Eternity (Chapter 6 – The Unfinal!)

eternity-psb1

 

–| ETERNITY #6 – The (Un)Final |–

written by pearlshafirablue

Main Casts: Byun Baekhyun (EXO-K), Jessica Jung (GG), Yoon Bora (Sistar) || Minor Casts: revealed as time goes by || Genre: Fantasy, Friendship, Mystery, a bit Romance || Rating: PG-15 || Length: Multichapter (6/6)

Disclaimer
All of the characters belong to God and themselves. They didn’t give me any permission to use their personality in my story. Once fiction it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.

Previous Chapter
1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6-Preview . 6-Unfinal [Now] . Final Parse [Soon]

.

.

.

…begin…

pearlshafirablue®

            “Sudah kubilang jangan terlambat, Baekhyun.” Bora menatapku sinis ketika aku baru sampai di halte. Aku masih mengatur nafasku.

Mianhae, Bora-ya. Mobil orang tuaku tadi bensinnya ternyata habis, jadi aku terpaksa naik taksi dan turun di pom bensin sana.” Ucapku menyesal. Andai saja mobilku sudah selesai di-service.

“Ah, arasseo, gwaenchana. Kajja!” Ajaknya sambil menarik tanganku memasuki bus yang baru tiba. Aku dan dia langsung menduduki satu-satunya tempat yang kosong di bus itu.

Suasana di bus sangat riuh dan ramai. Bahkan, alunan lagu You and I dari iPod-ku saja sama sekali tidak terdengar.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang bergetar di belakangku. Ponselku berbunyi.

Dengan susah payah—saking sempitnya tempat itu—aku meraih ponselku yang kuletakkan di kantong bagian depan ranselku. Ada satu panggilan masuk. Jessica.

Yeoboseyo?”

Baekhyun-ah! Ini Jessica! Kamu berada dimana sekarang?” Suara Jessica terdengar samar ditelan keramaian bus.

“Aku sedang ada di bus mau ke stasiun.” Jawabku sekenanya. “Ada apa, Jessi-ya?”

Ah! Kau mau pergi—hasdhihdsadguyabdgagabguysagfudau…” Kali ini suaranya sama sekali tidak terdengar. Aku menyerngitkan dahi.

“Ulangi, Jess. Suaramu tidak kedengaran!” Seruku.

Baekhyun! Asdfgjklaeuihucduinhfbaiufaisufhdaugfia…” Sama saja. Suaranya tetap kalah dengan keriuhan bus ini.

“Jess, kau kirimi aku pesan sa—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Bora sudah mengambil ponselku dan langsung memutus sambungan telepon. Bahkan ia mencabut batrenya.

Ya! Apa yang kau lakukan, Bora-ya?” Erangku marah. “Jessica tadi tampak ingin mengucapkan hal penting kepadaku!”

Bora hanya menatapku cuek. “Aku tidak ingin kencan pertama kita ini dihiasi oleh telepon yeoja lain. Jangan hancurkan acara hari ini, Baekhyun-ah.”

Mwo? Aku menganga lebar-lebar mendengar ucapannya. Sejak kapan kita berkencan?

“Aku tahu kau menyukaiku, Baekhyun-ah. Begitu juga aku. Dan aku ingin kau jadi namjachingu-ku.” Ucapnya seolah membaca pikiranku. Ia tersenyum hangat.

Dan aku cuma bisa bengong melihatnya.

pearlshafirablue®

            “Chagi-ya…” Aku memanggil Bora yang sedang sibuk memotret kolam ikan di depan bangunan Deoksugung. Ia menoleh ke arahku sambil tersenyum.

Anyway, aku sudah resmi menjadi namjachingu Bora! Sejak ucapannya tadi di bus, aku mengungkapkan lagi perasaanku supaya hubungan ini menjadi sah dan dia menerimaku! Hari ini aku menjadi namja paling beruntung sedunia! Ah, betapa senangnya aku… Jessica pasti akan kaget sekali mendengar hal ini.

Jessica? Oiya, sampai detik ini Bora belum mengembalikan ponselku. Padahal aku yakin tadi Jessica sangat panik dan pembicaraannya tadi sangat penting. Tapi yasudahlah, dibanding dia, nae Bora lebih berharga.

Waeyo, Baek-ah?” Tanyanya sambil mendekat. Ia memandang buku catatan yang ada di tanganku.

“Aku sudah menyusun laporannya, chagi. Aku juga sudah memotret cukup banyak foto untuk dimasukkan ke dalam laporan nanti. Kurasa, kita sudah selesai.” Ucapku tersenyum lega sembari menutup buku catatanku itu. Bora merangkul pinggangku dan bersandar di bahuku. “Ayo kita pulang, chagi.”

Mwo?” Bora tampak tidak setuju. “Mumpung kita di Seoul lebih baik kita jalan-jalan dulu. Kita pulang besok saja. Toh besok juga libur. Kau bawa baju ganti kan?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Baiklah, kita makan saja dulu sekarang.” Ajaknya riang. Aku tersenyum dan langsung membimbingnya menuju halte terdekat.

