Evening Boy

evn

Evening Boy

Jessica – Jinki

Angst

Rated T

note: Entahlah, aku bingung ini oneshot atau ficlet atau drabble. Happy reading, RCL juseyo~

 

@@@

 

Jessica duduk diam di kasurnya sambil memikirkan seseorang—namja yang selalu mendatanginya setiap senja, dan dari ceritanya, namja itu masuk lewat jendela. Jessica tidak mengetahui bagaimana majah namja itu, karena dia buta. Namja yang baik, menyenangkan, tapi juga berisik. Namja itu bahkan tidak mau memberitahu namanya kepada Jessica. Dia akan menjawab seperti ini jika ditanya namanya oleh Jessica: “Agassi, aku kan tidak tau namamu. Jadi kamu juga tidak perlu tau namaku.” Namja yang aneh, bukan?

Jessica langsung menoleh ketika pintu kamarnya terbuka. Matanya tidak terfokus. Seseorang masuk ke kamarnya. Oh, sudah waktunya makan siang rupanya, itu pasti eomma, batinnya.

“Dari tadi hanya diam saja, Jessica?” Tanya eommanya, kemudian duduk di tepi ranjang Jessica.

Ne eomma, aku sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Jessica sambil membenahi posisinya, bersandar pada sandaran kayu tempat tidurnya.

“Memikirkan apa?”

“Emmm, ada seorang namja yang beberapa hari ini selalu mendatangiku setiap petang.”

Nuguji?

Molla. Dia menolak setiap kutanya namanya.”

Eommanya tertawa kecil, “yasudah biarkan saja. Mungkin dia hanya ingin menemanimu.” Jessica hanya menjawabnya dengan anggukan. Eommanya pun mulai menyuapinya bubur untuk makan siangnya.

 

@@@

 

“Sudah makan?” Tanya namja itu. Jessica hanya membalasnya dengan anggukan.

“Apa kamu sudah jauh lebih baik?” namja itu bertanya lagi, dan lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh Jessica.

“Kamu tidak ingin ‘melihat’ wajahku lagi?” kali ini, Jessica meresponnya dengan mengangkat tangannya, dan menggerak-gerakkannya. Mencari pipi namja itu. Got it!

Jessica mulai menelusuri wajah namja itu. Meraba-raba sekitar matanya, meraba bibir tebalnya, dan terakhir memegang hidungnya. Secara tiba-tiba, Jessica mencubit hidung namja itu.

“Akh! Appoyo..” keluh namja itu karena cubitan Jessica yang lumayan keras.

“Hehe. Habisnya hidungmu itu besar sekali. Aku selalu ingin mencubitnya setiap memegangnya.” Kata Jessica sambil tertawa kecil.

“Yasudah. Mulai besok aku tidak akan kesini lagi. Aku bosan dicubiti terus hidungku.” Ujar namja ‘hidung besar’ tadi.

“Silahkan saja, aku tidak keberatan.” Jawab Jessica santai.

“Hmmm” Namja itu hanya menggumam menanggapi jawaban Jessica.

Hening…

“Sudah pergi?” Tanya Jessica kepada namja itu.

“Tidak, nanti kamu menangis.” Jawab namja bersuara khas itu dengan percaya diri.

“Cih. Aku tidak akan menangis. Lagipula, mamang ada orang buta yang menangis?” timpal Jessica.

Tidak ada suara. Jessica memiringkan kepalanya. Dia mengira namja itu sudah pergi, karena memang biasanya namja itu datang dan pergi seenaknya.

“Aku masih disini, kok.” Suara namja itu mengagetkan Jessica yang sedang melamun.

“Aku tidak mau tau, kok.” Celetuk Jessica.

“Yah! Menyebalkan.” Namja itu mencubit pipi Jessica kesal.

“Hei, hidung besar! Hentikan! Mani apha~” rengek Jessica, akhirnya si hidung besar itu menghentikan aksinya.

“Makanya, jangan berkata seolah-olah tidak membutuhkanku.” Ujar namja itu, kemudian mengelus pipi Jessica yang tadi dicubitnya.

Jessica memasang ekspresi aneh dengan alis yang terangkat sebelah dan bibirnya dimajukan. Itu yang selalu diperlihatkannya setiap namja hidung besar itu memprotes ucapannya yang menurutnya benar.

“Lima bulan lagi, kamu ulang tahun, ya?” Tanya namja itu. Hey, bagaimana bisa si hidung besar ini mengetahuinya?, batin Jessica. Tapi kalimat itu hanya disimpannya dalam hati dan menanggapi pertanyaan namja itu dengan anggukan.

