[Freelance] (Fact) (Chapter 1)

 Judul              : New Life

Author             : Jung Hye Na

Rating                         : General

Length             : Chapter

Genre              : Family. School life. Romance.

Main Cast        : Jessica Jung

Support Cast   : Tiffany Hwang
Jung Yunho

Disclaimer       : –

 

 

Jessica hanya menatap kosong pemandangan yang ada di depannya. Ia tidak bisa menangis. Air matanya sudah habis sejak beberapa jam yang lalu saat jasad ibunya masih ada di hadapannya. Tapi sekarang, sungguh ia tidak bisa menangis lagi.

Jessica bingung sekarang harus berbuat apa. Jessica tidak tahu harus melakukan apa saat Ibu nya sudah tidak ada lagi disampingnya. Jessica menangis dalam diam. Tiffany yang berada disampingnya menggigit bibir bawahnya. Tiffany menahan tangisnya melihat sahabatnya seperti itu. Tiffany berusaha menahan tangisannya, jika ia menangis Jessica akan semakin merasa sedih dan Tiffany membenci itu.

“Jess.”  Tiffany mulai membuka suara memecah keheningan. Ia tidak tega untuk berbicara seperti ini. Tapi ia harus mengatakannya. Tiffany harus menanyakannya agar ia berhenti mengkhawatirkan Jessica.

“Kau akan menemui Ayahmu bukan?” Tiffany sudah siap dengan pertanyaannya yang pasti akan membuat Jessica semakin sedih. Setelah sadar apa yang sudah diucapkannya, ia merutuki dirinya sendiri. Bodoh! Batin Tiffany.

Namun diluar dugaan, setelah beberapa menit Jessica terdiam. Jessica menoleh menghadap Tiffany dan tersenyum tulus.

“Tentu saja.” Tiffany terperangah dan kebingungan.

“Jess, kau-“

“Tiff, sekarang aku sudah tidak punya siapapun di dunia ini. Aku takut hidup sendiri. Aku ingin mempunyai seseorang yang melindungiku menggantikan posisi ibuku. Lagipula, Ibu pernah berkata Ayah bukanlah orang yang buruk dan jahat. Ayahku adalah orang yang lembut dan romantis.” Jessica mengehntikan ucapannya dan terlihat ragu dengan dua kalimat terakhir yang diucapkannya barusan. Jessica menghela nafas lelah dan melanjutkan ucapannya yang terhenti.

“Setidaknya itu yang diucapkan Ibuku.”

Tiffany sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Tiffany menangis. Ia bahagia dengan apa yang baru saja diucapkan Jessica. Tiffany takut Jessica akan tinggal sendiri di rumah ini. Tapi sekarang, Tiffany lega. Tiffany memeluk sahabatnya itu dengan penuh rasa sayang.

“Kau salah Jess. Kau tidak akan hidup sendiri. Kau harus ingat kau mempunyai sahabat. Aku, Jess.” Tiffany berbicara sambil menangis.

Jessica tersenyum bahagia. Tiffany benar. Ia tidak sendiri. Jessica tahu Tiffany sangat menyayanginya.

“Aku tahu. Maaf.”

 

Tiffany terlihat sibuk memasukkan semua barang Jessica ke dalam koper yang sangat besar. Setelah ia rasa semua sudah cukup. Ia melihat Jessica yang terlihat gelisah.

“Waeyo Jess?”

“Aku gugup, Tiff.” Ujar Jessica jujur.

“Wae? Kau akan menemui Ayahmu bukan calon suamimu.” Tiffany mencoba untuk bercanda. Tapi Jessica sepertinya tidak ingin menanggapinya dan masih terlihat tidak tenang. Melihat itu, Tiffany menghela nafas.

“Jess. Percayalah, Ayahmu akan senang kau datang.”

“Tapi Tiff, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya. Bagaimana kalau Ayahku tidak mengharapkan keberadaanku. Bagaimana kalau Ayahku tidak menyayangiku. Bagaimana kalau Ayahku tidak-“

“Dan bagaimana kalau Ayahmu menerimamu dengan senang hati?” Potong Tiffany cepat.

“Jess, kau belum bertemu dengan Ayahmu, jadi jangan berpikiran macam-macam. Aku yakin, semua akan sesuai dengan apa yang kau harapkan.” Ucap Tiffany tulus.

Jessica terdiam. Dalam hati, Jessica mengamini semua perkataan Tiffany. Sungguh, Jessica ingin hal yang diucapkan Tiffany adalah kenyataannya.

“Kajja.” Ucap Tiffany sambil membawa koper yang besar berwarna pink.

Jessica tersenyum lebar dan mengangguk.

“Mm. Kajja.”

