[Freelance] Bitter Trap (Chapter 1)

Bitter Trap [1 shoot]

 

Poster by : eyinzz (@Eyinzz)

Author             : “qikiboychan”

Rating              : PG 13

Length             : Twoshoot

Genre               : Romance, Sad, Little Comedy

Main Cast         : Jessica Jung

Wu Yi Fan / Kris Wu

Park Chanyeol as Wu Chanyeol

Zhang Yi Xing as Wu Yi Xing / Lay

Other Cast        : Find in history

Disclaimer        : Aku hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang yang menjadi cast dalam ff ini. Aku buat ff ini berdasarkan sebuah cerita pendek dalam komik Hyakyuuju Kingdom (A Kingdom Of The Beast/Monster) ~ Takagi Shige Yoshi. Aq pake judul asli dari cerpen komik itu “Bitter Trap” dan isi sebagian besar cerita di bagian pertama ini memiliki persamaan dengan cerita aslinya(sekitar 85 %), dan sisanya aq tambahin menurut imajinasi aq. Aq suka ngebayangin kalo pemeran cerita dalam komik itu adalah idol/couple fav aq dan mencari karakter yang memang cocok untuk memerankan tokoh dalam komik itu.

Shoot pertama ini panjang pake banget loooh, 5 ribu kata lebih. Siap-siap sakit mata ya bacanya, kkk~

Semoga suka, happy reading…

 

****************************************    BITTER TRAP    ***************************************

Dalam sebuah pembicaraan yang manis, itu pasti ada perangkapnya.

 

Seorang wanita muda bernama Jessica Jung, akan menikah dengan salah satu anggota dari keluarga Wu yang sangat kaya dan terkenal. Sekarang ia tengah berada didalam sebuah mobil—yang tadi menjemputnya—dan akan membawanya ke kediaman keluarga Wu.

“Selamat datang di kediaman keluarga Wu. Mulai sekarang anda akan menjadi pasangan salah satu dari tiga bersaudara keluarga Wu.” Ucap salah satu pelayan keluarga itu—Pelayan tertua/orang kepercayaan keluarga Wu—sambil membungkuk sopan.

“Nona Jessica adalah calon pengantin perempuan yang ke – 99.” Ucap seorang pelayan yang berdiri dibelakang Jessica. Dia adalah pelayan Kim yang bertanggung jawab akan Jessica selama Jessica mencalonkan diri menjadi pengantin wanita dikeluarga Wu.

“Ne… Mohon kerjasamanya.” Balas Jessica ramah dengan senyuman manisnya.

“Baik, saya akan memperkenalkan mereka.” Ucap pelayan yang menyambut Jessica tadi. Dia masuk kedalam sebuah kamar yang ada didalam ruangan itu. Dan tak lama terdengar sebuah teriakan dari dalam sana, membuat Jessica dan beberapa orang yang ada diruangan itu menoleh kearah sebuah pintu yang—tadi dimasuki oleh pelayan tertua keluarga Wu—tertutup rapat itu.

“Jangan bercanda !!”

“Apa maksudnya !!”

“Gege !!”

“Tuan Kris !!”

Terdengar hening sebentar lalu BRAK !!! Pintu itu terbuka dengan kasar dan dari dalam, muncullah tiga orang laki-laki muda.

Si pembuka pintu terlihat sangat tampan dengan rambut blondenya yang sedikit berantakan, dia mengenakan sebuah kaos putih dilapisi jas berwarna hitam. Dibelakangnya seorang dengan rambut pendek berwarna hitam dan sebuah kacamata yang bertengger di hidungnya mengenakan baju kaos berlengan panjang. Yang seorang lagi terlihat sangat manis dengan rambutnya yang sedikit panjang—hampir sama dengan sipembuka pintu—dan berwarna hitam mengenakan kemeja berlengan pendek. #ini adalah penggambaran nyata mereka dalam komik.

Jessica terdiam menatap ketiga orang itu, namun jelas lebih memperhatikan yang tertua dari ketiga orang itu. Penampilannya begitu rupawan, namun tetap seperti biasanya. Terlihat dingin dan angkuh khas Wu Yi Fan atau lebih dikenal dengan nama Kris Wu. Dan disinilah tempat Jessica sekarang.

“Kau jangan sampai berbuat kesalahan.” Bisik pelayan Kim dari belakang Jessica—memperingatkan.

“Iya, iya.” Jawab Jessica malas.

Dia berdiri disini bukan tanpa alasan. Bisnis yang dijalani keluarganya gagal, mengakibatkan keluarganya bangkrut dan terjerat hutang. Karena itulah dia tertarik untuk ikut lamaran pernikahan dengan keluarga Wu. Kalau bisa menikah lebih dari 1 minggu, hutang-hutang keluarganya pun dapat terbayar.

Tapi itu bukanlah alasan utama Jessica kesini.

“Tuan Kris, ini adalah nona Jessica.” Ucap pelayan tertua memperkenalkan.

“Sudah lama ya tidak berjumpa.” Salam Jessica tersenyum semanis mungkin kearah Kris sambil mengulurkan tangannya.

“Kau siapa ??” Tanya Kris yang langsung menepis tangan Jessica, membuat Jessica hanya bisa membulatkan matanya—terkejut.

Sreet !! Tiba-tiba saja lembaran-lembaran uang terbang kearah Jessica dan berjatuhan kelantai—seakan-akan sedang terjadi hujan uang disana. Jessica masih diam membeku ditempat karena terkejut dengan apa yang Kris lakukan—menepis tangannya, lalu menghamburkan uang padanya.

“Ambil ini dan pulanglah.” Ucap Kris datar dengan tatapan dinginnya. Mata foxy indah milik Jessica menatap Kris tanpa berkedip, beberapa lembar uang masih berjatuhan kelantai.

Alasan Jessica kesini adalah karena ada sebuah cerita tentang keluarga terhormat yang merendahkan orang biasa. Dan alasan 98 calon pengantin perempuan itu meninggalkan rumah ini adalah karena laki-laki ini katanya sangat tidak percaya dengan ketulusan manusia.

Banyak yang menjilat dan mencari muka karena kekayaan yang dimiliki keluarga Wu, sehingga si anak tertua ini sudah tidak percaya lagi pada semua orang. Pada setiap calon pasangan pernikahannya, dia bersikap buruk untuk mengeluarkan mereka dari sini.

