Regret – Chapter 1

image

image

image

Author  :  Kim Jemi

Tittle  :  Regret

Cast (s)  :
    –  Jessica Jung
    –  Byun Baekhyun
    –  Do Kyungsoo
    –  And other

Genre  :  Sad, Friendship, Romance, Angst

Rating  :  PG 14

Length  :  Chaptered

Backsound  :  Exo – Miracles in December

‘I try to find, who I can’t see. I try to hear, who I can’t hear.’

》》》《《《

Baekhyun’s side

     Perlahan salju turun. Menutupi jalan setapak tempatku berpijak. Apakah mungkin ini adalah tangisannya? Tangisan yeoja yang amat kucintai. Apakah ia menangis karena sifat egoisku yang menyebabkan kepergiannya? Oh. Aku sangat menyeasal. Andaikan penyesalanku ini dapat merubah segalanya. Membuatnya kembali kepadaku.
Membuatnya memaafkan segala keegousanku. Kini hanya berandai – andai saja yang dapat ku lakukan. Apakah ia bahagia disana? Apakah ia telah melupakanku? Molla. Aku tersenyum getir mengingat perkataan kasarku padanya seminggu yang lalu.

Flashback

“Baekhyun-ah. Mianhae, membuatmu harus membatalkan rapat yang begitu penting bagimu hanya untuk menemuiku…”

“Yayaya. Aku tahu itu dan cepat katakan apa tujuanmu memintaku datang ke taman ini, Sooyeon-ah” Ucapku sambil membuang muka.

“Apakah hari minggu besok kau ada waktu?”

“Yayaya…kurasa iya. Ada apa?”

“Bagaimana jika kita membeli kado natal, cake untuk natal dan segala pernak – pernik natal?”

Aku membelalakkan mataku. Oh God! D-dia hanya ingin mengatakan hal itu? Itu sangat tidak penting! Ia bisa saja mengirimiku pesan singkat atau menghubungi sekretarisku agar sekretarisku segera membuatkan jadwalnya. Atau bisa saja ia pergi sendiri membelinya lalu kami tinggal merayakan natal bersama – sama. Aish, ia tak pernah mengerti betapa sibuknya aku di kantor.

“Jung Sooyeon! Itu sangat tidak penting! Kau bisa saja mengirimiku pesan singkat atau menghubungi sekretarisku agar ia menyusun jadwalnya. Kau tahu, kan? Aku sangat sibuk di kantor! Aku harus mengurus Byun Company sendirian karena appa sedang ke luar negeri. Kau mau apa? Cake? Pernak – pernik natal? Kado natal? Apapun itu akan kuberikan!! Asalkan kau tak menggangu pekerjaanku! Kau tak pernah mengerti  betapa sibuknya namjachingumu ini!!!” Bentakku padanya. Ku lihat ia menundukkan kepalanya dalam – dalam. Perlahan bahunya bergetar. Aku tahu, ia pasti menangis.

“Hiks…ke-kenapa kau berubah…Baekhyun-ah? Hiks.”

“Mworagu!? Kau bilang apa? Aku? Berubah? Apa maksudmu!?” Emosiku terpancing.

“Ne! Sejak Byun Company diserahkan kepadamu, kau jadi lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku! Aku tahu, mungkin aku egois, tapi kau tak pernah hanya sekedar membalas pesan singkatku. Apakah kau mulai lupa denganku? Apa artinya hubungan yang sudah kita jalin selama 5 tahun ini dimatamu, Baekhyun-ah? Apa!?”

Aku tersentak. Biasanya jika ada perkelahian diantara kami, ia akan diam dan berkata ‘mianhae’. Selama 5 tahun ini, ia sama sekali tak pernah marah. Aku sekpat berpikir apakah ia tak memiliki emosi? Apakah dia ini boneka? Bukan manusia? Ia juga tak pernah menangis dihadapanku. Ia tak pernah menunjukkan sisi lemahnya padaku.

