End of Autumn (Sequel of Autumn Tears)

endofautumn_2

End of Autumn (Sequel of Autumn Tears)

Starring: Jessica SNSD – D.O EXO (Kyungsoo)

Others: Taeyeon SNSD – Chanyeol EXO – OCs

Genre: Romance

Rated: PG-13

Poster by: Heerin

A/N: Ini yang aku janjikan sama kalian, sequel Autumn Tears. Maaf lama publish-nya dan maaf kalau banyak typo ._.v

© Faminsa

“While looking at you, goodbye.

While looking at you a little more, goodbye.”

Taeyeon – Bye

Akhir musim gugur sudah tiba, itulah yang mengakibatkan stasiun Jeongup tampak sepi. Langit sudah gelap dan hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di dalam stasiun tersebut. Kereta terakhir pun telah pergi diiringi dengan suara burung-burung yang kini terbang mengikuti. Sambil menunggu teman yang akan menjemput, Kyungsoo mampir ke sebuah kedai ramyun untuk makan malam. Perjalanan tiga jam dari Seoul membuat perutnya kelaparan.

“Do Kyungsoo?”

Suara berat seorang pria membuat Kyungsoo mendongkak. Dia lalu tersenyum dan berdiri dari duduknya, “Park Chanyeol, akhirnya kau datang!”

Kedua teman lama itu pun saling berpelukan singkat. “Aigoo, Kyungsoo, kau tampak berbeda. Kau benar-benar seperti orang kota saja.”

“Dari dulu aku memang sudah menjadi orang kota, bodoh!” tawa Kyungsoo seraya menepuk bahu Chanyeol.

Chanyeol hanya tertawa. Mereka pun duduk dan memutuskan untuk makan ramyun bersama. “Ku dengar kau telah menemukan orang tua kandungmu. Apa itu benar?”

Kyungsoo mengangguk kecil. “Ya, itu benar.”

“Lalu berita tentang kakak perempuanmu yang meninggal itu—“

“Itu juga benar.” Potong Kyungsoo cepat.

Chanyeol menggaruk tengkuknya bingung, “Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu tentang hal ini. Aku turut berduka cita, Kyungsoo-ya.”

Kyungsoo tersenyum samar, “Tidak apa-apa.”

“Ah, ya, tumben sekali kau datang ke sini? Jika niatmu datang ke sini hanya untuk menikmati musim gugur di Naejangsan, waktumu tidak tepat. Hari ini adalah akhir musim gugur dan Naejangsan sangat sepi.” Tutur Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan.

“Bagiku, tidak ada kata tidak tepat untuk menikmati musim gugur.”

“Eh? Maksudmu?”

Kyungsoo hanya menggeleng kecil. “Ah, ya, pamanmu masih bekerja di Taman Nasional Naejangsan, kan?”

“Yap. Paman Kim masih bekerja di sana dan kau harus merasa beruntung karena dia sudah menyediakan satu kamar di minbak[1] untuk tempat kau menginap.”

“Paman Kim memang baik. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya,” senyum Kyungsoo.

::::

“Oh, Kyungsoo-ya!”

Paman Kim langsung menyambut kedatangan Kyungsoo di ruang tamu minbak. Kyungsoo membungkuk hormat pada paman Kim. “Terima kasih telah menyediakan tempat di minbak ini, Paman.”

Paman Kim mengibaskan tangan, “Tidak usah sungkan padaku, Kyungsoo. Kau sudah ku anggap sebagai keluarga. Kalau begitu, silakan duduk. Kita minum teh bersama.”

Kyungsoo mengangguk setuju lalu bergabung bersama paman Kim yang sudah duduk di lantai beralaskan bantal tipis. Tak lama, Chanyeol datang seraya menaruh tiga cangkir teh hangat di meja. Pria tinggi itu pun ikut bergabung dengan Kyungsoo dan paman Kim.

“Jadi, apa yang membawamu datang ke sini mendadak?” tanya paman Kim.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin menikmati akhir musim gugur di sini.”

Paman Kim mengangguk lalu mengambil secangkir teh kemudian menyesapnya, “Jika kau ingin mampir ke kuil Naejangsan di atas, cable car masih beroprasi sampai pukul sepuluh.”

