The Destiny of Us – Chapter 3

poster-the-destiny-of-us

The Destiny of Us – Chapter 3

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun – Song Jieun

Others: Oh Sehun – Seohyun – Park Chanyeol – Kim Hyoyeon – Kim Taeyeon – Key – Yang Yoseob – Sulli – Kim Jongin – Lee Taemin

Genre: Romance

Rated: PG-15

Poster by: Afina23

Previous: Chapter 1 | Chapter 2

© Amy Park

“So it’s not gonna be easy. It’s going to be really hard; we’re gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me… everyday.”
― Nicholas Sparks , The Notebook

***

9 Elements of Journalism

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat
  3. Inti dari jurnalisme adalah disiplin melakukan verifikasi
  4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang dia liput
  5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik
  7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan
  8. Wartawan harus menjaga agar berita itu proposional dan komprehensif
  9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya

 

Jessica menutup buku tebal tentang Jurnalistik kemudian meletakkannya kembali di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Dia menggaruk rambutnya frustasi karena tidak bisa berpikir dengan benar sehingga pertanyaan yang ada di kepalanya tak kunjung mendapat jawaban.

“Sembilan elemen itu sulit untuk dimengerti, jadi elemen mana yang menjadi alasan Baekhyun mempelajari jurnalistik, ya? Aish… membingungkan, biar nanti saja akan kutanyakan padanya,” ujar Jessica pada dirinya sendiri.

Pintu kamar dibuka, Jessica melihat Luhan memasuki kamar dan berjalan menghampirinya. Wanita itu segera membaringkan tubuh dan segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia terlalu malas untuk berbicara dengan Luhan.

***

Luhan menghela napas berat ketika Jessica memutuskan untuk tidak berbicara padanya. Luhan tahu semua ini akibat dari kebodohannya. Awalnya Luhan berpikir bahwa Jessica tidak ingin status mereka diketahui publik—apalagi seniornya. Tapi ternyata dia salah, Jessica marah besar padanya karena dia telah berbohong sebagai sepupu Jessica.

Luhan berbaring di samping Jessica. Pria itu tidak bisa tidur. Perhatiannya hanya tertuju pada sosok Jessica yang tertutup oleh selimut. Tak lama, Luhan mendengar suara dengkuran halus, dia tersenyum kecil karena yakin Jessica sudah tertidur. Dengan perlahan, Luhan menurunkan selimut yang dipakai Jessica sehingga dia kini bisa melihat wajah Jessica yang sedang tertidur pulas.

“Maaf sering membuatmu kesal.”

Ponsel Luhan bergetar, pria itu segera mengambilnya dari saku. Ada pesan masuk dari rekan kerja sekaligus sahabatnya.

From: Oh Sehun

Jieun bertanya di mana tempat tinggalmu. Dia juga terus saja menanyakan tentang kehidupanmu. Aku harus jawab apa, hyung? Apa aku beritahu dia saja bahwa kau telah menikah? Pertanyaannya membuatku repot. HYUNG! Cepat selesaikan masalahmu!!!!!!

Luhan menghela napas kemudian mengetik balasan.

To: Oh Sehun

Jangan dijawab dulu. Biar aku saja yang menjelaskan.

From: Oh Sehun

Tapi dia sedang bersamaku sekarang. Dia juga menuntutku untuk cepat menjawab pertanyaannya. Ayolah, hyung, aku bingung. Dan aku tidak mau berlama-lama mengurung diri di kamar mandi😦

To: Oh Sehun

Bilang pada Jieun aku akan menemuinya besok dan menjelaskan semuanya.

From: Oh Sehun

Bisa tidak kau ke sini saja sekarang? Kami sedang berada di restoran Italia dekat rumahmu.

Luhan menoleh pada Jessica sebelum mengetik balasan untuk Sehun.

To: Oh Sehun

Mian, aku sibuk.

