When the Snow Falls (1st Shoot)

whenthesnowfallspng2

Author : XYZ Hyura

Title : When the Snow Falls

Genre : Romance, Family, Friendship, Married Life, Angst (?)

Rating : PG – 16

*karena kata-kata yang menurut saya

tidak pantas dibaca oleh anak dibawah umur ‘-‘)v*

Length : 2 Shoot

Cast :

Jessica Jung – Luhan – Kang Minhyuk (CNBlue)

Oh Sehun

Poster by Rifcaramello

= =

“Bodoh!” umpat yeoja cantik dengan rambut cokelat bergelombang yang sedang melewati jalan sepi yang hampir tertutup salju

“Bukannya jujur, ia malah berbohong!” kesal yeoja itu lagi

“Aku sih tidak masalah jika dia berbohong yang ringan-ringan saja. Tetapi ini sungguh keterlaluan!”

“Jangankan menjadi calon istrinya, menjadi yeojanya saja aku tak sudi!”

“Aish! Kenapa aku kembali mengingatnya?” yeoja itu menendang tumpukan salju yang ada dipinggiran trotoar

“Andaikan dia Myungsoo atau Woohyun…”

BUK

“Aw!” rintih yeoja itu pelan

Ia merasa menabrak seseorang karena tidak memerhatikan jalannya. Orang yang ditubruknya tadi mendorong si yeoja ke samping karena yeoja itu menindih tubuhnya.

“Hey, bangun!” orang itu mengguncang tubuh yeoja cantik tadi pelan

‘Sepertinya aku mengenal suara itu! Ah, bagaimana ini?’ batin yeoja itu

“YA! JESSICA!” teriakan seorang namja berhasil membuat yeoja bernama Jessica itu segera bangun

“Hey, kenapa kau bangun saat namja itu memanggilmu?” tanya orang yang ditabrak Jessica kesal

Jessica menundukan kepalanya, “Maaf” katanya masih menundukan kepalanya.

“YA! Kau! Masih saja berkeluyuran rupanya?” namja yang berhasil membuat Jessica menuruti perintahnya mendekati yeoja nan cantik tersebut

“Sooyeon! Jawab aku!” kata orang yang ditabrak Jessica dengan nada tajam

“Siapa Sooyeon?” tanya namja tadi bingung

Jessica menepuk keningnya seraya memejamkan matanya. Pertanda bahwa ia melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Jessica menarik tangan namja yang sedang kebingungan agar mendekat ke arahnya.

“Mianhae, Myungsoo ya! Annyeong~” pamit Jessica seraya menarik namja dengan warna rambut pirang menjauh

“Siapa namja tadi?” tanya namja dengan wajah tampan yang berada dihadapan Jessica

“Mwoya? Itu bukan urusanmu!” kata Jessica, yeoja itu menepis tangannya yang menggenggam tangan namja tampan tadi

“YA! Kau adalah calon istriku, ingat itu!”

“LUHAN!”

Namja dengan nama Luhan tadi menarik wajah Jessica dan mencium bibir tipis milik yeoja cantik itu lembut. Pupil mata Jessica mencembung sempurna. Yeoja itu mendorong Luhan menjauh, tetapi Luhan telah terlebih dahulu memeluk Jessica dengan erat. Jessica masih tidak membalas ciuman Luhan. Hingga akhirnya salju kembali turun dan Jessica pun sedikit demi sedikit mulai membalas ciuman Luhan.

= When the Snow Falls =

Jessica duduk bersila di atas kasur menghadap ke perapian – yang berada di dalam kamarnya. Yeoja itu sedang menatap kayu bakar sambil merasakan sedikit rasa dingin yang menusuk tubuhnya karena ia menggunakan pakaian berbahan tipis.

“Kenapa memandang perapian dengan tatapan yang begitu tajam, uh?” tanya Luhan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar

Jessica mengalihkan pandangannya ke arah Luhan. “Kenapa kau tidak menikahi Fany saja? Bukannya kau mencintainya?” pertanyaan yang keluar dari mulut Jessica berhasil membuat Luhan membeku sejenak. Namja itu menatap Jessica dengan pandangan tidak percaya.

