[Freelance] It’s not Sleeping Beauty Story (Chapter 1)

 

It’s not Sleeping Beauty Story (Chapter 1)

Title       : It’s not Sleeping Beauty

Author  : Kang Tae Hee

Rating   : PG – 15

Length  : Series

Genre   : Romance, sad

Main Cast :

– SNSD Jessica

– EXO Sehun

– EXO Luhan

– F(x) Krystal

Other Cast :

– F(x) Victoria

– EXO

– SNSD

Suara riuh penonton terus terdengar saat keenam lelaki yang merupakan anggota dari sebuah boygroup itu sedang menyanyi. Lagu yang dinyanyikan secara live, tanpa adanya lypsinc membuat semua fans terkagum-kagum dan menunjukkan keprofesionalan yang ditunjukkan oleh boygroup tersebut. Dari keenam lelaki tersebut, teriakan untuk Sehun merupakan teriakan yang paling banyak. Semua penggemar akan berteriak sangat histeris saat lelaki itu melantunkan part rappnya. Apalagi beberapa kali sebuah senyuman terlihat menghiasi wajah Sehun, dan itu cukup membuat beberapa fans berteriak histeris layaknya orang gila.

“ Sampai jumpa di konser berikutnya. Aku mencintai kalian.” Ujar Sehun saat konser akan berakhir, teriakan histeris fans terdengar kala Sehun mengatakan ‘aku mencintai kalian’. Pernyataan sederhana bagi seorang Oh Sehun itu ternyata bisa menjadi sebuah sihir bagi para fansnya untuk menjadi lebih histeris lagi.

“ kau baik-baik saja?” bisik Kai yang berdiri di samping Sehun dengan nada yang cukup khawatir saat Suho sedang berbicara kepada para fans. Wajah Sehun yang memang terlihat sangat pucat membuat Kai tahu bahwa temannya itu sedang tidak baik-baik saja. Apalagi sepanjang konser tadi Sehun memang sempat kacau dalam menari karena sepertinya cederanya kembali kambuh. Untung saja Sehun bisa menahannya hingga saat ini.

“ ya. Kau tenang saja, hyung.” Ujar Sehun sambil memaksakan senyumannya. Wajahnya memang terlihat pucat karena sedari konser dimulai Sehun merasakan pinggang dan kakinya sangat sakit. Sepertinya cederanya menjadi semakin parah dari sebelumnya.

“ Sampai jumpa.” Ujar semua anggota EXO lalu pergi meninggalkan panggung. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, suara seseorang jatuh membuat kelima anggota EXO menoleh ke arah Sehun yang memang berjalan paling belakang. Dilihatnya Sehun terlihat pingsan, sontak saja mereka berteriak “Sehun!”

 

***

 

Untuk keempat kalinya gadis yang memiliki rambut pirang itu terlihat menguap dalam sepuluh menit terakhir ini. Beberapa kali pula gadis itu terlihat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Padahal sepupunya telah berjanji untuk menjemputnya tepat waktu, tapi sudah hampir satu jam gadis itu menunggu, sepupunya itu tak kunjung datang.

Helaan nafasnya terdengar sangat jelas dan menandakan bahwa gadis berambut pirang itu sudah bosan. Dia bersumpah dalam hati, dia akan memarahi sepupunya saat sepupunya itu datang di hadapannya. Pandangan matanya terlihat dia edarkan ke seluruh penjuru bandara, sambil dalam hati dirinya berharap bahwa sepupunya itu akan muncul diantara orang-orang yang berlalu-lalang itu.

“ Jessie!” ujar seseorang memanggil nama gadis berambut pirang yang sedaritadi hampir mati karena menunggu orang tersebut. seperti biasa, Jessica memberikan icy glarenya itu pada sepupunya yang terlihat tak berdosa sama sekali meskipun sudah telat menjemputnya. Bahkan sepupunya itu masih sempat-sempatnya tersenyum cerah padahal dirinya yang sudah memberikan wajah dinginnya.

“ ahh. Maaf. Tadinya aku ingin tepat waktu. Tapi fancam konser EXO di Jepang kemarin benar-benar menggodaku untuk menontonnya.” Ujar Tiffany, sepupu Jessica mengatakan hal apa yang membuatnya telat menjemput Jessica. Jessica memutar bola matanya sambil menghela nafas panjang untuk menahan amarahnya. Alasan Tiffany benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Ayolah, Tiffany lebih mementingkan EXO yang bahkan mungkin tak pernah tahu Tiffany sama sekali.

