[FREELANCE] The End of Her Tears (Chapter 1)

Tittle : The End of Her Tears

Author : Hepi Diana (@HepiDiana18)

Genre : Romance, Angst, Family, Marriage Life, Sad

Rating : PG 15 | Length : Chaptered

Main Cast :

SNSD – Jessica | EXO – Kris

Other Cast :

SNSD – Tiffany | SNSD – Yoona | SNSD – Taeyeon | EXO – Baekhyun | EXO – Chen

Disclaimer : Tokoh dalam FF ini adalah milik Tuhan dan orang tua mereka. Saya hanya pemilik dari  jalan cerita FanFict ini

Author Note : mian typo-nya, happy reading~

 

===

-Author’s POV-

 

 

Kris melonggarkan dasi di kerah bajunya yang sudah menggantung sejak tadi pagi. Namja bertubuh jangkung itu ikut merebahkan dirinya di sofa ruang tengah, tepat disebelah tas kerjanya yang berwarna hitam pekat. Tubuhnya begitu lelah setelah seharian mengerjakan tugas kantornya, ingin sekali ia beristirahat melepas penat namun berdiam diri di rumah bukanlah pilihan yang tepat baginya, ada alasan khusus mengapa ia tak betah di rumahnya sendiri. Kris menelan ludahnya, dahaga mengundangnya untuk beranjak dari sofa dan dengan langkah cepat mengambil minuman dingin didalam kulkas.

 

Ia menekan saklar yang berada tepat di sebelah kulkas hingga dalam sekejap lampu-lampu di dapur menyala. Pot kecil dari hiasan bunga yang di pajang diatas kulkas terlihat bersinar. Bunga, bukan Kris yang memilih benda itu untuk berada di sana.

 

“Hm.” gumamnya saat melihat sebuah catatan kecil yang menempel di sudut kulkas setelah menutupnya.

 

“Mianhae, aku belum berbelanja bahan makanan dan malam ini tak sempat membuatkan makanan untukmu.”

 

Kris menghela nafasnya setelah membaca catatan itu. Ia membalikkan badannya dan kembali meminum minuman dingin digenggamannya sampai habis, sekiranya air itu mencukupi kebutuhannya sampai bangun esok pagi. Dia pun berjalan ke arah lain didalam rumahnya, menyalakan lampu ruangan dan mengecilkan langkah saat sudah dekat dengan sebuah ruang kamar.

 

“Ckrekk..”

 

Kris membuka pintu kamar itu dengan sangat perlahan. Ia dapat melihat seorang yeoja berambut panjang sedang tertidur sambil memeluk guling dengan penerangan dari salah satu lampu tidur di sisi kamarnya.Ia tak menampakkan ekspresi apapun, ditutupnya pintu kamar itu lagi dan menjauh dari kamar tersebut menuju kamar yang ada di lantai dua rumah melalui sebuah tangga loteng yang kokoh.

 

Kris merebahkan tubuhnya yang letih itu diatas tempat tidur. Ia tak ingin semakin memendekkan jam tidurnya yang sudah sangat sedikit.

 

“Jaljayo Tiffany-ah..” ucap Kris dengan seulas senyuman getir.

 

Kris menutup matanya perlahan hingga akhirnya benar-benar tertidur.

 

===

 

Kris Wu, seorang direktur muda itu berjalan menuruni tangga sambil mengancingi kancing di pergelangan kemejanya. Begitu sampai di lantai bawah, seorang yeoja berambut panjang dengan warna pirang kecoklatan menyambutnya. Yeoja itu tengah berdiri di sekitar meja makan dengan senyumannya yang menawan namun sama sekali tak terlihat menarik di mata Kris Wu. Ia mengacuhkan pemandangan tersebut.

 

“Aku sudah menyiapkan makanan, sebaiknya kau menyantapnya untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.”  ucapnya, ia berjalan mendekat ke arah Kris berada.

“Tidak perlu!” jawab Kris cetus.

“Kris…” mata yeoja itu terlihat membulat, ucapan yang di dengarnya cukup membuatnya tersentak.

“Jangan berlagak perhatian padaku.” Kris menolehkan kepalanya, menunjukkan kilatan matanya tepat pada landasan bola mata si yeoja berambut panjang, “Merepotkan.” Lanjutnya singkat sambil menarik tas kerja dan juga kunci mobilnya. Dalam hitungan belasan langkah kaki, Kris sudah lenyap dari dalam rumah.

