[Freelance] Drabble : Please,Wait Me..,Noona

Title

Please,Wait Me…,Noona

Author

Fadila Setsuji

Genre

Sad,Family

Length

Drabble

Cast

Jessica-Chanyeol

=Happy Reading=

 

Sungguh,dunia ini rasanya begitu sempit. Mengapa diantara begitu banyaknya keberadaan makhluk bernama wanita,aku harus mencintainya?  Mengapa diantara puluhan wanita yang menaruh hati padaku,aku justru memilihnya? Padahal pertemuan pertama kami saja berawal dari sebuah insiden yang tidak mengenakkan. Dia mengira aku adalah stalker,hingga memukuli beberapa bagian tubuhku dengan ranselnya. Rasanya bukan seperti ransel,melainkan hujaman beberapa buah bata saat benda itu menghantami tubuhku. Saat itu aku mengumpat,berharap umpatanku menjadi doa yang Tuhan akan kabulkan. Jadilah perawan tua,kira kira kata kata itu yang aku ingin Tuhan mengabulkannya.

Sayang,Tuhan tak mengabulkannya. Aku merasa seperti pengadilan Tuhan tak berlaku. Apa artinya doa orang ter’aniaya’ seperti aku ini dimata-Nya? Apakah suaraku harus kulantangkan dulu,baru terkabul? Ataukah harus aku sendiri yang memberlakukan hukum pengadilan? Memberi pembalasan setimpal kepada sang pelaku?  Tidak! Aku takkan mau merusak imageku dimata para kaum wanita,hanya karena si gadis perawan tua yang kuakui cukup menarik hatiku. Apa?

 Plak

 Bugh

 Plak

Suara tamparan dan hantaman terdengar olehku ketika aku tak sengaja melewati sebuah gang sempit,yang tak jauh dari tempat si perawan tua itu bekerja. Dia adalah seorang karyawan disebuah minimarket. Aku tahu itu karena beberapa hari setelah insiden ‘pemukulan’ dirinya terhadapku aku tak sengaja melihatnya ditengah malam,menjaga sebuah minimarket. Dengan penampilan apa adanya,gadis itu terlihat kalem menurutku. Kalem? Tunggu dulu! Apa yang kukatakan barusan?

Sudahlah,itu tak penting. Yang sekarang adalah melihat kondisi orang malang yang tubuhnya baru saja terkena hantaman itu

“Tao… Aku mohon… Berhenti!!!”

“Berhenti katamu?! Jangan pikir aku akan berhenti memukulmu saat ini,nona Jung! Kau membuatku jatuh cinta padamu,padahal kau itu anak terlantar!”

Pertengkaran yang terjadi itu,hantaman yang baru saja kudengar itu ternyata pelakonnya adalah mereka,yang mana diantara keduanya aku mengenali salah satunya. Yaitu dia,si gadis yang tengah dipukuli seorang namja yang entah siapa. Kekasihnya? Jika benar,maka dia benar benar bertindak keterlaluan!

“Kau…”

Tubuhku bergerak menahan tangannya yang telah bersiap untuk kembali melayangkan tamparan diwajah gadis itu.

“Hentikan”

“Kau…”

“Kubilang hentikan!”Hardikku. Lantas namja itu menatapku sinis,sebelum akhirnya dia memilih untuk mengalah. Sepertinya latihan beladiriku ditahun ini telah kuterapkan dengan baik.

“Cih! Kau gadis  menyebalkan! Pergilah bersama namja aneh itu!”Dia mengumpatiku sebelum pergi. Aku harap aku bisa menghajarmu lagi,suatu saat!

“Tao…”

Gumaman yang begitu lirih kudengar meluncur dari bibir ranumnya itu. Dia lantas menggigiti bibir ranumnya tersebut,mencoba menahan airmata yang makin memenuhi pelupuknya. Tak perlu kutanyai keadaannya. Pasti menyakitkan,terutama bagi dia yang seorang wanita

Aku rasa aku sudah tidak waras,ketika kubiarkan tubuhku merendahkan posisi,menyejajarkan dengan wanita yang kini tengah menangis itu. Lantas merengkuhnya dalam dekapanku,membiarkannya meloloskan isakan. Bukankah aku membencinya?

“T-tao…”

.

.

.

“G-gomawo…”

Sembari tersenyum,gadis dihadapanku ini mengucap terima kasih.

