Embraced (Chapter 3)

Title                       : Embraced

Cast                       : Jessica Jung ; Kris Wu ; Lu Han

Genre                   : Romance , Drama , School Life

Rating                   : Teen

Length                  : Chapter

Poster                   : @icydork

Author Note      : This is surely my idea. All of the casts belongs to the God, their family and their agency. I just own the story. Don’t be plagiator. Show your support by Like and Comment in the end of reading. Thanks for the reader who always support my Fanfiction

Summary             : When you hoping all of this shit just in your dream, but in the fact you should face it. You can’t change the rule. This is your way. Will you still hope to move?

Flawless Jung Present

a new series Fanfiction

EMBRACED

Jessica POV

Ah! Dapat !

“waaaaaaaaaaaawaaa” sorakan mulai terasa sangat bising. Apa penonton segitu senang hingga bersorak saat kami menemukan koinnya?

“omo, Jessica!” Kudengar suara Tiffany yang berada dibelakangku, aku mebuka sedikit mataku alaupun itu sangat mengganggu.

Dan apa yang kulihat saat kubuka mataku sekarang? Wajah KRIS! Mataku yang terasa pedih tadi sudah menghilang. Mataku terbuka selebar-lebarnya. Sedangkan Kris, wajah dingin itu masih saja sama datarnya. Tapi yang pasti, kami menggigit koin yang sama!

Parahnya, bibir kami bersentuhan dan itu disaksikan oleh satu kampus. Ayolah, kapan hari sialku berakhir?

Author POV

Suasana lapangan saat ini semakin panas. Cuaca terik seperti ini dan ditambah pemandangan yang tak biasa semakin menghangatkan ribuan mata di lapangan Seoul University. Bagaimana tidak? 2 orang, seorang namja dan yeoja tidak sengaja berciuman karena sebuah game.

Hal ini biasa saja jika yang menjadi korban dari game ini adalah orang lain. Tetapi sekarang yang sedang tidak sengaja berciuman adalah seorang Wu Yifan , atau lebih dikenal sebagai Kris Wu. Pria atletis dengan rupa menawan, otak yang pintar, olahraga cemerlang, kaya raya, sempurna. Semua hal ada padanya. Gadis manapun akan berlomba untuk mendapatkan perhatiannya, yah.. terkecuali gadis yang sedang berciuman dengannya sekarang ini.

Cukup lama, sekitar 10 detik mereka dalam posisi seperti itu. Saat membuka matanya sempurna, si gadis yang diketahui bernama Jessica Jung langsung mendorong pria yang hanya berjarak berapa senti dari wajahnya. Kris terhuyung sedikit kebelakang dengan koin yang masih tergigit di antara kedua bibirnya yang mengatup. Pesonanya seakan tidak akan luntur walaupun wajahnya ditutupi tepung dan berkeringat.

“ya! Aigoo.. kalian berdua, masih sempat bermesraan eoh? Yak! Kris, dihari pertama kuliah kau sudah mendapatkan ciuman dari haksaeng baru? Sepertinya aku harus berguru padamu.” Suara Yunho terdengar dari ujung lapangan.

Kris tidak mempermasalahkan gurauan Yunho atau tatapan tajam seluruh penonton. Ia mungkin sudah terbiasa dengan perhatian orang ramai padanya. Tangannya terangkat, meraih koin yang masih terselip diatara kedua bibirnya. Lalu ia melangkah maju kearah Jessica, tangannya terangkat meraih telapak tangan Jessica dan menaruh koin itu diatasnya, lalu menutup jemari Jessica.

“ini untukmu.” Hanya itu yang dikatakannya, lalu ia beranjak meninggalkan lapangan permainan. Sedangkan Jessica hanya menatap kesal bercampur heran kearah koin dan Kris secara bergantian. Keningnya berkerut dengan bibir yang dimajukan. “yak! Micheosso? Yak! Kris Wu. Berhenti kau!”

