The Destiny of Us – Chapter 2

poster-the-destiny-of-us-copy_4

The Destiny of Us – Chapter 2

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun

Others: Song Jieun – Kim Hyoyeon – Kim Taeyeon

Genre: Romance

Rated: PG-15

Poster: Afina23

Previous: Chapter 1

© Amy Park

“There is never a time or place for true love.

It happens accidentally, in a heartbeat, in a single flashing, throbbing moment.”

:: Sarah Dessen, The Truth About Forever ::

***

“Jess, kita sudah sampai.” Ujar Luhan lembut sambil menyentuh bahu Jessica.

Wanita itu tetap bergeming. Luhan menghela napas seraya turun dari mobil. Dia berjalan mengintari mobil lalu membuka pintu jok penumpang. Pria itu hendak menggendong Jessica ala bridal seperti yang pernah dia lalukan waktu itu. Tapi sayang, mata Jessica sudah terbuka lebih dulu dan kini wajah keduanya hampir tak memiliki jarak. Jessica hanya mampu terdiam sedangkan Luhan segera sadar dan menjauhkan diri dari Jessica. Namun memang kesialan sedang tertuju pada Luhan, kepalanya terbentur atap mobil saat dia mencoba menjauh.

“Luhan-ah!” Jessica memekik kemudian keluar dari mobil mengikuti Luhan.

Luhan tampak memegangi kepalanya yang baru saja terbentur. Pasti sangat sakit rasanya. Jessica mendekati Luhan dan hendak memeriksa bagian kepala Luhan yang sakit namun pria itu menghindar, “Aku tidak apa-apa, Jess.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Banturanmu itu keras. Kau tidak hati-hati, sih. Lagipula—“

Jessica tiba-tiba terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Wanita itu merasakan semilir angin yang berbeda dan dia pun mendengar suara ombak. Apa? Ombak? Jessica membalikkan badan dan pada akhirnya dia sadar bahwa kini mereka sedang berada di pantai.

“Luhan-ah! Kau membawaku ke pantai!”

“Ya, tentu saja. Sebenarnya aku—woa, Jessica.”

Pelukan Jessica yang tiba-tiba itu membuat Luhan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tampaknya Jessica amat senang karena pelukan yang wanita itu berikan sangatlah erat. “Terima kasih. Terima kasih karena telah membawaku ke pantai. Aku sangat merindukan suasana seperti ini.”

Awalnya Luhan hanya mampu diam, tapi ketika mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Jessica, pria itu membalas pelukan Jessica dengan perlahan. “Kau menyukainya?”

“Sangat!!!”

“Lalu mengapa kau tidak bermain?”

Jessica melepaskan pelukannya kemudian tersenyum pada Luhan, “Ayo bermain bersama!”

Tidak ada kesempatan bagi Luhan untuk menjawab ajakan Jessica. Wanita itu segera menarik tangan Luhan dan membawanya berlari menuju tepi pantai. Jessica segera membuka sepatunya kemudian tersenyum pada Luhan, “Kau juga harus membuka sepatumu.”

“Tidak, terima kasih. Kau saja yang bermain.”

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Waeyo??”

“Aku tidak terlalu suka air laut.”

Jessica langsung berkacak pinggang setelah mendengar jawaban Luhan, “Kau sudah membawaku ke sini, ke pantai, tempat yang paling aku suka. Itu berarti, kau juga harus bermain bersamaku. Dan, hey, kau keterlaluan!! Air laut itu ciptaan Tuhan, dan kau tahu bahwa semua ciptaan Tuhan itu memiliki banyak sekali manfaat. Jika kau tidak menyukai air laut, maka kau tidak mengindahkan nikmat Tuhan yang telah Dia berikan padamu!”

Luhan terkekeh. Jessica kembali dibuat terkejut dengan sikap Luhan yang menurutnya aneh. Jessica baru tahu jika orang sedingin Luhan bisa tahu caranya terkekeh.

“Ke-kenapa reaksimu seperti itu?” tanya Jessica heran.

Luhan menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Mulai sekarang aku akan menyukai air laut.”

Bibir Jessica langsung membentuk senyuman, “Kalau begitu, buka sepatumu dan mari bermain air!!!”

Luhan hendak membuka sepatunya namun sepercik air mengenai wajahnya. Pria itu mengurungkan niatnya membuka sepatu kemudian dia dikagetkan kembali oleh Jessica yang kini mendorongnya hingga Luhan terjatuh dan membuat sebagian besar tubuh Luhan basah kuyup.

“Itu adalah ciri permainan di pantai. Badanmu tidak boleh kering.”

“Benarkah? Jadi aku boleh membuatmu basah kuyup juga?”

“Boleh saja. Memangnya kau bisa?”