“Sudahlah. Cepat obati lebammu itu”ujarku. Gadis itu lantas tersenyum dan tiba tiba mengulurkan tangannya padaku

“Aku… Sooyeon,Jung Sooyeon”ujarnya

“C-Chanyeol. Park Chanyeol”dengan ragu,kusambut uluran tangannya tersebut. Dan aneh,ketika menyentuh tangannya, darahku berdesir. Perasaan apa ini?

“Eum… Maaf untuk yang waktu itu. Aku salah paham dan meimbukmu dengan ranselku”

“S-sudahlah… Sudah berlalu”

Kau sepertinya benar sudah gila,Park Chanyeol!

= Please,Wait Me…,Noona =

Beberapa kali aku menemuinya setelah itu. Sooyeon,gadis itu ternyata sibuk menjaga adiknya yang masih kecil. Soojung,nama adiknya itu. Perlahan,aku mulai mengetahui cukup banyak hal dalam hidup seorang Sooyeon setelah hubungan kami menjadi dekat. Dia gadis yang kuat,berjuang mengurusi adiknya seorang diri. Tanpa kedua orangtuanya. Aku mengaguminya…

“Sooyeon-ah”

“Eoh?”

“Kapan kapan ayo jalan jalan bersama”

“Tapi…”

“Ajak saja Soojungi”

“Tapi… Apa tidak merepotkanmu?”

Gadis dihadapanku ini masih sungkan rupanya

“Aish! Bagaimana bisa kau merasa merepotkanku sedangkan kita ini….”

Bibirku mengatup tiba tiba. Tak ada kata kata yang mampu kuucap saat itu.

“Kita…Kenapa?”Tanya Sooyeon

“Ah,aniyo! Yang jelas ajak Soojung juga,arra!”

“E-eoh… Arra”

“Aku pergi dulu! Aku harus kuliah besok”

“Ne”

.

.

.

“Nugu…ya?”

Ketika aboji berpapasan denganku,yang kulihat saat itu beliau tak sendirian melainkan ditemani seorang wanita seusianya. Sontak ketika kami berhadapan,kulayangkan pertanyaan itu. Aku belum mengenal wanita itu…

“Ini nyonya Kim,calon ibu barumu”

Ada apa lagi ini? Apalagi kenyataan menyakitkan yang harus aku hadapi? Tidak cukupkah dengan ibu yang meninggalkanku bersama aboji? Tidak cukupkah aboji saja dihidupku? Mengapa harus ada yang menggantikan eomma?

“A-an…nyeong…”

Hatiku takkan mungkin mengikhlaskan semua. Aku tidak ingin siapapun menggantikan umma

= Please,Wait Me…,Noona =

 

“Kau mabuk?!”

Samar samar,kudengar suara seseorang yang aku kenal

“Soo…Yeon?”

“Ne! Ini aku,dasar bocah nakal!”

“Hehehe,uhuk”

Kemudian wanita yang-dengan keadaanku yang setengah sadar-kutahu adalah SooYeon- itu kini memapahku,dan kemudian setelahnya aku merasakan siraman air yang dinginnya menusuk hingga pori poriku.

“Yak! Dingin!!!”

“Ini untuk menyadarkanmu lagi! Babo!”

Hingga kesadaranku telah kembali,Sooyeon masih saja menyiramiku dengan air. Cukup!

Grep

Terima kasih untuk perbedaan tinggi kami,hingga membuatku bisa menghentikan apa yang dia lakukan

“Yak… Appo!”Rintihnya

“Makanya berhenti”

Mata kami beradu,membuatku seakan terhipnotis. Memperpendek jarak kami,hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang begitu lembut.

“C-Chanyeol…” Sooyeon mengedipkan matanya beberapa kali. Apa dia gugup?

“Sooyeon… Sarang…”

“EONNI!!!”

Pekikan Soojung-yang sepertinya sedang mengingau-,menyadarkanku. Lantas dengan segera kujauhkan wajahku dari wajahnya. Hampir saja…

“M-mian…”Ucapku

“A-aniyo. Gwenchana!”

Lantas kami tertawa sebelum akhirnya aku menggapai jemarinya,menahannya dan kemudian mendekapnya

“Y-yak…”

“Apa yang harus kulakukan…Sooyeonni?”

.

.

.

