[Freelance] (Between Two Hearts) (3)

Title                 : Between Two Hearts

Author             : Flower Girl

Length             : Chaptered

Rating             : PG15+

Genre              : Romance, Friendship, Angst

Main cast         :

  • Jessica Jung
  • Kim Myungsoo (L)
  • Lu Han

Other cast        : find in the story🙂

Disclaimer       : My original storyline. Don’t be a PLAGIATOR!!

Note                : Chapter ini kayanya kepanjangan deh x.X

Enjoy it and leave a comment ^_~

 

_________________________________________________________________________________________

 

 

>>>Preview

 

Myungsoo menatap jajaran rak buku yang tertata rapi dengan malas. Aneh memang seorang Kim Myungsoo si pintar malas melihat rak buku.

Namja itu berjalan menuju rak buku bertuliskan Arts.

 

“Mengapa aku jadi memikirkannya terus?”  Myungsoo menggumam tak jelas.

Tangannya beranjak meraih sebuah buku tebal berwarna biru. Tanpa melihat bukunya, Myungsoo langsung mengambil buku itu lalu membawanya ke kasir.

____________________________________________________

Chapter 3

 

 

 

“Kita mau kemana, sunbae?”

 

Luhan menatap Jessica dengan senyum andalannya. Sebelum menjawab, ia mengusap kepala Jessica dengan lembut. “Lihat saja nanti. Dan, jangan panggil aku sunbae. Panggil aku Oppa atau apa begitu”

 

Jessica membalas tatapan Luhan seraya merapikan poninya yang diacak-acak oleh Luhan.

“Apa? Oppa? Ish.. aku tidak suka memanggil orang dengan panggilan itu. Lebih baik memanggilmu Luhan saja”

 

“Dasar anak nakal”

Luhan menghentikan mobilnya di depan sebuah toko mainan tua. Ia lantas keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah pintu sebelah, membukakan pintu untuk Jessica.

 

“Tempat apa ini?”  tanya Jessica bingung melihat toko di hadapannya.

 

Luhan menggenggam tangan Jessica lembut lalu membawa yeoja itu masuk ke toko tersebut.

“Kau akan tau nanti”

 

Luhan dan Jessica pun memasuki toko kecil tersebut. Jessica heran dengan Luhan yang mengajak berkencan di tempat aneh seperti ini. Di toko mainan tua yang kecil di tepi kota. Menurut Jessica ini sedikit romantis karena toko tersebut berada tak jauh dari suara ombak.

 

“Annyeong Kang ahjusshi”  sapa Luhan pada pria tua yang terlihat seperti pemilik toko.

 

“Ah~ Luhan? Sudah lama kita tak berjumpa, nak”

 

Jessica mengerutkan alisnya menyaksikan pemandangan dihadapannya. Luhan memeluk ahjusshi yang ia panggil ‘Kang’ tadi. Dan ahjusshi itu memanggil Luhan ‘nak’

Apa dia ayah Luhan? Tidak mungkin

 

Luhan meraih tangan Jessica lalu meletakkannya di tangan Kang ahjusshi. Jessica yang terkejut menatap Luhan dengan ekspresi aneh.

 

“Kang ahjusshi, ini Jessica. Dia yeojachinguku”  ujar Luhan pada Kang ahjusshi.

“Dan, Jess. Ini Kang ahjusshi. Dia tetanggaku dulu”

 

Jessica mengangguk mengerti lalu membungkukkan badannya untuk memberi salam pada ahjusshi itu.

“Annyeonghaseyo, Jessica imnida”

 

“Kau pintar memilih yeoja”  ucap Kang ahjusshi.

 

Luhan dan Kang ahjusshi pun mengadakan reuni kecil-kecilan. Mereka membicarakan hal-hal lucu yang sering mereka lakukan saat Luhan masih kecil dulu. Dan mereka bercerita tentang hal-hal lain.

Saking serunya bereuni, Luhan melupakan Jessica sejenak.

 

“Reuni namja” gumam Jessica pelan.

