Game Goes Wild – The Second Day

Yura Lin proudly present;
Game Goes Wild

Genre:

Friendship – Thriller – Mystery

Rating:

PG – 15

Previous:

Prolog The First Day

Cast:

   tumblr_mp5qa0TxND1s70o1po1_500 

SNSD Jessica | INFINITE L | EXO Luhan | BTS Jin | BAP Yongguk

Poster by AzaleaChoi74 @ Note Of A Teenagers

[The Second Day]

Jessica meraba permukaan meja di samping kasur untuk mencari handphonenya yang tidak berhenti berdering. Matanya masih tertutup tanpa ia masih tidak rela untuk bangun. Tanpa melihat nama atau nomor yang meneleponnya, dia mengusap layar dan meletakkannya di atas telinga, kedua tangannya kembali memeluk guling.

Yoboseyo?” salam Jessica dengan suara berat khas orang baru bangun.

Sica, kita semua sudah menunggumu.

Ia kenal suara ini. Bagaimana tidak kenal? Ia sudah bersahabat dengan orang ini selama hampir 8 tahun. Tangan kanannya menahan handphone sebelum ia mengubah posisinya. Dia mengerjap perlahan dengan harapan itu bisa menghilangkan kantuknya.

“Aku akan bangun,” kata Jessica.

Aku akan bangun’ membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menjadi ‘aku sudah bangun’ bagimu, Sica. Aku butuh kepastian kau sedang berjalan ke kamar mandi sekarang,” cibir Myungsoo.

Jessica mengerang sambil memaksa tubuhnya untuk bangun. Dia meraih handuk di jemuran kecil yang menjadi fasilitas dari resort dan melangkah menuju kamar mandi.

I’m on the way~”

Terdengar tawa Myungsoo dari ujung sambungan telepon. “Pastikan kau tidak tertidur di dalam kamar mandi.

“Uhm..”

Sesampainya di meja tempat anggota tim lainnya sarapan, Jessica duduk di salah satu kursi kosong dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Dia mengerang pelan ketika sepasang tangan mengangkat kepalanya.

“5 menit lagi~” tawar Jessica sambil melepaskan sepasang tangan tersebut dari kepalanya.

“Myungsoo-ssi, biarkan saja. Mungkin mereka memang jodoh,” ucap Yongguk.

Jessica pun mengangkat kepalanya untuk melihat sekitarnya. Matanya terbelalak melihat Luhan sedang tertidur di sampingnya. Dia segera menegakkan badannya.

“Aku bangun!” serunya.

Myungsoo, Yongguk dan Jin tersenyum geli karenanya. Sementara Luhan mengelus telinganya. Suara Jessica mengganggu tidurnya. Wajah kesal karena tidurnya diganggu berubah menjadi wajah bahagia saat menyadari Jessica duduk di sampingnya. Melihat Luhan bangun, Jessica menarik lengan baju Myungsoo, meminta berganti tempat. Myungsoo tidak bisa berbuat apapun selain menurutinya.

Yah~ mengapa berganti tempat?” protes Luhan.

Jessica tetap diam seolah ia tidak mendengar Luhan. Dia menoleh karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Luhan.

“Berhenti menatapku seperti itu!” omel Jessica.

Luhan memicingkan matanya. “Kau pindah untuk duduk di samping Jin?”

Jessica menoleh ke samping. Ia baru sadar, dia duduk di samping Jin. Jin hanya mengibaskan tangannya, menyuruh Jessica untuk tidak mempedulikan Luhan.

“Bagaimana dengan kasus semalam? Kalian bisa memecahkannya?” tanya Jessica.

“Kami berhasil memecahkannya. Akan tetapi, kami tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Saat laptop tersebut dinyalakan kembali, Luhan tidak bisa menemukan apapun yang mungkin menjadi tempat kita memainkan permainan tersebut. Myungsoo mengira kita menyelesaikan kasus tersebut di game aslinya tapi perkiraannya salah,” jelas Yongguk.

