[Freelance] (Bitter Trap) (Chapter 2 End)

Bitter Trap [2 shoot – End]

 Poster by : eyinzz (@Eyinzz)

Author             : “qikiboychan”

Rating              : PG 16

Length             : Twoshoot

Genre               : Romance, Little Comedy

Main Cast         : Jessica Jung

Wu Yi Fan / Kris Wu

Other Cast        : Park Chanyeol as Wu Chanyeol

Zhang Yi Xing as Wu Yi Xing / Lay

Alexa Wu

Find in history

Disclaimer        : Aku hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang yang menjadi cast dalam ff ini. Aku buat ff ini berdasarkan sebuah cerita pendek dalam komik Hyakyuuju Kingdom (A Kingdom Of The Beast/Monster) ~ Takagi Shige Yoshi. Aq pake judul asli dari cerpen komik itu “Bitter Trap” dan karena ini adalah part keduanya alis endingnya. Isi cerita ini hanya mengandung 10 % cerita asli di komik, yaitu di beberapa paragraf utama. Sisa 90 %nya aq tambahin menurut imajinasi aq. Aq suka ngebayangin kalo pemeran cerita dalam komik itu adalah idol/couple fav aq dan nyari karakter yang memang cocok untuk memerankan tokoh dalam komik itu.

Warning           : Ratingnya naik ya. Ada lumayan banyak adegan kissing di part ending ini. N konfliknya sedikit aja, lebih fokus ke KrisSicanya aja di ending part ini.

Maaf banget kalau ada typo ya

Semoga suka, happy reading…

 

****************************************    BITTER TRAP    ***************************************

“Aku lega bisa membalas dendam. Aku akan kembali ke kehidupanku yang sebelumnya.” Jessica mulai menggerakkan kakinya.

“Tapi kau bilang, aku boleh mengambil apapun yang aku suka… Yang aku mau hanya satu.” Ada satu hal yang paling berharga dirumah ini untuk Jessica, yaitu…

“Aku ingin sprai ini…” Kedua kaki Jessica sudah berada di jendela. Ya, kain sprai itu. Itu adalah sprai yang telah mereka gunakan bersama tadi malam. “Jaga kesehatan ya…” Lirih Jessica.

Kris tersentak mendengarnya. Dia sadar sesuatu yang akan dilakukan oleh Jessica—wanita itu sudah membelakangi Kris.

 

****************************************    BITTER TRAP    ***************************************

Aku tidak akan pernah mau lepas dari perangkap ini.

 

Dengan kilat, Kris berlari kearah jendela dan dapat…dia berhasil menarik kain sprai yang menutupi tubuh Jessica.

Mata foxy Jessica membesar karena terkejut. Kalau dia tidak mencengkram kuat sprai ini, dapat dipastikan kalau dia pasti sudah naked didepan Kris. Karena dia memang tidak memakai apapun kecuali kain sprai itu untuk menutupi tubuh indahnya.

“KYAAA !!! APA YANG KAU LAKUKAN !!!” Teriak Jessica saat Kris semakin kuat menarik sprai itu. Bahu kiri Jessica sudah terekspos sempurna karena tarikan Kris.

“HYAA!!! HENTIKAN !!!” Teriak Jessica lagi saat Kris berhasil meraih tubuhnya, mengangkat Jessica kedalam pelukannya. Jessica berontak dengan kedua kakinya yang terus mengayun, bergerak abstrak agar Kris menurunkannya. Kedua tangannya kuat mempertahankan sprai agar tidak terlepas dari tubuhnya.

“Diamlah !!!” Tekan Kris dingin. Jessica langsung diam membeku mendapati mata Kris yang menatapnya bengis dengan senyuman menyeringai yang sangat menakutkan bagi Jessica.

“Kau telah mempermainkan orang. Dan sekarang kau mau melarikan diri ??” Kris terkekeh, membuat Jessica memejamkan kedua matanya karena terlalu takut pada sosok Kris yang ada dihadapannya sekarang.

“Aku tidak akan pernah memaafkan hal itu nona Jung.” Kris menurunkan Jessica dari gendongannya, memposisikan Jessica berdiri didepannya. Dengan tangan kiri yang menggenggam tangan kanan jessica—yang mencengkram kuat sprai—didepan dadanya dan tangan kanannya melingkar dipinggang Jessica—menghilangkan jarak diantara mereka, mengurung Jessica agar tidak bisa pergi kemana-mana. Jessica masih menutup matanya ketakutan.

“Hanya aku yang boleh mempermainkan mu sampai akhir… Makanya kau harus tetap berada disini.” Kris menatap wajah Jessica—mata Jessica, yang masih tertutup rapat dengan guratan ketakutan menghiasi wajahnya.

“Disini, aku tidak akan pernah membuatmu menderita.” Ucap Kris yang kini jauh lebih lembut. Jessica mencoba memberanikan diri membuka sebelah matanya—kanan. Dia langsung dihadapkan dengan wajah Kris yang mana mata laki-laki itu sedang menatapnya.

Kedua mata foxy Jessica telah terbuka sempurna, balas menatap mata elang Kris yang sudah menjadi lebih lembut dan sendu. Dan entah dapat keberanian dari mana, Kris mulai memajukan wajahnya—semakin mempersempit dan menghapus jarak diantara mereka—sampai akhirnya bibir lembut mereka bertemu.

Jessica merasa jantungnya akan keluar sekarang setelah merasakan lembutnya bibir Kris menempel dibibirnya. Matanya terbelalak, berbeda dengan Kris yang terlihat menutup matanya.

Tangan kiri Kris yang tadi menggenggam tangan kanan Jessica kini sudah melepasnya dan beralih ke tengkuk Jessica. Sedikit menekan kepala Jessica, bibir Kris pun mulai bergerak pelan melumat bibir Jessica. Tangan Jessica menggetar, perutnya merasakan sensasi aneh yang membuatnya sedikit melenguh dan semakin mencengkram kuat kain sprai.