Luhan segera mematikan ponsel dan menyimpannya di meja kecil. Dia kembali berbaring dan menatap Jessica dengan lekat. “Have a nice dream.”

***

Sehun sudah berada di ruang kerja Luhan ketika pria itu masuk ke dalamnya. Luhan menghela napas kemudian meletakkan tas kerjanya di meja. “Maaf, kemarin aku benar-benar sibuk.”

“Sibuk dengan Jessica, eh? Ya..ya.. aku mengerti. Tapi, sebaiknya kau selesaikan masalahmu dengan Jieun terlebih dahulu jika kau ingin rumah tanggamu baik-baik saja.”

“Aku akan menyelesaikannya hari ini.”

Sehun berdecak, “Tidak semudah yang kau kira, hyung. Jieun bukanlah wanita lembut yang mudah menerima alasanmu. Membuat Jieun menyerah tidak semudah membuat klien menyukai idemu yang luar biasa.”

“Yah, kita lihat saja nanti.” Ujar Luhan tenang.

Pintu ruangan diketuk pelan, tak lama setelahnya pintu dibuka dan wanita yang mereka bicarakan memasuki ruangan dengan wajah ceria.

“Luhanieee!!” Jieun langsung menghampiri Luhan lalu menggandeng lengan pria itu.

“Oho, sebaiknya aku pamit. Good luck.” Sehun langsung beranjak dari sofa kemudian pergi meninggalkan Jieun dan Luhan.

“Hari ini kau free, kan? Aku ingin ke rumahmu. Aku akan buatkan kau makanan. Ah, Kau belum makan, kan? Aku sudah—“

“Duduklah, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu.”

Jieun melepaskan tangannya dari Luhan. Pria itu tampak serius. Jieun segera berjalan kemudian duduk di sofa, begitupun dengan Luhan yang kini sudah duduk di samping Jieun.

“Di toko es krim kemarin kau bertemu dengan seorang wanita, bukan? Aku ingin menjelaskan—“

“Ah, wanita itu. Wanita yang membuatmu berbohong bahwa aku ini teman lamamu, ya? Wanita itu siapa? Apa yang membuat wanita itu tidak boleh tahu bahwa aku ini kekasihmu, huh?”

Luhan mengehela napas, “Dengar, Jieun, aku bukan lagi kekasihmu.”

“Walau sudah dua tahun lebih kita tidak bertemu dan berkomunikasi, tapi kita belum sepakat untuk berpisah. Jadi sekarang kau dan aku—“

“Tolong dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai.”

Jieun menghela napas lalu mengangguk, “Baiklah.”

“Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, apalagi kau meninggalkan aku tanpa kabar. Jika kau berpikir aku masih menyimpan perasaan padamu selama kau pergi, kau salah besar. Perasaanku telah berubah. Kini ada wanita lain yang kucintai dan harus aku jaga. Aku sudah menikah, Jieun-ah.”

Mwo? Kau bercanda, kan? Tidak mungkin.”

“Wanita yang kau temui di toko es krim adalah Jessica. Dia istriku.”

Jieun tertawa menyindir, “Lelucon apa yang kau buat? Tidak, bahkan jika ini bukan lelucon sekalipun, aku tidak bisa menerimanya. Kau harus ingat, Luhan, hubungan kita sama sekali belum berakhir. Terserah kau sudah menikah atau apa pun itu alasannya. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”

Jieun berdiri kemudian pergi meninggalkan Luhan. Pria itu mengusap wajah dengan kedua tangannya, tampak frustasi. “Sehun benar. Ini tidak semudah yang kukira.”

***

“Ku bilang juga apa, masalahmu dengan Jieun tak bisa diselesaikan dengan sekejap.” Ujar Sehun seraya meletakkan dua capuccino di meja kemudian duduk di hadapan Luhan.

“Semuanya butuh waktu. Aku hanya berharap rumah tanggaku dengan Jessica baik-baik saja.”