Jessica kembali menatap perapian di depannya, “Kenapa kau harus membuatku tersiksa dengan menikahiku? Kau tahu bahwa kita tak dapat bersama karena kita adalah musuh. Kau sangat mencintai Tiffany, sedangkan aku membencinya.” terang Jessica

Luhan menelan ludahnya. Namja itu menyimpan banyak alasan mengapa ia memilih menikahi Jessica dan memaksa yeoja itu agar yeoja itu mau menikahinya. Namun, Luhan berusaha menyimpan alasan-alasannya tersebut. Luhan lebih suka menyimpan rahasia besarnya daripada harus berbagi sekalipun itu dengan istrinya sendiri.

“Kenapa kau masih saja memikirkan yang lalu-lalu?” Luhan mendekati Jessica kemudian mengusap kepala Jessica lembut

Jessica menepis tangan Luhan pelan. Yeoja itu menatap Luhan dengan seksama, “Dengar, tidak ada pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta, Luhan!”

“Ada saja, perjodohan tidak di dasari oleh cinta, Sica..”

“Tetapi kita tidak dijodohkan! Ingat, kau yang memaksa!”

“Dengarkan aku, kau bahkan tidak memercayaiku tentang semua yang telah kujelaskan kepadamu di awal perjanjian kita?” Luhan menatap mata Jessica dalam-dalam

Jessica menggigit bibir bawahnya keras sehingga membuat bibirnya berdarah.

“HENTIKAN KEBIASAANMU, JESSICA!” bentak Luhan karena bibir Jessica mulai mengeluarkan banyak darah

Jessica segera turun dari kasurnya, lalu ia pergi meninggalkan Luhan. Ia meraih mantelnya dengan sembarang kemudian keluar dari kamar.

Seperti biasa, setiap masalah pasti tidak akan ia selesaikan begitu saja. Ia akan menghabiskan waktunya untuk menangis dipundak seseorang yang telah lama menjadi sahabatnya. Orang itu tahu apa saja yang dapat membuat Jessica nyaman, bahkan ia hafal apapun yang akan membuat yeoja itu menangis atau pun kesal.

BRAK

Jessica terbiasa keluar masuk ke dalam rumah sahabatnya yang satu ini, sehingga ia merasa bahwa ia berada di rumah sendiri. Tak peduli sekeras apa ia menutup pintu atau sesering apa ia datang dan pergi, bahkan sebanyak apa ia memakan makanan yang berada di sana, Jessica telah menganggap rumah itu adalah rumah keduanya.

“Kau kenapa?” suara khas yang dengan cepat merambat ke telinga Jessica yang begitu sensitif, membuat yeoja itu melesat berlari mendekati sahabatnya

“Minhyuk ah! Hiks hiks…” dan seperti biasa pula, yeoja itu kembali menangis di pundak seorang Kang Minhyuk

“Hey! Kau menggigit bibirmu hingga berdarah lagi, uh?” tanya Minhyuk dengan nada kesal seraya mengusap darah yang ada di bibir Jessica dengan hati-hati

Jessica masih bersandar di pundak Minhyuk sambil terus terisak. Ia sedih, mengapa nasibnya berakhir mengenaskan seperti ini. Jika saja ia tidak menikah dengan Luhan, tidak juga memercayai apa yang Luhan katakan kepadanya di awal mereka melakukan perjanjian, maka ia tidak akan merasa sebodoh ini.

“Kenapa kau masih saja mengingat hal yang kau sendiri tak ingin mengingatnya?” tanya Minhyuk lembut, ia sedang membaca majalah tentang home design miliknya

“Hiks hiks…” Jessica sekarang mulai cecegukan karena tangisnya

“Sica, kau itu terlalu baik membiarkan Luhan berlari keluar dari tanggung jawabnya,” Minhyuk menatap Jessica yang kini telah mengangkat kepalanya dari pundak Minhyuk

Jessica menyeka air matanya, “Maaf telah sering merepotkanmu..” Jessica menunduk sedih.

