The Destiny of Us – Chapter 5

poster-the-destiny-of-us

The Destiny of Us – Chapter 5

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun – Song Jieun

Others: Park Hyungsik – Lee Yejin (Ailee) – Seohyun

Genre: Romance

Rated: PG-15

Poster by: Afina23

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

© Amy Park

There’s a lot of things I feel sorry for, but there’s a lot of things that I couldn’t say

For you who has turned away right now, I can only give tears

(Davichi – Sad Love Song)

***

Beberapa jam sebelumnya

Lab Fotografi

“Maaf, aku terlambat. Seorang wanita yang sedikit menyebalkan baru saja menemuiku.” Ujar Jessica seraya duduk di hadapan Baekhyun.

“Wanita yang sedikit menyebalkan? Siapa?”

Jessica menggelengkan kepalanya, “Kau tidak perlu tahu. Ah, lebih baik kau jelaskan padaku alasan kau berkuliah di Jurusan Jurnalistik. Elemen pertama jurnalisme berbunyi ‘kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran’ dan kau menjadikan elemen itu menjadi alasan kau masuk Jurusan Jurnalistik. Maksudnya apa?”

Baekhyun terkekeh mendengar ucapan Jessica, “Kau benar-benar ingin tahu tentang hal itu?”

“Tentu saja. Jika aku tidak ingin mengetahuinya, aku tidak akan menemuimu di sini.”

Baekhyun tersenyum kecil, “Baiklah. Dengarkan ceritaku dengan baik dan jika ada yang tidak dimengerti, tanyakan padaku ketika aku selesai cerita.”

Arraseo..”

Baekhyun menghela napas sejenak kemudian mulai bercerita, “Seorang wanita yang aku kenal meninggal dunia karena dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri. Alasan sang ayah membunuhnya sangat sepele, hanya karena wanita itu menolak untuk dijodohkan. Wanita itu menolak perjodohan karena dia telah memiliki kekasih, kekasih yang sangat dia cintai. Ayah wanita itu sangat tempramental sehingga ketika wanita itu dengan tegas menolak perjodohan, sang ayah langsung membunuhnya. Kasus ini sangat heboh di media massa pada saat itu. Tapi sayang, pers memberitakan kematian wanita itu sebagai kasus bunuh diri, bukan kasus pembunuhan.

Tentu saja itu merupakan suatu kebohongan besar yang tidak seharusnya dilakukan oleh pers. Tapi setelah ditelusuri lebih dalam, aku mengerti mengapa pers berkata tidak jujur. Ayah wanita itu merupakan pemilik perusahaan media massa terbesar di negara ini. Stasiun televisi, radio, dan sebagian besar media cetak adalah miliknya, sehingga para jurnalis yang bekerja di dalamnya tidak berani menyebar berita tentang keburukan bos besar mereka.”

Kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran. Cih, bahkan mereka mengabaikan hal itu. Karena kejadian itulah, aku memilih untuk kuliah di Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi. Suatu saat, ketika aku sudah lulus dan menjadi seorang jurnalis, aku berniat untuk memberitakan kebenaran tentang kasus itu. Sebenarnya, sekarang pun aku bisa menyumbang tulisanku untuk mengkritik dan membenarkan berita yang ditulis pers tentang kematian wanita itu. Tapi, sebanyak apa pun aku menulis, citizen journalism[1] tidak akan mengubah apa-apa. Minimal, aku perlu menjadi seorang jurnalis agar masyarakat percaya bahwa tulisanku bukan hanya sekadar kicauan belaka.”

“Kau sudah selesai bercerita? Apa aku boleh bertanya?”

Baekhyun mengangguk, “Ya, aku sudah selesai bercerita.”

“Apa benar seluruh pers memberitakan bahwa kematian wanita itu merupakan bunuh diri? Maksudku, tidak seluruh jurnalis bekerja di media massa milik ayah wanita itu. Orang tuaku juga pemilik sebuah stasiun televisi. Apa para jurnalis yang bekerja di bawah naungan perusahaan orang tuaku juga memberitakan kebohongan?”

“Tidak semua pers memberitakan kebohongan tentang kematian wanita itu, hanya sebagian besar saja. Ada beberapa pers—mungkin juga termasuk pers di bawah naungan perusahaan orang tuamu—yang memberitakan bahwa kematian wanita itu disebabkan oleh ayahnya, tetapi pemberitaan tersebut dianggap ajang untuk menjatuhkan reputasi perusahaan media milik ayah wanita itu.” Baekhyun tersenyum sinis kemudian kembali berkata, “Pers pada saat itu terbilang payah. Sebagai sosok jurnalis yang terpelajar, tidak seharusnya hak menulis mereka dibeli oleh atasan perusahaan media. Mereka seharusnya menjadi pers yang independent, menjalani sembilan elemen jurnalisme dengan baik, termasuk elemen pertama.”

Jessica mengangguk mengerti, “Seharusnya memang begitu. Lalu.. tentang wanita itu, apakah kau mengenalnya?”