Luhan menyipitkan mata, “Kau belum mengenalku sepenuhnya.”

“Maksudmu?”

Luhan langsung berdiri untuk membalas sikap Jessica. Namun karena tahu apa yang akan dilakukan Luhan, Jessica langsung berlari menghindari Luhan. “Coba saja tangkap aku!!!”

“Jangan salahkan aku jika kau tertangkap.”

Setelah berlari menghindari Luhan sekitar satu menit, Luhan pun dengan mudah menangkap dan memeluk Jessica dari belakang. “Ya! Larimu ternyata lambat, eoh?”

“Lepaskan aku atau hidupmu tidak akan tenang.”

“Coba saja jika kau bisa.”

Ya! Luhannnn!”

Jessica berteriak karena Luhan secara tiba-tiba menggendong Jessica ala bridal kemudian membaringkan Jessica di atas pasir pantai sehingga keadaan Jessica pun tidak beda jauh dengan Luhan. Merasa tidak terima, Jessica menarik tangan Luhan sehingga tubuh Luhan pun ikut terjatuh dan berakhir di atas tubuh Jessica. Bibir mereka pun saling bersentuhan, membuat tubuh keduanya membeku namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat melepaskan. Ini ciuman pertama mereka, yang entah kenapa membuat jantung Jessica berdetak lebih cepat.

Setelah kesadarannya pulih, Luhan langsung melepaskan ciuman itu lalu segera mengubah posisinya menjadi duduk di sebelah Jessica. Wanita itu pun bangun dari posisinya sehingga kini mereka duduk bersebelahan.

“Maaf,” ujar Luhan pelan.

Jessica melirik Luhan kemudian langsung menunduk ketika Luhan menoleh padanya. Pria itu lalu bertanya, “Kau marah padaku?”

Jessica hanya menggeleng sehingga Luhan menghela napas. “Aku tidak bermaksud—“

Perkataan Luhan terhenti karena Jessica tiba-tiba saja memberikan Luhan percikan-percikan air pantai sehingga membuat pria itu kewalahan.

“Anggap saja ini hukumanmu karena telah menciumku.”

Ya! Jessica!!”

Jessica tertawa melihat Luhan yang tampak kacau dan terus-menerus memohon padanya untuk berhenti. Kedua insan itu terus saja asik dengan kegiatannya walau matahari sudah mulai tenggelam.

***

Jessica duduk di tempat tidur dan tak henti-hentinya tersenyum. Dia akui, dia sangat bahagia hari ini. Selain bahagia karena bisa bermain di pantai setelah lumayan lama meninggalkan Jeju, dia juga bahagia karena berhasil melihat sisi lain dari Luhan. Dia senang karena Luhan tidak menunjukkan sikap dingin dan menyebalkan.

Klik!

Pintu kamar mandi hotel yang kini mereka tempati dibuka. Luhan keluar hanya dengan celana pendek dan tidak mengenakan apa-apa di bagian atasnya. Jessica langsung menunduk karena hal itu. Dia tidak terbiasa melihat seorang pria bertelanjang dada secara langsung seperti ini. Walaupun sudah lama tinggal bersama Luhan, tapi baru kali ini dia melihat Luhan tanpa atasan.

“Kenapa kau belum memakai bajumu?” tanya Jessica yang masih menunduk.

Luhan menyadari sikap Jessica yang tampak aneh. Dia segera membawa kaos putih di tas hitam dan segera memakainya. “Maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Aku.. sudah pakai baju.”

Jessica mendongkak kemudian tersenyum pada Luhan yang sudah berpakaian rapi. “Dari mana kau tahu aku menyukai pantai?”

“Yejin. Sahabatmu yang satu itu yang memberitahuku.”

Jessica mengangguk mengerti. “Terima kasih atas hari ini. Aku tidak menyangka kau membawaku ke pantai dan mempersiapkan segalanya untukku.”

Luhan menghampiri Jessica dan duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum kecil seraya berkata, “Ini merupakan bagian dari tugasku untuk membuatmu bahagia.”

“Aku suka senyumanmu.”

“Sungguh?”

Jessica mengangguk, “Lain kali kau harus lebih sering tersenyum.”

“Oh, baiklah.”

Wajah Jessica berubah sebal seketika, “Dan ku mohon berhenti berkata ‘oh, baiklah’!!”

***

Jessica membuka matanya perlahan karena sinar matahari yang masuk lewat jendela. Dia terduduk dari posisi tidurnya kemudian menyadari bahwa kini dia hanya sendiri. Luhan sudah tidak ada. Wanita itu mengambil ponselnya yang berada di meja kecil sebelah tempat tidur. Ada satu pesan masuk dari Luhan.

