[ Freelance ] ( Fact ) ( Chapter 2 )

Judul               : New Life

Author             : Jung Hye Na

Rating                         : General

Length             : Chapter

Genre              : Family. School life. Romance.

Main Cast        : Jessica Jung

Xi Luhan

Kris Wu

Support Cast   : Tiffany Hwang
Jung Yunho

Disclaimer       : –

 

Ini lanjutannya. Terimakasih buat yang udah baca. Selamat membaca dan jangan lupa sisakan kata-kata kalian di kolom komentar. Maaf buat poster yang minimal banget. Aku ga bisa buat poster. I am so sorry. Gomawo^o^

 

Preview Last Chapter

 

“Jadi, ada apa dengan eomma mu? Apa ia akan menikah lagi?” Tanya Jung Yunho berusaha bercanda. Tetapi sungguh, ia tidak suka jika perkataannya menjadi kenyataan. Yunho tidak suka gagasan itu. Yunho masih mencintai wanita itu.

“Ani. Eomma sudah meninggal.” Ucap Jessica dengan sangat pelan.

Jung Yunho menahan nafas mendengarnya. Ya Tuhan. Wanita yang dicintainya, dan mungkin masih mencintainya sudah tidak ada lagi.

“Kau serius?”

“Ya. Kemarin.”

“Jadi kau datang kesini”

“Ya. Jika diperbolehkan aku ingin tinggal disini. Aku bukan ingin menginap. Aku ingin tinggal disini.” Ujar Jessica mantap.

 

─────────────────────Fact [ New Life ] ───────────────────────

 

“Apa? Kau ingin tingal disini? Bersamaku?” Tanya Jung Yunho memastikan

“Ya.” Jessica menunduk. Ia ragu, apa setelah ini orang yang baru saja ia panggil Appa ini akan langsung mengusirnya dan membencinya. Ya mungkin saja itu terjadi. Jung Yunho hanya mencintai eomma Jessica. Kim Hyoyeon. Jessica menghela nafas.

“Itu hanya jika Tuan bersedia. Aku tidak akan memaksa untuk tinggal disini.” Jessica sudah berencana jika ia benar-benar tidak diperbolehkan tinggal di rumah mewah ini, ia akan kembali ke rumah lamanya. Jessica suka ide itu.

“Dengan satu syarat.” Ucap Jung Yunho.

Mwo?! Satu syarat? Apa benar ia orang baik? Bahkan untuk tinggal bersama ayah kandung pun harus dengan syarat. Gerutu Jessica dalam hati.

Melihat wajah cantik Jessica yang bingung campur kesal membuat Jung Yunho menahan tawanya dan semakin ingin memeluk anak gadisnya itu. Ya Tuhan, maafkan aku menyia-nyiakannya selama ini.

“Kau harus memanggilku Appa bukan Tuan.” Ujar Jung Yunho

“Nde?” Bodoh! Aku sudah berfikir macam-macam

“Ya.” Jessica tersenyum lebar mendengarnya. Tanpa sadar Jessica memeluk Appa nya ini. Setelah beberapa detik Jessica tersadar sudah berlaku tidak sopan dan langsung melepaskannya.

“Maaf Appa. Aku terlalu bahagia.” Ujar Jessica menahan malu.

Jung Yunho menatap anaknya ini lalu ia menghela nafas perlahan.

“Aku berubah fikiran. Ada dua syarat bukan satu.”

“Nde?” Jessica kebingungan. Apa memeluk ayah sendiri adalah hal yang salah. Ia rasa tidak.

“Ada dua syarat. Yang pertama, kau harus memanggilku Appa dan yang kedua adalah jika kau merasa bahagia kau harus memelukku seperti tadi. Mengerti?” Ujar Jung Yunho

Jessica ingin menangis sekarang juga. Sungguh. Belum satu hari ia ada di rumah ini, tapi ia sudah berpikiran buruk tentang Ayahnya. Jessica mengangguk mengiyakan semua perkataan Jung Yunho dan langsung memeluknya lagi.

“Aku sedang bahagia. Jadi aku memelukmu sekarang.” Jung Yunho tersenyum lembut mendengar perkataan Jessica dan membalas pelukan anaknya ini.