“Ehmh…” Jessica menutup matanya merasakan sensasi itu lagi. Sementara Kris benar-benar menikmati ciuman sepihak yang dilakukannya.

Jessica membuka matanya lagi, melihat wajah Kris yang masih asik melumat bibirnya lembut. Tidak ada tuntutan apapun disana, sangat lembut. Seakan dia takut wanita yang ada didepannya ini terluka dan tersakiti oleh apa yang dia lakukan.

Jessica mencoba menarik nafas pelan, menenangkan diri. Kemudian dia menutup matanya kembali, mencoba membalas lumatan-lumatan yang diberikan oleh Kris padanya.

Dan saat merasakan bibir wanita yang sedang dia cium bergerak perlahan, Kris menjadi diam dan tertegun. Dia mencoba membuka matanya, melihat wajah Jessica. Wanita itu kini menutup matanya, membalas lumatannya dan terlihat menikmati ciuman ini, membuat Kris tersenyum senang.

Kris menutup matanya kembali dan bibirnya yang sempat diam tadi—membuat hanya Jessica yang melumat pelan bibirnya—mulai bergerak lagi, membalas lumatan Jessica dengan perasaan yang benar-benar bahagia. Mereka masih terus saling melumat lembut tanpa mau beranjak atau pun melakukan hal yang lebih.

Entahlah, Kris merasa candu dengan bibir tipis milik Jessica. Benar-benar memabukkannya, membuatnya sangat enggan melepas tautan bibir mereka, walaupun sudah beberapa puluh menit berlalu. Kris hanya sesekali mendiamkan bibirnya—tanpa melepas—bila dia merasa ingin mengambil nafas atau hanya sekedar ingin merasakan lumatan bibir Jessica secara sepihak. Membuatnya kembali tersenyum karena Jessica terasa masih sedikit gugup.

“Emhh…” Jessica kembali dan selalu melenguh tertahan saat Kris melumat atau hanya sekedar bermain sendiri dengan lidahnya. Badannya pun selalu seperti terdorong kearah Kris membuatnya semakin dalam masuk kedalam pelukan Kris saat merasakan sensasi aneh itu.

Merasa sudah cukup lama mereka melakukan ciuman dan lumatan-lumatan di bibir mereka, Jessica mulai ingin melepaskan bibirnya dari bibir Kris. Namun sepertinya Kris sama sekali tidak berniat untuk menghentikan ciuman ini.

“K…emh..ris…” Jessica berusaha memanggil Kris yang masih aktif melumat lembut bibirnya. Sampai akhirnya Jessica memberanikan diri menepuk—memukul pelan dada Kris menggunakan tangan kanannya. Kris sedikit terkejut dan langsung melepaskan bibirnya—hanya bibir mereka, tubuh mereka masih saling menempel dengan  tangan kanan Kris melingkar dipinggang Jessica dan tangan kiri Kris melingkar dipunggung Jessica.

“Ada apa ??” Tanya Kris. Ya Tuhan bibir itu, batin Kris yang melihat bibir pink kemerahan dan juga basah milik Jessica begitu menggodanya. Dia pun berinisiatif untuk mencium bibir Jessica lagi, namun Jessica langsung menahannya.

“Kenapa ??” Tanya Kris lagi. Kris benar-benar terlihat menggemaskan dengan ekspresi wajah kecewanya yang khas karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Jessica terkikik pelan melihatnya.

“Kau tidak lelah ??” Tanya Jessica, yang langsung di jawab dengan gelengan semangat dari Kris.

“Tapi ak…Kris dengarkan aku dulu.” Jessica kembali mendorong dada Kris yang ingin menciumnya lagi.

Hufthh… Kris menghembuskan nafasnya nyaring. “Apa ??” Tanya Kris.

“Aku…aku sudah basah Kris. Aku risih.” Ucap Jessica tertunduk malu. “Benarkah ?? Bagaimana kalau kita lanjutkan disana ??” Tanya Kris menggoda dengan penuh harap—menunjuk kasurnya yang empuk menggunakan dagunya.

“Aku belum menjadi istrimu Kris.”

“Kalau begitu kita menikah sekarang.”

“Tidak bisa…”

“Kenapa ??”

“Tanggal pernikahan kita sudah ditentukan dan ditetapkan oleh kedua orang tua kita. Kita harus menunggu saat itu.” Jelas Jessica. Kris langsung merengut—menekuk wajahnya—dan melepaskan tangannya—pelukannya—ditubuh Jessica. Kris berjalan menuju kasurnya lalu duduk ditepi.

Jessica menyusul, duduk di samping kanan Kris. “Kau marah ??” Tanya Jessica.

“Kau merusak jam tangan favorite ku.” Gerutu Kris. “Hah ??” Membuat Jessica mengerutkan keningnya. Kris langsung mengeluarkan arloji mahal kesayangannya itu dari dalam saku kanan celananya dan Jessica terdiam saat Kris menyodorkan arloji itu kehadapannya.

“Kau harus menggantinya.” Ucap Kris dengan nada serius. “Ne ??” Jessica mulai panik. “Menggantinya ??” Tidak mungkin, arloji itu pasti sangat mahal harganya bagi orang biasa seperti Jessica.

“Tentu saja, siapa suruh kau membuang perhiasan-perhiasan mahal lewat jendela.” Cibir Kris. Tapi tidak ada nada mengejek atau pun menuntut dari suara yang Kris keluarkan. Malah terkesan bercanda, ditambah dengan ekspresi wajahnya sekarang. Menggelikan. Namun karena panik, Jessica tidak menyadarinya.

“Kenapa ?? Kau harus mengganti jam ini, ini jam tangan favorite dan kesayanganku. Ini pemberian dari cinta pertamaku.” Kali ini terdapat nada mengejek dari suara Kris. Membuat Jessica mengepalkan tangannya—semakin mencengkram kuat kain sprai yang masih membungkus tubuhnya.