“Aku selalu saja mengalah. Kau tahu mengapa aku hanya berkata ‘mianhae’ setiap kali kita bertengkar? Itu karena aku tak ingin memperpanjang masalah! Aku ingin hubungan kita utuh! Aku sangat mencintaimu, Baekhyun-ah, sangat. Aku berusaha menahan emosi dan rasa sakit setiap kali kau membentakku. Apakah kau tahu segala bentuk pengorbanan yang ku lakukan untuk mu?”

Aku terdiam. Mencoba mencerna semua kata – katanya. Jadi, selama ini ia selalu memendam semuanya? Memendam rasa sakit dan sesak hanya karena menghadapi keegoisanku? Hanya untuk mempertahankan hubunganku dengannya? Oh God. Mengapa aku tak peka sama sekali?

“Sooyeon-ah, aku…”

“Ingatkah kau saat kau menyuruhku menunggumu di taman ini karena kau ingin mengajakku kencan? Saat itu salju turun dengan lebatnya. Tapi aku tetap setia menunggumu. Aku menunggumu selama hampir 4 jam, tapi kau tak juga datang. Hingga jam menunjukkan pukul 11 malam, kau mengabariku lewat pesan singkat bahwa kau tak bisa datang karena ada rapat mendadak. Saat itu aku hampir mati kedinginan disini!! Tahukah kau!?”

“Sooyeon, dengarkan aku…”

“APA!? Apa yang akan kau katakan, huh!!? Kau akan memunta maaf? Hanya maaf? Sakit, Baekhyun-ah! Sakit! Cukup sudah aku bersabar menghadapimu! Cukup sudah aku mengalah atas semua keegoisanmu dan mempertahankan hubungan kita! Cukup sud-”

“Jika itu yang kau inginkan, baiklah!! Terserah apa maumu! Aku muak denganmu Jung Sooyeon! Muak! Kau terlalu polos! Kau terlalu bersabar! Aku sudah bosan denganmu! Kau tahu? 5 tahun inu sama sekali tak ada artinya untukku!” Aku segera bangkit dari bangku taman dan meninggalkannya.

Nafasku menderu. Amarahku sudah tak bisa ditahan. Ya! Aku memang egois! Salahkan dia, yeoja polos ingusan dan membosankan! Cih, aku menyesal pernah berhubungan dengannya!

Flashback end

   Ku eratkan mantel tebalku karena udara semakin dingin. Salju dengan lebatnya turun. Tapi ini tak sedingin yang dirasakan Sooyeon saat menungguku di taman hingga 4 jam lamanya. Saat itu aku tengah mengerjainya, aku ingin melihat reaksinya. Apakah ia tetap menunggu atau pulang karena udara semakin dingin. Aku tak mengira ia akan tetap menungguku hingga 4 jam lamanya. Ah, aku terlalu kejam. Hukuman apa yang akan diberikan Tuhan kepadaku karena telah menyakiti dan melukai perasaan yeoja secantik dan sebaik Sooyeon? Apakah aku akan mendapatkan karma?

   3 hari setelah pertengkaranku dengan Sooyeon, appa Sooyeon yang tengah menjalankan perusahaannya di San Francisco menghubungku. Beliau bilang pesawat yang ditumpangi Sooyeon ,engalami kecelakaan. Seluruh penumpang hilang termasuk pilot dan pramugarinya. Mendengar berita itu, nyawaku seperti terpisah dengan ragaku. Kosong. Hampa. Aku sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaan. Hyungku, Baekbeom terpakasa datang dari Cina untuk menggantikanku. Selama seminggu aku terus mengurung diri di kamar. Para pelayan terus memaksaku keluar, tapi sama sekali tak kuhiraukan.

    Sooyeon-ah, apakah kau masih hidup? Ataukah kau sudah berada di alam yang berbeda denganku? Ku harap kau masih hidup, sehingga aku masih memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepadamu dan melamarmu. Aku ingin kita hidup bersama sebagai keluarga yang bahagia. Tapi semuanya hanyalah angan – angan yang terus memuncak.

“Tuan, salju sudah semakin lebat. Saya rasa ada baiknya kita segera pulang.” Ucap pelayan yang ada di sampingku.