‘tenanglah Jessica’ batin Jessica. Tangannya terangkat keatas kepala untuk mengambil beberapa lembar uang yang mendarat di atas kepalanya.

“Kelakuanmu ini…” Srak. Jessica meremas uang yang dia genggam hingga berbentuk bulat seperti bola kertas. “SUNGGUH TIDAK LUCU !!” Teriak Jessica sambil melemparkan uang yang dia remas tadi ke wajah Kris Wu dan tepat mengenai pipi kiri. Membuat Kris sedikit terkejut dan terhuyung kebelakang.

“Kris Wu Yi Fan !!! Kau benar-benar yang terburuk !! Dulu, kita satu sekolah !! Dan aku SANGAT MEMBENCIMU !!” Amuk Jessica. Pelayan Kim bergidik ngeri menatapnya. Sedangkan Kris menatap Jessica aneh dan horor sambil memegangi pipi kirinya.

“Kenalan gege ya ??” Tanya laki-laki berkacamata dibelakang Kris dengan tatapan yang sama dengan Kris namun sedikit menggeryit bingung.

“Entahlah.” Sahut sibungsu disampingnya.

Dan benar !! Jessica datang kesini karena ingin membalas dendam pada laki-laki ini.

“Apa yang kau lakukan pada Tuan Kris yang berharga ini !!” Teriak beberapa suara setelah suasana hening selama beberapa saat setelah teriakan Jessica.

 

************

 

“Huh…” Keluh Jessica yang sekarang berada di sebuah kamar—duduk diatas sebuah kasur, memeluk sebuah bantal—sendirian.

“Kalau melihat wajahnya, aku jadi tidak tahan…” Sambungnya sedikit meringis sendiri. Dia benar-benar tidak bisa melupakan peristiwa tiga tahun yang lalu, dimana dia dan Kris menjadi teman sekelas disekolah khusus hanya untuk orang-orang yang sangat kaya.

Namun mereka sama sekali tidak pernah akrab. Hampir tidak pernah terjalin sebuah pembicaraan diantara keduanya. Namun Jessica yang periang itu sangat mengagumi dan menyukai sosok Kris Wu.

Dan setelah bisnis ayahnya gagal, Jessica tidak bisa bersekolah disana lagi. Surat-surat penyitaan dan surat pinjaman berhamburan didalam rumah yang keluarganya diami. Lalu Jessica mencoba menghampiri orang itu—Kris Wu—untuk mengucapkan selamat tinggal.

“K..Kris…” Panggil Jessica—gugup, karena ini pertama kalinya dia mencoba melakukan interaksi dengan laki-laki dingin itu. “Walau waktuku disini singkat…”

“Kenapa ?? Mau uang ya ??” Tanya Kris langsung—memotong perkataan Jessica—dengan tatapan dinginnya.

“Sayang sekali, aku tidak akan memberikanmu sepeser pun.” Tambahnya lalu pergi berlalu, meninggalkan Jessica yang mematung ditempat menahan agar air matanya tidak meluncur turun.

“AAkh !! Aku tidak akan pernah bisa melupakan hal itu !!” Jerit Jessica frustasi dengan mengacak-acak rambut coklatnya yang panjang. Laki-laki itu telah menginjak-injak perasaan orang lain.

“Kenapa orang kaya mempunyai sifat yang busuk seperti itu !!” Jessica masih mengacak-acak rambutnya.

“Apalagi dia tadi tidak ingat denganku, jahat sekali.” Keluh Jessica menundukkan badan dan kepalanya kedepan dengan kedua tangannya menyangga didepan kedua lututnya.

Dagh !!

“Berisik !! Mengganggu tau !!” Kesal seseorang setelah mendorong belakang tubuh Jessica menggunakan kakinya yang masih memakai sandal rumahan. “Kau berani sekali masih berada disini.” Ucap Kris—orang yang mendorong Jessica—sarkatis, memandang remeh Jessica.

Jessica yang tubuhnya terjerembab kedepan—tapi masih diatas kasur—menoleh kearah Kris yang berdiri dibelakangnya.

“Kenapa aku yang sebagai calon pengantin perempuan dikeluarga ini harus keluar dari sini ??” Tanya Jessica mencoba tersenyum—semanis mungkin—menahan emosi yang akan meledak. “Pertunangan ini sudah ditetapkan oleh orang tua. Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan, tapi aku tidak akan keluar dari sini.” Jelas Jessica yang membuat Kris menatapnya tajam.

Jessica terkekeh—menyeringai tipis—pelan melihat raut wajah Kris. Ini memang keuntungan untuknya yang beberapa saat lalu menjenguk kepala keluarga Wu yang sekarang sudah tua dan sedang dirawat dirumah sakit.

“Mumpung aku masih hidup, cepatlah menikah.” Ucap kepala keluarga Wu kepada anaknya yang tertua.

Namun Jessica tidak jadi menjenguk setelah menguping pembicaraan itu.

Ya, menikah dengan orang ini—Kris Wu—memang bukan main-main. Tapi dalam satu minggu ini, sebisa mungkin Jessica harus bertahan dan membalaskan dendamnya. Fikir Jessica yang masih tersenyum menyeringai.

“Kalau kau tidak mau keluar dari sini…” Kris membungkuk, menurunkan anjing yang sejak tadi berada digendongannya tapi sama sekali tidak disadari oleh Jessica.

“Eng..Anjing.” Gumam Jessica pelan, sedikit terkejut.

“Sayang sekali, tapi mulai sekarang kamar ini adalah kamar milik Rozanna…” Sambung Kris setelah meletakkan anjingnya yang berumur 1 tahun itu dilantai. “…Kamarmu itu…” Kris menarik tangan Jessica kasar—membuat Jessica sedikit terpekik dan harus berlari untuk menyamai langkah kaki panjang milik Kris.

“…CUKUP DI SINI !!!” Kris berhenti lalu melempar Jessica masuk kedalam sebuah kurungan. Jessica jatuh terjerembab tapi langsung membalik badannya—namun tetap dalam posisi duduk dengan tangannya sebagai penyangga dibelakang tubuh—menatap wajah Kris.

Trang !! Pintu kurungan itu di tutup dan dikunci oleh Kris. Melihat Kris yang berbalik ingin pergi, Jessica berdiri—menggenggam jeruji besi yang mengurungnya.

