Game Goes Wild – The Fifth Day

Yura Lin proudly present;

Game Goes Wild

Genre:

Friendship – Thriller – Mystery

Rating:

PG – 15

Previous:

Prolog ∙ The First Day ∙ The Second Day ∙ The Third Day The Fourth Day

Cast:

   tumblr_mp5qa0TxND1s70o1po1_500 

SNSD Jessica | INFINITE L | EXO Luhan | BTS Jin | BAP Yongguk

Supporting Cast:

 

SECRET Jieun | SECRET Hyosung

[The Fifth Day]

Yongguk, Luhan dan Myungsoo sudah bersiap saat bahkan matahari belum memberikan tanda-tanda akan terbit. Mereka sengaja bangun jauh lebih awal untuk mencari lokasi permainan selanjutnya. Sebenarnya mereka ingin mencari lokasi semalam, tapi para pegawai di resort tersebut selalu mengawasi setiap tingkah laku mereka. Yongguk tidak kaget dengan ini semua, mengingat Hyosung mulai curiga dengan timnya.

Mereka sengaja berkumpul di kamar Yongguk agar tidak menarik perhatian. Lagipula, tidak akan ada yang melihat Myungsoo keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Yongguk-Luhan karena hari masih sangat pagi. Belum ada pegawai yang mulai bekerja.

“Kita harus pergi sekarang jika tidak mau terlambat dan menggagalkan satu kasus lagi,” ucap Luhan.

“Aku pun sedang mencari caranya, Lu. Tidak mungkin kita pergi dengan mudah tanpa dibuntuti oleh salah satu pekerja di resort ini. Hyosung noona sudah mulai curiga,” balas Yongguk lalu menoleh ke Myungsoo. “Apa kau mempunyai ide, Myungsoo-ssi?”

“Bagaimanapun, kau adalah ahli strategi,” timpal Luhan.

Pria yang duduk di sofa itu menatap kedua temannya yang duduk di kasur mereka masing-masing tanpa menjawab apapun. Dia sedang mengingat setiap detail resort dan menganalisisnya. Myungsoo mendengus melihat wajah penuh harap teman-temannya.

“Aku bukan Sherlock Holmes yang bisa berpikir dengan sangat cepat. Berikan aku waktu,” jawab Myungsoo akhirnya.

Luhan melenguh seraya membaringkan tubuhnya. Sementara Yongguk hanya diam sambil menundukkan kepala.

“Tunggu, bagaimana dengan pesan untuk kasus kemarin?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

Yongguk menatapnya bingung. “Pesan apa?”

“Pesan dari siapapun-yang-membuat-permainan-ini!”

Luhan memaksakan tubuhnya untuk kembali ke posisi duduk. “Astaga! Aku lupa mencarinya! Apa pesan itu masih ada di dapur?”

Myungsoo mendesis kesal. “Tidak mungkin kita bisa masuk ke dapur. Itu hanya akan membuat pemilik resort semakin curiga. Lagipula pesan itu pasti sudah ditemukan oleh orang lain dan dibuang.”

“Lalu kita harus mencarinya di tempat sampah?”

Luhan mengerang. “No way! Ada kasus yang harus kita selesaikan pagi ini!”

Yongguk mengangguk mengerti. “Kalau begitu, kita lepaskan pesan itu. Masih ada pesan lainnya yang bisa kita dapatkan dari kasus-kasus mendatang.”

“Mudah untuk mengatakannya. Akan tetapi, ingatlah, kita mendapat masalah dari pemilik resort sekarang, Bang Yongguk,” Luhan mencibir.

Yongguk menghela napas berat. Luhan benar. Jika mereka ingin kasus cepat selesai dan mendapatkan pesan lainnya, mereka harus keluar dari resort ini sesegera mungkin.

“Aku punya ide!”

Seketika seluruh perhatian tertuju kepada Myungsoo.

“Jess, bangun!”

Jessica mengerang sambil mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi orang yang membangunkannya.

“Bangun! Ada kasus yang harus kita selesaikan!”

Jessica menutup kepalanya dengan bantal. “Berisik!!”

“Bukankah kau ingin mendamaikan Myungsoo dan Luhan?”

Jessica bangun seketika lalu mengerang akibat pusing yang menyerangnya karena bangkit tiba-tiba. Ia memegang kepalanya. “Apa yang kau mau, Kim Seokjin?” erangnya.

Jin terkekeh pelan lalu duduk di kasur Jessica. Matanya tertuju ke jendela yang tirainya sudah ia buka. Keadaan diluar masih sangat gelap.

“Apakah mereka sudah bangun?” tanya Jin.

Jessica menghempaskan kepalanya ke bantal dan menutup matanya. “Molla. Tergantung kasus yang diberikan.”

“Apa kau sudah merasa lebih sehat?”