Aku mengangguk, “Ne, kurasa begitu.”

Ia kemudian berjalan mendahuluiku untuk membukakan pintu mobil.

》》》《《《

20.13pm at Baekhyun’s room

Pipipipip

   Ku raba meja di samping ranjangku. Nama ‘Kyungsoo’ tertera di layar handphoneku. Ah, rasanya lama sekali sahabat baikku itu tidak menghubungiku. Kyungsoo adalah sahabatku di Senior High School dulu. Setelah lulus dari Senior High School, ia pindah ke San Francisco karena Do Company yang berada di San Francisco sedang bermasalah. Segera ku jawab telponnya.

“Yeoboseyo, Kyungsoo-ya!”

“Yeoboseyo! Baekhyun-ah!”

“Bagaimana kabarmu? Lama sekali kau tak menghubungiku!”

“Kabarku baik. Bagaimana denganmu? Mian, aku baru menemukan nomormu.”

“Aish, kau ini! Selalu saja menganggap serius! Kabarku baik. Wae geurae?”

“Ah iya! Besok sore aku tiba di Seoul. Bisakah besok kita makan malam bersama? Aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang.”

“Tentu saja bisa! Pasti dia adalah calon istrimu! Iya, kan?”

“E-eh!? A-aniiii!! Bu-bukan….d-dia buk-”

“Kyungsoo-ya, kau itu mudah ditebak. Kau otu terlalu polos! Hahahahahahahaha. Dia pasti cantik! Siapa namanya?”

“It’s a secret, Baeki!”

“Aish, berhenti memanggilku Baeki! Kau seperti pacarku saja!”

Aku terdiam. Ingatanku kembali melambung pada saat aku membentak Sooyeon. Bayang – bayang saat air matanya mengalir deras, tapi tetap saja ku acuhkan. Malah tambah membentaknya. Byun Baekhyun, kau adalah namja yang kejam.

“Yeoboseyo…Baekhyun-ah? Gwaenchana? Kenapa diam?”

“Aniyo. Nan gwaenchana.”

“Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu besok, Baeki! Hahahahaha! Besok kutunggu di cafe milik Suho. Annyeong!”

Senyumku mengembang. Aku tak sabar ingin segera bertemu dengan calon istri Kyungsoo. Yeoja itu pasti memiliki senyum dan mata yang indah sehingga dapat menarik perhatian Kyungsoo. Ah, aku teringat Sooyeon lagi. Sooyeon juga memiliki mata dan senyuman yang indah. Aku sangat suka memandang dalam mata cokelatnya itu. Aku juga selalu merasa nyaman saat melihat senyuman manisnya. Tapi… aku dengan tega membentaknya, menyakitinya, aish, aku sungguh kejam! Dari pada terus larut dalam kesedihan, sebaiknya aku mandi.

Aku segera bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Ku lirik kalender di meja samping ranjangku. Tanggal 20 Desember. 5 hari lagi natal. Aneh. Natal kali ini harus kulewati dengan perasaan hampa. Biasanya pada saat malam natal aku akan datang ke mansion Sooyeon untuk memberi kado natal. Tak terasa air mataku mengalir deras. Oh, aku sangat rapuh tanpamu, Sooyeon. Aku mohon kepadamu untuk kembali. Aku janji tak akan menyakitimu lagi. Aku janji akan membuatmu bahagia dan aku janji akan membawa hubungan kita hingga ke altar. Aku janji.

Kini hanya janji – janji kosong yang bisa kuucapkan untukmu. Kini hanya doa – doa yang bisa kupanjatkan agar kau bisa kembali. Setiap kali aku memikirkannya, duniaku terasa penuh. Penuh dengan berbagai canda tawamu, penuh dengan berbagai kenangan indah kita bersama, dan…penuh dengan pertengkaran kita. Aku pikir, jika aku melupakanmu, jika aku berhenti memikirkannya, perasaanku ini akan segera hilang. Tapi, ternyata perasaanku ini malah tumbuh tanpa batas. Senyuman miris, ya, hanya senyuman miris yang dapat menggambarkan keadaanku saat ini. Ku lanjutkan langkahku ke kamar mandi.