“Tentu saja. Aku sangat mengenalnya.”

“Boleh aku bertanya satu hal lagi? Dari mana kau tahu bahwa ayah wanita itu membunuhnya?”

“Karena ketika ayah wanita itu membunuh, aku berada di tempat kejadian.”

Mwo?! Jadi kau melihatnya langsung? Tapi mengapa kau tidak lang—“

“Aku sudah selesai menceritakan alasanku masuk ke Jurusan Jurnalistik. Sekarang, aku ingin membicarakan hal lain denganmu.” Potong Baekhyun seraya tersenyum.

Jessica tampak bingung. Namun, pada akhirnya dia mengangguk setuju. “Berbicara tentang apa?”

“Jadilah kekasihku.”

Ne?”

Baekhyun menghela napas. “Ku mohon, jadilah kekasihku.”

Jessica sebenarnya bingung ingin menjawab apa. Jujur saja, dia tidak memiliki perasaan cinta pada Baekhyun. Tapi dia berpikir jika memang menjadi kekasih Baekhyun akan membuatnya lebih mudah melepaskan diri dari Luhan, mungkin tidak salah jika dia mencobanya. Walaupun pada akhirnya, Jessica tahu bahwa dia akan menyakiti dua pria sekaligus.

***

“Lalu siapa orang yang kau cintai itu?”

“Orang yang telah menjadi kekasihku.”

 “Dia adalah Baekhyun.”

Luhan memijit pelipisnya seraya menghela napas setelah mengingat perkataan Jessica semalam. Pria itu kembali membereskan berkas-berkas yang ada di meja kerja dan mencoba untuk tidak mengingat lagi perkataan Jessica. Tak lama, pintu ruangan Luhan dibuka dan masuklah Sehun ke dalamnya.

Hyung, kau akan berhenti menjadi creative producer di perusahaan ini? Kenapa mendadak sekali? Kenapa kau tidak memberitahu aku dulu sebelumnya?”

Luhan tersenyum tipis seraya berdiri dari kursi. “Ibu memintaku untuk menggantikan posisinya. Dia tidak ingin perusahaan diambil alih oleh orang asing di luar keluarga kami. Karena aku merupakan anak tunggal, aku berkewajiban untuk menggantikan ibu memimpin perusahaan.”

“Kau akan menjadi presdir perusahaan keluargamu?”

“Ya. Jika waktunya sudah tiba.”

Sehun mengangguk mengerti. Pria itu pun kembali bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Jessica?”

Luhan yang sedang membereskan berkas, seketika itu menghentikan kegiatannya. Dia menatap Sehun sambil tersenyum lirih. “Aku akan berusaha mempertahankan hubungan itu, walaupun mungkin takdir menentangnya.”

“Maksudmu?”

“Aku butuh informasi tentang seseorang. Kau bisa menyewa orang untuk mencari tahu hal itu, kan?” tanya Luhan mengabaikan pertanyaan Sehun.

Sehun menghela napas karena dia tahu bahwa Luhan tidak akan menjawab pertanyaannya. Pria itu pun kembali bertanya, “Siapa seseorang itu?”

“Baekhyun. Dia mahasiswa Jurusan Jurnalistik dan Komunikasi di Universitas Kyunghee. Tolong cari tahu tentang dia. Seluruhnya. Termasuk informasi kehidupan pribadinya.”

***

Seohyun dan Jessica memasuki gedung Jurusan Jurnalistik dengan langkah sedikit terburu-buru. Mereka tidak ingin terlambat untuk mengikuti kelas di kuliah perdana pertama. Namun, begitu mereka sampai di lantai atas gedung, banyak mahasiswa yang berbisik-bisik sambil memerhatikan Seohyun dan Jessica, atau lebih tepatnya memerhatikan Jessica.

“Jessica, kau tidak membuat onar dengan salah satu mahasiswa yang terkenal, kan?” tanya Seohyun sedikit berbisik pada Jessica.

Jessica menggeleng. “Ti-tidak..”

“Lalu kenapa sepertinya seluruh mahasiswa sedang membicarakanmu, ya?”

“Aku juga tidak tahu. Bagaimana jika kita mempercepat langkah?”

Seohyun mengangguk setuju. Mereka pun hendak mempercepat langkah, tetapi seorang pria tinggi menghadang.

Chukkae!!! Kau adalah wanita yang dapat mengambil hati Baekhyun. Selamat.. selamat.. selamat… aku harap hubungan kalian bertahan lama.”

“Maaf, tapi kau adalah—“

“Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Chanyeol, sahabat karib Byun Baekhyun. Senang pada akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Jessica. Dan senang bertemu denganmu juga, temannya Jessica.”

Seohyun tersenyum kaku. Dia lalu berkata, “Sunbae tahu mengapa banyak mahasiswa yang membicarakan Jessica?”

