosok Joonmyun di jok pengemudi tapi tidak ada. Tubuhku seperti tersengat listrik saat sebuah tangan menyentuh bahuku, membuatku kembali hampir melompat dari dudukku.

“Sooyeon-ah, ini aku!”

Aku menghela napas panjang menyadari Joonmyun sudah di luar dan membukakan pintu untukku. Kakiku terasa begitu lemah untuk melangkah keluar. Seakan ia tahu, Joonmyun menarik tanganku lembut untuk membantuku turun dari mobilnya.

“Ini dimana?” bukannya berterima kasih, aku malah mengutamakan rasa penasaranku. Kini kami berada di sebuah restoran makanan tradisional yang tak terlihat mewah sama sekali. Tempat ini begitu familiar tapi juga begitu asing.

“Loh, kamu tidak tahu? Bukankah ini tempat kerjamu sebelum kau kerja di rumah Sehun?” tanya Joonmyun balik.

Seketika aku ingat tempat ini. Sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat ini tapi aku selalu melewatinya untuk pergi ke sekolah. Tempat ini menjual makanan tradisional. Tidak lengkap. Hanya beberapa macam makanan saja. Itu juga bukan makanan yang terlalu berat yang berbahan dasar daging.

“Untuk apa kita di sini?” tanyaku lagi.

“Aku tahu kau pasti merindukan makanan yang ada di sini.”

Joonmyun menarik tanganku masuk ke dalam restoran itu. Penampilan kami ditambah mobil Joonmyun yang mewah membuat kami menjadi pusat perhatian. Ini hanya restoran di pinggir jalan yang biasa didatangi oleh orang-orang yang uangnya pas-pasan. Tentu saja kami menjadi pusat perhatian. Akan tetapi Joonmyun terlihat tidak peduli.

Ketika seorang pelayan mendatangi kami dan menanyakan pesanan kami, Joonmyun kebingungan. Aku tersenyum geli melihatnya. Dia biasa datang ke restoran mewah. Pantas jika dia bingung sekarang.

“Semuanya 1 porsi,” jawabku.

Joonmyun menatap tak percaya. “Kau yakin bisa menghabiskannya?”

Aku tersenyum. “Tidak sih. Apa kau keberatan kalau kita mencoba semuanya?”

“Tidak. Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali.”

Malam ini, dia akan tahu bahwa tidak semua makanan enak itu mahal. Malah terkadang yang murah jauh lebih nikmat dari yang mahal.

“Wah! Ini enak sekali!” seru Joonmyun.

Untuk kesekian kalinya, Joonmyun bersorak gembira setelah mencoba beberapa makanan yang tersedia di atas meja. Keringat membasahi wajahnya karena rasa pedas tapi tak ia pedulikan. Sudah beberapa gelas air mineral habis untuk menetralisir rasa pedas di lidahnya. Sementara aku belum memakan begitu banyak karena memperhatikannya.

Aku cukup terkejut ternyata orang kaya sepertinya pun bisa bertingkah norak saat memasuki kawasan orang miskin seperti ini. Beberapa orang di sekitar kami tertawa geli melihat tingkah Joonmyun. Walaupun aku malu, aku tidak melarangnya seperti itu. Kapan lagi seorang Kim Joonmyun bertingkah konyol seperti ini?

“Aku mau ke toilet sebentar,” kataku.

Dia mengangguk sambil mengambil tteokbokki dengan sumpitnya. Bahkan dia tidak mau repot-repot untuk menatapku sebelum aku pergi.

“Sooyeon-ssi, toilet di sini sedang diperbaiki. Kalau mau, kamu harus ke toilet umum di sebrang jalan itu,” kata pemilik restoran saat aku hampir sampai di depan toilet.

Aku mengerjap kaget. “Ahjussi masih mengingatku?”

“Siapa yang tidak ingat kamu? Kamu cukup terkenal di sini karena dibeli oleh orang kaya. Itu orang kaya yang membelimu?” jawabnya sambil tertawa.

Aku tersenyum kaku. “Haha, ya, dia orangnya.”

“Dia cukup tampan dan—Sooyeon-ssi!”

Aku segera meninggalkan orang tua itu. Aku tidak menyangka orang-orang di tempat ini tahu tentangku. Daftar pertanyaan di pikiranku pun bertambah. Siapa yang membocorkannya?

“Kau tidak jadi ke toilet?” tanya Joonmyun saat aku melewati meja kami.

Aku menggeleng. “Sedang rusak. Aku harus ke toilet umum di sebrang jalan.”

“Mau ku temani?”

“Tidak perlu. Kau nikmati saja makananmu.”

Aku kembali berjalan keluar restoran. Perutku terasa sakit bersamaan dengan kepalaku yang kembali berdenyut nyeri. Untung saja saat itu aku bisa dengan mudah menyebrang jalan.

Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi, aku keluar dan menghembus napas berat. Sedetik kemudian, aku baru menyadari bahwa aku tidak membawa uang sedikitpun. Orang penunggu toilet umum itu menatapku penuh curiga.

“Ini.”

Aku tersenyum lega saat seseorang memberikanku uang untuk membayar toilet umum itu. Tapi senyum legaku hilang begitu aku melihat siapa orang yang memberikan uang itu.

Ayahku.

“Sooyeon, anakku, apa yang kau lakukan di sini?” sapa ayahku.

Seketika, perutku mual mendengarnya. Dia benar-benar tidak tahu diri. Setelah menjualku, dia masih berani memanggilku anaknya? Dasar tidak tahu diri!

“Apa yang kau mau?” tanyaku tajam.

Setelah pria tua itu memberikan uangnya untuk membayar, dia menarikku ke tempat yang sepi. Bodohnya, aku tidak memberontak. Itu karena aku tidak membencinya. Setelah semua yang ia lakukan kepadaku, aku tetap tidak membencinya. Aku sudah mencoba, tapi aku tidak bisa. Bagaimanapun, dia adalah ayahku.

“Ayahmu ini butuh uang,” katanya akhirnya.

Aku terbelalak. “Kau meminta uang kepadaku?”

“Kau bisa memintanya kepada majikanmu, ‘kan? Dia pasti memberikannya! Ayolah, aku sangat membutuhkannya, Sooyeon-ah.”

Aku mendesis geram. “Apa yang membuatmu berpikir dia akan memberikannya?”

“Kau tidak menggodanya sedikit, dia pasti mengabulkan segala permintaanmu. Benar?”

“Aku tidak akan melakukan itu.”

“Jangan sok suci! Kau sudah sering melakukannya dengan Sehun, bukan? Tidak akan menyakitkan jika kau melakukannya dengan majikanmu sekarang.”

Bibirku ternganga. “Melakukan apa?”

Dia mendesah meremehkanku. “Kau sama saja dengan ibumu. Sok suci. Andai dia tidak membuangmu kepadaku, pasti kalian adalah pasangan ibu-anak paling berbahaya.”

“Dia meninggalkanmu karena kau miskin tapi hobi berjudi!”

“Bukan istriku yang ku maksud! Tapi ibu kandungmu!”

Aku terhenyak mendengarnya. Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi hatiku terasa sakit.

“Kau pikir, apa alasannya istriku pergi? Itu karenamu bukan aku! Ibumu membuangmu di depan rumah kami dan memberikan kami kesialan! Kami sudah mencoba membuangmu tapi malah anak kami yang hilang sedangkan kau kembali! Dia pergi karena tidak sanggup lagi! Itu semua karenamu!”

Tunggu, maksudnya ibu kandungku bukan wanita yang pergi dari rumah saat umurku 10 tahun? Ibu kandungku membuangku di rumah sialan itu?

“Tidak ada yang menginginkanmu. Hanya aku yang mau membiarkanmu tinggal di rumahku, memberikanmu pakaian dan makanan. Ini saatnya kau membalas budi. Berikan aku uang!” paksanya.

Aku melangkah mundur. “Tidak mau.”

“Dasar tidak tahu terima kasih! Memang seharusnya aku membunuhmu saat kecil! Sudah besar malah tidak tahu diri.”

Pria tua itu meraih tanganku. Aku memekik ketakutan.

“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriakku.

“Tidak akan! Jika kau tidak mau memberikanku uang, aku akan memakai cara lain.”

“J-jangan! Lepas—“

Sebuah tangan menarikku ke arah lainnya. Aku menahan napasku menyadari Joonmyun berada di sana.

“Lepaskan dia, tuan Jung. Dia sudah menjadi milikku,” kata Joonmyun, menekan setiap kalimatnya. “Lepaskan sekarang atau kau akan menyesal.”

Ayah—tidak, maksudku tuan Jung menyeringai. “Berikan aku uang maka aku akan melepaskannya.”

Joonmyun menarikku lebih kuat. “Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku setelah kau merusak ulangtahun Sooyeon. Sekarang lepaskan atau kau akan menyesal. Aku tidak main-main.”

“Coba kita lihat saja.”

Joonmyun menyeringai dingin mendengarnya. Dia menarik napas dalam. Sebelum aku dapat menebak apa yang akan dia lakukan, dia berteriak sangat keras.

“Siapapun yang bersedia untuk memukuli pria itu akan ku bayar 10.000 won!” teriaknya.

Tuan Jung terbelalak mendengarnya. Beberapa pria berlari menghampiri kami begitu mendengar teriakan Joonmyun. Tuan Jung pun melepaskan tanganku dan berlari pergi.