Sehun terkekeh, “Tentu saja rumah tangga kalian tidak akan baik-baik saja. Jieun memang bisa seenaknya meninggalkanmu waktu itu, tapi kau tidak bisa seenaknya meninggalkan Jieun. Wanita itu pasti bertindak untuk menghancurkan hubunganmu dengan Jessica, cepat atau lambat. Kau hanya perlu menunggu waktu mainnya.”

“Aku sudah membuat susah hidup Jessica. Aku tidak akan membiarkannya masuk ke dalam masalahku dan Jieun. Aku akan melindunginya, juga rumah tangga kami.”

Sehun tersenyum kecil. Dia menatap Luhan serius, “Kau benar-benar mencintai Jessica?”

Luhan mengangguk, “Bahkan sebelum aku bertemu dengan Jieun, aku sudah menyukai Jessica”

“Maksudmu?”

“Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Kau tidak akan mengerti.”

“Haissh.. selalu saja tidak mau memberitahu.”

Luhan terkekeh, “Oh, ya, bagaimana hubunganmu dengan sang kekasih? Ku dengar kalian hampir putus karena hal sepele. Apa itu benar?”

“Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Kau tidak akan mengerti.” Jawab Sehun datar seraya menyesap cappucino. Luhan hanya menghela napas.

***

Baekhyun menutup pintu mobil kemudian menguncinya. Dia pun melangkah masuk menuju sebuah restoran Jepang. Wajahnya tampak lelah dan tidak bersemangat. Kegiatannya hari ini benar-benar padat. Setelah rapat membahas kebijakan baru beasiswa di kampus bersama dosen, dia harus segera pergi  menemui teman sesama panitia di restoran Jepang ini untuk membicarakan acara penutupan Penerimaan Mahasiswa Baru jurusan Jurnalistik dan Komunikasi.

“Akhirnya, Byun Baekhyun datang jugaaa!!!” sorak seorang pria tinggi menyambut kedatangan Baekhyun.

Baekhyun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan pria tersebut kemudian duduk di meja makan bersama teman-temannya.

“Bagaimana hasil rapatnya? Pihak fakultas mau menambah daya tampung mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa atau tidak? Ah, ya, apa benar program pertukaran pelajar ke luar negeri akan dibekukan sementara? Kenapa alasannya? Lalu.. lalu—“

“Ku mohon, Chanyeol, Baekhyun datang ke sini bukan untuk melaporkan hasil rapat senat. Kau tidak lihat wajah Baekhyun tampak lelah sekali? Pertanyaanmu hanya akan membuatnya semakin pusing.” Ucap Taeyeon memotong perkataan pria tinggi itu.

Aigoo.. ternyata Taeyeon masih perhatian dengan Baekhyun? Apa artinya benih-benih cinta di antara kalian akan tumbuh kembali?” Goda Chanyeol.

“Itu tidak mungkin. Berhentilah berbicara yang tidak-tidak, Chanyeol-ssi.” Ucap Taeyeon kesal.

“Kenapa tidak mungkin? Sebuah kemungkinan pasti ada, Taeyeon-ssi.”

“Taeyeon berkata tidak mungkin karena akhir-akhir ini Baekhyun sedang mendekati mahasiswa baru, Chan.”

Ne!! Kau benar, Yang Yoseob. Aku tidak mungkin kembali berpacaran dengan Baekhyun karena dia sedang mengincar mahasiswa baru.” Tutur Taeyeon bersemangat.

“Mahasiswa baru? Kau mengincar mahasiswa baru? Siapa?” tanya Chanyeol penasaran pada Baekhyun. Namun, yang ditanya hanya bisa menutup matanya dan enggan untuk menjawab.

“Mahasiswa baru yang disukai Baekhyun adalah Jessica. Dia aggota tim merah yang dibimbing olehku dan Baekhyun.” Jelas Hyoyeon.