Akhirnya kami berdua sampai di sebuah restoran Jepang yang tidak terlalu besar tepat di sebelah Seoul Hotel. Sushi di tempat ini benar-benar sangat lezat dan murah meriah. Setidaknya cukup untuk kantongku saat ini, karena aku tidak memperkirakan bahwa kami akan menginap.

“Kau pesan apa Bora-ya?” Tanyaku lembut.

Aniya. Aku tidak berminat makan sushi. Kau saja, yeobo.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku mengangkat satu alisku.

“Ah, kenapa kau tidak bilang? Kalau begitu ayo kita pergi saja, cari kedai ramyeon.” Ajakku sambil berdiri. Tapi dia menarik tanganku.

“Tidak usah, Baekhyun. Aku memang tidak lapar. Kau saja yang makan.” Potongnya.

Ani-ani-ani. Kau harus makan.” Protesku.

Shireo, Baekhyun. Aku benar-benar sedang dalam proses diet reguler. Aku tidak boleh makan banyak. Kau saja.” Bantahnya bersikeras.

Jeongmal?” Tanyaku ragu. Dan dia mengangguk mantap. “Baiklah, sushi platters-nya satu ya.”

pearlshafirablue®

            “Kamar anda 1 kilometer dari sini ke arah Timur. Nanti staff kami akan mengantar anda dengan ATV. Selamat menikmati reservasi kami, agashi.” Resepsionis itu memberikan kami sebuah kunci dan mempersilahkan kami keluar. Aku hanya bengong saat mendengar bahwa kamar kami 1 kilometer jauhnya. Padahal kakiku sudah remuk rasanya!

Ya, ini sudah pukul 7 malam dan sekarang kami sedang berada di sebuah resort yang menurut Bora bagus, karena kamarnya berupa rumah kecil dan terpisah-pisah. Kita juga bisa memilih mau sejauh mana kamar kita dari service office-nya karena resort ini benar-benar sangat besar dan terletak dipinggir hutan Seoul. Dan aku tidak menyangka Bora memilih kamar yang sejauh 1 kilometer.

Chagi-ya, kau tahu? Aku sedang bertanya-tanya kenapa kau memilih kamar yang sejauh 1 kilometer di pelosok hutan. Padahal kita berdua sudah sama-sama lelah seharian berjalan-jalan.” Ujarku saat kami berdua sudah ada di ATV. Bora hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa, Baekhyun. Aku hanya tidak suka keributan dan pemandangan hutan Seoul itu sangat indah. Selain itu…” Bora menggantungkan kalimatnya, membuatku menunggu tidak sabar, “tidak akan ada yang bisa mengganggu kita.” Lanjutnya tersenyum centil. Untuk kesekian kalinya, aku dibuat melongo olehnya.

Beberapa menit kemudian, ATV ini berhenti di depan sebuah bangunan minimalis tapi sangat elegan. Terdiri dari dua lantai, dengan pintu dan jendela kaca. Sehingga dari luar saja kami sudah bisa tahu apa yang ada di dalam bangunan itu.

“Sudah sampai, agashi. Ini ruangan kalian. Semoga kalian betah disini. Dan kalau ada apa-apa, cukup hubungi kami dengan telepon yang ada di dalam. Disini ada pos-pos penjagaan kami. Kami jamin istirahat anda nyaman disini. Selamat sore.” Ucap supir ATV itu sopan dan beranjak pergi. Aku dan Bora memandang keseluruhan bangunan itu dengan pandangan kagum.

“Kau memang tidak salah pilih, chagi. Ini sangat indah!” Seruku. Bora hanya tersenyum dan mengajakku masuk. Kami berdua melewati semua ruangan di bangunan itu dengan decak kagum. Desain dan penataannya sangat elegan dan bisa membuat semua orang terpaku melihatnya. Berbagai ukiran khas daerah Seoul terpajang rapi di dinding.

Setelah puas melihat-lihat, aku langsung merebahkan tubuhku yang remuk ini di atas kasur. Ah, lega sekali rasanya.

“Mau mandi, Baekhyun? Akan kusiapkan air hangat.” Tawar Bora. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng.

“Kau saja duluan, biar nanti aku belakangan.” Jawabku masih menghayati kenyamanan kasur ini. Mataku benar-benar sudah minta ditutup.

Arasseo. Kau juga tidak mandi tidak apa-apa. Kau tampak lelah sekali.” Ucapnya lembut. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan intonasinya.

Aku menoleh untuk melihat wajahnya dan ternyata dia sudah pergi.

Ah, persetan dengan semua itu. Yang penting sekarang tidur.

Beberapa detik kemudian aku sudah terlelap masih mengenakan mantel dan sepatu bot di kakiku.

pearlshafirablue®

            Aku merasakan ada sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirku. Sesuatu yang seolah-olah menyedot bibirku. Aku membuka mataku perlahan dengan paksa saat sesuatu yang lembut dan basah itu mulai menggigiti bibirku.

Dan bisa kulihat, wajah Bora tepat di depan wajahku dengan bibirnya yang menempel di bibirku. Aku terjengkang ke belakang sehingga membuatnya melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Ah, kau sudah bangun, Baekhyun.” Ucapnya santai, seolah-olah kelakuannya tadi tidak hampir membuatku jantungan.

