The Destiny of Us – Chapter 1

poster-the-destiny-of-us-copy_4

The Destiny of Us

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun

Others: Lee Yejin (Ailee) – Kim Hyoyeon – Kim Taeyeon – Choi Sulli – Lee Taemin – Kim Jongin (Kai)

Genre: Romance

Rating: PG-15

Poster by: Afina23

© Amy Park

::::

“The only person you are destined to become is the person you decide to be.”

:: Ralph Waldo Emerson

***

Hai, Hello, Annyong, Dear Diary? Whatever!

Ini adalah kali pertama aku menulis diary, catatan harian—which I hate so much. Well, buku ini merupakan hadiah spesial dari sahabatku, tentu saja aku harus mempergunakannya dengan baik, kan? Jadi aku menulis catatan harian untuk yang pertama kali. Aihh… no, no, exactly, aku menulis karena ada hal yang sangat menyebalkan. Hal menyebalkan ini datang dari ibu dan ayahku, ditambah satu pria cantik yang—sebenarnya dia menarik, tapi sayang dia terlalu kaku sebagai manusia yang mempuyai jiwa—datang ke rumahku.

Kau tahu cerita klise yang sering diceritakan di dalam sebuah film, drama, dan novel? Itu… cerita klise di mana orang tua modern menjodohkan anaknya. Ya, benar! Kedua orang tuaku pun kini berniat menjodohkanku dengan seorang pria. Pria cantik tampan yang memiliki profesi sebagai Creative Producer di sebuah perusahaan advertising. Apa aku menerimanya? Tentu saja tidak. Kalau begitu, apa aku menolaknya? Tidak juga. Aku hanya tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun sebenarnya aku keberatan akan hal itu, tapi aku bukan tipe anak yang bisa menolak permintaan orang tua dengan mudah. Dan kemungkinan besar… aku akan menerima perjodohan itu. Ya, bagiku, ini sangat menyebalkan. Yang paling menyebalkan, aku akan menikah dengan pria itu… minggu depan.

:: The Destiny of Us ::

“Jungie!!”

Jessica langsung menutup buku hariannya dengan spontan kemudian memasukkannya ke dalam laci. Dia beranjak dari meja belajar kemudian duduk di tepi tempat tidur.

“Jungie, apa aku boleh masuk?”

“Tidak ada undang-undang yang melarangmu masuk, Yejin-ah. Lagipula pintunya pun tidak terkunci.”

Pintu kamar Jessica kemudian terbuka. Seorang wanita berparas cantik dan berambut panjang masuk ke dalamnya lalu dia duduk di sebelah Jessica. “Wajahmu tampak kacau. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Jika tidak ada apa-apa, mengapa kau menyuruhku untuk datang ke rumahmu?”

Jessica hanya menghela napas. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi denganmu.”

Yejin mengangkat sebelah alisnya. Dia meraba kening Jessica, “Kau tidak sedang sakit, kan? Mengapa kata-katamu terdengar sangat menyeramkan, ya?”

“Oh, ayolah, Yejin, aku sedang bingung.”

Yejin terseyum senang karena berhasil membuat Jessica berkata jujur. “Bingung kenapa?”

Jessica menatap Yejin dengan puppy eyes miliknya, “Aku dijodohkan. Minggu depan aku akan menikah.”

What?!! Are you kidding me?”

No, I am not! Definitely not!”

Seriously, Jungie, Kau baru saja lulus SMA, bahkan kuliahmu baru mulai bulan depan, tapi kau sudah akan menikah? Is that crazy?”

“Salahkan orang tuaku, mereka yang membuatku menikah di usia dini.”

Yejin tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatap Jessica dengan tatapan tak percaya. Menit berikutnya, barulah Yejin membuka suara, “Jadi, kau akan tinggal bersama suamimu di Seoul nanti?”

Jessica mengangguk, “Ya, benar.”

“Apa orang tuamu gila? Bagaimana bisa mereka membiarkanmu menikah di usia delapan belas? Ini merupakan usia untuk bersenang-senang sebagai anak muda, bukan usia yang tepat untuk membangun rumah tangga. Memangnya apa alasan mereka menjodohkanmu?”