“DASAR IBLIS !! KELUARKAN AKU DARI SINI !!!” Teriak Jessica membuat Kris menghentikan langkahnya—terkejut dengan apa yang di ucapkan Jessica. Kris langsung membalik badannya menatap Jessica dengan amarah.

“KALAU KAU BICARA SEENAKNYA LAGI !!! KELUARLAH DARI RUMAH INI !!!” Balas Kris. Jessica langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan Kris.

Dia benar-benar tidak mempercayai orang lain, fikir Jessica. Dengan wajah yang konyol, Jessica menjawab perkataan Kris. “Tidak akan kkk~” Melihat wajah konyol Jessica membuat Kris geram, dia mengartikan kalau Jessica sedang meledeknya sekarang.

Kris segera pergi dari tempat yang dingin dan usang itu. Tentu saja, itu adalah kurungan Rozanna atau kandang anjing lebih tepatnya dan dia memasukkan—mengurung Jessica disana sendirian tanpa apapun.

“HEY !!! KELUARKAN AKU DARI SINI !!!” Teriakan Jessica menggema di dalam ruangan itu dengan tubuhnya yang merosot kebawah, lalu badannya ditumpu oleh lututnya. Jessica menundukkan wajahnya, pasrah, kesal, marah adalah perasaan yang sedang dia rasakan sekarang.

“Jessica, kau baik-baik saja ??” Tanya sebuah suara. Jessica mengangkat kepalanya—ingin tau siapa yang datang kesini. “Anak kedua dan ketiga.” Gumam Jessica yang memang belum mengetahui nama mereka berdua.

“Aku Lay dan Chanyeol.” Ucap si bungsu sedikit membungkukkan badannya. Lay si bungsu wajahnya terlihat sedikit khawatir sedangkan Chanyeol tersenyum lembut pada Jessica.

“Kalian…Si anak tertua itu benar-benar keterlaluan.” Keluh Jessica mendongakkan kepalanya menatap Chanyeol.

“Ha ha…Kasihan sekali kau…” Chanyeol membungkukkan badannya, mengangkat wajah Jessica dengan menarik dagu Jessica keatas menggunakan dua jari tangan kanannya—jempol dan telunjuk.

“…Menderita ya.” Sambung Chanyeol dengan jarak wajah yang tinggal beberapa centi dari wajah Jessica.

“Bagaimana kalau denganku saja ??” Tawar Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya, menatap mata foxy Jessica. Plak. “Eh..??” Kaget Chanyeol ketika tangannya ditepis oleh Jessica—sontak membuatnya berdiri.

“Aku sama sekali tidak berminat selain dengan anak yang tertua.” Ucap Jessica datar. Chanyeol dan Lay tertegun menatap wajah Jessica. Dengan penerangan yang sedikit minim, mereka merasa kalau wajah Jessica benar-benar cantik.

Entah apakah mereka yang baru menyadarinya atau bagaimana, namun Jessica terlihat berbeda. Tatapan datar namun mengandung kesenduan alami milik Jessica itu sempat membuat Chanyeol membeku sesaat. Wajahnya yang lonjong dengan dagu yang lumayan lancip, tulang pipi yang tinggi dan pipi yang sedikit tirus namun berisi menambah kesan sempurna wajah gadis itu dipadukan dengan mata foxy miliknya.

Chanyeol segera sadar setelah lumayan lama menatap wajah Jessica membuat Jessica mengeryit bingung. Apa lagi sekarang Chanyeol malah tersenyum kearahnya.

“Sayang sekali ya…” Ucap Chanyeol kembali membungkuk namun kali ini dia memberikan Jessica    sesuatu, “…Nih sebagai hadiah hiburan.” Lanjutnya. Jessica menyambut pemberian Chanyeol dengan mata yang tidak lepas dari wajah Chanyeol yang sedang tersenyum padanya.

Jessica menatap Chanyeol datar. Tentu saja, bagaimana mungkin anak itu mengatakan benda ini adalah sebuah hadiah hiburan padahal ini hanya selembar selimut yang bahkan untuk menutupin seluruh tubuhnya saja mungkin tidak bisa.

“Hais… Benar-benar sial.” Gumam Jessica saat dirinya sudah sendiri didalam kurungan anjing itu.

 

***********

 

“Pakaian rombeng macam apa ini…” Ucap Jessica datar saat ingin memakai pakaiannya selama seminggu dia di rumah ini. Ada beberapa tambalan yang menutupi sobekan baju itu di beberapa sisi.

“Eh tapi… Kalau membersihkan rumah dengan pakaian yang bagus juga engga enakkan ??” Gumam Jessica pelan, lalu akhirnya memakai pakaian kumuh yang diberikan padanya itu.

Jessica keluar dengan sebuah pel-an dan ember berisi air ditangannya.

Belum seluruhnya ruangan itu dia bersihkan, Jessica sudah melamun dengan kedua tangannya yang diletakkan diatas ganggang pel sebagai tumpuannya.

Jessica memejamkan kedua matanya, memikirkan hidupnya. Entah lah, dia juga bingung tentang hidupnya yang sedang dia fikirkan.

Duagh !!

“HEY JANGAN BERMALAS-MALASAN !!! MASIH BANYAK TUGAS YANG HARUS KAU KERJAKAN !!!” Setelah merasakan seseorang mendorongnya menggunakan kaki—menyebabkan badannya terjatuh kelantai—Jessica dikejutkan dengan suara teriakan yang pastinya diarahkan padanya.

Jessica meringis pelan merasakan sakit yang teramat dipergelangan tangan kirinya. Tangannya itu jatuh lebih dulu kelantai, bermaksud untuk menyangga tubuhnya. Namun ganggang pel yang ikut jatuh, menimpa tangannya itu lalu ditindih lagi oleh badannya.

Air mata tergenang di kedua mata Jessica menahan rasa sakit ditangannya. Dia mengangkat tangannya yang sakit dan terlihat jelas warna biru keunguan disana. Tapi dia tidak akan pernah mau terlihat lemah dihadapan keluarga ini, harga dirinya masih dia jaga.

Jessica menoleh kebelakang, “Anak ketiga, kenapa kau…”

“Aku mengawasimu.” Ucapnya sambil tersenyum, benar-benar manis dan menggemaskan, menampilkan dimple dan eyesmilenya—walaupun kecil.

Lay mengoleskan jari tangannya yang ramping dan lentik pada sebuah jendela disampingnya, lalu fiuh…dia meniup debu yang menempel dijarinya.

