[Freelance] (Destiny – It’s Hurt) (Chapter 3)

Destiny – It’s Hurt [Chapter 3]

 

Poster by : JiHoon Artposter

Author             : Cho Rin Ki “qikiboychan”

Authorfic

Cast                  : Jessica Jung (GG)

Kris Wu (EXO)

Other Cast        : Alexa Wu (Oc)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jongin (EXO)

And Other

Genre               : Romance, sad, litle comedy, friend, family

Disclaimer        : Aku hanya meminjam nama (dan penggambaran fisik) dari orang-orang yang menjadi cast dalam ff ini. Cerita ini murni hasil pemikiranku. Apabila ada kesamaan karakter dan cerita, itu semua hanya kebetulan. Aku buat ff ini karena dengar sound teaser video dan lagu Destinynya Infinite—tanpa memahami maksud dan arti dari lagu itu. Tapi setelah aku memutuskan untuk memahami maksud dari lagu itu, aku jadi semakin berniat ngebuat ff ini.

Author Note     : Maaf banget karena kemoloran ff ini, maaaf banget. Maaf juga kalau ada typo ya.

Semoga suka, happy reading…

 

********************    DESTINY    *******************

Otaknya benar-benar bermasalah saat ini. Alexa duduk dikursi lalu langsung melahap salah satu sandwich yang pasti buatan Jessica untuknya itu, mustahil kalau Kris yang membuat sandwich. Setelah menelan sandwich yang sudah halus dia kunyah, Alexa langsung membesarkan matanya. Sandwich itu tidak mau tertelan, nyangkut ditenggorokannya yang memang kering.

Duk duk duk…

Alexa menepuk dadanya—berharap itu dapat membantu sandwich itu turun—namun tidak membantu sama sekali—malah membuat dadanya sakit. Dia pun langsung berlari kedapur untuk mengambil air minum. Haaah…Hampir saja mati karena makan sandwich.

***Chapter 3***

 

Alexa keluar dari kamarnya setelah mandi—memakai sebuah kemeja motif kotak-kotak catur berwarna merah hitam abu-abu dipadukan dengan sebuah jas dan jeans hitam serta sepatu kets hitamputih bergambar tengkorak merah.

Dia meraih kunci mobil BMW 435i miliknya lalu keluar dari apartement karena telah berjanji akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya di Pheonix café. Rencananya mereka akan makan dulu dicafe itu lalu pergi ke lokasi tempat diadakan balapan mobil liar dan driver.

“Hay…” Sapa Alexa—saat dia sudah sampai dicafe—menghampiri meja no.09 tempat Do dan Lay duduk.

“Hay Alex…” Balas Lay dan Do tersenyum.

“Kemana L ??” Tanya Alexa saat tidak menemukan L diantara kedua sahabatnya ini.

“Dia bilang tidak bisa datang. Katanya harus menjemput hyungya yang ingin liburan dari Jepang satu jam lagi.” Jawab Do—meminum cappuchinonya. Alexa mengangguk-angguk—sok—mengerti.

“Baiklah…Ayo kita pesan makanan, kali ini aku yang traktir hahaha…” Tawa Alexa—entah karena apa—diikuti Do dan Lay yang kesenangan. Yah, paling tidak uang makan mereka tidak terpakai.

 

*************

 

Jessica menatap kedua teman kampusnya yang jam 9 tadi pagi menjemputnya. Memaksanya untuk ikut mereka jalan-jalan, berbelanja dan kesalon. Mereka sekarang sedang berada disebuah ruangan sebuah restoran yang cukup bergengsi bagi kalangan atas.

Wanita dengan tinggi diatas rata-rata bak seorang model terlihat sedang antusias memilih-milih makanan yang akan dipesannya dari dalam daftar menu. Yang satunya lagi—berambut hitam model gelombang tanpa poni—pun melakukan hal yang sama, namun terlihat santai—tidak seantusias wanita tinggi disampingnya.

“Sica-ya ?? YA !!” Wanita berambut hitam di depan Jessica mendorong pelan bahu Jessica.