“ ahh. Dan apakah kau tahu? Sehun pingsan di panggung. Dia cedera, dan yang kudengar dia akan mengambil hiatus satu bulan.” Ujar Tiffany sontak membuat Jessica memandangi wanita itu dengan pandangannya yang sangat tajam. dia sedang tidak mood untuk membicarakan Sehun ataupun siapa itu. Lagipula tinggal selama hampir dua tahun di Kanada membuatnya tak mengetahui hal apapun yang terjadi di Korea.

“ Tsk. Aku sedang tidak mood membahas Sehun. Aku tak mengenalnya.” Ujar Jessica pada akhirnya memilih untuk berjalan mendahului Tiffany. Selain karena Jessica tidak mengetahui Sehun, gadis itu sedang kesal pada idola Tiffany tersebut karena telah menyebabkan Tiffany telat menjemputnya.

 

***

 

Kali ini Tiffany benar-benar harus pasrah karena Jessica sepertinya berniat untuk menguras dompetnya sebagai hukuman karena dirinya telah terlambat datang menjemput gadis itu. Di dalam troly yang Tiffany dorong sudah penuh oleh berbagai makanan kesukaan Jessica. saat Tiffany memprotes gadis itu untuk tidak membeli banyak makanan, Jessica akan menjawab ‘kita akan malas belanja makanan nanti. Ini untuk persediaan’.

“ ahhh. Tiff, aku ingin ramen juga.” ujar Jessica terlihat berjalan ke tempat berbagai ramen ada dengan sangat semangat. Gadis itu berbeda sekali saat tadi ketika dirinya berada di bandara. Setidaknya sekarang Tiffany bisa bernafas lega, Jessica bisa disogok dengan makanan dan tak marah pada dirinya.

“ maaf.” Ujar Jessica saat menabrak seseorang membuat dirinya harus menghentikan langkah kakinya. Pandangan mata yang begitu dingin dilontarkan orang tersebut pada Jessica. Membuat Jessica secara reflek menahan nafasnya dengan pandangan yang terus ditujukan pada orang tersebut.

“ maaf.” Ujar Jessica sekali lagi namun tak ada respon dari orang tersebut. lelaki di hadapannya itu terus memandangi Jessica dengan wajah tanpa ekspresinya. Namun sepertinya lelaki itu sadar akan sesuatu karena kepalanya terlihat menggeleng keras sambil bergumam kecil ‘tidak mungkin’. Namun sayangnya gumaman tersebut dapat didengar oleh Jessica.

“ permisi, tapi apanya yang tidak mungkin?” ujar Jessica terdengar cukup bingung membuat orang itu sekali lagi menggelengkan kepalanya namun tetap dengan ekspresi wajahnya yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Detik berikutnya lelaki itu terlihat meninggalkan Jessica tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

“ ah, orang aneh.” Cibir Jessica.

“ Tiffany mana?” ujar Jessica mengedarkan pandangannya untuk menemukan sepupunya yang tiba-tiba saja menghilang.

 

***

 

“ tidak mungkin kan, Taemin? Ayolah, mana mungkin itu dia.” Ujar Luhan terlihat gelisah sambil mondar-mandir di depan kamarnya. Beberapa kali lelaki bernama Luhan itu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Semuanya membuat dirinya benar-benar menjadi merasa sangat gila. Sekarang dia berpikir semua yang dikatakan oranglain itu benar, dirinya memang terlalu sering berhalusinasi. Tapi gadis yang ditemuinya tadi benar-benar sangat mirip dengannya. Luhan tak mengelak bahwa dirinya berharap gadis yang ditemuinya tadi adalah gadis yang beberapa tahun terakhir ini menghilang dari hadapannya.

“ ya, mana mungkin. Kau kan telah membunuhnya.” Ujar Taemin terlihat menuduh Luhan membuat Luhan menundukkan kepalanya. Perasaan bersalah, kecewa, marah, serta rasa benci pada dirinya sendiri memenuhi hati Luhan. Kejadian beberapa tahun lalu kembali terputar di otak Luhan. Lelaki itu terlihat menggelengkan kepalanya kuat. Matanya terlihat terpejam sambil berkali-kali menghela nafas panjang, berharap rasa sesak yang tiba-tiba muncul itu menghilang. Dia benci saat orang-orang mulai menyalahkannya. Dia benci hal itu.

