21

Yura Lin proudly present; 21

Genre:

AngstRomance

Cast:

SNSD Jessica | INFINITE L | Dalshabet Gaeun

Jessica (48) infinite-kpop-myungsoo-favim-com-2532491 Ga Eun Dal Shabet

*

“21 tahun untukku hidup di dunia ini. 21 hari untukku menemukan sesuatu yang penting. 21 detik untukku mendapatkan kebahagiaan hati.”

– Kim Myungsoo –

“Gaeun-ah, apa itu cinta?” tanya pria itu.

Gaeun menatap pria yang menjadi suaminya itu dengan seksama. Sebuah senyuman pun terukir di bibirnya. “Cinta, ya? Aku juga tidak tahu. Tapi kata orang, itu adalah sesuatu yang indah.”

*

21

*

2007

Beberapa orang berjubah putih itu berlalu-lalang sambil memeluk sebuah dokumen. Beberapa orang lainnya sibuk membuat oretan di kertas yang mereka pegang sambil memperhatikan kondisi orang-orang yang terbujur lemas di tempat tidur.

Satu orang yang menjadi ketua dalam penelitian kala itu, duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Matanya memperhatikan sekitar. Dia mendesah pelan ketika seseorang menghampirinya dan memberikannya sebuah dokumen. Mata terbelalak untuk beberapa menit pertama lalu sebuah senyuman sedih muncul. Ia pun sadar, penelitiannya kali ini gagal.

Ya, gagal.

“Begitu, ya… mereka hanya bisa bertahan sampai umur 21,” gumamnya.

***

2012

“Ya Tuhan, Kim Myungsoo, berhenti di sana! Tepat di sana! Ku bunuh kau jika berani bergerak!” teriak seorang gadis sambil melepas sepatu hak tingginya yang membuatnya sulit berjalan.

Kim Myungsoo berhenti melangkah. Dia tidak bergerak sama sekali seperti apa yang diperintahkan gadis itu. Kamera yang sedari tadi dimainkan, kini terkalung begitu saja di lehernya. Dia berbalik badan dan melihat gadis itu berjalan menghampirinya dengan telanjang kaki, sepatunya berada di tangannya.

“Cho Gaeun,” ucap Myungsoo tanpa ekspresi.

Gadis itu—Gaeun—mengulurkan tangannya yang memegang sepatunya. “Tolong.”

Tanpa kata-kata lainnya, Myungsoo meraih sepasang sepatu tersebut. Gaeun tersenyum senang. Diraihnya tangan Myungsoo yang kosong.

“Ah~ walaupun kau menyebalkan, kau tetap suami yang baik,” seru Gaeun sambil menarik Myungsoo menuju rumah di depan mereka.

Rumah baru mereka.

Yap, mereka baru saja pindah ke rumah ini. Sebelumnya mereka tinggal di Amerika dan memutuskan untuk tinggal di Korea. Tidak jelas apa alasannya. Kehidupan mereka di Amerika cukup menyenangkan dan semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tapi tiba-tiba di Kamis pagi yang mendung, Myungsoo mengajaknya untuk pindah ke Korea. Gaeun langsung menyetujuinya tanpa bertanya.

Mereka pun seperti itu. Mereka tidak saling suka. Myungsoo mengajaknya menikah karena ia hanya dekat dengan Gaeun. Dia sendiri tidak tahu apakah ada alasan lain selain itu untuk menikahi Gaeun. Dia hanya ingin menikah dengan Gaeun sehingga dia tidak akan kehilangan temannya. Sementara Gaeun terpaksa menikah dengan Myungsoo karena menurut perjanjian yang dibuat antara Myungsoo dengan para orang-orang itu, ia bisa mendapatkan segala keinginannya jika bersedia menjadi korban percobaan.

“Apa yang rencanamu selanjutnya?” tanya Gaeun begitu mereka sudah berada di dalam rumah.

Myungsoo memperhatikan sekitar sebelum menjawab, “Mencari sesuatu.”

“Sesuatu?”

“Sesuatu yang penting.”

***

2013

Seperti hari-hari biasanya, dia duduk di kursi taman tanpa melakukan apapun. Ada kamera di tangannya namun tak ia gunakan. Dia menoleh ketika merasa ada yang duduk di sampingnya. Jujur saja, ia cukup terkejut melihat Gaeun lah yang duduk di sampingnya karena  biasanya istrinya tidak akan mau datang ke taman seperti ini, taman yang hanya didatangi oleh ibu-ibu rumah tangga dan anak kecil. Tidak ada pria muda yang tampan. Membosankan, begitulah katanya.

“Sudah waktunya ke rumah sakit,” kata Gaeun.

Myungsoo membalasnya dengan gumaman.

“Apa kau sudah menemukannya? Menemukan sesuatu yang penting itu?” tanya Gaeun.

Myungsoo menggeleng.

Gaeun menghela napas seraya bangkit dari duduknya. “Baiklah, ayo pergi!”

***

“Bagaimana keadaannya?” tanya Gaeun.

Dokter Ahn yang khusus menangani Myungsoo selama di Korea itu menulis beberapa hal di dokumen milik Myungsoo. Bisa dibilang, hanya dokter Ahn lah yang tahu keadaan Myungsoo karena dokter Ahn merupakan koneksi dari orangorang yang sudah merusak tubuh Myungsoo di Amerika.

“Dia akan baik-baik saja jika dia meminum obatnya dengan teratur. Semuanya baik-baik saja,” kata dokter Ahn.

“Kau dengar itu, Myungsoo-ya? Kau baik-baik saja!” seru Gaeun.

Myungsoo memutar matanya. “Aku akan tetap meninggal saat aku berumur 21 tahun.”

Gaeun mencubit Myungsoo sambil menatap suaminya tajam. Walaupun pria itu kesal dengan nasibnya, tetap saja ia harus menjaga sikap.

“Hati-hati di jalan, ya. Kembali minggu depan,” pesan dokter Ahn sambil menjabat tangan keduanya.

Myungsoo dan Gaeun memberi bungkukkan terakhir lalu keluar dari ruang praktek dokter Ahn. Karena semua biaya sudah otomatis dibayarkan oleh pihak Amerika, mereka bisa langsung pulang.

“Kau mau langsung pulang?” tanya Gaeun.

Myungsoo menghela napas panjang. “Aku ingin kembali ke taman. Waktuku tinggal 21 hari untuk menemukan sesuatu yang penting itu.”

Gaeun mengangguk mengerti.

***

Lagi-lagi pria itu kembali, pikir Sooyeon. Dia, pria yang selalu memakai sesuatu yang hitam itu, kembali ke taman dan duduk di tempat yang sama. Jika pria itu muncul sesekali, tentu saja ia tidak akan menarik perhatian Sooyeon. Tapi ia selalu datang ke taman setiap hari sejak setahun yang lalu. Ia memperhatikan sekitarnya seakan mencari sesuatu.

Setelah satu tahun penuh penasaran, akhirnya Sooyeon memutuskan untuk menghampiri pria itu. Ia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya dilakukan pria itu di taman ini. Apa dia masih normal? Dia bukan om-om genit yang mencari mangsa, ‘kan?

Annyeonghaseyo,” sapa Sooyeon sopan.

Pria itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali melihat ke depan. Sooyeon mendengus kesal. Tapi dia tidak menyerah.

“Aku sering melihatmu datang ke taman ini. Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini? Apa kau butuh bantuanku? Aku siap membantumu loh!” serunya.

Kali ini, pria itu bahkan tidak memberikan respon!

“Namaku Sooyeon. Jung Sooyeon. Aku pindahan dari Seoul dan tinggal bersama sahabatku karena aku tidak mau ikut dengan keluargaku pindah ke luar negeri. Lagipula kehidupan di sini lebih menyenangkan. Bukankah begitu?”

Pria itu masih tidak mengatakan apapun. Sooyeon berpikir keras untuk membuatnya berbicara. Kini ia penasaran apakah pria ini bisa berbicara atau tidak. Matanya tidak sengaja melihat kamera yang dipegang oleh pria itu. Akhirnya dia menjadi ide untuk topik pembicaraan selanjutnya.