 

Bersama dengan hilangnya Kris, yeoja yang tertinggal seorang diri di dalam rumah itu masih saja terpaku pada posisinya. Matanya yang belum bergerak seakan melihat bayangan roll film langkah demi langkah sang namja berjalan keluar meninggalkannya.

 

Ia menunduk dan berjalan mundur dengan gontai, menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja makan dan duduk di atas sana. Terdengar suara kecil dari hembusan nafasnya. Bola matanya bermain, menatap rentetan hidangan yang sudah ia siapkan sejak bangun tidur dengan sangat bersemangat.

 

“Selalu saja seperti ini.” Ucapnya halus, penuh ketersiksaan. Matanya terasa berat, ada sesuatu yang ingin jatuh dari sana –air mata. Tatapan kosongnya pada santapan yang belum tersentuh itu melayang-layang, ia mulai terpikirkan bermacam hal.

 

Jessica Jung, begitulah nama yang sekarang di sandangnya setelah beberapa tahun terakhir. Hanya sang ibu tercinta yang masih memanggilnya dengan nama kecilnya. Yeoja yang namanya di awali huruf melengkung ‘J’ itu masih membisu hingga detik ini. Rumah yang kosong, tak ada seorangpun yang bisa diajak menjadi lawan bicara meskipun pemilik yang seorang lagi juga berada di dalam rumah bernuansa elegant itu.

 

“Kenapa kau sebenci itu padaku…” Ia membatin, hanya dirinya seorang yang mendengar kalimat itu.

 

Terhitung sudah seminggu waktu berjalan semenjak terakhir ia menyantap makanan bersama Kris yang ternyata adalah suaminya. Hal sederhana yang tergolong langka terjadi dalam rumah tangganya. Parahnya, terakhir kalinya ia makan bersamapun hanya berlandaskan alasan karena kunjungan mertua. Suaminya yang bertubuh jangkung itu tak berminat duduk bersamanya walaupun hanya untuk beberapa ratus detik. Sejenak ia tak percaya, kenapa semuanya menjadi sesulit ini? Ia tak menyangka kalau ia akan menjalani hari seperti ini, menjalani sebuah drama yang begitu menyakitkan.

 

 

“Kris Wu, kau…” Jessica menelan ludahnya, bersabar mungkin kunci dari penderitaannya.

 

===

 

 

Seoul, Ibu Kota Korea Selatan itu sedang diliputi salju tebal, padahal untuk pekan ini harusnya sudah terjadi pergantian musim. Entahlah, bahkan para pembaca berita prakiraan cuaca saja masih ragu untuk menyampaikan cuaca akhir-akhir ini. Semua orang memakai baju yang berlapis-lapis lengkap dengan syal yang melilit lehernya. Rumah-rumah menyalakan penghangat ruangannya malam itu, suhu dingin yang menyilukan tulang terasa menyiksa orang-orang yang tak menyukai dingin.

 

Jessica memeluk kedua lututnya yang terasa dingin sambil bersendagu diatasnya. Ia bernyanyi-nyanyi kecil untuk mengusir kesepiannya di sofa ruang tengah. Hanya aroma sup ramen panas yang menemaninya. Ia mendongak, menatap jam bundar yang menempel rapi. Jessica menjilat bibirnya setelah tahu sudah jam setengah 1 malam.

 

Ckrek..

 

Ia berkedip cepat, lehernya langsung membantu tolehan kepalanya dengan gesit untuk melihat pintu rumah yang dibuka seseorang.

 

“Kris!” Serunya seraya berdiri, wajah antusiasnya bersemu, menutupi ribuan rasa letih yang barusan membelenggunya karena menanti kedatangan sang suami, “Akhirnya kau pulang. Pasti sangat dingin di perjalanan pulang dengan cuaca seperti ini di tengah malam. Sebagai permintaan maaf karena kemarin malam aku tertidur, malam ini aku sudah membuatkanmu sup. Aku harap kau akan menyukainya.” Jelasnya panjang lebar tanpa mengurangi ekspresi antusiasnya sedikitpun.

 

Kris mendecak kesal, tangannya terasa gemas. Namja itu menampakkan smirk-nya. Semakin panjang suara yang keluar dari yeoja itu, semakin membuncah jua rasa geramnya. Perlahan kakinya berjalan dengan pasti mendekati Jessica, membuat mata yeoja itu tak bisa berkedip sedikitpun saat namja itu sudah tepat ada di hadapan matanya.