“Tidak! Aku memerlukan lebih banyak tidur untuk kembali sehat. Jadi kembali lah ke kasurmu dan biarkan aku tidur jika kau hanya ingin menanyakan hal tak penting.”

Jin mendesah sambil menggeleng pelan. “Aku bertanya untuk membuat rencana.”

“Hari ini kita bisa pulang. Mereka sudah janji.”

“Kau yakin membiarkan mereka mengerjakan 2 kasus tanpa kita? Aku sih tidak rela. Cukup sekali saja aku tidak bisa bergabung dengan mereka. Aku tidak bisa menerima jika itu terulang untuk kedua kalinya.”

Jessica membuka matanya untuk menatap Jin. “Seriously? Kemana Jin yang semalam? Kemana Jin yang bertingkah seakan tidak peduli dan hanya ingin waktunya istirahatnya tidak diganggu?”

“Aku tidak peduli dengan hubungan Myungsoo-Luhan, bukannya tidak peduli dengan tim dan kasus kita,” ralat Jin cepat. “Aku memikirkan hal ini semalaman. So you’re in or not?”

Jessica berpikir sejenak. “Berjanjilah rencanamu adalah ide cemerlang.”

“Pasti.”

Tepat hari itu ada sebuah perayaan spesial di dekat pantai, dimana para pengunjung datang dengan pakaian resmi dan menggunakan payung hitam. Perayaan itu adalah cara mereka untuk mengenang para korban yang kehilangan nyawa karena berbagai bencana yang pernah terjadi di pantai tersebut.

Yongguk, Myungsoo dan Luhan tentu tidak melewatkan kesempatan ini. Beruntung mereka membawa kemeja, jas dan lainnya karena perayaan ini masuk ke dalam daftar kegiatan wajib mereka selama liburan. Sayang sekali rencana tersebut tidak bisa dilakukan karena Jessica dan Jin masih berada di rumah sakit. Mereka pun sibuk mengurus kasus.

Seperti perkiraan Yongguk, seseorang dari resort tersebut mengikuti mereka. Sesampainya di pantai, mereka membuka payung tersebut dan masuk ke dalam keramaian. Beruntung orang-orang datang ke perayaan untuk sekaligus melihat matahari terbit sehingga keadaan sudah sangat ramai. Mereka sengaja berpisah untuk mengecoh sang penguntit. Mereka harus melakukannya dengan cepat jika tidak mau kehabisan waktu.

Myungsoo adalah orang pertama yang keluar dari keramaian. Dia membuang payung hitamnya asal dan membuka jas seraya pergi menuju tempat mereka kembali berkumpul. Dia dapat keluar dengan mudah karena orang suruhan Hyosung memang tidak mengejarnya dan dia tidak menyi-nyiakan kesempatan tersebut untuk segera pergi.

Luhan adalah orang kedua yang keluar dari keramaian. Dia sempat menebar pesona dan meminjamkan jasnya kepada seorang gadis. Dengan begitu, dia juga mendapatkan nomor telepon gadis itu. Payungnya pun ia pinjamkan kepada seorang anak kecil yang mempunyai kakak yang cantik. Sebagai gantinya, ia meminjam topi anak kecil itu. Total, 2 nomor milik 2 gadis cantik yang ia dapatkan pagi itu.

Sambil menyelam, minum air. Betapa beruntungnya dirimu, Luhan.

Yongguk adalah orang terakhir karena penguntit itu mengikutinya. Dia terpaksa menutup payungnya agar bisa melewati orang-orang lebih mudah. Setelah memutari kerumunan, dia pun yakin orang tersebut tersesat sehingga ia bisa keluar dengan aman. Dia berlari ke tempat dimana Myungsoo dan Luhan menunggunya.

“Kau tetap membawa payungmu, uh?” komentar Luhan ketika melihat pemimpin timnya berlari menghampiri mereka berdua dengan napas terengah-engah.

Yongguk menarik napas dalam. “Aku tidak punya waktu untuk memikirkan nasib payungku. Lagipula ini payung milik ibuku. Aku tidak tega membuangnya.”

“Ayo,” ajak Myungsoo.

Ini adalah tempat terakhir yang cocok dengan hasil perkiraan mereka untuk menjadi lokasi selanjutnya tapi tiga pria itu harus kecewa karena kolam renang tersebut tidak mirip dengan gambar yang diberikan.

Luhan menendang udara kosong dengan frustasi. Matahari sudah hampir terbit, artinya mereka hanya punya beberapa menit lagi untuk menemukan lokasi yang tepat. Yongguk melirik Myungsoo yang terlihat paling frustasi di antara mereka. Ia tahu Myungsoo juga yang awalnya paling percaya diri untuk kasus kali ini. Myungsoo berpikir kasus kali ini mudah. Nyatanya, mereka gagal menemukan lokasi yang tepat.

“Kalian punya data tentang kasus kali ini?”