“Eh? I-iya, Paman.” Ucap Kyungsoo terbata. Sebenarnya, dia tidak tahu mengapa Paman Kim bisa langsung mengetahui bahwa tujuan utama Kyungsoo datang ke sini adalah untuk mengunjungi kuil Naejangsan.

“Kyungsoo-ya, aku bisa mengantar kau ke kuil. Ini sudah malam dan aku khawatir kau tidak berani ke sana sendirian.”

Perkataan Chanyeol membuat Kyungsoo menghela napas,”Aku bukan anak kecil, Chan. Kau tidak usah mengantarku.”

Chanyeol terkekeh, “Yah.. mungkin saja kau takut. Aku beritahu, ya, gosip mengatakan bahwa setiap malam di kuil Naejangsan ada hantu perempuan yang selalu duduk sendirian di taman. Nanti jika kau bertemu hantu itu, kau jangan kaget, ya.”

“Itu hanya gosip, Chan. Lagipula aku tidak takut dengan hal-hal yang seperti itu.”

“Benarkah? Kalau begitu jangan salahkan aku jika hantu perempuan itu menampakkan diri di depanmu. Aku tidak tanggung jawab jika pulang nanti—Ah!”

Chanyeol mengusap kepala bagian belakangnya yang baru saja dipukul oleh paman Kim. “Jangan bicara yang tidak-tidak, Chanyeol.” Paman Kim lalu menoleh kepada Kyungsoo, “Jika kau mau ke kuil Naejangsan, pergilah sekarang, sebelum malam terlalu larut.”

Kyungsoo tersenyum kecil seraya berdiri, “Aku akan pergi sekarang, Paman.”

“Dia sudah menunggumu.”

Kyungsoo sebenarnya ingin mempertanyakan tentang perkataan Paman Kim yang tidak dia mengerti, namun kakinya membawanya melangkah pergi.

:::

Kyungsoo tersenyum kecil ketika dia sampai di kuil Naejangsan. Dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang berada di dekat kuil. Suasana di sana benar-benar sepi. Hanya ada dirinya dan daun-daun crimson yang berguguran. Kyungsoo tersenyum kecil, suasana di sini membawa dirinya mengenang hari indah bersama Jessica. Hari spesial dirinya bersama Jessica yang terasa singkat namun sulit untuk Kyungsoo lupakan. Hari di mana Kyungsoo menyadari perasaan terlarangnya pada Jessica.

Nuna, apa kau merindukan aku?”

***

“Kenapa hujan datang di waktu yang tidak tepat? Benar-benar menyebalkan, apa dia tidak tahu bahwa sekarang kita akan mendaki gunung?”

Kyungsoo tersenyum kecil pada Jessica yang mengeluh sambil menatap ke arah jendela. “Sebentar lagi juga reda, nuna. Lebih baik kau habiskan saja dulu makananmu dan berhentilah mengeluh.”

Jessica mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo lalu mengangkat sebelah alis. “Sejak kapan kau mulai cerewet?”

“Aku? Cerewet? Benarkah?”

Jessica mengangguk. “Ya. Aku merasa kau mulai banyak bicara hari ini.”

Kyungsoo mengusap tengkuknya, “Entahlah, nuna. Mungkin karena ini adalah hari ulang tahun nuna?”

Jessica terkekeh. “Apa hubungannya dengan ulang tahunku? Kau ada-ada saja, Kyungsoo-ya.”

Hujan masih saja turun ketika Jessica dan Kyungsoo telah menghabiskan makanannya. Mereka berdua kini sedang berdiri di depan pintu masuk restoran, berharap hujan segera berhenti.

“Apa kita datang di hari yang tidak tepat? Bagaimana kita bisa menikmati musim gugur jika hujan masih saja turun?”

Kyungsoo menoleh lalu menatap Jessica,”Tidak. Kita datang di waktu yang tepat. Setelah hujan reda, kau pasti akan melihat musim gugur yang paling indah.”

Jessica mengerucutkan bibir,”Iya, tapi kapan hujan akan berhenti?”