“Aku menyayangimu, Sooyeon.” Ujar Jung Yunho tulus.

 

Jung Yunho melepas pelukannya dari Jessica. Sekarang ia melihat wajah anaknya itu. Saat ini wajah Jessica tidak mirip dengannya atau Hyoyeon. Saat ini wajah Jessica terlihat lelah. Sangat lelah.

“Baiklah. Apa kau lelah atau lapar? Kau ingin makan lalu tidur atau tidur lalu makan?” Tanya Jung Yunho bersemangat.

Jessica terkikik geli melihatnya. Ia senang berada di rumah ini. Ia senang tinggal dengan Ayahnya.

“Aku ingin tidur Appa. Aku lelah.” Jessica memilih tidur karena ia sangat lelah dengan peristiwa yang baru saja ia alami. Dari mulai eomma nya yang meninggal sampai ia bertemu ayahnya. Jessica butuh istirahat untuk beberapa saat.

“Hm baiklah. Kau boleh beristirahat sementara aku membuat makan malam. Bagaimana?”

Jessica mengangguk mendengar perkataan ayahnya. Jessica menyukai kenyataan Ayahnya yang senang melihat dirinya.

“Apa Appa tahu cara memasak?” Tanya Jessica bergurau.

Jung Yunho mengedikkan bahu. “Tidak. Tapi aku akan berusaha kali ini.” Jessica hanya tertawa mendengarnya.

“Kau tidak mau langsung ke kamarmu? Waktu tidurmu tidak akan aku tambah.”

“Appa belum memberi tahu dimana kamar ku.”

Jung Yunho menepuk jidatnya sendiri. Hal itu membuat Jessica tersenyum.

“Astaga. Aku lupa. Ahjumma.” Jung Yunho sedikit mengeraskan volume suaranya saat memanggil ahjumma. Tidak lama, ahjumma yang sudah sedikit tua yang mungkin dimaksud Jung Yunho-Appa Jessica- datang.

“Ya Tuan?”

“Tolong tunjukkan kamar yang ada dilantai dua untuk anakku yang cantik ini.”

“Anak?” Ahjumma melihat ke arah Jessica dan tersenyum.

“Annyeonghaseyo Ahjumma. Jessica imnida.” Jessica menunduk sambil memperkenalkan dirinya.

“Dia anakku ahjumma.”

Ahjumma itu tersenyum sekali lagi dan mengangguk.

“Silakan ikuti aku, Nona.”

Jessica berjalan di belakang ahjumma ini menuju kamarnya. Sambil sesekali melihat-lihat isi rumah mewah ini. Jessica benar-benar tidak bisa berhenti terpukau dengan apa yang ia lihat. Ia benar-benar tidak percaya dirinya akan tinggal di rumah ini. Jessica bahkan tidak pernah berkhayal karena ia tahu itu sia-sia. Tapi pada kenyataannya Jessica disini sekarang. Di tempat yang bisa disebut istana. Jessica tersenyum dan melanjutkan kegiatannya tadi melihat-lihat isi rumah.

Jessica berhenti melihat sebuah bingkai foto yang sangat besar. Di dalam foto itu ada laki-laki yang ia ketahui Appa-nya dan seorang wanita cantik di sebelahnya dan juga ada seorang anak lelaki yang tampan dengan setelan jas. Merasa penasaran, Jessica memanggil ahjumma yang masih terus berjalan dan tidak menyadari Jessica sudah berhenti dan tidak mengikutinya dari belakang lagi.

“Ahjumma” Seru Jessica. Ahjumma menoleh dan menghampiri Jessica.

“Ada apa Nona?”

“Siapa saja yang ada didalam foto ini?”

“Itu Tuan Jung Yunho beserta istri dan anaknya.”

Jessica menoleh menjadi mengahadap ahjumma. Merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu, ahjumma itu bertanya sopan “Ada apa Nona?”

“Ah? Tidak. Ayo antarkan aku.”

Mereka melanjutkan berjalan menuju kamar Jessica.

“Siapa namamu Ahjumma?” Tanya Jessica sambil berjalan.

“Kim. Kau bisa memanggilku Kim Ahjumma.”

“Baiklah Kim Ahjumma. Mohon bantuannya.”