Tapi ada hal lain yang membuat jantungku nyaris copot.

Baru kusadari bahwa sekarang aku sedang ada di tengah hutan. Dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi. Bisa kurasakan tanah lembab ketika aku menyentuhnya. Dan ternyata aku sedang bersandar pada sebuah pohon pinus besar.

“Jangan memandang alamku ini dengan wajah seperti itu, honey. Kau memang berada di hutan sekarang. Tepatnya di tengah hutan,” ucap Bora tiba-tiba, menjawab pertanyaan yang berkecamuk di otakku. Aku memandangnya bingung—meminta penjelasan. “Hahaha, aku tahu kau pasti bingung. Kenapa kau berada di tengah hutan semalam ini dengan tubuh telanjang seperti itu,” omo. Aku baru sadar aku half naked! “Biar kujelaskan. Tadi ketika kau tertidur, aku melepas mantel serta kemejamu dan membawamu kesini. Dengan apa? Kau tidak perlu tahu. Yang jelas kau tidak kuseret, kugelindingkan, dan kulempar…” Lanjutnya sambil terkekeh—seolah-olah ucapannya tadi lucu.

“Bora, sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku ke sini? A-apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku dengan suara bergetar—mengabaikan ucapannya tadi. Jujur, aku kedinginan sekarang.

“Aku sudah pernah bilang kan, kalau aku senang tidur di alam terbuka dan aku sangat suka pemandangan hutan Seoul…” Jawab Bora santai sambil menyesapi angin yang menghantam dirinya.

“Tapi kita bisa mati beku, Bora! Besok salju akan turun! Sudah cukup. Jangan lanjutkan kegilaan ini.” Seruku. “Dan… anyway kenapa kau membuatku telanjang?”

Bora menoleh ke arahku dengan pandangan yang—sejujurnya sulit kutafsirkan. Dia mendekat ke arahku. Aku mundur saat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

“Karena itu peraturannya.” Desisnya tajam sambil mengecup bibirku sekilas. Hangat bibirnya langsung menjalari tubuhku.

Peraturan? Hei yang benar saja! Aku ditelanjangi oleh yeoja yang belum sah jadi istriku. Bukannya itu malah melanggar peraturan? Dan sebenarnya apa sih yang terjadi ketika aku tidur tadi?

“Bora, aku masih bi—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, yeoja itu langsung mendekatiku dan kembali menempelkan bibirnya di bibirku. Aku termundur beberapa kali saat ciuman dahsyatnya itu menembus bibirku.

Oh God.

Pertamakalinya aku berciuman seperti ini. Ada hasrat yang berbeda saat bibirnya menghisap bibirku. Padahal aku sudah pernah berciuman dengan ratusan yeoja. Tapi tidak ada yang rasanya seperti ini. Dan karena bibir kissable-nya itu sangat menggoda, aku membalas ciumannya. Tangannya mulai membelai punggungku—yang tak terlindungi selembar kainpun—dari bawah dan tanganku memeluk tengkuknya. Berusaha menariknya lebih dalam. Kurasa aku sudah terlalu tersihir dengan nafsuku. Tubuhku menegang.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan deru nafasku mulai memburu. Aku mulai kehabisan nafas. Saat aku melepaskan tanganku dari tengkuknya dan berusaha mendorongnya untuk menyudahi ciuman ini, dia malah menarikku kembali. Dia meraba punggungku halus, dan bibirnya semakin melumat bibirku bahkan kini lidahnya sudah membelai lidahku. Tapi aku tidak tahan. Aku kehabisan nafas!

Aku berusaha melepasnya tapi kekuatannya ternyata lebih kuat dari aku. Kini dia malah mendorongku ke arah pohon dengan keras dan mengunci gerakanku. Sekarang aku malah merasa bibirnya menyedot nafasku. Ya, dadaku sudah kekurangan oksigen. Tapi yeoja ini terus-terusan menyedot udara yang tersisa di mulutku. Sialan. Aku benar-benar tidak tahan. Bora! Please!

Tiba-tiba saja aku merasakan punggungku seperti diiris pisau tajam di tiga tempat. Tepat pada saat itu Bora melepaskan ciumannya. Aku langsung terkulai lemah jatuh ke tanah sambil mengumpulkan oksigen. Mataku yang sayu ini samar-samar melihat Bora yang menjauh dan menatapku sinis.

Aku menyentuh punggungku. Bisa kurasakan ada 3 luka goresan di sana. Dan ketika aku menarik kembali tanganku aku melihat sebuah cairan membasahi telapak tanganku. Darah.

“Wah, maaf, Baekhyun. Kurasa bibirmu itu terlalu seksi sehingga membuatku tidak tahan dan tersihir untuk terus menciummu.” Tuturnya santai. Aku mengerjapkan mataku dan melihat sesuatu.

Tangannya yang indah itu mendadak berubah menjadi tangan monster dengan kuku-kuku panjang. Dan bisa kulihat ada darahku di atas kuku-kuku itu.