Sekali lagi, perhatian satu lapangan teralihkan padanya. Jessica sekarang sedang setengah berlari kearah Kris yang entah hendak kemana. Ia terus mengikuti Kris dengan teriakan kerasnya. Semua mata yang tertuju padanya menampakkan kilat-kilattidak suka, heran, bahkan aneh.

“Baekhyun-ah, sepertinya kita harus bersiapsiap untuk hukuman karena kalah dari pertandingan.” Sahut Tiffany dengan mata yang masih terarah pada Kris dan Jessica.

Baekhyun dan Chen hanya menganggukkan kepala mereka sambil menghela nafas. “Kita harus bujuk mereka untuk kembali, masih ada 2 pertandingan lagi melawan kelompok Chanyeol soonbaenim. Kajja..!” Tiffany menarik kedua teammatenya meninggalkan arena dan menyusul Jessica serta Kris.

“ya! Karena tim Kris keluar arena, makan dinyatakan dalam game pertama, team Chanyeol keluar sebagai pemenangnya! Nah, sekarang kita lanjut ke team selanjutnya. Sedangkan Team Chanyeol dan Kris, segera bersihkan diri dan bersiap untuk game selanjutnya!”

Sorak sorai kembali menggema. Team yang akan berlomba mulai bersiap pada tempat masing-masing. Sejenak penonton terlupa akan kejadian yang menimpa Kris dan Jessica .

Luhan Pov

“Kemana Jessica?  Kulihat ia tadi kearah sini menyusul Kris Wu.” Gujmamku pada diriku sendiri.

Aku memutuskan untuk mencari Jessica setelah membersihkan diri dari tepung-tepung yang bertebaran di sekitarku. Setelah meraih tas punggungku , aku beranjak menuju sudut taman yang berada tepat di  belakang labolatorium bahasa.

Bingo! Tampak Jessica dan Kris disana. Kedua orang itu masih tampak kotor karena belum membersihkan badan mereka. Aku memutuskan untuk memperhatikan mereka dari jauh.

“Kau mau apa?” Kris menampakkan wajah kesalnya. Sungguh, sebagai seorang lelaki Kris juga terlihat sempurna dimataku.

“igeo, koin ini. Aku tidak menginginkannya.” Sekarang Jessica yang membalas tak kalah kesal.

“buang saja.”

“mwo..?”

“kalau tidak ingin, buang saja. Untuk apa kau menyusulkan hanya untuk itu?”

“k..kau..”

“kenapa? Masih ingin menciumku?”

“yak! Apa maksudmu?”

Aku memutuskan untuk muncul dihadapan mereka. “Jess..” panggilku.

“Luhan?”

“kau tampak jelek dengan wajah penuh tepung, ayo kita bersihkan dulu” ajakku dengan menarik tangannya. Sekilas kulihat Kris yang tidak terganggu akan kehadiranku. Sedangkan Jessica hanya mengikutiku. Ia tidak protes ataupun mengiyakan.

“ta..tapi Luhan..”

“kau ingin terlihat jelek lebih lama?” potongku. Aku tau ia masih belum puas untuk beragumen dengan Kris. Mereka hanya berdua disudut taman. Memang, mereka bukan bermesraan, malah mereka sedang melakukan aksi protes. Tapi tetap saja, aku tidak suka melihat Jessica dan Kris hanya berdua disituasi apapun. Aku tidak suka, camkan itu.

Flashback

“yah yah, kau lihat! Mereka berciuman! “ Chanyeol soonbaenim bersorak ramai saat menatap kelompok Kris. Yah, kami sedang bertanding melawan kelompok mereka, dan Jessica berada pada kelompok itu.

Mataku beralih mengikuti arah tatapan Chanyeol. Dan apa yang kulihat? Pria itu memang Kris , tapi wanita yang berpagutan bersamanya itu Jessica. Tanpa kusadari aku mengepalkan telapak tanganku keras. Gigiku terkatup rapat. Aku tak suka.

