Goodbye Love [Ficlet]

goodbyelove LaySica

Title : Goodbye Love
Genre : AU, Romance, Sad
Rating : T
Length : Ficlet
Cast :

  1. Jessica [SNSD/Main]
  2. Lay [EXO M/Main]
  3. Seohyun [SNSD/Support]
  4. Henry [Super Junior/Support]
  5. Jongin, Sehun, & Chanyeol [EXO K/Support]

Note : FF ini adalah versi lain dari versi Seohyun/Chanyeol. Maaf soal typo dan alur yang terlalu dipaksakan. Terinspirasi dari lagunya Lee Seung Gi, Return. Happy reading!

Disclaimer © Artists are belonging to God, their company, and their parents. This story is belonging to me.

© Himma Isya Haniyya


Author POV

Jessica bersenandung ria seraya menyisir rambutnya di depan cermin. Setelah itu, ia merapikan seragamnya sebentar dan pergi keluar dari kamar pribadinya.

“Aku berangkat,” teriaknya dari ambang pintu rumah.

Jessica berjalan menuju sekolahnya dengan masih bersenandung ria. Entah mengapa, hari ini terasa begitu indah baginya. Bagaimana tidak? Ayahnya berjanji akan membelikan Jessica piano baru saat pulang dari London. Dan lusa, Ayahnya sudah berada di Korea.

“Sica-ya!” panggil seseorang membuat Jessica menoleh ke belakang.

“Lay? Tumben berangkat pagi?”

“Ah~ kau membuatku malu saja. Ceria sekali, ada apa denganmu?”

“Kau tahu? Lusa Ayahku akan pulang! Dan Ayahku berjanji saat pulang dari London nanti akan membelikanku piano baru!” ungkap Jessica sampai melompat-lompat kecil.

Lay tersenyum tipis. Pemuda berdarah China itu mengacak pelan rambut Jessica. “Bilang pada Ayahmu, jangan lupa membawakan buah tangan dari London untukku.”

“Emm… Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Oh… ayolah… aku kenal dekat dengan keluargamu,” jawab Lay sedikit memohon.

“Baik-baik, aku hanya bercanda,” kata Jessica membuat Lay tersenyum lebar.

“Nah, begitu. Kita ‘kan sudah lama bersahabat,” ungkap Lay lalu merangkul pundak Jessica.

~ Goodbye Love ~

Bel sekolah berdering menandakan pelajaran pertama telah tiba. Suasana kelas 2-1 masih saja ramai. Ada yang sedang menyalin pekerjaan milik temannya, bermain sepak bola di kelas, dan ada juga yang sibuk belajar.

Bae seonsaengim memasuki kelas 2-1 yang masih sedikit ribut. Melihat guru mereka sudah memasuki kelas, dengan cepat mereka kembali duduk manis di tempat masing-masing.

Annyong haseyo,” sapa Bae seonsaengim.

Annyong haseyo Bae seonsaengim,” jawab semua murid.

“Kemarin saya memberikan kalian pekerjaan rumah, bukan?”

Ne.”

“Letakkan buku tugas kalian di atas meja.”

Semua murid patuh untuk meletakkan bukunya di atas meja. Tetapi, Jessica masih terlihat mencari buku tugasnya di dalam tas. Seingatnya, buku tugasnya sudah ia masukkan ke dalam tas. Tapi buku itu tidak ada.

“Nona Jung… dimana buku tugasmu?” tanya Bae seonsaengim.

“Entahlah, aku tidak tahu. Buku tugasku tidak ada di dalam tas. Tetapi, semalam aku sudah mengerjakannya, dan aku yakin buku itu sudah aku masukkan ke dalam tas,” jawab Jessica.

“Saya tidak mau tahu. Berdiri!”

Lay yang duduk tidak jauh dari bangku Jessica menatap Jessica dan buku tugasnya bergantian. Ia merasa iba dengan Jessica, Jessica pasti akan dikeluarkan dari kelas dan mungkin di luar kelas ia tidak mempunyai teman. Tanpa pikir panjang, Lay menyembunyikan buku tugasnya di dalam laci meja.

“Yixing, kau juga berdiri!” perintah Bae Suzy yang melihat meja Lay bersih—tidak ada bukunya.