Maaf meninggalkanmu, ada hal penting yang harus segera aku urus di kantor. Nikmatilah akhir pekan di pantai. Nanti sore aku menyusul. Ah, aku mengetik pesan ini sambil tersenyum🙂 kau menyukainya, kan?

“Cih, tetap saja, aku tidak suka karena kau selalu sibuk. Menyebalkan!”

Jessica kembali meletakkan ponselnya. Senyumnya perlahan mengembang. Wanita itu pun tidak tahu mengapa dia tersenyum. Dia juga tidak tahu mengapa dia merasa bahagaia setelah membaca pesan dari Luhan. Jessica menggelengkan kepalanya dan hendak beranjak dari tempat tidur, namun dering ponsel mengurungkan niatnya. Dia kembali meraih ponsel miliknya. Kali ini ada pesan Line dari Yejin.

Yejin Lee:

Bagaimana bulan madu dengan Luhan? Berhasil? ^O^)/

Bulan madu apa? Dia hanya mengajakku ke pantai

Yejin Lee:

Itu juga sama saja dengan bulan madu -_- Ngomong-ngomong, bagaimana dengan hubungan kalian? Ada kemajuan?

Bagaimana, ya? Aku tidak tahu.

Yejin Lee:

Haisshh kalian ini suami istri yang paling kaku sepanjang masa:/

Ya bagaimana lagi. Keadaannya memang seperti ini

Yejin Lee:

Sebenarnya kau mencintai Luhan tidak, sih?

Aku tidak tahuuuuu

Yejin Lee:

–“ Atauu… apa di kampus ada seseorang yang kau incar? Apa di kampus kau menyukai seorang pria?

Tidak. Kenapa kau jadi bertanya seperti itu? Aku jadi bingung kita sedang membicarakan apa -,-

Yejin Lee:

Bagus jika tidak ada yang kau suka. Aku sedang membicarakan nasib rumah tanggamu dengan Luhan. Aku tidak bisa membayangkan kehidupanmu dengan Luhan yang monoton. Euhh ku harap cinta tumbuh di antara kalian berdua.

Tidak semudah itu, Yejin

Yejin Lee:

Kenapa? O.O

Tidak tahu. Hanya firasat.

Yejin Lee:

-_- ya sudah. Sebenarnya ada banyak yang ingin aku tanyakan dan bicarakan padamu, tapi  ada kegiatan kampus yang harus aku hadiri. Sampai nanti lagi…

Oke ^^

Jessica menghela napas lalu menaruh ponselnya kembali. Dia beranjak dari tempat tidur kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

***

Jessica terus memotret Luhan yang sedang berkutat dengan laptopnya. Pria itu menoleh pada Jessica lalu berkata, “Jess, apa tidak ada objek lain selain aku?”

Jessica menggeleng, “Aku akan terus memotretmu jika kau masih sibuk dengan pekerjaanmu. Bukankah kita datang ke sini untuk bersenang-senang?”

“Lima menit lagi, Jess. Lima menit lagi aku selesai, oke?”

Jessica mendengus kesal. Dia meletakkan kamera DSLR milik Luhan di meja kecil lalu berbaring mebelakangi Luhan. Pria itu pun menghela napas melihat tingkah Jessica. Luhan segera mematikan laptop kemudian berkata, “Aku sudah selesai. Apa yang akan kita lakukan?”

“Aku mengantuk, lebih baik kita tidur saja,” jawab Jessica dengan ketus.

“Oh, baiklah.”

Jessica langsung terduduk dari posisinya dan menatap tajam Luhan, “Sudah ku bilang, berhenti berkata ‘oh, baiklah’!!!  Kau ini menyebalkan, tahu! Kau benar-benar—hmmp.”

Jessica tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya telah dikunci oleh bibir Luhan. Wanita itu kaget dan masih saja terpaku walau Luhan sudah melepaskan ciumannya. “Bagaimana jika kita makan malam? Kau lapar, kan?”

“Oh, baiklah.”

Ajaib, ciuman yang diberikan Luhan mampu membuat Jessica mengatakan kata-kata yang paling dia benci. Luhan bukan manusia, tetapi penyihir, batin Jessica.

***

The day after tomorrow morning

Baekhyun memasuki news room yang merupakan ruangan khusus untuk mahasiswa Jurusan Jurnalistik. Di dalam news room tersebut terdapat sekitar sepuluh iMac yang disusun seperti ruang pemberitaan pada umumnya. Di ruangan itu pun terdapat dua buah TV untuk memantau siaran berita nasional dan internasional. Kini, hanya ada beberapa mahasiswa semester tiga yang sedang mengerjakan tugas di dalam ruangan tersebut, salah satunya adalah Hyoyeon. Baekhyun pun menghampiri temannya itu.