“Sebentar lagi.” Ucap Kyungsoo sambil tersenyum. Jessica langsung memalingkan wajah kemudian menundukkan kepala. Hal itu membuat Kyungsoo terkekeh karena menurutnya tingkah Jessica sangat lucu.

Selama lima belas menit mereka hanya mampu berdiri diam. Senyum Kyungsoo pun akhirnya mengembang karena hujan sudah mulai mereda. Dia menoleh ke arah Jessica yang masih tertunduk lalu berkata,”Nuna, hujannya sudah reda.”

Jessica mendongkak dan tersenyum kecil, “Kita pergi sekarang?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi hari sudah sore, kita mengunjungi kuil Naejangsan saja menggunakan cable car.”

Jessica tampak kecewa, padahal dia ingin sekali berjalan bersama Kyungsoo ke puncak Naejangsan dan mengunjungi tempat indah lainnya, tapi wanita itu hanya bisa mengangguk menuruti perkataan Kyungsoo.

“Percaya padaku, nuna, pemandangan dari cable car sangatlah indah.”

Tepat setelah berbicara seperti itu, Kyungsoo memegang tangan Jessica sehingga wanita itu sedikit kaget. Senyum Jessica pun mengembang dan membiarkan Kyungsoo menggenggam tangannya.

::::

Perkataan Kyungsoo benar. Pemandangan Naejangsan dari cable car benar-benar indah. Dia bisa melihat pohon-pohon crimson yang mulai berubah warna dengan jelas. Kyungsoo tidak bisa berhenti memandangi Jessica yang sedang memotret pemandangan indah itu dengan ponsel. Pria itu pun sedikit kaget ketika Jessica tiba-tiba menoleh ke arahnya.

“Kyungsoo-ya, ayo berfoto bersama!”

Kyungsoo mengerjap, “Biar aku saja yang memotret nuna.”

“Tidak mau, kita berfoto bersama saja, oke?!”

Jessica langsung mengambil gambar mereka dengan kamera depan ponsel miliknya. Wanita itu tertawa melihat hasil foto mereka, “Kau terlihat aneh.”

“Tentu terlihat aneh. Aku belum siap tapi kau sudah memotret.”

Jessica tersenyum melihat raut muka kesal milik Kyungsoo yang menurutnya menggemaskan. “Aigoo, tapi kau masih tampak tampan, kok.”

“Ya..ya.. terserah nuna saja.”

Jessica terkekeh kecil. Tak terasa, cable car yang mereka tumpangi sudah berhenti. Jessica dan Kyungsoo pun turun lalu langsung menuju kuil Naejangsan. Suasana di sana tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang tampak sedang berjalan-jalan dan berfoto di sekitar kuil tersebut. Satu hal yang membuat Jessica kagum, di depan kuil tersebut banyak sekali lentera yang menggantung, menambah keindahan halaman kuil. Tak mau ketinggalan, wanita itu langsung memotret lentera-lentera itu menggunakan ponselnya.

Nuna, kita istirahat dulu di bangku itu,” ucap Kyungsoo sambil menunjuk sebuah bangku yang berada di dekat kuil.

Jessica mengangguk kemudian mereka pun duduk di bangku tersebut. “Musim gugur sangat terasa sekali di sini. Sangat indah.”

Kyungsoo mengangguk setuju. Dia menoleh dan menatap lembut Jessica, “Maaf karena aku hanya bisa mengajak nuna jalan-jalan di sini sebagai hadiah ulang tahun. Hadiah yang sangat tidak spesial.”

“Apa kau bilang?” Tanya Jessica sambil membalas tatapan Kyungsoo, “Ini justru hadiah paling spesial yang pernah aku terima sebagai hadiah ulang tahun. Dan aku berterima kasih karena kau yang memberikan hal ini padaku, Kyungsoo-ya.”

“Tapi tetap saja, aku merasa bersalah karena hadiah dariku hanya—“

“Aku bahagia, jadi sebaiknya kau berhenti berbicara.”

Kyungsoo tersenyum kecil, “Terima kasih, nuna.”

“Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu.”