Yongguk, Myungsoo dan Luhan menoleh. Mereka terkejut melihat Jin dan Jessica berada di sana. Beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, bukan di rumah sakit. Jessica meringis melihat ekspresi muka Myungsoo.

“Bukankah sudah—“

“Kami ingin membantu, Myung. Kami tidak bisa diam saja di rumah sakit,” tukas Jessica.

Yongguk mengeluarkan handphonenya, mengutiknya sebentar lalu melemparkannya kepada Jin.

“Bagaimanapun, kita memang membutuhkan mereka sekarang. Kita tidak punya waktu banyak. Simpan dulu ceramahmu, Myungsoo-ssi,” timpal Yongguk dan diangguki Luhan.

Luhan menghampiri mereka dan merentangkan tangannya. Mengetahui ia menunggu pelukan dari Jessica, Jin segera memeluk Luhan sedangkan Jessica melangkah mundur.

“Ew, aku tidak meminta pelukan darimu,” protes Luhan.

Jin melepaskan pelukannya dan menyeringai. “Whatever, Lu.”

Jin segera mengecek apa yang diberikan Yongguk, tak peduli dengan backgroundnya ada Jessica dan Luhan yang kembali menjadi Tom and Jerry versi romansa.

“Tempat apa saja yang sudah kalian cek?” tanya Jin.

Yongguk dan Myungsoo pun menjelaskan kegiatan yang mereka lakukan pagi ini secara detail. Jin mendengarkannya dengan cermat sambil tetap memperhatikan foto di handphone Yongguk. Matanya menemukan sesuatu yang sepertinya terlewatkan oleh anggotanya. Jarinya mengetuk layar agar foto itu diperbesar lalu menunjukkannya kepada Myungsoo dan Yongguk. Myungsoo terbelalak melihatnya.

“Luhan, Jessica, berhenti bermain. Ada tempat yang harus kita datangi sekarang,” lerai Myungsoo.

Jessica mengerang. “Yah! Aku tidak sedang bermain! Luhan menggangguku!”

Keempat orang itu menatap Myungsoo tak yakin. Apa Myungsoo sadar tempat apa yang ia curigai sebagai lokasi permainan untuk kasus kali ini? Sebuah kolam renang yang menjadi fasilitas universitas! Dan karena saat itu sedang waktunya liburan panjang, sudah pasti kolam renang outdoor itu ditutup. Tidak mungkin ada yang berenang di sana. Tidak masuk akal.

“Aku yakin,” tekan Myungsoo sebagai jawaban dari ekspresi teman-temannya.

“Bahkan gerbangnya ditutup. Bagaimana kita, bahkan pelaku dan korban, masuk ke dalam sana?” tanya Yongguk.

Myungsoo menoleh ke Jin. “Jin, kau pasti mengerti, bukan?”

Jin menggeleng. “Aku hanya melihat refleksi buram gedung besar di permukaan air. Aku tidak melihat sesuatu yang membuatmu berpikir ini lah tempatnya.”

Myungsoo menghela napas. “Sudahlah, kita tidak punya waktu banyak. Kita harus mencari cara untuk masuk.”

“Karena kita kehabisan waktu, makanya kami tidak yakin. Bagaimana jika saat kita berhasil masuk dan ternyata kau salah?” sahut Luhan.

Kini mata Myungsoo tertuju kepada Jessica. “Kau percaya padaku, bukan?”

“Oh tentu saja dia percaya padamu. Dia menyu—“

Jessica segera menutup mulut Jin sebelum kata-kata yang menjadi skandal keluar dari mulut pria itu. Kondisi mereka sudah kacau. Ia tidak perlu Luhan dan dramanya memperburuk segalanya.

“Lebih baik kita berbagi tugas. Aku dan Myungsoo masuk untuk mengecek keadaan. Selama itu, kalian cari tempat yang memiliki kemungkinan. Jika memang Myungsoo salah, kalian segera pergi mencari tempat lain tanpa kami. Bagaimana?” saran Jessica.

“Aku ikut denganmu!” seru Luhan.

Jessica memutar matanya. “Diamlah di sini. Kau lebih dibutuhkan di sini.”

“Ku rasa kita akan terlambat jika mereka menunggu kita. Lebih baik mereka segera pergi mencari ke tempat lain,” gumam Jessica ragu. Dia takut kata-katanya akan melukai perasaan Myungsoo.

“Tidak, aku yakin aku benar,” tolak Myungsoo.

Jessica berlari kecil karena tertinggal di belakang. Langkah Myungsoo terlalu cepat untuk ia ikuti. Dia terkejut ketika Myungsoo menariknya berlari. Sebenarnya dia masih lemah karena kejadian kemarin.

“Berhenti, Myung. Aku—“

“Aku benar!”

“Iya, aku percaya. Tapi—“

“Tidak, aku benar! Itu!”