“ a.. aku bukan pembunuh.” Ujar Luhan lemah namun hanya ditanggapi tawa sinis dari Taemin. Perasaan bersalah dan menyesal terus menyelimuti hati Luhan beberapa tahun terakhir ini. andai Luhan tak memaksa gadis itu untuk mengikuti apa yang dirinya mau, hal ini tidak akan terjadi padanya.

“ kau itu pembunuh, Lu. Sekali pembunuh tetap pembunuh.” Sinis Taemin membuat Luhan menutup kedua telinganya sambil berteriak histeris ‘aku bukan pembunuh’. Sekarang, semua orang yang melihat keadaan Luhan pasti akan sangat iba. Siapa yang tidak iba? Di usia Luhan yang masih sangat muda ini lelaki itu harus dihantui oleh perasaan menyesal dan bersalah.

“ Lu bukan pembunuh, Taemin! Itu murni kecelakaan. Mengapa kau menyalahkan Lu? Lagipula Lu pun tak ingin hal itu terjadi!” bela seorang wanita yang tepat berdiri di belakang Luhan. Ya, hanya orang itu yang percaya padanya bahwa semua yang terjadi pada Luhan hanyalah kecelakaan. Ya, gadis itu memang selalu membela Luhan saat Taemin terus menyalahkannya.

“ hentikan. Aku lelah. Aku mohon jangan bertengkar.” Ujar Luhan lemah membuat Sulli hanya memandangi lelaki itu dengan tatapan iba.

 

***

                Kali ini hanya senyuman getir yang ditunjukkan oleh seorang gadis berusia 18 tahun ini saat melihat pemandangan yang menurutnya sudah menjadi makanan sehari-harinya. Di usianya yang masih sangat belia ini, gadis itu bahkan harus bertingkah seolah dirinya lebih dewasa dari umurnya. Tinggal satu atap bersama Luhan membuatnya harus benar-benar ekstra sabar. Dimarahi, diabaikan, melihat Luhan berbicara sendiri adalah hal biasa yang dilihatnya. Takut dengan Luhan? Tentu saja pada awalnya gadis itu takut. Hanya saja karena rasa cinta serta sayangnya pada sepupunya itu, membuat gadis itu biasa saja menjalankannya.

“ mungkin dia sudah melihat sepupu temanku. Dia benar-benar mirip gadis itu.” Ujar Yoona yang tiba-tiba saja berdiri di samping Victoria, gadis yang sedaritadi terus memperhatikan Luhan. Sekarang pandangan mata Victoria beralih pada Yoona dengan tatapan penuh tanya. Yoona hanya tersenyum kecut, Victoria memang tidak tahu mengenai masa lalu Luhan.

“ aku sudah mendaftarkan Luhan untuk bersekolah biasa. Jangan memprotesnya, ini demi kebaikan Luhan.” Ujar Yoona sambil berniat untuk meninggalkan Victoria yang terlihat mencerna kata-kata Yoona. Namun baru beberapa langkah Yoona meninggalkan Victoria, tangannya terlihat ditahan oleh Victoria. Tatapan mata tajam yang diberikan Victoria padanya sama sekali tak akan menghentikan keputusan yang telah diambilnya tersebut.

“ kau gila? Dia akan marah!” ujar Victoria dengan teriakannya yang tertahan. Yoona terlihat memutar bola matanya karena kesal. Ayolah, niat Yoona itu baik. Gadis itu hanya ingin mengembalikan Luhan seperti dulu. Lagipula Yoona tidak akan melakukan ini jika ini hanya akan memperburuk keadaan Luhan.

“ tenang saja, Vict. Dia akan baik-baik saja. mungkin pada awalnya dia akan marah. Tapi itu hanya awal. Percayalah.”

 

***

Beberapa anggota EXO terlihat berhamburan memasuki sebuah ruangan di rumah sakit dengan mimik wajah yang khawatir. Kejadian kemarin saat Sehun pingsan di panggung membuat mereka langsung pergi ke rumah sakit saat managernya mengatakan bahwa Sehun sudah sadar. Lelaki yang sakit itu terlihat menghela nafas panjang sambil memandang risih teman-temannya yang sepertinya siap menyerbunya dengan berbagai macam pertanyaan beserta memberikannya ceramah suntuk di pagi hari. Ayolah, Sehun sedang sakit. Bukannya orang yang sakit harus dibiarkan untuk beristirahat dan tidak diperbolehkan untuk diganggu.