Jessica mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lay ketika ia berdiri. Bae Suzy—guru mereka berdua—menunjuk pintu kelas dengan tongkat kecilnya. Jessica mengangguk lemah dan berjalan keluar diikuti Lay.

“Kau tak membawa buku tugas?” tanya Jessica ketika mereka sudah berada di luar.

“Tidak, aku membawanya. Aku menyembunyikan buku tugasku di laci meja,” jawab Lay.

“Kenapa? Kau belum mengerjakannya? Sulit dipercaya, kau itu murid yang rajin.”

“Tidak juga,” jawab Lay sambil tersenyum memperlihatkan lesungnya yang sempurna.

“Lalu?”

“Aku hanya ingin menemanimu.”

“Jad— Yixing-ah, kau membuatku merasa bersalah.”

“Itu kemauanku sendiri, bukan kau yang memintanya. Tak perlu merasa bersalah seperti itu,” kata Lay lalu mengelus puncak kepala Jessica tanpa merusak tatanan rambutnya.

Lay menatap wajah Jessica yang menunduk. Ia tersenyum, menurutnya, Jessica lebih cantik dan lebih indah daripada malaikat. Ya, mereka telah bersahabat sepuluh tahun lamannya, sepuluh tahun lamanya mereka selalu bersama. Wajar saja bila Lay jatuh cinta pada Jessica. Namun, Lay tak mau mengutarakan perasaannya pada Jessica. Ia takut persahabatannya bersama Jessica akan selesai begitu saja.

———-

Lay dan Jessica menyapu halaman belakang sekolah. Mereka mendapat hukuman karena tidak membawa buku tugas dan hukuman ini selesai sampai pulang sekolah nanti. Peluh menetes dari dahi mereka berdua. Halaman belakang sekolah sungguh luas. Setelah selesai menyapu, mereka mengelap jendela kantor guru, menghapus tulisan-tulisan di papan tulis yang ada di kelas, membersihkan penghapus papan tulis dari serpihan-serpihan kapur, mengepel kelas, dan setelah itu mereka pulang bersama.

Matahari saat ini sedang senang-senangnya bersinar. Dengan lelah dan panas, Jessica berjalan pulang bersama Lay ditemani basahnya peluh mereka dan bau tak sedap dari keringat mereka.

“Hari ini melelahkan, hari yang buruk,” ungkap Lay.

Jessica berbalik ke arah Lay. Kilauan berlian pada kalung Jessica membuat Lay refleks menutup matanya dan mengeluh, “Sica-ya, kalungmu benar-benar menyilaukan mataku.”

Jessica menatap kalungnya. “Mianhae, lagipula kilauan dari mata kalungku tidak akan membuatmu mati,” kata Jessica lalu membalikkan arah kalungnya.

“Tapi tetap saja itu mengganggu.”

“Kau saja yang berlebihan.”

Dengan kesal Jessica berjalan mendahului Lay. Lay pun hanya bisa terkikik geli melihat tingkah laku Jessica yang mudah sekali kesal. Dengan sedikit berlari, Lay mensejajarkan langkahnya dengan Jessica dan tersenyum geli.

“Mengapa tersenyum?”

“Kau lucu,” jawab Lay.

“Lucu bagaimana?”

“Kau marah, dan marahmu itu selalu membuat orang tertawa.”

“Aku tidak marah,” kata Jessica.

“Kau kesal karena aku tidak suka dengan kalungmu?”

“Tidak juga. Tidak sama sekali malahan,” jawab Jessica.

Lay tersenyum jahil, lalu mendekatkan wajahnya ke bibir Jessica dan mengecupnya singkat. Tentu saja itu membuat Jessica terlonjak dan membuat wajahnya memerah.

“Kau ini apa-apaan Yixing-ah?” tanya Jessica sedikit membentak.

“Mengecup bibirmu,” jawab Lay dengan wajah innocentnya.

“Memalukan!”

“Ayolah Sicachu… kita ini sahabat. Dulu kita juga sering melakukannya. Bahkan dulu kita sering mandi bersama,” ungkap Lay yang berjalan mendahului Jessica.

Jessica yang mendengarnya semakin malu dan ia maju ke arah Lay untuk mencubit pinggangnya. Lay refleks mengaduh dan memukul pinggang Jessica. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tawa dan candaan indah.

