Setitik Embun….

Setitik-Embun

Writer:

AudiaJulia

Length: ficlet | Genre: romance (i think it’s fluffy!) and sometimes comedy | Rating: General/Teen (i don’t sure~ #kenatabok)

Cast:

Wu Yifan (EXO-M Kris) | Jessica Jung

Disclaimer:

Jalan cerita tiba-tiba nyembul dari otak saya.__.v entah kenapa abis iseng-iseng nulis judulnya kepikiran bikin beginian ==” and for quote…… /screams/ maaf, aku nggak tahu apa nyambungnya ama ceritanya -_________-

A/N:

Saya author ba–lama. Tapi, dengan bejatnya, baru ngeshare fanfiction sekarang -_______- oke, saya khilafff~ mungkin judulnya (sangat) aneh? Biarlah. Yang penting, saya harus tahu siapa guru IPS baru yang mengajar bulan depan (lho?).

Warning, agak gaje!

Happy Reading!

“Kris, berapa kali harus kukatakan? Menunggu itu tidaklah mudah….”

….

Wu Yifan sedang berbahagia hari ini.

Berulangtahun? Bukan. Ulang tahunnya sudah lewat nyaris berminggu-minggu yang lalu. Bahkan, ketika dia mendapat kejutan kecil dari teman-temannya, dia hanya tersenyum tipis tanpa berkata apapun, mata berkaca-kaca? Dia mengaku tidak punya cermin—bahkan, dia berpikir tidak akan pernah mempunyai sebuah cermin (tunggu, kenapa Kris mendadak sedikit Vickynisasi?).

Kenaikan kelas? Kris sudah lulus dari universitasnya bertahun-tahun yang lalu. Mendadak jatuh dari pohon? Juga bukan, dia pasti akan dihisteris-histeriskan oleh fans dan member exo lainnya jika seandainya hal itu terjadi. Tersengat listrik? Baru saja kena bola? Atau lainnya?

Bukan juga.

Kris, pemuda itu, dia akan berusaha melamar kekasihnya. Jessica Jung—ya, yeoja itu, yang sukses membuatnya tidak makan, tidak tidur,  tidak melaukan apapun di atas tempat tidur sambil berkata, “Kau cantik sekali” di hadapan foto Mpok Nori (okay, ini lebay). Sekali lagi, Jessica-lah yeoja yang sukses membuat Kris jatuh hati hingga dia terjatuh dari sepeda motornya hingga dia sukses menjerat-jerit kesakitan di rumah sakit.

Ya, jika ada seorang yeoja yang membuat Kris mabuk kepayang, Nona Jung orangnya.

“Kris lama sekali.”

Kris tersenyum tipis. Jessica sudah ada dihadapannya. Pertemuan itu dimulai di sebuah coffee shop yang selalu menjadi langganan mereka berdua setiap mereka melakukan pertemuan—sebenarnya, Jessica protes, dia tidak suka kopi, tapi Kris tetap saja memesankan kopi untuknya. Bahkan, dia sampai mual tiga hari karena Kris memesankan kopi super-pahit yang tidak dia ketahui namanya dan memaksanya untuk minum.

Kris menggeser tempat duduknya. Dia mengubah senyumnya—dari tipis menjadi sedikit lebar. Jessica berusaha menahan tawa begitu dia melihat keanehan pada gigi Kris (oke, ini tidak perlu dibahas lebih lanjut).

“Uhm,” Kris berdehem.

Mata binar Jessica masih menatap Kris, menunggu kalimat yang akan diutarakannya selanjutnya.

Sebenarnya, jika dinalar, Kris adalah seorang pemuda gagu yang tidak mempunyai pengalaman menyatakan perasaannya. Saat usianya 17 tahun, Kris nyaris mengencani seorang wanita yang lebih muda 3 tahun darinya—jika saja waktu itu dia tidak tergagap-gagap hingga nyaris jatuh pingsan, ditambah bunga yang dibawanya juga sudah “kadaluarsa” 5 minggu yang lalu.

Itu bukan pengalaman. Baginya, itu adalah kejadian awkward (sama saja).