Jessica mencoba melihat pemandangan di depannya. Ia melihat seseorang yang sedang memutar mesin penutup kolam renang. Mereka datang tepat saat penutup sudah menutup kolam renang secara total. Pelaku berlari pergi. Bukannya mengejar pelaku, Myungsoo membuang asal jas yang ia pegang dari sejak acara di pantai tadi lalu berlari ke mesin tersebut untuk membuka penutup.

“Telepon Yongguk agar bersiap di gerbang selatan. Pelaku berlari ke arah selatan!” perintah Myungsoo.

Jessica segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Myungsoo. Pria itu terlihat kesulitan karena harus menggunakan tangan kirinya sedangkan ia tidak kidal sehingga penutup itu tergulung dengan pelan. Setelah memberitahu Yongguk, Jessica meletakkan handphonenya di tempat yang aman lalu menyeburkan diri untuk menyelamatkan korban yang diperangkap di dalam sana. Ia tidak bisa menunggu penutup tergulung dengan sempurna.

Tak lama setelah Jessica menghilang di balik penutup, gadis itu kembali ke permukaan yang sudah terbuka dengan seorang wanita yang berumur sekitar 30-an tahun di tangannya. Myungsoo pun menghentikan aktivitasnya untuk membantu Jessica menyelamatkan wanita itu.

Setelah wanita itu terbaring di samping kolam renang, Jessica mulai memberikan pertolongan pertama sedangkan Myungsoo menelepon rumah sakit. Jessica masih sibuk memompa dada wanita tersebut saat Myungsoo sudah selesai dengan teleponnya.

“Biar aku yang melakukannya,” ucap Myungsoo sambil menyingkirkan Jessica.

Myungsoo mencoba memompa dada wanita tersebut sambil sesekali memberikan napas buatan. Jessica terbelalak melihatnya. Dia melipat tangannya kesal. Walaupun akhirnya wanita tersebut sadar, ia tetap kesal. Sangat kesal.

Wanita yang ternyata adalah dosen di universitas itu berterima kasih kepada Myungsoo dan Jessica. Setelah Myungsoo memberitahunya bahwa ia sudah menelepon bantuan, pria itu mengambil jas yang ia buang tadi lalu menghampiri Jessica terlihat shock. Ia memakai jas tersebut kepada Jessica.

“Harusnya aku yang melakukannya,” protes Jessica.

Myungsoo mengangkat alisnya bingung. “Kau tidak melakukannya dengan benar,” balas Myungsoo.

“Tapi tidak seharusnya kau memberikan napas buatan! Kau bisa meminta tolong kepadaku!”

“Itu menyusahkan, Jess. Yang penting, kita berhasil. Apa kau cemburu?”

Jessica terkejut mendengarnya. Dia membuang muka tanpa menjawab.

“Berhenti merajuk. Kita harus mencari pesan pelaku.”

Jessica menghela napas panjang. Mengapa ia bisa-bisanya jatuh cinta kepada orang semacam Myungsoo? Salah satu penyiksaan batin terbaik.

Segera setelah mendapatkan kabar dari Jessica, ketiga pria itu berlari ke tempat yang diberitahukan oleh Myungsoo. Tepat ketika mereka hampir sampai di gerbang selatan, mereka melihat seseorang yang sedang memanjat gerbang untuk keluar dari kawasan universitas. Mereka pun segera mengejar orang tersebut.

Matahari sudah terbit dari arah timur kota Busan dan jalan raya mulai ramai dengan lalu-lalang para manusia dan kendaraan. Sang pelaku sengaja berlari menuju keramaian untuk mengecoh Yongguk, Luhan dan Jin. Bahkan dengan nekat, sang pelaku menyebrang jalanan walaupun lampu lalu lintas masih memberikan kesempatan kepada kendaraan. Aksi yang nekat tapi berhasil memberikan jarak antaranya dengan para anggota tim.

“Kalian kejar dia. Ada yang harus aku lakukan sendiri,” kata Yongguk sebelum memisahkan diri setelah menyebrang jalan.

Sebelum Luhan dan Jin sempat membuka mulut, Yongguk sudah berlari pergi. Mau tak mau, mereka kembali mengejar pelaku tanpa Yongguk.

Luhan dan Jin sempat melihat sosok pelaku dan mengejarnya sampai sang pelaku berbelok ke sebuah gang. Luhan dan Jin menelusuri gang tersebut. Tak lupa mereka menanyakan orang-orang yang mereka lewati tapi orang-orang itu tidak terlihat ingin diganggu dengan pertanyaan tak penting.

Bruk!

Jin tidak sengaja membenturkan bahunya dengan bahu orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Orang tersebut tidak terlihat peduli dengan benturan bahu itu dan terus berjalan. Sementara Jin menatap visual belakang orang tersebut.

“Sepertinya kita kehilangan dia,” gumam Luhan. “Ayo kita cari Yongguk!”