“Maaf lagi, ya. Aku mencakar punggungmu. Punggungmu itu juga sangat menggoda sih.” Tambahnya lagi seolah-olah itu lelucon. Tapi aku masih belum sanggup berbicara untuk membalas ucapannya. Aku benar-benar kehabisan nafas.

Mendadak sebuah pusaran hitam besar muncul dari tengah-tengah tempat Bora berdiri. Pusaran itu semakin besar dan kini hanya berjarak beberapa meter dari tubuhku. Dan aku terpaksa mundur menjauhi pusaran itu.

“Si-siapa kamu?” Desisku lemah—tapi tajam. “Atau lebih tepatnya… apa kamu?” Kutatap kedua bola matanya yang sekarang mulai memerah. Aku takut. Sungguh.

“Kau tidak perlu tahu. Toh sebentar lagi juga kau akan menjadi sepertiku.” Jawabnya sambil menyeringai.

Menjadi sepertinya? Yeoja monster yang tampaknya membohongiku selama ini?

Tubuhku bergetar. Angin dari pusaran hitam itu terus menarikku.

“Ini semua salahmu, Byun Baekhyun. Andaikan kau tidak membuat Sulli meninggal.”

Aku tercengang mendengar ucapannya. “Sulli?! Jadi semua ini tentang Sulli?”

“Tentu saja. Siapa lagi? Tapi aku tidak benar-benar menyalahimu kok. Aku juga pernah melakukan hal yang sama dahulu.” Jawabnya datar. Aku menyerngitkan alis tidak mengerti.

Pernah melakukan hal yang sama?

“Simpan pertanyaanmu untuk di neraka nanti!” Serunya cepat. Sialan, tampaknya dia bisa membaca pikiranku. “Sudah cukup basa-basinya. Langsung saja kita mulai.” Tiba-tiba saja kulit Bora memutih dan bibirnya memerah. Tangannya semakin lama semakin tak berbentuk dan bisa kulihat ia seperti sedang mengucapkan mantra-mantra sakral yang pasti akan berdampak buruk bagiku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menjauh semakin masuk ke dalam hutan. Tapi baru 3 langkah, angin dari pusaran tadi menyedot tubuhku sehingga aku terjengkang ke belakang dan berusaha memegang apa saja yang ada di sekitarku.

Sungguh. Aku berharap ini hanya mimpi.

PLAK!

Kutampar diriku. Dan kukedipkan mataku. Tidak. Ini bukan mimpi.

Bora masih berdiri di sana. Di tengah-tengah pusaran sambil berkomat-kamit. Dan pusaran itu juga masih menganga lebar. Menunggu untuk masuk ke dalamnya dan lenyap.

Sebenarnya… apa yang terjadi?

Ketika aku sudah berada di bibir pusaran tadi, mendadak pusaran itu menutup dengan sendirinya dan bisa kurasakan tubuhku melemas. Aku menoleh ke arah Bora dengan cepat.

Tidak, ini bukan ulahnya. Bisa kulihat dia juga kebingungan. Dan tiba-tiba terdengar bunyi grasak-grusuk dari dalam hutan. Dan beberapa detik kemudian, seseorang muncul dari balik pohon.

Seseorang yang sangat kukenal.

Seseorang yang akhir-akhir ini kucueki.

Seseorang yang tadi siang menelponku.

Seseorang yang… kini terlihat sangat cantik.

“Jessica? Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku pelan. Memandanginya dari atas ke bawah dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu memang Jessica.

Bagaimana aku tidak pangling? Jessica mengenakan gaun terusan selutut berwarna putih yang sangat pas ditubuhnya. Gaun itu benar-benar polos, hanya ada beberapa renda di bagian lengan dan ujung rok-nya. Dan bisa kulihat ada tiara bunga di atas kepalanya. Dia cantik.

“Sudah kuduga, kau bukan manusia biasa, Jessica Jung.” Bora tersenyum sinis sambil mendekat ke arah Jessica yang daritadi memandangnya dengan tatapan bengis. Aku menatap mereka berdua bergantian. Sekali lagi aku bertanya. Apa yang terjadi?

“Kau sangat bodoh Jessica. Kau tahu kan seberat apa hukuman yang akan dijatuhkan oleh The Lord Guardian of Heaven jika kau menyelamatkan mates yang akan dieksekusi oleh Dvazz Reaper?”

Hukuman? The Lord Guardian… apa? Reaper apa? Ini semua semakin rumit. Aku menatap Jessica dengan tatapan bingung. Tapi Jessica tetap tidak menggubrisnya. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari Bora.

“Tutup mulutmu, Yoon Bora. Kau tidak tahu apa-apa kenapa aku melakukan hal ini.” Desis Jessica.

Bora tertawa terbahak-bahak. Aku menautkan kedua alisku tidak mengerti. Tapi Jessica tetap dalam keadaannya tadi—menatap Bora tajam. “Alasanmu? Aku bisa menerkanya tampaknya. Kau mencintai Baekhyun, hm?”