“Tentu saja.” Ahjumma berhenti didepan sebuah kamar yang Jessica yakini adalah kamarnya.

“Ini kamar anda Nona.”

“Bisakah ahjumma tidak memanggilku nona? Panggil aku Jessica saja.” Jessica tidak terbiasa dipanggil nona seperti ini. Ini terlalu berlebihan menurutnya.

“Maaf nona. Aku tidak bisa.” Jawab Kim Ahjumma sambil tersenyum. Jessica yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas pasrah.

“Baiklah. Aku ingin istirahat. Apa ini kamarku?”

Kim Ahjumma mengangguk sebagai jawabannya.

“Terimakasih ahjumma sudah mengantarku.”

“Ya Nona” Kim Ahjumma ingin pergi tetapi segera ditahan oleh Jessica.

“Ahjumma” Panggil Jessic cepat.

“Ada apa Nona?” Kim Ahjumma bertanya dengan sopan.

“Apa ahjumma tidak penasaran siapa aku ini?” Tanya Jessica akhirnya. Sejak tadi, Jessica menunggu pertanyaan itu akan ditanyakan, tapi sepertinya Kim Ahjumma tidak berniat menanyakan hal ini. Kim Ahjumma yang mendengarnya tersenyum lembut lalu mengangguk.

“Untuk apa? Aku sudah tahu.”

“Nde? Bagaimana kau bisa tahu?”

“Jessica Jung Sooyeon. Putri Kim Hyoyeon. Apa aku benar?”

Jessica mengangguk mendengarnya. Ia bingung. Apa eomma-nya mengenal Kim Ahjumma.

“Aku mengenalmu, Sooyeon.” Ucap Kim Ahjumma sambil tersenyum.

“Nde? Bagaimana bisa?” Tanya Jessica penasaran.

Tetapi Kim Ahjumma hanya tersenyum dan melanjutkan kalimatnya.

“Apa kau tidak penasaran dengan dua orang yang ada di foto tadi?” Kim Ahjumma menanyakan hal yang sebenarnya Jessica ingin tanyakan sejak tadi.

“Ya. Sebenarnya aku ingin menanyakannya. Tapi aku tidak yakin apakah pertanyaanku pantas untuk aku pertanyakan.” Jawab Jessica jujur. Jessica memang merasa tidak pantas untuk bertanya karena ia cukup menyadari posisinya disini. Ia hanyalah gadis yang baru beberapa jam disini.

“Begitu? Tapi aku pikir kau pantas untuk bertanya seperti itu. Bukankah kau anak Tuan Jung Yunho?” Tanya ahjumma itu dengan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan tetapi tidak ada nada sindiran atau meremehkan disana.

Jessica hanya bisa mengangguk. Jessica yakin Kim Ahjumma adalah orang yang baik dan setelah ini ia akan akrab dengan Kim Ajumma. Semoga.

“Terimakasih Ahjumma. Kau orang yang baik. Apa kau akan menjawab jika aku bertanya?” Jessica bertanya dengan penuh harap.

“Tentu saja.” Jawab Kim Ahjumma sambil tersenyum.

“Apa istri dan anak appa tinggal disini?”

“Ya. Tuan muda tinggal disini.”

“Tuan muda?”

“Ya. Hanya tuan muda.”

“Lalu bagaimana dengan istri appa? Ia tidak tinggal disini?”

Kim Ahjumma menghela nafas pelan dan menjawab.

“Nyonya Victoria tinggal disini. Mereka tinggal disini sampai satu tahun yang lalu.”

“Mereka berpisah?”

“Ya. Mereka berpisah karena Nyonya Victoria meninggal.” Jelas Kim Ahjumma panjang lebar.

Mendengar penuturan Kim Ahjumma, tanpa sadar Jessica menutup mulutnya karena terkejut. Jessica benar-benar bingung sekarang. Apakah appa-nya mencintai dua wanita dalam waktu bersamaan. Jessica tidak percaya dengan hal itu, karena walaupun ia baru saja bertemu dengan appa-nya ia yakin appa-nya adalah orang yang setia dan bertanggung jawab. Jadi, apakah appa-nya menerima Jessica karena merasa harus bertanggung jawab atau karena ia memang benar-benar menyayangi Jessica. Jessica menghela nafas panjang memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.