Chanyeol langsung melihat ke sekitar. Dia pun sadar bahwa banyak mahasiswa yang mencuri pandang ke arah mereka. Chanyeol menepukkan kedua tangannya sekali kemudian menjawab, “Tentu saja aku tahu. Jessica sekarang sudah menjadi kekasih Baekhyun. Oh, man… Baekhyun itu bukan hanya senior yang dikenal karena ketampanannya. Dia juga terkenal karena dia pintar, aktif di berbagai kegiatan kampus, dan satu hal yang penting, dia adalah… ketua senat mahasiswa fakultas sosial.”

Ne??!! Ketua senat?” kaget Seohyun dan Jessica hampir bersamaan.

“Ketua senat mahasiswa? Tapi wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia orang yang berwibawa..” gumam Jessica.

“Apa kau bilang?” tanya Chanyeol.

Jessica langsung menggeleng kemudian tersenyum, “Tidak apa-apa. Lupakan.”

Chanyeol mengangguk mengerti, “Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi, selamat karena kau telah menjadi kekasih Baekhyun. Sampai jumpa lagi.”

Chanyeol pun pergi meninggalkan Seohyun dan Jessica. Seohyun melirik Jessica sekilas kemudian menarik wanita itu pergi ke sebuah toilet wanita yang tidak dikunjungi siapa pun.

“Kau dan Baekhyun sunbae telah menjadi sepasang kekasih?!” tanya Seohyun langsung dengan nada yang sedikit tinggi.

Jessica mengangguk kecil. “Ya. Memangnya kenapa?”

“Kau gila! Kau telah memiliki suami, Jessica.”

“Dari mana kau tahu hal itu?!”

Seohyun menghela napas. “Kekasihku adalah rekan kerja sekaligus sahabat Luhan oppa, suamimu.”

“Kau juga kenal dengan Luhan?”

Seohyun mengangguk. “Ya. Bahkan aku telah mengenalnya sebelum dia menikah denganmu. Dan Jessica, apa kau tidak keterlaluan menjalin hubungan dengan Baekhyun dengan statusmu yang sudah menikah dengan Luhan oppa? Saranku, kau sebaiknya—“

“Sudah pukul 07.50, sebaiknya kita masuk ke kelas.” Potong Jessica seraya pergi meninggalkan Seohyun yang hanya mampu menghela napas pasrah.

***

Setelah satu jam, akhirnya wanita yang ditunggu Luhan datang juga. Wanita itu masuk ke dalam mobil Luhan kemudian kembali menutup pintunya.

“Maaf merepotkanmu. Tadi aku sudah menghubungi Jessica, tetapi dia tidak menjawabnya.”

Luhan mengangguk. “Tidak apa-apa, Yejin-ssi. Ah, ya, bagaimana New York?”

“Padat, membosankan, liar. Seoul masih jauh lebih nyaman.” Senyum Yejin. Dia pun kembali berucap, “Bagaimana keadaan Jessica? Dia baik-baik saja, kan?”

Luhan tersenyum samar, “Ya. Dia baik-baik saja.”

Yejin melihat ekspresi yang aneh dari wajah Luhan. “Hubungan kalian sedang dalam masalah?”

“Kami bertengkar lagi. Jessica pun telah memiliki kekasih.”

Mworago?!!”

Luhan tersenyum miris, “Sepertinya Jessica lebih menyukai senior yang telah menjadi kekasihnya sekarang.”

Yejin menggelengkan kepala tidak percaya, “Baru saja aku pulang ke Korea, masalahmu dengan Jessica sudah semakin rumit saja.”

“Dari awal pun hubungan kami sudah rumit.”

“Masalah kalian pasti bisa diatasi. Aishh… Jessica Jung. Sudah tahu dia memiliki suami, malah berpacaran dengan orang lain. Aku akan menasihati Jessica.”

Luhan menghela napas. “Sebaiknya kita pergi. Kau lapar? Kita makan di restoran dekat bandara terlebih dahulu.”

“Tidak usah. Langsung antar aku ke hotel saja. Aku ingin segera menasihati Jessica Jung.”

***

Keadaan kamar begitu sepi ketika Jessica mamasukinya. Perasaan lega pun langsung menghampiri Jessica karena dengan tidak adanya Luhan, dia bisa mengambil pakaiannya dengan tenang. Sebelum membereskan pakaian, Jessica menghampiri meja kerja Luhan untuk mengambil kunci lemari. Dia membuka sebuah laci kemudian mengambil kunci lemari tersebut. Setelah mengambil kunci lemari, Jessica tidak segera menutup laci. Dia melihat sebuah bingkai foto dan memutuskan untuk melihatnya. Matanya langsung membulat sempurna ketika melihat foto seorang lelaki di bingkai tersebut. Seorang lelaki yang pernah dia temui ketika masih kecil dulu.

Oppa tampan?”

Jessica langsung membalikkan bingkai foto itu.  Ada sebuah tulisan yang menerangkan identitas lelaki yang ada di bingkai foto tersebut.