Jessica agak memiringkan kepalanya, dia tampak berpikir, “Entahlah. Mereka hanya berkata bahwa Luhan mampu melindungiku. Kota besar seperti Seoul sangat berbahaya—menurut mereka—jadi aku harus menikah dan tinggal bersama Luhan di sana.”

“Luhan?”

“Ya, dia pria yang yang akan menikah denganku.”

“Luhan? Itu terdengar seperti nama asing, bukan nama Korea.”

Jessica mengangguk. “Dia memang orang Cina, dari Beijing, tapi dia sudah lama tinggal di Korea dan bekerja sebagai Creative Director di sebuah perusahaan periklanan yang terletak di Seoul.”

Mata Yejin langsung membulat, “Ya Tuhan, Jungie, kau dijodohkan dengan bapak-bapak?”

“Eiiih?? Tidak! Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Barusan kau bercerita bahwa Luhan telah bekerja—“

“Ya, dia memang sudah bekerja, tapi usianya masih muda. Dia baru berusia 24 tahun, kok.”

Yejin mengangguk mengerti, tapi dia kembali menatap heran Jessica. “Tetap saja, usia kalian terpaut enam tahun!”

“Tapi dia tidak terlihat seperti seorang pria dewasa. Maksudku, wajahnya sungguh baby face. Dia tampak seperti remaja yang berusia tujuh belas, tampak muda dariku malah. Jadi menurutku, tidak ada salahnya jika usia kami terpaut enam tahun. Lagipula, dia tampan.”

Yejin mengangkat sebelah alisnya, dia memerhatikan Jessica secara seksama. Hal itu membuat Jessica risih. “Kenapa kau melihatku seperti itu, Yejin-a?”

“Ku rasa kau menyetujui perjodohan ini. Ekspresimu yang kacau langsung berubah ketika kau menceritakan tentang Luhan. Apa kau menyukainya?”

Jessica terdiam sesaat, namun detik berikutnya dia langsung menggeleng. “Tidak. Aku tidak menyukai Luhan dan aku menolak perjodohan ini.”

Senyuman Yejin langsung berkembang, “Ei, aku tahu kau berkata bohong. Kau menyukainya. Dan, ya, kau menikah minggu depan pun tidak masalah.”

“Tapi aku tidak mau menikah dengannya, Yejin.”

“Kalau begitu kau harus membicarakan semua ini dengan orang tuamu. Bilang bahwa kau tidak mau dijodohkan.”

“Aku tidak memiliki keberanian.”

“Kalau begitu kau harus menikah minggu depan. Well, tidak ada cara lain. Dan… apa salahnya mencoba? Dan akui saja, kau menyukai Luhan, kan?”

“Ugh, Lee Yejin, aku bersumpah tidak menyukai Luhan.”

***

Sudah berkali-kali Jessica melihat pantulan dirinya dari cermin saku. Wanita itu tampak gugup. Tentu saja gugup, malam ini dia akan bertemu dengan Luhan. Ini memang bukan kali pertama Jessica bertemu dengan Luhan, tapi ini adalah kali pertama Jessica bertemu dengan Luhan hanya berdua. Ya, berdua, hanya ada mereka tanpa orang tua masing-masing.

“Seharusnya pria yang menunggu wanita, bukan sebaliknya.” Gumam Jessica yang mulai bosan.

Panjang umur, Jessica melihat sosok Luhan yang baru saja memasuki restoran. Pria itu berjalan menghampiri kemudian duduk di hadapan Jessica.

“Barusan ada rapat penting sehingga aku datang terlambat.”

Jessica terdiam, berniat menunggu Luhan selesai berbicara tetapi sepertinya sudah tidak ada hal yang akan dibicarakan lagi oleh Luhan. Wanita itu berucap, “Lalu?”

“Lalu apa?”

Jessica memutar kedua bola matanya, “Kau tidak minta maaf?”

Luhan menatap Jessica bingung, “Minta maaf untuk apa?”