“Kau suka fotografi ya? Aku juga! Sayang aku tidak punya kamera. Akan tetapi, dulu aku sempat mempunyai kamera loh! Kamera itu pemberian nenekku. Aku suka sekali memotret sekitarku tapi aku tidak suka difoto dengan kamera itu. Suatu hari, aku sedang asik memfoto teman-temanku lalu teman-temanku ingin memfotoku dengan kameraku. Aku menolak tapi mereka memaksa. Kameraku punya jadi diperebutkan dan tidak sengaja terlemparkan ke kolam,” celoteh Sooyeon panjang lebar.

Ia sempat berhenti sejenak untuk melihat respon pria di sampingnya. Walaupun pria itu tidak menatapnya, ia tahu pria itu mendengarkannya jadi dia pun melanjutkannya, “Tapi kejadian itu saat aku masih di Seoul. Jadi orangtuaku membelikanku kamera baru karena aku mogok makan sejak kameraku rusak. Eh tidak lama, kamera barunya rusak. Jadi orangtuaku tidak mau membelikanku lagi. Aku juga tidak berani membelinya lagi. Aku takut merusaknya.”

Sooyeon cemberut karena pria di samping tidak juga mengatakan apapun. Dia pun pergi dengan langkah kesal.

“Huh, dasar tuli, buta, bisu!!! Menyebalkan!! Kalau punya mulut ya dipakai dong!” omel Sooyeon kesal. Tentu saja ia sudah jauh dari orang itu.

Sementara itu, di kursi taman, Myungsoo menggeleng pelan. “Dasar wanita cerewet.”

Tapi harus ia akui, ia tertarik mendengar cerita gadis itu. Ia bahkan ingin berkomentar tentang ceritanya tapi dia menahan diri. Dia tidak mau berbicara dengan orang asing.

***

Lagi, Sooyeon menemukan pria yang sama di tempat yang sama. Ia memang masih kesal dengan pria itu tapi rasa penasaran mengalahkannya. Akhirnya dia punya mencoba peruntungannya sekali lagi dan duduk di sampingnya.

Annyeonghaseyo, kita bertemu lagi! Kau masih ingat aku, ‘kan?” sapa Sooyeon.

Pria itu meliriknya seperti kejadian kemarin. Sooyeon hampir mengira pria ini robot jika pria itu tidak bernapas.

“Oh iya, apa kau suka membaca? Aku dan sahabatku membuka sebuah toko loh! Jika kau membeli di toko kami, aku akan memberikan diskon untukmu! Serius!” oceh Sooyeon.

Sooyeon kini sudah tidak peduli pria di sampingnya mendengarkan atau tidak. Rencananya hari ini adalah berbicara sampai pria di sampingnya berbicara, membentaknya atau pergi meninggalkannya. Intinya, dia tidak akan kalah!

“Kalau aku sih, aku suka sekali membaca. Aku sudah terbiasa membaca sejak kecil. Karena itu, aku bisa membaca 1 novel perhari. Aku paling suka novel Lima Sekawan. Apa kamu tahu novel apa itu? Biarkan aku ceritakan.”

Dan begitulah selanjutnya. Sooyeon menceritakan novel-novel kesukaannya secara rinci walaupun pria di sampingnya tidak mengatakan apapun. Tapi dari gerakan telinganya, ia tahu pria itu mendengarkan. Setelah ia habis dengan novel-novelnya, ia mengubah topik pembicaraan jadi anjing peliharaannya dan Taeyeon, sahabatnya.

“Sebelumnya aku mempunyai anjing bernama Ggulyee. Anjing yang sangat lucu! Sayang umur anjingku tidak terlalu lama. Padahal dia menjadi temanku sejak aku masuk SMA. Sebelum aku pindah ke kota ini, Ggulyee meninggal. Lalu Taeyeon membeli anak anjing baru setelah aku tinggal di Jeonju ini. Nama anjingnya adalah Ginger. Dia menegaskan bahwa anjing itu miliknya tapi aku tahu dia membeli anjing itu untuk menghiburku,” cerita Sooyeon.

Pria di sampingnya menoleh. Sooyeon menahan napas ketika sepasang mata itu menatap langsung ke matanya. Matanya sangat indah dan menghipnotiskan siapapun yang menatap mata itu tapi juga memancarkan kesedihan.

“A-aku juga…” pria itu terlihat ragu.

Sooyeon melompat girang dalam hati ketika pria itu mengatakan sesuatu kepadanya. Yey, misinya berhasil!

“Katakan saja!” desak Sooyeon.

“Aku juga pernah punya anjing saat di Amerika.”

Mata Sooyeon berbinar. “Amerika? Aku juga dari Amerika. Kau dari mana? Aku dari SF.”

Pria itu hanya menjawabnya dengan gumaman tapi tetap menatap Sooyeon. Seakan Sooyeon mengerti, dia kembali berceloteh tentang banyak hal. Tanpa sadar, hari sudah sore.

“Aku harus pulang,” kata pria itu sambil bangkit.

Sooyeon segera bangkit dan mencegah pria itu pergi. “Tunggu, jangan pergi sebelum kau memberitahuku siapa namamu! Aku kan sudah menceritakan banyak hal kepadamu. Tidak adil kau tidak pernah menceritakan apapun kepadaku.”

Pria itu menghela napas sambil merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan selembar kartu namanya dan diletakkan di telapak tangan Sooyeon lalu pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Setelah kepergian pria itu, Sooyeon membaca kartu nama itu.

“Kim Myungsoo. 20 tahun, uh? Berarti dia harus memanggilku Noona. Hehe…”

***

Gaeun mengerjap ketika sadar Myungsoo pulang lebih telat dari biasanya. Biasanya suaminya pulang jam 3 sore. Tapi hari ini, ia pulang jam 5 sore.

“Kenapa baru pulang?” tanya Gaeun.

“Seorang wanita menggangguku,” jawab Myungsoo sambil membuka sepatunya dan menggantinya dengan sendal rumah.

“Kau tidak memanggil petugas atau siapapun untuk mengusirnya?” tanya Gaeun lagi.

Myungsoo menggeleng.

Gaeun memicingkan matanya. “Mengapa?”

“Karena…” Myungsoo melirik Gaeun sekilas. “… dia menyenangkan.”

Myungsoo segera pergi ke kamarnya untuk mandi, meninggalkan Gaeun yang penasaran. Ini pertama kalinya Myungsoo mengatakan seseorang menyenangkan selain istrinya sendiri! Yah walaupun penasaran, Gaeun tidak terlalu mempedulikannya. Daripada sibuk dengan rasa penasarannya, lebih baik menyibukkan diri dengan mempersiapkan makan malam.

Setelah makan malam, mereka menonton televisi bersama. Sebenarnya hanya Gaeun yang menonton televisi karena Myungsoo sibuk dengan bukunya. Tiba-tiba dia teringat toko buku yang diceritakan oleh wanita yang bernama Sooyeon itu.

Myungsoo menutup bukunya. “Gaeun-ah.”

“Hm?”

“Ayo ke toko buku.”

***

Gaeun sudah hilang dari pandangan sementara dirinya mencari sosok yang asik berceloteh kepadanya siang ini. Panjang umur, dia ada di meja di sudut ruangan sambil membaca sebuah novel. Ternyata apa yang ia ceritakan bukanlah buatan semata.

“Soo—“

Sebelum Myungsoo berhasil menyebut nama gadis itu, Sooyeon sudah menoleh terlebih dahulu. Dia terbelalak melihat siapa yang datang ke toko buku miliknya dan Taeyeon.

“Kim Myungsoo, hei!” sapa Sooyeon.

Myungsoo menarik napas dalam. “Hai, Sooyeon-ssi.”

“Sooyeon noona,” ralat Sooyeon.

“Huh?”

“Aku lebih tua 3 tahun darimu. Jadi panggil aku Noona.”

Myungsoo menggeleng tidak setuju. “Aku tidak akan melakukannya.”

Wae?!”

“Karena aku tumbuh dengan budaya Amerika?”

“Tapi kau berada di Korea.”

“Tetap tidak mau.”

Fine!” Sooyeon meniup poninya kesal. “Begitu juga lebih baik. Jadi aku merasa muda. Ha. Ha. Ha!”

Myungsoo ingin sekali tersenyum melihat ekspresi gadis di hadapannya.