Luhan. 12 tahun.

“Luhan… oppa tampan itu adalah Luhan?!!” seketika itu, kenangan masa lalu pun terlintas di kepala Jessica.

 

Luhan menatap Jessica kemudian tersenyum, “Terima kasih, Jess. Aku tidak akan bersedih lagi.”

Jessica melepaskan rangkulannya dan tersenyum senang, “Bagus! Kau terlihat lebih tampan jika tidak bersedih. Oh, ya, namamu siapa?”

“Namaku Lu—“

Jessica, where are you??”

Teriakan seorang wanita itu membuat Jessica kaget lalu menjawab, “I’m here, Mom!!” Jessica kemudian menoleh pada Luhan dan berkata, “Aku harus pergi. Eomma sudah mencariku. Bye, oppa tampan!!!”

Jessica berlari dan menghampiri ibunya. Sang ibu yang melihat kedatangan Jessica langsung menghela napas lega, “Aku sudah mencarimu kemana-mana. Sekarang kita harus bersiap pergi ke Cina. Kita akan menghadiri prosesi pemakaman ayah Luhan.”

“Luhan? Siapa Luhan?”

Ibunya Jessica tersenyum kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Jessica. “Lelaki yang kelak akan menjadi pendamping hidupmu.”

“Apa maksud eomma dia akan menjadi suamiku?”

Ibunya Jessica mengangguk, “Ya. Kau benar. Kami sudah menjodohkan kalian.”

Jessica langsung cemberut dan melipat kedua tangannya di dada, “Aku tidak mau. Aku ingin oppa tampan barusan yang menjadi suamiku. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan oppa tampan.”

Oppa tampan?” heran ibunya Jessica.

Jessica mengangguk bersemangat. “Iya. Pokoknya aku hanya ingin menikah dengan oppa tampan. Titik.”

“Hey, Jessica!” teriak sang ibu karena Jessica sudah berlari meninggalkan dirinya.

 

Jessica tersenyum kecil mengingat kejadian itu. “Jadi oppa tampan itu adalah kau, Luhan. Impian masa kecilku sudah terwujud kalau begitu. Aku sudah menikah denganmu. Pabo, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

Jessica menatap foto Luhan sesaat kemudian menyimpannya kembali di laci. Jessica pun berbalik, hendak melangkah menuju lemari. Namun, sebuah foto pernikahannya dengan Luhan yang dipajang di dinding sebelah lemari menarik perhatiannya. Jessica tersenyum lirih, “Apa kau benar-benar mencintaiku?”

***

Yejin tampak tidak tenang. Dia terus berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar hotelnya, menunggu kedatangan Jessica. Ketika suara ketukan pintu terdengar, Yejin langsung membukanya. Wanita itu bernapas lega karena yang mengetuk pintu kamar hotelnya adalah Jessica.

“Kau lama sekali.”

“Sudah lama kita tidak bertemu dan sekarang kau langsung mengomeliku?”

Yejin tersenyum kecil kemudian memeluk Jessica dengan singkat. “Masuklah. Aku akan mengomelimu lagi.”

Jessica mendengus seraya masuk dan duduk di sebuah sofa. Yejin langsung menghampiri Jessica dan duduk di sebelahnya setelah menutup pintu kamar hotel.

“Maaf tidak menjawab panggilanmu. Aku sedang ada kuliah dan ponselku dimatikan pada waktu itu. Oh, ya, di bandara kau dijemput oleh siapa?”

“Luhan.”

Ne?!”

“Kenapa reaksimu kaget seperti itu? Aku tidak punya kenalan sama sekali di Seoul selain kalian berdua. Jadi, aku meminta Luhan menjemputku karena kau tidak menjawab panggilanku.”

Jessica mengangguk mengerti. “Dapat dipastikan kau sudah tahu masalahku dengan Luhan saat ini, kan?”

“Benar!!! Dan sekarang aku akan mengomelimu habis-habisan. Hey, Jessica Jung, kau itu sudah memiliki suami, tetapi mengapa kau berpacaran dengan orang lain? Kau sudah tidak mencintai Luhan? Atau Luhan melakukan kesalahan? Oh my God, Jessicaaaa… kau sudah menikah. Seharusnya kau bisa mempertahankan pernikahanmu.”

“Kau tidak akan mengerti, Yejin-ah.”

“Kalau begitu, buatlah aku mengerti sekarang. Apa yang membuat kehidupan rumah tangga kalian serumit ini, huh?”

Jessica menghela napas. “Ceritanya panjang.”

It’s ok. I’ll listen to your story until the end.”

It’s very complicated…” ucap Jessica lirih. Jessica pun pada akhirnya menceritakan seluruh masalahnya dengan Luhan pada Yejin. Tentang kehadiran Jieun dan Baekhyun, seluruhnya. Ini adalah kali pertama Jessica menceritakan masalah rumah tangganya pada seseorang. Ya, pada Yejin, sahabatnya.