“Yang benar saja, aku sudah menunggumu sangat lama di sini. Kau tidak minta maaf?”

“Oh, begitu. Maaf.”

Jessica memejamkan mata, aku harus banyak berdoa untuk kehidupanku selanjutnya.

***

“Kenapa kau hanya murung? Masih banyak barang yang harus kau bereskan untuk pindah ke Seoul.”

Jessica mengambil guling kemudian memeluknya, “Sepertinya aku masih ingin tinggal di Jeju.”

Yejin tersenyum kecil lalu menghampiri Jessica, “Kalau begitu, rayu Luhan agar kalian bisa tinggal di sini.”

Jessica menatap Yejin sebal, “Aku juga merasa tidak ingin menikah dengan Luhan.”

“Tapi kau harus menikah dengannya. Orang tuamu dan orang tua Luhan sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kalian. Sekarang bukanlah waktu untuk menarik semua perkataanmu, Jess. Kau yang sudah menerimanya—walau aku akui orang tuamu juga sedikit memaksa—maka kau tidak boleh membatalkannya. Kau harus menikah.”

Jessica menghela napas, “Entahlah, aku bingung.”

“Jangan diambil pusing. Sekarang lebih baik kau bersiap dan berangkat menuju Seoul.”

***

Tidak. Tidak ada hal penting sebelum pernikahanku dengan Luhan. Ya, ya, ya, aku kembali menulis diary dan statusku kini sudah menikah. Ah, FYI, Yejin tidak bisa hadir ke pernikahanku karena dia harus berangkat ke New York—Dia melanjutkan kuliah di sana. Hey, aku akan sangat merindukan ahjuma bawel itu T^T. Walau tidak datang, Yejin memberikan banyak sekali hadiah pernikahan untukku seperti peralatan dapur, hiasan kamar, sebuah photobook buatannya yang memuat foto-foto kami semasa SMA, dan dua lingerie yang aku tidak tahu apa gunanya –“

Well, kehidupanku dengan Luhan baik-baik saja. Kami tidak tidur di kamar yang terpisah seperti pasangan yang dijodohkan lainnya dan kami pun tidak saling benci satu sama lain. Tapi, aku merasa bahwa aku telah menikah dengan sebuah patung. Ya, Luhan sangat kaku dan dingin! Dia hanya berbicara seperlunya dan dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu jarang berada di rumah dan selalu tega meninggalkan aku sendirian. Dia tidak memperhatikan istrinya sendiri. Ohhhh aku sangat beryukur karena besok aku mulai masuk kuliah. Setidaknya aku tidak mati bosan berada di rumah sepanjang hari.

***

Jessica langsung menutup buku hariannya ketika pintu kamar dibuka. Tampak Luhan memasuki kamar. Pria itu berjalan menuju tempat tidur kemudian duduk di tepiannya. Jessica berdiri dari meja kerja lalu menghampiri Luhan.

“Baru pulang?” Ya, Jessica tahu itu pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi dia tetap harus melontarkannya agar suasana tidak canggung.

“Ya, seperti yang kau lihat.”

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Mau kubuatkan makan malam?”

“Memang kau bisa masak?”

Pertanyaan Luhan bagaikan sebuah batu yang menghantam kepala Jessica. Ya, dia tahu bahwa dirinya tidak bisa masak, tapi dia tentu akan berusaha membuatkan makanan sederhana untuk Luhan. “Ya sudah kalau tidak mau ku buatkan makan malam.”

Jessica menyimpan buku diary miliknya di laci meja kecil di samping tempat tidur. Wanita itu memilih untuk berbaring dan bersiap tidur. Luhan menatap Jessica yang mulai memejamkan matanya, “Kau sendiri sudah makan?”

“Sudah.”

“Oh, baiklah.”

Jessica menjerit dalam hati, Aku mengambil keputusan yang salah.

***

“Terima kasih.” Ucap Jessica seraya melepaskan sabuk pengaman.

“Mau ku jemput? Kau selesai jam berapa?”

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”

“Oh, baiklah.”