“Kita hanya bisa menunggu jam 08.35 untuk mengetahui dimana penembakan itu terjadi. Mungkin diberitahu oleh laptop ajaib itu,” timpal Jin.

Jam 08.35?’

Jessica melirik jam dinding di sekitar tempat itu. Jarum panjang di antara angka 4 dan 5 sedangkan jam pendek di antara angka 8 dan 9. Dia memutuskan untuk tidak begitu peduli.

“Aku mau memesan makanan. Ada yang mau ikut?” ajak Jessica.

Luhan mengangkat tangannya penuh semangat. “Aku! Aku!”

“Sudah ku duga…” Jessica menarik tangan Myungsoo. “Soo-ya, temani aku~”

Myungsoo mengangguk. “Baiklah.”

Jessica menarik Myungsoo berlari pergi meninggalkan Luhan. Luhan segera berlari mengejar mereka.

“Sudah lewat 25 menit dan tidak terjadi apapun pada laptop ini,” gumam Jin.

Mereka sudah selesai menghabiskan sarapan mereka masing-masing dan kini sibuk menatap layar laptop berwarna hijau tersebut.

“Apa laptopnya rusak?” tanya Luhan.

Jessica memutar matanya. “Ugh, pertanyaan bodoh.”

Yongguk mengangguk-angguk. “Jangan-jangan memang ada yang salah dengan laptop ini?”

“Atau Zico hanya ingin membodohi kita?” gerutu Jin.

“Bagaimana permainan ini memang tidak berlangsung di dunia maya?” cetus Myungsoo.

“Apa maksudmu?” bingung Yongguk.

Myungsoo melipat tangan di atas meja. “Seperti yang kalian lihat sendiri, kita tidak menemukan tempat untuk kita memainkan semua ini dimana-mana, ‘kan? Bagaimana jika permainan ini bukan untuk dimainkan di dimensi internet?”

Jessica menggeleng. “Aku tidak mengerti.”

“Mak—“

Berita terkini! Seorang ibu rumah tangga ditempat di rumahnya sendiri dengan peluru berukuran .50 kaliber pada pukul 08.35 pagi ini. Diduga pelaku menembak korban dari halaman belakang saat korban sedang mencuci piring. Pelaku meninggalkan sebuah pesan di tempat kejadian.

Jessica kebingungan melihat wajah keempat teman setimnya kini memucat setelah mendengar berita tersebut. Dia kembali menonton berita di televisi tapi dia tidak juga mengerti hal yang membuat wajah teman-temannya pucat. Ketika matanya tidak sengaja melirik laptop hijau di atas mejanya itu, kejadian di kamar Luhan dan Yongguk semalam pun terputar kembali di pikirannya. Jessica menutup mulutnya tak percaya.

“Jangan bilang…”

Jessica menggeleng kuat. Dia tidak sanggup melontarkan apa yang ia pikirkan sekarang. Bola matanya menatap Luhan yang kini asik memainkan handphonenya. Tak lama Luhan tertawa kosong.

“Nyata. Permainan ini nyata,” gumam Luhan.

Jin menoleh perlahan. “Apa maksudmu?”

“Angka-angka itu… angka-angka itu aku pakai untuk mencari tempat berdasarkan garis bujur dan lintang. Alamat yang disebutkan oleh pembaca berita lah yang muncul. Permainan kita menjadi nyata,” jawab Luhan lemas.

Jessica menggeleng kuat. “Ini hanya kebetulan.”

Luhan tertawa sinis. “Hanya kebetulan? Di tempat dan waktu yang sama? Posisi yang sama? Kondisi yang sama? Apa kebetulan bisa sebegitu persisnya? Mungkin pesan yang ditinggalkan oleh pelaku adalah untuk kita.”

Jessica menggebrak meja. “TIDAK! Ini hanya kebetulan belaka! Dan kau tahu apa? Aku akan membuktikannya sendiri. Aku akan keluar dari permainan ini dan aku akan baik-baik saja!”

Jessica bangkit dan meninggalkan meja.

“Sica! Kembali kesini!” panggil Myungsoo. “Jessica Jung!”