“Nona? Apa kau mendengarku?” Jessica yang tersadar dari lamunannya langsung tersenyum begitu melihat wajah Kim Ahjumma yang menampakkan wajah yang sedang cemas. Mengingatkannya dengan Eomma-nya.

“Ya. Aku mendengarkanmu ahjumma. Terimakasih informasinya. Aku ingin istirahat sekarang.” Jawab Jessica dengan sopan.

Kim Ahjumma yang mendengarnya mengangguk dan berlalu pergi.

 

 

Jessica menutup pintu kamar dan membalikkan tubuhnya. Jessica terpukau dengan kamar yang ada di hadapannya. Benar-benar mewah. Kamar ini bahkan lebih besar dibandingkan dengan empat kamar di rumah lama Jessica. Jessica benar-benar tidak percaya ia dirumah ini sekarang. Jessica berbaring di tempat tidurnya. Bahkan kasur yang ia tiduri pun begitu lembut. Jessica ingin menangis sekarang. Ia teringat dengan eomma-nya. Jessica yang memang sudah sangat lelah itu pun tertidur sambil mengingat eomma-nya.

 

Sudah dua jam Jessica tidur. Ia terbangun karena merasa sudah tidak mengantuk lagi. Jessica heran dengan dirinya sendiri sekarang. Bagaimana bisa ia hanya tidur dua jam dan itu sudah cukup padahal biasanya ia tidur minimal tiga jam. Nada pesan dari posel Jessica membuat Jessica tersadar dan membuatnya mencari di dalam tas.

 

From : Tiffany Hwang

Jess. Aku mengkhawatirkanmu. Bagaimana dengan ayahmu? Cepat hubungi aku begitu kau baca pesan ini.

Jessica tersenyum senang dan langsung membalas pesan Tiffany.

To : Tiffany Hwang

Aku sudah sampai sejak tadi. Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Appa ku menyukaiku. Ini semua berkatmu Tiff. Aku akan menghubungimu nanti. Gomawo Tiffany-ah.

Jessica baru ingin beranjak dari tempat tidurnya, tetapi balasan dari Tiffany membuatnya berhenti dan membuka kembali ponselnya dan membaca pesan itu.

From : Tiffany Hwang

Baiklah. Kau harus menghubungiku begitu kau sempat. Omong-omong apakah ada pria tampan di sekitar rumahmu? Keke~~

 

Jessica mendengus sebal membaca pesan Tiffany. Sebenarnya ia mengkhawatirkan dirinya atau untuk bertanya hal yang tidak penting. Tetapi, pria tampan? Jessica jadi mengingat foto pria bersama Appa di bingkai foto tadi. YA! JESS. Itu bahkan anak kecil. Batin Jessica.

 

Jessica turun kebawah karena memang kamarnya ada di lantai dua. Jessica yang melihat Appa-nya langsung tersenyum dan menghampirinya.

“Appa.” Panggil Jessica.

“Ah. Putriku sudah bangun rupanya. Aku sudah siapkan makan malamnya. Kau ingin makan sekarang?”

“Tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskannya.” Jawab Jessica terkekeh.

Jessica duduk di kursi disebelah Jung Yunho. Sedangkan Jung Yunho duduk di kursi kepala keluarga.

“Appa. Kau tinggal sendiri?” Pancing Jessica. Ia penasaran, kemana anak laki-laki di foto itu.

“Tidak. Aku tinggal dengan seorang pria tampan.” Jawab Jung Yunho sambil tersenyum.

“Siapa dia Appa?”

“Putraku. Tapi, aku tidak menyangka ia sudah memiliki banyak uang. Bahkan ia tidak makan malam di rumah dan makan malam diluar. Kurasa ia akan menghabiskan seluruh uangku.” Jawab Jung Yunho enteng sambil mengedikkan bahu.

Jessica yang mendengarnya mengangguk. Mereka mulai memakan makanan mereka.

Tapi Jessica memberikan ekspresi wajah yang benar-benar tidak ingin Jung Yunho lihat. Jung Yunho yang menyadari maksud wajah Jessica langsung mencoba masakan yang ia buat sendiri itu. Ternyata masakannya terlalu asin. Jessica yang melihatnya langsung tertawa.