 

“Kris.. kka..kau..” kata-katanya terpenggal begitu hembusan nafas Kris terasa bereaksi dengan indera perabanya. Giginya bergetar begitu tak sengaja menatap tepat di tengah bola mata laki-laki itu. Ia diam. Ketakutan.

 

“Bodoh!!” Cacian bersuara tajam nan keras itu terdengar bersamaan dengan suara jeritan melengking Jessica yang pada detik yang sama terjatuh di atas sofa akibat dorongan kasar di pundaknya. Jessica meringis kesakitan walaupun sebenarnya rasa takut lebih mendominasi gejolaknya saat ini. Tak di percaya, namun Kris benar-benar telah mendorongnya barusan.

 

“Yeoja bodoh!” Kris memaki. Tangannya menarik lepas jas yang ia gunakan lalu kemudian menghempaskannya dengan kasar pada paha sang istri. Hempasan itu lagi-lagi menghasilkan sebuah jeritan nyaring.

 

 

Pipi Jessica memanas begitu air mata sudah menghujani pipinya. Sorot tajam dari mata Kris dan juga perlakuan kasarnya menghantarkannya merasakan hawa panas di tengah gurun pasir yang berasap karena sengatan matahari. Ia telah kehilangan ingatan kalau salju dingin masih menggungung di luar sana.

 

“Berhentilah bersikap seperti ini! Kau pikir kalau kau melakukan ini maka aku akan menyukaimu?! Kau sendiri tahu kalau aku tak akan pernah menyukaimu dan kau sendiri tak menyukaiku!” amarah Kris meledak. Suaranya yang berat mampu membelokkan arah rotasi bumi. Benar-benar menakutkan jika kau melihatnya secara langsung. Sosok tampan Kris sungguhlah kejam, “Membuang waktu saja!” Kris menekankan kalimatnya, membuat Jessica hampir mati di tempat dengan guyuran air mata yang membahana.

 

“Air matamu itu tak ada artinya!” tambahnya sebelum ia meninggalkan Jessica di ruang tengah bersama sup yang sudah mulai mendingin itu. Tak ada secercah rasa kasihan yang mampu mengetuk hatinya melihat keadaan sang istri seperti itu.

 

Kris tak peduli, sampai kapanpun, ia tak akan pernah perduli.

 

===

 

Di ruang tengah itu, dalam suasana dan pemandangan yang indah di sore hari, Jessica menyeduh coklat panasnya. Di samping kanannya sudah ada wanita berbaju merah muda dengan tas berukuran sedang di dekatnya. Beberapa buku tebal tentang hukum ada di dekat tas tersebut.

 

“Bagaimana kabar ibumu?” Tanya yeoja berbaju merah muda itu sambil menyibakkan rambutnya pelan.

 

Jessica terdiam. Ia meletakkan cup coklat panasnya di meja. Sejenak, mata sayunya itu terlihat tengah menahan suatu hal. Entah apakah itu.

 

“Aku tak tau dimana keberadaan Ibu sekarang. Aku tak tahu harus menghubunginya dengan cara apa. Ia menghilang.” Jessica menghela nafas, “Mungkin ia telah pergi jauh dari Korea.” Tambahnya. Pasrah.

“Mwo?! Bagaimana bisa jadi seperti itu? Meninggalkanmu tanpa kabar? Bukannya dia tahu kalau kau hanya sendirian disini?” Respon dari yeoja berbaju merah muda sedikit terkejut. Namun, di dalam hatinya, ia sedikit lega karena monster besar dalam hidup Jessica telah lenyap. Jujur saja, ia tak menyukai ibu Jessica.

“Aku rasa ia akan kembali dalam jangka waktu yang sangat lama. Entah kapan.” Mata sayu Jessica berkedip pelan.

“Emh..” Lawan bicara  Jessica itu mendesah pelan, ia berpikir untuk mengganti percakapan sebelum Jessica akan mengatakan kalau ia merindukan si monster bermata hijau itu, “Oh ya, bagaimana dengan suamimu? Apa dia cocok denganmu?”

 

Wajah Jessica tiba-tiba berubah begitu mendengar pertanyaan yang terlontar. Bibir bawah dan atasnya berhimpitan, menyisakan pertanyaan antara senyum atau raut kesedihan yang ia tunjukan. Sesak, itulah yang Jessica rasakan kala harus membuka pembicaraan tentang rumah tangganya pada sang sahabat terdekat ini.