“YAP !! Ulang lagi.” Ucap Lay kemudian tanpa melepaskan senyuman manisnya. Jessica merasa seperti memiliki saudara tiri yang kejam. Seandainya dia tidak ingat yang sedang terjadi sekarang, ingin sekali rasanya dia mencubit pipi si anak bungsu yang sangat menggemaskan ini.

Namun karena sifat menyebalkan yang sepertinya memang sudah menjadi sifat dasar ketiga anak itu, mencubit dengan rasa gemas Jessica rubah menjadi ingin mengubur mereka hidup-hidup. Jessica menekuk kedua kakinya lalu menenggelamkan kepalanya disana.

“Kenapa aku…” Keluh Jessica namun belum selesai, seseorang memotongnya.

“Mau protes ya ??” Tanya Suara itu. Jessica mengangkat wajahnya walaupun dia sudah tau siapa pemilik suara itu. Kini tiga bersaudara itu tengah berdiri beberapa meter didepannya dengan gaya angkuh mereka.

Kris melipat kedua tangannya didepan dada, Chanyeol dibelakang Kris meletakkan tangan kanannya dibahu Kris sebagai tumpuan—tersenyum pada Jessica—dan Lay berdiri disamping Kris dengan senyumannya juga.

“Kau ingin menikah dengan kami kan ??” Tanya Kris meremehkan. “Tidak usah saja.” Sambung Kris tersenyum penuh kemenangan.

Sialan, umpat Jessica. Dengan tatapan tajam dan datar namun tetap mengandung kesenduan, Jessica berdiri menatap ketiga orang didepannya itu. Lagi-lagi Chanyeol terdiam karena tatapan itu, dia sangat menyukainya—tatapan milik Jessica.

“Aku tidak akan pernah menyerah.” Tekad Jessica, membuat Kris memutar matanya jengah lalu mereka bertiga meninggalkan Jessica sendirian disana. Dan sepeninggal mereka, Jessica langsung bergegas mengerjakan tugasnya.

Dari mengangkat semua selimut kotor lalu mencucinya, mengepel seluruh lantai rumah ini, membersihkan debu-debu yang menempel diperabotan penghias ruangan—yang beberapa kali hampir saja hancur karena hampir jatuh dari tempatnya—semua sudah selesai dia kerjakan—benar-benar melupakan nyeri ditangannya—dan hasilnya…

Mengkilap, sempurna. Jessica menghapus keringat menggunakan punggung tangan kanannya dengan senyuman yang menunjukkan kepuasan. Berikutnya kamar ini, batin Jessica. Tangannya sudah menggenggam ganggang pintu dan siap memutar—membuka pintu itu.

“Ah, disana tidak usah. Itu kamar Kris gege, dia tidak mengizinkan orang lain masuk kekamarnya.” Ucap Lay yang sekarang berdiri dibelakang Jessica. Mendengar apa yang dikatakan Lay, bukannya melepaskan tangannya di ganggang pintu dan pergi. Jessica malah tersenyum menyeringai penuh kilatan dimata foxynya.

Dan BRAKK !!!

“HALLO !!! AKU AKAN MEMBERSIHKAN KAMAR INI !!!” Teriak Jessica setelah membuka dan masuk kedalam kamar itu. “HAH !!” Kaget Kris yang berada didalam kamar itu.

“JANGAN MASUK !!! DILARANG MASUK KESINI !!!” Teriak Kris sambil mendorong belakang tubuh Jessica keluar.

“KENAPA ?!! KAN MAU AKU BERSIHKAN !!” Balas Jessica berontak, mempertahankan posisinya. Namun gagal, sekarang saja dia sudah berada diluar. Jessica dengan cepat berbalik dan menahan pintu yang sudah hampir tertutup.

“KAU MAU MENCARI TEMPAT PENYIMPANAN RAHASIA YA !!!” Teriak Kris dari dalam menahan pintu kamarnya agar tidak terbuka karena dorongan Jessica yang ternyata lumayan kuat.

“TIDAK AKAN !!!” Elak Jessica, masih berusaha mendorong pintu agar terbuka.

“ATAU KAU MAU MENCARI KELEMAHAN YA !!!” Tuduh Kris lagi yang mati-matian berusaha menutup pintu kamarnya.

“ENGGAAAAA !!!!” Teriak Jessica atas tuduhan yang Kris berikan lagi. “Hais…” Jessica melepaskan tubuhnya persekian detik namun belum sempat Kris mengunci pintu—dengan senyuman kemenangan—dari dalam, “BERISIK…!!!” BRAK !!! Jessica langsung menghantamkan tubuhnya sekuat tenaga kearah pintu membuat Kris terjungkal didalam.

Jessica membersihkan kamar Kris sambil bersenandung ceria dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

“Sudah, hentikan…” Rintih Kris meratapi keberadaan Jessica didalam kamarnya.

“Haaah… Sudah selesai.” Riang Jessica menghapus keringat dengan punggung tangan kirinya dan rasa sakit langsung menyengat tubuh Jessica—berasal dari pergelangan tangan kirinya. Wajah Jessica langsung berubah meringis kesakitan. Dibelakangnya, Kris tidak menyadari perubahan apa-apa pada Jessica. Dia hanya membungkukkan badannya dilantai seperti binatang berkaki 4 dengan kepala yang menunduk.

Kris hampir stres karena Jessica berhasil masuk kedalam kamarnya, yang sebelumnya tidak pernah dimasuki oleh orang lain kecuali pelayan kepercayaan keluarga mereka. Terlihat bodoh, tapi Kris seperti kehilangan separuh nyawanya sekarang.

Jika bukan karena rasa sakit yang teramat di tangannya, Jessica pasti sudah tertawa dengan keras—mentertawakan Kris—dan meledek laki-laki itu. Namun karena memar ditangannya, Jessica hanya pergi dengan diam dari dalam kamar itu tanpa Kris sadari sama sekali—karena terus merutuki dirinya sendiri.

 

*************

 

“Satu minggu yang terburuk.” Keluh Kris dengan wajah suramnya. Dia bersama kedua adiknya sedang duduk berkumpul diruang tengah. Mereka masing-masing menduduki sebuah sofa yang ada disana.

“Begitu ??” Tanya Chanyeol tersenyum. “Bukankah ini menarik ?? Gadis yang sekarang ini berbeda lho, aku saja ditolaknya.” Ujar Chanyeol meletakkan majalah yang tadi dia baca didadanya, dia masih tersenyum.