~ Goodbye Love ~

Jessica POV

Aku dan teman-temanku berjalan menuju ruang musik. Setelah Nana seonsaengim membuka pintu ruang musik, kami mengambil alat-alat musik sesuai giliran. Hari ini aku tidak lagi memegang piano cantik itu. Namun, hari ini aku harus memetik senar-senar yang dapat menyanyi dengan merdu—gitar.

Lay duduk di kursi piano bersama Seohyun, teman kami. Perasaan tidak suka menyelimuti hatiku. Ia bermain piano bersama Seohyun dengan raut wajah ceria dan tawa khasnya.

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Tetapi aku benar-benar ingin menendang Seohyun dan menggantikan tempatnya. Aku benci, aku tidak suka dengan situasi saat ini. Biasanya kami berdua—aku dan Lay—yang memainkan piano itu. Kalau tidak, mungkin Henry dan Seohyun.

Rasa tidak suka ini bukan seperti sahabat yang cemburu pada orang yang dekat dengan sahabatnya. Tapi, rasa ini berbeda… seperti seorang kekasih yang cemburu dengan kekasihnya yang dekat dengan lawan jenis lain. Apa aku selama ini mencintai Lay lebih dari sahabat?

———-

Author POV

Jessica keluar dari ruang musik dengan wajah merah karena menahan amarahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Lay yang sedang bercakap-cakap dengan Seohyun. Jessica benar-benar cemburu pada mereka, bahkan matanya mulai memerah.

“Sooyeon-ah,” Nana seonsaengim memanggil Jessica dengan nama Koreanya.

Jessica menoleh ke belakang dan tersenyum tipis. “Ada apa seonsaengim?”

“Kau bisa membantuku mengambil buku tugas teman-temanmu di mejaku sekarang?”

“Tentu saja bisa,” jawab Jessica.

Jessica melangkahkan kakinya menuju kantor guru bersama Nana seonsaengim. Setelah itu, ia kembali menuju kelas. Senyuman Lay menyambutnya ketika ia akan duduk. Namun, Jessica tak membalas senyuman Lay. Ia menganggap di kelas ini tidak ada Lay, juga Seohyun.

Pada saat waktu istirahat tiba, Jessica keluar dari kelasnya membawa tumpukan buku. Ia berjalan menuju loker miliknya yang ada di koridor sebelah kanan kelasnya. Ketika ia berjalan, Jongin, Sehun, dan Chanyeol menjahilinya dengan cara meletakkan mainan kecoak di pundak Jessica tanpa ia ketahui.

Merasa sesuatu menempel pada pundaknya, Jessica menoleh ke pundak kirinya. Seketika itu Jessica berteriak dan menjatuhkan bukunya. Dengan marah ia menoleh ke belakang.
Lay
Lay berdiri tepat di belakang Jessica dengan senyum manisnya yang mengembang. Ia melihat Jessica yang sedang dijahili oleh Jongin, Sehun, dan Chanyeol tadi. Maka dari itu, Ia berinisiatif untuk membantu Jessica memungut buku-bukunya yang jatuh.

Namun, Jessica justru menampar wajah tampannya. Lay benar-benar terkejut. Mungkin Jessica berfikir jika Lay lah yang menjahilinya. Setelah menghentakkan kaki kanannya, Jessica berlalu begitu saja dari hadapan Lay.

“Sica-ya! Bukan aku yang melakukannya! Jongin, Sehun, dan Chanyeol lah yang melakukannya!” jelas Lay dengan sedikit berteriak.

Jessica terus berjalan membiarkan buku-bukunya berserakan di lantai. Ia tak peduli siapa pun yang menjahilinya tadi. Ia marah pada Lay bukan karena sebuah mainan kecoak. Tetapi, karena kejadian di ruang musik tadi.

“Dia marah padamu,” kata Chanyeol.

“Mungkin?”

Lay berjongkok untuk memungut buku-buku Jessica yang berserakan di lantai. Lalu membawanya kembali ke meja Jessica.

~ Goodbye Love ~

“Hey! Bukankah hari ini Ayahmu pulang dari London?” tanya Lay ketika ia dan Jessica berjalan pulang.

“Lalu?” sahut Jessica dingin.

“Buah tangan untukku,” jawab Lay.

“Tak ada. Kau bukan buah hatinya,” kata Jessica ketus, lalu berlari pulang—menghindar dari Lay.