Dengan gerakan cepat, Jessica mengambil arloji itu dari tangan Kris lalu melemparkannya kedinding kamar Kris. Membuat kaca arloji itu pecah—Kris membulatkan matanya melihat apa yang Jessica lakukan.

“Apa yang kau lakukan ??” Tanya Kris sedikit memekik lalu berdiri, bermaksud ingin memungut kembali arloji itu. Namun tangan Jessica menahannya, menariknya kuat hingga tubuhnya tidak seimbang dan terhempas kebelakang—keatas kasur yang ada dibelakangnya.

Jessica langsung menindih tubuh Kris—tidak sepenuhnya, hanya dari bagian dada keatas saja sedangkan kakinya berada disamping kaki Kris dengan yang kanan menindih paha kiri Kris—dan melumat bibir Kris.

Tanpa Jessica sadari, Kris tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Berhasil, batin Kris yang tidak membuang-buang waktu langsung membalas lumatan-lumatan lembut bibir Jessica yang sangat memabukkan dan candu baginya itu.

Kedua tangan Jessica melingkar dileher Kris dan kedua tangan Kris memeluk tubuh Jessica. Setelah cukup lama, Kris ingin merubah posisi mereka. Kris pun perlahan memutar tubuhnya dan Jessica, hingga sekarang Jessica lah yang ada dibawah tubuhnya. Tangan Jessica sesekali meremas rambut belakang Kris saat sensasi-sensasi aneh itu datang disertai lenguhan tertahannya.

“Emhhh…” Kris memperdalam ciuman dan lumatannya tanpa bosan. Terus seperti itu sampai dia merasakan pergerakan bibir Jessica melambat dan dia pun memperlembut lumatannya.

Hingga Jessica benar-benar sudah tidak membalas lumatan lembut Kris, laki-laki itu masih saja melumat bibir Jessica namun kali ini lebih kuat. Tidak tau apakah dia merasa ini adalah kesempatan, tapi dia benar-benar belum mau melepaskan bibir Jessica walaupun wanitanya itu sudah terlelap. Pasti dia sangat kelelahan, fikir Kris.

Beberapa puluh menit berlalu, Kris mulai memelankan lumatannya. Sampai akhirnya dia memisahkan bibirnya dari bibir Jessica. Dia tersenyum lembut menatap wajah wanitanya yang bagaikan bayi barbie ini.

“I love you…” Bisik Kris ditelinga Jessica kemudian mengecup bibir Jessica. Dan rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya mereka tidur dengan posisi Kris memeluk pinggang Jessica, kepalanya didada Jessica dan kedua tangan Jessica memeluk kepala Kris.

 

************

 

Diluar, Chanyeol dan Lay sedang makan malam berdua.

“Ah syukurlah, akhirnya perasaan mereka berdua dapat tersampaikan.” Ucap Chanyeol senang sambil membersihkan bibirnya.

“Gee…” Keluh Lay menatap Chanyeol yang terlihat sangat senang. Dia menatap Chanyeol datar karena tadi sudah mengajaknya untuk mengintip apa yang sedang Kris gege mereka lakukan bersama Jessica berdua didalam kamar. Dan apa yang mereka lihat membuat Lay langsung kosong, dia merasa belum siap—padahal umurnya sudah 20 tahun.

Chanyeol terkekeh melihat ekspresi menggemaskan si bungsu. Sibungsu mereka ini memang masih sangat polos namun kadang menjadi sosok yang lebih dewasa dan pengertian.

 

**************

 

Satu bulan sudah berlalu, yang itu artinya mereka harus menunggu 2 minggu lagi baru bisa melaksanakan pernikahan. Tiga bersaudara yang memiliki tingkah menyebalkan—menurut Jessica—itu sedang asik didalam kamar Kris dilantai atas bermain—entahlah, Jessica juga tidak tau bermain apa. Sedangkan dia memilih duduk di sofa ruang keluarga, menonton tv.

Sesuai perjanjian awal keluarga Wu dan beberapa para pekerja/pelayan pribadi rumah mereka—kalau Kris sudah mendapatkan wanitanya—mereka akan diliburkan sampai hari pernikahan Kris dan pasangannya—Jessica. Kecuali para pekerja pembersih rumah dan kebun.

Ting tong !!!

Ting tong !!!

Suara bel rumah mewah itu tiba-tiba berbunyi membuat Jessica mengeryitkan keningnya. Siapa yang bertamu disiang yang sangat panas ini, batin Jessica.

Ting tong !!!

Ting tong !!!

Ting tong !!!

Bel kembali berbunyi—tanda si tamu sepertinya sudah kesal karena pintu belum ada yang membukakan pintu untuknya. Jessica pun langsung berlari menuju pintu utama rumah itu untuk membukakan pintu pada tamu—yang menurut Jessica—tidak sopan itu.

Begitu pintu dibuka, Jessica bisa melihat seorang remaja dengan kemeja merah hitam bermotif kotak-kotak ditutup sweater abu-abu—kerah kedua ujung lengan kemeja sedikit dilipat keatas—celana jeans hitam, sepatu kets merah hitam dengan gambar tengkorak dan kaca mata hitam yang bertengger dihidung kecil mancungnya.

Lagi –lagi Jessica mengeryit heran saat melihat koper berukuran sedang—tidak terlalu besar maupun kecil—yang dibawa remaja itu.

“Kenapa lama sekali, aku bosan menunggu dan aku kepanasan.” Belum hilang keheranan Jessica, sekarang dia bingung karena tamunya ini masuk kedalam rumah begitu saja tanpa permisi.