Jessica mengabaikan panggilan Myungsoo.

“Aku akan mengejarnya,” pamit Myungsoo sebelum berlari mengejar Jessica.

Myungsoo membuka pintu kamar Jessica dan terbelalak melihat sahabatnya sedang merapikan barang-barangnya. Ia langsung menarik tangan Jessica sebelum gadis itu menutup kopernya.

“Lepaskan aku!” bentak Jessica sambil berusaha melepaskan tangannya.

“Kau tidak bisa pulang seenaknya!” kesal Myungsoo.

“Tidak bisa? Kenapa aku tidak bisa? Aku tahu bagaimana caranya pulang ke rumah. Aku bisa pulang tanpamu.”

“Tapi kau tidak bisa keluar dari permainan ini seenaknya!”

Jessica menggertakkan giginya. “Kenapa? Karena aku akan didiskriminasi? Dihukum? Dihukum seperti apa? Permainan itu hanya omong kosong!”

Myungsoo menggenggam tangan Jessica erat sehingga gadis itu meringis kesakitan.

“Kau tahu apa yang terjadi pada avatar Zico yang keluar dari tim seenaknya, bukan? Avatarnya hilang begitu saja. Mungkin—“

“KU BILANG INI HANYA OMONG KOSONG! ZICO HANYA INGIN MEMBODOHI KITA!”

Napas Jessica menjadi sangat cepat setelah berteriak tadi. Dia tidak mengatakan apapun karena Myungsoo hanya diam sambil menatapnya dalam. Dia terkejut ketika Myungsoo melepaskan tangannya begitu saja.

Fine. Terserahmu. Aku tidak akan menghalangimu,” ujar Myungsoo.

Jessica bisa mendengar nada penuh kekecewaan di setiap kata-katanya. Dia hanya berdiri terpaku di tempat melihat Myungsoo keluar dari kamarnya.

“Kau tidak percaya padaku,” gumam Jessica pelan.

Dia kembali melanjutkan kegiatannya tadi.

Jessica berjalan dengan perlahan menuju 4 pria yang duduk di sofa di hall resort. Dia berhenti beberapa meter di depan mereka. Matanya melirik laptop hijau di pangkuan Luhan.

“Kau mau aku temani?” tanya Myungsoo.

Jessica menggeleng. “Ini permainan kesukaanmu. Lebih baik kau tetap di sini.”

Luhan bangkit dan memberikan laptop itu kepada Jessica. “Kau harus menghapus namamu sendiri, Jess.”

Jessica menggerakkan pointer ke button hapus di samping namanya dengan touch pad. Dia menahan napas setelah menekan button tersebut. Menyadari tidak terjadi apapun terhadap dirinya, Jessica tersenyum lebar.

“Aku pergi,” pamit Jessica lalu memberikan bungkukkan terakhir.

Dia menarik kopernya keluar dari resort. Sesekali dia melirik teman-temannya yang hanya diam di tempat. Setelah sampai di halaman resort, dia menarik napas dalam.

‘Apa itu?’, pikirnya ketika dia mendengar suara aneh seperti seseorang yang siap untuk menarik pelatuk.

Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari asal suara. Tubuhnya menegang ketika matanya mendapatkan sesosok orang yang sedang mengarahkan pistol kepadanya dari atap sebuah bangunan di samping resort. Harusnya dia lari, tapi kakinya terasa berat untuk digerakkan.

Matanya terpejam erat ketika mendengar suara tembakan. Tubuhnya terhuyung ke samping. Dia mati rasa. Dia tidak bisa mendengar apapun selama beberapa waktu.

“Jessica! Yah, Jessica! Bangun!”

Jessica membukanya perlahan. Wajah Myungsoo yang pertama kali ia lihat. Dia tersenyum tipis. Setidaknya sebelum ia meninggal, ia bisa melihat wajah sahabat baiknya.

Yah, Jessica! Kau tidak apa-apa, ‘kan? Tidak ada yang luka?” tanya Luhan.

Jessica cemberut. Dia tertembak. Mana mungkin dia baik-baik saja?