“ aku sedang tidak mood untuk menerima ceramahan atau pertanyaan dari kalian.” Ujar Sehun pada Suho yang terlihat baru saja membuka mulutnya untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan Sehun. Anggota EXO yang lainnya terlihat terkikik pelan melihat sang leader yang sepertinya sedikit jengkel dengan sikap Sehun yang terkadang tidak sopan itu.

“ dokter mengatakan bahwa Sehun harus beristirahat sampai cederanya benar-benar sembuh. Jika dia tetap memaksakan diri, Sehun hanya akan memperparah keadaannya. Lagipula CEO mengatakan bahwa Sehun akan diberi hiatus satu bulan.” Ujar manager EXO membuat Sehun sedikit tersedak saat mendengar berita tersebut karena memang Sehun sedang minum saat itu. Pandangan tajam khasnya terlihat dia tujukan pada managernya. Detik berikutnya lelaki berumur 18 tahun itu terlihat berdecak kesal.

“ Mwoya? Lalu selama satu bulan aku harus mengurung diri di dorm, hyung? Candaanmu sungguh tak lucu.” Desis Sehun sinis. Bagi remaja yang memiliki segudang aktivitas seperti Sehun memang akan terasa aneh jika dirinya hiatus dari kegiatan keartisannya. Sebulan mungkin akan terasa setahun yang menyedihkan bagi lelaki itu.

“ ibumu yang mengatakan hal itu. Lagipula lebih baik kau fokus pada sekolahmu juga. kau sudah sering bolos.” Peringat manager EXO itu membuat Sehun berdecak kesal. Ponsel yang terdapat di sampingnya terlihat bergetar membuatnya memilih untuk tidak membalas perkataan dari managernya tersebut. sekarang otaknya dia paksakan untuk berpikir bagaimana caranya agar dirinya tidak masuk ke sekolah yang menurutnya sangat mengerikan tersebut. ayolah, di sekolahnya banyak sekali fans yang tergolong cukup mengerikan.

“ yeoboseo.” Sehun mengangkat telpon yang masuk ke ponselnya itu tanpa menghiraukan tatapan dari anggotanya yang terlihat menantikan kelanjutan permasalahan antara Sehun dan managernya tersebut.

“ ya? Noona tumben sekali menelponku. Merindukanku, huh?” sinis Sehun yang memang seringkali teringat berbagai kenangan pahit saat wanita itu menghubunginya. Bukan karena sebuah kenangan pahit ataupun perlakuan buruk yang telah wanita itu berikan padanya. hanya saja ada sesuatu yang membuat hatinya sesak, benci saat kejadian-kejadian di masa lalunya teringat saat wanita itu kembali mengungkitnya.

“ untuk apa kau memberikan informasi tak penting seperti itu? Tsk, kau benar-benar membuang waktuku saja.” ujar Sehun sambil mematikan sambungan telponnya kemudian menatap kesal ke arah ponselnya tersebut. anggota EXO yang lain terlihat bungkam dan mengetahui alasan mengapa magnaenya itu bertingkah seperti itu. Well, masalah Sehun bukankah selalu sama? Itulah hal yang dipikirkan oleh anggota EXO.

“ beri aku hiatus satu bulan. Aku ingin memulai aktivitasku seperti murid biasa. Berikan aku aktivitas yang tak terlalu menguras waktuku.” Ujar Sehun secara tiba-tiba membuat managernya menatap Sehun tak percaya. Tapi siapa yang bisa membantah perkataan dari seorang Oh Sehun. Ibunya merupakan CEO sekaligus pemegang saham terbesar dari SM Entertainmernt.

 

***

 

Wajah Jessica benar-benar terlihat sangat senang saat Tiffany mengajaknya pergi jalan-jalan mengelilingi kota Seoul. Meskipun gadis itu tak ingat kapan terakhir kali dirinya menginjakkan kaki di kota ini, namun sepertinya ada segudang kenangan yang menyangkut kebahagiannya yang harus dia ingat. Tinggal 2 tahun di Kanada juga membuat aksen Koreanya terdengar sedikit aneh. Bukan, bukan menjadi aneh. Hanya saja dia sudah lupa beberapa kosakata yang memang tak pernah dia gunakan lagi saat dia di Kanada.