“Jessica? Jessica siapa?”

“Kau harus lebih sering datang ke kampus, Chan. Seluruh mahasiswa Jurnalistik sudah tahu tentang Jessica. Dia adalah wanita asal Jeju yang sedang didekati oleh Baekhyun. Baru-baru ini Baekhyun membawa Jessica ‘kabur’ agar tidak mengikuti acara Departemen X. Dia menyelamatkan Jessica agar tidak disiksa oleh Departemen X. Ohhh… bukankah itu so sweet?”  Ucap seorang pria bernama Key.

“Itu hanya akal-akalan Baekhyun untuk mendekati Jessica, makanya dia mencegah agar Jessica tidak mengikuti acara Departemen X. Dia mencuri momen untuk pergi jalan-jalan dengan wanita kesukaannya.”  Tambah Hyoyeon.

“Wah, benarkah? Hey, Byun Baekhyun, kenapa kau tidak menceritakan hal ini, huh??”

Baekhyun membuka mata ketika Chanyeol menepuk bahunya. “Untuk apa aku bercerita padamu?”

“Karena kita adalah sahabat!! Kau harus cerita padaku jika kau sudah memiliki sasaran baru, brother!! Sebuah momen yang langka kau bisa menyukai seorang wanita lagi setelah—“

“Oh, ayolah, aku datang ke sini untuk membicarakan tentang penutupan acara Penerimaan Mahasiswa Baru, bukan untuk membicarakan hubunganku dengan Jessica.”

“Anggap saja ini selingan, kita membicarakan Baekhyun-Jessica saja dulu kemudian membahas acara penutupan Penerimaan Mahasiswa Baru.” Ujar Key.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang.” Baekhyun hendak berdiri, namun Chanyeol menahannya.

“Woa..woa..woa jangan begitu, Baekhyun. Kita tidak akan membicarakanmu dengan Jessica lagi.”

Baekhyun menghela napas, “Kalau begitu kita mulai saja.”

“Mulai apa?” heran Yoseob.

“Memulai rapat tentang penutupan acara Penerimaan Mahasiswa Baru…” jawab Baekhyun dengan nada gemas sekaligus kesal.

“Oh, iya… oke, kita mulai. Ketua panitia acara dulu yang berbicara tentang hal ini, yang lain mengikuti. Untuk ketua panitia acara dipersilakan.”

“Ck, ketua panitia acara itu adalah kau sendiri, Yang Yoseob.” Tutur Taeyeon.

“Benarkah? Ah, iya, benar!! Aku lupa!”

Baekhyun memijit keningnya, tampak frustasi.  “Kalian membuatku bertambah pusing…”

***

Jessica sedang berada di rumah Seohyun untuk mendiskusikan pentas seni mereka yang akan ditampilkan di penutupan acara Penerimaan Mahasiswa Baru. Jongin, Taemin, dan Sulli pun berada di sana.

“Hey, Hyoyeon dan Baekhyun sunbaenim mengajak kita makan malam. Mereka juga ingin mendengar perkembangan pentas seni kita. Bagaimana?” tanya Seohyun pada teman satu kelompoknya.

“Ayooo!!! Aku setuju!! Ini adalah momen terakhir kita bisa berkumpul dengan Hyoyeon dan Baekhyun sunbaeeee.” Setuju Sulli.

Well, karena aku lapar, aku menerima ajakan kedua pebimbing itu.” Ucap Jongin.

“Siapa tahu saja Hyoyeon sunbae mau mentraktir kita.” Taemin menambahkan.

“Jadi semuanya setuju untuk makan malam bersama? Bagaimana denganmu, Jessica?”

“Oh?” Jessica tampak bingung. Dia melihat layar ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari Luhan.

From: Luhan

Kita makan malam bersama, ya? Aku akan menjemputmu. Kau berada di mana sekarang?