“Ah… Wae Hyo-ah ??” Jessica yang sedang asik melamun memperhatikan kedua temannya itu pun tersadar.

“Hei kau melamun saja. Tidak ingin makan ?? Ah, aku bahkan sudah sangat kelaparan.” Yang berbadan tinggi memegangi perutnya—membuat Jessica terkikik.

“Aku sudah makan Sooyoung.” Kata Jessica.

“Mwo ?? Ya !! Kapan kau makan ?? Tadi pagi ?? Ini sudah jam makan siang. Kau harus makan juga, cepat pesan makananmu.” Perintah Hyoyeon.

“Ne ne.” Patuh Jessica—tersenyum melihat ekspresi wajah Hyoyeon yang lucu saat mengomelinya—mengambil bolpoin lalu menulis makanan pesanannya diatas sebuah tab yang tersedia disetiap meja yang ada didalam restoran itu.

Restoran ini menggunakan sistem otomatis semua, jadi para pelanggan tidak perlu memanggil pelayan lagi kalau memesan. Hanya tinggal menulis pesanan di atas sebuah tab, maka para pekerja pelayan restoran itu akan dengan cepat membaca—pesanan yang tertulis di tab—dan menyiapkan pesanan lalu mengantarkan pesanan keruangan para pelanggan sesuai nomor kamar makan yang ada di tab.

Selesai makan—dengan Hyoyeon yang mebayar semua biaya makan mereka, Jessica diajak kedua temannya itu pergi kesebuah salon ternama di Gangnam—“Rainbow Salon”.

 

*************

 

Jessica diam memperhatikan penampilannya dicermin besar yang ada didepannya—didepan kedua temannya juga. Dia khawatir jika ada yang tidak setuju dengan stylenya sekarang.

“Wae Sica ya ??” Tanya Hyoyeon mengerutkan keningnya melihat Jessica yang kembali melamun.

“Ah, anieyo. Igeneun, gwaenchana ??” Tanya Jessica memegang rambutnya yang sudah berbeda style dengan dia datang kesalon ini tadi.

“Ah wae ?? Seperti ini kau jadi terlihat lebih manis Sica-ya, terlihat seperti masih siswa high school.” Ucap Sooyoung disetujui dengan anggukan kepala yang diberikan oleh Hyoyeon.

“Ah jinja ??” Jessica kembali memastikan.

“Ne jinja-yo.” Kata Sooyoung lagi. Membuat Jessica tersenyum sambil merapikan rambutnya yang sekarang berwarna pirang dengan sedikit efek keemasan dan lebih pendek—hanya sebatas bahu, sedikit lebih panjang. Dia pun mengenakan poni sekarang,—dan memang terlihat lebih manis dari pada model rambut panjang dengan warna coklat tembaga sebelumnya.

Semoga saja Alexa tidak memprotes ini—batin Jessica tidak terlalu khawatir karena rambutnya cepat tumbuh dan panjang kembali —mengingat Alexa sangat menyukai rambut panjangnya. Mereka bertiga pun beranjak keluar dari dalam salon itu setelah semuanya selesai. Hyoyeon dengan rambutnya yang kini blonde dengan gelombang-gelombang kecil di batas leher sampai ujung rambut dan Sooyoung yang rambutnya lurus berponi jatuh kedepan.

 

**************

 

Seorang laki-laki berparas sempurna terlihat diam—menganduk-aduk minumanya—mendengarkan wanita yang terus berbicara didepannya ini. Wanita berambut merah ini membicarakan semua yang bisa dia bicarakan.

“Kris, do you hear me ??” Tanya wanita berambut merah itu—heran—menatap Kris yang terlihat melamun.

“Ah. Ya, ada apa Fany ??” Tanya Kris tersadar saat wanita berambut merah bernama Tiffany itu menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Kris.

“Oh God. Aku berbicara panjang lebar, tapi ternyata kau sama sekali tidak mendengar apapun yang aku katakan Kris. Oh Tuhan bunuhlah aku.” Kesal Tiffany.