Tiffany tersenyum lebar dan berjalan keluar rumah Jessica. Mereka berdua berjalan berdampingan. Sampai Tiffany menyadari Jessica tidak ada di sampingnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Jessica menangis melihat rumahnya dari tempat ia berdiri sekarang. Tiffany kembali berjalan untuk berada di samping Jessica. Kini, mereka berdua terdiam sambil menatap rumah kecil tetapi sederhana dan indah itu.

“Aku pasti akan merindukan rumah ini.” Ujar Jessica menahan tangis. Tiffany diam. Ia bisa merasakan kesedihan sahabatnya ini.

Beberapa saat mereka berdua berdiri seperti itu sampai Jessica terlihat menarik nafas dan langsung menoleh kearah Tiffany.

“Kajja Tiff. Aku sudah tidak sabar bertemu Ayahku.”

“Mm.” Tiffany mengangguk.

 

“Terimakasih sudah mengantarku Tiff.” Ucap Jessica tulus.

“Ya. Tentu saja. Apa tidak ada yang tertinggal? Kau sudah bawa tiketmu?” Tanya Tiffany.

Jessica memperlihatkan kertas sebagai jawaban dari pertanyaan Tiffany. Tiffany mengangguk puas.

“Kau bawa alamat rumah Ayahmu?”

“Astaga, aku lupa Tiff!” Balas Jessica sambil menahan tawa.

“Jess. Kau ini. Kau letakkan dimana kertas itu? Aku akan kembali untuk mengambilnya.” Ucap Tiffany panic.

Jessica terkekeh melihat gadis dihadapannya sekarang.

“Tidak perlu Tiff. Aku sudah hafal alamatnya.”

“Really?” Tanya Tiffany memastikan.

“Ya.” Balas Jessica.

 

“Jess. Kudengar Ayahmu adalah seorang yang kaya raya.” Tiffany kembali bersuara.

Mendengar kalimat Tiffany, Jessica hanya mengangkat bahunya.

“Molla. Memangnya kenapa? Kau akan mencintaiku dan menikahiku kalau Ayahku seperti itu?” Canda Jessica.

“YA! Kau ini. Aku serius.” Tiffany mendengus. Tapi akhirnya Tiffany tersenyum lebar. Akhirnya. Jessica kembali menyebalkan.

Jessica tertawa senang dan melanjutkan pertanyaannya.

“Memangnya kenapa?” Ulang Jessica.

“Ani. Kalau benar, kau pasti akan dipindahkan dari SM High School ke luar negeri sama seperti anak pengusaha kaya lainnya.” Jelas Tiffany

“Mwo?! Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin bersekolah disitu. Hey, sekolah kita sudah bertaraf Internasional, kau tahu!” Dengus Jessica.

“Jadi kau tidak akan pindah sekolah bukan?” Harap Tiffany.

“Ya. Selama kau terus membuatkan PR-ku.” Ucap Jessica sambil terkekeh.

“YA! Kau ini.” Tapi Tiffany tidak marah.

Tiffany senang karena itu berarti Jessica tidak akan pindah sekolah dan mereka bisa terus bersama-sama. Lagipula, Tiffany tahu betul Jessica hanya bercanda. Pada kenyataannya, Jessica-lah yang membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Jessica lebih cerdas dari Tiffany. Hanya saja Jessica adalah orang yang malas, dan Tiffany lebih rajin dari Jessica. Jessica yang memikirkan jawaban soal-soal mematikan itu dan Tiffany yang menuliskannya.

 

Bus yang ditunggu Jessica sudah datang. Jessica berdiri dari duduknya engan disusul Tiffany. Mereka berhadapan dan berpelukan.

“Tidak kusangka kita akan tinggal berjauhan. Aku fikir kau akan terus menggangguku.” Ucap Tiffany bercanda.

“Ya! Kau akan menyesal setelah sampai di rumahmu, karena tidak ada yang secantik diriku disana.” Ujar Jessica menyombongkan diri.

Tapi Tiffany hanya tersenyum menanggapi perkataan Jessica. Tiffany melepas rangkulannya.

“Cepat pergi.” Usir Tiffany bercanda.

“Mm. Annyeong Tiff.” Jessica melambaikan tangannya dan memasuki bus yang akan membawanya menuju rumah barunya. Semoga.

Tiffany masih melambaikan tangannya walaupun bus yang sudah ditumpangi Jessica sudah melaju meninggalkan halte. Tiffany mengusap pipinya.

“Semoga kau bahagia dengan Ayahmu, Jess.” Ucap Tiffany tulus dan melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumahnya.