“Soo—“

“Myungsoo-ya! Sudah selesai belum? Ppali! Aku bisa ketinggalan acara kesukaanku!” teriak Gaeun.

Myungsoo menjilat bibirnya. “Sampai jumpa besok, Sooyeon-ssi.”

Sooyeon mengerjap linglung sedangkan Myungsoo pergi seenaknya tanpa menunggu jawaban dari Sooyeon.

Sampai jumpa… besok?!

***

Mereka bertemu lagi di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama. Myungsoo bukanlah pendengar yang baik. Bahkan selama ini ia selalu menyuruh Gaeun diam setiap Gaeun mulai mengeluh tentang sesuatu. Akan tetapi, berbeda sekali setiap ia mendengarkan Sooyeon. Dia senang mendengarnya. Dia malah ingin terus dan terus mendengar ocehan Sooyeon apapun, walaupun ocehan Gaeun jauh lebih masuk akal daripada Sooyeon.

Maksudku, hey, bahkan yang diocehkan oleh Sooyeon hanya tentang buku-buku dan sesuatu yang ia tonton. Sesuatu yang belum terbukti benar terjadi dan tentu juga, tidak berhubungan dengan Myungsoo sama sekali. Berbeda dengan Gaeun yang selalu berpikir rasional seperti dirinya. Mungkin Gaeun adalah wanita terasional yang ada di dunia ini. Dia pun, Myungsoo, adalah orang yang selalu mengutamakan logika. Akan tetapi, mengapa ocehan Sooyeon yang tidak penting malah terdengar menarik olehnya?

Jika sudah bertemu dengan Sooyeon, maka waktu akan berjalan dengan sangat cepat. Ia akui, ia benci hal ini. Dia tidak ingin waktu berjalan dengan cepat. Dia masih ingin lebih lama hidup untuk mengenal gadis yang baru saja ia kenal. Namun jika alasannya karena Sooyeon, dia tidak akan protes.

Hari ini, setelah Sooyeon puas mengoceh panjang-lebar, gadis itu mengajak Myungsoo ke museum di kota Jeonju. Di museum tersebut, Sooyeon kembali mengoceh tentang semua hal yang ada di museum itu. Entah mengapa, walaupun Myungsoo tidak sekali pun memberikan komentar tentang apapun yang ia ceritakan, Sooyeon tidak keberatan untuk berbicara tanpa henti. Ia menjadi cerewet dua kali lipat dari dirinya yang biasa ketika ia bersama Myungsoo. Dia tidak tahu mengapa. Tidak tahu.

“Aku paling suka dengan lukisan ini. Aku bisa merasakan cinta dari lukisan ini,” kata Sooyeon sambil menangkup wajahnya sendiri dan tersenyum seperti orang yang sedang kasmaran.

Myungsoo mengangkat alisnya. “Kau bisa merasakan cinta?”

Sooyeon menoleh dan mengerjap bingung. “Err… tidak juga sih. Intinya aku tahu pelukis ini pasti sedang memikirkan orang yang ia cinta saat melukis ini.”

Myungsoo mengangguk pelan. Tapi sebenarnya hatinya masih penasaran.

“Apa itu cinta?”

Sooyeon terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia terlihat kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan Myungsoo.

“Hm, cinta itu adalah sesuatu yang indah. Yang membuat hidup menjadi lebih berwarna. Ya, begitu lah,” jawab Sooyeon tidak yakin.

“Tapi aku sering melihat orang-orang menangis karena cinta di film-film,” balas Myungsoo.

Sooyeon menggaruk kepalanya gemas. “Aish, molla!”

***

Gaeun menyusun piring-piring di atas meja makan sambil sesekali melirik suaminya. Walaupun Myungsoo selalu menghabiskan siangnya dengan Sooyeon, ia selalu pulang sebelum jam makan malam. Dia selalu makan malam di rumah. Sebenarnya Gaeun tidak peduli suaminya makan malam di rumah atau tidak. Selama Myungsoo senang, ia pun ikut senang.

“Kau bersenang-senang hari ini?” tanya Gaeun setelah semua selesai dan dia duduk di depan Myungsoo.

Myungsoo menatap mata Gaeun dan tersenyum. “Ya.”

“Baguslah.” Hanya itu yang bisa ia katakan setelah melihat senyuman Myungsoo.

Pipi Gaeun merona. Tidak, dia terpesona bukan karena ia menyukai pria di depannya. Myungsoo hampir tidak pernah tersenyum tapi ia tahu, senyuman suaminya sangat menawan. Wanita lain pun akan meleleh jika melihat senyuman itu.

Myungsoo memperhatikan Gaeun yang mulai mengisi piring dengan berbagai makanan. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan sesuatu. Akan tetapi, dia tidak berpikir Gaeun akan menganggap pertanyaannya serius, mengingat Gaeun selalu bermain-main dengannya. Ketika piringnya yang sudah terisi itu kembali ke hadapannya, tekadnya pun bulat.

“Gaeun-ah, apa itu cinta?” tanya pria itu.

Gaeun menatap pria yang menjadi suaminya itu dengan seksama. Sebuah senyuman pun terukir di bibirnya. “Cinta, ya? Aku juga tidak tahu. Tapi kata orang, itu adalah sesuatu yang indah.”

“Sooyeon juga memberikan jawaban yang serupa,” gumam Myungsoo pelan sambil memainkan sendok dan garpunya.

“Aku tidak bisa menjelaskannya karena aku juga tidak tahu, Myungsoo-ya.”

“Kau sering berkencan dengan para pria.”

Gaeun menarik napas dalam. “Iya, benar. Tapi itu hanya sebatas kami saling tertarik satu sama lain. Bukannya cinta. Itu sebabnya hubungan kami tidak bertahan lama.”

Myungsoo mengernyit bingung. “Berarti aku dan kamu adalah cinta?”

“Bukan itu maksudku! Kita bersama karena perjanjian. Aku bahkan tidak bisa membuatmu tersenyum sepanjang waktu. Dan sudah jelas, aku tidak mencintaimu.”

“Jika aku tersenyum sepanjang waktu, bukankah artinya ada yang tidak beres dengan kejiwaanku?”

“Cinta memang membuat diri kita menjadi tidak beres.”

Myungsoo menggeleng pelan. “Cinta itu berbahaya.”

***

Hari ini, Myungsoo tidak tertarik untuk pergi ke taman. Sooyeon sedang pergi ke Seoul untuk mengurus pembelian buku-buku dalam jumlah banyak untuk mengisi toko bukunya yang mulai kosong. Tanpa Sooyeon, pergi ke taman bukanlah hal yang mengasyikkan. Daripada pergi ke suatu tempat, ia memilih untuk berbaring di kasurnya sepanjang waktu.

Gaeun muncul dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah lalu duduk di depan meja rias. Suara riuh yang disebabkan oleh gadis itu mengganggu Myungsoo tapi pria itu tidak terlihat peduli. Setelah tinggal bersama selama 2 tahun, Gaeun tidak pernah malu memakai atau mengganti pakaian di depan Myungsoo. Toh, Myungsoo adalah suaminya.

“Terkadang aku bingung mengapa aku memintamu menjadi istriku,” gumam Myungsoo.

“Karena aku cantik, menyenangkan, bisa melakukan apapun. Singkatnya, aku sempurna,” sahut Gaeun.

“Jika kau sempurna, mengapa aku tidak mencintaimu?” tanya Myungsoo.

Gaeun menoleh cepat, melototi pria yang berbaring di kasur itu. “Seriously? Kau masih memikirkan soal itu? Sejak kapan kau peduli dengan cinta?” Gaeun menghela napas. “Well, sebentar lagi kau akan bergabung dengan tanah. Jadi tidak ada gunanya mencintaiku.”

Myungsoo menjilat bibirnya. “Aku masih penasaran.”

“Orang yang tidak punya perasaan sepertimu tidak akan pernah mengerti cinta. Jadi lupakan saja,” cibir Gaeun. “Oh iya, kau sudah menemukan sesuatu yang penting itu?”

Myungsoo menatap Gaeun lalu mengerjap. “Aku lupa mencarinya.”

Gaeun mengangguk asal. “Ya tentu. Karena akhir-akhir ini, kau sibuk dengan Sooyeon. Ingat, waktumu tinggal 13 hari lagi. Cepat temukan hal yang kau cari, karena aku tidak mau kamu mati penasaran. Hih~ seram!”