Ia pun berjalan menelusuri toko mainan kecil milik Kang ahjussi itu. Jessica terpesona dengan mainan-mainan tua yang ada di toko tersebut. Walau banyak yang sudah berdebu, namun tak bisa menyembunyikan nilai seni dalam mainan tradisional di toko itu.

 

“Waah~”  Jessica  mengambil sebuah gelang kayu dengan manik-manik berbentuk lumba-lumba. Ia langsung terpikat dengan gelang yang mengingatkannya pada seseorang.

“Ah, Myungsoo. Aku merasa bersalah padanya”

 

Jessica menelusuri lagi sisi lain dari rak-rak mainan tersebut. Walau ia sedikit sebal karena Luhan meninggalkannya berbincang-bincang, namun kesebalan itu terobati dengan puluhan mainan tradisional di toko Kang ahjusshi itu.

Saat Jessica melewati rak berisi mainan kayu, matanya melihat sebuah dadu berukuran sedang dengan ukiran di badannya.  “Ice?”

Jessica bingung mengapa ia terus mengingat Myungsoo. Barang-barang yang ia lihat mengingatkannya pada namja yang tadi ia tinggalkan.

 

Baru saja Jessica akan berbalik, seseorang telah memeluknya dari belakang. Jessica membeku seketika menyadari Luhan yang melakukannya.

 

“Kau mau beli itu?”

 

Jessica tak bisa menjawab pertanyaan Luhan. Mulutnya terasa dikunci seketika merasakan hembusan nafas Luhan di leher belakangnya.

Jessica merasakan darahnya berdesir dan jantungnya dipompa kencang.

 

“Hey~!”

Luhan membalikkan tubuh Jessica hingga sekarang mereka berhadapan.

 

“N-ne! aku mau membelinya”  jawab Jessica cepat.

 

***

 

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Namun dua sejoli itu belum puas dengan kencan mereka hari ini. Bagaimana bisa puas, jika kencan mereka adalah reuni.

 

“Kita mau kemana lagi?”  tanya Jessica pada Luhan.

 

“Ke pantai”

 

Jessica menghentikan langkahnya lalu menatap Luhan dengan mata berbinar-binar.

“Jinjja?”

 

Luhan menjawab dengan anggukan ringan seraya tersenyum. Dan jawaban itu membuat Jessica terlonjak senang. Ia memeluk Luhan dan tanpa sengaja mencium pipi namja itu.

“Gomawo, Luhan! Aku sangat suka pantai”

Jessica sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia menutupi malunya dengan berjalan mendahului Luhan. Tidak berjalan, berlari tepatnya.

 

Sementara Luhan hanya tersenyum seraya memegangi pipinya. “Gadis unik”

 

***

 

Sesampainya di pantai, Jessica langsung melepas alas kakinya lalu berlari ke air. Yeoja itu terlihat sangat bahagia jika diajak ke pantai. Ia selalu merasa senang tiap mengingat pantai.

Jessica tak peduli rok seragamnya basah terkena percikan air laut. Ia lebih memilih menyegarkan pikirannya dengan bermain-main.

 

Jessica menoleh ke belakang, mencari Luhan yang tadi ia tinggal. Ia pun menemukan sang kekasih tengah duduk santai di pasir pantai seraya memperhatikannya.

“Luhan-ah~! Ayo bermain~!”  teriak Jessica.

 

“Tidak. Kau saja”

 

Jessica cemberut mendengar jawaban Luhan. Otaknya pun mulai jahil.

Ia membasahi dirinya lalu beracting kecewa sambil berjalan menghampiri Luhan.

“Wae? Kau mengajakku kesini bukan untuk bermain denganku ya?”

 

Luhan menatap Jessica iba. Ia berdiri lalu menarik tangan Jessica dan membawanya ke air.

“Ne ne, ayo kita bermain. Tapi jangan basahi aku”

 

Jessica mengeluarkan smirknya lalu menjalankan aksinya. Awalnya ia menuruti apa yang Luhan katakan.