“Kau masih hidup, bodoh! Myungsoo yang tertembak,” desis Jin.

Seketika Jessica bangkit dan mengecek tubuh Myungsoo. Dia bisa melihat peluru tersebut membuat sebuah lubang di tangan Myungsoo dan menyebabkan banyak darah mengucur keluar.

Omo! T-tanganmu!” histeris Jessica.

Myungsoo menggeleng. “Jangan khawatir. Ini hanya—“

Jessica membuka kopernya dan mengambil salah satu pakaiannya lalu melilitkannya di sekitar luka tersebut untuk menghentikan darah mengalir lebih banyak.

“Kau harus ke rumah sakit secepatnya, Nak,” kata seorang pria berumur sekitar 30 tahun.

Orang-orang yang berkumpul lainnya pun membantu Myungsoo masuk ke dalam sebuah mobil milik pengunjung resort tersebut dan membawanya menuju klinik terdekat.

Jessica hanya diam sembari menatap Myungsoo yang masih tertidur karena pengaruh obat bius selama operasi pengangkatan peluru tadi. Untung saja peluru mengenai lengannya sehingga mudah dikeluarkan. Mata Jessica sudah bengkak dan tidak sanggup mengeluarkan air mata lagi. Jika Myungsoo tidak menyelamatkannya tepat waktu, mungkin dia lah yang terbaring di rumah sakit.

Jessica protes ketika seseorang mengacak rambutnya.

“Myungsoo akan baik-baik saja. Berhenti menangis,” ucap Jin.

Jessica mendengus. “Aku sudah berhenti menangis.”

“Oh? Bagus lah.”

Tangan Jin yang semula di bahu Jessica, kini beralih ke tangan gadis itu dan menariknya keluar ruangan. Tentu saja Jessica protes.

“Kau harus tahu ini,” tegas Jin.

Di ruang tunggu, dia disambut wajah tegang Luhan. Dia tahu pasti ada berita buruk tentang dirinya.

“Ada apa?” tanya Jessica.

Luhan mendongak lalu menghela napas. “Penghapusan gagal. Kau tetap berada di tim. Mungkin karena pengeksekusian tadi gagal.”

Myungsoo mengelus lengannya karena merasakan aura yang tidak enak. Tentu saja, sebab Jessica sedang menatapnya tajam. Dia marah karena Myungsoo memutuskan untuk keluar dari klinik padahal dokter di klinik tersebut menyuruh agar Myungsoo tetap di sana. Luka Myungsoo masih belum kering. Jika Myungsoo tidak bisa menjaga kebersihan, luka tersebut bisa terinfeksi walaupun sudah ditutup perban.

Mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin tetap di klinik sedangkan teman-temannya harus memecahkan kasus yang akan diberitahukan jam 09.00 malam ini di resort. Tidak mungkin pula mereka mendiskusikan kasus di klinik karena akan menarik perhatian orang luar. Mau tidak mau, ia harus meninggalkan klinik lebih awal. Dan di sini lah dia berada, di kamarnya bersama anggota lain untuk menunggu kasus apa yang akan diberikan selanjutnya.

“Tanganmu sakit?” tanya Jessica.

Myungsoo menggeleng. “Tidak.”

“Kau yakin?”

“Sangat.”

“Lalu kenapa—“

“Berhenti bertanya.”

Jessica menutup mulutnya erat-erat walaupun masih banyak hal yang ingin ia tanyakan. Dia dihantui rasa bersalah. Jika Myungsoo bersikap seperti ini, bagaimana Jessica bisa menghilangkan rasa bersalahnya?

Seakan apa yang terjadi pada sepasang sahabat itu adalah sebuah drama, ketiga orang lainnya hanya diam sambil menyaksikan mereka berdua dengan cermat.

Myungsoo mendesah pelan. “Jangan salahkan dirimu sendiri. Harusnya kau bersyukur karena selamat.”

“Kalau aku tidak keras kepala, kau pasti baik-baik saja,” desah Jessica.

“Aku memang baik-baik saja. Aku tidak kekurangan apapun.”