“Maaf Appa.” Ujar Jessica sambil masih terus tertawa.

“Aku yang minta maaf. Tadi niatku ingin memberikanmu kejutan dengan masakan ini. Tapi semua diluar kendaliku dan aku tidak mengerti mengapa rasanya tidak sesuai dengan apa yang ku inginkan. Bahkan aku sudah mengikuti semua yang tertulis di resep. Kau harus memakluminya. Aku tidak pernah memasak. Aku tidak bisa memasak.” Jung Yunho membela diri.

“Kau berhasil membuatku terkejut Appa. Pertama, kau memasak dan yang kedua rasa masakanmu lucu.” Ujar Jessica lucu. Mendengar itu Jung Yunho menatap Jessica dan membuat Jessica terdiam. Setelah beberapa detik akhirnya mereka berdua tertawa bersama.

“Kau tahu. Ini adalah yang kedua kalinya aku memasak.” Ujar Jung Yunho setelah selesai tertawa.

“Kedua? Apa Appa masih ingat kapan pertama kali appa memasak?”

“Tentu saja. Saat aku mengajak ibumu berkencan untuk pertama kalinya.” Jawab Jung Yunho sambil menerawang.

“Benarkah? Appa benar-benar romantis.” Ucap Jessica jujur.

“Tentu saja.” Jawab Jung Yunho membanggakan diri.

 

“Aku pulang.” Terdengar suara berat dari luar pintu.

“Aha. Ternyata anak nakal itu masih ingat rumah.” Gumam Jung Yunho.

“Appa. Apa ia anakmu?” Tanya Jessica kebingungan.

“Ya. Kau tahu, dia tampan sepertiku.”

“Tapi, di foto itu hanya ada anak kecil.”

“Foto? Ya Tuhan. Sooyeon, foto itu diambil saat anakku berumur 10 tahun. Sekarang, saudaramu sudah kelas 2 SMA. Sama sepertimu.”

 

Jessica terkejut begitu ia melihat seorang laki-laki yang tidak asing memasuki rumah dan menuju meja makan. Kris. Seorang pria yang populer di SM High School.

“Kris?”

Merasa dipanggil seseorang, lelaki yang ternyata bernama Kris itu menoleh menghadap Jessica dan telihat sedikit terkejut.

“Kau?”

“Oh. Jadi kalian saling mengenal satu sama lain?” Tanya Jung Yunho penasaran.

“Ya. Kami teman satu kelas.” Jawab Kris seadanya.

“Bagus. Jadi kalian bisa saling membantu setelah ini. Kris. Kenalkan dia saudaramu. Dia anakku.” Jung Yunho memperkenalkan Jessica kepada Kris.

Kris yang mendengarnya langsung tersedak apel yang sedang ia makan.

“Mwo? Saudara?” Kris tersedak dan langsung meminum air putih yang ada di hadapannya.

“Ya Tuhan Kris. Kau tidak perlu bereaksi berlebihan seperti itu. Apa kau senang yang menjadi saudaramu adalah gadis cantik?” Tanya Jung Yunho sambil sedikit menggoda Kris.

“Appa. Bukan begitu maksudku.” Jawab Kris membela diri.

Jessica yang mendengar pembicaraan anak dan ayah itu tersenyum. Ternyata Kris cukup cerewet dirumah. Tidak seperti di sekolah.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Jung Yunho kepada Kris.

“Ya.”

“Baiklah. Karena aku sudah membuat kesalahan pada masakanku. Apa kau mau makan di luar, Sooyeon?” Tanya Jung Yunho. Kris melirik Jessica sebentar.

“Apa appa yakin? Bukankah malam ini kau ada janji dengan klienmu?” Tanya Kris.

“Astaga aku lupa. Sooyeon, maaf kita tidak bisa makan malam. Kris, kau bisa ajak Sooyeon makan malam?” Tanya Jung Yunho penuh harap.

“Hm.” Gumam Kris tidak jelas.

“Baiklah. Kalau begitu semua permasalahan sudah terselesaikan. Aku pergi dulu.” Ujar Jung Yunho lalu segera keluar rumah.

 

“Aku tidak bisa mengantarkanmu makan malam.” Kris berkata seperti itu setelah ia yakin Ayahnya sudah pergi.