 

Di dalam bis, Jessica terdiam. Jessica akan merindukan Tiffany. Jessica tahu itu. Selama ini mereka berdua selalu bersama-sama. Di sekolah maupun di rumah. Ya. Rumah Jessica dan Tiffany bersebelahan. Mereka adalah sahabat sejak kecil. Jessica juga dekat dengan Ibu Tiffany. Ibu Tiffany sudah menawarkan agar Jessica tinggal di rumahnya. Tetapi, ini adalah Jessica. Jessica yang tidak mau merepotkan orang lain. Beruntung, karena mereka bertetangga sejak kecil, jadi Ibu Jessica dan Ibu Tiffany juga dekat seperti seorang kakak-adik. Jadi, Ibu Tiffany tahu betul apa yang terjadi 15 tahun yang lalu. Kejadian yang menyebabkan Jessica terpisah dari Ayahnya saat Jessica masih sangat kecil.

Ibu Jessica pernah memberikan secarik kertas yang berisi alamat Ayah Jessica sekarang. Tetapi, Ibu Jessica ingin Jessica mengetahuinya pada saat-saat yang penting. Dan Ibu Tiffany yakin yang dimaksud saat yang penting adalah saat ini.

Jessica yang masih di dalam bus memikirkan apa reaksi yang akan diberikan oleh Ayahnya nanti. Sebenarnya, Jessica ingin menemui Ayahnya. Dalam hati kecilnya, Jessica rindu Ayahnya yang bahkan ia tidak tahu bentuk wajahnya seperti apa. Jessica yakin perkataan Ibunya benar. Ayahnya bukan seorang yang buruk dan jahat. Jessica memejamkan matanya dan membukanya perlahan. Terukir senyuman indah di bibir gadis cantik itu. Wait me, Dad! Batin Jessica.

 

15 menit dari halte. Ah, tidak terlalu jauh dari rumah Tiffany. Ujar Jessica senang

Jessica hanya bisa terperangah melihat rumah mewah yang kini ada di hadapannya. Halaman yang luas dan rapi dan rumah yang indah.

Tiff, kau benar! Ucap Jessica dalam hati.

Jessica menarik nafas tiga kali dan melangkahkan kakinya untuk memencet bel masuk. Jessica memencet bel itu dua kali tetapi belum ada jawaban seseorang dari dalam. Saat Jessica ingin memencet untuk yang ketiga kalinya, suara seseorang terdengar dari dalam sana. Suara seorang lelaki berumur sekitar kurang lebih 50 tahun. Dari wajahnya, sepertinya ia sosok Ayah yang baik hati. Pikir Jessica.

“Mencari seseorang?” Tanya lelaki yang belum terlalu tua itu.

“Ya. Tn. Jung Yunho.” Ucap Jessica terdengar ragu.

“Oh. Kau mencariku. Tunggu sebentar.”

 

Jessica gugup. Tiffany! Tolong aku.

Suara pintu yang megah itu terdengar terbuka. Tampaklah sosok lelaki yang penuh dengan karisma sambil tersenyum lembut.

“Ya? Ada apa gadis manis?” Ujar lelaki itu sambil tersenyum hangat.

“Maaf, apa Bapak bernama Jung Yunho?” Tanya Jessica hati-hati.

“Ya. Satu-satunya Jung Yunho yang paling tampan.” Ujarnya bercanda.

Jessica tersenyum sopan mendengarnya.

“Dan kau?” Tanya Jung Yunho-Appa Jessica.

Jessica menarik nafas dalam dan menyebutkan namanya.

“Jessica Jung Sooyeon”

DEG!

Jung Yunho menahan nafas mendengar perkataan gadis mungil dan cantik dihadapannya sekarang.

“Kau?” Tanya Jung Yunho memastikan.

“Jessica Jung Sooyeon. Ibuku bernama Kim Hyoyeon.”  Tambah Jessica dengan menyebutkan nama Ibu nya.

Jung Yunho terperanjat mendengar nama itu. Nama itu. Nama itu. Ya Tuhan. Nama itu.

Saat ini Jung Yunho merasa dunia runtuh. Ia benci hal ini. Ia benci melakukan hal ini. Ya. Jung Yunho menangis. Ia menangis mendengar nama wanita bermarga Kim itu. Runtuh sudah dinding tebal yang dibuat Jung Yunho untuk dirinya sendiri. Sekali lagi Jung Yunho menangis dalam diam. Ia menunduk melihat gadis di hadapannya sekarang.

Jung Yunho terduduk lemas. Betapa ia sangat merindukan nama yang disebutkan Jessica.

Jessica terperanjat melihat lelaki -Ayahnya- terduduk di hadapannya.

“Tuan. Ada apa?” Tanya Jessica khawatir. Jujur saja, sosok laki-laki yang ada di hadapnnya sekarang memang masih asing untuknya. Tetapi, ada sesuatu yang ada di dalam hatinya memaksa Jessica untuk berbuat baik seperti sekarang.

