Embraced (Chapter 4)

Title                       : Embraced

Cast                       : Jessica Jung ; Kris Wu ; Lu Han

Genre                   : Romance , Drama , School Life

Rating                   : Teen

Length                  : Chapter

Poster                   : @icydork

Author Note      : This is surely my idea. All of the casts belongs to the God, their family and their agency. I just own the story. Don’t be plagiator. Show your support by Like and Comment in the end of reading. Thanks for the reader who always support my Fanfiction

Summary             : When you hoping all of this shit just in your dream, but in the fact you should face it. You can’t change the rule. This is your way. Will you still hope to move?

Flawless Jung Present

a new series Fanfiction

EMBRACED

Author POV

“dengarkan aku Choi Sooyoung! Jangan pernah berharap aku akan menganggapmu sebagai tunanganmu. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerimanya. Mengerti?”

Sesaat setelah mengatakan itu, Kris berbalik meninggalkan wanita yang terpaku disitu. Tangannya sudah terkepal sempurna dengan nafas menderu. Ia meraih nampan makanannya yang masih utuh lalu membuang semuanya pada tongsampah didekatnya.

“kau hanya perlu waktu untuk menyadarinya, Kris. Sampai waktu itu datang, kau yang akan memohon padaku..” gumam wanita yang dipanggil Kris sebagai Choi Sooyoung.

“JJAN !! kejutan !” seorang pria menyodorkan sebungkus plastik berwarna kuning.

“ige.. mwoya Luhan-ah?” sedangkan wanita hanya menerima dengan kening yang sedikit berlipat.

“ini kesukaanmu Jess, JJangmyeon! Hahaha..Ayo, kau pasti belum makan kan?” pria yang diketahui bernama Luhan itu beranjak kearah dapur yang terletak disudut ruangan.

Sedangkan Jessica hanya mematung ditempat, otaknya masih berpikir keras bagaimana Luhan bisa mengetahui alamatnya. Ia menggaruk kepalanya pelan lalu memutar badannya kearah Luhan yang sudah beranjak kedapur setelah menutup pintu apartmentnya.

“bagaimana-” Jessica baru saja hendak bertanya, tapi sudah Luhan duluan menyelanya.

“Bagaimana aku tau alamatmu? Itu perkara kecil nona Jung. Aku bahkan mengenalmu hingga ketiap sel-nya”terka Luhan sambil menatap Jessica seduktif dan sebuah kedipan yang bisa saja membuatmu pingsan ditempat.

“euh~ so cheesy! Kau tidak cocok dengan tampang mesum seperti itu, kau malah terlihat aneh” balas Jessica sambil tertawa hambar. Tak bisa dipungkiri, ia juga hampir pingsan karena kedipan Luhan tadi. Untungnya, ia masih bisa mengontrol emosinya.

“kau bilang aku tidak cocok dengan wajah mesum?”Luhan meletakkan mangkok yang baru saja diambilnya dari lemari kaca.  Ia menatap Jessica hingga kemanik hitamnya. Sedangkan yang ditatapnya mengangkat dagunya tinggi.

“eoh. Memang seperti itu kenyataannya” sahut Jessica.

Luhan tersenyum sekilas. Senyum yang baru pertama kali diperlihatkan pada wanita manapun. Ia masih menatap Jessica dan dengan perlahan melangkah maju. Gerakan yang lambat itu membuat Jessica agak ketakutan. Bayangan-bayangan aneh yang biasa ia tonton di film drama romantic berputar dikepalanya.

Luhan masih saja melangkah maju hingga membuat batasan diantara mereka mengecil dan berakhir dengan berhentinya Jessica melangkah mundur karena sekarang langkahnya tertahan karena sofa dibelakangnya.

Jessica sekarang tidak berani menatap Luhan. Mengangkat dagunya saja terasa berat. Ia merasa Luhan sangat dekat denganya. Sedikit dorongan saja bisa membuat ia mencium bahu Luhan.

Sebuah tangan mengangkat dagu lancipnya. Luhan yang mengangkatnya. Ia tersenyum saat melihat mata Jessica yang terus saja menghindar dari tatapannya.

“Tatap aku..” ucapnya. Seketika Jessica mengontrol matanya untuk menatap Luhan. Luhan tersenyum puas saat melihat Jessica menuruti ucapannya. Dengan perlahan tapi pasti Luhan memajukan wajahnya. Sekarang Jessica bisa menrasakan hembusan nafas Luhan menyapu wajahnya. Tak bisa bertahan lebih lama, mata itu tertutup secara otomatis, menunggu sesuatu mendarat pada tempatnya.

BLAM!