“Sebentar, ya.” Ucap Jessica pada teman-temannya kemudian membalas pesan singkat dari Luhan.

To: Luhan

S Apartement. Tidak jauh dari kantormu, aku yakin kau pasti tahu tempatnya.

From: Luhan

kau menerima ajakanku?

To: Luhan

Tentu saja -_-

From: Luhan

I’ll be there🙂

Jessica tersenyum kecil lalu berucap, “Aku tidak bisa ikut. Maaf.”

“Kenapa?” heran Sulli.

“Aku sudah memiliki janji. Sampaikan salamku untuk Hyoyeon dan Baekhyun sunbae saja.” Jessica berdiri dari duduknya kemudian meraih tas coklat miliknya. “Aku pulang duluan. Seseorang sudah menungguku. Byeeee!!!”

***

Luhan sudah sampai di S Apartemen yang disebutkan oleh Jessica. Kini dia sedang berdiri di lobi apartemen untuk menunggu kedatangan Jessica.

“Luhanie!!”

Luhan menoleh dan dia tampak kaget karena orang yang baru saja memanggilnya adalah Jieun. Pria itu berusaha tenang ketika Jieun menghampiri.

“Kau tinggal di sini?”

“Kau kemari bukan untuk menemuiku?”

Luhan tersenyum tipis. “Aku menjemput Jessica.”

“Wanita itu lagi…” Ujar Jieun dengan nada tidak suka.

“Maaf, Jieun. Kau seharusnya melepaskanku.”

“Kau pikir itu mudah?”

Luhan menghela napas. “Setidaknya cobalah untuk melepaskanku. Hubunganku dengan Jessica sudah terikat dan aku harus mempertahankannya.”

“Aku sudah mendengar bahwa pernikahanmu dengan Jessica karena perjodohan. Apa kau benar-benar mencintai Jessica?”

“Jika aku tidak mencintai Jessica, aku akan menolak perjodohan itu dari awal.”

Jieun tersenyum sinis, “Banyak yang bilang pernikahan karena perjodohan itu tidak akan bertahan lama. Aku akan buktikan bahwa hal itu benar-benar tejadi pada pernikahanmu, Luhan-ssi.”

“Hal itu tidak akan terjadi. Aku juga akan membuktikannya padamu, Jieun-ssi.” Ucap Luhan tidak kalah sinis.

“Ah, pembicaraan kita terdengar tidak bersahabat rupanya. Baiklah, kita lihat nanti siapa menang. Selamat malam.”

Jieun berlalu pergi meninggalkan Luhan. Pria itu menghela napas berat. Luhan kemudian menangkap sosok Jessica yang berdiri tidak jauh di depannya. Dia mencoba tersenyum lalu menghampiri wanita itu.

“Kau sudah lama di sini? Kenapa tidak menghampiriku?”

“Kau sedang asik bersama wanita lain. Aku tidak ingin mengganggumu.”

Luhan tersenyum kecil. “Ayo, kita makan malam bersama.”

“Aku masih marah padamu, tahu.”

“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah?”

Jessica tersenyum. “Kita makan di restoran mewah lalu setelah itu kau harus mengantarku ke mall. Ada barang yang harus aku beli untuk pentas seni lusa.”

“Oh, baiklah..”

Jessica mendengus kesal, “Ku mohon berhentilah mengatakan ‘oh, baiklah” dan satu lagi, kau harus berbicara lebih dari tiga kata padaku. Jika tidak, aku akan terus marah padamu.”

Luhan langsung terkekeh karena omelan Jessica yang terlihat lucu baginya. “Maaf.. maaf.. aku lupa jika kau tidak suka dengan ‘oh, baiklah’. Dengar, aku berbicara lebih dari tiga kata, bukan? Jadi, ku mohon jangan marah padaku lagi.”

“Aku masih marah padamu. Kau belum membawaku ke restoran mewah dan mengantarku ke mall.