Amin. Dalam hati, dengan sangat antusias Kris meng-aminkan apa yang dikatakan wanita itu barusan. Tapi keantusiasannya itu benar-benar refleks dia lakukan, membuatnya terkikik. Tiffany yang mengira Kris sedang mentertawakannya pun semakin kesal.

“Hais, tidak ada gunanya aku membawamu. Kau masih tetap membosankan, lebih baik tadi aku menarik Chanyeol yang cerewet itu.” Tiffany menggerutu sambil berdiri, meraih tasnya lalu menghampiri Kris. Dia menunduk mengecup bibir kris lalu pergi meninggalkan Kris sendiri dicafe. Kris menatap kepergian Tiffany—datar.

Beberapa menit kemudian, Kris merongoh kantong celananya—mengambil handphonenya, lalu menelpon salah satu sahabatnya. Setelah menelpon Chanyeol dan menanyakan keberadaan sahabatnya itu sekarang, Kris pun beranjak dari café untuk pergi menyusul Chanyeol.

 

**************

 

Jarum jam didinding dan pergelangan tangan sudah menunjuk angka 5, yang itu berarti ini sudah jam 5 sore dan Jessica sudah berada dirumah sendirian selama 2 jam—setelah kembali dari ditraktir oleh kedua teman kampusnya yang lumayan dekat dengannya tadi.

Dia sudah biasa sendiri seperti ini karena kalau sudah hari libur begini—sabtu, kedua kakak beradik yang selalu bertengkar akhir-akhir ini itu akan jarang ada dirumah dan baru akan kembali setelah sudah lewat tengah malam atau bahkan tidak pulang sampai besok malam.

Tidak lama, rasa bosan mulai menyerang Jessica. Dia meraih handphonenya—yang berdering—diatas meja kecil didepan sofa yang tengah dia duduki. Dia benar-benar terlihat seperti gadis berumur 18 tahun dengan penampilannya sekarang—lebih fress dengan hotpants dan t-sirt putih yang sedikit kebesaran bertuliskan “PART TIME MILLIONAIRE”.

“Yeoboseyo…” Sapa Jessica meletakkan hp ditelinga kanannya.

“…”

“Ah, ne. Aku sedang bosan disini sendirian.”

“…”

“Jemput aku ya, aku sedang malas menyetir.”

“…”

“Kau bisa menjemputku sekarang, aku sudah siap.”

“…”

“Ne, annyeong.” Jessica memasukkan hp kedalam saku samping kanan celananya lalu berjalan menuju kamar. Jessica keluar dari apartemennya dengan tas yang tersampir dibahu kanannya dan sepatu kets hitam putih—masih memakai baju dan hotpants tadi.

“Annyeong…” Sapa Jessica saat sebuah mobil yang dikenalinya sudah terparkir didepan—menunggunya.

“Annyeong, ayo masuk.”

“Ne, kau sudah lama Kai ??” Tanya Jessica sambil menutup pintu mobil Camaro milik Kai.

“Belum, aku bahkan baru sampai ketika kau keluar.” Kai terkekeh.

“Wae ??” Tanya Jessica.

“Tidak, hanya saja kau terlihat begitu manis dengan penampilan barumu.” Puji Kai dengan senyuman manisnya kearah Jessica. Yang dipuji hanya bisa tersipu.

“Gumawo Kai-ah.” Ucap Jessica.

“Kkk~ Aigoo gwiyeopta.” Kai yang gemas, meng-acak pelan poni Jessica membuat Jessica pun tertawa pelan karenanya. “Oke, kajja.” Semangat Kai menghidupkan mesin mobilnya, lalu menginjak pedal gas. Perlahan mobil yang mereka kendarai bergerak—meninggalkan kawasan apartemen mewah yang Jessica dan Wu bersaudara tempati.

 

****************

 

Jessica diam menatap seorang wanita—berambut merah—yang terlihat sedang kesal kepada lelaki—berambut pirang—yang ada dihadapannya. Namun setelah beberapa saat, wanita itu berdiri dan mengecup sekilas bibir laki-laki yang hanya diam dihadapannya.