Dia juga tergolong sebagai “pemuda yang nyaris tidak bisa merasakan sentuhan komedi selama 91 tahun” saat menjadi mahasiswa di sebuah universitas di Seoul, karenanya dia nyaris selama 5 tahun menjabat sebagai mahasiswa disana, dia tidak pernah menunjukkan kepada semua orang bagaimana caranya tersenyum lebar ala Wu Yifan. Ya, saat itu dia terkena efek radiasi nuklir (kata teman-temannya), sehingga dia tidak tahu bagaimana harus tertawa atau sekedar tersenyum—tapi, yang menjadi pertanyaan, kenapa author menulis bagian ini?

Abaikan. Sekali lagi abaikan.

Kali ini, aku akan.

Kris sudah mengkhatamkan buku “Bagaimana Cara Memahami Perasaan Wanita” bagian satu dan dua, juga dia sudah ulangan buku “Hal-Hal yang Tidak Disukai Wanita dan Bagaimana Cara Mendapatkan Hatinya” selama 9 kali dan sukses tidak kena remidial sekalipun. Ditambah, dia sudah membaca buku “Kisah Sukses Pernikahan Seseorang” selama 99 kali (meskipun seringkali tidak paham isinya). Hingga, dia bahkan sampai begadang untuk menghafal bagian-bagian penting di buku “Isi Hati Wanita yang Seringkali Membuat Pria Tidak Peka”. Itu semua dilakukannya untuk melamar Nona Jung hari ini.

Jessica masih menatap Kris dengan tatapan “apa yang akan kau bicarakan”. Sedangkan yang ditatap hanya menatap kupu-kupu yang hinggap di salah satu tiang yang seolah-olah menyangga langit-langit cafe.

Aku harus bisa.

Karena Nona Jung adalah orang terakhir. Baginya.

Ini saatnya.

Kris—tanpa mengalihkan pandangannya—mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Jessica sedikit menangkap apa yang dikeluarkan pemuda gagu itu.

Kotak cincin. Itu jika penglihatannya tidak salah ataupun kabur.

Jessica mendengar helaan napas dari Kris.

Wu Yifan, kita lihat apa yang akan kau lakukan sekarang.

Jarum jam terus berdetak. Kris masih membuat Jessica menunggu, Jessica masih dibuat menunggu oleh Kris, dan author dibuat kesal oleh Choi Seunghyun (abaikan).

Lima menit.

Nona Jung tidak bergerak sedikitpun. Dia hanya bernafas. Begitu pula Tuan Wu.

Lima belas menit.

Nona Jung mengalihkan pandangannya ke arah waiter yang tengah mengantarkan pesanan. Tuan Wu masih menatap tiang penyangga dengan tatapan aneh. Kupu-kupu itu sudah kabur sembilan menit yang lalu.

Dua puluh menit.

Nona Jung mengalihkan pandangannya lagi kearah Tuan Wu. Tuan Wu masih tidak mau mengalihkan pandangannya.

Kris, apa yang kau lakukan….

Dua puluh lima menit.

Nona Jung ingin membanting semua yang ada di ruangan itu. Tuan Wu sungguh membuatnya sangat kesal.

Dia menatap Kris. Sama sekali tidak bergerak, dengan benda yang belum ditunjukkan (yang menurutnya itu adalah kotak cincin), dan tatapan yang terus mengarah ke tiang penyangga. Kini, objeknya beda lagi. Burung kenari, jika Nona Jung tidak salah mengenali.

Oh, bukankah Kris adalah seorang pemuda yang sangat menyenangkan begitu awal-awal mereka berkenalan?

Jessica berpikir begitu. Dia berusaha menepis anggapan buruk soal Tuan Wu.

Kau ingin melakukan sesuatu agar aku kesal kan, Kris?

Tiga puluh menit.

Ini sudah terlalu lama. Tidak, tidak. Jessica baru mengenal kata lama jika sudah menginjak “satu setengah jam”. Lagipula, dia diajarkan ibunya untuk tidak menggerutu jika menunggu sesuatu.

Terutama untuk hal ini.

Nona Jung terpaksa (dia berusaha menghilangkan kalimat itu) bersabar. Kris masih tidak beranjak dari pandangannya. Kris, begitu dia bertemu pemuda gagu itu, dia merasa jika Kris adalah pemuda terbaik diseluruh dunia—dia benar-benar menepukan seorang pemuda dengan tipe idealnya.