“Siapa? Siapa yang harus dipukuli?” tanya orang-orang itu.

Joonmyun mengeluarkan dompetnya. “Tidak jadi. Sebagai ganti, kalian tetap ku bayar.”

***

“Maaf,” kata Joonmyun begitu kami sampai di apartemennya.

Aku menatapnya. “Untuk?”

“Maaf karena acara malam ini gagal.”

Aku menggeleng pelan. “Bukan kau yang menggagalkannya. Jadi tidak perlu meminta maaf.”

“Aku akan menggantinya saat aku pulang dari luar kota. Kita pergi kemana pun kau mau. Bagaimana?” tawar Joonmyun.

“Tidak perlu. Kau sudah baik sekali malam ini. Terima kasih sudah menolongku.”

Joonmyun tetap menatapku. Jika kondisi hatiku sedang baik, aku akan mengomelinya. Tapi untuk saat ini, aku memutuskan untuk langsung pergi ke kamarku. Joonmyun menarik tanganku.

“Kita harus bicara,” katanya.

“Kita sedang bicara,” balasku malas.

“Apa yang terjadi saat aku tidak ada? Apa yang ia katakan?” tanya Joonmyun.

Aku mengerjap. Setiap kata-katanya kembali menghantuiku, membuatku menggigil tanpa sebab.

“Tidak ada yang menginginkanmu.”

Aku sangat tahu itu sejak kecil. Tapi mendengarnya dari pria yang membesarkanku, aku jadi mati rasa. Untuk merasakan sakit saja tidak bisa. Aku merasa seperti tenggelam di samudera paling dalam.

Aku hanya diam saja saat Joonmyun memelukku. Untuk kedua kalinya sejak aku tinggal bersamanya, aku kembali menangis. Kali ini tanpa suara.

***

Author pov.

“Dia sedang di titik kelabilannya. Hanya butuh satu hal lainnya untuk menjatuhkan kepercayaannya, dia pasti hancur. Jika saat itu terjadi hanya ada Joonmyun di sampingnya, kau tidak akan punya kesempatan.”

Sehun kembali teringat kata-kata Luhan. Sahabatnya memang abnormal. Sejak ia mengenal Luhan, ia tidak pernah menyukai tingkah abnormalnya. Namun Luhan lah orang yang paling bijak dan dewasa setiap ia mempunyai masalah. Sampai sekarang, ia tidak tahu mana sifat asli Luhan.

Tentu kata-kata Luhan membuatnya bimbang. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Kapan hal itu terjadi? Apa yang dikatakan oleh Luhan itu benar? Apa dia tidak akan punya kesempatan?

Apa dia mengharapkan kesempatan untuk kembali masuk ke dalam kehidupan Sooyeon? Ya.

=== Only Because It’s You ===

YEY SEHUN SERING MUNCUL DI CHAPTER INI (\^o^)/ kan aku udah bilang, semua cast pasti muncul di waktu yang tepat. Jadi mau demo kayak apapun juga, rencanaku ga akan berubah. Soalnya kalo aku ikutin permintaan reader, takutnya jalan cerita malah jadi berantakan .-.

Uhuk, mau bilang apa ya? Pokoknya maaf untuk typo. Aku males edit. Maaf juga karena sudah mengundur waktu posting ff ini. Padahal aku udah janji buat post di hari Minggu kemarin cuma aku pergi ke rumah tante dari hari Sabtu.

Terakhir, ya semoga puas dengan lanjutannya ^^

82 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 5

  1. Waduh mslh keluarga ny sica complicated jg y ternyata ._.
    Penasaran in the end sica bakal milih siapa hihi
    Keren thor🙂

  2. Gilaaaaaa ini ff daebaaaaak. Penasaran bgtt thooor;^; semogaaa ujungnya sama suho<3 cepet di lanjut yaaa

  3. Suho q tau klo kmu itu kya tpi gk usah gtu jga donk klo pngen berantem kekekkeke ~

    Authornim fighting🙂

  4. Oke fokus sama keluarganya sica dulu, pertanyaanku soal suho sama persis kyk yg ada di kepala sica, hehe. Sehun nyatain perasaannya, sekarang aku ngerti mungkin suho tau segalanya ttng sica dari sehun/? Iya toh, wkwk. Biasanya aku selalu pengen sica sama karakter cowok nomer dua (bukan tokoh pertama) tapi ini aiu dukung banget sica-suho!
    Kasian sica😦 Ayahnya gitu, ibunya selama ini bukan ibu kandungnya, uuh…

  5. hmmmm#garuk2kepala…
    konfliknya mkin byak,msih byk yg belum terungkap…ayoo eon apalgi yg trjdi d chap selnjutnya??#kkkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s