“Hyo, jadwal kita membimbing mahasiswa baru pukul berapa?”

Hyoyeon mengalihkan pandangannya dari komputer dan menatap Baekhyun heran, “Tidak ada jadwal bimbingan mahasiswa baru hari ini.”

“Lalu mengapa para mahasiswa baru diharapkan hadir hari ini?”

“Ah, itu karena mereka akan diberi sedikit pelajaran oleh Departemen X. Biasa, untuk melatih mental dan tata tertib dengan cara sedikit berbeda. Yah, kau tahu sendiri, Baekhyun.”

“Jadi hari ini Departemen X yang full mengambil alih kegiatan?”

“Yup.”

“Di mana Taeyeon?”

Hyoyeon mengangkat sebelah alisnya dan kembali bertanya, “Kenapa tiba-tiba mencari Taeyeon?”

“Di mana dia?”

Hyoyeon menghela napas karena pertanyaan Baekhyun mendesaknya untuk memberikan jawaban, “Dia sedang ada kelas. Profesor Park sedang—“

“Di ruangan apa?”

“Siapa?”

“Taeyeon.. kelas Taeyeon di ruangan apa?”

“Gedung dua, lantai tiga, ruangan satu. Mengapa sepertinya kau bersikeras untuk bertemu Taey—hey, Byun Baekhyun!!!”

Hyoyeon mendesah kesal karena pria itu sudah berlari meninggalkannya.

***

Taeyeon menatap Baekhyun dengan kesal. Bagaimana tidak kesal? Pria itu nekat menarik dia keluar dari kelas padahal Profesor Park sedang mengadakan kuis mata kuliah Filsafat. Untung wanita itu sudah selesai mengerjakan sehingga dia tidak usah khawatir ketika Profesor Park memberikan peringatan agar mengumpulkan tugas sebelum keluar kelas. Tapi tetap saja, Taeyeon belum memeriksa kembali hasil tugasnya. Untuk mahasiswa teliti seperti Taeyeon, mengumpulkan lembar jawaban sebelum diperiksa ulang adalah bencana besar. Dan Byun Baekhyunlah penyebab bencana itu.

“Kau menyimpan nomor seluruh mahasiswa baru, kan?”

“Ya.” Jawab Taeyeon singkat.

“Kirimkan nomor Jessica Jung.”

“Apa?”

“Kirimkan nomor ponsel Jessica Jung.”

“Kau ini…. kau memaksaku  keluar dari kelas hanya untuk—“

“Sekarang!”

Taeyeon mendengus kesal karena sikap Baekhyun yang menyebalkan. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan segera melakukan apa yang diinginkan Baekhyun. “Sudah terkirim.” Ucap Taeyeon ketus.

“Oke, thanks.”

Setelah berkata seperti itu, Baekhyun pun pergi meninggalkan Taeyeon dengan langkah yang terburu-buru. “Ck, kau benar-benar menyebalkan, Baekhyun!”

***

From: 8216171xxxx

Segera menuju kantin utama

-PK

“PK? Siapa PK? Pembimbing kelompok? Baekhyun? Hyoyeon sunbae?”

Jessica mengetik balasan pesan itu sambil terus berjalan menuju gedung jurusan.

To: 8216171xxxx

Aku ada jadwal bimbingan di aula. Ini siapa?

From: 8216171xxxx

Aku pembimbing kelompok. Hari ini tidak ada bimbingan. Segera menemuiku di kantin utama Jurnalistik.

“Pasti ulah pria tengil yang bernama Baekhyun.”

Jessica segera mematikan ponselnya dan memasukan ponsel ke dalam tas. Di hendak melangkah memasuki gedung Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi namun seseorang menariknya dan membawanya menjauh dari sana.

“Kau benar-benar keras kepala.”

Jessica meringis kesakitan ketika seseorang itu melepaskan tangannya. Wanita itu mendengus kesal karena ternyata orang yang menarik paksa dirinya adalah Baekhyun. “Aku ada jadwal bimbingan, tahu!! Kalau mau menggangguku jangan sekarang!”

“Ck, aku seniormu. Aku juga salah satu panitia penyelenggara Masa Bimbingan Mahasiswa Baru. Jadi, aku lebih tahu segalanya dan sekarang memang tidak ada jadwal bimbingan.”

“Kalau tidak ada kenapa aku dikirim pesan singkat untuk kumpul?”

“Itu pesan dari Departemen X. Masih termasuk rangkaian masa bimbingan, sih, tapi tidak resmi dan sedikit berbeda.”

Jessica menatap Baekhyun tidak mengerti, “Maksudnya?”

“Karena kau penasaran, akan aku tunjukkan padamu.”