“Ah, kau pelayan baru keluarga ini ya?? Bawakan koperku, aku lelah dan ingin istirahat.” Jessica mematung belum bisa mencerna apa-apa yang dikatakan oleh tamu tak dikenalnya yang menganggapnya pembantu baru dirumah ini. “Oh iya, siapkan aku makan. Aku lapar. Setelah makanannya siap, kau bisa bangunkan aku.” Tambah si tamu yang kemudian masuk kedalam kamar—disamping kamar pribadi Kris—yang pernah Kris ceritakan, kalau kamar itu adalah kamar khusus tempat sepupunya—dari Canada yang tomboy bernama Alexa Wu—menginap. Jessica pun sadar dan mengerti, siapa remaja berpenampilan layaknya laki-laki itu.

“Siapa Jess ??” Tanya sebuah suara yang berasal tangga penghubung lantai 1 rumah itu dengan lantai 2.

“Emm…Aku tidak tau siapa, tapi penampilannya seperti sepupumu yang tomboy dari Canada itu dan dia masuk kedalam kamar itu.” Tunjuk Jessica pada kamar yang tadi dimasuki Alexa.

“Ah…” Kris mengangguk. “Lalu, kenapa kopernya masih ada disini ??” Bingung Kris.

“Dia menyuruhku membawakannya, dia bilang dia lelah dan ingin istirahat.” Jessica pun menarik koper itu, membawanya masuk kedalam kamar lalu keluar dan menutup pintu kamar. Kris masih diam mematung menatap Jessica. “Ada apa ??” Tanya Jessica heran melihat ekspresi Kris.

“Dia menganggap mu apa, sampai-sampai dia menyuruhmu membawakan kopernya.” Kris berjalan menuju kekamar Alexa.

“Kau mau kemana ??” Tanya Jessica menahan tangan Kris.

“Anak itu tidak bisa seenaknya menyuruhmu. Kau bukan pelayan ataupun pembantu disini.” Jawab Kris membuat Jessica terkikik pelan.

“Sepertinya dia memang menganggapku pembantu. Itu yang dikatakannya saat aku membuka pintu untuknya tadi.” Kekeh Jessica.

“Apa ??” Pekik Kris tidak percaya.

“Sudahlah, biarkan saja. Lagi pula dia kelelahan, biarkan dia istirahat dulu.” Jessica tersenyum lembut pada Kris lalu pergi kedapur untuk menyipakan makanan.

“Gee… Kenapa kau tidak kembali, memangnya siapa yang datang ??” Teriak si bungsu Lay dari lantai atas.

“Alexa. Saudara kembarmu yang datang.” Balas Kris berteriak dengan kepala yang sedikit mendongak.

“Benarkah ?? Mana dia ??” Tanya Lay.

“Istirahat, katanya kelelahan.”

“Ah, kalau begitu ayo kita lanjutkan main gee. Kami menunggu mu dari tadi.”

“Tidak, kalian lanjutkan berdua saja. Aku ada urusan.”

Lay pun kembali lagi kekamar menyusul Chanyeol. Sedangkan Kris pergi kedapur menyusul Jessica, karena penasaran apa yang Jessica lakukan didapur. Kris masuk kedalam dapur tanpa sepengetahuan Jessica—yang asik memotong sayuran. Kris menutup pintu dapur dan—cklek!!—otomatis pintu dapur itu terkunci dengan sendirinya.

Bunyi pintu yang—tertutup—sangat pelan itu benar-benar membuat Jessica tidak sadar kalau sedari tadi Kris memperhatikannya sambil bersandar di belakang pintu dapur.

Drrrt drrt drrt

Kris yang asik memperhatikan Jessica—sedikit—terkejut saat merasakan handphonenya bergetar—menandakan ada pesan yang masuk. Kris merongoh saku kanan celananya—untuk mengambil handphonenya yang bergetar.

“Kris..?!”

Prakk !!

Kris—yang baru saja ingin mengetik balasan pesan yang masuk ke handphonenya—tersentak kaget mendengar suara Jessica—yang juga terkejut dengan keberadaan Kris disana—memanggilnya, mengakibatkan handphonenya terlepas dari tangan, terhempas kelantai lalu masuk kedalam bawah kulkas pembeku—kulkas khusus untuk membekukan air menjadi balok-balok es dari ukuran kecil hingga besar.

“Maaf Kris, lagipula sejak kapan kau berada disana ??” Bingung Jessica sambil menghampiri Kris yang masih diam—terkejut.

“Aku..ah, apa yang kau lakukan Jess ??” Tanya Kris saat Jessica merundukkan badannya melihat kebawah kulkas—tempat handphone Kris bersembunyi.

“Tadi handphone mu masuk kedalam situ kan.” Jessica mengulurkan tangannya masuk kedalam bawah kulkas—bermaksud ingin mengambil handphone Kris.

“Tidak usah Jess, disana banyak besi-besi runcing dan tajam. Nanti tanganmu terluka.” Kris mencoba menahan Jessica.

“Tidak apa-apa, lagi pula ini muat untuk tanganku..ah…” Jessica sedikit meringis—saat merasa benda tajam menggores tangannya dibawah kulkas—membuat Kris semakin khawatir.

“Ayolah Jessie, keluarkan tanganmu.” Mohon Kris.

“Kris, tidak akan ada gunanya tangan ku masuk lalu keluar dan berdarah tapi aku tidak mendapatkan handphone mu.” Tolak Jessica—dapat dirasakannya tangan kirinya itu perih dibeberapa bagian.

“Ah dapat.” Pekik Jessica pelan lalu mengeluarkan tangannya—dengan menggenggam handphone Kris—membuat Kris langsung  meraih tangan Jessica yang terluka karena goresan kecil diberbagai tempat di punggung tangannya—handphone telah Kris masukkan kedalam saku celananya lagi.

Kris menarik Jessica kearah westafel lalu membasuh tangan Jessica dengan air yang mengalir dikran untuk membersihkan tangan Jessica dari darah yang keluar akibat goresan besi dibawah kulkas. Setelah cukup bersih, Kris mengambil kotak P3K yang ada didalam salah satu lemari dapur.