Myungsoo tersenyum mendengarnya, yang membuat Gaeun lagi-lagi terpesona. Ia menepuk sisi kasur yang kosong agar ditempati oleh istrinya. Gaeun segera menurutinya.

“Gaeun-ah,” panggil Myungsoo.

“Hm?”

“Berceritalah.”

Gaeun menoleh bingung. “Tentang apa?”

“Tentang apapun. Aku ingin mendengar ceritamu.”

Gaeun benar-benar bingung mendengarnya. Selama ini, Myungsoo tidak pernah mau mendengarnya bercerita tentang sesuatu yang tidak penting. Tapi tiba-tiba Myungsoo memintanya untuk bercerita.

“Mengapa?” tanya Gaeun bingung.

Myungsoo memejamkan matanya sejenak. “Aku merindukan cerita dari Sooyeon.”

***

Myungsoo dikejutkan dengan dering telepon. Ia sedang sendiri di rumah malam itu karena Gaeun sedang berkencan dengan pria yang baru ia temui kemarin malam di kelab malam. Dengan setengah hati, ia mengangkat telepon.

Hello, Myungsoo’s speaking.”

Hai, Myungsoo-ssi! Ini aku, Jung Sooyeon!” seru seseorang di ujung sambungan telepon.

Mata Myungsoo berbinar mendengar suara yang tidak asing di telepon. Tanpa sadar, ia kembali tersenyum.

“Oh hai, Sooyeon-ssi,” balasnya.

Oh.. hm… apa kabarmu?

Alis Myungsoo terangkat bingung. “Kau meneleponku hanya untuk menanyakan kabarku?”

“Aish, tentu saja tidak! Aku ingin mengobrol denganmu. Tapi rasanya tidak sopan jika tidak menanyakan kabar terlebih dahulu.

“Aku baik. Kau?”

Aku juga baik. Oh iya, aku akan pulang besok. Huhu, berada di Seoul selama 3 hari saja sudah membuatku merindukan keadaan di Jeonju. Aku yakin Taeyeon pasti juga merindukanku. Kau merindukanku juga?

“Ya, aku merindukanmu,” jawab Myungsoo.

Sooyeon terkekeh kaku. Sebenarnya ia bertanya hanya untuk basa-basi. Ia tidak menyangka Myungsoo akan menjawabnya seperti itu dengan cepat.

Astaga…

“Aku juga merindukan ceritamu,” tambah Myungsoo.

Oh!! Aku membeli banyak novel. Aku sudah membacanya beberapa dan ceritanya bagus sekali! Aku akan menceritakannya kepadamu cerita yang paling bagus di antara novel-novel itu!

Dan malam itu pun terasa lebih menyenangkan bagi Myungsoo yang ditemani suara Sooyeon yang asyik bercerita.

“Hm, cinta itu adalah sesuatu yang indah. Yang membuat hidup menjadi lebih berwarna. Ya, begitu lah.”

“Bukan itu maksudku! Kita bersama karena perjanjian. Aku bahkan tidak bisa membuatmu tersenyum sepanjang waktu. Dan sudah jelas, aku tidak mencintaimu.”

Senyuman Myungsoo lenyap ketika ia teringat kata-kata Sooyeon dan Gaeun tempo hari. Harinya meragu.

Cinta…?

***

“Gaeun-ah, apa artinya jika ada seseorang yang berhasil membuatku ingin hidup lebih lama?”

Mug di tangan Gaeun hampir terlepas akibat rasa shock yang menghantam Gaeun setelah mendengar pertanyaan Myungsoo. “Ssorry, what?”

“Apa artinya jika seseorang itu berhasil membuatku ingin hidup lebih lama? Apa artinya jika seseorang itu berhasil membuatku menikmati setiap sisa-sisa waktuku? Apa artinya jika seseorang itu berhasil membuatku dapat melihat dunia lebih indah dari sebelumnya?” tanya Myungsoo.

Gaeun mengerjap. Myungsoo memang senang bertanya kepadanya tapi dia tidak pernah menyatukan segala pertanyaan. Sudah pasti tadi adalah paragraf terpanjang yang pernah diucapkan oleh seorang Kim Myungsoo.

“Dan siapa yang kau maksud dengan ‘seseorang’ itu?” tanya Gaeun balik.

“Sooyeon.”

Kini perasaan Gaeun seperti seorang ibu yang melihat anaknya mengucapkan kata pertamanya. Bahagia dan terharu. Ia berusaha menahan tangisnya.

“Itu adalah cinta, Myungsoo-ya. Itu cinta. Kau mencintai Sooyeon.”

Myungsoo mengangguk. Matanya seakan terpana dengan apa yang ia dengar. Ia kembali tersenyum, kini dengan lebarnya. “Aku berhasil menemukan sesuatu yang penting itu.”

Rasa haru Gaeun berubah bingung. “Apa itu?”

“Perasaan yang hidup. Sooyeon.”

Sejak ia tahu bagaimana nasib, ia ingin segera menyusul orangtuanya yang meninggal karena percobaan gagal tersebut. Akan tetapi, orang-orang berjubah putih memohonnya untuk tetap hidup dan berjanji untuk mencari cara agar bisa menyelamatkan nyawanya. Bahkan mereka janji untuk memenuhi segala keinginan dan kebutuhan Myungsoo hingga ia meninggal. Pada akhir, mereka gagal menemukan cara untuk menyelamatkan Myungsoo.

Sejak saat itu, ia mencari sesuatu yang membuatnya hidup kembali. Dan Sooyeon membantunya kembali hidup. Sesuatu yang ia cari berupa Sooyeon. Sesuatu yang ia temukan di hari-hari terakhirnya. Walaupun ia bahagia, ia juga menyesal karena tidak dapat menemukan Sooyeon lebih cepat.

“Ajak Sooyeon untuk makan malam di sini besok. Aku juga ingin bertemu dan mengenalnya. Kau mengerti?” desak Gaeun. “Dia sudah pulang dari Seoul, ‘kan?”

Myungsoo mengangguk. Gadis itu baru saja pulang pagi ini dan tidak mau diganggu oleh siapapun karena ia ingin bermesraan dengan kasurnya.

***

Myungsoo pergi ke toko buku milik Sooyeon dan bertemu dengan Taeyeon. Taeyeon memberikannya alamat tempat ia tinggal bersama Sooyeon. Itulah bagaimana ia bisa bertemu dengan Sooyeon dan mengundangnya makan malam. Beruntung Sooyeon setuju.

Walaupun Myungsoo sudah menyuruh Sooyeon untuk berpakaian santai seperti biasanya, Sooyeon tetap bersikukuh untuk berpenampilan rapi. Pria itu mengerjap ketika melihat Sooyeon memakai gaun musim panas berdesain manis itu. Ini pertama kalinya ia melihat Sooyeon memakai gaun. Biasanya gadis itu bermodalkan t-shirt dan celana jeans untuk pergi kemana pun.

“Kau hanya tinggal berdua dengan Gaeun?” tanya Sooyeon.

Sooyeon tidak pernah mendengar Myungsoo bercerita tentang dirinya sendiri. Itu sebabnya ia memanfaatkan perjalanan dari rumahnya ke rumah Myungsoo untuk mengorek informasi lebih dalam tentang seorang Kim Myungsoo.

Myungsoo mengangguk. “Yap. Apa itu aneh?”

“Cho Gaeun dan Kim Myungsoo. Sudah pasti bukan adik-kakak, bukan?”

Myungsoo menoleh bingung. “Tentu saja tidak.”

“Lalu apa hubungan kalian?”

“Suami-istri.”

Sooyeon terengah kaget. “KAU SUDAH MENIKAH? TAPI AKU TIDAK PERNAH MELIHATMU MEMAKAI CINCIN?”

Myungsoo menutup kedua telinganya. Ini pertama kalinya ia mendengar Sooyeon berteriak dan hasilnya, telinganya terasa panas.

“Gaeun menyuruhku untuk tidak memakainya karena dia juga tidak memakainya,” jawab Myungsoo di beberapa detik kemudian.

Sooyeon menggigit bibirnya. Jujur saja, setelah kedekatan mereka di waktu yang singkat ini, ia mulai menaruh harapan kepada Myungsoo. Ya mungkin dia tertarik kepada Myungsoo. Tertarik, bukan cinta. Tapi tetap saja saat harapan itu hancur, rasanya sakit.