Jessica lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tas coklat miliknya. Wanita itu pun mulai menuliskan sesuatu di sana. Kyungsoo yang penasaran berusaha untuk melihat tulisan Jessica tapi Jessica langsung menutupnya.

“Kau tidak boleh lihat.”

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, “Kenapa?”

Bibir Jessica tertarik untuk tersenyum kemudian menjawab, “Ini rahasia. Kau boleh membacanya ketika aku sudah pergi dan tidak akan bersamamu lagi.”

Nuna akan tetap bersamaku, berarti aku tidak akan pernah membacanya.”

Jessica menggeleng kecil, “Suatu hari kau akan membacanya.”

“Maksudmu?”

“Tidak apa-apa, “ jawab Jessica cepat. “Hey, aku akan kembali menulis. Sebaiknya kau tidak melihat.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan ketika nuna menulis?”

“Apapun, asal kau tidak mengintip tulisanku.”

Kyungsoo menghela napas kemudian memejamkan mata, “Aku akan diam seperti ini saja.”

Jessica terkekeh kecil, “Oke. Jangan membuka matamu sebelum aku menyuruh.”

Kyungsoo mengangguk. Jessica pun kembali menulis, setelah beberapa menit berlalu akhirnya wanita itu pun selesai. Jessica merobek kertas tersebut dan melipatnya. Dia berdiri lalu berjalan menuju pohon crimson yang berada  di pinggir bangku. Wanita itu kemudian mengubur kertas itu di bawah pohon crimson. Tanpa Jessica sadari, Kyungsoo sudah membuka mata dan kini dia sedang memerhatikan Jessica. Ketika Jessica akan kembali duduk, Kyungsoo segera memejamkan matanya kembali.

“Kyungsoo-ya, kau boleh membuka mata.” Ucap Jessica seraya menepuk bahu Kyungsoo.

Pria itu pun menuruti perintah Jessica. Dia kemudian tersenyum kecil, “Memangnya nuna menulis apa, sih?”

“Sudah aku bilang padamu, itu rahasia.”

“Ah, ya, itu rahasia,” ucap Kyungsoo sedikit kecewa.

“Kapan kita pulang?”

“Eh?”

“Ini sudah sore, kapan kita pulang?” tanya Jessica lagi.

“Sebentar lagi. Aku masih ingin berada di sini.”

“Oke.” Senyum Jessica lalu memalingkan wajah dari Kyungsoo. Wanita itu menikmati pemandangan kuil yang kini mulai dipadati orang-orang yang berkunjung.

Tanpa Jessica sadari, Kyungsoo terus menatap Jessica. Entah mengapa pria itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jessica. Sudah lama dia mengenal Jessica, dan dia akui bahwa dia mulai menyukai Jessica. Kyungsoo mencintainya, tapi dia tidak bisa mengungkapkan perasaan itu. Bukan karena dia tidak berani, bukan karena waktunya belum tepat, melainkan karena Kyungsoo merasa perasaan yang dia punya terhadap Jessica sangat salah. Kyungsoo merasa harus menyimpan perasaan tersebut di dalam hatinya, dia tidak boleh membiarkan Jessica tahu akan perasaannya.

“Kyungsoo-ya!”

Kyungsoo tersadar dari lamunannya. “Ada apa, nuna?”

“Kau sedang memikirkan apa?”

“Oh, ti—tidak sedang memikirkan apa-apa.”

Jessica mengangguk. Dia menghela napas seraya berucap, “Kita pulang.”

“Baiklah, kita akan pulang jika itu memang keinginan nuna.”

Jessica tersenyum, “Well, hanya sekali dalam hidupku bisa berkunjung ke tempat seperti ini. Aku berterima kasih padamu, Kyungsoo.”

“Kita bisa datang ke sini lagi jika nuna mau.”

Jessica mengedikan bahu, “Entahlah. Sekarang lebih baik kita pulang.”

Walaupun Kyungsoo masih ingin menghabiskan waktunya bersama Jessica di sana, dia tetap mengangguk dan menuruti keinginan Jessica. Waktu yang mereka habiskan di sana sangat singkat, tapi justru hal itu menjadi kenangan yang tidak akan pernah Kyungsoo lupakan karena pada saat itulah Kyungsoo menyadari bahwa perasaannya pada Jessica sangat salah.