Lay menggaruk kepalanya bingung. Biasanya jika Jessica kesal dengannya, mereka pasti akan cepat berbaikan. Tetapi rasanya ini berbeda. Jessica justru terlihat seperti enggan menatapnya atau berusaha menghindar darinya.

Jessica menoleh ke belakang. Lay sudah tidak terlihat. Dengan langkahnya yang berat, sembari terus melangkah, Jessica memejamkan matanya dan mengenang saat-saat dirinya dan Lay bermain piano bersama di ruang musik.

“Jessica?”

Jessica berhenti melangkahkan kakinya ketika mendengar suara lembut yang memanggilnya. Kelopak matanya terangkat untuk naik—terbuka. Kepalanya perlahan menoleh ke arah suara lembut yang memanggilnya tadi. Sosok Lay berdiri disana.

“Apa yang terjadi pada dirimu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Jessica dengan suara datar.

“Kau marah padaku?”

“Menurutmu?”

“Tapi mengapa?”

“Entahlah. Kuyakin kau tahu apa penyebab aku marah padamu,” jawab Jessica dan mulai berbalik memunggungi Lay.

“Soal kecoak itu? Bukan aku yang melakukannya… Jongin, Sehun, dan Chanyeol lah yang melakukannya,” kata Lay mencoba menjelaskan.

Jessica tersenyum sinis dan kembali melangkahkan kakinya menuju rumah. Meninggalkan Lay yang berdiri dengan beribu pertanyaan di kepalanya.

Jessica tahu, ternyata ia telah mencintai Lay sedalam-dalamnya palung Mindanau. Mungkin Lay tak memiliki perasaan sedikit pun pada Jessica, itu yang ada di pikirannya saat ini.

———-

Lay POV

Aku membuka pintu kelas kami, kelasku dan Jessica. Sebagian pasang mata tertuju padaku ketika aku membuka pintu kelas.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Jongin yang tampaknya melihat luka lebam di pipi kiriku.

“Kau habis bertengkar?” tanya Sehun.

“Bukan urusanmu,” jawabku ketus.

Aku berjalan menuju meja Jessica dan meletakkan sebuah coklat dan sebuah kartu yang disematkan pada ujung coklat itu. Ini memang bukan hari valentine. Tapi apa salahnya memberikan Jessica sebuah coklat? Toh, Jessica juga menyukai coklat.

Jessica melirik coklat itu sekilas dan menoleh ke arahku. Aku hanya melempar tatapan dingin ke arahnya.

Jessica terlihat mengambil coklat itu dan membaca kartu yang kusematkan pada ujung bungkus coklat.

Ketika kau marah, aku juga marah.Ketika kau kesal, aku juga kesal. Kita selalu bersama, bukan? Dalam suka ataupun duka :’) Maka dari itu, aku mengajakmu berbahagia pada hari yang cerah ini… salam damai ^^

With Love, Yixing.

Aku menoleh ke arah Jessica yang tersenyum ke arahku. Ia membuka bungkus coklat itu dan menggigitnya lalu menyodorkannya padaku, tentu saja aku menyambutnya dengan senang hati.

~ Goodbye Love ~

Author POV

Jessica meletakkan buku-bukunya di lantai sebelum menutup pintu lokernya. Ketika ia akan mengambil buku itu, Jessica membulatkan matanya kaget. Pasalnya, buku itu tidak ada lagi pada tempatnya.

“Ayo kita pulang!”

Sekarang Jessica benar-benar kaget. Setelah matanya yang tak menemukan buku-bukunya di lantai, kini giliran telinganya yang harus mendengar suara seseorang yang mengajaknya untuk segera pulang.

Sejurus kemudian, Jessica memutar badannya. Sosok lelaki tampan tengah tersenyum memperlihatkan lesungnya dan membawa buku-buku Jessica.

“Ternyata kau… mengagetkanku saja,” kata Jessica.

Mianhae, aku hanya ingin membantumu,” balas orang itu yang ternyata adalah Lay, “Ayo kita pulang!” ajaknya—lagi.

“Biar aku yang membawa bukunya. Itu bukuku,” pinta Jessica.

“Tak perlu,” tolak Lay yang sedetik kemudian berlari meninggalkan Jessica di belakang.

Melihat tingkah laku Lay yang kekanak-kanakan, Jessica hanya bisa terkikik geli dan berlari menyusul Lay.