Kualihkan pandanganku dari mereka dan memilih untuk melanjutkan permainan. Sungguh. Perasaanku kacau sekarang. Seorang yang baru kutemui tadi pagi bisa mengobrak-abrik perasaan ku dalam sekejap mata.

“sial” aku mengumpat kesal dan memukul meja tempat ditaruhnya wadah untuk koin.

“wae gurae, Luhan-ah? Gwenchana??” seorang yang kuketahui bernama Im Yoona menatapku khawatir. Aku hanya menganggukkan kepalaku seilas dan kembali mengalihkan tatapanku. Sungguh, aku ingin lari dari sini.

Flashback End

Aku dan Jessica sekarang berada di dekat kolam taman yang terdapat keran airnya. Kulihat Jessica sibuk membihkan muka dan lehernya dari tepung. Tak lupa ia menepuk-nepuk pelan bajunya agar terlepas dari serpihan tepung.

“enghh..” aku mendengar Jessica mengerang dengan mata yang dikerjap-kerjapkan.

“Jess, waeyo..?” aku menatapnya panic.

“mataku, sepertinya kelilipan tepung.”

“benarkan? Kemari. Buka matamu.” Aku meraih pipi Jessica dengan kedua telapak tanganku. Hangat dari kedua pipinya menajalar pada kedua telapak tanganku. Aku menyukai keadaan begini, saat dimana hanya ada aku dan dia berdua disini.

Kulihat ia membuka matanya perlahan. Tampak sedikit kemeran disekitar matanya. Ku tiup pelan matanya yang memerah itu.

Fuhh~

“masih sakit?” tanyaku dengan telapak masih pada kedua pipinya.

“eng.. sudah membaik. Gomawo Luhan-ah~” katanya dengan kedua mata yang menatap padaku. Sungguh , saat ini kami sangat dekat. Jantungku berpacu sangat cepat. Aku khawatir dia bisa mendengar degupanku.

“n..nee, gwenchana~”  jawabku terbata dengan kedua telapak masih berada dikedua belah pipinya.

“JESSICA? Jess.. Omo!!”teriakan seseorang sontak melepaskan kedua telapak tanganku. Lalu tiba-tiba kulihat kepala Tiffany muncul dari balik tembok keran disertai Chen, Baekhyun dan Kris. Pria itu lagi.

“kal..kalian sedang apa?” Tanya Chen terbata-bata. Mata mereka semua terbelalak kearah kami, kuralat mata Tiffany, Chen dan Baekhyun. Hanya Kris yang membuang tatapannya. Entah dia sengaja atau , ah sudahlah.. untuk apa aku memperhatikannya.

“k..kami tidak sedang apa apa. Luhan hanya membantuku untuk menghilangkan iritasi pada mataku, bukankah begitu Luhan-ah?” jawab Jessica setenang mungkin.

Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Sedikit kesal, karena mereka mengganggu momentku dan Jessica walaupun tidak sengaja.

“kajja, masih ada pertandingan lagi. Luhan-ah, kembalilah ke teammu, kurasa mereka juga sedang mencarimu. Pertandingan kedua akan segera dimulai”

“baiklah, Luhan aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah membantuku. Annyeong.”

Jessica POV

“baiklah, Luhan aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah membantuku. Annyeong.” Aku membungkuk sedikit saat meninggalkannya. Sebenarnya, jujur saja aku ingin lebih lama dengannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman berada didekatnya. Dan lagi, saat ia membantuku meniup mataku, walaupun dia baru kutemui tadi pagi, tapi sedikit banyak ia telah banyak mencuri perhatianku.

Aku mengikuti Tiffany yang menarik tanganku kembali kelapangan. Pertandingan selanjutnya akan dimulai, mereka menyuruhku bersiap-siap dahulu.