Luhan menarik Jin pergi tapi Jin masih terpaku di tempatnya.

“Jin, kita—“

“Itu orangnya,” gumam Jin sambil berjalan menghampiri orang tersebut tapi ditahan oleh Luhan.

Luhan mengerutkan keningnya bingung. Orang yang mereka kejar memakai hoodie berwarna hitam dan memakai sebuah tas ransel. Sementara orang yang ditunjuk oleh Jin hanya memakai t-shirt berwarna abu-abu. Persamaannya hanya mereka sama-sama memakai celana jeans. Akan tetapi, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Banyak orang yang mempunyai celana jeans yang modelnya sama persis.

“Sepatunya,” tambah Jin seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Luhan.

Mata Luhan spontan tertuju kepada sepatu orang tersebut. Tentu saja model celana jeans boleh sama. Tapi tidak semua orang memakai celana jeans dan sepatu yang modelnya sama persis, bukan? Hoodie dan tas pun bisa ia sembunyikan di suatu tempat.

Ah, mengapa tidak terpikirkan sebelumnya? Kau bodoh, Luhan..

Ketika Luhan ingin mengejar orang tersebut, kini Jin yang menahan Luhan. Lagi-lagi Luhan menatap Jin bingung.

“Menurutmu, mengapa pesulap membutuhkan asisten yang cantik dan seksi?” tanya Jin.

Luhan memutar matanya kesal. “Apa kau tidak bisa bertanya nanti? Kita harus—“

“Mengapa? Ah, kau tidak tahu?”

Luhan menghela napas gemas. “Karena pesulap harus mengalihkan perhatian penonton dengan kecantikan asistennya selama ia mempersiapkan sulapnya. Apa kau mengerti sekarang?”

Jin mengangguk dan memberikan tatapan seakan ikut bertanya apakah-kau-mengerti-? kepada Luhan. Luhan terdiam sebelum berbalik arah, membelakangi orang yang sudah membuatnya curiga.

Pelaku memakai trik yang sama dengan pesulap. Bedanya, pesulap membutuhkan pengalihan agar ia bisa mempersiapkan sulap selanjutnya dengan sempurna sedangkan pelaku membutuhkan pengalihan agar ia bisa kabur dengan aman. Jika Jin tidak bertanya, mungkin ia sudah mengejar orang itu dan membiarkan pelaku sebenarnya bebas.

“Kau kejar asisten pesulap dan aku kejar sang pesulap,” kata Luhan.

Tanpa kata lainnya, Jin segera mengejar orang yang tadi bertubrukan dengannya. Sementara dia berlari ke arah orang itu berasal. Dia menelusuri gang tersebut hingga akhirnya dia melihat sosok yang memakai hoodie hitam dan tas ransel. Kali ini sosok tersebut tidak sendiri.

“Yongguk-ssi?”

Luhan terkejut melihat leadernya berada di sana sambil mengunci tangan sang pelaku.

Yongguk tersenyum. “Kita mendapatkannya. Lebih baik kau bantu Jin.”

Sesampainya Myungsoo dan Jessica di gang tersebut, kegiatan interogasi pun dimulai. Ini pertama kalinya mereka berhasil menangkap pelaku dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan selain menanyakan nasib mereka dan permainan tersebut. Semakin lama, mereka semakin mengenal permainan ini. Mereka merasa semangat sekaligus takut di saat yang bersamaan.

“Mengapa harus kami yang mengikuti permainan ini?” tanya Yongguk untuk kesekian kalinya.

Tak ada orang pun yang menjawab. Kedua orang itu kompak menutup mulut. Padahal pertanyaan tersebut adalah pertanyaan nomor satu kelima remaja itu.

“Siapa atasan kalian? Siapa yang telah menyuruh kalian untuk membunuh dosen itu?” tanya Myungsoo.

Kedua orang itu masih tidak menjawab. Mereka menatap kelima remaja tersebut dengan tatapan polos. Mereka berdua adalah anak kembar sehingga memiliki wajah dan postur yang sama, tak lupa umur mereka yang tidak jauh berbeda dari anggota tim. Benar-benar cocok untuk melakukan jebakan seperti tadi. Jika bukan karena ketelitian Jin, Luhan pasti terjebak dalam perangkap mereka.

“Mengapa kalian melakukan ini?” tanya Jessica.

“Karena kami harus,” jawab pria yang memakai hoodie hitam.

“Kalian tidak memikirkan nyawa orang yang kalian bunuh?” tanya Luhan kesal.

“Kami sudah membuat perjanjian dengan mereka,” jawab kembarannya.

Para pria di tim tersebut berjalan kesana-kemari sambil memikirkan pertanyaan yang harus mereka tanyakan selanjutnya. Sementara Jessica duduk di salah satu kursi kayu sambil memeluk tubuhnya. Ia tidak sempat berganti baju dan hanya mengandalkan jas milik Myungsoo. Untung saja saat itu sedang musim panas sehingga ia tidak kedinginan. Bajunya pun sudah mulai kering.