Mereka bermain pasir pantai, menulis diatasnya dan membuat istana pasir yang sangat indah. Saking indahnya istana itu, orang yang melihatnya akan sakit mata (baca : Ancurr)

Tiba-tiba..

 

“Waaaa~~”  Jessica memeluk Luhan dengan bajunya yang basah kuyup.

Yeoja itu kembali mengeluarkan smirknya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan.

 

“Yah~ Jess, apa yang kau lakukan? Aku basah nanti”  Luhan berusaha melepaskan pelukan Jessica, namun yeoja itu malah mengeratkan pelukannya.

“Jess, ayolah~”

 

“Tidak. Aku basah, kau harus basah”

 

Luhan menggelitik Jessica agar yeoja itu melepaskan pelukannya. Dan alhasil usahanya berhasil.

Jessica melepaskan pelukan mautnya.

“Yak, Luhan! Geli!”

 

Luhan menggelitik Jessica sampai yeoja itu terjatuh di dekat air. Luhan tak menghentikan aksinya walau Jessica sudah menggeliat sepeti cacing kepanasan.

“Hahaha~ Luhan~!! Hentikan~!”

 

“Tidak akan!”

Luhan terus menggelitik Jessica, sampai..

“AWW!!”

 

“Hahahahahahaaaa~”

Jessica tertawa kencang mendengar Luhan merintih karena gigi-giginya mendarat di tangan nakal namja itu. Jessica yang melihat Luhan kesakitan malah maerong lalu berlari.

“Wleek~”

 

Karena ulah mereka sendiri, terjadilah kejar-kejaran seperti tom and jerry. Jessica dan Luhan pun menjadi tontonan manis pengunjung pantai lainnya.

Karena ini adalah pantai tepi kota Incheon, tentu saja pantai ini tidak sepi.

 

Luhan yang terus mengejar Jessica terpeleset saat menginjak ganggang yang licin. Ia pun terjatuh di air.

“Aish~”

Luhan mengusap pantatnya yang terasa sakit. Karena ia mendarat(?) menggunakan pantatnya.

 

“Kau jatuh ya? Kasian~ Weeeek”  Jessica menggoda Luhan yang tengah merintih.

Entah mengapa ia menjadi kekanak-kanakan karena namja itu.

Walau setiap hari ia memang kekanak-kanakan, tapi tidak ada yang pernah menanggapinya. Dan sekarang, ia mempunyai pasangan yang sama dengan sifatnya.

 

Jessica hendak berlari meninggalkan Luhan namun tangan Luhan sangat cepat untuk menarik tangan yeoja itu.

Luhan menarik tangan Jessica sampai tubuh yeoja itu jatuh di atasnya. Ia pun mengeluarkan smirknya.

“Anak nakal”

 

***

 

Luhan yang awalnya akan mengajak Jessica pulang mengurungkan niatnya karena yeoja itu tiba-tiba berhenti berjalan di depan sebuah pasar malam. Bukan pasar malam besar seperti expo di kota, namun hanya pasar malam kecil di desa pesisir pantai.

Luhan tersenyum memperhatikan tingkah Jessica yang sangat childish. Ia melihat Jessica sekarang tengah berlari-lari kecil dari penjual arum manis ke arahnya. Luhan merasakan kehangatan tatkala melihat tingkah lucu dan senyum manis Jessica.

 

“Kau mau? Aku beli yang besar”  ujar Jessica seraya menyodorkan arum manisnya pada Luhan.

 

“Suapi aku?”

 

Jessica menatap Luhan dengan bibirnya yang ia poutkan. Namun detik berikutnya, ia menyuapkan sepotong(?) kecil arum manis ke mulut Luhan.

 

“Mmm.. sangat manis. Seperti dirimu”

 

Rona merah kembali terlukis di wajahnya. Karena matahari sudah tenggelam, Jessica tak perlu menyembunyikannya dari Luhan. Luhan takkan melihatnya.

 

“Setelah ini kau mau kemana?”  tanya Luhan membuyarkan lamunan Jessica.