Sekarang tampak banyak kubus berwarna pink dan biru dilapangan. Game kedua kali ini adalah menyusun kubus itu setinggi tingginya dalam waktu 1 menit. Aku menatap ngeri, ini game satu lawan satu. Kris sudah melawan Chanyeol tadi, dan Kris yang keluar sebagai pemenang, dan sekarang giliranku.

Tampak disana, seorang siswi cantik yang menjadi sainganku sedang tertawa dengan mulut lebar sedang bersiap-siap. Aku mendengus pelan, aku benar-benar berharap hari ini cepat selesai.

“Jessica Jung dan Im Yoona, diharap bersiap pada tempatnya. Bersedia.. Siap..”

DORR!

Aku mulai meletakkan satu persatu kubus menyusun tinggi keatas. Hingga pada balok keempat aku terpaksa meletakkan satu kubus sebagai injakanku karena tanganku tak bisa menggapai lebih tinggi dari empat kabus.

Aku melihat Yoona sudah menyusun 6 kubus , sedangkan aku berada selangkah didepannya dengan 7 kubus. Aku kembali turun kebawah untuk mengambil balok selanjutnya dan kembali lagi keatas, seperti itu seterusnya.

Tak terasa, waktu sudah berjalan 48 detik. Aku meraih kubus kesembilan dan menaiki kubus yang kususun seperti tangga untuk membantuku meraih puncak teras.

HUPP! Kubus pun tersusun sempurna.

Masih ada sisa waktu berapa detik untuk mengambil balok kesepuluh. Aku menuruni susunan kubus agak tergesa sehingga membuat kubusnya sedikit oleng. Aku tergelincir.

“Tuhan, apakah nafasku berakhir denbgan tidak elit seperti ini?huh, kesialan sepanjang hari berakhir dengan kematianmu, Jessica Jung” batinku. Aku sudah pasrah saat tergelincir tadi. Kukatupkan kedua mataku menunggu rasa sakit menerjang tubuhku.

Author POV

Pria itu menatap khawatir pada salah satu peserta lomba. Ia semakin panic saat melihat susunan kubus mulai goyah dan satu detik kemudian wanita itu tergelincir. Dengan tanggap ia berlari menuju kearah pertandingan dan menangkap sesuatu yang hampir saja menyentuh tanah. Ia menangkap Jessica Jung.

Nafasnya masih belum teratur, mungkin karena berlari dan rasa panic. Sekarang ia bisa menghembuskan nafas sedikit lega, karena dengan matanya sendiri ia bisa memastikan bahwa wanita ini baik-baik saja.

Sebuah senyum terukir diwajahnya. Ia tersenyum bahagia. Disamping itu , wanita yang diselamatkannya masih saja menutup matanya rapat.

“hei.. Nona Jung, kau baik-baik saja?” Tanya si pria itu.

Jessica, wanita yang diselamatkannya membuka matanya perlahan-lahan. Matanya berkedip lucu beberapa kali. Hingga kesadarannya kembali dan langsung terbelalak melihat siapa yang baru saja menangkapnya dengan bridal style yang sekarang tersenyum sangat manis kearahnya.

“Lu..Luhan”

Hari kemarin berakhir dengan seri. Pertandingan tidak dilanjutkan karena cedera yang dialami oleh Jessica. Seluruh panitia menyetujui untuk menghentikan poermainan.

Hari ini hari kedua ospek, tetapi gadis itu meringkuk dibalik selimutnya. Ia biberikan izin ekslusif oleh panitia karena cederanya. Beruntunglah, karena dengan begini ia tidak perlu bercapek-capek ria dilapangan dengan teriknya matahari.

Sebenarnya, ia tidak mengalami cedera apapun. Hanya saja, kemarin setelah melihat Luhan-lah yang menyelamatkannya, ia tiba-tiba pingsan dan itu membuat Luhan yang sebelumnya tersenyum kembali panic.