“Aku tidak berkata jika kau merepotkanku, Sica. Aku hanya mengatakan, bahwa seharusnya Luhan berterimakasih kepadamu,” terang Minhyuk. Namja itu sekarang merangkul Jessica dengan sebelah tangannya.

“Aku tidak yakin untuk terus bertahan dengannya,” Jessica menempelkan dagunya di pundak Minhyuk. Ia menerawang jauh dan membiarkan pikirannya terus bekerja.

Minhyuk memeluk Jessica, “Kenapa?”

Jessica diam, ia masih menerawang dan tidak akan menjawab pertanyaan dari Minhyuk hingga yeoja itu berhasil sadar. Minhyuk tahu apa yang sedang Jessica lakukan, maka ia membiarkan yeoja itu terus diam hingga kesadarannya kembali.

“Aku tidak mencintainya,” ujar Jessica yang kini membuat Minhyuk terkejut

Minhyuk melepas pelukannya, lalu ia menatap Jessica. “Bibirmu masih berdarah. Tidak seharusnya kau menggigit bibirmu saat kau kesal,” ucap Minhyuk kembali mengusap bibir Jessica yang masih mengeluarkan darah.
Jessica menatap Minhyuk dengan pandangan datarnya, “Aku lelah jika harus terus mendebatkan hal itu dengannya.”

“Kalau begitu jangan pernah mempermasalahkannya kembali!”

“Aku tidak bisa, Minhyuk ah! Aku… aku tidak dapat melupakan hal yang paling kubenci,” Jessica membuang wajahnya kemudian kembali terisak

“Dengarkan aku! Sebagai sahabatmu, aku tidak ingin kau terus menerus bersedih seperti ini. Aku tidak pernah ingin mengatakan ini tetapi…. aku sakit hati melihatmu tersakiti, Sica.” ujar Minhyuk

Jessica menatap Minhyuk, “Kenapa? Kenapa kau sakit karena aku tersakiti?” tanya Jessica terdengar sebagai ancaman bagi Minhyuk.

“Karena kau sahabatku,” jawab Minhyuk sembari menatap mata Jessica

Jessica memejamkan matanya, ‘Aku tahu, tak seorang pun akan mengatakan bahwa mereka menyayangiku.’

CUP

“Bangun!” kata Luhan pelan setelah mencium pipi Jessica

Jessica tidak juga tersadar dari tidurnya yang nyenyak. Salju mulai turun kembali dan itu membuat Jessica merasa sangat nyaman berlama-lama tidur, menjelajahi dunia mimpinya.

“Kau tidak mau bangun rupanya…” Luhan menggendong Jessica ala bridal-style dan seketika itu juga Jessica membuka matanya karena terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Luhan

“Akhirnya kau bangun juga. Beruntung kau tidak kuceburkan ke dalam bathtub,” ujar Luhan masih dalam posisi menggendong Jessica

“YA! LUHAN! Apa yang kaulakukan? Turunkan aku!” teriak Jessica membuat Luhan menjauhkan kepalanya dari Jessica

“Pagi-pagi sudah membuat telingaku rusak saja!” omel Luhan

Jessica menatap Luhan jijik, “Kau itu yang pagi-pagi sudah mengganggu tidur nyenyakku!” kesal yeoja yang sekarang menggunakan pakaian tidur berwarna pink

“Karena kau nakal, tidak mau bangun, maka aku terpaksa membangunkanmu dengan cara ini.”

“Turunkan aku! Kita bukanlah anak kecil lagi sekarang,” Jessica menatap Luhan kesal

“Tidak sebelum kau memberiku ciuman selamat pagi,” elak Luhan; Jessica pun mendengus sebal mendengar syarat tersebut

“Ciuman, ciuman, ciuman apa? Turunkan sekarang atau ak-”

“Atau kau mau aku menyeburkanmu di bathtub, uh?” ancam Luhan

“Aku tidak takut!”