Tangan Jessica merebas bajunya—dibawah meja—melihat pemandangan yang tidak jauh darinya itu. Dia melihat laki-laki berambut oirang itu menelpon seseorang lalu pergi dari café tempat mereka sekarang.

Dia bingung, entah kenapa. Saat disengaja maupun tidak, dia selalu melihat sebuah kejadian yang menyakiti hatinya. Sempat terlintas kata menyerah di fikirannya, namun kehadiran Alexa dikehidupannya membuatnya terus menahan sakit dihatinya. Dia begitu menyayangi gadis itu.

Jessica pun memutuskan untuk terus saja menjalani kehidupannya. Dia yakin apapun yang terjadi Alexa akan terus bersama dan mendukungnya. Walaupun rasa bersalah selalu menghantuinya ketika melihat kedua kakak beradik—Kris dan Alexa—bertengkar hanya karena dirinya atau hal-hal kecil yang menyangkut dirinya.

“Sica ??” Jessica sedikit tersentak—sadar—dari lamunannya saat Kai memanggilnya—memegang pundaknya.

“Ada apa ??” Tanya Kai.

“Ah, tidak.” Ucap Jessica.

“Kau menangis.” Kai menghapus air mata Jessica yang mengalir.

Jessica terkejut, tentu saja. Bisa-bisanya dia tidak sadar kalau dia ternyata melamun sambil menangis. Ah, memalukan.

“Tidak, Kai. Ini hanya…”

“Ku mohon, jangan menyimpan masalahmu sendirian lagi.” Kai menangkup wajah Jessica dengan kedua tangannya dan kedua manik matanya menatap sendu mata sembab Jessica. “Masih sangat banyak orang yang menyayangimu Sica.” Tambah Kai.

“Aku mengerti.” Jessica tersenyum manis. Kai pun tersenyum—mengelus lembut rambut Jessica—melihat orang yang disayanginya itu kini tersenyum manis dan memakan pesanan mereka tadi.

 

****************

 

Kris menatap sebentar seorang wanita dan laki-laki yang berada didalam café—tempat dia keluar beberapa saat yang lalu. Bisa dia liat dengan jelas disana, laki-laki itu menangkup wajah wanita yang ada disampingnya.

Dengan senyuman sinis, Kris menghidupkan mesin motornya dan melajukannya dengan kecepatan 125 km/jam menuju tempat yang di sebutkan Chanyeol tadi.

Tidak butuh waktu lama, Kris sudah berada disebuah area balap liar yang sangat ramai akan sorakan-sorakan penonton yang mendukung pembalap idolanya disana. Dia pun segera mencari sosok sahabatnya yang sudah lebih dulu berada disana—Chanyeol.

Setelah beberapa saat, Kris dapat melihat siluet sahabatnya itu dalam sebuah kerubunan penonton yang melihat balapan mobil didalam arena balap. Dia segera masuk kedalam kerubunan itu lalu menepuk bahu Chanyeol—yang sedikit terkejut—namun langsung tersenyum setelah tau siapa yang menepuk bahunya.

“Hay gege…” Teriak Chanyeol. Kris tersenyum lalu menyapa Do dan Lay ternyata juga ada disana—mereka pun baru menyadari kedatangan Kris.

“Mana Alexa ??” Tanya Kris yang langsung disambut sorakan kemenangan dari ketiga orang—dan banyak lagi yang ikut mendukung peserta yang mengendarai mobil BMW 435i berwarna putih—disampingnya.

“Dia baru saja lewat didepan kita ge, URUTAN PERTAMA WOHOOO !!!” Teriak Chanyeol ikut bersorak bersama yang lain lalu mereka ber-4 menghampiri mobil berwarna putih itu—si pengendara baru keluar dari dalam mobilnya—bersorak.

“Yeaah !!!” Teriak mereka ber-tos ria. Namun ketika mata sipengendara mobil putih itu bertemu dengan mata Kris, dia diam lalu sedikit tersenyum dengan sedikit kesan sinis.