“Jadi, kau menerima Baekhyun sebagai kekasihmu agar Luhan mau berpisah denganmu? Itu adalah langkah terbodoh yang pernah kau ambil, Jungie.” Ujar Yejin usai Jessica bercerita.

“Aku tahu… tapi aku memang harus berpisah dengan Luhan.”

“Kenapa? Karena Jieun tidak suka kalian bersama? Oh, c’mon, Jessica, it’s too funny. Luhan mencintaimu, dan aku yakin kau juga mencintai Luhan. Seharusnya kalian pertahankan hubungan kalian. Masalah Jieun, seharusnya kalian tangani bersama, tetapi kau malah bersikeras ingin berpisah dengan Luhan dan malah menjalin hubungan dengan Baekhyun. Masalahmu semakin rumit karena ulahmu, Jungie.”

“Kau menyalahkan aku?”

“IYA!” ucap Yejin tegas sehingga membuat Jessica menunduk sedih. “Sekarang, pikirkan baik-baik, Jungie. Kembali pada Luhan atau tetap bersama Baekhyun. Keputusan ada di tanganmu.”

***

At Coffee Shop

Sehun meletakkan dua Capuccino di meja kemudian duduk di hadapan Luhan. “Aku sudah mendapatkan informasi tentang Baekhyun. Apa kau mau aku melaporkannya padamu sekarang?”

“Ya.” Jawab Luhan singkat.

Sehun mengangguk kemudian menaruh sebuah amplop coklat di meja. “Byun Baekhyun. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai dokter. Walaupun demikian, Baekhyun kuliah di Jurusan Jurnalistik Universitas Kyunghee. Dia merupakan mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan kampus dan cukup terkenal. Dia merupakan ketua senat mahasiswa Fakultas Sosial. Tampak sempurna, huh? Tapi dia memiliki kenangan yang pahit.”

“Kenangan yang pahit?” Tanya Luhan.

Sehun mengangguk. “Dia memiliki kekasih bernama Jung Soojung ketika duduk di tingkat dua SMA. Namun, Soojung meninggal dunia karena dibunuh oleh ayahnya sendiri. Ayahnya membunuh Soojung karena dia menolak perjodohan yang telah direncanakan. Soojung menolak perjodohan karena dia sangat mencintai Baekhyun dan tidak ingin berpisah dengan pria itu. Mirisnya lagi, ayahnya Soojung membunuh Soojung di depan mata Baekhyun. Pria itu tentu sangat terpukul karena kematian sang kekasih. Dari informasi yang aku dapat, Baekhyun masih belum melupakan Soojung sampai sekarang. Pria itu masih mencintai Soojung.”

“Lalu hubungan Baekhyun dengan Jessica?”

Sehun menjentikkan jari kemudian membuka amplop coklat dan mengeluarkan beberapa foto di dalamnya. Sehun pun menata foto-foto itu lalu memperlihatkannya pada Luhan. Pria itu pun menjelaskan satu per satu foto pada Luhan, “Di sebelah kiri merupakan foto lama Baekhyun dan Soojung. Di sebelah kanan merupakan foto Baekhyun dan Jessica.  Kau lihat ponsel yang dipegang Soojung? Ponsel itu sangat mirip dengan ponsel yang diberikan Baekhyun pada Jessica di foto yang sebelah kanan, bahkan gantungan ponselnya pun sangat persis.”

“Sebentar, dari mana kau dapatkan foto Baekhyun dan Jessica? Kau menyuruh orang untuk mengikuti mereka?”

Sehun terkekeh, “Semua foto ini bukan aku yang mendapatkannya, tetapi Chen. Yah, kau tahu sendiri Chen berbakat dalam hal seperti ini. Semua foto, bahkan foto peristiwa lampau pun akan dia dapatkan.” Ujar Sehun membanggakan Chen, temannya. Sehun pun kembali berkata, “Ah, ya, jika kau perhatikan dengan seksama wajah Soojung dan Jessica, mereka tampak mirip. Dan ku pastikan kau sudah mengerti maksudku sekarang.”

Luhan tersenyum sinis, “Byun Baekhyun. Aku akan membunuhnya.”

***

Seohyun menghela napas sejenak kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam News Room. Di sana, dia melihat beberapa senior yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Mata wanita itu dengan jeli mencari sosok pria yang ingin sekali dia temui. Senyumnya langsung berkembang ketika menemukan sosok Baekhyun yang sedang serius mengerjakan sesuatu di salah satu meja komputer yang berada di ujung ruangan. Seohyun pun segera menghampiri.

“Permisi, sunbae.”

Baekhyun mendongkak kemudian tersenyum ramah, “Oh, Seohyun-ah, ada apa?”

Seohyun tampak berpikir. Tak lama, dia langsung menjawab, “Ada hal yang aku ingin bicarakan padamu. Bisakah kita berbincang sekarang?”

“Boleh. Tapi aku sedang mengetik berita yang harus dipublikasi hari ini. Kau tunggu saja di sofa depan. Sebentar lagi aku selesai.”