Jessica mendelik kesal. “Lihat, wajahmu masih pucat karena kehilangan banyak darah! Itu yang kau bilang tidak kekurangan apapun?”

“Tenanglah. Setidaknya aku masih hidup.”

“Tapi kau bisa saja—“

“Jangan bahas yang sudah terlewatkan. Sekarang kita harus fokus dengan permainan ini jika kau ingin kita semua baik-baik saja,” sela Myungsoo cepat.

“Setuju!” seru tiga orang yang hanya diam sedari tadi.

Jessica mendelik tajam. Ketiganya pun langsung sok sibuk dengan diri sendiri.

“Layarnya!” seru Luhan girang.

Kenyataannya, semua pria itu bahagia saat layar laptop hijau itu menyala dan sebuah aplikasi terbukan dengan sendiri. Setidaknya suasana canggung menghilang dan Jessica bisa berhenti mengkhawatirkan Myungsoo.

Setelah aplikasi tersebut dijalankan, aplikasi internet pun terbuka dan membuka situs dailymotion.

“Kali ini cluenya berupa video,” gumam Yongguk. “Mainkan, Luhan.”

Video itu terputar. Terlihat pemandangan sebuah kota dari atas. Perlahan, gambar video itu terfokus pada gedung paling tinggi. Ternyata ada sesuatu yang melompat dari atap gedung tersebut dan hancur menghantam jalanan. Semua aplikasi yang sedang dijalankan pun tertutup dan laptop mati seketika.

“Tempatnya di gedung tertinggi di Busan?” tanya Jin ragu. “Di pusat kota?”

“Ku rasa yang dimaksud adalah gedung tertinggi di sekitar tempat ini, mengingat rumah korban sebelumnya juga tidak terlalu jauh dari pantai Haeundae,” koreksi Myungsoo.

Luhan menyambungkan internet ke laptop hitam kebanggaannya. “Aku akan mencari~”

“Bagaimana dengan waktunya?” tanya Yongguk.

“Seperti yang kau lihat sendiri, tidak ada apapun yang bisa menunjukkan waktu,” jawab Jessica.

Jin menggeleng. “Ku rasa ada. Kau lihat titik cahaya di belakang benda yang jatuh dari atap gedung itu? Kurasa titik cahaya itu menunjukkan posisi matahari saat hal itu terjadi. Berarti pengeksekusian terjadi saat matahari berada di posisi tersebut.”

Yongguk mengangguk mengerti. “Waktunya adalah besok pagi.”

“Bagaimana dengan cara pembunuhannya? Tadi terlihat seperti seseorang yang bunuh diri,” tanya Myungsoo.

Tidak ada yang berani menjawab. Mereka pun bingung.

Luhan menjentikkan tangannya bangga. “Aku menemukannya! Park Marina Tower 2. Tapi gedung ini mempunyai puncak atap yang tajam. Tidak mungkin dari atap, ‘kan?”

“Ku rasa tidak. Tidak mungkin keadaan gedung berbeda dari video. Mungkin bukan Park Marina Tower 2 yang dimaksud,” tanggap Myungsoo.

“Kita harus berkeliling kota sekarang untuk tahu gedung mana yang akan menjadi tempat selanjutnya,” usul Yongguk.

Jessica mengangguk. “Setuju tapi Myungsoo harus tetap di resort.”

Myungsoo memutar matanya. “Sica, berhenti—“

“Tidak, kau yang berhenti. Kau masih lemah. Akan berbahaya jika kau ikut dengan kami mencari gedung tersebut!” tegas Jessica.

Myungsoo mengangkat tangannya. “Aku menyerah.”

“Kalau kita berkeliling berempat seperti ini, sepertinya kurang efektif,” kata Jessica.

Ketiga pria itu mengangguk setuju. Mereka berempat pun berhenti berjalan.

“Lebih kita buat 2 grup,” usul Jin.