“Semangatnya bagus.” Tambah Lay ikut tersenyum pada kakak tertua mereka itu. Kris terkejut dengan penilaian dan tanggapan kedua adiknya ini. Sontak Kris langsung berdiri menghampiri kedua adiknya itu lalu menggenggam bahu Lay dan Chanyeol.

“BUKALAH MATA KALIAN !!! JANGAN SAMPAI KALIAN DIPERDAYAINYA !!!” Teriak Kris frustasi sambil mengguncang kencang kedua tubuh adiknya. Chanyeol dan Lay hanya bisa mengerjap mata mereka menghadapi kakak mereka yang seperti ini, membuat mereka sedikit pusing.

Didapur, Jessica hanya mendengus kesal mendengar keributan diluar sana. “Berisik.” Tekan Jessica bergumam sendirian sambil membersihkan piring dari busa sabun.

 

************

 

Hari-hari pun terus berlanjut. Ini sudah hari ke empat Jessica berada dirumah keluarga Wu, bekerja layaknya pembantu. Tidak, ini lebih parah dari pada pembantu. Faktanya, sebagian besar pekerjaan rumah dikerjakan olehnya. Tanpa ada satu pun yang membantunya, entahlah karena mereka tidak mau atau memang karena tidak diizinkan membantunya.

“Haah… Rasanya lelah sekali.” Gumam Jessica sambil membersihkan kaca jendela yang ada dilantai 2 rumah itu. Dia benar-benar merasa lelah, apalagi tidur malamnya pun tidak bisa nyenyak. Menyebabkan tenaganya hampir terkuras habis.

“Cepat panggil Kris Wu !!!” Suara teriakan seorang wanita yang berasal dari lantai bawah mengalihkan perhatian Jessica.

“Aku tidak bisa mengerti, mengapa aku tidak bisa menjadi calon pengantin perempuan ??” Ujar wanita itu lagi. Wanita dengan rambut berwarna merah kelam ini berteriak diruang tengah kediaman keluarga Wu.

“Siapa ??” Tanya Kris—dengan tatapan herannya yang datar—menatap wanita itu. Kris terlihat terganggu dan tidak suka dengan wanita berambut merah itu.

“Hem, sepertinya orang yang ke-78…” Tebak Chanyeol—terlihat acuh tak acuh—yang duduk ditangga menuju kelantai 2 rumah ini. Ia menatap wanita itu dengan tatapan menyelidiki.

“Aku yang ke-92 !!” Wanita itu sedikit membentak walaupun dia gugup.

“Aku dilahirkan dengan baik dan berpendidikan !! Seharusnya aku bisa menjadi pengantin untuk pernikahan ini !! Kenapa aku ditolak ?!!” Teriaknya lagi menatap semua orang yang ada disana.

****

“Ah anak itu ya. Cewek boros yang menghabiskan banyak uang dalam dua hari.” Gumam salah satu pelayan rumah itu. Jessica hanya tertegun mendengar perkataan teman sepekerjaan disampingnya ini.

“Berat ya.” Gumam Jessica.

“Iya kan.” Temannya tadi terkekeh. Mereka berdua melihat kejadian itu dari lantai dua secara diam-diam—meninggalkan sebentar pekerjaan mereka.

“Padahal aku jauh lebih layak dari orang kampung itu.” Suara wanita itu mengejutkan Jessica. Dia memandang bengis wanita berambut merah yang ada dibawah, kalau tidak mengingat siapa dia disini. Jessica pasti akan turun dan menyiram wanita itu dengan air perasan kain pel.

“Aku mengerti.” Ucap Kris pelan. “Kau mau berapa ??” Tanya Kris pada wanita itu—datar. Jessica terkejut mendengar apa yang dikatakan Kris. Mata foxynya menyiratkan kesedihan dan kekesalan.

“Yah… Paling tidak hanya untuk membayar biaya fitness.” Wanita berambut merah itu menyibakkan rambutnya menggunakan tangan kanannya—sombong. Dan apa yang diucapkan oleh wanita itu lebih membuat Jessica terkejut. Dia salah menilai ternyata.

“Silahkan tulis berapapun yang kau mau dicek ini. Setelah itu masalah ini aku anggap selesai.” Kris menyodorkan tangannya yang memegang sebuah cek kosong.

“Oke, apa boleh buat.” Ucap wanita itu menahan senyumannya, mengambil cek kosong itu dari tangan Kris.  Yang mereka tidak sadari, ada sepasang tangan yang mengepal marah melihat kejadian ini. Dia menuruni tangga dengan sedikit berlari.

Setelah sampai ketempat yang dia tuju, BYUR !!! Air didalam ember yang dia bawa dari lantai dua tadi tumpah. Tumpah dengan sengaja membasahi tubuh seorang wanita dan laki-laki yang ada didepannya sekarang. Setelah menyimbur kedua orang itu, Jessica diam menatap mereka datar.

Kris dan wanita itu terlihat menahan emosi sambil menatap Jessica. Tangan wanita berambut merah itu mengepal, “APA YANG KAU LAKUKAN !!!!” Teriaknya penuh emosi.

“APA MAKSUDMU !!!” Teriakan yang berasal dari bibir Kris menyusul.

Tuk..tuk..tuk..ember yang sudah kosong itu Jessica lepas dari tangannya, jatuh kelantai.

“Kenapa semuanya harus ditentukan oleh uang ?? Apakah kau hanya bisa melihat uang ??” Tanya Jessica pelan. Tatapan mata foxynya yang datar dan dingin bercampur dengan kesenduan yang terpancar alami dari matanya membuat Kris diam.

“Kau yang selalu memandang rendah orang, tidak akan pernah bisa hidup bersama mereka.” Mata Jessica sama sekali tidak beralih dari mata elang Kris. “Kau pasti punya sesuatu yang lebih penting lagi kan ??” Kris sedikit mengerutkan keningnya bingung melihat perubahan ekspresi Jessica.

“Makanya itu…” Ah… Kenapa di saat seperti ini, aku merasa begitu lelah, batin Jessica. Tubuhnya mulai sempoyongan dan

Brugh…

Semua orang yang ada disana terkejut melihat tubuh lemas Jessica yang terjatuh dilantai.

“JESSICA !!!” Jerit beberapa orang dari mereka yang ada disana.