Jessica menghela napas berat kemudian langsung turun dari mobil Luhan. Pria itu benar-benar menyebalkan, pikirnya. Ketika Jessica hendak pergi, Luhan membuka kaca jendelanya, “Nanti malam kita makan bersama, ya. Sampai jumpa.”

Jessica baru akan membuka mulut, tapi Luhan sudah terlebih dulu pergi melajukan mobilnya. “Makan malam bersama dalam mimpimu, Luhan.”

Jessica membalikkan badannya, senyumnya langsung mengembang dan rasa kesalnya pada Luhan pun hilang seketika. Ya, dia bahagia karena dia sudah berada di Kyunghee University. Universitas di mana dia akan menempuh pendidikan. Jessica langsung melangkah memasuki gedung fakultasnya. Dia mengikuti petunjuk jalan yang ada di buku saku miliknya. Dia tersenyum karena jalan yang dia lalui benar dan kini wanita itu sudah berada tepat di depan pintu aula khusus Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi.

“Selamat datang, keluarga baru prodi Jurnalistik dan Komunikasi, silakan isi daftar hadirnya terlebih dahulu.”

Jessica tersadar dan menoleh ke samping kirinya, seorang senior wanita sedang tersenyum padanya. Wanita itu pun langsung mengikuti perintah sang senior untuk mengisi daftar hadir.

“Rangkaian berikutnya dibagi menjadi beberapa kelompok. Kamu, Jessica Jung, menjadi bagian dari tim merah yang akan dibimbing langsung oleh dua rekan saya, Byun Baekhyun dan Kim Hyoyeon. Sekarang kamu bisa langsung masuk ke aula dan mengikuti rangkaian pertama.”

Jessica mengangguk kaku pada senior itu. Bukan apa-apa, sang senior terlalu ramah sehingga Jessica bingung harus memberi tanggapan seperti apa. Pada akhirnya, dengan senyum seadanya, Jessica pergi meninggalkan seniornya tersebut lalu masuk ke dalam aula.

***

Suasana kampus Kyunghee memang masih ramai walau waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Jessica tetap bosan dan kesal karena Luhan tak kunjung datang. Dia memilih untuk pergi ke mini market kampus untuk membeli minum. Ketika dia usai membeli minum dan sudah keluar dari mini market, seseorang menabraknya dari samping sehingga minuman dan buku-buku Jessica jatuh ke lantai. Orang yang menabrak Jessica adalah seorang pria, dan pria itu memilih untuk tetap berjalan tanpa menghiraukan Jessica.

“YA!! Pria macam apa kau ini, hah? Tidak minta maaf sama sekali. Dasar brengsek!!”

Teriakan Jessica sepertinya cukup keras dan mengandung banyak emosi sehingga pria itu berbalik badan dan kembali berjalan menghampiri Jessica. Jessica pun langsung terdiam kaku.

“Kau berbicara padaku?”

Jessica memberanikan diri untuk mengangguk.

“Kau menyebutku apa? Brengsek?”

Jessica kembali mengangguk.

Pria itu tersenyum, senyum yang tampak mengejek. Pria tersebut kemudian berjongkok dan merapikan buku-buku dan minuman milik Jessica. Setelahnya, pria itu kembali berdiri. “Pengantar Ilmu Jurnalistik, Pengantar Ilmu Komunikasi, Paduan Kampus Kyunghee: Jurnalistik dan Komunikasi. Oh, jadi kau mahasiswa baru di sini?”

Jessica langsung merebut buku-buku miliknya yang ada di tangan pria itu. Jessica hendak pergi namun lengannya ditahan oleh pria tersebut, “Maaf telah membuatmu emosi. Dan lain kali, kau harus lebih sopan jika memperingatkan orang lain. Sampai bertemu besok.”

Pria itu menaruh botol minuman di tangan Jessica kemudian pergi meninggalkannya. Jessica mendengus kecil, “Siapa juga yang ingin bertemu denganmu lagi? Tidak, terima kasih.”

***

“Kau marah padaku karena aku telat menjemput?” tanya Luhan pada Jessica yang sedari tadi hanya diam di sebelahnya.

“Tidak.”