“Kris aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Ujar Jessica yang melihat kekhawatiran dan keseriusan diwajah Kris saat mengobati tangannya. Kris mengoleskan salep lalu menempelkan plester luka kebeberapa luka ditangan Jessica.

“Tapi bagiku ini apa-apa Jess, kau tidak boleh melukai dirimum seperti ini.” Kris menatap manik mata Jessica—yang hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Kris—lalu menatap bibir chery Jessica.

Jessica yang sadar arah pandangan Kris langsung mengambil langkah mundur lalu berbalik menuju pintu dapur. Namun—kurang cepat—ketika hendak membuka pintu, Kris menarik tangan Jessica—tidak terlalu kuat—membalik badannya dan memenjarakan tubuh Jessica dengan kedua tangan yang berada di kedua sisi badan Jessica.

Jessica terdiam mengerutkan kening menatap manik mata Kris. Yang ditatap—Kris—hanya tersenyum menyeringai lalu langsung menundukkan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan bibir Jessica yang sangat candu baginya.

Kedua tangan Jessica terangkat hendak mendorong tubuh Kris namun Kris tahan dengan menggenggam kedua tangan Jessica, menindihnya kedinding disisi tubuh Jessica.

Setelah Jessica mulai membalas lumatannya, Kris melepas tangan Jessica—membuat kedua tangan Jessica berada di dadanya sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang Jessica dan tangan kanannya menekan tengkuk Jessica.

Jessica melenguh pelan dan tertahan merasakan lidah Kris bermain dan memainkan lidahnya. Sensasi kupu-kupu terbang didalam perut Jessica, membuatnya menjadi semakin terdorong masuk kedalam pelukan hangat Kris. Sesekali Kris merubah posisinya agar mereka tidak perlu melepas tautan mereka ketika hendak menghirup oksigen.

Tak lama Jessica mendorong kuat dada Kris—membuat Kris melepaskan bibirnya dari bibir Jessica.

“Aku harus menyiapkan makanan untuk Alexa.” Ucap Jessica beralasan. Kris tersenyum, “Babe, Alexa tidak menyukai makanan yang cara membuatnya merepotkan seperti itu.” Kris menunjuk bahan-bahan sayuran yang Jessica potong—namun dia tinggalkan karena handphone Kris.

“Dia juga tidak menyukai sayuran.” Jessica mengeryitkan keningnya menatap Kris—membuat Kris terkekeh—dengan wajah barbie polosnya. “Dia menyukai nasi goreng dan sandwich Jess.”

“Hanya itu ??” Bingung Jessica.

“Yeah, dia juga suka roti bakar, pizza, hamburger dan ice cream. Dia tidak suka seledri, bawang, wortel dan ikan.”

“Kalau begitu aku akan membuatkannya sandwich dan nasi goreng untuknya.”

“Dia masih tidur babe, nanti saja.”

“Tapi dia bilang aku harus membangunkannya ketika makanannya sudah selesai aku buat.”

“Ia, tapi setelah istirahatnya lewat 2 jam. Kalau belum, maka kau harus siap-siap kena lemparan benda yang ada disekitarnya karena berani membangunkannya.”

“Begitukah ??”

“Actually, yeah. Dan dia juga tidak menyukai nasi goreng yang dingin atau terlalu panas. Jadi buatkan dia sandwich dan nasi goreng 15 menit sebelum waktu 2 jam istirahatnya.” Jelas Kris membuat Jessica hanya memperhatikan apa yang dikatakan Kris padanya.

“Lalu apa yang harus…” Kata-kata Jessica terpotong saat Kris mengecup bibirnya. Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkejut—membuat Kris menjadi semakin gemas. Kris mendekatkan bibirnya ketelinga Jessica, “Kau hanya harus membalasku babe…” Jessica hanya bisa terdiam menangkap bisikan Kris ditelinganya.

Kris langsung menyambar bibir Jessica lagi. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Jessica, menautkan jari-jari mereka—menempelkannya kedinding. Memejamkan mata—sama-sama menikmati lumatan yang mereka berikan.

 

***************

 

Chanyeol dan Lay yang sudah bosan—karena tidak ada Kris, kalau ada maka Kris lah yang akan terus menjadi objek kejahilan hukuman dari mereka berdua. Yaah, seperti menari bebek atau menirukan cara bicara mr. bean, bertingkah feminim dan yang lain.

“Ini baru satu jam ge, tapi aku ingin membangunkan Alexa.” Lay menunjukkan wajah menggemaskannya kepada Chanyeol, membuat Chanyeol terkekeh.

“Kau bangunkan saja dia, tapi harus membawa sebuah perisai ya. Siapa tau yang ada disampingnya adalah sebuah batu seberat 5 kilogram, hahaha…” Tawa Chanyeol diikuti Lay.

“Ge, bagaimana kalau kita berenang saja. Aku kepanasan.” Ajak Lay.

“Ah, bagus juga ide mu. Oke ayo.” Mereka berdua pun menuju kekamar mereka masing-masing untuk mengganti pakaian mereka.

Setelah selesai, Lay berinisiatif untuk mengajak Kris berenang bersama mereka. Dia pun turun dari lantai dua—sedangkan Chanyeol sudah lebih dulu berada dikolam remang yang memang terletak di lantai 2 rumah mereka—ingin memanggil Kris.

Beberapa saat Lay bingung dengan keadaan ruangan yang sunyi. Namun, melihat pintu dapur yang tertutup dia menjadi heran.

“Siapa yang menutup pintu dapur ?? Jangan-jangan Jessica, tapi dia sudah tau pasword pintu itu. Mustahil dia lupa atau terkunci.” Gumam Lay sambil berjalan menuju kearah pintu dapur lalu menekan pasword.

Tiiit tiiit…

Lay mengerutkan keningnya mendengar suara—yang berasal dari tombol pasword—terdengar dua kali—tanda pasword yang dia masukkan salah. Siapa yang mengganti pasword pintu dapur, batin Lay— bertambah bingung. Karena semenjak pasword dapur ini dibuat—ibu mereka masih hidup—sampai sekarang—ibu mereka sudah meninggal—pasword itu tidak pernah diganti sama sekali.