***

Angin malam memaksa Kyungsoo untuk berdiri dari bangku, dia memutuskan untuk pergi dari sana namun langkahnya terhenti secara tiba-tiba.

“Ini rahasia. Kau boleh membacanya ketika aku sudah pergi dan tidak akan bersamamu lagi.”

Kyungsoo membalikkan badannya kemudian langsung menghampiri pohon crimson yang berada di pinggir bangku yang baru saja dia duduki. Dia berjongkok kemudian tangannya bekerja menggali tanah di sana. Dia menghela napas lega ketika menemukan sebuah kertas usang. Dia membawa kertas tersebut lalu kembali duduk di bangku. Kyungsoo membuka lipatan kertas itu kemudian membacanya.

Catatan Rahasia Jessica Jung

Hari ini adalah ulang tahunku. Kyungsoo membawaku ke sini sebagai hadiah. Walau terbilang singkat, tapi aku bahagia berada di sini dengannya. Apa aku boleh cerita? Ini sedikit aneh, tapi aku merasa bahwa aku sudah mengenal Kyungsoo sangat lama, bahkan aku merasa sudah mengenalinya jauh sebelum dia menawarkan bantuan padaku ketika aku dihukum. Siapa sebenarnya Kyungsoo? Ku rasa aku ingin segera mengetahui identitas dia yang sesungguhnya kekekeke

Banyak yang bilang bahwa aku sangat egois, dan itu memang kenyataannya. Kali ini, aku akan egois pada perasaanku. Apapun yang terjadi, aku akan terus mencintai Kyungsoo. Ya, aku mencintai Kyungsoo, sangat mencintainya. Dia adalah satu-satunya pria yang aku cintai. Aku hanya akan berhenti mencintai dan hanya akan melepaskannya jika dia membaca tulisan ini. Jika dia sudah membaca tulisan ini, aku hanya akan menyayanginya sebagai… adik.

Ah, bicara soal adik. Aku memiliki adik kecil yang telah lama hilang. Aku sangat merindukannya. Sebagai permohonan ulang tahunku yang terakhir… ku harap aku bisa menemukannya.

Tertanda,

Jessica Jung

“Pada akhirnya kau membaca catatan itu.”

Kyungsoo terlonjak kaget dan segera menoleh ke sebelahnya. Betapa dia tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Betapa dia tidak bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan. Dia melihat sosok wanita yang telah lama dia rindukan. Wanita yang memberikan kehidupannya pada Kyungsoo. Wanita yang berada di hadapannya adalah Jessica Jung, kakak kandung Kyungsoo.

Nu-nuna..”

Jessica tersenyum. “Lama tidak bertemu. Aku merindukanmu. Aku bisa melihat bahwa hidupmu sudah bahagia. Tak bisa aku pungkiri bahwa selama ini aku belum bisa menerima kenyataan bahwa kau adalah adik kandungku. Aku selalu melihatmu sebagai pria yang aku cintai. Tapi, setelah kau membaca surat rahasiaku—sesuai apa yang tertulis di sana—aku akan sepenuhnya melepaskanmu, Kyungsoo-ya.

Kyungsoo hanya bisa terdiam. Dia membisu karena otaknya masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Dia pun hanya bisa terdiam dan sadar bahwa kini Jessica sudah berdiri di hadapannya.

“Aku akan bahagia jika kau juga bahagia. Gunakan hidupmu dengan baik, Kyungsoo-ya. Cintailah wanita yang sudah ditakdirkan untuk bersamamu. Musim gugur telah berakhir, seperti apa yang sudah aku perkirakan, aku sudah bisa melepaskanmu sepenuhnya.”

Tubuh Kyungsoo terpaku ketika Jessica membungkuk untuk memeluknya. Kyungsoo memejamkan matanya dan merasakan pelukan Jessica yang entah mengapa terasa hangat. Pria itu merasa tenang di dalam pelukan Jessica, tapi dia masih belum sanggup untuk mengeluarkan kata.