“Ale…”

“Jika kau kesini hanya untuk melarang ku melakukan apa yang aku suka, lebih baik kau tidak usah datang Kris. Kau hanya akan merusak suasana hati ku.” Alexa, dia memotong perkataan yang akan keluar dari dalam mulut Kris karena dia tau apa yang akan Kris katakan.

Lalu seseorang datang kearah mereka, memberikan sebuah tas hitam yang lumayan besar kepada Alexa. Isi tas itu tentu saja uang hasil kemenangannya diarena balap tadi.

Kris hanya bisa diam memperhatikan Alexa yang tengah merayakan kemenangannya bersama teman-temannya. Hingga seseorang yang tidak disukai Kris datang, menepuk pundak Alexa—adiknya—dan disambut senang oleh Alexa, Do dan Lay.

“L !! Akhirnya kau datang juga.” Alexa merangkul L—sahabatnya yang baru saja datang.

“Maaf, hyung ku meminta bantuan membereskan apartemennya dulu tadi. Setelah selesai dia mentraktirku makan lalu dia ingin jalan-jalan sendiri.” Mereka tertawa bersama mendengar cerita L. “Bagaimana pertandingannya ??” Tanya L.

Alexa langsung mengangkat tas hitam yang sejak tadi di tentengnya. Tas yang sangat familiar bagi orang-orang yang sering menonton balapan liar diarena ini.

“Waah…Kemampuanmu tidak berkurang ternyata.” Mereka tertawa lagi.

 

*************

 

Jessica duduk sambil menikmati ice cream coklatnya di bangku taman. Kai telah pergi karena ada urusan mendadak—ibunya sakit—sehingga dia terpaksa harus membiarkan Jessica pulang sendiri.

Tapi bukannya pulang, Jessica malah jalan-jalan sendiri, membeli ice cream lalu duduk dibangku taman. Melihat-lihat para pengunjung taman yang lalu-lalang.

 

*************

 

Alexa bersama teman-temannya—Do, Lay, L dan Chanyeol—sekarang berada disebuah club untuk merayakan kemenangan Alexa. Sebenarnya Kris juga diajak, namun dia lebih memilih pergi sendiri.

“Waaah,, banyak wanita sexy disini. Tempat ini benar-benar hebat.” Ucap Chanyeol menunjukkan cengirannya. Alexa memutar matanya mendengar perkataan Chanyeol.

“Ingat yang di Canada. Wanita-wanita disini tidak sebanding dengannya.” Ejek Alexa—tersenyum menyembunyikan sesuatu yang ada dibelakang Chanyeol.

“Oh tentu saja, tapi menyegarkan mata boleh donk. Mumpung dia belum datang dari sa…AU SIAPA K…Ehehe…”

“Apa tuan Park ?? Kau masih saja suka mencari kesempatan ya !!”

Alexa dan ketiga temannya tertawa keras melihat telinga Chanyeol yang dijewer oleh kekasihnya—Sulli, Choi Sulli—yang tanpa sepengetahuan Chanyeol sudah kembali dari Canada dan tepat berada dibelakangnya.

“Ayo ikut aku Mr. Park !!”

“Au au, oke oke… Tapi lepaskan tanganmu Jagi, sakit.” Ringis Chanyeol berusaha melepaskan tangan Sulli dari telinganya.

“Byeee !!! Semoga harimu menyenangkan tuan Park !!” Ledek Alexa lagi, melihat Chanyeol yang masih meringis keluar dari club karena Sulli tidak mau melepas jewerannya.

“Telinganya pasti akan semakin panjang hahahaha…” Tawa mereka bersama.

*************

 

Kris berjalan dijalan yang ada ditepi sungan Han. Keindahan pemandangan yang ada disana mampu membuat hati semua yang melihat menjadi senang dan gembira. Tapi itu tidak berlaku untuk Kris. Dia merasa kosong mengingat masa lalunya—tentang cinta—yang bisa membuat dia menjadi trauma untuk mencintai seseorang lagi saat ini.