Luhan memutar matanya kesal. Namja itu tanpa basa basi langsung menyambar bibir Jessica dan memberikan ciuman lembutnya. Itulah ciuman selamat pagi dari Luhan kepada Jessica, bukan Jessica kepada Luhan.

Luhan melepas ciumannya dan Jessica memukul dada Luhan keras, “Kau selalu lancang terhadapku! Turunkan aku!” Jessica mulai memberontak.

“Aw! Jangan memukulku sekeras itu!”

“Salah siapa sudah membuatku setengah mati kesal pagi ini,” cibir Jessica sembari memanyunkan bibirnya

“Cepat sikat gigimu, rapikan rambutmu, ganti bajumu, dan pergilah bersamaku!” Luhan menurunkan Jessica diatas kasur empuk milik mereka berdua

“Shireo!” Jessica beranjak dari tempat tidur dan berdiri di depan Luhan. “Hari ini aku ingin pergi bersama Minhyuk, aku sudah berjanji untuk menemaninya memilih furnitur rumah pelanggannya,” Luhan seketika tidak bergairah mendengar penjelasan Jessica tentang mengapa yeoja itu tidak ingin mengikuti kata-katanya.

Jessica yang melihat perubahan mimik wajah Luhan menjadi bingung, “Kau kenapa?” tanya Jessica polos.

“Pergilah dengan Minhyuk, Sica ya! Aku akan menjaga rumah hingga kau kembali,” ujar Luhan yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Jessica

Jessica menatap kepergian Luhan dengan wajah tak tahu harus bagaimana. Yeoja itu merasa kasihan karena setiap kali Luhan mengajaknya pergi pasti ia telah memiliki janji dengan Minhyuk. Jessica bahkan jarang sekali pergi bersama suaminya – Luhan.

Jessica menggigit bibir bawahnya lagi, tetapi kali ini ia tidak membiarkan bibirnya terluka karena kebiasaan buruknya. Jessica segera pergi menyikat giginya, menyisir rambutnya, dan mengganti pakaiannya.

“Aku pergi, Lu..” pamit Jessica

“Ne” jawab Luhan – dengan berat hati

‘Kapan kau akan mengerti keadaanku, Sica?’ batin Luhan menatap kepergian istrinya.

Hari itu salju turun dengan damai, membuat Jessica tak henti-hentinya menatap ke arah langit nan indah. Jessica berjalan bersama Minhyuk menuju ke garasi mobil rumah Minhyuk. Minhyuk membukakan pintu mobil untuk Jessica, tetapi Jessica tidak segera masuk ke dalam mobil melainkan menatap Minhyuk sejenak.

Minhyuk tahu apa arti dari tatapan itu, “Jika kau menyesal, maka percuma saja kau memaksakan diri mengantarku pergi,” kata Minhyuk yang berhasil membuat Jessica segera masuk ke dalam mobilnya.

“Aku tidak pernah tahu mengapa kau begitu menuruti kata-kataku dibandingkan kata-kata suamimu?” gumam Minhyuk saat ia mencoba menghidupkan mesin mobilnya

“Karena kau sahabatku,” jawab Jessica singkat tanpa memalingkan wajahnya ke arah Minhyuk

Minhyuk menoleh menatap Jessica yang masih memandang lurus ke depan, “Aku hanya sahabatmu, Sica. Kau sebaiknya juga menuruti kata-kata suam-”

“Aku tidak ingin membahasnya sekarang, Minhyuk ah!” potong Jessica; Minhyuk segera menyalakan mesin mobil dan mengemudikan mobilnya menuju tempat tujuan

Selama perjalanan, Jessica masih saja menatap salju yang turun dan membuat jalanan menjadi berwarna putih. Ia kembali mengingat kejadian 1 tahun yang lalu, yang membuatnya seketika meneteskan air matanya tanpa sebab.