JDEEERR! Aku merasa ada petir yang menyambarku ketika Bora mengatakan hal itu. Aku langsung menoleh ke arah Jessica. Meminta penjelasan lebih. Tapi lagi-lagi ia menghiraukanku.

“Jangan sok tahu, Bora-ssi.” Ketus Jessica pelan sambil menggerakkan tangannya ke arah Bora. Dan tiba-tiba saja tubuh Bora langsung terlempar 10 meter ke belakang—menabrak sebuah pohon pinus yang langsung patah.

Aku menatap Jessica dengan ngeri. Sekarang aku tahu kenapa dia begitu kuat.

“Hoo, ternyata kau ingin bermain-main denganku, Jessica Jung?” Bora menyeringai sambil membersihkan daun-daun yang mengotori bajunya. Aku memandang mereka berdua bergantian dan rasa penasaranku sudah benar-benar tidak tertahankan.

Ya! Tunggu sebentar!” Seruku keras sambil berdiri. Mereka berdua langsung menatapku bingung. “Adakah satu diantara kalian yang bisa menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi?”

Bora dan Jessica saling berpandangan. Mereka berpandangan cukup lama. Dan tiba-tiba saja mereka berdua langsung berlari ke arahku. Aku mundur beberapa langkah ketika sadar bahwa mereka berdua memasang tampang mengerikan. Dan Jessica sampai di depanku lebih dulu.

“Menyingkir dari sini, Baekhyun!” Titah Jessica keras sambil berusaha menahan sebuah batang pohon besar yang tadi di lempar Bora ke arah kami berdua. Aku menelan ludah.

Tapi aku masih diam disana.

“Apa lagi yang kau tunggu?! Pergi!” Hardiknya semakin keras. Dia menatapku tajam. Tapi aku membalas tatapannya tak kalah tajam.

“Tidak.” Jawabku tegas. Jessica menatapku terkejut sambil melempar pohon tadi menjauh. “Aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu.”

“Jangan gila!” Bentak Jessica sambil mendorong bahuku. “Kau tidak mengerti apa-apa! Ini bukan urusanmu! Lebih baik kau pergi jika ingin hidup!”

“Tidak ada orang yang akan pergi begitu saja menyelamatkan dirinya sendiri ketika melihat sahabatnya dalam keadaan seperti ini! Dan kau bilang ini bukan urusanku?! Tadi aku hampir mati, Jessica! Monster itu hampir saja membunuhku! Dan kau masih bisa bilang ini bukan urusanku?” Bantahku. Jessica terhenyak mendengar pernyataanku barusan. Yang aku inginkan sekarang adalah selamat bersama Jessica dan setelah itu dia bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Sudah selesai bicaranya?” Bora memecah keheningan. Ia bersedekap tangan sambil menatap aku dan Jessica dengan wajah malas.

“Bora, bisakah kita tunda hal ini dan biarkan aku bicara pada The Dvazz Demon Reaper?” Tanya Jessica dengan wajah memohon. Bora terkekeh pelan.

“Apa kau pikir semudah itu, eoh? Sajangnim sudah menugaskanku untuk mengeksekusinya terakhir hari ini, Jessica. Kesalahannya di dunia sudah terlalu banyak! Apalagi Sulli sendiri yang meminta kami untuk memusnahkan mahkluk itu.” Jawab Bora datar sambil menatapku jijik. Cih, padahal tadi dia bernafsu sekali untuk menciumku. “Jangan berpikiran seperti itu, Byun Baekhyun. Aku menciummu tadi karena hal lain.”

Sial. Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku!

Mwo?!” Jessica langsung menatap Bora dengan terkejut, “kau sudah mencium Baekhyun?!”

Bora kembali menyeringai. “Ne. Apa kau cemburu?”

Jessica mengepalkan tangannya sebal. “Aku serius, Bora. Apa saja yang kau ambil dari dirinya? Rohnya?”

“Hah? Rohku?” Aku menyerngitkan dahiku heran. Jadi Bora menciumku penuh nafsu tadi hanya untuk merebut rohku?

“Untungnya belum. Aku hanya terlalu tergoda dengan bibirnya itu.” Kekeh Bora sambil memandangku dengan wajah bernafsu. Yeoja ini labil sekali!

“Sudah cukup, Bora. Kembalilah atau kau kuhabisi,” desis Jessica.

“Kau mengancamku? Jangan bercanda, Jess. Kaulah yang menggangu tugasku. Lebih baik kau pergi dan tinggalkan aku berdua dengan namja-mu itu.”

“Jangan harap. Kau harus langkahi mayatku dulu jika ingin mendekatinya.” Jessica merentangkan satu tangannya dihadapanku. Aku bingung  harus senang atau sebal. Karena, dalam posisiku seperti ini aku terlihat seperti banci, dilindungi oleh seorang yeoja.

“Kau yang meminta Jessica…” Bora tersenyum sinis sambil berjalan ke arah kami berdua dengan langkah yang santai. Tangannya ia lipat di dada.

Tubuhku sudah bergetar. Keringatku mengalir deras. Aku tidak peduli apa yang akan dikatakan Suho hyung ketika melihatku. Yang jelas aku akan tetap bertahan di balik punggung Jessica.