Jessica tersenyum kecil mendengarnya. Memang ini yang ia inginkan. Tanpa mengatakan apapun, ia menarik tangan Yongguk meninggalkan Luhan dan Jin. Lebih baik ia memilih Yongguk setelah 2 hari ini, Luhan selalu menggodanya dengan Jin. Tak ia pedulikan teriakan di belakang mereka.

“Kau tahu? Rasanya lucu jika aku berjalan-jalan sekitar sini setelah tadi siang, aku hampir kehilangan nyawa,” gumam Jessica.

Yongguk tersenyum tipis. “Jika kau tidak diam saja sambil menatap ke tempat penembak berada, Myungsoo tidak akan curiga dan tidak akan menyelamatkanmu tepat waktu. Hebat kau bisa menemukan tempat penembak tersebut berada.”

“Sebenarnya aku mendengar suara saat pelaku mengatur posisi tembakan. Jadi aku mencari asal suara.”

Yongguk menoleh tak percaya. “Kau bisa mendengarnya dari jarak sejauh itu?”

“Jaraknya tidak terlalu jauh kok. Hanya sekitar 35 meter. Lagipula, aku mempelajari musik sejak kecil. Hal itu membuatku sangat sensitif dengan suara. Duniaku jauh lebih berisik dari dunia orang biasa. Itu mengapa aku bisa mendengarnya walaupun tidak terlalu jelas.” Jessica tersenyum. “Tapi saat tidur, telingaku jadi seperti telinga orang-orang pada biasa. Tidak sesensitif saat aku terbangun. Ini rahasia, tapi pasti aman jika aku ceritakan kepadamu.”

Yongguk tertawa. “Yeah, ku harap memang aman.”

Mereka berkeliling sambil berbagi kisah masing-masing. Mereka hampir saja lupa dengan alasan utama mengapa mereka harus berkeliling kota di malam hari saat handphone Yongguk berdering. Yongguk mengeluarkan handphonenya dan langsung mengangkatnya.

“Ada apa, Jin? Kalian sudah menemukannya?” tanya Yongguk.

Kami rasa, ya.

“Ya, kami sudah menemukan gedung yang paling cocok. Jin dan Luhan pergi ke puncak gedung yang tinggi untuk melihat kondisi kota. Itu lah caranya kami menemukan gedung ini. Sekarang aku sedang berada di tempat yang diperkirakan menjadi tempat korban berada setelah jatuh sedangkan Jin dan Luhan mengecek atap gedung ini,” jelas Yongguk kepada Myungsoo lewat telepon.

Myungsoo menghela napas panjang. “Gedung apa itu?

“Ini gedung apartemen,” jawab Yongguk. “Apa rencana kita selanjutnya?”

Ku rasa cukup sampai di sini. Lebih baik kalian pulang dan beristirahat lalu datang kembali ke sana di pagi hari.

Okay. Aku akan memberitahu Jin dan Luhan.”

Dan uhm…

Yongguk mengangkat alisnya begitu karena Myungsoo menggantungkan omongannya.

Jessica baik-baik saja?” tanya Myungsoo.

“Kalau maksudmu adalah ia aman dari berbagai hal yang bisa melukainya, ya, dia baik-baik saja. Namun jika maksudmu adalah ia aman dari berbagai gangguan, tentu saja tidak karena Luhan selalu mengganggu.”

Myungsoo tertawa mendengarnya.

Sesampainya di resort, semua terlihat lelah dan tidak sabar untuk bertemu dengan kasur. Setelah semua hal yang terjadi, mereka sangat membutuhkan istirahat.

Jessica menarik ujung t-shirt Jin sebelum pria itu masuk ke kamarnya. Jin menatapnya bingung sehingga Jessica menunduk.

“Apa kau mau bertukar kamar?” tanya Jessica.

Jin mengernyit. “Aku tahu kau mengkhawatirkan Myungsoo tapi—“

“Ini bukan tentang Myungsoo.”

Jin menatapnya penuh tanda tanya. Jessica semakin menundukkan kepalanya.

“Ini tentangku. Aku takut. Aku tidak berani tidur sendiri untuk sekarang. Setidaknya, biarkan aku tidur sekamar dengan orang yang ku percaya.”

