Bond – We are Separated

bond-jessy-req-poster

A story by Jessy

Bond – We are Separated

with

SNSD Jessica – EXO Baekhyun – SISTAR Bora – Yoon Eunhye

Disclaimer : Semua karakter pemain merupakan fiktif belaka yang merupakan unsur pendukung dalam cerita. Please, no bashing. I just write this fanfiction for my own pleasure. No materialistic profit’s taken.

Not for plagiarism and copy paste! Please, respect me.

.

Credit poster : iheartpanda

Link story : Prolog

©jessycavendish

1 tahun kemudian…

Jessica memasukkan baju terakhir yang dia punya ke dalam koper besar miliknya. Dengan begitu, selesai sudah pekerjaannya untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawanya.

Hari itu hari Minggu, dan hari itu pula merupakan hari terakhir Jessica menginjakkan kaki di rumah besar miliknya karena sebentar lagi dirinya akan pindah ke Seoul untuk menetap di sana. Jessica akan pergi meninggalkan Suwon, menutup kenangan pahitnya lalu memulai kehidupan barunya di Seoul tanpa sahabat-sahabatnya.

Sahabat, eh?

Gadis itu tersenyum miris memikirkannya. Bahkan Jessica sendiri sangsi mereka masih menganggap dirinya atau tidak sebagai sahabat. Pasalnya, semenjak kematian ibunya dan ibu dari Yoon bersaudara itu sikap mereka mulai sedikit berubah. Lebih tepatnya hanya Bora yang mulai mengambil jarak dari Jessica. Memang mereka masih pergi bersama tetapi Bora sering tidak mengacuhkan Jessica apabila gadis itu berbicara dengannya. Awalnya Jessica tidak mengambil pusing sikap Bora karena masih ada Baekhyun dan Eunhye yang tetap di pihaknya.

Namun ternyata salah, beberapa minggu kemudian Baekhyun menyusul Bora dengan mulai menjauhinya. Lelaki itu sudah tidak lagi seperti Baekhyun yang Jessica kenal selama 16 tahun hidupnya. Baekhyun berubah dan Jessica merasakan itu.

Sikap tidak acuh yang terus-menerus ditunjukkan kepadanya membuat Jessica gerah dan tidak tahan. Hanya Eunhye yang masih setia menemaninya ketika Baekhyun dan Bora menjauhi dan menganggapnya tak pernah ada. Walau begitu, itu tetaplah tidak cukup. Semuanya tidak seperti sedia kala ketika mereka berempat masih menjadi sahabat baik yang tak terpisahkan semenjak kecil.

Dan perubahan ini membuatku sakit.

Jessica bangkit dari duduknya dan saat dia berbalik tak sengaja manik matanya melihat sebuah pigura foto yang terletak di sudut meja belajarnya. Jessica meraih pigura tersebut dan menatapnya. Itu adalah foto mereka berempat yang diambil saat ulang tahun Jessica ke-13. Di sana Eunhye berdiri di sisi paling kanan dan menyandarkan sebelah tangannya di pundak Baekhyun sambil tersenyum lebar ke arah kamera. Sedangkan Jessica yang tersenyum melihat ke arah kamera berada di antara Bora dan Baekhyun yang berpose seperti ingin mencium pipi gadis itu di masing-masing sisi.

“Aku merindukan saat-saat bersama kalian,” gumamnya pada diri sendiri. Tangannya ia gunakan untuk mengusap permukaan kaca pigura tersebut.

Setelah beberapa saat menatapnya, Jessica sempat berpikir untuk membawa foto itu atau tidak. Dan akhirnya dia pun memasukan benda seukuran buku tulis itu ke dalam kopernya.

“Anggap saja sebagai kenang-kenangan.” Jessica menutup kopernya dan keluar meninggalkan kamarnya.

Ketika Jessica menuruni anak tangga terakhir, tak jauh dari tempatnya telah berdiri Eunhye dan Bora yang sedang menatapnya. Mungkin hanya Eunhye yang menatapnya karena Bora lebih memilih memainkan gadget-nya tanpa melirik gadis itu sedikit pun.

Eunhye berjalan mendekati Jessica. “Kau sungguh ingin pergi?” tanya Eunhye kembali memastikan untuk yang entah keberapa.

Jessica mengangguk. “Aku sudah mengatakan kepadamu berkali-kali Eonni, aku ingin mengejar mimpiku.”

“Jangan mencari alasan Jessica! Aku tahu kau hanya beralasan agar pergi. Kurasa sekolah di sini tak kalah bagusnya jika dibandingkan dengan Seoul!” Suara Eunhye meningkat 1 oktaf. Emosinya sedikit terpancing karena Jessica tidak juga mau mengaku alasan apa yang membuatnya ingin pergi.