———-

“Mau main ke rumahku?” tanya Jessica.

Lay terlihat berpikir seraya memandangi rumah Jessica yang ada di hadapannya. “Boleh.”

“Mencoba piano baruku?” ajak Jessica yang sedang membuka gerbang rumahnya.

“Oh, dengan senang hati tentunya,” jawab Lay.

Jessica dan Lay masuk kedalam rumah. Setelah mempersilahkan Lay duduk, Jessica berlalu menuju kamarnya sembari membawa buku-bukunya yang dibawa Lay tadi. Sedangkan Lay sibuk memijit jari-jarinya yang sedikit pegal karena membawakan buku Jessica.

Beberapa menit kemudian, Jessica kembali dengan mengenakan t-shirt merah muda dan skirt biru.

“Pianonya ada disana,” kata Jessica sembari menunjuk arah barat rumahnya.

“Ayahmu menaruh piano ini di tempat yang strategis,” komentar Lay.

Majayo, setiap sore aku suka bermain piano. Jadi, saat aku bermain piano, sinar dari matahari yang akan tenggelam selalu menemaniku.”

Lay duduk di bangku putih itu dan mulai menekan tuts piano dengan asal. Lay berhenti sejenak dan tersenyum. Ia menekan tuts-tuts piano itu yang perlahan membentuk nada-nada yang indah.

Jessica terlihat berfikir mendengar nada-nada yang Lay mainkan dengan piano miliknya itu. Mengapa Lay memainkan lagu itu? Batinnya.

Just The Way You’re? Kau suka lagu itu?” tanya Jessica.

“Tidak juga. Aku mempersembahkan lagu itu untuk seseorang,” jawab Lay yang masih terus memainkan tuts-tuts piano itu.

Nugu? Sebutkan ciri-cirinya!”

Lay tersenyum sejenak. “Goddes, berambut panjang, berkulit putih… bagiku ia adalah malaikat,” ungkap Lay.

Jessica tersenyum kecut. Ia tahu siapa yang dimaksud Lay. Seohyun. Gadis itu selalu terlihat sempurna, tidak seperti dirinya yang tak pernah terlihat sempurna.

“Emm… akan kubuatkan minum dulu,” kata Jessica meninggalkan Lay bermain piano sendiri.

~ Goodbye Love ~

Jessica sesekali memandang Lay yang sedang fokus bermain piano. Sembari fokus memainkan gitarnya, Jessica juga sesekali tersenyum senang. Hari ini Lay bermain piano sendiri, tanpa ditemani dirinya, Henry, ataupun Seohyun.

Setelah pelajaran seni musik selesai, semua murid kembali menuju kelas. Kali ini ganti pelajaran Matematika yang harus mereka perhatikan. Bae seonsaengim kembali memasuki kelas mereka.

Lay menyambut wajah ceria Bae seonsaengim dengan wajahnya yang muram. Lampau, ia tidak mengikuti pelajaran Bae seonsaengim. Mau tidak mau, pada saat pembahasan soal nanti jika Lay dipanggil maju, ia harus siap.

“Yixing-ah! Tolong kerjakan soal nomor satu halaman dua ratus tiga puluh lima!”

Bingo! Benar dugaanku,’ batin Lay.

“Sooyeon-ah! Kau kerjakan nomor dua!”

Lay tersenyum pada Jessica yang juga tersenyum ke arah Lay. Mereka maju ke depan dan mulai mengerjakan masing-masing soal yang Bae seonsaengim berikan.

Dengan senyum yang terus mengembang, Jessica mengerjakan soal itu dan sesekali melirik ke arah Lay. Ia benar-benar senang hari ini. Seohyun absen sekolah karena sakit.

———-

Jessica POV

Aku berjalan menelusuri koridor setelah keluar dari toilet perempuan. Ketika melewati ruang kepala sekolah, sosok familiar terlihat berada di dalam, sedang berbincang dengan kepala sekolah. Akupun memutar langkahku dan mengintip mereka dari samping pintu.

“Lay? Sedang apa disana?” gumamku.

Kupertajam pendengaranku untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya pembicaraan itu serius sekali.

“Mulai hari ini kau akan keluar dari sekolah ini dan kembali ke China. Aku hanya bisa berdoa, semoga prestasimu tidak menurun, justru malah meningkat di sekolah yang akan kau tempati.”