》》》《《《

18.23pm at Baekhyun’s room

Kriiiiing!! Kriiiiing!! Kriiiiing!!

Ku raba meja disebelahku untuk mematikan alarm yang berbunyi nyaring. Aku menggeliat dan melihat layar handphoneku. 15 panggilan tak terjawab dan 45 pesan dari Kyungsoo. Mwo!? K-Kyungsoo!? Ah, aku lupa akan janjiku kemarin malam. Kyungsoo pasti sudah lama menunggu di cafe milik Suho. Bagaimana bisa aku bangun kesorean?-_-

Aku segera melesat ke kamar mandi. Setelah mandi, aku langsung mengenakan celana jeans hitam dan kemeja putih polos yang lengannya digulung hingga siku. Aku lalu mengambil handphone, dompet, dan mantel hitamku. Ku turuni tangga dengan langkah cepat. Aku lalu menaiki mobil sportku dan segera melesat ke cafe milik Suho.

At Suho’s cafe

Ku lihat dari kejauhan Kyungsoo duduk bersama seorang yeoja berambut cokelat tua. Aku tak melihat wajah mereka karena mereka duduk membelakangiku. Aku segera memarkirkan mobilku di depan café milik Suho dan segera menuruninya. Ku buka pintu café lalu berjalan ke meja Kyungsoo.

“Annyeong! Tuan Do dan Nyonya Do! Kkkkk~ Mian atas keterlambatanku. Aku bangun kesorean-_-” Aku segera duduk di hadapan pasangan itu.

Aku mengangkat wajahku dan melihat calon istri Kyungsoo. S-Sooyeon!? Ia lalu membalas tatapanku dengan tatapan polos. Ya, itu adalah Sooyeon yang ku kenal. A-apakah Kyungsoo yang menemukan Sooyeon setelah kecelakaan pesawat itu? Bagaimana bisa ia akan menikah dengan Kyungsoo? Oh tidak. Ini semua salah.

“Baekhyun-ah, waeyo? Kau memandang Jessica dengan tatapan kaget seperti itu. Apakah kalian saling mengenal, huh? Kenapa tidak cerita padaku?” Selidik Kyungsoo.

“Oppa, nugu?” Aku terbelalak kaget akan reaksi yang diberikan Sooyeon yang kudengar bernama Jessica itu. Apakah ia lupa ingatan? Atau ia pura – pura tidak mengenalku?

“Dia adalah sahabat lamaku. Byun Baekhyun. Dan Baekhyun-ah, ini adalah calon istriku, Jessica Jung.” Bagai disambar petir. Jessica Jung? Siapa itu? Yang ku kenal hanya Jung Sooyeon.

“Aku bertemu dengan Jessica di bandara yang ada di San Francisco. Ia adalah salah satu korban selamat dari kecelakaan pesawat jurusan Seoul-San Fracisco. Ia mengalami amnesia. Ia hanya ingat namanya adalah Jung. Aku menyarankan agar namanya diganti menjadi Jessica Jung, ia pun menyetujuinya. Nama yang indah, bukan?” Kyungsoo terlihat bersemangat menceritakan awal mula pertemuan mereka. Cukup Kyungsoo, jangan diteruskan, cerita itu hanya membuat dadaku sesak. Ku pegangi dadaku yang terasa sakit. Hatiku benar – benar hancur.

“Gwaenchana, Baekhyun-ssi?” Telingaku terasa mendengung mendengar suara yang amat kurindukan itu. Ku tatap matanya dalam – dalam. Itu adalah tatapan yang kurindukan. Aish, dadaku kembali sakit.

“Baekhyun-ah…gwaenchana? Ini, minumlah dulu!” Kyungsoo lalu menyodorkan segelas air putih. Aku tersenyum simpul, lalu meneguknya sampai habis. Apakah ini adalah hukuman dari Tuhan? Sungguh, aku tak bisa melepasnya untuk Kyungsoo.

“Kau mau pesan apa, Baekhyun-ah?”