Seohyun mengangguk setuju. Dia pun berjalan menuju sofa yang terletak tidak jauh dari meja komputer Baekhyun kemudian duduk di atasnya. Setelah lima belas menit menunggu, Baekhyun pun datang menghampiri lalu duduk di hadapan Seohyun.

“Hal apa yang ingin kau bicarakan?”

“Tentang Jessica.” Ujar Seohyun langsung.

“Jessica? Ada apa dengannya?”

“Apa benar… err… apa benar kau sudah menjadi kekasihnya?”

Baekhyun mengangguk, tetapi terlihat ragu. “Ya. Tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Maafkan aku, sunbae.. tapi sebaiknya kalian tidak memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih.”

“Mengapa?” heran Baekhyun.

“Jessica sudah dimiliki oleh orang lain.”

Baekhyun tersenyum tipis atas jawaban Seohyun. “Luhan? Jadi, dia adalah kekasih Jessica..” tebak Baekhyun.

“Bukan. Luhan oppa bukan kekasih Jessica.”

Eoh? Kalau begitu, Luhan memang benar sepupunya Jessica?”

“Sepupu? Luhan oppa juga bukan sepupunya Jessica.”

Baekhyun semakin bingung, “Maksudmu?”

Seohyun menghela napas kemudian berkata, “Luhan adalah suaminya Jessica.”

***

“Luhan oppa dan Jessica sudah menikah sebelum Jessica masuk kuliah. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Walau mereka menikah karena perjodohan, Luhan oppa sangat mencintai Jessica. Aku juga yakin, Jessica pun mencintai Luhan oppa. Aku tidak tahu pasti, tetapi rumah tangga mereka sedang diterpa masalah. Dan maaf… Aku tidak ingin masalah rumah tangga mereka semakin rumit oleh kehadiranmu, sunbae. Aku hanya ingin memberitahumu saja.”

Penjelasan Seohyun masih saja terngiang di pikiran Baekhyun. Pria itu hanya mampu berjalan-jalan di wilayah fakultas sambil memikirkan setiap perkataan Seohyun. Luhan adalah suami Jessica, sulit dipercaya, pikirnya.

Langkah kaki Baekhyun terhenti ketika menyadari bahwa ada seseorang yang menghalangi langkahnya di depan. Baekhyun tersenyum sinis setelah mengetahui bahwa seseorang itu adalah Luhan. “Ternyata perkiraanku selama ini salah. Kau bukan kekasih Jessica yang berpura-pura menjadi sepupunya, melainkan suami Jessica yang berpura-pura menjadi sepupunya. Woah, bukankah itu mengejutkan?”

Luhan membalas senyuman sinis Baekhyun, “Byun Baekhyun… aku tidak pernah membayangkan kau akan menjadi kekasih istriku.”

“Kekasih istrimu? Itu terdengar menyedihkan.”

“Tidak. Kau lebih menyedihkan.”

“Kau sedang bercanda? Justru kaulah yang tampak sangat menyedihkan. Jessica tidak mencintaimu dan—“

Perkataan Baekhyun terhenti ketika Luhan menarik kerah kemeja Baekhyun lalu mencengkramnya, “Dan kau mendekati Jessica hanya karena dia mirip dengan kekasihmu yang dulu. Kau telah mempermainkan Jessica, Baekhyun. Kau seolah-olah mengubah Jessica menjadi Soojung untuk mengobati lukamu sendiri. Kau tidak memikirkan perasaan Jessica. Kau hanya memanfaatkannya untuk mengobati luka lamamu.”

“Aku belum mengenalmu lama, tetapi kau sudah tahu masa laluku. Kau membeli informasi tentangku dari seseorang? Sungguh lucu.”

Cengkraman Luhan semakin erat. “Semua itu tidak penting. Jika saja Jessica tahu tentang hal ini sehingga sampai membuatnya menangis, satu hal yang harus kau ingat, Baekhyun-ssi, aku akan menghabisimu!!”

Luhan melepas cengkramannya kasar sehingga Baekhyun pun terjatuh. “Sekarang kau boleh berbahagia, Baekhyun-ssi. Setidaknya kau berhasil mengambil perhatian Jessica. Dan menambah jarak yang cukup jauh di antara hubunganku dengannya.” Tambah Luhan sebelum pergi meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa tersenyum miris melihat kepergian Luhan.

***

Entah apa yang merasuki Jessica, kakinya melangkah begitu saja sehingga membawanya tiba di taman kota. Tempat ketika dia dan Luhan bertemu untuk yang pertama kalinya. Wanita itu duduk di salah satu bangku. Angin malam meniup rambutnya yang digerai begitu saja. Jessica hanya mampu terdiam. Terhanyut dalam pikirannya.