Dulu memang tidak ada yang boleh masuk kedalam dapur ketika ibu mereka sedang masak. Dia suka memasak sendirian dan hening tanpa ada yang menganggu. Makanya pintu dapur dibuat khusus berpasword dan hanya Kris dan kedua adiknya yang tau pasword itu bersama ayah mereka. Dapur adalah kerajaan ibu mereka, tidak ada pembantu yang boleh masuk kesana.

Tapi sekarang pintu itu tidak pernah ditutup lagi. Namun kenyataan melihat pintu dapur itu tertutup dan berganti pasword membuat Lay benar-benar bingung.

Setelah beberapa saat berfikir, Lay akhirnya dapat sebuah kemungkinan. Yaitu Kris yang tidak terlihat dan juga Jessica yang menghilang—biasanya Jessica suka menonton sendirian di ruang tamu kalau tidak ada yang harus dia kerjakan.

Membayangkan kedua orang itu yang berada didalam, membuat Lay langsung berlari menaiki tangga—kembali keatas, menyusul Chanyeol—sambil bergidik ngeri.

 

***************

 

Kris melepaskan tautan bibirnya—terkejut—dan Jessica saat merasakan handphonenya kembali bergetar. Jessica sedikit mendorong mundur tubuh Kris yang menghimpitnya kedinding, lalu memalingkan wajahnya—malu—dari Kris.

Kris pun sedikit mundur lalu mengambil handphonenya. Setelah membaca pesan yang masuk, Kris mengerutkan keningnya heran sekaligus bingung.

 

From : Chanyeol

Kalau gege terus mengurung dan menyerang Jessica, aku akan melaporkan gege kepada ayah dan orang tua Jessica. Hahaha…

 

Itulah isi pesan dari salah satu adiknya yang terkadang suka menggodanya.

“Kenapa ??” Tanya Jessica setelah heran melihat ekspresi Kris. Namun setelah itu, Kris menampilkan smirknya, membuat Jessica ciut dan semakin merapatkan tubuhnya kebelakang pintu.

“Bacalah.” Kris memberikan handphonenya pada Jessica. “Bukankah itu lebih baik, agar pernikahan kita dipercepat atau bahkan mungkin dilaksanakan besok.” Kris mendekatkan wajahnya lagi pada wajah Jessica yang mulai memerah.

“Kris aku harus membuatkan Alexa makanan.” Jessica menyerahkan handphone Kris.

“Huft, baiklah. Padahal aku belum puas baby.” Jessica menatap Kris datar membuat Kris terkekeh.

“Seperti itu, wajahmu terlihat semakin menggemaskan kkk~ hahaha…” Kris akhirnya tertawa keras melihat Jessica yang merengut meninggalkannya menuju kulkas untuk mengambil roti dan bahan-bahan untuk sandwich. Lalu membuat nasi goreng.

 

*************

 

Kris menatap sepupunya—Alexa—yang—bepenampilan layaknya laki-laki—sedang memakan makananya yang dibuatkan oleh Jessica. Kris menumpukan sikunya diatas meja makan, menautkan kesepuluh jarinya untuk menopang dagunya.

“Kenapa ??” Tanya Alexa sambil memakan nasi goreng. “Hey, kemana calon istrimu ?? Aku tidak habis fikir, kenapa kau mau susah-susah mencari jodoh memakai cara aneh itu padahal kau punya pelayan yang sangat cantik disini, makanan buatannya pun sangat enak.” Kris membulatkan matanya, jadi sepupunya ini benar-benar menganggap Jessica adalah pelayan dirumah ini.

“Kau tau siapa dia ??” Tanya Kris yang menunjuk Jessica—sedang menonton tv bersama Lay, Chanyeol pergi bersama teman-temannya—namun matanya menatap Alexa intens.

“Dia ?? Pelayan baru kalian kan ?? Kalian baik juga ternyata yah, memperbolehkan pelayan menonton bersama dan duduk diso…”

Pletaak !!!

“AAU !!!” Sebuah sendok melayang dan mengenai kepala Alexa. “Apa yang kau lakukan Kris !!” Protes Alexa, membuat Lay dan Jessica menoleh kearah mereka.

“Siapa yang kau bilang pelayan hah ?? Dia Jessica, calon istriku. Bodoh.” Maki Kris, sedangkan Alexa hanya mengelus kepalanya sambil mencibir pelan.

“Huh, dasar Kris Wu sialan. Aku kan tidak tau, seenaknya saja melemparku dengan sendok.” Gumam Alexa.

“Apa kau bilang ??” Selidik Kris.

“Apa ?? Kau mau mencari masalah dengan ku ??” Tantang Alexa. Dia langsung memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi saat sendok dan giginya bersentuhan. Setelah itu, Alexa langsung memberhentikan makannya lalu pergi dari meja makan—menghampiri Jessica dan Lay—menatap wajah Jessica intens.

“Ada apa dengan mu ??” Tanya Lay mengerutkan keningnya melihat tatapan Alexa yang tidak bisa diartikan.

“Aku menyukaimu, ayo kita pergi.” Alexa menarik tangan Jessica agar mengikutinya.

“Oh…” Jerit Jessica sedikit terkejut.

“Yaa, kalian mau kemana ?? Aku ikut !!” Teriak Lay yang langsung berlari mengejar Alexa dan Jessica.

Jessica hanya diam dengan kening yang mengerut menatap Alexa yang kini tengah menyetir mobil disampingnya. Lay yang berhasil menyusul mereka tengah duduk santai dibelakang sambil memaninkan tabnya sedangkan Kris yang tidak sempat mengejar, menyusul mereka menggunakan mobilnya—Alexa memakai mobil Lay.