“ Tiff, errr. Bukankah itu Sehun?” tanya Jessica sambil menunjuk seorang lelaki yang saat ini sedang asik berbicara dengan seorang wanita dan nampak sedang berkencan. Kamera yang tadinya tergantung di leher Jessica terlihat Jessica nyalakan. Entah ada keberanian darimana, gadis berambut pirang itu memutuskan untuk mengambil gambar dari Sehun dan lelaki itu.

SPLASH

Kedua orang yang sedang berbicara itu terlihat menoleh ke arah Jessica dan Tiffany karena arah datangnya blitz kamera itu dari tempat Jessica berada. Dalam hati Jessica merutuki pada dirinya yang lupa mematikan blitz kamera. Detik berikutnya Jessica meraih tangan Tiffany dan mengajaknya berlari melarikan diri dari Sehun yang saat ini sedang mengejarnya.

“ Jess! Apa yang kau lakukan, huh?” marah Tiffany saat dirinya dan Jessica sedang berlari dari Sehun yang saat ini sedang mengejarnya. Dia memang tidak suka melihat Sehun berduaan dengan wanita itu, hanya saja tindakan Jessica terlalu ceroboh. Ayolah, Sehun akan marah padanya karena membiarkan Jessica mengambil foto lelaki itu dengan Krystal.

“ yah! Berikan kameramu padaku.” Teriak Sehun yang sepertinya kelelahan mengejar Jessica dari belakang.

“ berikan. Aku lelah berlari.” Keluh Tiffany membuat Jessica memutar bola matanya kesal.

 

***

 

Jessica terlihat mendelik sebal saat dirinya mengikuti Tiffany untuk menyerah dan memberikan kameranya pada Sehun untuk menyuruhnya menghapus foto dirinya yang telah Jessica ambil agar Sehun percaya pada keduanya. bukannya cepat menghapus fotonya sendiri, Sehun terus menatap Jessica yang memang berdiri di hadapannya dengan pandangan sedikit tidak percaya. Dia masih ingat wajah gadis itu, dan gadis di hadapannya itu mirip dengan gadis itu. Namun dengan cepat Sehun menggelengkan kepalanya sambil menepis apa yang ada di pikirannya. Sepertinya tidak mungkin juga apa yang dia pikirkan.

“ Tsk. Jangan terus melihatku. Ayo cepat kembalikan.” Ujar Jessica sambil memandangi Sehun tajam membuat Sehun tersadar dari lamunannya. Bahkan tatapan tajam itu benar-benar sangat mirip, hanya saja yang kali ini terlihat menyebalkan. Helaan nafas berat terdengar dari Sehun. Mana mungkin gadis di hadapannya itu adalah gadis yang dia rindukan. Lagipula sepertinya gadis di hadapannya ini adalah antifansnya yang ingin menjatuhkannya dengan menyebar berita dengan Krystal.

“ maaf. Maafkan sepupuku. Dia menyukai photography. Apapun yang menarik perhatiannya akan dia foto.” Ujar Tiffany sambil membungkukkan kepalanya meminta maaf. Sehun ingat suara dan wajah gadis yang berdiri di samping gadis yang memotonya. Dia adalah Tiffany Hwang, teman sekelasnya. Ahh, harusnya Sehun lebih mengingat lagi wajah teman sekelasnya. Bagaimana pun juga akan sangat malu ketika kita terlihat tidak mengenal teman sekelas sendiri.

“ ah. Kau tak perlu minta maaf, Fany. Seharusnya sepupumu.” Sindir Sehun pada Jessica membuat gadis itu mendelik sebal. Terdengar decakan kesal dari Jessica. dilihatnya Tiffany yang sepertinya senang Sehun ternyata mengingat bahwa dirinya adalah teman sekelasnya.

“ kameramu aku sita. Aku akan mengembalikannya pada Tiffany.” Ujar Sehun sambil pergi meninggalkan Jessica yang menatap lelaki itu tidak percaya. Baru saja gadis itu melangkahkan kakinya untuk menyusul Sehun tapi tangan Tiffany telah menahannya untuk pergi. Jessica terlihat menghela nafas berat sambil memutar bola matanya kesal. Sebenarnya apa yang membuat Tiffany selalu mengagung-agungkan Oh Sehun?