“Maaf tidak jadi makan malam di luar. Kita makan malam di rumah saja, ya?”

“Siapa yang akan memasak?”

“Aku.”

“Oh.”

Luhan melirik Jessica yang masih terlihat kesal. Pria itu mencoba mencairkan suasana, “Bagaimana hari pertama kuliah? Menyenangkan?”

“Ya, tentu saja sangat menyenangkan. Dan sangat menyebalkan ketika aku bertemu pria tengil itu.”

Luhan menaikkan sebelah alisnya bingung, “Siapa?”

“Kau tidak perlu tahu. Lebih baik kau fokus mengemudi, aku tidak mau kita celaka.”

“Oh, baiklah.”

Jessica memutar bola matanya, “Apa tidak ada kata lain selain ‘oh, baiklah.’?”

“Apa?”

Wanita itu menghela napas, “Tidak apa-apa.”

“Oh, baiklah.”

Demi Tuhan, Jessica rasanya ingin menendang Luhan detik itu juga.

***

Luhan melirik jam di tangannya. Pria itu menoleh pada Jessica yang masih terlelap di sebelah. Luhan memutuskan untuk keluar dari mobil, dia berjalan mengintari mobil dan membuka pintu penumpang. Dengan hati-hati, Luhan menggendong Jessica ala bridal, pintu mobil kembali dia tutup menggunakan kakinya. Luhan masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga yang pada akhirnya membawanya sampai di kamar. Luhan langsung membaringkan Jessica di tempat tidur. Membuka sepatu wanita itu kemudian menyelimutinya.

Luhan duduk di tempat tidur. Dia tersenyum kecil melihat wajah damai Jessica ketika tidur. Pria itu kemudian mengecup kening Jessica lalu berbisik lembut, “I love you.”

***

Jessica turun dari mobil Luhan. Dia melambaikan tangannya sebelum mobil suaminya itu berlalu. Jessica membalikkan badan hendak pergi.

“Kekasihmu?”

Jessica terlonjak kaget. Dia menghela napas ketika sadar bahwa manusia di hadapannya adalah sosok pria yang kemarin menabraknya. “Bukan urusanmu!”

Jessica segera berjalan meninggalkan pria itu, namun sayang, pria berkemeja putih itu malah mengikutinya di samping. “Namamu siapa?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Oh.. jadi namamu adalah ‘kau tidak perlu tahu’, ya? Lumayan panjang.”

Jessica memutar kedua bola matanya. “Ya..ya..ya.. terserah. Dan, tolong berhenti mengikutiku.”

Pria itu terkekeh. “Aku tidak mengikutimu.”

Jessica menghela napas. “Baiklah.”

Keduanya memasuki gedung fakultas Ilmu Sosial. Jessica menghentikan langkahnya ketika dia dan pria itu telah sampai di depan pintu aula Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi. Jessica menatap pria itu tajam, “Dengar, aku tidak tahu bahwa kau benar-benar sangat menyebalkan. Tapi tolong, untuk kali ini, berhentilah mengikutiku.”

Pria itu tertawa. “Aku? Mengikutimu? Kau benar-benar terlalu percaya diri.”

“Kalau kau tidak mengikutiku, mengapa kau—“

“Baekhyun-ssi, mengapa kau baru datang?”

Perkataan Jessica terpotong ketika seorang wanita menghampiri mereka. Wanita itu merupakan senior ramah yang menyambut Jessica kemarin. Jessica hanya mampu tersenyum kecil.

“Kalau tidak salah, kau Jessica, kan? Selamat pagi, Jess. Dan, oh, rupanya kau sudah kenal dengan pembimbing kelompokmu?”

Ne?” Jessica tampak bingung.

“Dia adalah Byun Baekhyun, salah satu pembimbing kelompokmu. Kau sudah kenal dengannya, kan?”

Wajah Jessica berubah panik. Dia memperhatikan Baekhyun dan senior wanita itu bergantian. Jessica benar-benar kehabisan kata, “A-aku..”

“Iya, Jessica sudah mengenalku, Taeyeon-ah.”