“Mungkin ada baiknya aku kembali,” gumam Sooyeon seraya berbalik badan.

Myungsoo menahan tangannya. “Wae?”

“Aku tidak enak badan.”

“Bohong.”

“Aku jujur.”

“Bohong.”

“YA, AKU BOHONG! KAU PUAS?!” bentak Sooyeon kesal.

Myungsoo cemberut mendengarnya. “Kau marah?”

Sooyeon menarik tangannya dan berlari pergi. Tapi Myungsoo berhasil mengejarnya dan kembali menarik tangannya.

“Jangan pergi. Gaeun sudah menunggumu. Dia benar-benar ingin bertemu denganmu. Ini pertama kalinya ia tertarik dengan wanita. Biasanya ia hanya peduli dengan pria,” kata Myungsoo.

Sooyeon menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. “Mengapa dia ingin mengenalku?”

“Karena dia tahu aku mencintaimu.”

Sooyeon tidak bisa berkutik. Rasanya seperti malaikat-malaikat kecil sedang mengelilinginya sambil melemparinya bunga-bunga surga tapi di saat yang sama, para iblis sibuk menancapkan pisau di hatinya.

Bagaimana jika Gaeun ingin bertemu denganku karena marah padaku?
Bagaimana jika Gaeun mengamuk dan membunuhku?
Bagaimana…

“Gaeun adalah orang yang baik walaupun kepercayaan dirinya di atas batas normal,” ucap Myungsoo dan membuyarkan lamunan Sooyeon.

“Kau tidak seharusnya mencintai orang lain setelah menikah!” omel Sooyeon.

Myungsoo mengerutkan keningnya. “Wae?”

“Itu namanya kau mengkhianati istrimu sendiri. Itu selingkuh. Itu perbuatan yang kejam!”

“Benarkah?” Myungsoo mengerjap bingung. “Tapi Gaeun terlihat sangat senang ketika mengetahui aku mencintaimu. Dia bahagia sekali sampai hampir menangis. Aku tidak pernah melihat ia sebahagia itu sebelumnya.”

Kini Sooyeon yang mengerjap bingung.

***

Myungsoo tidak becanda. Gadis yang bernama Gaeun itu memang sangat bahagia saat bertemu dengannya. Sooyeon benar-benar bingung dengan keadaan itu. Ia malah merasa seperti bertemu dengan seorang ibu yang bahagia karena bertemu dengan kekasih anaknya. Gaeun lebih muda dari Myungsoo tapi sama seperti Myungsoo, dia tidak mau memanggil Sooyeon dengan emble-emble kakak. Dia bertanya banyak hal tentang hubungan Sooyeon dan Myungsoo yang tidak bisa dijawab oleh keduanya karena mereka memang tidak mempunyai hubungan apapun. Myungsoo saja baru mengatakannya malam ini dan ia belum memberikan jawaban. Well, Myungsoo juga tidak menanyakan perasaannya.

“Apa kalian sudah pernah berciuman?” tanya Gaeun dengan mata berbinar.

Sooyeon menepuk wajahnya ketika sebuah pertanyaan konyol nan memalukan lainnya keluar dari mulut Gaeun. Myungsoo terlihat santai sambil menyantap makanannya tanpa niat untuk menjawab. Kenyataannya, sebuah pertanyaan Gaeun hanya dijawab olehnya. Myungsoo tidak mau ikut campur.

“Tidak pernah,” jawab Sooyeon malu. Ia yakin wajahnya sudah mengalahkan warna cangkang kepiting rebus karena semua pertanyaan Gaeun.

Gaeun menggeleng simpati. “Myungsoo memang pasif. Aku akan mengajarkannya bagaimana caranya untuk menjadi pasangan yang baik. Dijamin kau akan puas!”

Gaeun seakan tidak kehabisan kata untuk membuat wajah Sooyeon merah dan semakin merah.

“Kami bukan pasangan…” elak Sooyeon.

Gaeun terbelalak. “Bukan?”

“Aku baru tahu perasaanku kemarin. Tidak mungkin sekarang kami sudah menjadi sepasang kekasih. Lagipula, jika itu terjadi, itu namanya perselingkuhan. Bukan begitu, Sooyeon-ssi?” sahut Myungsoo akhirnya.

Sooyeon menutup wajahnya, enggan untuk menjawab.

Well, if you think so, then I cheated on you a thousand times, Myung,” balas Gaeun.

Myungsoo mengangguk setuju. “Dan aku baru membalasmu sekali.”

Sooyeon benar-benar tidak mengerti bagaimana hubungan mereka. Apa benar mereka menikah? Mengapa mereka tidak berperilaku seperti sepasang suami-istri? Mengapa mereka malah bertingkah seperti sepasang sahabat? Ia tidak mengerti.

“Myungsoo-ya, sudah waktunya minum obat,” peringat Gaeun.

Myungsoo membersihkan mulutnya dan meminum air yang tersisa di gelasnya sampai habis lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil obat.

“Dia sakit apa?” tanya Sooyeon.

Gaeun menggeleng. “Dia tidak sakit. Dia sekarat.”

***

Sooyeon masih tidak percaya cerita Gaeun. Dia tidak percaya pria di hadapannya sekarat karena percobaan yang gagal. Dia tidak percaya walaupun sudah 2 hari yang lalu, ia mendengar ini. Dia mencoba memikirkannya berkali-kali. Kisah Myungsoo seperti kisah-kisah yang ia baca di beberapa novel, yang jujur saja, bukan genre kesukaannya. Apalagi melihat Myungsoo yang kini cukup aktif dibanding pertama kali mereka bertemu.

Hari ini seperti hari-hari biasanya, mereka bertemu di taman dan Sooyeon bercerita tentang novel yang saja ia selesaikan satu hari. Setelah kisah itu selesai, mereka berjalan-jalan ke pasar besar tempat membeli oleh-oleh dan barang-barang menarik lainnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Myungsoo.

Pikiran sehat Sooyeon pun kembali. Dia mengerjap linglung. “Huh?”

“Ada yang sedang kau pikirkan?”

Sooyeon menunduk. “Eobseoyo.”

Myungsoo mengangguk mengerti. Matanya tertuju kepada sesuatu yang menarik. Ia menarik tangan Sooyeon dan berlari kecil menuju pedangan boneka di emperan jalan.

“Boneka ini bisa berbicara!” seru pedagang itu.

Myungsoo berjongkok. Wajahnya terlihat penasaran. “Benarkah?”

“Ya. Kau tinggal merekam suaramu dengan menarik ekornya dan saat kau menekan perutnya, suara rekamanmu akan terputar. Begini caranya.”

Pedagang itu mempraktekkannya dan Myungsoo bertepuk tangan, terkesan dengan yang ia lihat. Sooyeon terkekeh melihatnya. Mengingat cerita Gaeun, ia tidak kaget melihat Myungsoo seperti itu. Dia memang tidak bisa menikmati masa kecilnya. Pantas jika terkadang, Myungsoo masih memperlihatkan sifat kekanak-kanakannya.

“Berapa harganya?” tanya Myungsoo.

“100.000 won,” jawab pedagang itu mantap.

Sooyeon terbelalak mendengarnya. Tidak mungkin boneka kecil—tapi sangat lucu—itu berharga 100.000 won. Bahkan boneka besar di kebun binatang pun kalah mahal dari boneka itu. Sudah pasti pedagang itu berusaha menipu Myungsoo. Ia ingin melarang Myungsoo tapi ia baru sadar bahwa transaksi sudah selesai. Boneka kecil itu milik Myungsoo dan 10 lembar uang kertas 10.000 won itu milik sang pedagang.

“Kembalikan, Myungsoo-ssi! Kau ditipu! Tidak mungkin boneka kecil bisa semahal itu!” omel Sooyeon.

Myungsoo meletakkan telunjuknya di bibir Sooyeon. Bahkan sentuhan sederhana sanggup membuat tubuh Sooyeon seperti tersengat. Sayang sekali hubungan mereka belum resmi karena Myungsoo tidak pernah membicarakan tentang perasaannya lagi sejak makan malam itu.