 

“Ne? Eum.. pulang saja”  jawab Jessica singkat. Ia masih menikmati suasana pantai dikala malam.

Jessica ingin sekali ada bintang di langit malam ini, karena pasti akan membuat pemandangan lebih indah dan romantis. Namun awan mendung menutupi langit pantai tersebut.

 

Jessica terkejut saat tiba-tiba Luhan menarik tangannya.

“Sepertinya sebentar lagi turun hujan. Kita cepat masuk ke mobil saja”

Tanpa mendengar jawaban Jessica, Luhan menarik yeoja itu dan membawanya berlari ke tempat mobil mereka terparkir.

 

*****

 

Myungsoo menguap lebar setelah membaca buku dengan 200 halaman yang berjudul ‘Javanesse Gamelan’

Sejak tadi sore, Myungsoo terus berkutat dengan buku-buku musik di perpustakaan sekolah. Hingga sekarang sudah pukul 9 malam, ia masih betah duduk di kursi seraya membaca jutaan kata dalam buku-buku tersebut.

 

“Permisi. Apa kau sudah selesai? Perpustakaan akan dikunci”

 

Myungsoo mendongak mendengar suara penjaga sekolah. Ia tersenyum sekilas lalu membereskan buku-buku serta alat tulisnya. Setelah beres, ia pun berjalan keluar perpustakaan.

“Hoaam~  Ish, pegal sekali leherku”

 

Myungsoo yang tadinya ingin segera keluar dan berjalan ke halte berhenti di depan perbatasan gedung perpustakaan dan gerbang. Ia menatap milyaran butir air berjatuhan hingga membuat jalanan basah. Hujan.

“Aish~ mengapa harus hujan? Aku tidak membawa persiapan sama sekali”

 

Myungsoo menatap hujan dihadapannya dengan wajah melas. Sepertinya hujan deras seperti ini akan lama redanya. Dan ia tidak mau berlama-lama di sekolah karena ia sudah sangat lelah.

Setelah berdebat dengan pikiran dan hatinya, akhirnya Myungsoo mengambil langkah seribu berlari di tengah hujan.

 

Sebenarnya ia bisa saja menelpon sopir untuk menjemputnya, namun karena kebiasannya naik bus ia jadi tidak enak jika harus naik kendaraan pribadi.

 

Setelah sampai di halte, ia segera duduk di bangku halte. Untung saja tidak ada orang disana. Jika ada, Myungsoo pasti sudah menjadi pusat perhatian karena badannya yang basah kuyup bagaikan kucing masuk kolam renang.

 

“Bbrrrr.. isshh.. dingin sekali”

Myungso menggosok-gosokkan kedua tangannya seraya menunggu bus menuju rumahnya datang.

 

*****

 

“Untung kita sudah dalam mobil sebelum hujan”  ujar Jessica lega seraya memasang seatbeltnya.

Ia menatap Luhan yang kini juga tengah memasang seatbelt.

 

Sekitar 1 menit mereka diam dalam mobil. Luhan tak kunjung menjalankan mobilnya. Bahkan ia belum menyalakan mesin mobilnya.

Jessica menoleh pada Luhan yang memandang lurus ke depan.

“Luhan?”

 

Luhan menatap Jessica setelah yeoja itu membuyarkan lamunannya. Ia jadi teringat sesuatu yang akan ia berikan pada Jessica.

“Ne. ah, Jess. Aku ingin memberimu sesuatu”

 

Jessica mengangguk seraya menatap Luhan yang mengeluarkan sesuatu dari dalam jas sekolahnya. Awalnya Jessica mengira Luhan akan memberikan bunga padanya, namun dugaannya salah.

 

“Ini untukmu”

 

Jessica menatap benda yang Luhan berikan padanya. Perlahan ia tersenyum lalu kembali menatap Luhan.

“Wahh, Luhan. Ini bagus sekali. Gomawo~”

Jessica terpesona melihat kalung yang terbuat dari kayu dengan liontin berbentuk setengah hati bertuliskan huruf  L disitu.