Jessica masih sadar, tidak sepenuhnya kehilangan kesadarannya walaupun sudah benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Dia merasakan sakit dan lelah yang teramat, membuat keningnya berkerut. Beberapa bulir keringat dingin membasahi wajah Jessica yang pucat.

Beberapa detik kemudian, Jessica merasa ada seseorang yang mengangkat tubuhnya. Membawanya menaiki tangga lalu masuk kedalam sebuah ruangan. Jessica benar-benar merasa nyaman dengan pemilik tubuh yang mengangkat tubuhnya ini. Terasa hangat.

“Ngg…” Jessica melenguh pelan ketika merasakan tubuhnya diletakkan kesebuah kasur yang empuk. Perlahan dia mulai membuka kedua matanya, menatap sekeliling dan tatapannya berhenti pada sebuah objek. Seseorang yang berdiri membelakanginya, menghadap kesebuah jendela besar yang ada dikamar itu.

Kris, ucap Jessica dalam hati. Kris yang membelakanginya itu mulai membuka jas basah yang dia kenakan. Namun Jessica masih bingung dimana dia sekarang.

“Aku dimana ??” Tanya Jessica—berusaha mengeluarkan suaranya—pelan.

“Di kamarku.” Jawab Kris mengangkat baju kaos yang dia kenakan. “Kau terkena demam.” Lanjut Kris setelah melepas baju kaosnya.

“Ha..ha..” Jessica tertawa miris dengan pandangan kosong—lurus keatas atap kamar. “Seandainya kau bersikap baik tiga tahun lalu…”

Kris yang mendengar perkataan dari bibir Jessica menolehkan kepalanya, lalu badannya dan perlahan berjalan menuju kasurnya. Kris naik keatas kasur menggunakan kedua lututnya, membuat jejak basah yang ditinggalkan oleh celana jeans bagian lututnya.

Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica hingga jarak wajah mereka hanya tersisa 15 centi. Jessica diam ketika Kris menatap dalam matanya, membuat jantungnya berdetak tidak normal. Tidak tau apa sebenarnya maksud Kris melakukan ini.

“Ada apa ??” Tanya Jessica akhirnya setelah cukup lama membiarkan Kris menatap matanya. Kris pun menjauhkan wajahnya dari wajah Jessica.

“Tidak ada. Aku hanya tidak bisa mengingatnya.” Jujur Kris—duduk ditepi kasur tanpa memperdulikan celananya yang masih basah.

“Aku disebut sebagai manusia yang tidak memiliki teman. Aku tidak percaya pada semua orang. Walau teman sekelas, aku tetap menganggapnya sebagai orang luar.” Ucap Kris dengan pandangan yang lurus keluar jendela.

“Kau…tidak berinteraksi dengan teman sekelas karena kamu menganggap mereka hanya menginginkan uang.” Ucap Jessica lemah. “Aku hanya…ingin mengatakan itu. Bersemangatlah.”

“Begitu ya…” Kris menyatukan kedua tangannya, saling memainkan jari-jarinya. “Aku…minta maaf.” Tidak ada jawaban dari Jessica, dia tenang.

Kris menolehkan kepalanya saat tidak mendapat tanggapan dari Jessica. Dia melihat Jessica sudah tenang dengan tarikan nafas yang teratur—tertidur—dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya. Wajah polos bagaikan seorang bayi milik Jessica mampu membuat Kris terpaku ditempat selama beberapa saat.

Setengah jam sudah berlalu, namun Kris masih betah menatap setiap detail wajah Jessica—wanita yang tengah tertidur pulas diatas kasurnya. Dan dia baru menyadari, ada beberapa bagian dari wajah Jessica yang terlihat mirip dengannya—membuat mereka terlihat mirip.

Kris membuka celemek yang dipakai Jessica setiap hari untuk bekerja—membersihkan rumahnya. Tidak sengaja dia melihat warna biru yang samar dipergelangan tangan kiri Jessica. Kris mengangkat tangan Jessica itu dan mengelusnya pelan.

“Kau bekerja terlalu keras.” Gumam Kris. Apakah dia tidak menyadari, bahwa dialah yang meyebabkan Jessica harus bekerja sekeras ini. Hufthh… Kris neghembuskan nafasnya nyaring, lalu dia juga melepas rok hitam sepanjang lutut yang Jessica pakai.

***********

 

Satu minggu hanya tinggal menunggu dua hari lagi. Pagi ini, disebuah kamar yang terletak dilantai dua sebuah rumah mewah. Seorang wanita masih tertidur dengan pulasnya.

Baju kaos yang dia gunakan tersingkap, memperlihatkan perut datarnya. Bantal yang seharusnya menjadi tempat kepalanya bertumpu, terlihat berada ditangan kirinya—menindih tangannya. Dan selimut yang seharusnya menutupi tubuhnya, tersibak kebawah memperlihatkan kaki jenjangnya yang hanya tertutup oleh hotpants hitam separuh pahanya.

Pluk !! Sedikit gerakan yang di lakukannya tanpa sadar, membuat seseorang disampingnya menjadi terganggu. Orang itu, lebih tepatnya laki-laki itu—Kris—terlihat mengeryitkan wajahnya ketika merasakan wajahnya terasa berat—seperti ada sesuatu yang menindih.

Perlahan Kris membuka kedua matanya, namun pandangannya terhalang oleh sesuatu. Itu adalah sebuah tangan milik wanita yang saat ini masih mendengkur pelan disampingnya.

Kris mengeluarkan kedua tangannya dari dalam selimut dan perlahan memindahkan tangan yang menindih wajahnya itu. Kris bangun, mendudukkan dirinya mengahadap ke arah Jessica lalu memegang kening Jessica—memeriksa apakah demamnya sudah turun.

Saat merasakan suhu tubuh Jessica normal, Kris langsung mendorong badan Jessica hingga terjatuh dari kasur ke lantai kamarnya.

“Akh !!! Sakit !! Apa yang kau lakukan ?!!” Protes Jessica, bangun dari lantai sambil memegang keningnya yang terasa sakit.

“Huh. Itu karena kau seenaknya saja.” Balas Kris.

“Hais…” Kesal Jessica.

“Dua orang itu memang selalu seperti itu. Kkk~” Chanyeol dan Lay terkikik diluar mendengar teriakan dari dalam kamar Kris.

“Nih…” Kris melemparkan sesuatu kekepala Jessica.