“Baiklah, sekarang mari kita berangkat.”

Jessica mengulurkan tangannya pada Luhan, “Genggam tanganku!”

Luhan langsung mengikuti perkataan Jessica walaupun dia sendiri tidak mengerti mengapa Jessica ingin digenggam olehnya.

“Kakiku lecet. Sepatu yang baru aku beli kemarin ternyata kekecilan. Jadi, aku butuh bantuanmu untuk berjalan.”

“Buka sepatumu.”

“Kenapa?”

“Kau tidak boleh memakai sepatu itu jika membuat kakimu lecet.”

“Lalu aku berjalan tanpa alas kaki??”

Luhan tersenyum, “Buka saja dulu sepatumu.”

Jessica tampak heran namun pada akhirnya dia menuruti perintah Luhan. Setelah Jessica membuka sepatunya, Luhan membawa sepatu milik Jessica lalu berjongkok membelakangi wanita itu. “Sekarang, naiklah ke punggungku.”

Piggy back? Kau yakin? Badanku memang terlihat kecil tapi berat badanku lumayan, loh.”

“Aku sudah pernah menggendongmu. Bagiku, itu tidak berat.”

Jessica pun langsung naik ke punggung Luhan dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Luhan pun segera menahan kedua kaki Jessica kemudian berdiri. Pria itu mulai berjalan keluar apartemen. “Mau makan di mana?”

“Bagaimana jika kita ke mall saja? Kita makan malam di rumah. Aku ingin makan masakanmu.”

“Pilihan yang tepat. Kau tahu saja bahwa masakanku lebih enak daripada masakan yang ada di restoran mewah.”

“Jangan terlalu percaya diri dulu. Aku memilih untuk makan masakanmu karena aku sudah terlalu capek jika pergi ke restoran.”

“Terserahmu saja, Jessica.” Ucap Luhan sambil tersenyum.

***

“Bagaimana sepatunya? Nyaman?”

Jessica menatap sepasang sepatu putih yang kini sudah terpasang di kedua kakinya kemudian tersenyum senang pada Luhan, “Sangat nyaman. Terima kasih sudah membelikannya untukku.”

Luhan mengacak pelan rambut Jessica, “Lain kali jika membeli sepatu dicoba dulu. Jangan sampai kekecilan lagi.”

Arraseo..”

“Baiklah, kita mau ke mana lagi? Toko pakaian? Kau butuh pakaian baru untuk pentas seni, kan?”

Jessica mengangguk, “Kau tunggu di sini saja dulu. Aku ke toilet sebentar.” Ucap wanita itu kemudian pergi meninggalkan Luhan.

Luhan baru saja akan duduk di sebuah bangku yang berada di toko sepatu tersebut, namun seseorang menyapa Luhan sehingga pria itu mengurungkan niatnya.

“Luhan oppa?”

“Oh, Seohyun-a?”

Seohyun tersenyum, “Syukurlah kau masih mengingatku, oppa. Sedang apa kau di sini?”

“Sehun kerap kali mengoceh tentangmu, jadi aku tidak akan lupa. Aku sedang menemani istriku belanja.”

“Istrimu?Ah, ya, kau sudah menikah, oppa. Selamat atas pernikahanmu. Maaf waktu itu aku tidak bisa hadir.”

Luhan tersenyum, “Gwencana. Sekarang kau kuliah di mana?”

“Aku kuliah di Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi, Universitas Kyunghee.”

“Benarkah? Jessica juga kuliah di sana.”

“Jessica?”

Luhan mengangguk. “Ya. Jessica. Istriku.”

Mwo??!!”

***

Jessica sedang mencuci tangannya di wastafel kamar mandi ketika seorang wanita masuk dan berdiri di sampingnya.

“Sedari tadi aku mengikuti kalian dan ternyata kalian sedang berkencan, huh? Sungguh senang kau memberikanku kesempatan untuk berbicara berdua di sini.”