Senior Jessica yang bernama Taeyeon itu mengangguk. “Baguslah. Tapi sekarang kalian lebih baik masuk. Rangkaian kedua akan dimulai.”

Taeyeon berbalik pergi meninggalkan Jessica dan Baekhyun. Demi apapun juga, Jessica hanya bisa menunduk, dia tidak berani menatap Baekhyun. Pria itu pun terkekeh. “Jadi kau anggota tim merah? Oh, dan ternyata namamu adalah Jessica. Cukup menarik.”

Jessica membungkuk sekilas, “Aku masuk duluan, sunbaenim!”

Baekhyun memerhatikan Jessica yang berlari memasuki aula. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.

***

Setiap tim sedang berkumpul bersama pembimbingnya masing-masing. Mereka diberikan waktu untuk membicarakan pentas seni yang merupakan sebuah tugas yang diberikan oleh salah satu tim panita yakni tim Dewan Pengawasan dan Pengembangan Diri. Jessica hanya bisa menduduk karena dia benar-benar tidak sanggup menatap Baekhyun. Tentu saja, dia secara langsung sudah bertindak tidak sopan pada seniornya sekaligus pembimbing kelompoknya sendiri.

“Jessica-ssi?”

Jessica tersadar dari lamunannya. Teman satu kelompok yang terdiri dari dua pria dan dua wanita beserta kedua pembimbing kelompoknya itu sedang memperhatikannya, membuat Jessica merasa sedikit canggung. “Y-ya?”

“Kau ada ide untuk pentas seni apa yang akan kita tunjukkan?” tanya Hyoyeon.

Jessica tampak bingung. “Aku tidak punya ide, tapi aku bisa bernyanyi.”

“Kau bisa bernyanyi? Dengan suara seperti itu?” tanya Baekhyun dengan nada terdengar menyindir.

Mata Jessica menatap Baekhyun tidak suka, “Setidaknya suaraku tidak begitu jelek.”

“Oke, kalau begitu Jessica bersedia untuk bernyanyi. Yang lain bagaimana, nih? Tunjukkan bakat kalian di pentas seni ini agar kelompok kita bisa menang.” Ujar Hyoyeon.

Seorang wanita berambut panjang dan terlihat kalem mengacungkan tangan, Hyoyeon dengan senang hati mempersilakan dia berbicara, “Bagaimana jika pertunjukan drama musikal? Aku bisa memainkan alat musik dan emmh.. jika kalian tidak keberatan, aku punya skenario yang cocok untuk ditampilkan di pentas seni berbentuk drama musikal.”

“Ide yang bagus. Oh, maaf, namamu siapa? Aku lupa.”

Wanita itu tersenyum kecil pada Hyoyeon, “Seohyun, sunbaenim.”

“Drama musikal tampaknya tidak buruk. Tapi, apa kalian bisa berakting semua?” tanya Baekhyun.

“Di SMA aku mempelajari akting,” ujar seorang wanita lagi dengan berbinar.

“Oke, apa hanya Sulli saja? Bagaimana dengan kalian, Jongin, Taemin?” ungkap Baekhyun.

“Kami seorang dancer, tapi kami sering berakting di beberapa gerakan dance. Jadi, kami bisa mengikuti.”

“Ya, Taemin benar.” Ujar Jongin.

Baekhyun mengangguk, “Kesepakatan sudah dibuat. Kita akan menampilkan drama musikal. Tapi aku ragu apakah Jessica mampu berakting dengan wajah datarnya.”

Ya!! Aku pernah menjadi pemain utama dalam drama musikal sekolah!” ucap Jessica sinis. Tapi wanita itu menyesali ucapannya karena dia sadar telah bersikap tidak sopan lagi pada Baekhyun.

Hyoyeon tersenyum kecil melihat kekesalan Jessica. “Baiklah… waktu diskusi sudah habis. Kalian harus mengikuti acara terakhir hari ini. Kita harus kumpul lagi untuk membicarakan pentas seni. Nanti akan aku kabarkan kapan kita bertemu lewat KakaoTalk.”