“Apa ini ??” Bingung Jessica memeriksa kain yang dilempar Kris padanya.

“Mulai sekarang pakailah itu…Kalau ketahuan tamu, kehormatan keluarga Wu bisa berkurang.” Ucap Kris keluar dari dalam kamarnya.

Jessica memakai baju itu dan pas. Baju dengan motif bunga sakura kecil-kecil yang dipakai Jessica terlihat sangat cocok untuknya. Manis, dipadukan dengan sebuah rok coklat cream sebatas pahanya—15 centi diatas lututnya—yang tidak terlalu pendek atau kepanjangan.

Dia juga memakai beberapa perhiasan yang tadi Kris perintahkan padanya untuk memakai perhiasan itu. Dia hanya menuruti apa yang Kris katakan, selama Kris bersikap baik dan ramah padanya—walaupun dia kurang menyukai perhiasan yang tengah dia pakai sekarang, ah bukan hanya yang sedang dia pakai. Tapi hampir semua jenis perhiasan, dia tidak menyukai memakainya.

Jessica pun keluar, menyusul Kris dan dua saudaranya yang sedang berkumpul di ruang tengah—lantai satu. Tak berapa lama, datang seorang wanita.

“Sukurlah kau menerima baju yang bagus.” Ucap wanita itu. Kris dan Jessica menoleh kaget kearah wanita yang datang secara tiba-tiba itu—mereka sama-sama menaikkan salah satu alis mereka. Itu adalah wanita berambut merah yang kemarin datang dan akhirnya pulang membawa sebuah cek kosong yang diberikan oleh Kris—walaupun pakaian yang dia pakai pulang harus basah.

“Tapi pakaianmu yang kotor itu juga cocok denganmu.” Tambahnya dengan nada meremehkan.

“Kris, kau sudah tau ??” Tanya wanita itu dengan nada yang aneh. Jessica sedikit terkejut melihat tatapan yang diberikan oleh wanita itu untuknya. Sedangkan Kris hanya diam, tidak berniat membalas.

“Keluarga Jung sebenarnya adalah keluarga kaya. Tapi karena  sekarang terjerat hutang, perempuan ini masuk kedalam keluarga Wu agar bisa melunasi hutang-hutang keluarganya.” Hening. Semua yang ada disana terdiam mendengar apa yang dikatakan wanita itu.

“Kris… Kau telah ditipu oleh perempuan ini.” Kris membeku mendengar kata-kata itu. Dia menolehkan kepalanya, menatap Jessica yang juga tengah mematung ditempatnya.

“Benar…kah itu, Jess ??” Tanya Kris—sedikit tidak percaya.

“Tentu saja benar. Karena tadi aku mendengar pembicaraan ayah dari perempuan ini.” Wanita itu menyibakkan rambutnya menggunakan tangan kanannya—sombong.

Jessica sama sekali tidak bergerak ditempatnya. Dia gugup hingga mengeluarkan keringat dingin yang mengalir diwajahnya. Pelayan Kim pun terkejut dibelakangnya—tidak mempercayai apa yang didengarnya.

“…Tidak salah lagi.” Wanita berambut merah itu kembali meremehkan Jessica, melihat Jessica hanya terdiam—beku—tanpa berbicara atau pun melakukan pembelaan.

“Begitu ya…” Gumam Kris pergi dari sana masuk kedalam kamar.

Krek… Kris mengambil sesuatu dari dalam sebuah laci yang ada didalam kamar itu lalu membawanya keluar. Kris langsung melempar benda itu kearah Jessica—yang langsung sigap Jessica tangkap. Chanyeol dan Lay terkejut melihat apa yang dibawa dan dilempar Kris ke arah Jessica.

“A…apa ini..??” Tanya Jessica gemetar.

“Itu adalah barang berharga dirumah ini. Ambillah apapun yang kau suka, baik itu uang ataupun permata. Aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi.” Kris berbalik meninggalkan ruang tengah dan masuk kedalam ruangan tempat dia mengambil barang berharga tadi.

BRAAK !!! Suara bantingan pintu yang ditutup secara kasar oleh Kris mengejutkan mereka. Jessica tidak bisa berkata apa-apa, dia mematung dia benar-benar…ah dia pun tidak tau.

Perasaannya kacau. Penjelasan wanita tadi, sikap Kris, perkataan Kris, semuanya. Semuanya membuatnya bingung harus berbuat apa. Dia mengangkat tangannya yang menggenggam benda berharga beberapa saat lalu yang Kris lempar padanya.

Itu adalah sebuah kalung mutiara berlapis berlian yang sangat mahal harganya. Jessica memutar tubuhnya, menaiki tangga menuju lantai dua dalam diam. Hatinya sakit, sangat sakit.

 

************

 

“Aku akan pergi.” Ucap Jessica pelan, membuat pelayan Kim terkejut. Jessica segera masuk kedalam kamar yang ada dibelakangnya lalu menguncinya. Pelayan Kim langsung menggedor pintu itu.

“Nona Jessica, buka !! Kumohon pikirkanlah lagi !! Nona !! Nona !!”

Sudah cukup. Jessica tidak tahan lagi.

Sret !! Dia melepas baju yang tadi Kris berikan padanya. Melempar baju itu sembarang, tidak peduli. Sudah cukup dia merasa disakiti oleh Kris.

Perlahan Jessica naik keatas kasur yang ada dikamar itu. Dengan keadaan topless ditubuh bagian atasnya, Jessica berlutut menghadap ke jendela yang ada dikamar itu.

‘ambillah apapun yang kau suka.’ Kata-kata itu kembali terngiang diteliganya.

Bodoh sekali…fikir Jessica. Semahal apapun baju, atau semengkilat apapun permata, sama sekali tidak ada artinya bagi Jessica.

‘Aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi.’

Jessica menutup telinganya, benci mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Kris. Dia menjatuhkan badannya kekasur itu, menenggelamkan kepalanya disana. Meredam suara isak tangis yang kaluar dari bibirnya.

“Hiks…hiks…hiks…Kau..keterlaluan Kris.” Isak Jessica. Dia memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak dibagian dalam. “Hiks..hiks..aargh !!” Jerit Jessica pelan sambil menggigit bibir tipisnya hingga hampir berdarah.

Suara isakannya menggambarkan betapa sakitnya hatinya, Jessica menangis sesugukan seorang diri didalam kamar itu. Pelayan Kim sudah berhenti menggedor pintu sejak tadi—pasti kelelahan.