Jessica tersenyum setelah beberapa saat memperhatikan Alexa. Mereka semua mirip, dari segi penampilan dan sifat. Sama-sama memiliki selera fashion yang baik dan sifat menyebalkan tingkat tinggi.

Alexa berhenti disebuah restoran mahal—menyediakan segala macam makanan—yang pengunjungnya tidak terlalu banyak.

“Ayo temani aku makan, wajah Kris benar-benar membuat nafsu makanku hilang.” Alexa menggenggam tangan Jessica.

Tuct tuct !! Mobil yang mereka kendarai tadi telah terkunci namun terdengar suara aneh yang samar berasal dari belakang mereka.

Alexa dan Jessica menoleh kebelakang, lalu kemudian mereka tertawa keras. Ternyata Lay masih ada didalam mobil dan terkunci.

“^@$%&*)))*^&&#$@#!#%^ !!!” Jessica dan Alexa semakin tertawa melihat Lay yang memprotes—berteriak dan menggedor kaca mobil—mereka karena melupakan dan mengunci Lay didalam.

 

***************

 

Seseorang—dari jarak tidak terlalu jauh—menatap Jessica yang baru saja masuk kedalam sebuah restoran ternama. Dengan rambut merahnya yang tergerai lurus, rapi dan berponi dia berdiri dari kursi yang sedari tadi dia duduki sendirian.

Dia berdiri, berjalan pasti dengan segelas penuh jus strobery ditangannya ke arah dimana Jessica sedang duduk disebuah kursi yang didepannya ada Lay—masih memainkan tabnya setelah menggerutu panjang pada Alexa dan Jessica—sedangkan Alexa sedang ketoilet.

Spalsh !!

Rambut Jessica mendadak basah begitupun dengan wajahnya dan juga bajunya yang kini sebagian sudah berubah warna menjadi merah.

Ya, seseorang berambut merah itu mengguyur Jessica dengan segelas jus ditangannya—yang tadi dia bawa.

Lay yang terkejut segera berdiri menghampiri Jessica yang terdiam—terkejut—menatap seorang wanita berambut merah yang tengah menggenggam gelas kosong.

“Hey, kita bertemu lagi.”

“Apa yang kau lakukan medusa !!” Pekik Lay pelan.

“Tidak, hanya membalas apa yang pernah dia lakukan padaku tempo hari.” Ucapnya santai. “Dan bukankah aku sudah pernah bilang, kalau dia itu lebih cocok memakai baju rombeng. Lihatlah, cocok kan.” Tambahnya setelah memotret Jessica yang masih membisu—malu—karena semua mata pengunjung kini tengah menatap mereka bersamaan dengan wanita itu yang terus saja menghina Jessica. Tapi tiba-tiba, praank !!!

Handphone yang tadi digenggam oleh wanita itu terlempar—hancur—setelah direbut oleh seseorang yang baru datang dari belakang wanita itu. Dan saat ada seorang pelayan yang menghampiri mereka membawa beberapa cangkir berisi minuman berwarna di atas sebuah nampan, orang yang tadi—melempar handphone si wanita berambut merah—pun meraih dua gelas minuman berwarna kuning dan hijau lalu mengguyur kannya ke kepala wanita berambut merah itu.

Semua terdiam melihat kejadian itu. Begitupun wanita berambut merah itu yang awalnya ingin protes dan melawan namun terpaku setelah melihat siapa yang berani menghancurkan hpnya dan mengguyur kepalanya.

“Ternyata dimanapun kau berada, kau tetap membuat masalah ya Tiffany Hwang.” Tekan orang itu, Alexa Wu. Wanita itu—yang dipanggil Tiffany Hwang—hanya bisa terdiam dan merutuk dalam hati karena harus bertemu dengan gadis jadi-jadian ini lagi—Alexa.

“Ada apa ini !!” Bentak Kris yang baru datang saat melihat calon istrinya—Jessica—berlumuran cairan berwarna merah. “Kau lagi !!” Tambahnya saat menatap Tiffany.

Merasa terpojokkan, wanita berambut merah itu pun pergi—berlari—meninggalkan mereka berempat.

“HEY !!!” Teriak Kris ingin mengejar wanita itu, namun di halangi oleh Alexa.

“Sudahlah, kau urus saja wanitamu dulu. Aku dan Lay akan mengurusnya.” Ucap Alexa.

“Jessie, kau tidak apa-apa ??” Tanya Kris membuyarkan lamunan Jessica. Jessica pun mengangkat kepalanya dengan senyuman manis dia menggeleng—menandakan kalau dia tidak apa-apa.

 

**************

 

“Kau mengenalnya ??” Tanya Lay yang pulang dari restoran bersama Alexa, sedangkan Jessica dibawa oleh Kris. Alexa mengalihkan pandangannya sebentar dari jalanan didepannya—menyetir—kearah Lay yang terlihat menggemaskan karena mengharapkan jawaban.

“Ayolah, jangan menatapku seperti itu.” Ucap Lay membuat Alexa terkekeh.

“Hanya seorang pengacau yang melarikan diri dari Canada. Tapi ternyata dia membuat masalah lagi di sini.”

“Benarkah ?? Hahaha… Kita benar-benar akan mencarinya ??”

“Untuk apa ?? Aku mencari tempat makan yang lain, aku lapar.”

“Aku fikir hehe. Kau tau, dia juga pernah membuat keributan di rumah dan terkena guyuran air pel dari Jessica. Kris gege juga kena.”

“Really ?? Menarik sekali…”

“Iya, kamu tau kan sifat Kris gege seperti apa. Nah jadi waktu itu…”

 

*************

 

Kris menarik lembut tangan Jessica menuju mobilnya yang terparkir didepan restoran tadi. Dia baru saja menemui pemilik restoran dan meminta wanita berambut merah bernama lengkap Tiffany Hwang agar di blacklist dari daftar pengunjung restoran ini.