 

***

 

Victoria terlihat duduk di samping Luhan yang saat ini sedang menatap kosong ke depan dan entah apa yang sedang ada di pikiran lelaki itu saat ini. helaan nafas Victoria terdengar cukup jelas namun tak mampu membuyarkan lamunan Luhan tersebut. Perlahan, Victoria meletakkan tangannya di pundak Luhan. Hal itu ternyata cukup membuat Luhan sadar dari lamunannya.

“ lusa kita sekolah seperti biasa. Kau harus mau.” Ujar Victoria lembut namun mendapat tanggapan tatapan tajam dari Luhan. Dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Dia tak suka jika Victoria sudah tertular sikap Yoona yang cenderung pemaksa.

“ aku tidak mau.” Ujar Luhan dingin sambil bangkit dari duduknya. Tangan Victoria terlihat menahan pergelangan tangan Luhan. Tatapan gadis itu terlihat memohon. Victoria ingin untuk kali ini saja Luhan mengabulkan permintaannya. Mungkin benar apa yang dikatakan Yoona, hanya dengan cara ini Luhan bisa kembali.

“ aku mohon. Untuk kali ini saja. aku ingin Luhan kembali.” Mohon Victoria

“ jangan sebut Luhan. Luhan sudah tidak ada. Yang ada hanya Xiao Lu.” Dingin Luhan sambil meninggalkan Victoria yang terlihat kecewa.

 

***

 

Sehun terlihat mendengus kesal saat Kai tertawa mengejek saat melihat dirinya memakai seragam sekolah. Semua anggota EXO memang mengetahui bahwa Sehun sangat malas untuk bersekolah. Lagipula sepertinya sekolah di sekolah khusus musik itu tak berguna sama sekali bagi seorang Oh Sehun. Ya, semua orang tahu bahwa Sehun terlalu jenius untuk bidang tersebut.

“ yah Oh Sehun! Untuk apa kau bersekolah lagi, huh?” ejek Kai yang saat ini juga sedang bersiap untuk melakukan aktivitasnya yaitu pemotretan sebuah majalah namun hanya ditanggapi desisan kecil dari seorang Oh Sehun.

“ Tsk. Agar aku menjadi pintar hyung. Memangnya kau.” Jawab Sehun seenaknya membuat Kai terkekeh pelan. Menurutnya Sehun sudah terlalu jenius untuk mempelajari pelajaran yang diberikan sekolah khusus musik di Sekolah Menengah. Bukankah dulu Sehun juga pernah mengeluh tidak mau sekolah karena dirinya bosan mempelajari materi yang sangat dia kuasai.

“ aku heran. Mengapa kau tiba-tiba ingin pergi ke sekolah. Apa jangan-jangan kau hanya ingin dekat-dekat dengan Krystal saja.” tuduh Kai membuat Sehun memutar bola matanya kesal. Lelaki bernama Oh Sehun itu memang tak suka saat seseorang mengatakan hubungan persahabatannya dengan Krystal itu adalah hubungan percintaan. Semuanya hanyalah kesalahpahaman.

“ Hyung, aku dan dirinya hanya teman dekat. Jangan membuat Krystal menjadi tak nyaman karena kalian terus menuduh yang tidak-tidak tentang kami.”

 

***

                Sehun yang tadinya ingin menyibukkan dirinya dengan buku yang saat ini sedang dirinya baca akhirnya mau tak mau harus mengalihkan perhatiannya itu dari bukunya. Kegaduhan yang ditimbulkan oleh teman satu kelasnya saat guru mereka datang mau tak mau membuat Sehun penasaran. Dilihatnya Kahi Songsaengnim sedang berdiri di depan kelas dengan satu murid lelaki dan murid perempuan. Kening Sehun terlihat mengernyit saat melihat gadis yang datang bersama Kahi songsaengnim tersebut. sepupu Tiffany? Apakah gadis itu juga adalah murid baru di sekolah ini.

“ Selamat pagi anak-anak. Disini kalian mendapatkan dua teman baru.” Ujar Kahi songsaengnim. Murid perempuan yang berdiri di samping Kahi songsaengnim terlihat membungkukkan badannya. Sedangkan murid lelaki itu terlihat lurus-lurus saja. seperti biasa, lelaki itu terlihat dingin tanpa ekspresi.