Mendadak, tubuh Bora berhenti bergerak. Matanya melotot, seakan ingin keluar dari cangkangnya. Ia mematung dengan posisi seperti itu dalam beberapa detik. Aku memandangnya heran. Hingga akhirnya, kesadarannya kembali. Dia tersenyum kecut ke arah kami.

“Kau dengar itu, Jessica Jung? Tampaknya sajangnim akan mengundur eksekusi ini. Kurasa kau penyebabnya.” Bora berjalan mundur. “Selamat tinggal, Jessica, Baekhyun. Aku yakin kita akan bertemu lagi. Ah, tidak. Tidak dengan kau Jessica. Aku yakin sehabis ini kau akan menerima hukuman.”

Tiba-tiba Bora terbang ke langit. Dan kira-kira sekitar 10 meter di atas langit tubuhnya menghilang. Aku berjalan pelan ke depan Jessica.

“Je-Jess?” Panggilku ragu. “Ada apa? Apa yang terjadi?”

pearlshafirablue®

            Aku harus berkali-kali berpikir ulang ketika Jessica menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepadaku. Berkali-kali otakku tidak bisa mencerna dengan jelas apa yang diceritakan Jessica.

Sekarang kami berdua sedang ada dalam perjalanan pulang menuju Gyeongju. Aku tidak peduli dengan laporanku karena sekarang yang terpenting adalah selamat. Mungkin saja Bora akan kembali jika kami masih berada di sana.

The Dvazz-Demon-Reaper?” Aku menyerngitkan dahi tanda tak mengerti. Mahkluk spesies apa itu?

“Ya. Itulah wujud Bora yang sesungguhnya.” Ucap Jessica menjelaskan. “The Dvazz-Demon-Reaper adalah demon pencabut nyawa yang biasanya akan ditugaskan bila ada manusia yang membuat manusia lain kehilangan nyawanya sia-sia.”

“Kau sendiri? Kau sendiri apa?” Tanyaku pelan. Aku benar-benar penasaran dengan apa sebenarnya Jessica.

“Aku? Hmm…” Jessica bergumam sebentar. “Guardian.”

Guardian?”

Akhirnya Jessica kembali menjelaskan tanpa kusela sekalipun. Ternyata, selama ini Jessica adalah guardian. Tepatnya guardian-ku.

Guardian adalah malaikat pelindung manusia yang sejak kecil tidak diperhatikan orang tuanya. Jessica sudah ada sejak aku baru lahir. Ia terus menjagaku dari kejauhan saat itu. Hingga akhirnya ketika aku bersekolah dasar, Jessica muncul dengan wujud manusia dan menjalin pertemanan denganku. Mulai sejak itu Jessica tahu apa saja yang akan terjadi denganku, apa saja yang aku butuhkan dan apa saja yang aku lakukan. Aku sedikit takut bila Jessica tahu kegiatanku di toilet.

Pembicaraan beralih ke Bora. Ternyata, Bora adalah salah satu demon pencabut nyawa yang seharusnya tadi mencabut nyawaku. Ia mendapatkan perintah itu dari atasannya di langit karena akulah yang membuat Sulli bunuh diri. Dan Bora sendiri dikutuk untuk menjadi demon karena waktu dia masih hidup normal seperti manusia dia pernah membunuh seseorang. Aku tidak tahu siapa yang dibunuh olehnya dan penyebabnya karena Jessica sungkan memberitahukannya padaku.

Soal keadaanku yang telanjang tadi, peraturan dalam mengeksekusi korban memang korbannya harus dalam keadaan telanjang. Dan memang benar Bora menciumku tadi untuk menarik rohku secara perlahan-lahan. Dan tampaknya itu tidak berhasil, sehingga muncullah pusaran besar tadi yang dibuka Bora untuk menelanku hidup-hidup, dan mengutukku menjadi demon sepertinya.

Dan akhirnya aku tahu jawaban dari pertanyaanku kemarin. Yang diajak bicara oleh Jessica saat di sekolah waktu itu adalah ketua The Lord Guardian of Heaven, ketua dari semua malaikat dan guardian. Yang bisa melihat wujudnya hanya Jessica dan malaikat-malaikat lainnya. Pantas saja aku tidak bisa melihatnya.

Dan anehnya, Jessica juga mengatakan bahwa pengeksekusian adalah perintah, dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun yang bekerja di langit. Termasuk guardian. Karena jika seseorang akan dieksekusi oleh The Dvazz Demon Reaper, itu artinya manusia itu benar-benar sudah keterlaluan, dan harus dikutuk. Guardian yang bersangkutan tidak boleh menghalanginya, karena itu memang sudah keputusan ketua yang di atas. Jika sudah akan dieksekusi, itu artinya guardian yang bersangkutan juga telah salah memberikan pengarahan. Dan mereka akan dilatih lagi menjadi guardian baru dan akan mendapatkan manusia baru.

“Lantas, kenapa tadi kamu membantuku? Bukankah itu terlarang? Itukan sudah takdirku seharusnya?” Akhirnya pertanyaan yang daritadi mengganggu benakku bisa kukatakan juga.