Jessica menoleh, “Maaf, kau berbicara denganku?”

Wanita yang sedang menatap cermin itu pun menoleh lalu menatap Jessica. Dia tersenyum, namun senyumnya terlihat tidak bersahabat. “Apa tampangku terlihat tidak waras sehingga berbicara dengan cermin? Tentu saja aku sedang berbicara denganmu, Jessica-ssi.”

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Ah, ya, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Song Jieun. Kekasih Luhan. Walaupun kau sudah menikah dengan Luhan, tapi aku masih tetap kekasihnya.”

Jessica mengerutkan keningnya bingung, “Maksudmu?”

“Apa aku langsung ke inti pembicaraan? Baiklah, aku hanya ingin memberitahu bahwa Luhan adalah milikku. Jangan berpikir bahwa kau adalah wanita yang dicintai Luhan. Asal kau tahu, Luhan menikahimu karena terpaksa. Pernikahan kalian terjadi karena perjodohan, jadi jangan berharap kisah manis kalian berlangsung lama karena aku tidak akan membiarkan kalian bersama.”

Jieun tersenyum kecil, “Hanya itu yang ingin aku bicarakan padamu, Jessica-ssi. Ku harap kau tutup mulut soal pertemuan kita sekarang pada Luhan. Senang bertemu denganmu.”

Jessica menghela napas ketika Jieun sudah pergi meninggalkannya. “Masalah apa lagi yang akan hadir?”

***

“Kau satu kelompok pentas seni dengan Jessica?”

Seohyun mengangguk. “Ya, benar. Kenapa kalian harus merahasiakan hubungan kalian? Satu fakultas menganggap Jessica lajang dan—“

“Dan?”

Seohyun menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Ah, pertanyaanku belum oppa jawab. Kenapa hubungan kalian harus dirahasiakan?”

“Jika aku tidak memperkenalkan diri sebagai sepupu Jessica pada pria itu, mungkin kami tidak akan merahasiakan status hubungan kami yang sesungguhnya.”

Seohyun sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut pada Luhan karena ia masih belum mengerti, tapi waktu memaksanya untuk pergi. Ponsel Seohyun pun sedari tadi berdering, namun wanita itu memilih untuk tidak mengangkat panggilan telepon karena sedang berbincang dengan Luhann.  “Teman-temanku mungkin sudah menungguku terlalu lama. Aku pergi dulu, oppa. Ah, ya, semoga hubunganmu dengan Jessica abadi.”

Seohyun tersenyum seraya berdiri dari tempat duduk kemudian pergi meninggalkan Luhan. Tepat setelah kepergian Seohyun, ponsel Luhan berbunyi. Ada pesan masuk dari Jessica.

From: Jessica

Kau pulang saja dan jangan mencariku. Aku butuh waktu sendiri.

***

Luhan tidak bisa menuruti perkataan Jessica di pesan singkat. Ini terasa aneh bagi Luhan. Sesuatu pasti sudah terjadi pada Jessica. Oleh karena itu, dengan kedua kakinya dia terus mengelilingi mall untuk mencari sosok Jessica. Bibir pria itu membentuk senyuman ketika menemukan wanita yang dicarinya sedang duduk di bangku yang ada di halaman luar mall. Luhan segera menghampiri Jessica.

“Sebenarnya kau ini kenapa?”

Jessica mendongkak. Dia menghela napas, “Aku butuh waktu sendiri. Bukankah aku sudah mengatakan hal itu di pesan singkat?”

“Apa kau masih marah padaku?”

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya sedang menyesali kebodohanku.”

“Maksudmu?”

Jessica berdiri dari duduknya. Dia menatap Luhan serius, “Maaf telah membuatmu menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai. Maaf juga karena aku telah merepotkanmu akhir-akhir ini. Setelah dipikir-pikir, pernikahan kita tidak akan berjalan sempurna. Aku tidak ingin menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk. Jadi, aku memutuskan agar kita segera berpisah.”