Terlebih lagi, selama masa-masa berpacaran, Kris membuat Jessica sangat begitu nyaman disebelahnya. Meskipun kata orang Kris harus mencari di buku Sejarah bagaimana cara untuk tersenyum lebar, di hadapan Jessica, Kris sering memamerkan senyuman khasnya (ditambah membuat Jessica terbahak begitu melihat gigi depannya).

Nona Jung masih menatap Kris. Dia ingin kelanjutan kalimat dan gerakan refleks selanjutnya yang akan diatraksikan oleh Tuan Wu.

Tapi, jika selama ini?

Apa yang dilakukan Tuan Wu?

Bertapa?

Tiga puluh lima menit.

Sungguh, Nona Jung ingin menampar Tuan Wu.

Dalam hatinya, dia ingin memaki-maki Tuan Wu secara sarkasme. Tapi, orang tuanya tidak pernah mengajarkan hal itu. Sama sekali.

Tapi, untuk keadaan seperti ini, apa yang harus dilakukannya?

Jessica sekali lagi terpaksa bersabar.

Tapi dia berusaha untuk tidak memaki-maki orang yang kini ada dihadapannya. Karena dia tahu, orang yang ada dihadapannya kini sedang jatuh cinta (oke, ini tidak perlu dibahas).

–Hingga berlama-lama-lama-lama-lama-lama-lama kemudian….

Nona Jung sudah kehilangan kesabaran.

Siapa yang tahan disuruh menunggu selama itu? Apalagi, jika ini adalah event yang menentukan—apakah dia harus melanjutkan hubungan ini ke tingkat yang lebih serius atau tidak? Yang jelas, hari ini, detik ini, sekarang, Nona Jung—

“CUKUP!”

Kris tersentak. Lamuannya buyar. Dilihatnya wajah garang Jessica.

Oh, ini termasuk bagian—

“APA YANG SEBENARNYA INGIN KAU KATAKAN, TUAN WU YIFAN?!” Jessica ingin membanting semua yang ada di ruangan itu. “SUNGGUH, AKU TIDAK TAHAN! JIKA SAJA KAU TIDAK SERIUS, LEBIH BAIK IZINKAN AKU MENONTON SPONGEBOB SELAMA SEHARI PENUH, WU YIFAN! AKU TIDAK TAHAN!”

Kris terdiam untuk sesaat. Ternyata, semua kalimat yang menunjukkan wanita ketika selama berada dalam hubungan di semua buku yang dia baca ternyata tidak mencirikan semua reaksi wanita. Contohnya? Let’s talk about Jessica.

Kris masih diam. Dia dapat melihat jelas wajah garang Nona Jung.

“DAN APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN, KRIS?! JIKA KAU INGIN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGANKU, LEBIH BAIK KATAKAN SAJA!” Semua kalimat yang tercetak caps lock yang dikatakan oleh Nona Jung diucapkannya dalam keadaan bediri. “JIKA KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUATKU MARAH, LEBIH BAIK KATAKAN SAJA!!”

Wanita itu makhluk ciptaan Tuhan juga ya….

Kris adalah makhluk te-random sedunia. Untuk hari ini.

“Jessica… de-dengarkan aku dulu….”

“Apa?”

“Aku….”

“Aku tidak mau menunggu lagi, Wu Yifan,” suara Jessica melemah. Dia menempati tempat duduknya. “Jangan buat aku menunggu lagi.”

“Tidak akan.”

Kalimat itu tidak membuat Nona Jung percaya seratus persen. Minimal, dia sudah mendapatkan 75 persen.

“Uhm, begini,” Kris berdehem lagi. Dia terdiam.

“—Hei, bicaralah!” Jessica membuyarkan lamuan Kris lagi. “Jika kau tidak bicara lagi, lebih baik aku pulang saja.”

“Kau cantik.”

“Ya, lalu?”

“Aku….”

“Jangan tersendat lagi, Wu Yif—“

“AAAH—KAU SEPERTI SETITIK EMBUN DI PAGI HARI!” seru Kris akhirnya. Dia mengeluarkan kalimat yang tersendat selama berlama-lama menit. Kalimat yang sukses membuat Nona Jung terlena bermenit-menit lamanya.