 “Kalau kau menuduhku mencari alasan, berarti kau tentu sudah tahu apa alasannya bukan?” Jessica menyanggah ucapan Eunhye tak kalah sengit.

Eunhye sedikit tersentak. Tentu saja dia mengetahui segalanya hingga yang tidak diketahui Jessica sekalipun. Dia tahu tetapi memilih untuk berdiam diri.

Jessica sedikit menghela napas, seharusnya dia dapat mengedalikan diri dan seharusnya dirinya mengatakan hal seperti itu kepada Eunhye. “Sudahlah Eonni, kita tak perlu memperpanjang masalah ini. Kita sudah memilih jalan masing-masing dan kurasa—” Jessica mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan.

“—kita tak dapat seperti dulu lagi.”

Eunhye langsung memeluk Jessica dengan erat, sebagai orang yang tertua di antara mereka berempat Eunhye merasa gagal sebagai kakak bagi semuanya. Ia tak mampu mempertahankan persahabatan yang telah berjalan lebih dari separuh hidup mereka tersebut.

Kemudian Eunhye melepaskan pelukannya dan menunduk. “Maaf,” ucapnya.

“Untuk?”

“Untuk segala yang telah terjadi  Jess, maafkan kelakuan adikku,” akunya menyesal.

“Bukan salahmu.” Jessica tersenyum tipis untuk membalasnya, lalu ia mengarahkan pandangannya ke Bora. “Terima kasih kau sudah mau datang Bora-ah.”

“Kau jangan terlalu percaya diri dulu Jess. Kalau bukan karena Eonni memaksaku untuk kemari aku juga tidak akan di sini,” balasnya tanpa mengalihkan pandangannya, Bora masih mengotak-atik gadget-nya.

Mendengar perkataan Bora yang bernada tidak peduli membuat Jessica menelan rasa kecewa. Dia pikir Bora masih sedikit mempunyai rasa peduli terhadapnya tetapi nyatanya dia salah.

Semua sudah berubah.

Dia tersenyum pahit menanggapinya. “Aku kira sudah waktunya pergi. Jaga diri kalian ya.” Jessica baru saja berjalan tiga per empat jalan menuju pintu utama dan dia langsung berhenti begitu mendapati Baekhyun telah berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

“Baekhyun…,” desis Jessica.

Bora secara otomatis langsung menoleh saat mendengar nama pria itu disebut. Wajahnya menampakkan raut ketidaksukaan melihat Baekhyun berdiri di sana.

Sudah kuberitahu tidak perlu kemari, tetap saja dia melakukannya. Batin Bora.

Mereka—Baekhyun dan Jessica— hanya saling tatap satu sama lain tanpa melakukan apapun. Beberapa saat kemudian Jessica memutuskan kontak mata mereka lalu kembali berjalan menyeret kopernya dan melewati Baekhyun begitu saja tanpa satu patah kata yang keluar dari bibirnya.

Bora yang tadinya ingin meminta Baekhyun agar cepat kembali ke rumah akhirnya mengurungkan niatnya dan justru ternyum melihat adegan itu. Tapi senyumnya tak bertahan lama karena detik berikutnya Baekhyun justru menahan Jessica dengan mencengkram pergelangan tangannya. Bora sudah bersiap untuk menghampiri mereka jika saja tak ada tangan lain yang mencegah.

“Biarkan mereka Bora.” Ternyata itu adalah tangan Eunhye.

“Ck! Tidak bisa!”

Bora mencoba memberontak tetapi sia-sia karena cengkraman di tangannya semakin kuat. “Eonni lepaskan aku!” Tangannya berusaha melepaskan tangan kakaknya.

“Bora!!” Eunhye berteriak membuat Bora mendengus keras dan akhirnya memutuskan mengalah untuk saat ini.

Di sisi lain, mereka masih bertahan pada posisi semula. Baekhyun masih menggenggam pergelangan tangan Jessica tapi gadis itu sama sekali tak berniat untuk berbalik.

“Lepaskan aku,” ucap Jessica.

“Katakan… katakan kenapa kau pergi?” bukannya melepaskan tangan Jessica, Baekhyun justru semakin mengeratkannya.

Gadis itu tersenyum samar. “Apa kau perlu tahu alasannya?”

“Jangan berputar-putar,” tegas Baekhyun.

Entah kekuatan Jessica yang besar atau cengkraman Baekhyun yang sudah mengendur, gadis itu berhasil melepaskannya dan menatap Baekhyun lurus.

“Kau ingin jawaban jujur atau bohong?” Jessica justru menantang Baekhyun. Padahal dalam hati dirinya sudah mati-matian menahan tangis karena berhadapan dengan Baekhyun. Mungkin dia bisa bertahan di depan Eunhye, tapi Baekhyun? Siapa yang tahu.