“Biarkan saja. Berbagi itu tidak buruk,” ucap Myungsoo sambil menarik tangannya.

Sooyeon merengut mendengarnya. “Untuk apa kau membeli boneka itu? Tidak mungkin kau masih bermain dengan boneka, ‘kan? Atau untuk Gaeun?”

“Boneka ini untukmu.”

Mata Sooyeon berbinar mendengarnya. Segera diraihnya boneka itu tapi Myungsoo menjauhkan boneka itu dari jangkauannya.

“Tapi tidak sekarang.” Myungsoo terkekeh. “Ini adalah hadiah ulang tahunmu.”

Sooyeon mendesis kesal. “Jika begitu, harusnya kau tidak perlu mengatakannya sekarang! Itu bukan kejutan namanya. Dan jangan membelinya sekarang karena ulang tahunku masih lama sekali. Bisa-bisa boneka itu sudah rusak saat diberikan kepadaku.”

“Cerewet! Pokoknya di hari ulang tahun, boneka ini akan datang lewat paket ke rumahmu.”

Sooyeon memiringkan kepalanya bingung. “Kenapa tidak kau yang berikan langsung kepadaku?”

Myungsoo tersenyum kecil tanpa menjawab. Dia melangkah meninggalkan Sooyeon. Gadis itu segera mengejarnya dan menuntut jawaban tapi ia tidak mau menjawabnya.

Karena saat itu, aku sudah berada di langit. Memerhatikanmu dari atas sana.

***

Myungsoo memperhatikan botol berisi obat yang dikirim dari Amerika khusus untuknya itu. Pagi hari ini, ia memutuskan untuk tetap di rumah karena Sooyeon sedang pergi beribadah. Jangan tanya mengapa ia tidak ikut karena dia tidak percaya kepada Tuhan. Ia hanya tidak bisa percaya walaupun ingin. Dia tidak percaya kepada keajaiban maupun mujizat.

Ia juga tidak percaya dengan obat di tangannya. Ia tetap akan meninggal di hari ulang tahunnya yang ke 21 tahun. Gaeun dan pembuat obat itu pun setuju. Kenyataannya, kegunaan obat itu adalah mencegah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kegagalan serum yang ditanamkan di dalam tubuh Myungsoo agar Myungsoo tidak meninggal dalam keadaan menderita. Padahal ia yakin itu tidak akan terjadi karena ia sudah menemukan sesuatu yang penting itu, Sooyeon. Dia akan meninggalkan dunia ini dengan perasaan bahagia.

Karena hari itu adalah hari Minggu, tentu saja Gaeun sedang pergi dengan teman pria lainnya. Gadis itu akan terus bermain-main. Tidak ada yang tahu kapan ia akan berhenti dan mencoba untuk membangun hubungan yang serius. Sebagai suami, dia mengharapkan kebahagiaan untuk Gaeun karena saat ia meninggal nanti, Gaeun akan sendiri.

Karena tidak ada yang mengawasinya, Myungsoo memutuskan untuk tidak meminum obat itu dan memilih untuk memainkan laptop di kasurnya. Sejak mengenal Sooyeon, entah mengapa, ia menjadi lebih mencintai kasurnya. Padahal sebelumnya, ia memilih menghabiskan waktu di kursi taman dibandingkan dengan di kasur.

Myungsoo memijat matanya saat pandangannya mulai buram. Dia mengecek jam saat itu. Baru 3 jam ia memainkan laptopnya. Padahal biasanya, 7 jam tanpa istirahat pun matanya akan tetap baik-baik saja.

Im home~”

Myungsoo tersenyum mendengar suara Gaeun. Dia mulai bertanya-tanya apa alasan Gaeun pulang lebih cepat. Biasanya, seperti dirinya, Gaeun akan pulang sebelum waktunya makan malam setiap dia berkencan dengan seseorang.

Setelah laptopnya sudah mati dan disimpan di tempatnya, Gaeun pun muncul. Wajahnya terlihat panik.

Waeyo?” tanya Myungsoo.

“Aku lupa membawamu ke rumah sakit! Dokter Ahn sudah menunggumu,” panik Gaeun sambil mengeluarkan koper dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya.

“Tidak mau. Aku baik-baik saja,” tolak Myungsoo.

“Myung, waktumu tinggal—“

“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak mau menghabiskannya di rumah sakit.”

“Tapi akan lebih baik jika—“

Myungsoo bangkit dan mengambil baju-baju dari koper. Ketika ia hendak memasukkan baju-baju itu ke dalam lemari, tubuhnya ambruk.

“Kim. Myungsoo. What. The. Hell…” gumam Gaeun lemas.

***

Myungsoo membuka matanya perlahan. Sensasi dari kabel-kabel yang terpasang di tubuhnya pun membuatnya mengerang kesal. Ini yang tidak ia inginkan. Dia tidak mau bertemu dengan kabel-kabel itu lagi karena mengingatkannya dengan laboratorium tempat percobaan gagal itu terjadi. Sebuah kenangan yang ingin ia lupakan di sisa waktunya.

Dia menoleh kala mendengar suara isakan tangis. Sooyeon sedang bersandar pada dinding sambil menangis sedangkan Gaeun duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Dia tidak tahu pasti apa yang sedang dilakukan oleh istrinya tersebut.

“Kau sudah sadar?”

Sooyeon adalah yang pertama kali sadar. Mendengar perkataan Sooyeon, Gaeun mengangkat wajahnya. Dia bisa melihat wajah sedih gadis itu tapi ia tahu gadis itu tidak akan menangis. Gaeun adalah gadis yang kuat, jauh lebih kuat darinya.

“Aku akan memanggil dokter,” kata Sooyeon tapi Myungsoo segera menahan tangannya.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” larang Myungsoo lalu menatap Gaeun. “Gaeun-ah, kabel-kabel ini berlebihan. Kabel-kabel ini tidak akan memperpanjang umurku.”

“Tapi itu berguna untuk memberikan laporan tentang tubuhmu kepada mereka,” balas Gaeun.

Mereka. Ya, mereka. Orang-orang yang membuat Myungsoo seperti ini. Walaupun mereka menyatakan sudah menyerah, tapi mereka tetap mengawasinya sebagai satu-satunya korban percobaan yang masih hidup dan mengumpulkan segala informasi. Saat dia meninggal nanti, tugasnya belum selesai. Tubuhnya akan diobrak-abrik oleh orang-orang haus ilmu itu untuk mendapatkan informasi tambahan. Menyedihkan memang. Tapi ini lah perjanjian yang sudah ia setujui.

Gaeun bangkit. “Aku akan menemui dokter Ahn. Kau sudah tidak sadar selama 1 hari jadi dokter berhak tahu bahwa kau sudah sadar.”

Myungsoo memperhatikan kepergian Gaeun lalu menatap gadis di sampingnya. Sooyeon seperti seseorang yang perlu pelukan untuk mencurahkan segala kekhawatirannya.

“Peluk aku,” pinta Myungsoo.

Sooyeon mengerjap kaget. “Tapi—“

“Jangan pedulikan kabel-kabel ini. Peluk aku.”

Sooyeon mengangguk. Walaupun Myungsoo sudah menyuruhnya untuk tidak peduli dengan kabel-kabel itu, tentu saja ia tetap berhati-hati agar tidak menyenggolnya. Kepalanya bersandar di bahu Myungsoo dan hidungnya menyentuh tengkuk pria itu.

“Waktumu sudah dekat ternyata,” gumam Sooyeon.

“Tidak ada yang bilang waktuku masih lama,” balas Myungsoo.

Sooyeon mendengus. Jika keadaan Myungsoo tidak seperti ini, ia akan memberikan satu pukulan agar pria itu bisa sedikit lebih peduli dengan keadaannya sekarang. Dia sekarat dan dia tetap tenang. Manusia macam apa Kim Myungsoo ini?

“Berbaringlah di sampingku,” pinta Myungsoo lagi sambil menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat yang cukup untuk Sooyeon di sampingnya.

Sooyeon kembali menurut. Dia melepaskan pelukannya sejenak hanya untuk mendapatkan posisi yang nyaman lalu kembali memeluk Myungsoo.

“Tetaplah seperti ini,” gumam Myungsoo.

Sooyeon membalasnya dengan gumaman.