Sudah kukatakan berkali-kali kepadamu bahwa aku mencintaimu, Tiff!”

Maaf, tetapi aku tidak mencintaimu.” Tiffany memalingkan wajahnya

Baiklah, aku tidak akan pernah mengatakan hal yang sama terhadapmu lagi. Ingat, aku tidak akan pernah berpaling walaupun kau membutuhkanku!” Luhan menekankan setiap kata yang ia ucapkan

Aku tahu, aku tidak akan membutuhkanmu.” Tiffany berlalu dari hadapan Luhan

Argh!”

~

Uhuk uhuk! APA?!”

Luhan hyung mengonsumsi alkohol lagi, Noona. Maafkan aku tidak berhati-hati dalam menjaga Luhan hyung.” sesal Sehun kepada Jessica yang terkejut setengah mati mendapati Luhan yang benar-benar mabuk berada di hadapannya

AHAHA.. TIFFANY, MATI KAU!” teriak Luhan membuat Jessica mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan

Sepertinya kau harus segera pulang, Sehun ah! Ini sudah begitu larut. Maaf merepotkanmu, Sehun~” Jessica menarik tangan Luhan kemudian membantu Luhan berbaring di sofa ruang tamunya

Maaf noona, aku tidak bisa menghentikan Luhan hyung. Aku menyesal,” kata Sehun menundukan kepalanya sedih

Jessica tersenyum ikhlas, “Tenang saja Sehun, aku tahu betapa susahnya Luhan jika ia sedang kehilangan kontrol dirinya.”

Kau begitu baik noona. Aku harap Luhan hyung benar-benar bersyukur mendapatkan dirimu. Jika tidak, maka kau bisa saja jatuh ke tanganku.” canda Sehun yang berhasil membuat Jessica tersenyum geli karena perkataannya

YA! TIFFANY HWANG! KAU WANITA JALANG!”

DEG!

Baik Jessica maupun Sehun, mereka berdua sama-sama terkejut karena kata-kata Luhan. Jessica menunduk sedih. Rasanya ia ingin sekali menangisi semua itu.
“Noona,” lirih Sehun memanggil seorang Jessica Jung

Pulanglah Sehun ah! Aku akan mengurus ini semua…”

“Mengingatnya bukanlah hal yang baik untuk hati maupun pikiranmu, Sica..” ujar Minhyuk yang membuat Jessica menyeka air matanya

“Aku tidak mengingatnya,” bohong Jessica

“Sia-sia saja kau membohongiku. Aku mengenalimu sedemikian hingga dirimu yang paling tidak kau ketahui,” Minhyuk tersenyum miris setelah mengatakan hal itu

Jessica memejamkan matanya, “Kaupikir kau begitu mengenalku?”

“Buat apa aku berteman denganmu separuh hidupku jika aku tidak sama sekali mengetahui sifat asli bahkan sifat bawaanmu ataupun hal yang lainnya? Hidupku akan sia-sia jika aku tidak melakukan hal itu.”

Jessica masih memandang ke luar, menatap salju yang masih saja turun. Sepertinya salju tidak pernah bosan membuat Jessica mengingat masa lalunya, baik pahit maupun manis.

Kau mengecewakanku, Lu..” gumam Jessica. Setetes cairan bening turun dengan cantik di pipi Jessica.

Dengarkan aku, Tiffany!” ujar Luhan pelan

Sia-sia saja kau menjadikanku istrimu jika kau masih saja memanggil nama yeoja yang tak mungkin berada di sisimu saat ini. Kau mempermainkanku, Luhan. Aku tahu itu, dari awal kau hanya mencintai Tiffany, bukan aku!”

Jessica terisak hebat, air matanya terus menerus membasahi pipi mulusnya. Luhan tidak juga berhenti memanggil nama seorang yeoja yang ‘PASTI’ bukanlah nama Jessica. Jessica terduduk di lantai dengan keadaan yang begitu menyedihkan.