Ne, kamsahamnida. Aku juga berharap begitu.”

“Maafkan aku Zhang Yixing. Tetapi, orang tuamu sudah menunggu di depan sekolah. Kau tidak bisa pamit terlebih dahulu dengan teman-temanmu.”

Kepala sekolah menepuk pelan pundak Lay yang sedang tersenyum getir. Aku memegang dadaku yang sedikit sesak dan berbalik.

Kenapa Lay harus pergi? Kami baru saja berbaikan kemarin. Mengarungi hari-hari yang cerah, damai, dan indah. Kenapa Lay harus pergi? Ketika aku telah jatuh hati padanya. Ini benar-benar tidak adil.

———-

Author POV

Jessica menghapus air mata yang mulai menetes dari matanya dan berlari menjauh dari ruang kepala sekolah.

Sedangkan Lay, ia melangkahkan kakinya dengan langkah yang begitu berat. Beban di tasnya belum seberapa dari beban yang ada di hati dan pikirannya. Wajahnya tertunduk melihat ke arah lantai. Ia berjalan keluar dari gedung sekolah.

“Yixing-ah…” panggil Jessica yang sedari tadi berniat untuk mencegat Lay.

“Jessica?” lirih Lay.

Sedetik kemudian Lay kembali melangkahkan langkah kakinya yang berat, mengabaikan Jessica yang berdiri dengan penuh harapan. Ia tak kuasa melihat raut wajah Jessica yang begitu sedih. Hatinya sakit jika melihat Jessica sedih.

Sepertinya Jessica tahu akan kepergianku. Tapi, darimana?’ pikir Lay.

Jessica menutup mulutnya rapat-rapat menatap punggung Lay yang semakin kecil di matanya. Matanya yang masih berkaca-kaca.

Lay menuruni tiga anak tangga dan memijakkan kakinya di tanah. Ia tidak lagi berada di halaman sekolah yang sudah ia tempati selama dua tahun. Di hadapannya, Ibu dan Ayah Lay terlihat menunggu.

“Ya! Zhang Yixing!”

Lay membalikkan badannya mendengar suara seseorang yang selalu berputar-putar di telinga dan kepalanya. Suara milik Jessica.

Jessica berjalan menghampiri Lay. Perlahan namun pasti, air matanya kembali turun. Jessica mengangkat tangannya pada leher jenjangnya. Memperlihatkan kalung berliannya pada Lay.

Kalung itu kini telah berpindah ke telapak tangannya. Tangan kanan Jessica lantas memegang tangan kanan Lay dan memberikan kalungnya pada Lay.

For you. Don’t forget me. Promise! Okay?” kata Jessica.

Jessica terisak seraya menundukkan kepalanya dan berbalik pergi dari hadapan Lay. Lay memperhatikan kalung itu dan meremasnya kuat.

“Sica-ya!” panggilnya.

Jessica menoleh ke arah Lay yang berlari ke arahnya dan memeluknya erat. Setelah itu, ia memegang pipi Jessica dan mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica.

Mengecup bibirnya pelan. Menekannya dan menjilatnya. Setelah itu ia tersenyum pada Jessica—senyuman terakhir.

Saranghae. Tahukah kau? Selama ini aku mencintaimu Jessica…”

“Aku juga mencintaimu. Selamat tinggal Lay… Semoga kita akan berjumpa kembali.”

“Tahukah kau? Aku memainkan lagu Just The Way You Are dengan pianomu itu khusus aku persembahkan untukmu.”

“Terima kasih. Kau boleh saja jauh dariku, tapi cintamu dan cintaku akan selalu dekat.”

Lay tersenyum getir, “Hari ini sangat singkat. Bahkan rasanya lebih singkat daripada mengitung angka satu sampai sepuluh. Aku berjanji, kita akan berjumpa lagi, Sooyeon-ah…” lirih Lay seraya membuka pintu mobilnya.

~ Goodbye Love ~
©Himma Isya
~The End~

38 thoughts on “Goodbye Love [Ficlet]

  1. hiks T.T sad ending yaa Tpi bagus, aq suka deh couple laysica kan jarang” ni lain kali buatin ff xiumin jessica gmn? aq ska couple itu, tpi jarang BANGET hampir ga ada ff xiumin-sica

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s