***

Jessica benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Baekhyun. Pria itu membawanya ke lantai lima gedung Jurusan Politik. Dia dan Baekhyun kini sudah berdiri di depan sebuah kaca jendela besar. Di sana Jessica bisa melihat teman-teman satu angkatannya sedang berbaris di lapangan berpasir dan dikelilingi para senior berbaju hitam.

“Mereka sedang diberi sedikit palajaran mental dari Departemen X. Pelajaran yang sedikit berbeda.”

Mata Jessica langsung membulat ketika para senior berbaju hitam itu berpencar dan membentak teman-temannya, bahkan di antara teman-temannya ada yang disuruh push up. “Pelatihan mental dengan cara keras?”

Baekhyun mengangguk, “Ya. Cara yang kurang berpendidikan, menurutku. Seperti latihan militer, padahal masih banyak cara pelatihan mental yang lebih baik dan bermanfaat.”

Jessica menoleh pada Baekhyun, “Kau menyuruhku untuk menemuimu di kantin agar aku tidak mengikuti  pelatihan mental itu? Baekhyun sunbae, kau menyelamatkan aku dari segala siksaan yang ada di dalamnya. Terima kasih.”

“Aku tidak menyelamatkanmu.”

“Lalu?” heran Jessica.

“Aku memerintahkanmu untuk bertemu denganku karena aku sendiri yang akan melatih mentalmu. Tentunya dengan caraku sendiri.”

Mwo?!!”

Baekhyun tersenyum lebar, “Hari ini kau harus menuruti semua perintahku.”

***

Jessica mengutuk dirinya sendiri. Dia lebih baik ikut pelatihan mental dengan para senior dari Departemen X daripada pelatihan mental dengan seorang Byun Baekhyun. Pelatihan mental dengan pria itu membutuhkan kesabaran yang tinggi. Pria itu mengajaknya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan elektronik. Dia dipaksa untuk mengikuti Baekhyun melihat-lihat berbagai macam gadget.

“Sebenarnya kau ini ingin membeli smartphone, laptop, Ipad, atau apa, sih?”

Baekhyun yang sedang memeriksa keadaan ponsel smartphone bewarna putih itu menoleh pada Jessica, “Menurutmu?”

Jessica menaikan sebelah alisnya, “Mengapa bertanya padaku?”

“Kau ingin aku membeli smartphone, laptop, atau Ipad?”

Jessica menghela napas. Dia langsung saja menjawab pertanyaan Baekhyun agar pelatihan mental ini cepat berakhir, “Beli smartphone saja yang murah. Setelah itu, aku ingin pulang.”

“Kau tidak boleh pulang sebelum menraktirku makan siang.” Ucap Baekhyun sambil tersenyum pada Jessica.

Ya! Kau ini mau menyiksaku, ya?”

Ahjusi, aku ambil smartphone ini.” Ucap Baekhyun pada pelayan toko tanpa menghiraukan pertanyaan Jessica.

“Byun Baekhyun menyebalkan!!”

Baekhyun tertawa, “Kau seperti anak kecil saja, Sica-ya.”

“Aku tidak seperti anak kecil, kau saja yang membuatku bertingkah seperti anak kecil. Aku ingin pulang, tahu!”

“Setelah ini kita makan. Setelah makan, aku berencana mengajakmu nonton dulu di bioskop. Setelah nonton, baru kita pulang, oke?”

Jessica menghela napas. Baekhyun tersenyum kecil seraya mengacak rambut Jessica dengan lembut, “Oh, ayolah, aku mengajakmu bersenang-senang.”

“Ya, bersenang-senang, tapi semua itu memerlukan uang dan aku tidak membawa uang sama sekali. Bagaimana itu bisa disebut bersenang-senang? Yang ada kau malah menyiksaku.”

Baekhyun kembali tertawa, “Kau tidak perlu khawatir, kali ini semuanya aku yang bayar.”

“Sungguh?”

Eoh. Sungguh.”

Jessica tersenyum senang, “Kalau begitu, baiklah!”

“Cih, wanita memang matre.”

“Aku tidak matre. Aku hanya menerima tawaran yang kau berikan. Lagipula, kau yang menawarkan, bukan aku yang meminta.”

Baekhyun mengangguk. “Kau benar juga. “

***

Setelah makan siang usai, Jessica meminta Baekhyun untuk membelikannya es krim. Wanita itu memang tidak terbiasa jika setelah makan tidak memakan es krim. Rasanya sangat hampa jika dia tidak memakan es krim setelah makan.

“Pesan strawberry ice cream satu. Baekhyun-ssi, kau mau rasa apa?”

Pria itu tampak berpikir sambil melihat papan menu, “Coffee Ice cream.”

Strawberry ice cream dan Coffee ice cream satu, ya!” ucap Jessica bersemangat pada pelayan wanita.