***

Gomapta, Taeyeon-ah~” seru Sooyeon girang melihat sahabat sekaligus rekan kerjanya datang membawa sebuah tas kecil berisi pakaian. Ia segera masuk ke kamar mandi karena selama Myungsoo belum sadar, ia tidak berani meninggalkan ruangan. Untuk tidur saja tidak mau. Dia tidak mau melewatkan satu momen pun.

Taeyeon melirik ke sekitar ruangan itu lalu tersenyum kepada Myungsoo ketika mata mereka bertemu. Ruangan itu adalah ruangan paling mewah di rumah sakit tersebut karena permintaan langsung dari Amerika. Ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan paling mewah di rumah sakit. Kamar yang paling mewah yang pernah ia datangi hanya kamar kelas 1.

“Padahal terakhir kita bertemu, kau masih sehat dan penuh semangat. Siapa yang tahu kau akan masuk rumah sakit dan ditempel kabel-kabel seperti itu hari ini? Masa depan memang tidak bisa diprediksi,” celoteh Taeyeon polos.

Myungsoo tersenyum tipis. Kata siapa masa depannya tidak bisa diprediksi? Bahkan hari ini pun salah satu prediksinya yang menjadi nyata. Tapi Taeyeon tidak tahu apapun karena ia meminta Sooyeon untuk merahasiakannya. Jadi Taeyeon tidak salah sama sekali.

“Semoga cepat sembuh, Myungsoo-ssi. Aku harus segera kembali untuk menjaga toko buku. Aku tidak percaya sepenuhnya dengan pekerja kami. Tidak seperti Sooyeon. Humph!” pamit Taeyeon.

Myungsoo mengangguk dan melambaikan tangannya. “Hati-hati, ya.”

Sembuh, ya? Andai bisa…

Sekitar 10 menit kemudian, Sooyeon sudah keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia mencoba mandi secepat mungkin. Dia masih tidak mau melewatkan apapun tentang Myungsoo.

“Taeyeon sudah pulang?” tanyanya.

Myungsoo mengangguk. “Yap. Baru saja. Oh ya, kapan Gaeun kembali?”

Gaeun sedang pulang untuk mandi dan mengurus beberapa urusan. Dia janji untuk kembali ke rumah sakit. Tentu saja, dia tidak akan membiarkan suaminya pergi tanpa dirinya.

Karena tepat esok hari, Myungsoo sudah berumur 21 tahun.

***

Sooyeon duduk di kursi samping tempat tidur Myungsoo sedangkan Gaeun duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah. 2 tahun selalu bersama Myungsoo, ia sudah lebih dari siap untuk menghadapi saat ini. Sementara Sooyeon yang baru datang di kehidupan Myungsoo akhir-akhir ini tentu ketakutan setengah mati. Gadis itu menggigit jarinya.

Myungsoo tersenyum. Sedetik kemudian, dia ingin tertawa ketika ingat betapa seringnya ia tersenyum sejak bertemu dengan Sooyeon. Ia meraih jari yang digigit oleh Sooyeon dan menggenggamnya erat.

“Sooyeon-ah,” panggil Myungsoo lembut.

Sooyeon mengerjap tanpa membalas.

“Berceritalah.”

Sooyeon menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia ingin menangis. Dia tidak tahu harus bercerita tentang apa. Ia tidak membaca atau menonton apapun baru-baru ini karena fokus kepada Myungsoo. “Aku tidak tahu harus bercerita tentang apa.”

“Tentangmu. Tentang apapun. Aku ingin mendengarmu bercerita,” balas Myungsoo.

Sooyeon menarik napas dalam. Dadanya terasa sangat sesak sekarang.

“Ini cerita tentang pria aneh yang kerjaannya duduk di kursi taman setiap harinya. Pria itu hobi memakai sesuatu yang berwarna hitam. Jika tidak bajunya, maka celananya. Jika bukan celananya, maka sepatunya. Jika bukan sepatunya, maka ia memakai topi hitam. Jika ia tidak memakai topi hitam, dia memakai gelang berwarna hitam. Setidaknya pasti ada warna hitam yang melekat di tubuhnya,” ujar Sooyeon.

Myungsoo tertawa. “Aku kenal siapa itu.”

“Aku penasaran dengannya. Jadi aku berusaha berkenalan dengannya. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Jadi aku mencoba memperkenalkan diriku lebih lanjut. Dia masih tidak merespon. Saat aku lihat ia memegang kamera, tanpa sadar, aku pun bercerita tentang kamera pertama yang aku miliki. Karena masih belum berbicara juga, akhirnya aku meninggalkannya. Huh, orang menyebalkan!”

Gaeun merasa tak enak berada di sana. Ia takut mengganggu keduanya sehingga dia keluar diam-diam. Sementara Myungsoo sibuk tertawa mendengarnya.

“Di hari selanjutnya, aku kembali bertemu dengannya. Aku mengajak berbicara lagi. Lagi-lagi ia tidak mengatakan apapun. Tapi aku tahu, dia mendengarkanku. Dia mendengarkanku dengan cermat. Terlebih dari matanya. Aku suka dengan matanya. Dan kenyataan bahwa mata itu menatapku, itu membuat sangat senang, Itu sebabnya aku terus berbicara tentang banyak hal agar dia terus menatapku.”

Myungsoo dan Sooyeon menatap satu sama lain sambil tersenyum.

“Entah bagaimana, bertemu di taman dan aku menceritakan sesuatu kepadanya menjadi sebuah kebiasaan. Lama-kelamaan, kami pun semakin dekat. Sampai akhirnya ia mengundangku makan malam di rumahnya dan aku tahu dia sudah menikah. Aku sedih dan terluka karena aku menginginkannya. Aku terkejut ketika tahu dia mencintaiku. Aku ingin memberitahu perasaanku tapi dia tidak pernah bertanya. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu walaupun kita hanya bertemu di hari-hari terakhirmu.”

Sooyeon menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya mengalir deras tanpa ia sadari. Dia tidak sanggup melanjutkannya. Myungsoo mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Sooyeon. Ketika mata Sooyeon kembali menatapnya, Myungsoo menggigit bibirnya.

“Boleh aku menciummu?” tanya Myungsoo.

Sooyeon tertawa mendengarnya. Ia bangkit dan mendekatkan wajahnya hingga berjarak 10 sentimeter dari wajah Myungsoo. “Tentu saja.”

Dengan sentuhan lembut, Myungsoo memajukan wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Mereka diam sambil merasa sensasi dari dua bibir yang saling bersentuhan tanpa gerakan apapun. Beberapa detik kemudian Myungsoo menarik wajahnya.

21 detik yang paling indah di hidupnya. Dimulai dengan penyataan cinta Sooyeon sampai mereka berciuman.

21 hari yang paling berharga di hidupnya. Dimulai dengan cerita Sooyeon yang entah apa maksudnya dan membuatnya kesal.

21 tahun hidupnya di dunia ia akhiri dengan perasaan bahagia.

***

Rest in Peace

Kim Myungsoo

13 March 1992 – 13 March 2013

***

“Ayo, Jung Sooyeon! Keluargamu sudah datang jauh-jauh dari luar negeri hanya untuk merayakan ulang tahun bersamamu dan kini mereka sudah menunggu di restoran favoritmu! Jangan sia-siakan waktu mereka!” omel Taeyeon sambil menarik tangan Sooyeon keluar rumah.

Sooyeon berusaha untuk bertahan di tempatnya. “Jamkanman, Kim Taeyeon~ 5 menit lagi saja!”

“Kau sudah mengatakan itu dari …” Taeyeon melirik jam tangannya. “… 33 menit yang lalu! Tidak ada alasan lagi!”

Sooyeon menggeleng kuat ketika sahabatnya kembali menarik tangannya. Ketika Taeyeon mencoba menarik sekali lagi, dia terjatuh ke lantai karena Sooyeon berlari ke arah pintu setelah melihat tukang pos datang. Setelah memberi tandatangan, ia mendapatkan paket yang ia tunggu sejak pagi dan membawanya ke dalam rumah. Ia membukanya secepat mungkin.

Boneka yang dibeli oleh Myungso…

Sooyeon tersenyum melihatnya. Dia segera mengeluarkannya dan menekan perut boneka itu. Ia masih ingat apa yang dikatakan oleh sang penjual sekitar sebulan yang lalu.