Sia-sia usahaku untuk merubah perasaanku, Luhan.”

Minhyuk yang sadar Jessica kembali terisak langsung menggenggam tangan Jessica. ‘Mianhae, Luhan ssi. Aku mencintai sahabatku, aku menyayanginya. Aku muak dengan apa yang telah kaulakukan terhadapnya.’ batin Minhyuk dalam hati.

Minhyuk memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan membuat Jessica sadar dari lamunannya. “Kenapa kau memberhen-”

Minhyuk membungkan mulut Jessica dengan ciuman lembut. Jessica sungguh terkejut. Bagaimana tidak? Tiba-tiba sahabatnya itu membungkam mulutnya dengan ciuman. Ya, sebuah ciuman. Ini mengingatkannya akan kejadian 1 tahun lalu.

Tiffany, Tiffany, dan Tiffany? Aku muak mendengarnya!” kesal Jessica

Sudah kukatakan berkali-kali bahwa-”

Aku tahu kau mencintainya. Jadi kenapa kau tidak menceraikanku dan menikahi Tiffany?” Jessica menatap Luhan tajam

Jessica!”

Dengar Lu Han! Kita sebaiknya bercer-”

Luhan mencium bibir Jessica sebelum Jessica berhasil mengatakan keinginannya. Luhan membenci kata-kata itu. Luhan memiliki suatu trauma tersendiri dengan kata ‘cerai’ dan membuatnya begitu membencinya.

Luhan melepaskan ciumannya, “Jika kau tidak segera diam, maka aku akan terus menutup mulutmu dengan mulutku. Arraseo!”

Jessica menatap Luhan kesal.

Minhyuk melepaskan ciumannya yang berdurasi 20 detik itu. Jessica membuka matanya secara perlahan.

“Ka-kau..”

“Aku tidak suka saat kau menangisi masa lalumu. Aku tidak suka saat kau menangis karena Luhan. Aku tidak suka saat kau terus mengingat masa lalumu yang sangat menyedihkan. Aku tidak suka semua itu. Aku ingin melihatmu tersenyum seperti sedia kala. Dimana saat kau dan aku bermain di taman, saat kau dan aku bermain dibawah salju, saat dimana aku tercebur ke dalam kolam. Masih banyak hal yang dapat membuatmu bahagia. Kau tak perlu bersedih terus menerus!”

Jessica menatap mata Minhyuk dalam-dalam, “Kau tahu, pada saat itu, kupikir aku jatuh hati kepadamu.”

“Lalu?”

“Hanya saja, aku mengerti, sepertinya takdir berkata lain.”

“Apa maksudmu?” Minhyuk menggeggam pundak Jessica lembut

Jessica menundukan kepalanya, “Aku berpikir, bahwa aku… aku harus mencintai Luhan.”

Minhyuk menatap Jessica dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh sembarang orang. Namja itu memeluk sahabatnya yang sekarang kembali terisak di dalam peluknya.

“Kau adalah yeoja yang begitu baik yang pernah kukenal, Jessica. Luhan seharusnya beruntung mendapatkan yeoja sepertimu.” ujar Minhyuk seraya mengusap kepala Jessica dengan lembut

“Aku menyayangimu, Jessica..”

‘Aku juga menyayangimu, Minhyuk!’

= To Be Continued =

Hai readers tercinta(?) Aku udah publish 1st Shoot-nya. Tinggal nunggu 2nd Shoot kan ya? :3 haha.. Oh iya, kalimat-kalimat yang dicetak miring itu sama dengan flashback, jadi jangan bingung ya🙂 Aku gak tau harus ngomong apa lagi, jadi, adakah saran untuk FF ini? ‘-‘a) Aku juga menunggu komentar kalian😀

97 thoughts on “When the Snow Falls (1st Shoot)

  1. Ak msh bingung thor ama d awal2 yg sica nabrak org itu kkk btw seru thor hehe smoga luhan bs move on dr tiff
    Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s