“Baik, tunggu beberapa menit, ya.” Ujar pelayan itu ramah kemudian meninggalkan mereka.

“Jika kau pegal, kau bisa duduk dulu, biar aku yang membawa pesanannya.” Ujar Jessica.

Baekhyun menggeleng seraya tersenyum, “Jika aku duduk, kau mau bayar pake apa?”

“Tentu saja kau menyerahkan dulu uangnya padaku sebelum duduk.”

“Tidak bisa. Nanti kau korupsi.”

“Enak saja! Aku bukan tipe wanita yang seperti itu, tahu! Menyebalkan!”

“Yah, siapa tahu saja.” Ujar Baekhyun sambil terkekeh yang membuat Jessica semakin kesal.

“Pesan vanilla ice cream dan banana split.”

Jessica merasa dia mengenal suara pria yang baru mengucapkan pesanannya itu. Jessica langsung menoleh ke sampingnya, “Luhan-ah!” ujar Jessica dengan nada yang sumringah.

“Oh, Jess? Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang ada Masa Bimbingan?”

Jessica menggeleng kemudian menarik Baekhyun agar berdiri tepat di sampingnya. Wanita itu menunjuk Baekhyun seraya berkata, “Nih, dia yang membuatku tidak mengikuti pelatihan mental. Dia seniorku, Luhan-ah.”

“Sica, dia siapa?” tanya Baekhyun.

“Ah, benar, kalian belum saling kenal. Luhan, ini adalah Baekhyun, seniorku di kampus. Baekhyun, ini Luhan, dia adalah su—“

“Sepupu Jessica. Senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi.” Ujar Luhan sambil tersenyum.

Jessica langsung terdiam. Dia tidak mengerti mengapa Luhan harus berkata bohong tentang statusnya padahal Jessica berniat memberitahu Baekhyun bahwa Luhan adalah suaminya secara gamblang. Dan entah mengapa Jessica merasa sakit atas kebohongan yang baru saja Luhan ucapkan.

“Ah, sepupunya Jessica, kukira siapa.” Ujar Baekhyun.

“Luhanie, tidak ada jadwal film yang menyenangkan di bioskop. Setelah ini kita pulang saja.” Ucap seorang wanita yang baru saja menghampiri Luhan.

Wanita itu baru menyadari bahwa Luhan sedang berbicara dengan Jessica dan Baekhyun. Wanita itu pun langsung tersenyum ramah kemudian menyapa mereka, “Annyonghaseyo.”

“Kau siapa?” tanya Jessica spontan.

Wanita itu terdiam sejenak karena pertanyaan Jessica yang tiba-tiba, namun wanita itu segera tersenyum dan memperkenalkan diri, “Annyonghaseyo, Song Jieun imnida.”

“Dia teman lamaku, Jess. Kebetulan dia baru pulang dari Paris, jadi aku mengajaknya jalan-jalan.”

“Oh.” Jawab Jessica singkat.

Strawberry ice cream dan Coffee ice cream sudah siap,” ucap sang pelayan wanita memecah keheningan di antara mereka.

Baekhyun segera mengambil dan membayar pesanannya karena Jessica hanya berdiri kaku. Baekhyun yang menyadari sikap Jessica yang aneh langsung menggenggam tangan wanita itu. “Sica-ya, sebaiknya kita pergi.”

Jessica langsung mengangguk, “Eoh! Ayo pergi!”

***

Ya!!! Aku sudah mengeluarkan uang untuk es krim yang mahal ini tapi kau tidak mau memakannya?!” Teriak Baekhyun kesal pada Jessica.

Wanita itu menatap Baekhyun tajam, “Ish! Kau benar-benar tidak mengerti wanita!!”

Baekhyun mengerutkan keningnya, “Maksudmu?”

“Aku sedang bad mood, tidak ada hasrat untuk memakan es krim.”

Baekhyun menatap bingung Jessica yang duduk di sebelahnya, “Memang kau bad mood kenapa? Perasaan kau begitu bahagia ketika membeli es krim barusan. Yah, walaupun wajahmu berubah tidak menyenangkan ketika bertemu dengan wanita bernama Song Jieun itu. Hey, tunggu, apa kau sedang cemburu karena Luhan bersama Jieun?”

Jessica mendelik, “Mwo? Ti-tidak mungkin.”

“Ah, ya, tidak mungkin. Kau tidak mungkin cemburu karena Luhan sepupumu. Lalu kau bad mood karena apa? Karena aku memutuskan untuk tidak jadi menonton di bioskop karena tidak ada film seru? Atau kenapa?”

Jessica menggeleng lalu menghela napas, wanita itu pun tidak berniat menjawab pertanyaan Baekhyun dan malah bergumam, “Ya, Luhan adalah sepupuku—jika itu memang keinginannya. Mana es krim milikku?”