“Aku punya hadiah special untukmu~” Kata namja itu dengan nada yang ceria.

“Jeongmal? Apa itu?”

“Tidak sekarang, kalau kuberi tau ya sama saja namanya bukan kejutan…” kalimat namja itu terdengar menggantung. Jessica hanya diam untuk mendengar kelanjutannya.

“Tapi, setelah ulang tahunmu, mungkin aku tidak akan pernah mengunjungimu lagi.” Lirihnya.

“K-kenapa?” Tanya Jessica terbata. Bagaimana dia tidak terkejut? Namja itu yang menemaninya akhir-akhir ini. Teman-teman sekolahnya menjauhinya setelah kecelakaan yang membuatnya buta, dua tahun yang lalu. Karena itulah, Jessica tidak ingin melanjutkan sekolah.

“Gwaenchana. Aku hanya tidak akan mengunjungimu. Tapi kamu ‘kan bisa melihatku.” Hiburnya.

“Entahlah, jangan bahas lagi. Itu masih lama.”

“Ya benar. Sebaiknya kamu mak—”

“Pulanglah.” Jessica memotong ucapan namja itu.

“Aku belum—”

“Pulanglah. Sebagai hukuman, jangan mendatangiku lagi. Aku tidak butuh hadiah apapun.”

 

@@@
5 bulan kemudian, 18 April 2014

 

Lima bulan lalu adalah pertemuan terakhirnya dengan namja yang biasa dia panggil hidung besar itu. Namja itu menuruti permintaannya untuk tidak lagi mengunjungi Jessica. Walau begitu, Jessica juga menyadari kalau dia merindukan namja itu. Hari-hari tanpanya terasa sepi.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hari yang dijanjikan oleh namja hidung besar itu untuk memberinya hadiah special. Tapi, tanpa namja itupun hari ini tetap istimewa, karena hari ini matanya akan di operasi. Setelah dua tahun, akhirnya keluarganya menemukan pendonor mata untuk Jessica.

 

“Sudah siap?” Tanya dokter itu. Jessica hanya mengangguk sebagai jawaban.

Dia mendengar suara aneh dari alat-alat yang menurutnya akan digunakan dokter itu saat mengoperasi matanya. Beberapa detik kemudian, dia merasakan jarum suntik menembus kulit lengannya, dan dia tidak merasakan apa-apa lagi.

 

@@@

 

Setelah dokter membuka perban yang membalut daerah matanya, perlahan Jessica membuka matanya. Terang, dan sosok eommanya-lah yang pertama kali dilihatnya.

Jessica tidah tahan lagi. Senyumnya mengembang dan air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Eommanya menghampiri Jessica dan memeluknya.

“Terimakasih, Tuhan!”

 

@@@

 

Malam hari setelah pulang dari rumah sakit dan eommanya tertidur, Jessica masih membuka matanya. Betapa semua ini menakjubkan baginya.

Dia menelusuri seluruh penjuru kamar dengan pengelihatannya. Matanya terpaku pada selembar kertas yang tertempal di papan kecil di samping meja belajarnya. Yeoja itu berjalan untuk membaca tulisan di kertas itu.

Annyeong Agassi!

Sudah bisa melihat ‘kan, pasti? Berarti kau sudah menerima hadiah istimewa dariku. Selamat ulang tahun!

-hidung besar tapi tampan, LJK-

Jessica mengerjap membaca pesan singkat dari namja hidung besar itu. Bagaimana bisa namja itu masih mengingatnya? Dan juga, apa yang dia maksud hadiah istimewa?

 

@@@
19 April 2014, 5.21 pm

 

Jessica melihat seorang namja berambut cokelat di kursi di depan rumahnya. Karena penasaran, dia pun menghampirinya.

Setelah sampai, Jessica duduk di tempat kosong sebelah namja itu.

“Hai, kenapa senja begini di luar rumah?” Tanya Jessica sok akrab dengan namja itu.

Namja itu menoleh ke arahnya, tapi pandangannya tidak focus. Apa dia buta?, pikir Jessica.

“Eobseo, hanya sedang memikirkan seseorang.”

Jessica mengangguk kemudian mengulurkan tangannya. “Jessica imnida.”

Namja berhidung besar itu tidak membalas uluran tangannya, Jessica pun yakin kalau namja itu buta.

Namja itu terlihat membuka mulutnya, “Lee Jinki imnida.”

 

END

28 thoughts on “Evening Boy

  1. Udh bsa nebak pst jinki ngasih matany sbg kado ultah buat jess. pas jinki bilang klo jess bkal bsa ngliat lg 5month later. But overall ok. Nice ff, so sad😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s