Jin mengangguk. “Baiklah kalau begitu.”

Jessica mengangkat wajah, menatap Jin dengan mata berbinar. “Jeongmal? Tunggu sebentar, aku harus mengambil beberapa hal dulu di kamarku.”

Myungsoo menghela napas. Dia melirik sosok yang tidak bisa tertidur dengan tenang di kasur lainnya di kamar tersebut.

“Kau tidak bisa tidur?” tanyanya.

Orang itu mendengus. “Setelah tahu apa yang akan terjadi besok, tentu saja aku tidak bisa tidur. Seseorang akan kehilangan nyawanya jika kita tidak bergerak cepat.”

“Kita bukan pahlawan. Jadi tak perlu memikirkannya terlalu berat.”

Jessica mengubah posisinya menjadi duduk. “Terlepas dari kita bukan pahlawan atau apalah itu, nyawa orang itu tetap penting bagi kita.”

Myungsoo ikut mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur. “Wae?”

“Kau lupa? Permainan ini memakai peraturan yang sama dengan permainan aslinya. Jika kita terus-menerus gagal secara berturut-turut, kita bisa menjadi korban selanjutnya. Kau tidak takut?” ujar Jessica kesal.

Myungsoo kembali berbaring di kasur. “Lebih baik seperti itu. Setidaknya kita akan lebih mudah menangkap pelakunya.”

“Kau becanda, ‘kan?!”

Myungsoo menghela napas dan tertawa. Dia tidak menjawab apapun.

“Myung—“

“Tidurlah. Semua akan baik-baik saja besok. Kau percaya padaku?” potong Myungsoo.

Jessica mengangguk pelan. “Aku percaya padamu.”

Myungsoo tersenyum. Matanya tertutup perlahan.

To Be Continued

Seperti yang kalian, aku menceritakan ini dari sisi Jessica. Kenapa? Karena aku cewek jadi aku bisa menjelaskan posisi Jessica dengan baik. Tapi akan ada chapter atau scene yang diceritakan berdasarkan posisi cowok lainnya. Entah itu Myungsoo, Jin, Luhan atau Yongguk.

Menurut kalian, tim ini akan berhasil di kasus kedua atau enggak? Secara mereka udah dapet waktu dan tempat kasus kedua gitu :3

84 thoughts on “Game Goes Wild – The Second Day

  1. kyaa!!!@
    seru banget ff nya,,,, serasa nonton film gitu,,, #beneran

    suka bgt sifat nya L + Luhan disini,,, luhanny bkin ngakak!^^

    aku rasa misi kali ini brhasil, soalny mreka udh mnemukan tmpat yg persis kyk divideo itu,,, tpi, gk mnutup kmungkinan sih klw misi ini gk brhsil. trgtung sm authornya 😀

    lnjut eon,,, ff ini keren + seru + menegangkan + lucu jga

    fighting eon!!! (y)

  2. maaf kak aku baru komen sekarang, kemarin2 hp sama laptopku rusak. FF ini keren banget, aku suka. apalagi cast cowok2nya aku suka banget. tingkahnya luhan gak kuat ;-; dia kerjanya ngegodain jessica terus. dan well, jessica hebat banget, telinganya bisa denger suara dari jarak 35 meter. duh, myungsoo perhatian banget sama jessica. suka ya sama jessica? ngaku aja deh, lol. oke, pokoknya aku tetep nungguin FF ini di update lagi. fighting kak yura! ^-^

  3. uwaaaa menegangkan bangeeett! ksian myungsoo trluka demi sica eonni T.T Sifatnya luhan disini gemesin bgt >,< suka bgt karakter luhan disini😄 Smoga banyak moment lusica

  4. wuaaaa bener kan …
    menurutku misi yang ini bakalan berhasil karena author sendiri mreka udh dapet waktu dan tempat yg tepat. ya itu menurutku..
    L aku suka deh sama sifat kamu yang perhatian itu..<3.. ditambah Luhan yang bikin cair suasana yg menengangkan..
    Keren eon.. fighting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s