Jessica menarik selimut hingga batas hidungnya. Ia merasa malu dengan apa yang ia alami bersama Luhan kemarin siang. Walaupun sekarang ia dikamar sendirian, tapi entah kenapa ia merasa malu.

TING!!

Suara bel terdengar memenuhi apartment. Jessica, pemilik apartment mengerutkan keningnya. Ia melirik jam yang tertera dilayar iphonenya. 11.53 KST.

“siapa yang bertamu disiang hari begini? Teman Krystal?”

Jessica beranjak malas dari kasurnya. Untungnya ia sudah mandi tadi pagi, sehingga ia hanya perlu sedikit merapikan pakaian dan rambutnya lalu beralih keruang tengah.

Ia menuju kearah interphone yang terdapat monitor kecil(biasanya terpasang disetiap rumah sebagai ganti lubang intip pada pintu). Ia melihat siapa yang datang dari layar interphonenya.

“Luhan?” sahutnya tak sadar. Sedangkan seseorang yang mendengarnya dari ujung pesawat interphone meresponnya.

“ah, nee. Jessica-ah. Aku datang.” Balas si pria dengan wajah tampannya tak lupa dengan senyum khasnya.

Saat ini juga sedang waktu istirahat prosesi ospek. Terlihat banyak mahasiswa memadati kantin universitas. Seorang wanita cantik dangan tungkai yang jenjang membawa makanannya kesebuah meja yang sudah diduduki oleh seorang pria berparas dingin, Kris Wu.

“annyeong Kris” sapa wanita yang bername tag Miss Choi.

Kris yang disapa hanya melirik kesal sedikit lalu membuang tatapannya. Ia memilih untuk pura-pura tidak mendengar sapaan wanita itu.

“Bolehkan aku duduk disini?” wanita itu menunjuk bangku kosong yang tepat berada didepan Kris. Sedangkan yang ditanya hanya diam saja. Tak mau menunggu lama, Miss Choi langsung duduk tanpa persetujuan Kris.

Kris beranjak bangun dari kursinya dengan membawa nampannya yang telah kosong.

“jakkaman Kris! Kenapa kau pergi? Kau selalu menghindar dariku!” wanita itu bangun dan menahan lengan Kris. Si pria berhenti melangkah dan menatap wanita itu kesal.

“aku sudah selesai makan, dank au tidak berhak mengaturku untuk tetap duduk atau pergi.” Balas Kris dingin.

“tapi, bisakah kau menemani tunanganmu makan siang sebentar saja?” wanita itu merangkul mesra lengan panjang Kris.

Kris menahan amarah yang tampak jelas diajahnya. Dengan sekali hentakan, rangkulan wanita itu lepas dari lengannya. Ia lalu berbalik menatap wanita itu dengan tangan terkepal.

“dengarkan aku Choi Sooyoung! Jangan pernah berharap aku akan menganggapmu sebagai tunanganmu. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerimanya. Mengerti?”

Sesaat setelah mengatakan itu, Kris berbalik meninggalkan wanita yang terpaku disitu. Tangannya sudah terkepal sempurna dengan nafas menderu. Ia meraih nampan makanannya yang masih utuh lalu membuang semuanya pada tongsampah didekatnya.

“kau hanya perlu waktu untuk menyadarinya, Kris. Sampai waktu itu datang, kau yang akan memohon padaku..” gumam wanita yang dipanggil Kris sebagai Choi Sooyoung.

To Be Continue

Yaaaaaa~~ part ini serasa hambar buatku. Ln bagaimana buat kalian. Dan dimuali part ini dan selanjutnya konflik akan sering bermunculan. Maaf untuk alur yang terkesan cepat dan dipaksakan. Jadi, untuk segala kekurangan pada fanfiction ini author mohon maaf, termasuk juga dengan typo yang bertebaran.

Nah~ selamat membaca. Jangan lupa Comment dan Likenya ^^

Annyeong~

 

61 thoughts on “Embraced (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s