“Ck, kau tidak sopan.”

“Maksudmu?”

“Memintalah padaku dengan sopan dan lembut, baru aku akan memberikanmu es krim ini.”  Tutur Baekhyun sambil tersenyum jahil.

“Aku ingin memakan es krim milikku, Baekhyun-ssi. Jadi, ku mohon berikan es krim itu padaku.” Jessica menunjuk es krim miliknya yang ada di tangan Baekhyun sambil tersenyum paksa.

Oppa. Panggil aku oppa dulu.”

Jessica mendengus kesal, “Hanya menyerahkan es krim saja kenapa repot, sih?”

“Baiklah, akan aku buang es krim ini jika kau tidak mau memanggilku oppa.”

Wanita itu menghela napas, “Baiklah.. baiklah.. Baekhyun oppa, berikan es krim milikku sekarang juga.”

“Dengan nada yang lembut. Kalau bisa dengan aegyo.”

“Baekhyun oppppaaaaaishhh terserah jika kau mau membuang es krim itu!!” Jessica melipat kedua tangannya di dada.

Baekhyun langsung tertawa melihat tingkah Jessica. Wanita itu pun kembali dibuat kesal, “Kenapa tertawa, hah??”

Baekhyun menggeleng, “Tidak. Kau lucu ketika marah hahahaha…”

“Byun Baekhyun menyebalkan!!”

Baekhyun berhenti menertawakan Jessica. Dia memberikan es krim itu pada Jessica. “Makan yang lahap, setelah itu akan aku antar kau pulang.”

“Aku tidak mau pulang.”

“Kenapa? Bukankah sedari tadi kau ingin pulang?”

“Tidak jadi. Aku tidak ingin pulang.”

“Baiklah, jadi kau mau ke mana setelah ini?”

Jessica menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi yang penting, aku tidak mau pulang.”

“Kalau begitu, kau ikut denganku saja.”

“Kemana?”

Baekhyun tersenyum, “Ke tempat yang akan membuatmu lebih mengetahui jurnalistik.”

***

Baekhyun ternyata membawa Jessica ke lab fotografi jurusan. Di dalam lab tersebut terdapat sebuah ruangan yang menampilkan galeri mini yang memajang foto-foto terbaik hasil karya mahasiswa Jurnalistik. Jessica dibuat kagum oleh foto-foto tersebut.

“Foto-foto ini merupakan foto Jurnalisme. Semua foto ini diambil dari sudut pandang jurnalistik, berbeda dengan foto lainnya.”

“Berbeda bagaimana? Foto-foto ini menurutku sama saja dengan foto biasa.”

Baekhyun tersenyum, “Jika kau memerhatikan setiap foto ini dengan seksama, kau akan merasakan perbedaannya.” Baekhyun mengalihkan pandangannya terhadap foto-foto jurnalisme yang dipajang, “Setiap foto yang ada di sini menyampaikan pesan tentang suatu peristiwa yang dipotret. Semuanya memiliki kisah. Kisah yang jujur tanpa adanya rekayasa.”

Jessica menggaruk tengkuknya karena belum memahami apa yang Baekhyun katakan, “Mungkin nanti aku akan mengerti.”

Baekhyun kembali menoleh dan menatap Jessica, “Aku ingin bertanya padamu, apa yang membuatmu ingin kuliah di Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi?”

Wanita itu mengangkat bahu, “Tidak tahu, mungkin karena aku suka menulis? Dan… profesi jurnalis terlihat sangat keren. Apalagi ketika meliput skandal artis-artis di dunia entertaiment. Tampaknya seru juga berburu gosip.”

Baekhyun langsung menghela napas, “Jessica.. Jessica, pengetahuan umum tentang dunia jurnalistik harus kau tingkatkan. Wartawan gosip—atau segala macam tentang dunia entertaiment yang tidak jelas—bukanlah bagian dari jurnalistik. Seorang jurnalis hanya menyampaikan berita yang benar juga yang penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Gosip tidak jelas asal-usulnya dan sangat tidak penting untuk disebarluaskan, jadi itu bukan bagian dari jurnalistik.”

“Ahhh, begitu. Tapi, kudengar jurnalis juga meliput tentang dunia entertaiment.”

“Ya, memang, jurnalis tidak hanya meliput hard news saja, dunia entertaiment seperti musik, movie, juga kuliner termasuk dalam kegiatan jurnalisme. Tapi tetap, kita hanya meliput kebenaran dan hal penting yang berguna bagi masyarakat. Gosip tidak termasuk. Ketika kau mulai kuliah perdana, kau akan dijelaskan tentang hal ini dalam mata kuliah Lingkup Jurnalistik.”