Seorang pria bertubuh tinggi masuk kedalam sebuah ruangan yang diyakini sebagai kamarnya.  Kamar yang cukup luas untuk ditempati sendiri. Ia mendudukan dirinya kasar pada ranjang berukuran king size itu. Kemudian ia melonggarkan dasi yang menggantung pada lehernya secara kasar, lalu mengacak rambutnya pelan. Hari ini menjadi kacau karena ia bertemu dengan seseorang yang tak ingin ditemuinya.

TOKTOKTOK

“Yifan-ah, mama masuk ya ..” terdengar suara dari luar ruangan yang disusul dengan terbukanya pintu berwarna coklat. Sosok seorang wanita paruh baya terlihat dari balik pintu. Wanita itu masuk dan kemudian menutup pintu kamar tadi. Kakinya melangkah kearah pria yang disebut sebagai Yifan kemudian duduk disampingnya.

Tangan si wanita paruh baya terangkat hendak menyentuh puncak kepala sosok yang duduk disebelahnya. Tapi sebelum ia menyentuhkan tangannya, gerakannya terhenti karena sebuah larangan kasar dari mulur pria itu.

“Berhenti. Jangan menyentuhku. Jauhkan tangan kotormu itu!” ucap pria itu. Wanita itu terkejut mendengarnya. Meskipun ia sudah terbiasa dengan sikap kasar sang anak, tapi ia tak pernah berpikir anaknya akan melarang ia menyentuhnya.

“dan satu lagi, namaku Kris Wu! Bukan Yifan!” kata pria itu lagi. Ia kemudian beranjak dari kasurnya dan memilih untuk keluar meninggalkan wanita paruh baya yang masih duduk terdiam ditempatnya. Dalam diam wanita itu menangis. Ia menatap punggung lelaki yang 10 tahun terakhir menjadi anaknya.

“sudah 10 tahun Yifan-ah, belum bisakah kau menerima kami sebagai keluargamu?” batin wanita paruh baya tersebut. Ia menangis sesegukan dambil terisak kecil. Sedang pria tadi yang ternyata adalah Kris Wu sudah hilang dari pandangannya.

Luhan POV

“hahahaha! Apa yang kau pikirkan bodoh? Kenapa kau menutup matamu? Paboya?” Aku tertawa puas melihat reaksi Jessica barusan. Apa yang dipikirkan wanita ini? Astaga! Apa ia memikirkan bahwa aku akan menciumnya?

“m..mworago? yak!” ia balas dengan meneriakiku. Matanya sudah terbuka lebar sekarang. Tapi tetap saja semburat merah jambu masih terlihat jelas pada kedua belah pipinya.

“eyy.. kau memikirkan kalau kita akan…” aku menghentikan ucapanku dan menggantinya dengan menguncupkan kedua belah tanganku dan menyatukannya seperti sebuah kecupan.

“yak! Neo micheosso?!” ia kembali berteriak. Aku semakin memperlebar tawaku. Wajahnya yang semakin memerah tampak menggemaskan. Sekarang ia berlagak kesal dengan mengerucutkan bibirnya.

“yeoppo..” ucapku pelan tanpa sadar.

“mwo?”

CUPP

Aku menempelkan bibir kami. Hanya menempelkan. Hanya itu. Matanya masih terbuka lebar dan berkedip lucu beberapa kali. Perlahan karena tidak ada penolakan aku memberanikan diriku untuk memeluk tengkuk lehernya. Ia hanya diam tak bereaksi apa-apa. Hingga dengan pelan ia menutup matanya dan menikmatinya.

“Jess, kau lapar?” tanyaku pada wanita yang duduk disebelahku.

“ani Lu-”

“Oppa! Panggil aku oppa mulai sekarang Jess~”

“ta..tapi aku lebih tua darimu”

“hanya dua hari. Lagipula , walaupun kau lebih tua bertahun-tahun aku masih ingin kau panggil oppa” sungutku sedikit memaksa. Setelah kejadian tadi aku merasa lebih dekat padanya. Bukan karena tindakannya, tapi karena tidak adanya aksi penolakan sehingga aku merasa ia akan menerima perasaanku.

Memang tidak ada pernyataan diantara kami, tapi tidak semua perasaan perlu diungkapkan. Dengan perhatian padanya terus menerus mungkin bisa menyadarkannya bahwa aku mencintainya.

“heuhh~” desisnya disertai hembusan ringan.

“baiklah, Luhan Oppa. Aku tidak lapar tapi aku ingin makan es krim” sambungnya.

Aku meletakkan tanganku dipuncak kepalanya dan mengelus pelan dengan sayang. Disaat berdua seperti ini aku ingin semuanya berhenti sesaat. Aku ingin berdua dengan Jessica lebih lama.