“Apa kau sudah gila?”

“Ya, aku sudah gila. Tapi jangan khawatir, wanita gila yang tidak kau cintai di hadapanmu ini tidak akan mengganggu hidupmu lagi.”

“Kau salah, Jess. Kau tidak tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku anggap kau sedang mabuk. Lebih baik kita pulang, aku tidak akan menghiraukan perkataanmu.”

“Aku tidak akan pulang bersamamu. Aku akan mencari apartemen untuk tinggal. Sesungguhnya aku serius ingin berpisah denganmu.”

Luhan menatap Jessica dengan tajam, “Aku sungguh tidak mengerti apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Tapi satu hal, Jess. Apa kau masih akan berpisah dengaku jika pada kenyataannya aku memang mencintaimu?”

“Jangan berbicara omong kosong—“

“Aku tidak berbicara omong kosong. Aku memang mencintaimu.”

Jessica tersenyum samar, “Tidak ada bukti untuk hal itu.”

“Tapi ini bisa menjadi bukti bagimu..”

Belum sempat Jessica menjawab, Luhan sudah membawa Jessica dalam dekapannya dan bibir pria itu pun sudah mengunci bibir Jessica agar tidak berbicara hal yang tidak ingin Luhan dengar. Jessica membeku akibat perlakuan Luhan. Namun, perlahan Jessica meluluh dan memejamkan matanya, menikmati ciuman Luhan yang semakin dalam dan membuat tubuhnya hangat… juga nyaman.

Tanpa kedua insan tersebut ketahui, sedari tadi seorang pria sudah mengamati mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Pria itu hanya bisa berdiri diam dan melihat pemandangan yang entah mengapa membuat dadanya terasa panas. Pria itu adalah Baekhyun.

“Firasatku benar, hubungan mereka lebih dari hanya sekadar sepupu…”

***

Preview chapter 4

“Akhhhh!! Kenapa kau ada di sini dengan keadaan seperti itu?”

 “Biasanya juga kita tidur bersama, kan?”

“Tapi ini berbeda, bodoh!! Akhhh eommaaa.. Luhan menyentuhku!”

 

“Kau masih bertahan dengan Luhan?”

“Jika kau tidak memiliki keperluan yang penting, pintu keluar ada di sebelah kanan.”

“Ternyata kau menyebalkan, Jessica-ssi.”

“Ternyata kau bodoh, Jieun-ssi. Apa kau tidak mengerti? Aku sedang mengusirmu.”

 

“Berhentilah mengikutiku, kau harus bekerja.”

“Tidak sebelum kau memaafkanku.”

“Itu tidak akan terjadi, Luhan.”

“Kenapa kau masih di sini? Kau sebaiknya pulang. Hari sudah malam.”

“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, Sica.”

“Apa?”

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

::::::

Taraa… sesuai hasil voting, aku publish The Destiny of Us terlebih dahulu. Untuk ff lainnya—kebetulan itu ff series semua—akan aku publish setelah The Destiny of Us tamat. Kenapa? Pencegahan agar ff The Destiny of Us ini tidak berhenti di tengah jalan. Intinya, aku akan fokus dulu pada ff-ku yang satu ini. Jika aku mempublish ff lain, mungkin itu hanya oneshoot ataupun kumpulan drabble.

Sebenernya chapter tiga ini udah kelar dari dulu.. tapi aku kurang pede sama alur ceritanya yang semakin absurd. Setelah dirombak, ternyata kisahanya masih sama absurd. Jadi, maaf kalau chapter tiga ini tidak memuaskan /.\ And… see you again in the next chapter (;

114 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 3

  1. mereka ini masih labil jadi ya masih butuh penyesuaian tapi si jieun ini dah kayak orgil aja maksa banget prngen gw jambak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s