 

Dan untuk pertama kalinya, akhirnya Jessica Jung menceritakan perkara rumah tangganya, “Kris, dia… membenciku.”

“Maksudmu?!” Yeoja berbaju merah muda mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kalimat bernada menggantung itu. ‘Benci’ ? Apa-apaan itu?

“Ternyata dia juga di paksa dengan perjodohan ini. Padahal, awalnya aku mengira dia tak seperti itu. Tak ada kata ‘cinta’ dalam rumah tangga ini.” Jelas Jessica lirih. Matanya berhasil menghasilkan cairan bening yang kemudian turun dan nampak jelas di pipi Jessica.

 

Si yeoja berbaju merah muda mengunci bibirnya. Tanpa perlu dijelaskan lebih panjang, ia sudah mengerti bagaimana perasaan sang sahabat bernama Jessica itu. Dipaksa menjalin hidup bersama tanpa saling kenal dan juga tanpa ada perasaan yang mengikat diantaranya, itu sungguh menyakitkan. Sosoknya sudah sangat mengenal Jessica, mungkin separuh hidupnya sudah ia pakai sebagai sosok kedua Jessica. Ia mampu merasakan penderitaan Jessica yang telah ia anggap sebagai adik kandung itu.

 

Air mata yang sudah biasa dilihatnya bergenangan di pipi halus Jessica tak mampu membendung rasa ibanya. Jessica yang ia kenal sungguhlah lemah, jika saja ia tak hidup di tengah-tengah orang berkepala batu seperti ini, mungkin saja ia bisa melihatnya lebih banyak tersenyum. Ia menarik nafas panjang, merubah pikirannya kalau hidup Jessica sudah lebih baik begitu tahu sang ibu sudah menghilang tanpa arah. Kini, monster baru bernama Kris telah terlahir. Akan seperti apa lagi garis hidup sahabatnya itu?

 

‘Ckrek’

 

Suara pintu rumah memecah keheningan sore itu. Seorang namja jangkung bernama Kris yang barusan dibicarakan muncul dengan tas kerjanya. Wajahnya yang acuh menatap singkat dua yeoja di sofa ruang tengah.

 

Sontak, gadis berbaju merah muda yang merasa hadir sebagai tamupun bangkit dari duduknya. Memberikan sapaan pada pemilik rumah yang datang.

 

“Annyeong.” Sapanya sembari membungkukkan badan dalam waktu singkat.

 

Alis yeoja itu bergerak kecil begitu melihat Kris hanya berlalu di depannya tanpa memberikan respon sedikitpun. Kris bagaikan telah kehilangan indera pendengarnya hingga suara sapaan yang cukup keras itu tak terdengar. Si tamu berambut hitam itu hanya bisa membatin dalam hatinya, ‘sombong sekali laki-laki ini’.

 

Kris terus melangkah, menaiki tangga dan di akhiri suara keras dari pintu kamar yang di bantingnya begitu sampai di lantai atas.

 

Suara itu membuat kedua yeoja di bawah terhenyak. Si tamu merasakan sesuatu yang mengganjal dalam tubuhnya, tentu saja ia tak nyaman dengan suasana seperti itu. Nampaknya ia telah mengganggu kedamaian sang pemilik rumah dengan cara bertamu di daerah kekuasaannya.

 

Ia menarik tas dan mengumpulkan buku-buku tentang hukum itu dalam dekapan tangan kirinya, “Sepertinya sudah cukup sore dan aku harus segera pulang.” Katanya.

 

Jessica bangkit, menuntun yeoja di sampingnya hingga kedepan pintu rumahnya yang cukup besar bagi pasangan suami istri yang umurnya masih semuda Kris dan Jessica. Yah, perlu diketahui kalau namja yang berstatus direktur muda itu memang sangatlah sejahtera dalam hal materi. Bukan penduduk Gangnam namanya kau kalau tak mengenal Kris dari keturunan marga Wu yang mewah itu.

 

“Sica-ya, kenapa dia dingin sekali? Kau tak di perlakukannya seperti itu, kan?” Ucap yeoja berbaju merah muda setangah berbisik.

 

Jessica belum menjawab, matanya yang tadi menangis seakan ingin mengulang peristiwa itu lagi. Hati Jessica terasa berat oleh ganjalan sejenis magma panas. Kaki dan tangan Jessica bergerak, ia memeluk tubuh yeoja di sampingnya dengan sangat erat. Wajahnya memendam tepat di pundak kiri yeoja itu.