Brugkh !!!

Karena tidak memperhatikan jalannya, Kris menabrak tubuh seseorang—pria—hingga handphone pria itu terhempas kejalan yang mereka lalui.

Kris diam menatap sebentar wajah orang yang ditabraknya, kemuadian dia sedikit membungkuk. Pria dengan syal pink dilehernya itu sedikit tersenyum.

“It’s ok Mr. I’m fine.” Pria itu pun mengambil ponselnya yang jatuh didekat kakinya. “My phone it’s ok, see you and tersenyumlah. Kau akan terlihat lebih tampan.” Ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan Kris.

“Dasar aneh. Aku tetap tampan, bagaimanapun itu. Heh pria bersyal pink.” Kris pun berlalu dengan sedikit mengejek pria tadi.

 

**************

 

Beberapa puluh menit berlalu dan 3 cup ice cream sudah habis masuk kedalam perut Jessica. Kini Jessica pun hanya mempoutkan bibirnya, kedua tangannya berada dikedua sisi tubuhnya dan kedua kakinya—yang tidak menyentuh tanah—mengayun pelan.

Drrrt drrrt

Merasa handphonenya bergetar, Jessica pun mengambil handphonenya dari saku depan hotpantsnya.

“Yeoboseo…”

“…”

“Aku ditaman, jangan khawatir.”

“…”

“Hanya 500 meter dari rumah, Alex…”

“…”

“Iya iya aku tau…Bye…”

Jessica meletakkan kembali hadnphonenya disaku depan hotpantsnya—setelah berbicara dengan Alexa, orang yang menelponnya—lalu berdiri. Berjalan meninggalkan taman menuju kesebuah café yang jaraknya sekitar 300 meter dari taman tempat dia tadi.

Jessica duduk sambil memainkan handphonenya—mencari berita terbaru tentang selebriti favoritenya—setelah selesai memesan secangkir coklat panas dan black chocolate cake.

Sebentar-sebentar Jessica tersenyum membaca artikel dilayar handphonenya dan dia sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang—baru datang—memperhatikannya sejak beberapa detik yang lalu dari kursi meja yang ada didepannya.

Laki-laki bersyal pink itu pun berdiri dari kursinya—mengabaikan pelayan café yang menghampirinya—setelah yakin bahwa wanita muda yang dia perhatikan itu adalah seseorang yang dia kenal.

“Sica ??” Panggilnya dengan nada yang sedikit bertanya—mungkin dia salah orang.

Namun saat wanita itu mendongak—menatap wajahnya balik—laki-laki itu langsung tersenyum puas, bahagia dan telihat lega. Sedangkan yang dia panggil—Jessica—hanya bisa diam terpaku menatap wajah orang yang memanggil namanya beberapa saat yang lalu.

“Oppa…” Panggilan itu terucap begitu saja dari bibir Jessica—sambil berdiri—dengan mata yang masih terpaku—tidak percaya—dengan manik mata laki-laki yang ada dihadapannya itu.

Perlahan senyuman Jessica mengembang dan saat itu juga laki-laki bersyal pink itu menarik Jessica kedalam pelukannya.

“Sica-ya…” Ucap pria itu lagi—pelan.

 

**TBC**

 

Author Note : Maaf banget buat lanjutan Destiny yang lama banget ini. Fell aq berhamburan karena kerjaan yang ribet. Ini aja lanjutin nya sedikit demi sedikit diwaktu istirahat kerja. Daaan, laptop aq rusaaaak…

Oh my, musibah banget itu. N rusaknya udah ga bisa dibagusin lagi. Skitar 45gb data SM’Ent aq, n skitar 20gb data campuran aq hilang semua L …

Jadi aq pinjam laptop kaka aq sebentar, n kalau dia mau pake terpaksa stop. Derita guee…

Terima kasih buat yang udah mau baca,, maaf kalo kalian ga dapat fellnya, see you in next chap ya…

Annyeong…

62 thoughts on “[Freelance] (Destiny – It’s Hurt) (Chapter 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s