“Apa kami harus membawa kalian ke polisi?” tanya Jessica.

Pria yang memakai t-shirt abu-abu itu tersenyum manis. “Dengan senang hati.”

Myungsoo mengerang. “Kami tidak becanda!”

“Dia juga tidak becanda. Tidak masalah kalian membawa kami ke kantor polisi karena mereka tidak akan menangkap kami,” sahut pria berhoodie itu.

Jin menatapnya tajam. “Mengapa kau sangat yakin?”

Sang pelaku asli itu melirik kembarannya sekilas dan tersenyum. “Karena kami masih di bawah umur?”

“Hanya itu?”

“Mungkin saja,” jawab si kembar. “Lagipula jika kalian membawa kami ke polisi, kalian harus memberitahu mereka tentang permainan ini dan itu melanggar aturan. Kalian masih berani membawa kami ke polisi?”

Damn, they are right,” gumam Jessica.

“Lebih baik kita lepaskan mereka. Ini hanya membuang waktu kita. Jin dan Jessica masih harus istirahat,” kata Yongguk.

Luhan dan Myungsoo menatap Yongguk protes. Akan tetapi, mereka sadar bahwa Yongguk benar. Akhirnya mereka setuju untuk melepaskan si kembar dan kembali ke resort. Sebelum pergi, si kembar membungkuk kepada mereka.

“Senang bertemu dengan kalian. Tidak sabar untuk segera bertemu kalian secara resmi nanti.”

Anggota tim itu pun terperangah mendengarnya. Mereka ingin bertanya tapi mereka tahu si kembar tidak akan menjawab pertanyaan mereka.

“Besok adalah kasus terakhir dan hari penentuan nasib kalian selanjutnya. Semoga berhasil!” seru si kembar.

“Kau tahu apa yang ku pikirkan sekarang?” tanya Jessica saat mereka sudah hampir sampai di resort.

Luhan dan Jin memberi tanggapan sedangkan Yongguk dan Myungsoo hanya sekedar menoleh.

“Yongguk masih memakai jasnya dan jas Myungsoo dipakai olehku. Lalu bagaimana dengan jasmu, Luhan?” tanya Jessica.

Luhan tersenyum bangga. “Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu. Kau pasti akan menangis.”

Jessica memicingkan matanya. “Drama queen.”

What? No. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau pasti menangis karena mengira aku tidak setia kepadamu. Padahal mataku hanya tertuju kepadamu.”

“Syukurlah aku belum sarapan,” sahut Myungsoo.

Luhan melirik sinis. “Kau pasti iri jika aku beritahu dimana jasku berada, Myungsoo-ssi.”

“Uhm, coba saja,” balas Myungsoo datar.

“Aku meminjamkannya kepada seorang gadis cantik dan aku berhasil mendapatkan nomornya saat kita berada di perayaan tadi,” jawab Luhan bangga.

“Wow, syukurlah kalau begitu. Artinya kau sudah mempunyai target baru dan aku bisa bebas!” Jessica bersorak senang.

“Aku tahu sebenarnya kau itu cemburu. Tidak perlu sok senang seperti itu.”

“Ayolah, Luhan. Kau sudah kalah. Tidak perlu berusaha mendapatkan Jessica lagi. Lebih baik kau fokus mendapatkan jasmu kembali dan gadis yang meminjamnya,” saran Jin.

Luhan menyibak poninya angkuh. “Maaf, aku adalah kekasih yang setia.”

Jessica menatap Luhan ngeri. “Siapa kekasihmu?”

“Kau.”

Jessica mengerang lalu berlari masuk resort, meninggalkan teman-temannya. Sementara keempat peria itu tertawa melihat tingkah Jessica.

“Aku penasaran bagaimana kalian bisa keluar dari rumah sakit dan menemukan kami, Jin,” ucap Myungsoo.

“Oh.” Jin tersenyum. “Aku dan Jessica menebus administrasi kami lalu mencari kalian lewat GPS yang terpasang di handphone kalian. Aku dan Luhan sudah men-setting segalanya saat kami meminjam handphone kalian satu per satu.”

“Oh ya, benar! Ternyata kau tidak kalah pintar dari Myungsoo,” seru Luhan.

Myungsoo memutar matanya jengah. Dia berhenti melangkah saat matanya menangkap sosok pemilik resort. Ketiga temannya pun ikut berhenti.

“Yongguk-ah!”

Yongguk menyuruh teman-temannya untuk pergi ke kamar masing-masing lebih dulu sebelum mendatangi orang yang memanggilnya, yaitu Jieun. Jieun memberikan sebuah amplop kepada Yongguk.

“Ada yang menitipkan ini untukmu dan teman-temanmu tadi,” ujar Jieun sebelum Yongguk sempat bertanya.