 

“Ini pasangannya”

Luhan menunjukkan kalungnya yang sama persis dengan milik Jessica. Hanya saja di liontinya bertuliskan huruf J.

 

“Kau sudah merencanakan semua ini?”  tanya Jessica dengan nada penuh kebahagiaan.

 

Luhan mengangguk seraya memakai kalung tersebut.

“Ne. sebelum aku menyatakan perasaanku, aku sudah memesan kalung ini pada Kang ahjussi”

 

Jessica sangat senang mendengar itu. Sepertinya Luhan sangat serius dengannya, sampai-sampai ia melakukan hal seromantis ini.

“Wahh.. neomu neomu gomawo, Lu”

 

Luhan tersenyum dengan senyuman malaikatnya. Ia pun menatap Jessica yang nampak sangat senang. Luhan mengenggam tangan Jessica lalu menatap lurus ke foxy eyes Jessica.

“You must know, I Love You, Jess”

 

Luhan menarik tangan Jessica lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica. Ia bisa melihat rona merah di pipi Jessica sekarang. Perlahan tapi pasti, Luhan memejamkan matanya lalu mencium bibir Jessica.

 

Jessica hanya bisa memejamkan mata seraya berusaha menetralkan detak jantungnya. Ia sudah merasakan bibir Luhan berada di bibirnya. Ingin sekali ia berteriak pada dunia, bahwa namja yang ia sukai sekarang tengah menciumya.

 

“I love you too, Luhan”

 

***

 

Jessica turun dari mobil Luhan setelah sampai di depan rumahnya. Tak lupa Luhan mengantarnya dengan membawakan payung untuk Jessica. Hujan hari ini memang mengerikan. Tidak reda sedikit pun.

 

Jessica menatap Luhan yang sekarang melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum lalu membalas lambaian tangan Luhan.

“Bye~ ”

 

Setelah mobil Luhan menghilang, Jessica menatap siluet namja yang tak asing baginya. Namja itu berlari dari arah barat lalu memasuki rumah mewah yang berada tepat di depan rumahnya. Namja itu terlihat basah kuyup dengan setumpuk buku di pelukannya.

Jessica menatap namja itu dengan iba lalu segera masuk ke dalam rumah.

 

***

 

Setelah membersihkan diri dan makan malam, Jessica kembali ke kamarnya untuk istirahat. Harinya sungguh melelahkan. Namun hari melelahkan itu tidak sia-sia karena ia bersama orang yang ia sayangi.

 

Jessica berbaring di kasurnya lalu mengambil ponsel putihnya. Entah mengapa tiba-tiba Jessica ingin melihat foto layar desktopnya. Terbesit rasa bersalah saat melihat foto tersebut.

Myuncy, Mianhae. Semoga kau tak kena flu”  ucap Jessica seraya meraba fotonya dan Myungsoo yang ia gunakan sebagai wallpaper desktop ponselnya.

 

*****

 

Jessica yang baru saja masuk kelas celingukan seperti orang kebingungan. Ia seperti tengah mencari seseorang. Karena ia tak menemukan yang ia cari di kelas, ia berpindah tempat ke kantin lalu ke perpustakaan. Namun tetap saja, yang Jessica cari tak nampak sedikit pun.

 

Bel tanda masuk berbunyi, dan Jessica pun berjalan gontai kembali ke kelasnya. Harinya terasa kurang jika tak ada seseorang yang ia cari tersebut.

 

 

“Yak, kemana kau, Myuncy?”  tanya Jessica pada dirinya sendiri.

Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja lalu dengan cepat ia mengetik pesan untuk orang yang ia cari hari ini.

 

To       :  MyunCy ^,^

 

Kau kemana hari ini? Mengapa kau tak menghubungiku sejak kemarin? Jangan membuatku khawatir, Myung..

 

 

 

Hingga jam pelajaran berakhir sampai sekarang waktu istirahat, Myungsoo belum juga membalas pesan Jessica. Hal itu membuat Jessica memikirkan hal yang tidak-tidak.