“baiklah, aku akan membelikannya disupermarket depan. Kau tunggu sebentar yaa”

“nee ..”

Kris POV

Aku menginjak gas mobilku dalam-dalam. Taka da tujuan. Ospek? Aku malas berurusan dengan salah seorang didalamnya. Aku meraih sebatang rokok yang kusimpan di dashboard dan pematiknya. Menyulutkan api diujungnya hingga ia terbakar. Ini yang kukerjakan disaat tertekan seperti ini.

Ingatanku berputar pada 10 tahun lalu, saat mama meninggalkanku dirumah besar bak istana. Aku hendak mengikutinya, tapi papa melarangku. Itu yang aku benci. Kenapa papa tidak melarang mama? Kenapa ia membiarkan mama pergi?

BRAK

Aku memukul setir mobilku keras. Entah sudah yang keberapa kali. Perasaanku memburuk hari ini karena Sooyoung, dan dilanjut dengan wanita tua itu. Cih, siapa namanya? Seohyun? Aku bahkan tak pernah menganggapnya mama.

Kuakui, ia tak pernah membedakanku dengan putra kandungnya yang lebih muda dariku setahun. Tapi karena ia, mama pergi. Karena ia aku sendiri. Dia yang bersalah. Aku benci!

Pikiranku sedikit tenang setelah aku menghabiskan 2 batang rokok dalam 20 menit. Aku tau rokok itu berbahaya. Tapi adakah obat lebih mujarab dari ini?

Aku memarkirkan mobilku disalah satu area apartment yang ku tak tau apa namanya. Mataku menangkap sesosok pria sedang menenteng bungkusan kecil berwarna transparan yang ternyata berisi 2 buah kotak es krim.

Mataku membuntutinya hingga ia kulihat ia memasuki lift dan muncul di balkon lantai 2 apartmen tersebut. Kulihat ia memencet bel dan menunggu sesaat. Sepertinya ia sedang berkunjung kerumah kerabat atau temannya.

Tak perlu lama, seseorang telah membuka pintunya. Seorang anita dengan rambut coklat bergelombang yang dibiarkan tergerai rapi dikedua sisi bahunya.

“Jessica Jung..”

Jessica POV

“waaaa! Vanila! Kau tau aku suka ini? Bagaimana bisa?” sambutku girang saat melihat kantong belanjanya. Ia membelikan es krim favoritku dalam ukuran jumbo dengan merk dan rasa yang sama persis. Bagaimana bisa?

“sudah kukatakan, aku mengenalmu hingga ke selnya Jessica-ssi” balas pria yang memaksa kupanggil oppa itu sambil menenteng kantong memasuki ruang tamu.

“cih, apa kau sesaeng fans-ku?”

“dasar bodoh. Aku bukan sesaeng fans mu, tapi aku orang yang mencintaimu” ucapnya. Terkesan jujur tapi menohok begitu dalam. Ia menatapku lembut. Matanya  seolah bisa menetramkan perasaan gelisahku kapanpun itu. Ada kedamaian sendiri didalamnya.

“ehem.. tak perlu kau jawab Jess. Lupakan saja. Ini, apa kau mau langsung makan dari cup-nya?” alihnya.

“tentu saja! Dengan begitu aku tidak perlu repot cuci piring” sahutku gemas.

“dasar” balasnya pendek disertai usapan sayangnya pada puncak kepalaku. Entah mengapa, aku sangat nyaman diperlakukan seperti ini. Aku menunduk menyembunyikan semburat merah jambu yang bisa kapan saja muncul.

“igeo, makanlah..” Luhan menyerahkan sekotak eskrim padaku. Aku meraihnya lalu berlari kearah sofa tempat kami duduk tadi. Ia menyusulku dibelakang.

“oppa! Kau tidak ikut ospek hari kedua?” aku baru ingat. Seharusnya jam seperti sekarang ia berada di aula kampus mendengarkan ceramah panjang dari dosen atau siapapun itu.

“tidak” balasnya singkat

“bagaimana bisa? Kau bisa saja tidak bisa wisuda karena ini oppa” balasku panic. Yang benar saja. Hanya karena menjengukku akan merusak masa depannya. Aku tidak mau itu.

“lebih baik aku menghabiskan waktu bersamamu, Jess.. Sudahlah, aku sudah pura-pura sakit saat sesi pertama tadi pagi. Dan kau tau apa? Chanyeol soonbaenim mengijinkanku pulang. Hebat kan aktingku?” Ujarnya bangga.

“yang benar saja, itu bukan karena aktingmu tapi karena Chanyeol soonbaenim terlalu mudah kau bodohi” balasku sambil menatapnya foxy.