Jessica terhenyak. Tapi wajahnya kembali datar, dia menunduk, menimbang-nimbang. “Hmm…”

“Kenapa, Jess? Ada yang salah?” Tanyaku cemas. Mungkin pertanyaanku tadi mengganggunya. Atau mungkin…

“Kurasa, guardian sepertiku juga punya perasaan. Rasanya, aku benar-benar ingin melindungimu dari apapun. Tidak peduli meskipun ancamannya adalah kutukan dari The Lord Guardian of Heaven.” Tuturnya pelan—sambil tersenyum ke arahku.

Dan kalian tahu yang kupikirkan? Menurutku secara tidak langsung Jessica berkata…

“Aku menyukaimu. Menyayangimu mungkin.”

JDEERR!!

Mendadak petir kembali menyambar. Aku memandang Jessica sarkastis. Meyakinkan diri dengan apa yang diucapkannya barusan di hadapanku. Mahkluk suci sepertinya menyukaiku?

Aku dan Jessica tidak kembali bicara setelah Jessica menyatakan pengakuannya tadi. Hingga akhirnya bis yang kami tumpangi berhenti di halte dekat rumahku.

Kami berdua turun tanpa banyak bicara.

“Mau kuantar?” Jessica menawarkan. Kurasa dia benar. Mungkin Bora sudah ada di dalam rumahku.

“Tentu saja.” Jawabku sambil tersenyum.

Aku dan Jessica tidak melewati jalan besar menuju rumahku karena akan memakan waktu. Kami melewati gang sempit di dekat pertokoan—jalan pintas yang cukup cepat dibanding lewat jalanan besar.

“Jess.” Aku berhenti—menatap tanah.

Jessica menoleh. Memandangku. “A-ada apa, Baek-ah?”

“Aku…” Aku mendekatinya. Dia tampak tak bergeming. “Aku tidak tahu harus bilang apa.” Aku menghela nafas.

“So-soal tadi?” Suara Jessica mendadak bergetar. “Su-sudahlah. Tidak usah dipikirkan hal tadi. Aku hanya menyuarakan apa yang kurasa sa—”

“Terimakasih.” Potongku, sambil tersenyum getir ke arahnya.

“A-apa?” Jessica tampak tidak menyimak ucapanku tadi. Aku mendekat ke arahnya. Semakin dekat. Sampai Jessica mundur beberapa langkah dan akhirnya mentok ke dinding. Aku menaruh tanganku di kedua sisi badannya. Menguncinya.

“Terimakasih.” Ulangku. “Aku minta maaf karena tidak mendengarkan ucapanmu di sekolah waktu itu. Dan malah bermain-main dengan yeoja jadi-jadian itu. Aku minta maaf Jessica, aku minta maaf. Dan sebagai gantinya…”

Aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya. Dadaku menyentuh tubuhnya, merasakan getaran hangat yang merambat sampai jari-jari kakiku. Kutempelkan bibirku di atas bibirnya yang bergetar. Tubuhnya menegang. Tanganku membelai punggung bagian bawahnya dengan lembut. Membuatnya rileks.

Perlahan-lahan, bibir Jessica masuk ke celah bibirku. Tubuhnya maju beberapa senti, menandakan bahwa ia membalas ciumanku. Kami bertahan hingga akhirnya aku menarik diri untuk mengambil nafas.

“Bae-Baekhyun…” Kudengar Jessica memanggil namaku. Kepalanya menunduk. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Ada apa?” Tanyaku lembut.

“Ini…” Suara Jessica kembali terdengar bergetar. “Ini salah, Baekhyun. Ini tidak boleh terjadi.”

Aku terkejut dan menangkupkan wajah Jessaica dengan kedua tanganku. Kutatap wajahnya yang sendu itu. “Apa yang salah? Adakah peraturan bahwa manusia dan guardian-nya tidak boleh berhubungan lebih dari seharusnya?”

Samar, tapi bisa kulihat ia mengangguk. “Ya, tidak boleh, Baekhyun. Itu larangan yang sangat keras. Mengetahui bahwa manusia memiliki guardian saja tidak boleh. Apalagi seperti ini, Baekhyun. Ini… tidak boleh.” Jessica mengerang frustasi. Tanpa basa-basi, aku langsung memeluknya.

“Aku tidak peduli, Jessica. Apapun yang dikatakan oleh ketuamu, tapi aku akan tetap mencintaimu. Biarkan aku membayar apa yang kau perbuat kepadaku selama ini. Jaebal…” Tuturku lirih. Jessica melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya ke arahku.

Jinjja?” Tanyanya—penuh harapan. Aku mengangguk. Dia kembali menyandarkan kepalanya di dadaku.

Tiba-tiba, Jessica mengerang kesakitan. Aku menoleh ke arahnya tanpa tahu harus melakukan apa. Jessica jatuh ke tanah masih dengan erangan yang keras.

“Je-Jessica? Ada apa?! Kau kenapa?!” Tanyaku panik sambil memegangi kepalanya. Tubuh Jessica memutih. Bisa kurasakan tangannya sedingin es. Bibirnya membiru. “Jessica! Bertahanlah! Ada apa?!” Seruku menahan tangis. Aku tidak mau kebahagiaanku yang baru berlangsung beberapa detik langsung direnggut.