“Selamat tinggal, Jung Kyungsoo. Aku menyayangimu.”

Entah mengapa air mata Kyungsoo mengalir begitu saja. Perasaan lega bercampur sakit terasa oleh Kyungsoo ketika Jessica mengatakan hal itu. Kyungsoo memberanikan diri untuk membalas pelukan Jessica, namun hal itu tidak terwujud. Kyungsoo menyadari bahwa kini dia hanya memeluk angin ketika dia membuka mata.

Kyungsoo menghela napas berat kemudian mencoba tersenyum kecil, “Terima kasih, nuna. Aku menyayangimu.”

::::

“Sudah bertemu dengannya?”

Kyungsoo terlonjak kaget ketika menyadari bahwa paman Kim masih duduk di ruang tamu. Pria itu memutuskan untuk duduk di hadapan paman Kim. “Paman mengenalnya?”

Paman Kim tersenyum lalu mengangguk. “Cintanya padamu begitu dalam. Sampai mati pun, dia masih menyimpan perasaannya untukmu. Tapi kini aku turut berbahagia karena dia telah melepaskanmu dan memberikan perasaan yang selayaknya untukmu. Dia adalah kakak yang baik.”

“Bagaimana Paman bisa tahu?”

“Terkadang ada hal yang sulit untuk dimengerti manusia normal, Kyungsoo. Jessica menceritakan semuanya padaku.”

Kyungsoo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh paman Kim. Dia hanya bisa terdiam dan mencoba berpikir dengan logikanya tentang bagaimana sebuah peristiwa ini bisa terjadi.

“Kisahmu dengannya bukanlah sebuah fiksi. Ini nyata dan kau benar-benar mengalaminya. Sama seperti Jessica, ku harap kau bisa hidup bahagia.”

:::

Esok Harinya

“Nah, semoga kau selamat sampai tujuan.” Ucap Chanyeol sambil menepuk pundak Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk, “Terima kasih untuk semuanya. Sampaikan juga rasa terima kasih pada Paman Kim.”

Chanyeol mengangguk. “Ah, Kyungsoo-ya, paman Kim sudah menceritakan semuanya padaku.”

“Eh?”

“Tentang kau dan kakak perempuanmu,” Senyum Chanyeol. Pria itu kembali berkata. “Paman Kim memang memiliki kelebihan untuk berkomunikasi dengan alam lain, dia memang bukan manusia normal, jadi kau tidak perlu bingung lagi dari mana dia mengenal kakakmu. Yah, terkadang aku juga takut tinggal bersama paman Kim, ada saat-saat di mana dia terlihat lebih mirip orang gila. Dan itu menyeramkan.”

Kyungsoo terkekeh, “Aku pergi dulu. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.”

Chanyeol mengangguk. Kyungsoo pun masuk ke dalam kereta yang tak lama kemudian melaju meninggalkan stasiun Jeongup.

::::

Matahari siang bersinar menyinari kota Seoul. Kyungsoo turun dari sebuah taxi kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang berseri.

Appa!!”

Seorang anak kecil berusia tiga tahun berlari ke arah Kyungsoo. Dengan senang hati Kyungoo pun langsung menggendong anak lelaki itu kemudian mencium pipinya penuh kasih sayang. “Kyungsan sudah mandi rupanya.”

“Tentu saja. Eomma bilang bahwa Kyungsan dan eomma akan menyusul appa yang hilang.”

Kyungsoo mengernyit, “Appa yang hilang? Maksudnya apa?”

“Maksudnya, kau menghilang tanpa kabar sehingga membuatku khawatir.”

Kyungsoo menoleh ke asal suara. Dia tersenyum kecil, “Taeyeon-ah, kau mengkhawatikan aku?”

Taeyeon segera turun dari tangga kemudian menghampiri Kyungsoo, “Tentu saja. Ku pikir kau diculik Voldemort sehingga tidak bisa dihubungi.”

“Maafkan aku. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.”

“Tapi setidaknya kau menghubungi aku. Bagaimana jika voldemort benar-benar menculikmu? Dia lalu membunuhmu dan membiarkan anak dan istrimu menderita di bumi.”