Sesungguhnya dia merindukan Luhan. Dia bahkan merindukan Luhan yang sering berkata ‘oh, baiklah’ dengan gaya dinginnya. Malam dan detik ini pun dia mengharapkan kehadiran Luhan. Ya, sudah tidak bisa dipungkiri bahwa Jessica mencintai Luhan. Hanya saja, kehadiran Jieun membuatnya ingin berpisah dengan Luhan. Dia tidak ingin memiliki masalah dengan orang lain. Tetapi, perkataan Yejin membuatnya sadar bahwa berpisah dengan Luhan bukanlah jalan yang tepat. Masalah Jieun bisa dia selesaikan bersama Luhan. Jessica akui dia memang bodoh, dan semakin bodoh karena menarik Baekhyun masuk ke dalam masalahnya. Dia merasa bodoh karena telah menerima permintaan pria itu untuk menjadi kekasihnya untuk berlari menjauh dari Luhan. Yejin juga benar, bahwa masalah rumah tangganya menjadi sangat rumit karena ulahnya sendiri.

 “Sekarang, pikirkan baik-baik, Jungie. Kembali pada Luhan atau tetap bersama Baekhyun. Keputusan ada di tanganmu.”

Jessica menghela napas kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia menekan menu kontak dan memilih untuk membuka kontak Luhan. Wanita itu tampak ragu apakah dia akan menghubungi Luhan atau tidak. Namun, tanpa dia sadari jarinya bergerak dan memijit tombol hijau di layar ponsel sehingga dengan otomatis dia menghubungi Luhan.

Oh my God, I’ll die!!!”

***

Luhan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Hari ini sangat memusingkan baginya. Pria itu baru saja akan membaringkan diri, tetapi ponselnya berbunyi sehingga dia mengurungkan niat awalnya. Luhan mengambil ponsel dari saku celana kemudian matanya tidak bisa percaya karena yang menghubunginya adalah Jessica. Wanita yang seharian ini belum dia temui. Wanita yang sangat dia rindukan. Luhan segera mengangkat panggilan tersebut.

Yobseo, Jess..”

Tidak ada jawaban sama sekali sehingga membuat Luhan sedikit khawatir. “Jess… Jessica?”

E-eoh.. Lu-luhan..”

Bibir Luhan tertarik untuk tersenyum dengan sendirinya begitu mendengar suara Jessica. “Aku senang kau menghubungiku, Jess.”

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”

“Apa?”

“Luhan… jika kau sungguh mencintaiku, temui aku di taman kota. Jika kau tidak datang, aku benar-benar akan mengakhiri semua ini.”

“Jess—“

“Aku sedang memberimu kesempatan. Jika kau sungguh mencintaiku, temui aku sekarang juga.”

Sambungan pun terputus. Tanpa berpikir panjang, Luhan meraih kunci mobil yang tersimpan di meja kecil sebelah ranjang dan hendak pergi. Namun, ponselnya kembali berbunyi lalu dia mengangkatnya langsung.

“Aku akan ke sana, Jess. Sebentar—“

“Maaf, Luhan-ssi. Aku Park Hyungsik, sekretaris perusahaan keluarga Song.”

Langkah kaki Luhan terhenti di depan pintu kamar. “Ah, Hyungsik-ssi, ada apa?”

“Jieun dilarikan ke rumah sakit.”

Mwo?!”

***

Seoul International Hospital

Luhan duduk di bangku tunggu yang berada di depan ruang gawat darurat. Luhan tidak bisa mengelak bahwa dia sangat panik kali ini. Selama dia mengenal Jieun, dia tahu bahwa wanita itu tampak sehat dan tidak pernah sakit. Tidak lama kemudian, Hyungsik datang menghampiri Luhan lalu duduk di sebelahnya.

“Apa yang terjadi pada Jieun?” Tanya Luhan.

Hyungsik tersenyum samar, “Kau mau tahu alasan Jieun meninggalkanmu ketika dua tahun silam?” dia balik bertanya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Luhan.

Ne?”

“Pada waktu itu, perusahaan keluarga Song terancam bangkrut. Banyak tudingan miring yang ditujukan pada presdir, ayah Jieun. Beliau dituduh menggunakan uang kotor dalam mengembangkan perusahaannya. Untuk menangani semua itu, seluruh anggota keluarga Song diam-diam pergi ke Belanda, lebih tepatnya ke rumah nenek Jieun. Selama dua tahun mereka membenahi keadaan itu, tanpa membiarkan media tahu. Jieun sengaja tidak memberitahumu karena dia takut kau akan mengkhawatirkannya. Dia tidak ingin membuatmu susah karena keadaannya. Tapi sayang, langkahnya pergi tanpa memberitahumu malah membuatmu meninggalkannya. Selama dua tahun dia terus memikirkanmu, berharap kau masih menunggu kehadirannya. Dia sangat terpukul ketika kau memberitahu bahwa kau sudah menikah. Jieun terpukul karena dia masih mencintaimu, Luhan-ssi.”