Jessica mengangguk mengerti, “Ternyata ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang jurusanku. Ah, ya, kau sendiri kenapa mau masuk ke Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi?”

Baekhyun tersenyum kecil, “Kau tahu tentang sembilan elemen jurnalisme?

Jessica menggeleng, “Bahkan aku baru mendengarnya.”

“Kalau begitu, kau harus mencari tahu tentang hal itu. Salah satu elemen tersebut merupakan alasan mengapa aku ingin mempelajari jurnalistik.”

Wanita itu mengangguk mengerti. “ Lalu, setelah melihat foto-foto ini, kita akan melakukan apa lagi?”

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Jessica. Dia menggenggam tangan Jessica dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat televisi juga mini home teater. “Kita akan menonton sebuah film tentang seorang jurnalis yang tewas karena beritanya yang mengulas kebenaran.”

Jessica mengerutkan kening, “Film apa?”

“Veronica Guerin. Jurnalis investigasi wanita yang mampu menurunkan tingkat kriminalitas di Irlandia sebanyak 15%.”

“Sepertinya menarik. Dan, hey, ternyata banyak sekali ilmu yang aku dapat darimu. Kadar menyebalkanmu berkurang lima persen.”

Baekhyun tertawa mendengar ucapan Jessica, “Jangan salah, aku akan kembali menyebalkan setelah kita selesai menonton.”

“Yah, terserah.” Ujar Jessica sedikit jengkel.

***

Luhan segera berdiri ketika pintu rumah dibuka. Pria itu langsung melontarkan pertanyaan pada Jessica yang baru saja datang, “Kau habis dari mana saja? Kenapa baru pulang?”

Wanita yang ditanya malah memutar bola matanya malas, “Bukan urusanmu.”

Jessica hendak meninggalkan Luhan dan segera menuju kamar, namun pria itu menahan lengannya, “Apa kau marah padaku?”

“Tidak. Aku tidak marah padamu, sepupuku.” Ucap Jessica sambil menatap Luhan dengan tajam.

“Jess, aku tidak bermaksud—“

“Terserah jika kau tidak mau mengakui aku sebagai istrimu. Aku akan menyembunyikan status hubungan kita dengan senang hati. Ya, kita harus pura-pura di depan publik. Kau adalah sepupuku, bukan suamiku, begitupun sebaliknya.”

“Jess—“

“Aku ingin tidur. Selamat malam.” Jessica segera meninggalkan Luhan setelah berkata seperti itu.

Luhan menghela napas seraya bergumam,  “Apa tindakanku salah lagi?”

***

Maaf postingnya lama ya, akhir-akhir ini aku sibuk UTS dan sibuk kegiatan UKM, jadi baru sempet posting sekarang deh ._.v  Konfliknya belum membingungkan, kan? Lagi-lagi, ini masih permulaan konflik kok. Next chapter akan aku buat dari sisi Luhan juga Baekhyun agar jalan cerita lebih jelas.

O iya, hanya ingin ngasih tahu, quotes yang aku tulis di awal cerita bukan sekedar quotes belaka loh, quotes itu secara tidak langsung menjelaskan jalan cerita ff ini. Quotes yang di chapter 1 dan chapter sekarang juga menjelaskan isi cerita ff secara kronologis. Hayooo, siapa yang udah bisa nebak apa makna dari kedua quotes tersebut untuk ff ini? :3

104 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 2

  1. thor kenapa ini ….stelah bca nyesek bgt d hti ….luhan nya jga knapa mlah ngaku spupu sica eonni…..pdhl jka luhan ngaku suami sica eonni kan ga bkln ada yg ngerebut sica eonnibdri luhan…..tapi tetep bgus thor hehe

  2. thor kenapa ini ….stelah bca nyesek bgt d hti ….luhan nya jga knapa mlah ngaku spupu sica eonni…..pdhl jka luhan ngaku suami sica eonni kan ga bkln ada yg ngerebut sica eonnibdri luhan…..tapi tetep bgus thor hehe…

  3. Apa hubungan luhan dengan jieun?
    Kenapa luhan enggak mengakui ke baekhyun kalo sica itu istrinya -,-
    Luhan kau sungguh kejam -__-

    Pairing akhirnya baekhyun dan sica ya?

  4. Yahhh.. Sica marah deh sama Luhan. . Baekhyun nyebelin banget :3 .,, Tapi, itulah yang membuat ff ini ada comedynya juga..

    Aku suka banget sama ff ini.. ijin baca kelanjutannya th0r ..

  5. luhan ni emang bikin kesel pake ngomong sepupu lagi dasar pasti shinjieun itu mantannya luhan hahhh baekhyun nyebelin anaknya tapi bikin sica nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s