 

*************

 

“Tunanganmu yang sebelumnya itu, sudah pergi ??” Tanya Lay menghampiri Kris yang sedang membaca sebuah novel.

“Iya.”

“Kenapa kau percaya dengan wanita itu ??” Tanya Lay sendu, menatap halaman depan rumahnya melalui jendela yang ada dibelakang Kris.

“Perkataan wanita itu tidak dibantah Jessica. Itulah jawabannya.” Jawab Kris datar. “Aku akan melupakannya.” Tambah Kris sambil menutup novel yang tadi dia baca.

Tring..ting..ting..

Suara benda aneh yang tertangkap oleh pendengaran Kris itu, membuat Kris sedikit terkejut. Diluar sana, tepat didepan jendela yang ada dihadapan Lay, mereka melihat beberapa perhiasan yang jatuh berhamburan dari atas—kalung permata berlapis berlian yang tadi Kris lempar pada Jessica, beberapa perhiasan yang tadi Jessica pakai dan benda berharga yang lain.

“Dari atas…kamar gege…” Gumam Lay pelan.

Kris keluar dari dalam rumah, mengambil salah satu benda yang jatuh dari atas sana.

“Wanita itu… Dia merusak jam favorite ku.” Kris mengepalkan tangannya, menggenggam jam tangan kesayangannya yang sudah tidak berfungsi lagi.

Kris langsung masuk lagi kedalam rumah, berlari menaiki anak-anak tangga yang menghubungkan lantai satu rumah itu dengan lantai dua.

‘Kenapa semuanya selalu ditentukan oleh uang.’

‘Pasti ada sesuatu yang lebih penting kan.’

Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Jessica itu tiba-tiba terngiang ditelinganya. Kris memelankan langkahnya ketika sudah berada didepan pintu kamarnya.

Kreek…

Kris membuka pintu kamar. Setelah melangkah beberapa kali, Kris terdiam ditempat mendapati Jessica yang sedang duduk di jendela kamarnya. Tubuhnya dililit oleh sebuah sprai kasur, memperlihatkan kakinya yang indah dan jejang karena kain sprai yang sedikit tersibak.

Jessica menolehkan kepalanya kearah Kris yang berdiri dengan jarak sekitar lima meter darinya. Dan Kris membeku melihat tatapan yang Jessica berikan padanya. Mata foxy itu terlihat kosong dan datar, namun terlihat begitu menyayat hati dengan kesenduan yang dipancarkannya.

“Cuacanya tidak bagus ya…” Lirih Jessica. Mata elang Kris terpaku pada titik mata foxy Jessica.

“Rumahmu maupun kekayaan mu, aku sama sekali tidak berminat dengan semua itu.”

“Aku, datang kesini bukan karena semua itu. Aku datang karena…aku ingin bertemu dengan mu.” Kris lagi-lagi terhenyak mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir tipis Jessica. Cuaca yang memang sedikit mendung membuat angin berhembus dengan sedikit kencang.

Rambut indah milik Jessica terbang tertuip angin, membuatnya sedikit berantakan tapi itu membuatnya semakin terlihat cantik. Itulah yang ada difikiran Kris. Tatapan mereka beradu cukup lama. Hingga Jessica akhirnya membuka suaranya lagi.

“Aku lega bisa membalas dendam. Aku akan kembali ke kehidupanku yang sebelumnya.” Jessica mulai menggerakkan kakinya.

“Tapi kau bilang, aku boleh mengambil apapun yang aku suka… Yang aku mau hanya satu.” Ada satu hal yang paling berharga dirumah ini untuk Jessica, yaitu…

“Aku ingin sprai ini…” Kedua kaki Jessica sudah berada di jendela. Ya, kain sprai itu. Itu adalah sprai yang telah mereka gunakan bersama tadi malam. “Jaga kesehatan ya…” Lirih Jessica.

Kris tersentak mendengarnya. Dia sadar sesuatu yang akan dilakukan oleh Jessica—wanita itu sudah membelakangi Kris.

 

*****TBC*****

 

Bagian pertama selesai. Rencana pengen jadiin ini oneshoot gagal total karena kepanjangan. Jadi seperempatnya aq taro ke bagian dua.

Bagi yang sudah menyempatkan diri untuk membaca ff remake dengan 15% hasil pemikiran aq ini, makasih banget ya. #hoby banget ngeremake cerita dari novel atau komik dengan mengganti pemeran utama menjadi Jessica Jung , The Most Beautiful Girl In The World. Kkk~ itu menurut gue loh yaa hahaha.

Tokoh cewe dikomik itu mirip sama Sica pas masa-masa awal debut dan masa promosi ITNW.

Ga tau kapan bakal kewarnet lagi, jadi aq jga ga tau kapan bakal ngirim yang bagian keduanya. Tapi aq usahain secepatnya, soalnya udah mau selesai juga bagian keduanya.

See you, annyeong !!!

 

48 thoughts on “[Freelance] Bitter Trap (Chapter 1)

  1. yaampunnnn sabar deh jd sica udah bener” kya pembantu..
    ckckckck
    sebenernya apa hubngn sica ma kris d.ms lalu?
    penasran
    lanjut
    keep writing
    Fighting (Y)

  2. aduuh itu kris kejem amat :l masa lalunya kelam ye makanya akayak gitu.. itu sicanya duuh malah minta sprai ckckkk~ xD
    udah ini bagus pake banget deh, next storynya ditunggu.. ahh jadi pengen tau komiknya :l

    • Gumawo, sbar buat end story.a ya
      kkk~
      komik.a seru,,
      kLo mau Liat gmna komik.a
      cri aja d.googLe,, pke jduL yg hyakyuuju kingdom

  3. Cerita bagus.. Lay itu polos” menyebalkan.. Kris udah kasar menyebalkan pula.. Chanyeol sok kece..
    Sica unnie tersiksa.. Ga tau kenapa penggambarn wanita yg berambut merah aku jadi ngebayangin ital thor..
    Sica unnie lanjutin balas dendammu sama kris #ehh (ง •̀_•́)ง

    • kkk~ Gumawo udh bca
      pnggambaran tkoh d.komik mrip” sma styLenya mreka br-3 sih,,,
      Hehehe, bkan Soojung kok
      ini rmbutnya merah maron bkan mrah cerah,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s