“Samakan saja dengan kalian.” Kyungsoo lalu memanggil seorang pelayan dan memesan pesanan kami. Pelayan itu berlalu dari hadapan kami.

“Baekhyun-ah, apakah sekarang kau tengah menjalin hubungan dengan seorang yeoja? Aku yakin pasti iya! Mana mungkin namja tampan, pintar, dan kaya sepertimu tidak memiliki yeojachingu. Iya, kan?” Kau salah besar Kyungsoo! Calon istrimu itulah yeojachinguku! Kau mengambilnya! Aish, aku egois lagi. Mana mungkin aku memberitahu Kyungsoo bahwa Jessica adalah yeojachinguku.

“Kau salah, Kyungsoo-ya. Aku tak memiliki yeojachingu lagi. Dia telah meninggal.” Ucapku menahan tangis sambil membuang muka. Ku iir bibir bawahku untuk menahan isak tangisku.

“Mworagu!? M-mianhae, Baekhyun-ah. Aku tidak bermaksun unt-”

“Gwaenchana.” Potongku cepat lalu menunduk.

Hening. Tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Ku lirik Jessica yang sibuk dengan handphonenya sedangkan Kyungsoo hanya melihat para pelayan yang sibuk mengantarkan pesanan – pesanan pelanggan lainnya. Kenyataan bahwa Jessicabakan segera menikah dengan Kyungsoo semakin membuat hatiku hancur. Kepalaku terasa penuh. Kepalaku terasa mau pecah. Apakah ini sakit yang dirasakan Sooyeon dulu? Aku masih ingat saat ia tak sengaja melihatku berduaan dengan Taeyeon, sekretarisku di sebuah cafe di kawasan Gangnam. Ia melihatku tengah mengelus pucak kepala Taeyeon. Sungguh, aku tak memiliki perasaan apapun kepada Taeyeon. Entah dorongan dari mana sehingga aku berani mengelus puncak kepalanya. Pasti saat itu hati Sooyeon hancur seperti hatiku saat ini.

“Sooyeon…” lirihku pelan tapi masih bisa didengar oleh Jessica dan Kyungsoo.

“Nu-nugu? Sooyeon? Siapa itu? Apakah dia yeojachingumu yang telah…” ku lirik Kyungsoo sebentar dan mengalihkan pandanganku ke Jessica yang terlihat shock. Oh, apakah ia mengingat semuanya? Ku harap iya.

“Kurasa… aku pernah mendengar nama itu.”

TBC

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

ANNYEONG!
Kim Jemi is back!! ^0^)/
Ff regret udah aku post ye, tinggal editan ulang ff hurt stepsnya aja yang belom. Mian kalo menurut readers ff ini kependekan, gaje, atau apalah (?). Aku emang rada – rada kehilangan mood pas lagi ditengah2nya. Haha! Kemungkinan chapter 2 nya aku publishhabis hurt steps selesai. Kenapa? Karena aku gak mau numpuk – numpuk ff terlalu lama, ampe lumutan malah /.\ #Ngakak
Twitter : @tanesya_ss
IG  :  @carlin_tanesya
Fb  :  Tanesya Carlin
Pin  :  221634D6

Kalau readers pengen chat atau sekedar pengen tahu tentang ffku selanjutnya, kalian bisa follow, add, dan invite aku. Gamsahamnida!♥ mohon dukungannya ne! Sekian dari aku.

Annyeong!♥♡

40 thoughts on “Regret – Chapter 1

  1. Hwahahaa baekhyun makanya jangan galak2 dong, sekalinya ditinggal langsung nyesel, nyesel kan nyesel kan.. Kapok deh jessi sama kyungsoo wkwkkk.. Akankah jessi ingat dengan baekhyun?
    Seru nih.. Hhahaa cuman pendek! :v

  2. Nah kan baekhyun, siapa suruh emosian:p ditinggal jessi kan:p
    Itu orangtua jessi juga ndk tau dia masih selamat ya thor? ._.
    Apakah jessi akan ingat? Smoga saja iya:))
    Keep updating thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s