“secara tidak langsung kau mengatakan Chanyeol soonbaenim bodoh?”

“a..ani…”

“tapi dia memang bodoh sih. Hahahaa” Luhan tertawa hebat. Mungkin ia sedang membayangkan wajah Chanyeol soonbaenim saat ia berakting tadi. Ia tertawa hingga seluruh giginya terasa ingin lepas. Dan aku juga merasa, aku bahkan bisa masuk kedalam mulutnya karena tawanya yang begitu lebar.

“aku pulang dulu . Hati-hati dirumah. Kalau kau perlu sesuatu hubungi aku, jangan sungkan Jess.”

“nee oppa, sebentar lagi yeodongsaengku pulang. Kurasa, kami akan baik-baik saja. Oppa juga hati-hati ya..” balasku.

Sekarang Luhan sudah bersiap pulang karena waktu sudah cukup sore. Jam di dinding menunjukkan pukul 19.45 KST. Krystal akan pulang 1 jam 15 menit lagi karena ia ada les tambahan disekolag.

Luhan bersiap didepan pintu. Ia tinggal mengucapkan salam dan pulang. Tapi sekarang ia malah berdiri tanpa melakukan apa apa.

“Jess..” panggilnya

“eum?”

CUPP

Sekali lagi. Tapi kali ini ia mengecup pipi kananku. Kecupan singkat yang bisa melepaskan jantungku kapan saja. Aku hanya bisa mematung karena ulahnya.

“sudah ya, aku pulang. Annyeong” salamnya sebelum pergi disertai hobi barunya, mengusap puncak kepalaku.

Aku meraba bibir dan pipiku. Senyuman tak pernah lepas dari bibirku. Aku tampak seperti orang gila. Ingatanku selalu flashback pada kejadian hari ini. Hari yang seharusnya berakhir bosan tapi Luhanmalah memutarnya. Hari yang berakhir bahagia.

Aku bangun dari sofa saat mendengar pintu apartmen terbuka, pasti Krystal sudah pulang.

“SooJung-ah!” pekikku kearahnya sambil memeluknya erat. Sedangkan ia hanya bisa terdiam dan menatapku heran. Mungkin ia juga akan berpikir kalau eonni satu-satunya yang ia miliki mengidap penyakit kejiwaan. Tapi sudahlah, aku sedang ingin bergembira hari ini.

Author POV

“ma.. Luhan pulang” Luhan telah sampai dirumahnya. Ia menatap sekeliling rumah mencari sosok yang menjadi ibunya sejak ia lahir itu. Pandangannya terhenti pada sudut kamarnya. Ia melihat mamanya sedang terduduk dengan memandang sebuah bingkai foto yang berisi wajah 3 orang didalamnya.

Tanpa mama Luhan sadari, Luhan mendekatinya dan mendapati matanya yang sembab.

“ma, ni khu le ma? (ma, kamu menangis?)” Tanya Luhan pada sosok wanita didepannya.

Seakan tersadar dari lamunan, wanita itu buru-buru menghapus jejak air mata yang mengalir dan mengangkat wajahnya dengan seulas senyum paksa.

“mei you.(tidak)” balasnya pelan sirat akan rasa sedih didalamnya. Luhan sebagai darah dagingnya bisa merasakan kentalnya rasa sedih dalam perkataanya. Tangannya terkepal geram dan giginya terkatup rapat.

“apa karena anak kurang ajar itu lagi? Apa yang telah ia lakukan pada mama? gao su wo, ma ! (Katakan padaku ma!)”

“tidak Lu, mama hanya mengenang persahabatan mama, papa dan wanita ini.” Tunjuknya pada salah seorang yang berasa didalam foto.

“tha shi sei? (dia siapa?)” Tanya Luhan penasaran.

“Yifan de mama (mamanya Yifan)”

To Be Continue

Haiiii~ balik lagi dengan chapter 4 >.< . apakah masih kurang panjang? Kalo masih, maafkan saya. Saya akan berusaha lebih baik *bow* . dan untuk typo(s) yang masih berliaran, maafkan saja ya.. karena author malas baca ulang *gampar* . sekarang author mempertimbangkan untuk memprotect chapter selanjutnya jika siders masih berkeliaran, bagaimana pendapat kalian? Mungkin kalian bisa mendapatkan pw nya dari twitter atau sms. Bagaimana? Ingin chap selanjutnya di protect? Kalau tidak mau, jadilah readers yang baik yaa ^^

FF ini di publish di :

–          Jenongkece.wordpress.com

–          Krissicaspot.wordpress.com

–          Exoshidaefanfic.wordpress.com

Akhir kata, annyeongg~~~

72 thoughts on “Embraced (Chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s