Hyungsik menghela napas sejenak kemudian melanjutkan , “Sebulan yang lalu, dia diberitahu dokter bahwa dia mengidap penyakit jantung koroner. Penyakit jantung bawaan. Jieun merasa waktunya di dunia ini tinggal sebentar, maka dari itu dia ingin menghabiskan waktunya dengan baik bersamamu. Hal itu yang membuat Jieun ingin memisahkan kau dan istrimu.”

Luhan tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mampu diam sampai sang dokter keluar dari ruang gawat darurat, membuat Hyungsik dan Luhan berdiri dengan spontan.

“Nona Song masih harus beristirahat, tidak boleh ada yang mengganggunya terlebih dulu. Ah, ya, kedua orang tuanya sudah dihubungi?”

Hyungsik mengangguk, “Mereka sedang menuju ke sini.”

“Baiklah. Kalau bagitu, saya tinggal dulu. Selamat malam.”

Setelah sang dokter pergi, tiba-tiba saja Luhan mengingat suatu hal. Dia harus menemui Jessica di taman kota. Pria itu hampir saja tidak ingat dengan permintaan Jessica. Dia harus segera pergi menemui Jessica atau semuanya akan berakhir.

***

Sudah dua jam Jessica menunggu Luhan di taman kota. Pria itu belum juga datang padahal sekarang sudah setengah jam lebih dari tengah malam. Jessica menunduk sedih, sudah dapat dipastikan Luhan tidak akan datang menemuinya. Air mata Jessica pun menetes karena hal itu. Namun, Jessica segera merasakan seseorang menyampirkan jaket pada tubuhnya. Jessica segera mendongkak, “Luhan, kau—“

Perkataan Jessica terpotong karena seseorang itu bukanlah Luhan, melainkan Baekhyun. “Maaf, karena aku bukan orang yang kau harapkan.”

“Dari mana kau tahu bahwa aku ada di sini?”

Baekhyun menunjukkan ponselnya, “Aku melacakmu lewat ponselku. Ponsel yang aku berikan padamu sudah terhubung baik dengan milikku, jadi aku bisa melacak keberadaanmu dengan mudah.”

Jessica tidak memberikan respon. Dia kembali menunduk dan air matanya kembali membasahi pipinya. Baekhyun berlutut di hadapan Jessica yang sedang duduk sambil menangis. Pria itu mengangkat wajah Jessica dan menyeka air matanya. “Aku tidak tahu bahwa kau akan sejelek ini ketika menangis. Uljima, Sica-ya.”

Tangis Jessica tidak berhenti, wanita itu malah terisak, menandakan bahwa tangisnya semakin menjadi. “Dia tidak datang… semua ini adalah salahku, Baekhyun-ah.”

Baekhyun membawa Jessica ke dalam pelukannya. Membiarkan Jessica menangis dalam dekapannya. Baekhyun tersenyum miris, “Tubuhmu menggigil. Akan aku antar kau ke apartemen Seohyun.”

***

Luhan tiba di taman kota pukul dua dini hari. Dia tahu semua ini akan terjadi. Jessica sudah tidak ada di sana. Keadaan taman kota sudah sangat sepi. Luhan menyiakan kesempatan yang telah diberikan Jessica. Kesempatan berharga yang Jessica berikan untuk rumah tangga mereka, kini sudah hilang. Luhan terduduk di bangku taman kemudian menunduk. Air matanya tanpa sadar menetes.

“Kau manusia terbodoh di dunia ini, Luhan…” gumamnya.

:: The Destiny of Us ::

Akhirnyaaaaaa hari ini fullll aku gunakan buat ngelanjutin ff ini dan berhasil selesai hari ini juga tanpa ada tugas, rapat, deadline, dan liputan yang menghadanggg… satu hari tanpa kegiatan kampusss  :’) Untuk rasa syukurku karena hari ini aku full free dari kegiatan kampus, aku posting chapter lima ini lebih cepat dari biasanya \(^o^)/

Maaf kalau jalan ceritanya semakin tidak jelas, gaje, lebai, dan semacamnya (sebenernya aku kurang pede sama chapter ini, tapi ya sudahlah ._.) . Maaf juga karena Lusica momen-nya masih sedikit. Chapter selanjutnya akan aku perbaiki ^^ Oh, iya, no preview untuk chapter berikutnya. Kenapa? Karena…. Sekitar dua chapter lagi ff ini akan tamatttt… siap-siap untuk mengetahui takdir Jessica, Luhan, Baekhyun, dan Jieun yaaa ^^

One more, saran dan kritik yang membangun amat saya terima di sini. Thank you🙂

 

 

 

 

 

 


[1] Kegiatan jurnalistik—memberitakan atau menginformasikan suatu hal pada khalayak umum—yang dilakukan oleh seseorang yang bukan berprofesi sebagai jurnalis atau wartawan.

 

157 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 5

  1. Luhan kau sangatlah bodoh karena memilih ke rumah sakit untuk menemui Jieun dari pada Jessica . . kau sungguh bodoh :3 . .

    semakin sad ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s