Baru saja ia akan menulis pesan lagi untuk Myungsoo, namun sebuah pesan baru telah masuk.

Melihat nama Myuncy pada pesan masuk tersebut, membuat hati Jessica lega.

 

Fr        : MyunCy ^,^

 

Maaf, Jessica. Myungsoo sedang tidur. Ia sekarang dirawat di rumah sakit karena kemarin ia pulang basah kuyup. Kau pasti tau kan kalau Myungsoo mudah terkena demam.

Jika ada waktu nanti, jenguk Myungsoo ne🙂

                                                                                                        Ny. Kim

 

 

Jessica membuka mulutnya lebar setelah membaca rentetan kata tersebut. Yeoja itu merasa sangat bersalah sekarang. Jika saja kemarin ia menemani Myungsoo, mungkin namja itu masih berada di kelas bersamanya sekarang.

“Aish.. mianhae, Myungie”

 

*****

 

Jessica sudah berniat menjenguk Myungsoo sepulang sekolah ini. Ia suda berjanji tidak akan ada hal lain yang bisa menghalanginya menjenguk sahabatnya itu. Namun, kita lihat saja nanti.

 

Yeoja itu kini berjalan keluar gedung sekolah lalu menuju gerbang. Saat ia melewati taman dekat gerbang, ia berhenti karena tiba-tiba ada yang menarik tangannya.

Jessica berbalik lalu menemukan Luhan tengah tersenyum manis padanya.

 

“Ayo ikut aku” Luhan menarik tangan Jessica, hendak membawa yeoja itu bersamanya.

Namun, Jessica tidak menggeser posisinya sedikit pun.  Luhan yang bingung segera berbalik badan lalu menatap Jessica. “Kajja~”

 

Jessica menggeleng kecil lalu melepas genggaman tangan Luhan. “Jeongmal mianhae, Lu. Aku mau menjenguk Myungsoo di rumah sakit”

Jessica merasa tidak enak menolak ajakan namjachingunya sendiri. Namun ia sudah berjanji untuk menjenguk Myungsoo, jadi ia tidak bisa mengingkari janjinya sendiri.

 

“Ish~  padahal aku ingin mengajakmu berjalan-jalan ke Myeondong”  ucap Luhan lemas.

Ia menatap Jessica dengan wajah melasnya, berharap Jessica bisa ikut dengannya.

 

“Mianhae, jeongmal mianhae. Myungsoo membutuhkanku sekarang, Luhan”  Jessica berusaha memberikan pengertian pada Luhan. Rasanya aneh memang mementingkan sahabat di depan kekasihnya sendiri. Tapi memang seharusnya sahabat lebih penting bukan?

 

Luhan mengerucutkan bibirnya.  “Aku juga membutuhkanmu, Jess.”

 

Jessica menghela nafas lemah. Ternyata begini rasanya dikelilingi dua namja yang sama-sama ia sayangi. Sangat membingungkan. Ia tidak bisa jika disuruh memilih antara sahabat atau namjachingunya. Myungsoo atau Luhan.

“Aish~  Aku akan ke rumah sakit dulu. Jika sudah selesai menjenguk Myungsoo, kita pergi jalan-jalan. Eottae?”  akhirnya itulah yang keluar dari bibir kecil Jessica. Memilih salah satu, ia tidak akan bisa.

 

Luhan terlihat menimbang-nimbang tawaran Jessica. Detik berikutnya wajah namja itu kembali cerah.

“Baiklah. Tapi bolehkan aku ikut denganmu ke rumah sakit?”

 

“Tentu saja”

 

***

 

Jessica berjalan di lorong-lorong rumah sakit seraya melihat tiap nomor yang terpampang di pintu masing-masing kamar. Sejak 5 menit yang lalu, ia terus saja melakukan kegiatan itu.

Luhan yang berada di sampingnya merasa gerah menatap Jessica yang celingukan.

 

“Memang kamarnya nomor berapa? Biar aku carikan”  tawar Luhan pada Jessica.