Happy birthday, Sooyeon Jung! Ulang tahun yang ke 24, hm? Hahaha kau sudah tua, Noona. Tapi tidak apa, aku tetap mencintaimu. Tetap sehat dan bahagia selalu. Ku mohon, jangan pernah menangis, terlebih karenaku. Maaf sudah pergi lebih dahulu.

Sudah sebulan sejak kematian Myungsoo dan ia belum bisa kembali tersenyum. Gaeun sudah kembali ke Amerika bersama jasad Myungsoo. Padahal ia ingin sekali datang ke makam Myungsoo tapi Gaeun memberitahunya bagaimana nasib jasad Myungsoo selanjutnya sehingga tidak akan ada makam untuk Myungsoo.

Air mata mulai menggenangi matanya ketika ia mengulang rekaman suara itu. Setelah suara itu terputar untuk kedua kalinya, air matanya sukses mengalir dengan lancar. Taeyeon diam di tempat sambil menahan tangis melihat sahabatnya kembali menangis.

Untuk terakhir kalinya, biarkan aku menangis. Setelah ini, aku janji untuk selalu tersenyum.

1 jam kemudian.

Taeyeon tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah 1 bulan lamanya, akhirnya Sooyeon kembali tersenyum di depan keluarganya sambil meniup lilin-lilin di atas kue dengan bahagianya walaupun matanya sembab.

Lihat, Myungsoo-ssi, dia tersenyum. Dia akan baik-baik saja. Percayalah.

*

To Be Continued?

No.

The End.

*

HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHA

OKAY SAYA NGAKAK SETELAH SADAR INI SAYA BERHASIL BUAT ONESHOT TERPANJANG DENGAN WAKTU HANYA SATU HARI. HAHAHAHAHAHA

Maaf untuk typo karena saya malas ngedit yang sepanjang ini. Hahaha

Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa buat oneshot lagi walaupun panjang banget. Dan kenapa castnya Myungsoo? Haha, entahlah kenapa aku milih Myungsoo. Tiba-tiba terbayang aja dia gitu pas kepikiran ide cerita ini.

Awalnya pengen buat sci-fi tapi gagal. HAHAHAHAHAHA. Maaf jadi begini. Aneh ya? HAHAHAHAHA /ketawa lagi/ maaf saya emang stres. Bawaannya ketawa mulu.

Jujur untuk scene-scene akhir aku nangis. Soalnya aku buat sambil dengerin lagu-lagu solonya Junsu dan Jaejoong. And you know lah betapa balladnya suara mereka. Denger lagu mereka aja udah bikin nangis. Apalagi sambil ngebayangin yang sedih? T____T

Oke sepertinya saya sudah kebanyakan bacot. Saatnya kasih komentar dong ‘-‘)/ yang baik ya~ soalnya kan aku udah kasih oneshot yang panjang. Kalo biasanya sih, aku bagi dua. Tapi karena aku baik, ya aku jadiin satu. Jadi kamu, kamu, kamu yang baca semoga baik juga. HAHAHA /?

99 thoughts on “21

  1. aku baru baca ini habis baca 5 ff yg sad ending juga ~jadi sejak 1 jam yg lalu aku nangis terus😥 bahkan mamaku sampe marahin adek aku , soalnya dikirain adek aku yg bikin aku nangis :’D hahaa ~ *curhat* sumpah sumpah sumpah ! Kereeen bangeettt🙂 nice ff , dikembangkan lagi ide idenya ya author ^^

  2. And finallyyyyyy aku bisa selesai baca ff ini. Sebenernya aku udah buka ff ini dari kemarin pagi. Baru di-bookmark dan baru dibaca pagi ini. And, thank you very much karena ff ini membuatku berhasil keluar dari dunia yang sesak penuh deadline dan kembali ke dunia nyata para remaja (?) /oke skipp
    Oh, okey, 21…. angka ini punya kenangan tersemdiri buatku. 21 detik untukku menemukan kebahahian hati… well, then, kata-kata itu gak mau pergi dari pikiranku. Gak tau deh, mungkin aku ‘pernah’ mengalaminya. Dan dari semua angka yang ada… kenapa harus milih 21 sih Far? :’)
    Jessica di sini cerewet banget banget banget dan banget. Tipikal gadis ceria yaa, tapi kasihan dia pas ditinggal Myungsoo. Baru ketemu, menyimpan perasaan yang mendalam, tapi udah langsung ditinggalin aja. Itu nyesek loh… rasanya nyesek sampe ke relung hati yang paling dalam. Pahit. Tapi mau gimana lagi, itu udah takdirnya jadi yaaa jessica gak bisa menolak :’)
    Kamu gak salah milih cast far… Myungsoo emang cocok banget sama karakter yang ada di ff-mu yang satu ini. Dia emang cuek, poker face. Tapi sekalinya senyum…. aku yang bukan fans-nya pun dibuat terpana /yaelaaa witwitwitwuiii
    Aku masih penasaran dengan karakter Gaeun di sini. Dia itu bagian dari ‘orang-orang’ yang merusak Myusngsoo atau hanya kenal atau gimana?
    Scene akhir, gak heran jika scene itu membuat aku nangis kayak orang gila. Wong pas kamu nulis kamunya juga nangis toh. Itu tandanya kamu meberikan sebuah jiwa/perasaan pada tulisanmu yang akan membuat para pembaca juga merasakan emosi yang kamu rasakan pada saat itu /aku ngomong udah sok tahu aja ya -_-
    But really, kamu harus tanggung jawab karena aku gak bisa berhenti nangis karena ff nyesek ini /-\

    • wah…… jadi terharu ._. tau ga sih? kata-katamu itu bikin aku makin ilfeel sama yang namanya kuliah. pengennya tuh langsung kawin aja terus rolling on the bed deh tiap hari. pokoknya tak terpisahkan dari kasur lah. pasti indah kalo bisa gitu ;____;
      21 ya? aku juga bingung kenapa harus 21. tiba-tiba muncul aja gitu angka 21 saat aku mencoba nentuin latar-latar ff ini. dan 21 terus-menerus muncul di kepala. emang ada apakah dengan ngka 21? eciyeee~~~
      myungsoo itu semacam php. suka dengerin cerita jessica tapi dia ga pernah komentar. bilang cinta ke jessica tapi dia ga ngarepin jawaban. nyium jessica tapi malah ditinggal mati T__T
      nah iya~ aku juga baru nyadar betapa cocoknya myungsoo untuk ff ini. mungkin kalo perannya dikasih ke yang lain, belum tentu secocok myungsoo. haha berkat les imajinasi sama spongebob nih :v lol
      ga juga. pas buat scene akhir itu malah feel aku kecampur-campur. antara sedih karena lagunya, sedih karena ceritanya dan sedih karena mengingat kucing yang meninggal😥 gado-gado deh pokoknya. dan pas aku coba baca ulang, rasanya tuh datar banget malah di scene akhir ._.
      aduh masa saya yang harus tanggung jawab? myungsoo aja deh ~_~

      • Tapitapitapi.. kuliah juga asik kok far, nambah pengalaman, nambah kecengan juga (?) Yahh… walaupun tugas-tugas semakin numpuk dan buat enek ._. Iya… pingin rolling on the bed setiap waktu T^T
        Dan 21 memang angka yang sesuatuuu (?)
        Turut berduka atas kucing yang meninggal T^T
        Myungsoo gak tahu apa-apa, jadi kamu yang harus tanggung jawab T^T

  3. aq suka smua karakter d ff ini sica yg cerewet ceria n perhatian gaeun yg cuek tpi baek tpi paling suka sifat myungsoo slalu ktawa liat tingkah atw kata” yg diucapin pas scene terakhir malah jdi mewek mengharukan trutama pas sica dpt hadiah boneka itu T.T

  4. Whyyy? Pagi2 gini nangis, gk etis😦 sedihh bgt thor, good job. Kalo bsa banyak2in lg one shot gini dongg, kdg males bca yg ber episode hihi

  5. hiks..hiks..sedih bgt cerita#lebayyy deh
    oya aku kurang ngerti inj,myungsoo disini jadi bahan penelitian apaan ya?
    tapi saluut deh thor buat cerita yang satu ini,,,daebakkk!!!! hehehee🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s