Jessica terdiam. Dia berusaha mencerna kalimat Kris.

Diucapkan dengan marah, tidak ikhlas, atau setengah seperti sepatu terinjak.

Tapi dia sadar, Tuan Wu sama sekali tidak ada nada kemarahan dalam kalimatnya.

Dia baru menyadari sisi romantis Tuan Wu. Hari ini.

Tuan Wu mengenggam tangan Jessica dengan kedua tangannya. Jessica menatap Tuan Wu, sisi romantis apalagi yang akan ditunjukkan Tuan Wu?

“Sungguh, Jessica, kau benar-benar berbeda dari semua wanita yang kutemui,” ucap Kris sambil tersenyum lebar. Jessica berusaha menahan tawa melihat gigi depannya yang terlalu menonjol. “Jika bisa kuibaratkan, kau sebelas-duabelas dengan… setitik embun….”

Jessica tersenyum tipis. Sudah puitis, tapi masih terdengar aneh. Lanjutkan, Kris.

“Sekali lagi, kau berbeda. Sangat berbeda. Pertama kali bertemu denganmu, aku sudah merasakan aura yang berbeda darimu, Jessica.”

Jessica tersenyum tipis. Ya, waktu itu kau berteriak-teriak lupa bagaimana caranya berdiri.

“Dan untuk kali ini, aku ingin mengatakan satu hal padamu.”

Ya, jangan mengulur waktu lagi.

“—Bahwa, kau, Jessica Jung, dengan nama asli Jung Sooyeon….”

Lagi-lagi, Tuan Wu mengulur waktu.

“Oke, Kris, aku tidak ingin merusak suasana ini—tapi, bisakah kau cepat sedikit?”

Jessica teringat dengan kartun Doraemon yang belum selesai dilihatnya.

“Err—bisa, bisaaa… tapi agak kulamakan, aku lupa dengan kalimat yang kubaca di buku ‘Bagaimana Wanita Menyembunyikan Perasaannya’….”

Jessica tersenyum tipis. Aneh.

“Ya, kuberi waktu kau berpikir selama—“

“AAAH, YAAA!” teriakan Tuan Wu sukses membuat semua orang di cafe itu menoleh. “YA, YA, YAAAAA! AKU INGAT, AKU INGAT!”

Jessica menunduk dalam-dalam.

Aku malu.

Dia merasa semua orang di cafe itu memperhatikan mereka berdua.

“AH YA, NONA JESSICA JUNG~~~” Jessica makin menunduk. “Kau tahu, apa yang kupikirkan tentangmu?”

Aku tidak peduli, lanjutkan—

“Kau cantik, bagaikan setitik embun!”

“YA, AKU TAHU ITU!” Jessica berteriak lagi, dia melepaskan genggaman tangan Kris, dan mulai berdiri. “CUKUP, APALAGI YANG AKAN KAU KATAKAN, WU YIFAN?! SETITIK EMBUN LAGI?! OKE, SUDAH CU—“

“Tunggu Jessica, dengarkan aku dulu—“ Kris mengenggam tangan Jessica.

“Apalagi?!”

“Kau bagiakan seti—“

“CUKUP! AKU TIDAK MAU DENGAR!” Jessica baru bisa berjalan jika saja Kris tidak menguatkan genggamannya.

“Heei, dengarkan aku duluuuuu! Kau mau tidak, jadi istriku?”

Jessica terdiam untuk beberapa saat.

Menjadi istri pemuda gagu?

Jessica menatap Kris. Kris, pemuda itu sukses mengalihkan pikirannya berkali-kali.

“Jika tidak, lebih baik kuberikan pada yang lain saja,” Kris menggoyang-goyangkan benda yang akan dikeluarkannya tadi.

Kotak cincin.

Jessica menghela napas. Dia terseyum.

Lebar.

“A, aku ma—“

“Dengarkan aku dulu. Jangan pergi dulu, ya?”

Jessica menurut. Dia duduk di kursinya lagi, Kris mengenggam tangannya lagi.

Apa yang akan kau lakukan lagi….

“Dan yaa~ kau itu bagaikan setitik… jangan dipotong, oke? Jangan dipotong!”