Yongguk mengangguk. “Siapa?”

“Kalau tidak salah, namanya adalah Zico.”

Tubuh Yongguk kaku mendengar nama itu. Mantan anggota timnya sekaligus orang dibalik permainan ini muncul di resort ini saat timnya sedang mengejar pelaku.

“Aku ingin melihat rekaman CCTV saat dia datang!” pinta Yongguk.

Jieun menggigit bibirnya. “Maaf, Yongguk-ah. Dia datang saat listrik padam.”

“Dia yang memadamkannya, Noona.”

“Hah? Bagaimana kau tahu?”

Yongguk menarik napas dalam. “Karena aku tahu.”

Begitu sampai di kamar dan mandi, Jessica tertidur di kasurnya. Anggota tim lainnya pun terpaksa berkumpul di kamar Myungsoo karena takut sesuatu terjadi lagi kepada Jessica jika mereka meninggalkannya.

Berita tentang kedatangan Zico ke resort tersebut pun berhasil membuat Myungsoo, Luhan dan Jin shock berat. Ada rasa menyesal karena sudah membuang waktu hanya untuk mengejar dan menginterogasi si kembar karena mereka tidak mendapatkan apapun. Jika saja setelah mereka menyelamatkan korban, mereka langsung kembali ke resort, mungkin mereka dapat menemukan Zico dan menanyakan semuanya langsung kepada orang itu.

“Karena pesulap harus mengalihkan perhatian penonton dengan kecantikan asistennya selama ia mempersiapkan sulapnya.”

Kini mereka sadar bahwa ternyata tidak hanya satu, melainkan keduanya lah yang menjadi asisten pesulap. Bukan si pria yang memakai hoodie hitam yang menjadi pesulap, melainkan Zico lah sang pesulap sesungguhnya.

Dan kini rasa penasaran mereka semakin menjadi setelah mengetahui bahwa amplop itu berisi tiket pertandingan sepak bola FC Seoul melawan Jeju United. Pertandingan ini juga masuk ke dalam daftar kegiatan wajib mereka tapi terlupakan akibat mereka terlalu fokus dengan permainan. Mereka tidak menyangka bahwa pertandingan itu akan mereka saksikan secara langsung sambil menyelesaikan kasus.

Ah, mereka tidak bisa membayangkan seperti apa kasus selanjutnya.

Seperti biasa, aplikasi tersebut terjalan dengan sendirinya tepat di jam 9 malam. Berbeda dari malam-malam biasanya, mereka pun tidak terlalu semangat untuk tahu apa petunjuk kasus selanjutnya sekaligus kasus terakhir mereka—jika memang apa yang dikatakan oleh si kembar benar.

Kali ini petunjuknya adalah berupa audio.

“Jess, ini bagianmu,” seru Yongguk.

Jessica segera mengambil posisi di depan laptop hijau tersebut dan memutar audio.

Seo Donghyun menerima operan dengan baik dan… GOL!! Tendangan Seo Donghyun membuat para penonton berteriak semangat. Pemain… Jeju…sst… kembali… sst.. sstt…

Tiba-tiba rekaman suara itu menjadi sunyi dan hanya terdengar suara berisik yang dibuat oleh para penonton.

Duar!!”

Kelima remaja itu melompat dari duduknya karena suara ledakan yang tidak disangka sebelumnya. Dari suara sorak-sorai penonton, kini berubah menjadi suara rintihan dan tangisan yang membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan sampai beberapa menit setelah rekaman itu selesai, kamar itu masih sunyi.

“Apa ini maksudnya… korban kali ini akan menjadi ribuan orang?” gumam Jin.

Yongguk melirik semua anggota timnya. Wajah mereka pucat setelah mendengar rekaman itu. Kini matanya tertuju kepada layar laptop yang mulai memunculkan sebuah kalimat.

Cari pengendali bom dan pecahkan kode dengan semua pesan yang kalian dapatkan dari kasus-kasus sebelumnya.

Yongguk terkejut melihat Hyosung dan Jieun duduk di kursi di depan kamar Myungsoo dan Jessica. Dia mengisyaratkan kepada anggota timnya untuk pergi ke kamar masing-masing dan biarkan ia sendiri yang menyelesaikan urusannya dengan pemilik resort. Walaupun dia benar-benar letih akibat mengejar pelaku pagi ini, dia tidak akan membiarkan timnya ikut campur. Ia cukup percaya diri dapat mengurus kedua wanita itu sendiri.

Hyosung dan Jieun pergi dari tempat itu. Tanpa diberitahu, Yongguk pun mengikuti mereka. Mereka pun sampai di ruangan Hyosung. Sebagai yang terakhir masuk, Yongguk menutup pintu dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Hyosung dan Jieun. Hyosung mengeluarkan secarik kertas dari saku kemejanya dan meletakkannya di meja. Yongguk terbelalak melihatnya. Itu adalah clue yang seharusnya mereka dapatkan dari kasus ketiga.