 

“042”  jawab Jessica sambil kepalanya yang masih celingukan.

 

Setelah mendengar jawaban Jessica, Luhan segera memperhatikan satu per satu pintu kamar rawat di rumah sakit tersebut. Tak butuh waktu lama bagi Luhan untuk menemukan kamar itu. Karena kamar tersebut berada di ujung lorong, dekat tangga menuju lantai 3.

“Itu kan?”

 

Mata Jessica berbinar setelah menemukan kamar dengan nomor 042 tersebut. Tanpa pikir panjang, yeoja itu melesat ke dalam kamar tersebut.

Ia membuka pintu kamar rawat dengan perlahan. Ia sudah yakin bahwa itu kamar yang ditempati Myungsoo. Karena di bagian depan kamar sudah tertera nama김명수.

 

Krriieet.

Mata Jessica nampak sayu melihat seseorang yang tengah terbaring di kasur berwarna tosca dengan wajah yang pucat tersebut. Ia pun berjalan perlahan menuju namja yang tak lain adalah Myungsoo itu.

Jessica menarik kursi lalu mendekatkannya di sebelah ranjang Myungsoo. Tatapannya semakin sayu memperhatikan infus yang tertancap di tangan Myungso. Jessica sangat hafal, Myungsoo tidak suka diinfus.

 

Jessica terkejut saat tiba-tiba Myungsoo mengubah posisi tidurnya. Myungsoo yang tadinya tidur terlentang, kini berubah menjadi miring ke samping. Ke arah Jessica.

Myungie.. maafkan aku.. ini semua karena aku..

 

Jessica ingin sekali mengenggam tangan Myungsoo, namun ia takut akan membangunkan namja itu. Kini ia hanya bisa memperhatikan Myungsoo yang terlelap.

“Wajahnya sangat angel jika ia tidur”  gumam Jessica.

 

Sekitar 15 menit Jessica masih dalam keadaan yang sama, yaitu memperhatikan Myungsoo yang sedang tidur. Akhirnya Jessica berdiri dari kursi lalu tangannya mengeratkan selimut Myungsoo yang melorot(?).

“Get well soon, Myungsoo”

 

Saat ia akan pergi, Jessica merasakan tangannya digenggam seseorang. Sontak ia berbalik dan mendapati Myungsoo tengah mengenggam tangannya. Jessica bisa merasakan betapa panasnya tubuh Myungsoo saat tangan namja itu menyentuh kulitnya.

 

“Jangan pergi”

 

Jessica bingung mendengar Myungsoo mengatakan itu. Mata namja itu masih tertutup rapat, dan sepertinya ia masih tertidur.

Perlahan Jessica melepaskan genggaman tangan Myungsoo, namun genggaman itu malah semakin kuat.

 

“Jangan pergi, Jessi”

 

Jessica semakin bingung dengan tindakan Myungsoo. Namun yeoja itu kini tau bahwa Myungsoo sedang mengerjainya.

“Yak! Kau pasti pura-pura tidur kan?!”  teriak Jessica kencang.

 

Myungsoo membuka matanya lebar lalu detik berikutnya ia tertawa kencang. Mengerjai Jessica memang selalu menyenangkan. Tapi sakit yang ia alami saat ini bukanlah main-main. Ia hanya berpura-pura tidur untuk mengerjai Jessica.

“Hahahaa.. dari mana kau tau aku mengerjaimu, Jessi? Kurasa actingku tadi bagus”

 

Jessica mendengus kesal lalu kembali duduk di kursi tadi. Ia menggembungkan pipinya, menatap Myungsoo dengan wajah kesalnya yang lucu.

“Kau ini sudah sakit masih saja mengerjai orang”  gerutu Jessica.

 

“Aku harus mengerjaimu dulu sebelum kau mengerjakan semua tugas itu” ujar Myungsoo santai seraya menunjuk tumpukan buku yang ada di meja samping ranjangnya.

 

Jessica melotot menatap apa yang Myungsoo tunjuk.

“Apa? Semua itu?”