Jessica yang tadinya hanya menunduk ikut terduduk saat Jung Yunho tiba-tiba menariknya dan memeluknya. Jessica terperanjat, tetapi ada rasa nyaman. Jessica menyukai sikap lelaki tua yang sedang memeluknya.

“K-Kau anakku. Sooyeon” Ucap Jung Yunho sambil menahan rasa harunya.

“K-Kau anakku. Oh Tuhan. Terimakasih.” Ucap Jung Yunho

Jessica menangis. Gadis itu menangis. Jessica bahagia, karena ia diakui. Harapan Jessica terkabul. Harapan Jessica dan Tiffany. Aku menyayangimu Tiffany-ah.

“K-Kau anakku.” Ucap Jung Yunho untuk yang ketiga kalinya.

Jung Yunho melepas pelukannya dan menatap Jessica dengan air mata yang menggenang.

“Kau tahu? Aku adalah ayahmu. Aku appa mu Sooyeon-ah” Ucap Jung Yunho.

“Ya” Hanya itu yang mampu Jessica ucapkan. Ia tidak mau berbicara banyak karena ia sedang menahan tangisan sekarang. Jessica takut, jika ia berbicara lebih dari ini, air matanya akan tumpah tanpa bisa dikendalikan.

“Maaf karena kau yang akhirnya menemuiku. Bukan aku. Aku memang bukan Ayah yang baik. Apa kau memaafkanku, Sooyeon-ah?” Tanya Yunho dengan sangat jujur.

“Ya” Jawab Jessica sambil mengangguk kecil.

“Oh My Sooyeon. Putriku.” Jung Yunho memeluk Jessica sekali lagi.

 

Jung Yunho bangun dari posisinya sekarang dan ikut menarik Jessica dengan menggenggam tangannya yang mungil.

“Ayo masuk. Kau harus tinggal lebih lama disini. Tidak apa bukan? Kau harus menghubungi Ibu mu dan katakan kau akan tinggal lebih lama disini.” Jung Yunho merangkul Jessica untuk masuk ke dalam rumahnya yang mewah.

“Sebenarnya, Tuan ada yang ingin aku sampaikan.” Sela Jessica cepat.

“Hei. Aku Ayahmu. Jadi berhenti memanggilku Tuan dan panggillah aku Appa. Mengerti?” Ada nada tegas disana. Jessica hanya mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan oleh Ayahnya.

“Appa..” Ucap Jessica ragu. Aneh. Rasanya aneh memanggil dengan sebutan itu. Ibunya memang tidak pernah melarang Jessica untuk bertanya tentang sosok ayahnya tetapi, Ibunya hanya mendengarkan semua yang ditanyakan tanpa pernah menjawab pertanyaan Jessica. Ibunya hanya berkata ‘Pada saatnya kau akan tahu, Sooyeon-ah’.

“Ya?” Jawab Jung Yunho. Kini mereka berdua sudah duduk di sofa yang sangat nyaman dengan meja kecil yang tampak mewah didepannya dan juga TV yang sangat besar dan tentunya yang hanya pernah dilihat Jessica di iklan.

“Ada sesuatu. Ini menyangkut Eomma.” Kata Jessica pelan.

Jung Yunho memejamkan mata. Ia sangat merindukan wanita itu. Sungguh. Jung Yunho kembali membuka matanya.

“Ada apa? Apa pesan eomma mu?”

Jessica menggeleng cepat.

“Bukan pesan dari eomma. Ini tentang eomma, Tuan.”

“Appa” Sela Jung Yunho cepat.

“Appa. Mianhae.” Jessica menunduk.

“Jadi, ada apa dengan eomma mu? Apa ia akan menikah lagi?” Tanya Jung Yunho berusaha bercanda. Tetapi sungguh, ia tidak suka jika perkataannya menjadi kenyataan. Yunho tidak suka gagasan itu. Yunho masih mencintai wanita itu.

“Ani. Eomma sudah meninggal.” Ucap Jessica dengan sangat pelan.

Jung Yunho menahan nafas mendengarnya. Ya Tuhan. Wanita yang dicintainya, dan mungkin masih mencintainya sudah tidak ada lagi.

“Kau serius?”

“Ya. Kemarin.”

“Jadi kau datang kesini”

“Ya. Jika diperbolehkan aku ingin tinggal disini. Aku bukan ingin menginap. Aku ingin tinggal disini.” Ujar Jessica mantap.

66 thoughts on “[Freelance] (Fact) (Chapter 1)

    • wah sampe dicari, gomawo yaa aku terharu dehhhh ;;_;;
      Ceritanya ada di chapter berikutnya yaa😀 Jeti emang the besttt.
      Gomawo, ditunggu yaa^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s