“ Annyeonghaseo. Jessica Wu imnida.” Mata Sehun yang memang sedaritadi terus memperhatikan Jessica terlihat membulat seolah tak percaya. Sedangkan Krystal yang sedaritadi tidak peduli dengan kedatangan gurunya dan lebih memilih untuk menggambar di bukunya terlihat mendongakkan kepalanya. Ekspresi yang dia tunjukkan tak berbeda jauh dengan Sehun. Sepertinya Krystal dan Sehun sama-sama terkejut dengan apa yang mereka lihat. Gadis dengan wajah dan nama yang sama. Apakah ini hanya kebetulan? Setidaknya itulah apa yang ada di pikiran Sehun maupun Krystal.

“ Xiao Lu imnida. Kalian bisa memanggilku Lu.” Ujar Luhan membuat Sehun tersadar dari lamunannya dan menghela nafas berat dan memandangi lelaki itu seolah Sehun tidak suka dengan kehadirannya.

“ Lu dan Sica, kalian bisa duduk di belakang Sehun dan Krystal.”

 

***

 

Sepertinya bel istirahat membuat beberapa siswa terlihat terburu-buru ingin meninggalkan kelasnya dan tak sabar untuk pergi menuju kantin. Terbukti, baru sekitar satu menit guru keluar dari kelas dimana Sehun berada, kelas itu sudah terlihat cukup kosong. Hanya ada segelintir orang yang masih betah menyalin catatan di papan tulis, salah satunya adalah Jessica.

Jessica terlihat membereskan buku-buku dan alat tulisnya yang terlihat berantakan di mejanya usai dirinya mencatat pelajaran hari ini. berbeda sekali dengan meja Luhan, meja Jessica memang sedikit berantakan. Pensil, pulpen, penghapus, serta alat tulis yang lainnya terlihat berserakan di sekitar meja gadis berambut pirang itu.

“ seorang gadis seharusnya rapi. Tidak seperti ini.” komentar seseorang di hadapan Jessica membuat gadis itu mendongakkan kepalanya. Entah mengapa sejak insiden ‘kamera’ tersebut, Jessica sedikit sensitif dan cepat sekali naik darah jika berhubungan dengan seorang Oh Sehun. Terbukti tatapannya pada Sehun sedikit dingin dan mengisyaratkan bahwa gadis itu tak suka pada lelaki di hadapannya.

“ Tsk. Kau berbicara denganku?” sinis Jessica seolah tak peduli. Detik berikutnya gadis itu terlihat memiringkan kepalanya sambil memicingkan matanya untuk memandangi wajah Sehun. Berpura-pura bahwa gadis itu sedang mengingat bahwa Sehun adalah orang yang mengambil kamera miliknya dengan seenaknya. Sebenarnya tak perlu diingat-ingat pun gadis itu akan selalu mengingat seseorang yang menurutnya menyebalkan.

“ wae? Kau baru saja tersihir karisma seorang idol?” tanya Sehun dengan percaya dirinya membuat Jessica memutar bola matanya pertanda bahwa gadis itu cukup tidak suka dengan apa yang baru saja Sehun katakan. Untuk kesekian kalinya, Sehun terlihat terpaku melihat ekspresi kesal gadis di hadapannya. Mengapa setiap apa yang ada pada diri Jessica benar-benar mengingatkannya pada seseorang yang sangat berarti baginya?

“ tersihir karisma seorang idol? Bagaimana bisa seorang idol mencuri kamera.” Sindir Jessica membuat Sehun tersadar dari lamunannya. Sepertinya ada satu hal yang perlu Sehun ingat Jessica dan orang itu berbeda. Orang itu akan bersikap manis padanya, berbeda sekali dengan Jessica yang selalu sinis padanya.

“ pencuri.” Gumam Jessica pelan namun cukup untuk didengar Sehun yang berada di hadapannya. Lelaki itu terlihat mengangkat salah satu alisnya mendengar apa yang dia katakan. Sebuah senyuman kecut terukir di bibir Sehun “ aku akan mengembalikannya. Siapa suruh mengambil fotoku secara diam-diam. Dasar fans.” Ucapan Sehun tersebut benar-benar membuat Jessica menatap lelaki itu seolah tidak suka. Membayangkan dirinya menjadi fans Sehun benar-benar cukup menggelikan baginya. Dalam hati Jessica berdoa semoga itu tak akan terjadi.