Dengan sedikit bayaran yang dia rasa setimpal, pemilik restoran itu pun menyutujui permintaan pelanggan mereka yang terkena masalah. Sebenarnya, walaupun tanpa uang pun mereka pasti akan menyutujui permintaan salah satu keturunan Wu itu. Hanya saja ini Kris, yang masih tidak bisa mempercayai orang lain begitu saja.

Setelah Kris mendorong lembut tubuh Jessica masuk kedalam mobilnya, Kris pun masuk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.

“Kita mau kemana Kris ??” Tanya Jessica saat dia sadar kalau ini bukan jalan untuk kembali kerumah Wu. Kris menoleh kearah Jessica lalu tersenyum, memuat Jessica mengeryit bingung.

“Kerumah sakit baby.” Jawab Kris, memuat Jessica mengangguk mengerti.

Sesampainya dirumah sakit, Kris dan Jessica menuju kesebuah kamar rawat VIP bernomor 999. Ada dua orang penjaga didepan pintu ruangan itu yang langsung membungkuk ketika melihat kedatangan Kris bersama Jessica.

“Ayah…”

“Kalian ?? Kenapa, ada apa dengan Jessica ??” Bingung ayah Kris melihat penampilan Jessica yang kotor.

“Aku mau penikahan kami dipercepat.” Tegas Kris langsung, membuat Jessica membelalakkan matanya—terkejut.

“Memangnya kenapa Kris ??” Tanya ayah Kris bingung.

“Apa mempercepat penikahan ku dengan Jessica itu sesuatu yang sulit ?? Bukankah kau yang memintaku untuk segera menikah ??” Kris menatap mata ayahnya—merengut.

“Kkk~ baiklah-baiklah Kris, kau tidak sabaran sekali.” Kekeh ayah Kris membuat Kris mendengus. “Jessica, jika Kris berani berbuat macam-macam sebelum kalian menikah, tendang saja bokongnya. Hahaha…” Jessica ikut tertawa melihat ayah Kris yang terlihat begitu lepas tanpa beban saat mentertawakan Kris ditambah lagi wajah cemberut Kris yang konyol.

 

*************

 

Jessica duduk, berdiam diri didepan cermin yang ada dihadapannya. Menatap wajahnya, dirinya dalam balutan gaun berwarna putih tanda kesucian. Dia akan menikah, sebentar lagi.

“Hey… Tidak usah kau pandangi terus wajahmu. Tanpa apapun juga ka tetap cantik.” Alexa—sepupu Kris—masuk kedalam ruangan tempat Jessica berada.

“Bukan soal itu Lex. Aku gugup.” Jessica meremas kedua tangannya.

“Untuk apa gugup, Kris bukan sesuatu hal yang baru kan untukmu ?? Hahaha…”

“Tapi kami akan menjalani sesuatu yang baru setelah ini.”

“Ok ok princess…” Tiba-tiba seseorang masuk—ayah Jessica—menjemput Jessica menuju altar.

Dengan perasaan gugup yang semakin menjadi, tangan Jessica mulai brkeringat.

“Kkk~ Kau persis seperti ibumu dulu. Kakek bercerita kalau tangan ibumu sampai berkeringat karena gugup saat diantar menuju altar.” Jessica menoleh, tersenyum kearah ayahnya.

“Aku menyayangimu.” Ucap Jessica dengan mata yang mulai berkaca.

“Kami semua menyayangimu nak. Tahan air matamu, malu dilihat Kris.”

“Ayaaah…” Rengek Jessica pelan—membuat ayahnya tertawa.

Kris yang berdiri dialtar—menunggu Jessica sampai kesampingnya—dengan balutan tuxedo putih, terlihat sangat tampan apalagi ditambah senyuman yang tidak pernah hilang dari bibirnya.

Sebentar lagi, Jessica akan menjadi miliknya. Itulah yang ada difikirannya sejak tadi. Alexa, Chanyeol dan Lay yang sejak tadi memperhatikan Kris, mati-matian menahan tawa karena wajah Kris yang menurut mereka menggemaskan.

 

*************

 

Kris memutar badannya kesamping—begitupn juga Jessica—setelah sumpah sakral sudah selesai mereka ucapkan—sehingga sekarang mereka berhadapan.

“Anda bisa mencium pasangan anda sekarang.”

Kris tersenyum nakal—itu yang ditangkap oleh pandangan Jessica, membuatnya menelan salivanya. Kris menumdukkan wajahnya, menahan badan Jessica dengan kedua tangannya lalu menempelkan  bibirnya ke bibir Jessica hingga beberapa detik dan melepasnya—disambut tepukan meriah dari semua kerabat yang datang.

Jessica menghembuskan nafasnya lega karena Kris tidak melakukan hal aneh. Sekarang saatnya melempar bunga, “1 2 3 !!” Teriak mereka membuat Jessica dan Kris melempar bunga kearah belakang mereka.

Teriakan mereka yang ingin mendapatkan bunga itu pun menggema.

“NO WAAYYYY !!!” Teriak seseorang yang tanpa tau apa-apa, bunga itu jatuh tepat digenggaman tangannya. Dialah Alexa Wu.

 

END

 

Author note      :

Maaaaf banget buat semua reader karena ff ini lama baru ada lanjutannya. Soalnya aq baru aja ditawarin kerja sama orang korea di mess korea.

Nah, masalahnya aq pergi jam 7 pagi naik bis perusahaan, pulang jam 5 sampe rumah jam 6 sore—satu jam perjalanan—n karena cape, sampe dirumah aq bisa langsung ketiduran. Mana bos aq sama sekali ga bisa bahasa Indonesia lagi heh, jadi otak sama-sama jungkir balik mikirin arti dari apa yang dia bilang.

Jadi fell pada berhamburan deh, susah nyatuinnya.

Ok, semoga suka ceritanya. Annyeong…

43 thoughts on “[Freelance] (Bitter Trap) (Chapter 2 End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s