Hyosung menarik napas dalam melihat ekspresi tegang Yongguk. “Aku menemukan kertas ini di ruangan pendingin kemarin pagi saat kau dan teman-temanmu berada di rumah sakit. Aku tahu ini adalah hubungannya dengan kejadian Luhan memblokir CCTV di restoran dan sekitar. Aku dan Jieun ingin membicarakan ini denganmu tapi kau terlalu sibuk kemarin. Bahkan kau pergi seenaknya sebelum pembicaraan kita selesai kemarin. Mau menjelaskannya?”

Yongguk pun teringat saat-saat dia berada di ruangan ini kemarin. Ya, dia tidak menunggu Hyosung menyelesaikan semuanya dan malah pergi seenaknya karena ia takut permainan mereka terbongkar. Sudah pasti ia tidak bisa berbohong kepada Hyosung terlalu lama. Seperti yang ia katakan kepada Jessica sebelumnya, Hyosung sedikit spesial.

“Itu hanyalah keisengan Luhan semata,” jawab Yongguk singkat sambil meraih kertas tersebut tapi Jieun sudah mengambilnya lebih dulu.

“Tidak hanya Hyosung, aku juga khawatir. Kau dan teman-temanmu membuat kami cemas. Kalian bukanlah sekelompok remaja dengan kegiatan berlibur seperti biasanya. Tidak ada remaja-remaja yang terluka sedemikian parah saat berlibur! Bahkan satu temanmu tertembak dan anehnya kalian meminta kami dan orang-orang yang mengetahui kejadian penembakan tersebut untuk tutup mulut! Apa yang terjadi?!” kesal Jieun.

Noona—“

“Jangan bilang ini bukan urusan kami karena kalian menginap di resort kami dan sudah meretas sistem kami. Ini bukanlah hal yang biasa terjadi kepada para remaja,” sela Hyosung kesal.

“Kegiatan kalian membuat kami curiga,” timpal Jieun.

“Jelaskan kepada kami atau aku akan menghubungi orangtuamu dan teman-temanmu untuk memberitahu segalanya yang terjadi sehingga kalian akan dipulangkan secara paksa. Kau mau liburan kalian dihancurkan oleh para orangtua?” ancam Hyosung.

Yongguk menjilat bibirnya sambil memutar otaknya. Ia harus memilih pilihan yang tepat. Jika ia memberitahu Hyosung dan Jieun tentang permainan mereka, nyawa timnya dan kedua wanita itu dalam bahaya. Namun jika ia tidak memberitahu kedua wanita itu, seperti kata Hyosung, mereka akan dipaksa pulang dan ribuan nyawa melayang.

Dia tidak bisa membiarkan permainan mereka terganggu saat taruhannya sudah meningkat pesat dari satu-dua nyawa menjadi ribuan nyawa.

Noona, ku mohon… jangan ganggu kami sekarang. Aku janji, setelah semua ini selesai, aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian. Percayalah,” mohon Yongguk.

To Be Continued

Hoho, aku cepet kan? ‘-‘

Dimohon untuk jangan berkomentar “Cepetan dilanjut ya!”, “Lanjutannya jangan lama-lama ya!” dan sebagainya karena saya benci komentar macam itu.

58 thoughts on “Game Goes Wild – The Fifth Day

  1. wwaaaa~~~ ini daebak banget ..
    gue baca sambil bilang “oiya ya, kok kgak kepikiran” .. muter otak lagi buat baca ini😀
    wah, kasusnya makin ribet dn menyusahkan .. bakalan makan korban lagi ggk ya?
    apa mereka bisa menuntaskan ini permainan? ..
    FIGHTING for This team and author ^^)9

  2. waaahh,untung bisa slametin si wanita itu di kolam renang ya
    ih luhan tukang rayu deh
    kok jadi agak curiga sm yongguk,dia kayak agak aneh gitu…

  3. eh aku sama kayak komentator di atas. di awal2 aku sempet curiga sama yongguk tapi sesudahnya aku abaikan saja, tapi pas baca chapt ini aku kembali curiga kepada bang yongguk-ssi. hedeh.
    siapa sebenarnya dalang di balik ini semua?
    semakin mendekati klimaks dan makin penasaran…
    awal2 aku seneng sm luhan, tp makin ke belakang dia sedikit nyebelin (itu artinya karakternya ngena banget ya:D)
    myungsoo juga sedikit menyebalkan.
    aah, jessica kenapa kau gak naksir jin aja?

  4. Daebak thor, teka-tekinya bikin penasaran. Terus yongguk dkk, ahli”. Nggak kepikikiran kasus” nya bakal kaya gtu. Btw, mereka main game apa di game online? Lanjut thor. Fighting! ^o^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s