Kyungsoo terkekeh, “Ayolah, Taeyeon, aku tahu kau penulis novel terhebat, tapi cerita karanganmu barusan sangatlah konyol.”

Eomma, Voldemort itu apa?” tanya Kyungsan polos.

“Nah, anakmu bertanya, kau mau jawab apa?”

Taeyeon menghela napas kemudian tersenyum manis pada Kyungsan, “Bukan apa-apa, sayang. Voldemort hanya tokoh fiksi. Tokoh yang tidak nyata.”

“Ooo.. begitu.”

“Ayo kita sarapan saja. Appa sudah lapar.”

“Kalau begitu Kyungsan ingin turun.”

Kyungsoo terseyum kecil lalu menurunkan Kyungsan. “Ayo kita makan!” semangat Kyungsoo.

“Aku hanya akan menyiapkan makanan untuk Kyungsan.”

“Taeyeon-ah, ayolah, masa kau masih marah? Taeyeon!”

Kyungsoo segera menyusul Taeyeon ke dapur, sedangkan Kyungsan masih berdiri mematung di ruang tamu. Bocah lelaki itu kemudian melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum padanya di pintu masuk. Kyungsan tersenyum lalu menghampiri wanita itu.

“Tante sedang apa di sini? Mau bertemu appa atau eomma?”

Wanita itu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Kyungsan. “Aigoo, keponakanku sudah besar.”

“Keponakan itu apa?”

Wanita itu menggeleng kecil. “Salam hangat untuk orangtuamu. Semoga kalian bahagia.”

“Nama tante siapa?”

“Panggil saja aku Jessica,” Senyum wanita cantik itu.

Kyungsan mengangguk kecil. “Baiklah, Tante Jessica, Kyungsan dan orangtua Kyungsan akan bahagia. Tante juga bahagia, ya.”

Jessica mengangguk seraya berdiri. Dia tersenyum kecil pada Kyungsan, “Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku. Selamat tinggal!”

“Selamat tinggal juga, Tante Jessica.”

“Kyungsan-ah, ayo kita makan!”

Kyungsan menoleh lalu segera berlari menghampiri Taeyeon. “Eomma, kata Tante Jessica, semoga kita bahagia.”

“Jessica?”

Kyungsan mengangguk, “Iya. Dia mengharapkan kita bahagia sebelum dia mengucapkan selamat tinggal. Dia baik, ya, eomma?”

Taeyeon tersenyum kecil. “Tante Jessica memang baik. Nah, sekarang ayo kita makan!”

Kyungsan mengangguk semangat lalu berlari menuju ruang makan. Taeyeon menoleh ke arah pintu masuk rumahnya. Dia tersenyum kecil ketika melihat wanita yang sedag tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.

“Terima kasih, Jessica. Ku harap kau juga bahagia di sana,” bisik Taeyeon.

:::: End of Autumn ::::

Ini ff ter-absurd yang pernah aku bikin -.- aku akuin aku salah karena udah berani-beraninya bikin sequel padahal aku gak jago bikin sequel. Aku ngerti kok kalau kalian bakal sangat kecewa ketika udah baca ff ini. Well, aku menulis ff ini dengan sangat terburu-buru dan ketika sedang dilanda tugas sana-sini, jadi jangan heran jika ff ini jadinya amat sangat mengecewakan. Aku sangat minta maaf kepada reader yang udah nunggu sequel ff ini lama dan dikecewakan olehku karena sequelnya jadi absurd T^T sekali lagi, maafffff yang sebesar-besarnya *bow*


[1] Korean Guest House

22 thoughts on “End of Autumn (Sequel of Autumn Tears)

  1. jelek gimana???
    bagus banget kooook
    tapi susah ya kalo forbidden love gini huhu jadi nyesek kasian kyungsoo ama jessi-nya T__T

    • Jelek karena selama nulis FF ini aku gak ngerasain feel apa-apa😦 makanya menurutku ff ini gak berhasil
      Iyaaa kasihan sama KyungSica T^T
      Thanks for read btw🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s