“ bilang saja kau mencurinya. Tak usah…” belum sempat Jessica melanjutkan perkataannya tersebut, Sehun meletakkan jari telunjuknya di bibir milik Jessica membuat gadis itu terdiam. Pandangan Sehun yang tepat terarah pada matanya membuat Jessica tak dapat melepaskan pandangannya dari lelaki itu. Seperti ada yang familiar dengan pandangan mata itu bagi Jessica.

“ cerewet.” Desis Sehun sambil bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan gadis berambut pirang tersebut membuat Jessica sepertinya mengingat sesuatu. Sesuatu yang mungkin dulu sering dirinya alami.

“Hunnie, berhentilah sibuk dengan pianomu. Kau yang menyuruhku untuk mendatangimu.” Keluh seorang gadis kecil sambil mengerucutkan bibirnya pada seorang anak laki-laki seumurannya. gadis bernama Jessica itu memang terbiasa mendatangi ruang musik yang ada di rumah laki-laki tersebut. Bahkan semua penghuni yang ada di rumah laki-laki tersebut telah mengenal baik gadis cilik itu.

“ kau seharusnya seperti Hannie. Dia baik, tidak menyebalkan sepertimu. Dia memang cuek, tapi dia selalu mendengarku saat berbicara. dia…” Perkataan Jessica terhenti saat laki-laki yang dipanggil Hunnie itu meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Jessica. pandangannya yang terlihat sangat dingin membuat Jessica dapat menarik kesimpulan bahwa lelaki itu tak suka dengan apa yang telah Jessica katakan.

“ cerewet.” Desis laki-laki membuat Jessica mengerucutkan bibirnya.

“ sebenarnya siapa Hunnie?” ujar Jessica sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan sangat frustasi.

 

***

 

Kali ini Krystal benar-benar cukup terpukau dengan permainan piano yang dimainkan oleh Xiao Lu, orang yang Krystal ketahui adalah teman satu kelasnya. Mulutnya terlihat membentuk huruf ‘o’ saking terpesonanya dengan permainan piano yang ditampilkan oleh teman satu kelasnya. Tak pernah gadis itu melihat permainan piano semenakjubkan itu selain Sehun yang melakukannya. Seingat gadis itu hanya ada satu lelaki yang bisa menyaingi kejeniusan Sehun. Lelaki yang telah menghilang beberapa tahun lalu.

Perlahan Krystal melangkahkan kakinya menuju tempat Luhan memainkan piano. Ekspresi wajah itu selalu Krystal lihat saat Luhan memainkan permainan pianonya dulu. Santai tapi menghayatinya, itulah Luhan.

“ Luhan.” Ujar Krystal yang saat ini berdiri tepat di belakang Luhan saat lelaki itu selesai menyelesaikan permainan pianonya. Tak sulit bagi Luhan untuk mengenali suara itu. Krystal Jung, seseorang yang sempat dirinya kenal beberapa tahun lalu. Seketika wajah Luhan terlihat memucat. Bagaimana bila Krystal mengetahui bahwa dirinya adalah Luhan?

15 thoughts on “[Freelance] It’s not Sleeping Beauty Story (Chapter 1)

  1. Sebenernya ada hubungan apa diantara mereka ?
    Disini jessica amnesia ya thor ?
    Sedikit bingung sih ? Tpi keren kok thor (y)

  2. Jessica amnesia ? HunHan musuhan garagar Jessica ? LuHan dikira ngebunuh Sica ? Aaa agak confuse sih ._. Tapi keren kok (y) agak gasuka Luhan bareng Kryst -_- maklum aku Lusicer Syndrome😀 yaudaa cepat lanjut yak Authoorr ! ^^ fighting

  3. aku lupa thor udah ngoment apa belum. ya udah aku ngoment lagi. lu oppa kasian banget disalahin terus .hun oppa kelihatannya benci banget. sica eon itu amnesia? kecelakaan thor? terus ditemukan fany eon? semua shok sica eon muncul,tapi aku suka hun oppa bisa nyembunyiin perasaan.emgnya sica eon diapain lu ge sih??next KEEP WRITING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s