 

“Eonnie… hiks..” Tanpa perlu melihat wajahnyapun kau akan tahu kalau Jessica tengah menangis, “Dia bahkan tak pernah tersenyum kepadaku. Hiks..”

 

Gadis berbaju merah muda itu hampir saja terlepas kekuatannya. Mendengar jawaban Jessica yang seperti itu membuatnya ingin menangis. Sudah di jelaskan bahwa ia memang sudah bisa merasakan apa yang Jessica rasakan. Hatinya geram. Mana bisa ia membiarkan seseorang yang ia anggap sebagai saudaranya itu akan terus merasakan penderitaan. Tangannya bergerak, menghapus rambut Jessica dengan sangat lembut.

 

“Sica-ya, sabarlah. Aku mengerti perasaanmu saat ini.” Ujarnya, hanya ada suara kecil dari serpihan-serpihan tangis yang di dengarnya sebagai jawaban, “Sebenarnya aku tak sanggup melihatmu yang terus menangis seperti ini, Sic. Karena ibumu sudah tidak ada disini, lebih baik kau kabur.”

 

Jessica melepaskan pelukannya dan menggeleng dengan cepat. Tangannya  menghapus aliran air mata di pipinya.

 

“Aku tidak bisa, Eonnie. Aku tidak bisa pergi meninggalkan rumah ini. Kalau saja aku pergi, orang tua Kris pasti akan segera mengicar keberadaan ibuku dan menagih janji-janjinya sebelum perjodohan kami di setujui. Ibu akan sengsara.” Tolak Jessica. Kepalanya di penuhi pikiran akan sang ibu yang terakhir di jumpainya dengan baju berwarna putih bersih di pesta pernikahannya.

“Ibumu benar-benar sudah menjualmu, Sic.” Si yeoja berbaju muda mendecak kesal.

“Aku rasa begitu.” Ucap Jessica sendu. Walaupun kata-kata yang ia dengar barusan sangat menyakitkan, namun itulah kenyataannya. Perjodohan dengan imbalan uang yang menggunung, apakah itu tak berbeda jauh dengan yang namanya ‘penjualan’, “Demi kebahagiaan Eomma, aku akan mencoba menjalani semua ini, Eon. Ini adalah apa yang ia pinta untukku.”

 

Si gadis berbaju merah muda itu menggeleng di dalam hati. Ternyata motto hidup Jessica yang telah di cap-nya sebagai motto terburuk di dunia masih di gunakannya dalam kehidupan nyata hingga detik ini. ‘membahagiakan Ibu’, itulah yang ia tahu tentang tujuan hidup Jessica. Ia tak akan menganggap itu salah kalau saja ibu Jessica adalah wanita yang baik, tapi ini? Ia sangat jauh dari golongan ‘ibu yang baik’. Memaksa bekerja hingga larut malam, berhenti kuliah, lalu kini menjualnya kepada orang yang tak di kenal sama sekali. Ibu yang menyedihkan. Jessica tarlampau berbakti baginya.

 

“Aku tahu itu.” Gadis itu menepuk pundak Jessica, “Aku pulang sekarang.” Ia melambaikan tangannya dan tersenyum dengan kaki yang mulai melangkah.

 

Jessica yang melihatnya menjauh berusaha menyunggingkan senyum halus. Di gerakkannya telapak tangan kanannya, membalas lambaian sampai jumpa dari yeoja barusan.

 

“Hati-hati Taeyeon Eonnie!” Akhirnya Jessica menyebutkan nama yeoja berbaju merah muda itu. Taeyeon, Kim Taeyeon nama lengkapnya.

 

===

 

Cuaca Seoul mulai berubah. Gunungan kecil dari salju telah mencair. Beberapa pejalan kaki mulai menghentikan aktifitas hari-hari mereka dengan mantel tebal kemana-mana. Di dalam ruangan yang cukup besar dan di dominasi warna putih dan abu-abu itu, sang direktur muda berambut pirang dengan dasi polos berwarna biru tuanya tengah asik mengobrol dengan rekannya yang entah disengaja atau tidak malah menggunakan dasi berwarna senada. Mereka tertawa sekali-kali, pembicaraan itu tidak terlalu formal.