***

Seperti biasa, Jessica masih duduk manis di sebuah bangku yang ada di sekitar halaman kampus untuk menunggu Luhan. Pria itu sungguh keterlaluan karena membuat Jessica menunggu selama dua jam.

“Menunggu seseorang?”

Jessica mendongkak kemudian menghela napas kesal ketika melihat orang yang baru saja bertanya padanya. “Bukan urusanmu, Baekhyun sunbae.”

Baekhyun terkekeh kemudian duduk di samping Jessica. “Menunggu pria yang tadi pagi mengantarmu, huh? Siapa dia? Kekasihmu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Tapi aku ingin tahu.”

Jessica melirik Baekhyun sebal, “Tapi aku tidak ingin memberitahumu.”

“Oke, kau membuatku terpaksa mencaritahu sendiri.”

“Maksudmu? Oh, silakan saja, aku tidak peduli.” Ujar Jessica ketus.

Wanita itu langsung tersenyum lebar kemudian berdiri ketika mobil sedan putih berhenti di depan dirinya dan Baekhyun. “Luhannn!!!”

Baekhyun hanya mampu melihat Jessica berteriak kegirangan kemudian masuk ke dalam mobil tanpa pamit kepadanya. Pria itu pun hanya bisa menghela napas ketika mobil sudah melaju pergi.

***

“Kau datang tepat waktu, Lu.”

“Maksudmu, Jess? Aku datang sangat terlambat. Maaf, ada sedikit masalah dengan klien barusan.” Ucap Luhan yang pandangannya masih fokus ke jalanan.

“Tidak…tidak… kedatanganmu menyelamatkanku dari seorang senior jahat.”

Luhan langsung menoleh pada Jessica, “Kau di-bully?”

Jessica menggeleng. “Tentu saja tidak. Hanya saja, dia menyebalkan.”

“Oh, baiklah.”

Jessica kembali mendengus kesal karena tanggapan singkat Luhan. Wanita itu memilih untuk tidur namun perkataan Luhan mencegahnya.

“Kita tidak akan pulang, ya. Aku akan membawamu ke suatu tempat. Sudah lama aku ingin mengajakmu ke sana.” Ujar Luhan sambil tersenyum.

Tunggu. Tersenyum? Apa Jessica salah melihat? Seorang Luhan yang dingin tersenyum padanya? Oh, mungkin dia sudah gila. Tapi, tunggu, Jessica masih waras dan senyuman Luhan adalah sebuah kenyataan.

***

Chapter satu sampai di sini dulu. Konfliknya terlihat simpel, kan? Ya, karena ini baru chapter satu. Chapter selanjutnya bakal lebih rumit u.u

Aku mencoba memutarbalikkan fakta di mana Jessica lebih muda dari Luhan dan Baekhyun😄 ff konyol ini sebenernya curahan hati aku aja sih pas waktu ospek dulu, makanya ff-nya jadi absurd begini u.u

Saran dan kritik membangun sangat amat aku terima🙂 and yes… ini adalah Faminsa yang berganti display name sebagai Amy Park. So, don’t be confuse ^^

107 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 1

  1. Waa…
    Lusica..😀 luhan itu kenapa ee kok dingin banget sama jessica, kan kasian sica nya.. dibanyakin moment lusica nya ya thor.:F

  2. Annyeonghaseo author aku readers baru disini salam kenal ne🙂
    wah ceritanya bagus thor,tapi kenapa luhan nya dingin banget T.T
    pertama liat poster ff nya aja udah suka,eh ternyata ceritanya juga bagus banget,gak nyesel deh ngehabisin waktu libur buat baca ff ini
    jessica karakternya lucu ya suka nulis buku harian,
    pokoknya ff nya keren pake banget telornya dua #kayak martabak aja*abaikan
    ff nya DAEBAK!!!FIGHTING!!^^

  3. Wahh kayaknya baekhyun suka sama jessica ya?
    Luhan cinta sama jessica? Lalu apa perasaan jessica ke luhan?

    Luhan mau ngungkapin perasaanya ke jessica ya?

    Ffnya buat penasaran😀 bagus kok ;;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s