“Gwaenchana. Aku tidak lapar.” Jawab Jessica. Jessica ingin pergi ke kamarnya, tetapi perkataan Kris membuat ia berhenti dan kembali menghadap lelaki itu.

“Apa kau benar-benar anak Appa-ku?” Tanya Kris dengan nada menyebalkan.

“Mwo? Hei Kris. Kau ini menyebalkan sekali.” Jawab Jessica sinis.

“Baiklah. Mungkin kau memang saudara tiriku. Tapi jangan harap aku bisa ramah terhadapmu. Aku harap kau tidak berkata apapun di sekolah.” Kris berkata dengan nada yang serius.

“Memang apa yang akan aku dapatkan jika aku memberitahu semua orang kita adalah saudara? Aku sama sekali tidak tertarik.” Jessica berkata dengan nada yang tidak kalah sinis.

“Baiklah. Anggap saja semua perkataanmu adalah sebuah janji.” Ucap Kris lalu berbalik menuju kamarnya yang ada dilantai dua. Jadi kamar yang persis berada didepan kamarku adalah kamar Kris. Menyebalkan sekali.

Jessica memasuki kamarnya dengan mood yang kurang bagus karena obrolannya tadi dengan Kris. Jessica melihat ponselnya yang berkedip menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Jessica melihat ponselnya dan melihat ada dua pesan. Dari Tiffany dan Luhan. Jessica bahkan sampai lupa mengabari Luhan. Jessica teringat terakhir kali ia mengabari Luhan adalah saat Jessica berkata bahwa ia akan pindah rumah ke rumah Ayahnya. Jessica masih merasa bersalah. Ia langsung membuka pesan dari Luhan.

From : Xi Luhan

Aku merindukanmu. Apa ayahmu memperlakukanmu dengan baik?

 

To : Xi Luhan

Tentu saja. Maaf, aku baru membalas pesanmu.

 

From : Xi Luhan

Aku merindukanmu.

 

To : Xi Luhan

Nado.

 

From : Xi Luhan

Akhirnya kau menjawab. Selamat malam Princess. Aku punya kejutan untukmu. Tunggu aku kembali ke Korea.

 

Jessica tersenyum. Jessica beruntung mempunyai Luhan. Jessica menyayangi Luhan. Sama seperti Jessica menyayangi Tiffany. Jessica menyayangi Luhan dan Tiffany. Jessica tidak membalas lagi pesan Luhan yang terakhir. Setiap Luhan mengirim pesan ia akan berkata akan memberi kejutan. Tapi sampai sekarang, ia belum tahu apa kejutan itu. Jessica melanjutkan membaca pesan dari Tiffany.

 

From : Tiffany Hwang

Ya Babo. Kenapa kau belum menghubungiku.

 

Jessica terkekeh membaca pesan Tiffany. Tapi ia tidak berniat membalasnya. Jessica akan menghubungi Tiffany besok pagi. Sekarang Jessica mengantuk dan ingin segera tidur. Ia tiba-tiba lelah setelah obrolan menyebalkan dengan lelaki yang sekarang menjadi saudaranya itu. Jessica bersiap tidur. Selamat malam Eomma. Saranghae. Jessica benar-benar sudah terlelap ketika tiba-tiba seseorang dari luar mengetuk pintunya dengan keras.

Jessica menggerutu kesal dan membuka pintu dengan malas.

“Ya! Apa kau tidak tahu sopan santun? Kenapa kau mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku sudah tidur bodoh.” Jessica berbicara dengan sangat kesal. Lagipula siapapun pasti kesal jika dibangunkan dengan tidak wajar seperti itu.

“Apa yang kau katakan pada Appa?”

“Aku tidak mengatakan apapun.”

“Kalau begitu, kenapa Appa mengancamku?” Tanya Kris dengan menampakkan wajah yang aneh menurut Jessica. Jessica terkejut karena baru pertama kali melihat wajah seorang Kris menjadi seperti orang bodoh seperti itu.