“Sudahlah Chanyeol. Kau juga harus belajar mengikhlaskan semuanya”

Sooyeon mendengarkan ceritaku setelah aku selesai berganti pakaian dengan sebuah pakaian yang dia tawarkan padaku.

“Tapi… Aku masih menyayangi eommaku,Sooyeonni”

“Seperti aku… Yang juga mengikhlaskan kepergian umma”

“Mwo? Apakah… Eomma mu meningg-”

“Aniyo. Tapi eomma pergi,menelantarkanku dan juga Soojung”

Yeoja ini,matanya menjadi sendu. Mungkin ingatannya akan sosok eommanya itu penyebabnya…

“Kau… Merindukannya?”

“Kadang…”Ujarnya terputus. Yeoja itu menghembuskan nafas sejenak,sebelum akhirnya kembali akan berkata kata”aku merasa kadang aku tak cukup kuat jika hanya bersama Soojung sa…ja…”

Liquid mulai memenuhi pelupuknya. Dan entah keberanian darimana kudapatkan hingga aku berani memeluknya. Membiarkannya menangis dalam dekapanku,sama seperti ketika dulu.

Aku pasti akan membahagiakanmu,Sooyeon…

Itu janjiku padamu

 

= Please,Wait Me…,Noona =

 

“Nyonya Kim ini… Sedang mencari kedua anaknya”

Aboji mulai menceritakan kisah sang calon pendamping barunya padaku,ketika kami sedang makan malam bersama. Dan yang kusaksikan saat itu, wajah nyonya Kim amat sedih.

“M-mwo?”

“Appamu benar,Chanyeol. Ajjuma sedang mencari kedua putri ajjuma. Yang dulu sempat ajjuma tinggalkan”jelasnya “bukan sengaja,namun saat itu ajjuma dibawa pergi oleh seseorang dan selama beberapa tahun ajjuma terpisah dari kedua putri ajjuma”

Beliau,nyonya Kim menatapku sembari tersenyum tipis. Kemudian dibelainya kepalaku dengan penuh sayang,hingga berujung dengan beliau yang menangis mendekapku.

“Putriku…”

Bisikan yang amat lirih,membuatku termangu. Mengingatkanku… Pada sosok menyedihkan yang kiranya sama seperti  Kim ajjuma…

.

.

.

“Soo…Yeon?”

Kejadian malam itu,membuat pikiranku terasa berat. Memikirkan Kim ajjuma dan appa. Aku bahkan lupa,hampir 3 hari lamanya aku tak menemuinya.

Betapa lamanya tiga hari itu,hingga kudapati keadaan tempat tinggalnya yang kini kosong.

“Mereka… Gadis-gadis itu sepertinya dijemput ibu kandungnya…”

Begitulah keterangan yang kudapat dari tetangga sebelah mereka. Ini berarti Sooyeon telah bersama eommanya?

Haruskah aku berbahagia?

Atau harus bersedih?

“Bahkan… Aku belum mengatakan perasaanku padamu,Sooyeonni…”

.

.

.

Aku kembali kehilangan. Eomma,berikut gadis yang kucintai.Jika saja Tuhan menyadarkanku lebih cepat,mungkin sekarang aku tengah berbagi kasih dengan gadis itu…

“Chanyeol”

Appa memanggilku yang sedang menghabiskan waktu sembari duduk dibibir jendela,menatap rembulan yang muncul lebih awal itu. Membayangkan jika satelit alami bumi tersebut adalah wajah Sooyeon

“Waeyo?”

“Nyonya Kim… Katanya sudah menemukan putrinya”

Benarkah? Aku turut mengucap syukur mendengarnya…

“Eoh”

“Nyonya Kim ingin kita datang ke pemakaman eomma mu,Chanyeol”ujar appa “beliau sudah menunggu kita disana”

Banyak hal yang memenuhi kepalaku saat ini,membuatku tak sanggup memikirkan apapun. Termasuk menolak ajakan ajjuma yang sedang berbahagia itu

“Arra. Aku akan segera bersiap”

.

.

.

Entah ini kunjunganku yang keberapa kali. Beberapa tahun belakangan aku mulai jarang mengunjungi beliau. Maaf,aku berubah menjadi anak durhaka eomma…

“Kau senang kan,kita mengunjungi eommamu?”

“Eoh”

Pemandangan di sepanjang perjalanan sedikit menenangkanku,menghilangkan sedikit kepenatan yang belakangan memenuhi diriku.