Mendengarnya Baekhyun menyipitkan mata tanda tak suka dan itu dapat ditangkap Jessica dengan jelas. “Baiklah, kurasa kau ingin jawaban jujur.”

Jessica menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. “Seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri Baekhyun-ah, mengapa sampai aku pergi. Dan mengapa hubungan kita dapat seperti ini. Kurasa kau orang yang paling tahu dan mengerti. Iya, kan?”

Laki-laki itu diam tak menanggapi. Lebih tepatnya tidak bisa menanggapi. Jessica benar, seharusnya dia sadar apa yang selama ini ia perbuat pasti menyakiti perasaan Jessica. Tapi… ia sudah berjanji.

Kala itu, Baekhyun sempat melirik ke arah tempat Bora berdiri. Gadis itu menatapnya was-was dan menggeleng lemah seperti mengisyaratkan sesuatu.

“Aku pikir—” suara Jessica membuat Baekhyun memandangnya kembali.

“…sudah saatnya aku pergi.  Mobilnya sudah terlalu lama menunggu, selamat tinggal.”

Jessica cepat-cepat membalik badannya dan segera melangkah pergi. Tepat saat ia berbalik air mata yang sedari tadi ia tahan telah tumpah mengaliri pipi putihnya. Gadis itu tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi apabila dia berdiri lebih lama lagi di depan Baekhyun. Mungkin saja ia sudah memeluk erat pemuda itu dan meminta agar dirinya berubah menjadi Baekhyun yang dulu. Baekhyun yang selalu ada untuknya, Baekhyun yang…

Tidak.

Bukan seperti itu yang Jessica mau. Seharusnya ia sudah mantap dengan pilihannya dan tidak boleh kembali berharap.

Setelah dirinya berada dalam mobil, ia mengusap air mata yang terus mengalir dengan kasar. “Aku tidak boleh lemah, tidak boleh,” gumamnya pada diri sendiri.

“Kita berangkat sekarang Nona?” tanya si supir dengan hati-hati. Jelas saja sang supir bingung dengan kondisi Nona-nya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam mobil dengan keadaan menangis.

Dengan suara sedikit serak Jessica menjawab, “Ya, kita berangkat sekarang.”

Beberapa detik berselang mobil itu sudah melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah Jessica.

Ini adalah saat terakhir Jessica, bahkan gadis itu tidak tahu dan belum memikirkan apakah dirinya akan kembali ke kota ini atau tidak. Belum…

Dan sebelum mobil itu benar-benar pergi, Jessica sempat menoleh ke belakang dan mendapati Baekhyun tengah memeluk Bora.

Rasanya hati Jessica seperti tercubit saat melihat itu.

Mungkin sekarang kita memang benar-benar sudah berpisah.

Jessica kembali pada posisi duduknya dan menatap lurus ke depan. Setelah ini kita akan memiliki kehidupan masing-masing, semoga kalian berbahagia tanpa aku.

Jessica menyederkan kepalanya di sisi kanan jendela kemudian memilih untuk menutup matanya. Tidur mungkin pilihan terbaik untuk melupakan sesuatu untuk sejenak sekarang.

.

.

TBC

Sorry for late update, and typo. Aku belum sempat ngecek ulang tulisannya, dan maaf kalau ada kekurangan di part ini.

Oiya, sekedar bocoran untuk part depan mungkin aku bakal nampilin gimana awal mula Jessica, Baekhyun, Bora sama Eunhye bisa bersahabatan.

And last but not least…

Kritik dan saran sangat diharapkan dari kalian ^^

43 thoughts on “Bond – We are Separated

  1. ah itu baekhyun ada hubungan apa sama bora??
    kasihan sica, sepertinya sica mulai jatuh hati sama baekhyun tapi baekhyun pilih siapa??

    aduh thor, penasaran nih sama kelanjutannya… d tunggu ne

  2. Ada apa antara baekhyun Dan bora?-_-
    Males bnget sma bora ewww-_- sma baekhyun juga eww-_-
    Jessi yg tabah ya:”)
    Keep updating thor^^

  3. Uuuhh Bora ngeselin bgt yah -_- Baekkie janji apa sih? smpe tega nyakitin perasaan Sica eonni T^T Cuma Eunhye yg ttp baek sm Sica. Sica eon smangat yah~ msih banyak org lain yg mw jdi sahabat eonni n sayang sm eonni. fighting! lanjut ke chap slnjut’a~

  4. Emg ny ada hubugan apa baek ama bora??!!bora ny ngeselin bgt sih?!!!
    Kasian liat sica ny😦 bunuh aja tuh si bora!!!!!#plakkk-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s