 

Myungsoo mengangguk santai seraya menyalakan TV yang ada di kamar rawatnya.

“Semuanya sudah aku rangkum. Sekarang tinggal kau yang mengetiknya”

 

“Myung, tapi tugas itu besok harus dikumpulkan. Bagaimana aku bisa menyelesaikannya dalam sehari?”  rengek Jessica dengan aegyo andalannya.

 

“Lalu? Kau ingin aku mengerjakan semuanya sendiri? Sudah untung aku merangkumnya. Sampai-sampai aku sakit seperti ini gara-gara tugas itu”

 

Rasa bersalah Jessica kembali keluar. Kali ini ia merasa Myungsoo menyalahkannya secara langsung.

Sangat bersalah. Jessica merasa sangat bersalah.

“Hmm.. geurae geurae”

 

Myungsoo tersenyum puas. “Kalau begitu segeralah pulang dan mengerjakan semuanya”

 

Jessica yang tadinya memelas sekarang kembali menampakkan wajah kesalnya. Sahabatnya ini sungguh bisa membuat moodnya berganti secara cepat.

“Ish! Kau mengusirku? Baiklah!”

Jessica menghentakkan kakinya lalu mengambil tugas-tugasnya dan beranjak keluar dari kamar Myungsoo. Namun masih sampai di ambang pintu..

 

“Tunggu!”  Myungsoo kembali mengeluarkan suara.

 

“Apa lagi?”

Jessica berbalik, menatap Myungsoo kesal. Namun tatapan itu berubah menjadi cengo tatkala melihat Myungsoo tersenyum padanya. Senyuman yang tak Jessica suka.

 

“Jangan sampai tertalu larut mengerjakannya. Jangan sampai kau sakit sepertiku. Arrachi?”

 

Jessica yang biasanya akan mengoceh jika melihat Myungsoo menunjukkan senyuman padanya kini malah diam ditempat seraya mengangguk kaku. Entah ada apa, tiba-tiba Jessica berjalan kembali menghampiri Myungsoo.

 

“N-ne. K-kau, get well soon

Jessica mengakhiri kalimatnya dengan mengecup pipi Myungsoo. Lalu ia pun berlari keluar kamar dan menutup pintunya dengan sangat kencang.

 

 

Sementara itu di ranjangnya, Myungsoo membeku seraya memegangi pipinya. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya, lalu berkaca dengan benda tipis itu.

“Ya tuhan! Pipiku merah!”

 

***

 

Jessica memukul-mukul kepalanya sendiri, menghukum dirinya karena baru saja melakukan tindakan bodoh. Sangat bodoh dan memalukan.

Ia yang tadinya tersenyum-senyum aneh tiba-tiba membulatkan mata saat melihat pemandangan di hadapannya. Pantas saja ia merasa ada sesuatu yang ketinggalan tadi. Ternyata orang yang ia cari ada disini.

 

Ia melihat Luhan tengah berbincang-bincang dengan seorang yeoja yang duduk di kursi roda dan mengenakan pakaian rumah sakit. Terlihat seperti seorang pasien.

“Nuguya?”

 

 

TBC..

 

_________________________________________________________________________________________

 

Waaaaaa!!   Aduh-aduh. Makasih lagi ya buat readers-readers yang comment di Chapter 2

Dan maaf ini kelamaan. Lagi butuh banyak belajar, soalnya udah kelas 9 *malah curhat*

 

Ini apa? Aku gatau kenapa bisa jadi begini Chapter 3 nya. dan aku mau kasih tau deh. Di chapter dua adegan Luhan-Jessica berpelukan terus ada yang liat sambil ngeremes buku itu bukan Myungsoo yaa..

Ada deh seseorang yang akan aku hadirkan nanti di Chapter 4. Hohohooo..😀

 

Neomu-neomu gomawo buat readers yang udah RCL dan author yang sudah mau ngepost FF jelek ini.

Annyeong~ ^.^  *tebar duit*  eh -_-

32 thoughts on “[Freelance] (Between Two Hearts) (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s