Jessica terpaksa menurut.

“Kau itu bagaikan embun. Aku tidak tahu bagaimana kalimat pastinya, Jessica. Tapi, percayalah, kau itu bagaikan embun. Sebelas-dua belas.”

Jessica tersenyum. Kris memang tidak bisa menggombal, tapi—yah, dia terima saja.

“Terima kasih, Kris.”

“Ya, kau itu seperti setitik embun,” ucap Kris. Jessica tersenyum tipis, diulangi lagi. “Yang terjatuh dari—“

Kalimat itu membuat Jessica sedikit excited. Apalagi, setelah mengucapkan kalimat itu, Kris terdiam lagi.

“Terjatuh darimana?” Jessica mendesak. Kris masih diam. “Ayolah! Jika kau tidak mengucapkan kalimat yang sebenarnya, readers makin bosan, dan author ingin tidur secepatnya!” (oke, ketahuan aku nulisnya malam-malam)

Kris masih terdiam.

“Kris, kau ingin aku pergi lagi?” Jessica sedikit menampilkan wajah garangnya. “Ayolah, mau sampai kapan kau terdiam seperti i—“

“P….”

“P apa?” Kris mengucapkan hal itu dengan lirih, tapi Jessica menangkapnya. Karena suasana di cafe itu terlampau sepi.

“—P, P, P….”

“KAU MAU AKU MELEMPAR SEMUA YANG ADA DISINI?!” Emosi Jessica terombang-ambing. “AYOLAH! APA YANG AKAN—“

“Pa, Pa, Pasar….”

Diam. Hanya itulah yang terjadi selanjutnya. Apalagi, Kris mengatakannya dengan intonasi yang sangat tidak jelas.

Hanya itulah yang terjadi. Setidaknya, sampai lima belas menit kemudian—

“WU YIFAN, KAU INGIN AKU MEMBUATMU MASUK RUMAH SAKITKAH???? KAU BENAR-BENAR SANGAT MENYEBALKAAAAAAAN!!”

-FIN-

The gaje-est fanfic who i’ve ever write ;_; #grammarsalah #dihajarreaders #RIPEnglish #udahgajegakngenakinpula

Oke, maaf Krisnya agak nyebelin (banget malahan) x3 jika kalian banyak menemukan unsur kegajean, salahkan saja orang ini #abaikan #malahnyarikambinghitam

Thank you for reading! KALIAN LUAR BIASAAAAAAAAAA! ‘-‘)/

 

31 thoughts on “Setitik Embun….

  1. Hwahahahahahaha! Sukses bikin ngakak,😄
    Gak bisa bayangin kalo ini jadi kenyataan /? Pasti bukannya terharu malah ngakak guling guling wkwkwk

  2. wkwkwkwkkwwkk…ketawa sampe guling” di lantai terus bangun lagi sambil cakar” tembok..lucu banget sumvah!! si kris niat nglamar sica eonni gak sih? masa abang kris sampe bilang :“Jika tidak, lebih baik kuberikan pada yang lain saja” #kotak cincin hahahhahaa…author bisa aja bikin cerita gini ^ ^

    • ADUH KAMU SETRESS YAAA KOK SAMPE CAKAR-CAKAR TEMBOK GITUUU (?) O__O FIC INI TERNYATA MENGANDUNG EFEK SAMPING JUGAAA O______O #kenatabok
      Kris emang rada plin plan disini O_O jadi maklumi saja ya O.O (?)

  3. Hahahahh…
    Lucu banget tingkah laku kriss..
    tapi jessica eonnie masih sabar juga yah…
    setidaknya jessica eonnie tidak membanting semua barang yg ada di cafe itu..
    hahahaha…
    kalo jesica eonnie mau menerima cicin itu..
    sini aku aja yg menerimanya..
    hahahahahah…
    Thor..lanjutkan cerita yg lain yah..

  4. bwahahahhahaha,, bagiann awalnya emang rada-rada ngeselin gimana gitu yah liat reaksi dari Jessica dan Kris,
    tapi pas udah akhir-akhir, jeng jeng jeng,, ini lucu parah, jadi gax keliatan mau ngelamarnya, kris juga gax keliatan leader banget hahahah🙂
    nice ff thor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s