Mendadak tubuh Jessica melemah—tidak setegang tadi. Tubuhnya kembali ke warna asalnya, dan tangannya kembali ke suhu normal. Matanya membuka dengan pelan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar.

“Baekhyun…” Ucapnya pelan—tapi masih bisa kudengar. Aku mendekatkan kepalaku ke arahnya.

“Ya, Jessica? Kamu nggak apa-apa?” Tanyaku khawatir. Tapi Jessica tetap memandang langit. Seolah-olah aku tidak ada di sampingnya.

“Kurasa…” Jessica duduk dan mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Aku bukan guardian lagi.”

Aku menyerngitkan dahi. “Maksudmu?”

“Aku…” Jessica meraba-raba lengannya. “Manusia.”

Kini aku terjengkang ke belakang. Mataku membesar. Aku memandangnya dengan takjub. “Kau… manusia? Jeongmal?” Mataku berbinar. Jessica menjadi manusia? Itu artinya aku mencintai jenisku sendiri! Aku tidak berhubungan dengan guardian lagi!

“Mungkin… ini hukuman dari The Lord Guardian of Heaven.” Jessica mulai berjalan dengan linglung. Kupapah tubuhnya agar tidak jatuh.

“Tapi bukan kah itu ide bagus? Itu artinya kita sudah bebas dari kekuasaan yang di atas!” Seruku bersorak.

“Mungkin tidak sebagus itu juga, tapi kurasa, hukuman ini jauh lebih menyenangkan daripada hukuman biasanya.” Ucap Jessica pelan. Tatapan matanya masih menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak bergerak.

Aku sedikit heran, tapi kubiarkan dia berjalan sendiri. “Baiklah, ayo kita pulang, Jess. Kau tinggal di rumahku saja dulu. Pasti akan menyenangkan kalau kita bisa—”

“Baekhyun.” Jessica memanggilku. Aku menoleh.

“Ada apa?” Tanyaku lembut.

Jessica terlihat berpikir sebentar. Dan beberapa detik kemudian ia mengangkat kepalanya, berusaha menatapku. Tapi tetap saja pandangannya tidak fokus.

“Aku buta.”

pearlshafirablue®

THE END

 

 

P.S

Hayo, gimana nih sama part ini? Maaf ya kalo kurang seru, soalnya aku bingung harus diapain lagi. Dan pasti kalian juga gasuka sama endingnya? Gantung kan? Sengaja aku buat begitu soalnya rencana sih aku mau buat sequelnya. Tapi mungkin gak sekarang. Jadi ditunggu aja ya! Maaf kalo gasuka, jujur, aku memang ngerasa parah di part ini, DAN BAKALAN ADA FINAL PARSE LOOH DITUNGGU YA^^

PLEASE BE POLITE. PLEASE COMMENT! YOUR COMMENT SAME AS HONOUR FOR ME! THANK YOU^^

16 thoughts on “Eternity (Chapter 6 – The Unfinal!)

  1. saya sudah pernah baca loh’-‘
    dan saya baca ulang’-‘
    Ini saya dari dulu/? nunggu sequelnya.__.
    Ditunggu sequelnya ne thor((:
    soalnya nunggu gimana kelanjutannya kan Jessicanya buta._.

  2. Akuu udah baca sebelumnyaa – tapi ke2 kalinya baca , feelnya bedaa thor😀 aku bingung tapii baguuss ^^ sequel nyaa ditunggu ~~ *aku readers baru dan maaf baru bisa comment disinii*

  3. waahh..sica eonni jdi buta..#pukpukpuk (elus punggung sica eonni)
    tyuzz tar yg jaga abang baekki sapa donk kalo si bora datang lagi??..
    si bora pantez banget jdi makhluk demon,,mukanya sadis gitu si hahaha..
    ehh kelanjutan hubungan baeksica gimana ya thor?
    kayaknya butuh sequel deh hehehe..^0^.

  4. gantung bgt endingnya,gue mlh kasihan sm Jessica udah capek” lindungi Baekhyun eh knp mlh dia yg ketiban sial
    request sequel dong thor

  5. Sumpah chap ini campur aduk kayak tahu campur! Sempat tegang! Sempat merinding! Dan sempat senyum-senyum sendiri kaya orang gila!
    Padahal aku sudah senang banget saat Sica ngungkapkan perasaannya dan dia jadi manusia. Dan baekhyun pun ternyata menyukai Sica. Tapi benar-benar endnya ini gak ketebak banget! Aku kira awalnya Sica akan mati atau dihukum untuk tidak bisa pergi ke bumi dan bertemu baekhyun selamanya. Dan di hukum di tempat asalnya. Tapi ternyata hukumannya adalah Sica menjadi manusia. Kalau manusia sih it’s ok, tapi kalau butanya itu loe yang buat nyesek. Benar-benar ending yang gak terduga. Oke dari lada aku kepo,aku langsung aja baca yang final parsenya. Ijin baca thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s