 

“Ya, tentu saja. Kalau ada orang lain yang mendengar, semua akan menjadi kacau.” Ujar Chen, seorang asisten manajer dari perusahaan lain yang kali ini ada di hadapan Kris.

“Jadi dimana tempat yang cocok?” Kris membuka kedua telapak tangannya, menunjuk agar si lawan bicara tak akan sulit mengajukan pendapat.

“Annyeong..”

 

Terdengar suara dari sudut lain. Kris dan Chen bangkit dari posisi mereka, menyambut seseorang yang datang. Kris dan Chen mengangguk bersamaan begitu tahu siapa yang datang. Dengan langkah santai mereka berjalan mendekat dan berjabat tangan satu sama lain. Orang yang datang adalah Byun Baekhyun, direktur yang merupakan atasan Chen. Dan di samping pria bernama Baekhyun itu berdiri seorang wanita yang tak asing lagi di mata Kris, dia Im Yoona, managernya.

 

“Maaf, aku terlambat.” Ujar Baekhyun yang mencairkan suasana dengan tawa kecil di akhir ucapannya.

“Tak apa-apa. Haha..” Balas Kris sambil mempersilahkan rekannya itu duduk.

“Sudah sampai mana pembicaraan kali ini?”

“Masih membahas dimana kita akan melangsungkan rapat.” Chen menjawab.

“Ah, kalau begitu bagaimana kalau rapat kali ini di adakan di rumahmu saja?” Baekhyun melempar pandang pada Kris dengan senyuman yang lebar, “Yah, anggap saja rapat ini sekaligus perkenalan kami dengan istrimu. Benar, kan?” Kini Baekhyun melempar pandang pada Chen dan pandangan meminta persetujuan itu di balas anggukan dari Chen.

 

Kris, senyumannya memudar begitu kedua rekan kerjanya dari perusahaan yang berbeda itu membahas sesuatu yang memasukkan unsur kata ‘rumah’ dan ‘istri’. Sungguh perpaduan dua objek yang memuakkan baginya. Kris menggeleng dengan cepat.

 

“Ahaha.. bisakah di tempat lain saja?” Kris menepuk lututnya sambil memaksakan tawa.

“Hei, kenapa harus di tempat lain?”  Chen mengerutkan kening.

 

Kris akhirnya berfikir dua kali. Hasilnya adalah sebuah anggukan. Kalau saja rapat ini bukan rapat penting, ia pasti sudah menolak mentah-mentah ajuan lokasi rapat kali ini. Dengan acting yang cukup berkelas, Kris tersenyum dan mengajak kedua pria itu untuk segera beranjak ke rumahnya.

 

Namun, disisi lain dengan bibir berlapiskan lipstik tipis yang hanya diam, matanya mengintip tajam tiap gerakan bola mata Kris. Tanpa peta yang akurat, ia mampu lolos menembus teluk terdalam pikiran sang direktur muda. Im Yoona, si manajer berkaki panjang itu tahu apa yang ada di balik wajah masam Kris begitu Baekhyun mengajukan lokasi untuk rapat, bahkan yeoja itu tahu lengkap dengan alasan mengapa Kris sempat menolak ajakan tersebut. Ia sudah bekerja dua tahun bersama Kris, semua kisah tentang laki-laki jangkung itu tercatat bagaikan buku sejarah yang tebal pada seutas benang dalam otaknya.

 

“Tiffany Hwang.” Kata Yoona dalam hati sambil berjalan mengikuti arah kaki Kris, Baekhyun dan Chen.

 

TBC!!

==

Hai untuk yang baru pertama kali baca FF saya, hai juga buat yang udah sering baca FF saya kekekee~ Makasih untuk JJF yang udah post FF ini ya ^^/ FF ini belum pernah saya share dimana-mana, termasuk di blog pribadi saya haha.. I just hope you like it, berikan respon kalo emang nih FF layak di baca. Lastly, bagi yang merasa bagian dari keluarga royal ice, jangan males kunjungi http://hepidiana.wordpress.com🙂 Kamsa hamnida /bow/

[HepHep]

147 thoughts on “[FREELANCE] The End of Her Tears (Chapter 1)

  1. aduh malang bgt nasib jessica. knapa kris segitu bencinya sm jessica sih. apa salah sica? tiffanny tuh siapanya kris sih, ganggu banget -_- nyesek bacanya thor. feel nya dapet bgt. kebayang gmn sakitnya jessica T^T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s