” Kim ajjuma…Apa beliau tinggal bersama putrinya sekarang?”

“Begitulah”

Ada sedikit rasa penasaran yang terselip dihatiku ketika pertanyaan itu kulontarkan. Perasaan apa ini?

.

.

.

“Ayo kita turun”

Masih dengan keadaan yang sama,guguran dedaunan tua yang memenuhi tanah yang kupijaki dan juga deretan pohon oak yang tumbuh. Menambah keindahan tempat ini. Tempat peristirahatan eomma…

Dalam ingatanku,bayang bayang eomma tergambarkan. Tak begitu jelas,karena segera gambaran itu berganti dengan wajah Sooyeon…

Aku masih merindukannya…

“Oppa?!”

Suara yang memanggilku oppa itu…

“Soo…Jung?”

Gadis kecil itu… Soojung?

“C-Chan…Yeol?”

Dan suara yang memanggilku Chanyeol itu…

“Soo…Yeon…”

Dalam sekejap,rasa penasaranku terjawab.

Cukup jelas dengan Sooyeon yang kini menggandeng lengan nyonya Kim… Dan Soojung kecil yang kini berada dalam pelukan wanita paruh baya tersebut…

 

= Please,Wait Me…,Noona =

“Chanyeol… Kau dimana?”

Sooyeon… Yeoja ini menghubungiku

“Aku baik baik saja,jadi kau tenanglah disana”

Aku tak cukup baik,Sooyeonni. Nyatanya… Aku masih disini,masih memandangi lautan yang tak mampu kulihat ujungnya.

“Tapi… Kami mencemaskanmu”

Aku pun kurang lebih sama…

“Sooyeonni…”

Dengan lirih,aku memanggilnya…

“Mwoya?”

Suaranya… Masih saja lirih. Padahal aku menjanjikannya kebahagiaan. Tapi..,bahkan ketika aku tak ada disana,ketika aku hanya bisa mendengar suaramu… Mengapa masih saja tak kurasakan  kebahagiaan di dirimu?

“Bisakah… Kau meungguku?”

“M-mwo?”

“Tunggu aku… Hingga aku kembali”

“Hingga aku bisa… Menjadi adikmu,noona”

“Hingga aku… Berhenti mencintaimu…”

Percakapan itu,berakhir dengan aku yang sendiri. Mengapa takdir menghadapkanku pada kenyataan pahit. Matipun rasanya lebih mengenakkan dibanding menelan kekecewaan mendalam karena harus memaksakan diri menerima kenyataan yang amat menyiksa.

 

Karena itu,berapapun lamanya waktu berlalu,tunggu aku…

Tunggulah hatiku ini…

Untuk menerima semuanya…

 

=END=

beberapa adegan gak aku perjelas. Selain karena ini drable,aku bikinnya ini pas lagi galau gegara mikirin nasib aku sekarang yang udah kelas 3-__-#beuh. Udah gitu, aku kepikiran soal keinginan aku yang gak mau kuliah,yang bikin temen ngatain aku udah gila. Emang orang gak mau kuliah itu gila yah? ._. Gak kan?  

Bukan gak mau. Banyak yang aku pertimbangin kalo mau kuliah nanti. Jurusan yang mau diambil,trus universitas mana yang nantinya dipilih. Jujur,aku bahkan sekarang gak mikirin mau kemana dan jadi apa nantinya#madesu-__-  Mau milih jurusan akuntansi… Bikin kolomnya neracanya aja males! Mau masuk hukum… Takut ama hapalan pasalnya-__- Mau masuk jurusan sosiologi? Ini sih maunya aku,hehehe🙂 tapi gak PD –_____–#yailahribetbanget!

Karena jurusan IPS , jadi gak semua jurusan bisa diambil-__- ngerasa gak adil sih sebenarnya… Cuma,yah mau diapain lagi. Emang udah takdirnya anak IPS kayak gini-___- Cuma bisa bilang,dunia gak adil!

Apa baiknya aku gak kuliah aja? Ngabisin waktu buat nyari kerja? Atau bikin sekuel ff ini aja dulu?

Ada yang bisa kasih saran? Kalo ada,dimohon banget soalnya aku emang lagi butuh… :( 

16 thoughts on “[Freelance] Drabble : Please,Wait Me..,Noona

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s