“Mengancammu? Aku tidak tahu. Dasar bodoh. Menggangguku saja.” Jessica menutup pintu dan tertawa keras. Ternyata Kris yang sangat dipuja-puja oleh semua perempuan yang ada di sekolah mereka karena wajahnya yang selalu terlihat dingin bisa terlihat bodoh hanya karena pesan dari Ayahnya. Jessica tertawa keras hingga membuat Kris yang masih berada didepan kamar Jessica mendelik tajam.

“Ya! Jessica. Buka pintunya.” Perintah Kris dengan sangat keras. Jessica membuka pintu kamarnya dengan wajah yang tidak menampakkan rasa bersalah sama sekali.

“Ada apa.”

“Apa kau menertawaiku?” Kris bertanya dengan ritme orang yang sedang kesal.

“Kau terlalu percaya diri.”

“Kau menertawaiku. Ada apa?” Tanya Kris sekali lagi.

“Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi aku akan menutup kamarku. Selamat malam.” Jawab Jessica yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang ditanyakan Kris tadi.

“Ya Jessica buka pintumu. Aku belum selesai bicara.” Suara Kris sangat keras, membuat Jessica menjawab dengan tidak kalah keras.

“Jangan ganggu aku atau aku akan mengadukanmu pada Appa.”

Mendengar kata Appa membuat Kris terdiam dan mendengus.

“Hais. Gadis itu membuatku ingin memakannya.” Gumam Kris lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri yang berada tepat di depan kamar Jessica.

Ternyata Kim Ahjumma memperhatikan mereka sejak tadi dari kejauhan. Setelah Kris masuk ke dalam kamarnya. Kim Ahjumma berjalan menuju kamar Tuan Muda itu. Kim Ahjumma mengetuk pintu dengan suara yang tidak terlalu keras.

“Oh. Ajumma. Ada apa?”

“Maaf Tuan. Aku mendengar keributan. Apa ada masalah?”

“Masalah? Ya. Masalahnya adalah gadis itu. Ahjumma, bisa kau racuni dia saja?” Tanya Kris.

Kim Ahjumma terkekeh mendengar gurauan Kris.

“Aku tidak bercanda Ahjumma. Aku harap kau melakukan ini untukku.”

“Kau yakin Tuan?”

“Ya. Aku yakin sejak ia mengadukanku pada Appa.” Dengus Kris.

“Mengadu?”

“Dia mengadukanku pada Appa, aku tidak mengajaknya keluar dan makan malam.”

“Astaga. Itu aku yang memberi tahu Tuan Jung Yunho. Maaf.”

“Ahjumma kau tega sekali denganku.” Rengut Kris dan langsung masuk ke kamarnya. Tidak lama Kris kembali membuka pintu kamarnya dan memanggil Ahjumma yang sudah berjalan menjauhi pintu. Kim Ahjumma menoleh dan tersenyum pelan setelah mendengar kalimat yang diucapkan Kris.

“Jangan racuni gadis itu.” Jelas Kris dan benar-benar menutup pintu kamarnya dan tidak membukanya lagi.

 

───────────────────────Fact [ New Life ]─────────────────────

 

 

 

Hai ini ff pertamaku. Jadi aku mohon kerja samanya^o^ Untuk kitik dan saran sangat aku butuhkan disini. Entah itu typo, bahasa yang digunakan, atau jalan cerita.  Untuk yang comment cast namjanya jangan Kris. Mian, karena sebelum aku menulis ff ini aku sudah mengkhayal dan gatau kenapa aku kepikiran Kris-.- Tapi aku harap kalian tetep mau baca dan komentar. Untuk yang comment supaya cast namjanya Luhan. Kabar baik ada Luhan di ff ini. Tapi jujur, aku belum tahu ini akan berakhir di krissica atau lusica, karena aku juga bingung. Jadi kalian boleh request hehehe. Segitu dulu perkenalannya Maaf untuk cerita yang klise dan membosankan. Tapi ini ff hasil pikiran aku sendiri dengan inspirasi dari beberapa drama korea. Annyeong.

84 thoughts on “[ Freelance ] ( Fact ) ( Chapter 2 )

  1. aq rasa ini fanfiction yg lucu .. aq seneng baca.ny krna klo crita kyk gini biasanya tokoh utama bakal sengsara tp disini sica bahagia.. aq suka deh ff.a .. kris dstu unyu karakter.ny.. lanjutt yha chingu..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s